• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sanksi Terkait Faktur Pajak

E. Tes Formatif 4

9. Sanksi Terkait Faktur Pajak

PKP yang menerbitkan Faktur Pajak Tidak Lengkap dikenai sanksi administrasi sesuai dengan Pasal 14 ayat (4) Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, sebesar 2% x Dasar Pengenaan Pajak. Dikecualikan dari ketentuan pengenaan sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 14 ayat (1) huruf e Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan adalah dalam hal Faktur Pajak tidak memuat keterangan mengenai :

a. Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak; atau

b. Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak, serta nama dan tandatangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak untuk Pengusaha Kena Pajak Pedagang Eceran.

PKP Pembeli Barang Kena Pajak atau Penerima Jasa Kena Pajak tidak dapat mengkreditkan Pajak Pertambahan Nilai yang tercantum di dalam Faktur Pajak Tidak Lengkap sesuai dengan ketentuan Pasal 9 ayat (2b) dan ayat (8) huruf f Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai.

Sanksi Pidana

Sesuai pasal 39 A Undang Undang KUP Setiap orang yang dengan sengaja menerbitkan faktur pajak tetapi belum dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun serta denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak dalam faktur pajak paling banyak 6 (enam) kali jumlah pajak dalam faktur pajak.

Faktur pajak sebagai bukti pungutan pajak merupakan sarana administrasi yang sangat penting dalam pelaksanaan ketentuan Pajak Pertambahan Nilai. Sehingga setiap penyalahgunaan faktur pajak Pajak Pertambahan Nilai. Oleh karena itu, penyalahgunaan tersebut berupa penerbitan dan/atau penggunaan faktur pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya dikenai sanksi pidana..

e. Nota Retur dan Nota Pembatalan

Dalam hal Barang Kena Pajak yang diserahkan ternyata dikembalikan (retur) oleh Pembeli, Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah dari Barang Kena Pajak yang dikembalikan tersebut dapat mengurangi Pajak Keluaran dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang oleh Pengusaha Kena Pajak Penjual dan mengurangi:

a. Pajak Masukan dari Pengusaha Kena Pajak Pembeli, dalam hal Pajak Masukan atas Barang Kena Pajak yang dikembalikan telah dikreditkan;

b. biaya atau harta bagi Pengusaha Kena Pajak Pembeli, dalam hal pajak atas Barang Kena Pajak yang dikembalikan tersebut tidak dikreditkan dan telah dibebankan sebagai biaya atau telah ditambahkan (dikapitalisasi) dalam harga perolehan harta tersebut; atau

c. biaya atau harta bagi Pembeli yang bukan Pengusaha Kena Pajak dalam hal Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak yang dikembalikan tersebut telah dibebankan sebagai biaya atau telah ditambahkan (dikapitalisasi) dalam harga perolehan harta tersebut.

Dalam hal Jasa Kena Pajak yang diserahkan ternyata dibatalkan, baik sebagian maupun seluruhnya oleh Penerima Jasa, Pajak Pertambahan Nilai dari Jasa Kena Pajak yang dibatalkan tersebut mengurangi Pajak Keluaran yang terutang oleh Pengusaha Kena Pajak Pemberi Jasa Kena Pajak dan mengurangi:

a. Pajak Masukan dari Pengusaha Kena Pajak Penerima Jasa, dalam hal Pajak Masukan atas Jasa Kena Pajak yang dibatalkan telah dikreditkan;

b. biaya atau harta bagi Pengusaha Kena Pajak Penerima Jasa, dalam hal Pajak Pertambahan Nilai atas Jasa Kena Pajak yang dibatalkan tersebut tidak dikreditkan dan telah dibebankan sebagai biaya atau telah ditambahkan (dikapitalisasi) dalam harga perolehan harta tersebut; atau

c. biaya atau harta bagi Penerima Jasa yang bukan Pengusaha Kena Pajak dalam hal Pajak Pertambahan Nilai atas Jasa Kena Pajak yang dibatalkan tersebut telah dibebankan sebagai biaya atau telah ditambahkan (dikapitalisasi) dalam harga perolehan harta tersebut.

Pengembalian Barang Kena Pajak dianggap tidak terjadi dalam hal Barang Kena Pajak yang dikembalikan diganti dengan Barang Kena Pajak yang sama, baik dalam jumlah fisik, jenis maupun harganya.

Saat Pengembalian Barang Kena Pajak adalah saat Barang Kena Pajak tersebut dikembalikan oleh Pembeli. Saat Pembatalan Jasa Kena Pajak adalah saat dilakukannya pembatalan seluruhnya atau sebagian hak atau fasilitas atau kemudahan oleh pihak Penerima Jasa.

Dalam hal terjadi Pengembalian Barang Kena Pajak Pembeli harus membuat dan menyampaikan nota retur kepada Pengusaha Kena Pajak Penjual. Nota retur paling sedikit harus mencantumkan:

a. nomor urut nota retur;

b. nomor, kode seri, dan tanggal Faktur Pajak dari Barang Kena Pajak yang dikembalikan;

c. nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak Pembeli;

d. nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak Pengusaha Kena Pajak Penjual; e. jenis barang, jumlah harga jual Barang Kena Pajak yang dikembalikan;

f. Pajak Pertambahan Nilai atas Barang Kena Pajak yang dikembalikan, atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yang dikembalikan;

g. tanggal pembuatan nota retur; dan

h. nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani nota retur. Nota retur harus dibuat pada saat Barang Kena Pajak dikembalikan.

Nota retur dibuat paling sedikit dalam rangkap 2 (dua) yaitu: a. lembar ke-1: untuk Pengusaha Kena Pajak Penjual; b. lembar ke-2: untuk arsip Pembeli.

Dalam hal Pembeli bukan Pengusaha Kena Pajak, nota retur dibuat paling sedikit dalam rangkap 3 (tiga), dan lembar ke-3 harus disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Pembeli terdaftar.

Pengembalian Barang Kena Pajak dianggap tidak terjadi dalam hal: a. nota retur tidak selengkapnya mencantumkan keterangan;

b. nota retur tidak dibuat pada saat Barang Kena Pajak tersebut dikembalikan c. nota retur tidak disampaikan

Dalam hal terjadi pembatalan penyerahan Jasa Kena PajakPenerima Jasa harus membuat dan menyampaikan nota pembatalan kepada Pengusaha Kena Pajak Pemberi Jasa Kena Pajak. Nota pembatalan paling sedikit harus mencantumkan:

a. nomor nota pembatalan;

b. nomor, kode seri dan tanggal Faktur Pajak dari Jasa Kena Pajak yang dibatalkan;

c. nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak Penerima Jasa;

d. nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak Pengusaha Kena Pajak Pemberi Jasa Kena Pajak;

e. jenis jasa dan jumlah penggantian Jasa Kena Pajak yang dibatalkan; f. Pajak Pertambahan Nilai atas Jasa Kena Pajak yang dibatalkan; g. tanggal pembuatan nota pembatalan; dan

h. nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani nota pembatalan. Nota pembatalan harus dibuat pada saat Jasa Kena Pajak dibatalkan.

C. Latihan Kasus 1

1. PT Bahtera menyerahkan Barang Kena Pajak secara langsung kepada Tuan Bambang dengan harga jual Rp10.000.000 pada tanggal 15 Mei 2014. Atas transaksi penyerahan Barang Kena Pajak tersebut PT Bahtera menerbitkan Faktur Pajak pada tanggal ………. dengan nilai PPN ………

2. Tanggal 27 Februari 2014 PT Buana menandatangani kontrak jual beli Barang Kena Pajak dengan PT Pratama dengan harga jual Rp100.000.000. Tanggal 2 Maret 2014 PT Pratama melakukan pembayaran uang muka sebesar Rp20.000.000. Penyerahan barang secara langsung dilakukan tanggal 10 Maret 2014 berikut dibuat tagihan. Pembayaran baru diterima tanggal 21 April 2014. Atas transaksi tersebut diterbitkan faktur pajak tanggal………. Dengan nilai PPN………

3. PT Kelana yang berkedudukan di Bandung menjual Barang Kena Pajak kepada PT Polonia di Medan dengan syarat pengiriman (term of delivery) loco gudang penjual (fob shipping point). Harga jual barang kena pajak tersebut Rp100.000.000. Barang Kena Pajak dikeluarkan dari gudang PT Kelana dan dikirim ke gudang PT Polonia pada tanggal 29 Maret 2014 dengan menggunakan perusahaan ekspedisi dengan tanggal DO (delivery order) 29 Maret 2014. Barang diterima oleh PT Polonia pada tanggal 15 April 2014. Atas transaksi penyerahan Barang Kena Pajak tersebut, PT Kelana menerbitkan

Faktur Pajak pada tanggal ………….

4. PT Teguh di Jakarta menjual Barang Kena Pajak kepada PT Sentosa di Semarang dengan syarat pengiriman (term of delivery) franco gudang pembeli (fob destination). Harga jual barang kena pajak tersebut Rp100.000.000. Barang dikeluarkan dari gudang PT Teguh dan dikirim ke gudang PT Sentosa pada tanggal 3 Juli 2014 dengan menggunakan perusahaan ekspedisi. Barang diterima oleh PT Sentosa pada tanggal 13 Juli 2014. Teguh wajib menerbitkan Faktur Pajak paling lama tanggal ……….. dengan nilai PPN ………

5. Terkait soal diatas, apabila PT Teguh menerbitkan faktur penjualan (invoice) pada tanggal 15 Juli 2014, yaitu setelah mendapat kepastian bahwa barang telah sampai kepembeli, maka atas penyerahan Barang Kena Pajak tersebut, PT Teguh wajib menerbitkan Faktur Pajak paling lama tanggal ……….. dengan nilai PPN ………

6. PT Bintara Properti membuat perjanjian jual beli sebuah rumah dengan Tn Amir senilai Rp1.000.000.000. Perjanjian ditandatangani tanggal 1 Mei 2014. Saat perjanjian ditandatangani rumah belum selesai dibangun, sehingga PT Bintara Properti membuat perjanjian penyerahan hak untuk menggunakan atau menguasai rumah tersebut pada tanggal 1 September 2014 saat rumah selesai dibangun. Atas transaksi ini harus dibuat faktur pajak paling lambat tanggal…… dengan nilai PPN………….

7. Terkait soal diatas, apabila ternyata rumah tersebut pada tanggal 2 Agustus 2014 telah diserahkan atau berada dalam penguasaan pembeli, maka Atas transaksi ini harus dibuat faktur pajak paling lambat tanggal…… dengan nilai PPN………….

8. PT Bintara Properti menjual sebuah rumah siap pakai dengan Tn Budi senilai Rp1.000.000.000. Rumah tersebut dijual dan diserahkan secara nyata tanggal 1 Agustus 2014. Perjanjian jual beli ditandatangani tanggal 1 September 2014. Faktur Pajak harus diterbitkan pada tanggal ……….. dengan nilai PPN ………..

9. PT Lesmana menyewakan satu unit ruko kepada PT Gajah dengan masa kontrak selama 12 (dua belas) tahun. Dalam kontrak disepakati antara lain:

a. PT Gajah mulai menggunakan ruko tersebut pada tanggal 1 Agustus 2014. b. Nilai kontrak sewa selama 12 (dua belas) tahun sebesar Rp 360.000.000,00. c. Pembayaran sewa adalah tahunan dan disepakati dibayar setiap tanggal 30

Agustus dengan pembayaran sebesar Rp30.000.000,00 per tahun.

Pada tanggal 30 Agustus 2014 PT Gajah melakukan pembayaran sewa untuk tahun pertama. Atas penyerahan Jasa Kena Pajak tersebut, PT Lesmana wajib menerbitkan Faktur Pajak pada tanggal ……… dengan PPN sebesar ………. 10. PT Delima mengontrak Firma Bonafide Konsultan untuk memberikan jasa konsultasi

manajemen dan pelatihan kepada staff marketing PT Delima selama 6 (enam) bulan dengan nilai kontrak sebesar Rp180.000.000,00. Pembayaran jasa konsultasi akan dilakukan setiap bulan. Firma Bonafide Konsultan mulai memberikan jasa konsultasi sejak tanggal 1 Agustus 2014. Pada tanggal 8 September 2014, Firma Bonafide Konsultan mengajukan tagihan untuk pembayaran jasa konsultasi bulan Agustus sebesar Rp30.000.000,00. PT Delima melakukan pembayaran atas tagihan tersebut pada tanggal 25 September 2014. Atas transaksi tersebut, Firma Bonafide Konsultan wajib menerbitkan Faktur Pajak pada tanggal ……… dengan PPN sebesar

………

11. PT Telkomindo adalah suatu perusahaan jasa telekomunikasi. PT Telkomindo melakukan penagihan kepada pelanggan sesuai dengan periode pemakaian selama 1 (satu) bulan. Pengumpulan data-data pemakaian dari pelanggan memerlukan waktu beberapa hari, sehingga faktur penjualan baru dapat diterbitkan beberapa hari setelahnya. Untuk pemakaian oleh pelanggan pada tanggal 1 - 30 Juni 2014, PT Telkomindo menerbitkan faktur penjualan (melakukan penagihan) pada tanggal 5 Juli 2014. Untuk kasus ini, Faktur Pajak diterbitkan paling lama tanggal………. 12. PT Primakarya membuat perjanjian pemborongan untuk pembangunan sebuah

gedung senilai Rp1.000.000.000

a. Tanggal 1 April 2014, perjanjian pemborongan ditandatangani dan diterima uang muka sebesar Rp50.000.000

b. Tanggal 1 Mei 2014, pekerjaan selesai 20%, diterima pembayaran tahap ke-1 Rp150.000.000

c. Tanggal 1 Juni 2014, pekerjaan selesai 50%, diterima pembayaran tahap ke-2 Rp 350.000.000

d. Tanggal 20 Juni 2014, pekerjaan selesai 80%, diterima pembayaran tahap ke-3 Rp30.000.000

e. Tanggal 25 Agustus 2014, pekerjaan selesai 100%, bangunan atau barang tidak bergerak diserahkan.

f. Tanggal 1 September 2014, diterima pembayaran tahap akhir (ke-4) sebesar Rp150.000.000

g. Tanggal 1 Maret 2015, diterima pembayaran pelunasan seluruh jasa pemborongan.

Dalam kasus ini harus dibuat faktur pajak tanggal ….. dengan nilai PPN ………..

Kasus 2

Tn Hartawan bekerja pada PT ABADI sebuah perusahaan bergerak dalam bidang distributor barang elektronik. Tn Hartawan diminta oleh direktur perusahaan untuk mengurusi semua urusan pajak PT ABADI. Pada tanggal 20 Desember 2013 PT ABADI telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Berikut ini adalah transaksi yang dilakukan oleh PT ABADI

1) 21 Desember 2013 melakukan penjualan secara tunai 5 unit televisi kepada PT INDOTEVE dengan harga jual Rp20.000.000

2) 22 Desember 2013 menandatangani kontrak penjualan 30 unit radio kepada PT INDORADIO dengan harga jual Rp 300.000/unit. Penyerahan barang dilakukan tanggal 26 Desember 2013 sedangkan pembayaran baru diterima tanggal 30 Desember 2013 3) 2 Januari 2014 melakukan penjualan tunai 12 unit rice cooker kepada PT INDORICE

dengan harga jual Rp 400.000/unit. Dalam rangka promosi awal tahun diberikan diskon 20%

4) 3 Januari 2014 Ditandatangani kontrak penjualan 10 unit kulkas kepada PT INDOKULKAS dengan harga jual yang disepakati Rp3.000.000/unit. Bersamaan penandatanganan kontrak diterima pembayaran uang muka sebesar Rp10.000.000. Penyerahan barang dilakukan tanggal 5 Januari 2014 sedangkan pembayaran baru diterima tanggal 7 Januari 2014.

5) 8 Januari 2014 Ditandatangani kontrak penjualan 50 unit blender kepada PT INDOBLEND dengan harga jual yang disepakati Rp150.000/unit. Bersamaan penandatanganan kontrak diterima pembayaran uang muka sebesar Rp3.000.000. Penyerahan barang dilakukan tannggal 10 Januari 2014. Pembayaran diterima tanggal 12 Januari dengan diberikan diskon Rp 1.000.000.

6) 13 Januari 2014 Ditandatangani kontrak pengadaan 4 unit alat pengatur suhu udara (AC) dengan Departemen Dalam Negeri. Harga jual yang disepakati adalah Rp 2.000.000/unit termasuk PPN. Penyerahan barang dilakukan tanggal 15 Januari 2014, penagihan tanggal 16 Januari 2014 sedangkan pembayaran diterima tanggal 17 Januari 2014

7) 18 Januari 2014 Penyualan tunai mesin jahit elektrik kepada PT INDOJAHIT dengan harga jual Rp10.000.000. Atas penyerahan ini mendapat fasilitas PPN dibebaskan 8) 19 Januari 2014 Penyualan tunai travo kepada PT INDOTRAVO dengan harga jual

Rp15.000.000. Atas penyerahan ini mendapat fasilitas PPN tidak dipungut.

9) 20 Januari 2014 Memberikan hadiah Tn AMIR satu buah mesin cuci yang harga pasarnya Rp2.750.000. Dalam harga pasar tersebut sudah termasuk laba kotor 10% dari harga pokok.

10) 25 Januari 2014 Menjual 1 unit mobil pickup yang selama ini sebagai aktiva tetap untuk keperluan distribusi kepada PT INDOMOBIL dengan harga jual Rp 50.000.000. Harga perolehan mobil tersebut Rp 100.000.000 sedangkan nilai sisa bukunya Rp 60.000.000 Pertanyaan :

a. Bagaimana prosedur Tn Hartawan untuk mendapatkan nomor seri Faktur Pajak?

b. Kewajiban apa yang harus dilakukan oleh Tn Hartawan sebelum menerbitkan dan/atau menandatangani faktur pajak? Kapan kewajiban ini paling lambat dilakukan?

c. Wajib pajak telah diberikan nomor seri faktur pajak sebagai berikut : • Tahun 2013 nomor seri : 900-13.22222000 sd 900-13.22222100 • Tahun 2014 nomor seri : 777-14.44444444 sd 900-14.44444500

Terkait dengan transaksi diatas, tentukan; Nomor Faktur Pajak, Tanggal Faktur Pajak, Dasar Pengenaan Pajak dan PPN yang tercantum dalam Faktur Pajak.

d. Bagaimana perlakuan atas nomor seri faktur pajak yang tersisa di tahun 2013?

D. Rangkuman

Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak. Bentuk dan ukuran formulir Faktur Pajak disesuaikan dengan kepentingan Pengusaha Kena Pajak. Pengadaan formulir Faktur Pajak dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak. Faktur Pajak paling sedikit dibuat dalam 2 (dua) rangkap yang peruntukannya masing-masing sebagai berikut :

a. Lembar ke-1, disampaikan kepada pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak.

b. Lembar ke-2, untuk arsip Pengusaha Kena Pajak yang menerbitkan Faktur Pajak.

Dalam hal Faktur Pajak dibuat lebih dari yang ditetapkan, maka harus dinyatakan secara jelas peruntukannya dalam lembar Faktur Pajak yang bersangkutan

Jenis faktur pajak yang dikenal dalam praktik PPN adalah a. Faktur Pajak

b. Faktur Pajak Gabungan adalah Faktur Pajak yang meliputi seluruh penyerahan yang dilakukan kepada pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak yang sama selama satu bulan kalender.

c. Dokumen tertentu dipersamakan dengan faktur pajak d. Faktur Pajak Pengusaha Kena Pajak Eceran (PKP PE) Faktur Pajak harus dibuat pada:

a. saat penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak;

b. saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak; c. saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan;

atau

d. saat Pengusaha Kena Pajak rekanan menyampaikan tagihan kepada Bendahara Pemerintah sebagai Pemungut Pajak Pertambahan Nilai.

Sedangkan untuk Faktur Pajak Gabungan harus dibuat paling lama pada akhir bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak

Dokumen terkait