• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

5.2 Saran

Sekarang ini selibat sebagai salah satu bentuk kehidupan yang jarang dipilih orang yang sering dipertanyakan keberadaannya. Tidak jarang selibat dipandang sebagai sesuatu yang tidak mungkin. Lebih dari itu tidak jarang pula dianggap gila oleh sementara orang. Karena opini masyarakat yang sepeti ini justru seharusnya para selibater menjaga keindahan hidup seliabat baik itu menjaga dari dalam diri maupun dari luar. Apapun tantangan yang datang harus dapat mempertahankan hidup selibatnya.

Sering kali antara fraksis (penghayatan) hidup dengan doa dan studi tidak seimbang, ketika semuanya tidak seimbang atau tidak oke maka konflik akan muncul. Para selibater haruslah dapat menyeimbangkan seluruhnya karena apabila dengan doa dan dengan studi maka hidup selibat itu tidak akan sesuai dengan hukum selibat.

Ketidak sesuaian fraksis dengan hidup selibat sering menjadikan persoalan pribadi yang berujung – ujung menjadi sengketa dengan sesama selibater. Jika hal ini berlarut – larut tanpa ada resolusi dari dalam diri sendiri maka akan timbul konflik dengan sesama. Untuk itulah, keutuhan hidup selibat itu harus dijaga agar tidak goyah. Jauhkanlah diri dari hal – hal yang akan merusak keutuhan hidup selibat.

Hal – hal yang harus dihindari oleh Klerus : A. Dalam relasi dengan Tuhan :

1. Melalaikan hidup doa, pengakuan dosa dan ekaristi. 2. Bersikap toleran terhadap ketidakmurnian

3. Prinsip coba – coba atas hal – hal yang negatif (sekali ini saja, lain kali tidak).

4. Permisif melalaikan ibadah harian (sibuk, capek) 5. Perasaan terpaksa menjadi imam dan terpaksa selibat.

B. Dalam relasi dengan lawan jenis (atau dengan yang sejenis) :

1. Relasi yang terlalu intim dan intensif (khusus, tunggal), juga jika dengan alasan tugas atau kerja atau kegiatan.

2. Berduaan ditempat yang sepi (akan menggoda untuk melakukan ”jab – jab ringan”, pelukan, bahkan persetubuhan).

3. sikap negatif, apatis, dan anti pati.

4. Membiarkan bahkan menikmati perasaan jatuh cinta.

5. Penyalahgunaan HP (tidak kenal waktu, sms dan bicara mesra). 6. Khayalan – khayalan yang terlalu tinggi tentang wanita (akan

7. Mengkonsumsi (mengoleksi) buku, bacaan, majalah gambar, hiburan dan film yang kurang sehat

8. Tidak bisa mengontrol diri atau mengontrol hawa nafsu 9. Sharing krisis pannggilan dengan suster atau lawan jenis.

C. Dalam relasi dengan diri sendiri (dan rekan imam) : 1. Senang bepergian sendirian atau suka menyendiri.

2. Tidak terbuka atau terlalu menutup diri terhadap teman sepanggilan.

3. Memisahkan diri dari kolegialitas imam.

4. Tidak bisa atau tidak mampu percaya terhadapa rekan sepanggilan.

5. Berprinsip selagi orang lain tidak mengetahuinya

6. Kecenderungan membenarkan diri (merasa diri lebih benar, lebih baik dari orang lain) dan rationalisasi (memberi alasan rasional untuk menutupi kelemahan atau kekurangan diri)

7. Tidak jujur atau berbohong dan Mentalitas bermalas – malasan 8. Hidup mengikuti arus zaman.

9. Single fighter baik dalam karya maupun dalam memecahkan persoalan hidupnya.

DAFTAR PUSTAKA

Agus, Bustanudin. 2003. Sosiologi Agama. Padang: Andalas University Press. Eddy, Kristiyanto. 2002. “Perihal Selibat Imamat”, Dalam Diskursus, Vol 1, No

1. Hal 61.

Darmawijaya. 1987. Hidup Murni : Budaya Indah dan Tradisi Kitab suci. Yogyakarta : Kanisius, Hal 12-14.

Dekrit Tentang Pembinaan Iman “(OT), No 10 & 16, Dalam Dokumen Konsili Vatikan II, Oleh R. Harda Wiryana, (Jakarta : Dokumentasi dan Penerangan KWI. Obor, 1993).

Driyarkara, 1981 : Percikan Filsafat , Jakarta : PT Pembangunan Hal : 87

Drs. Robert M. Z. Lawang 2000 : Modul Pengantar Sosiologi , Universitas Terbuka . November 2000. Hal 332 – 334)

Frans, ferdy. S 2000 : Kewajiban Klerikus Menjalani Hidup Selibat Sesuai Kitab

Hukum Kanonik (KHK). Medan 29)

Hadari, Nawawi. 1985. Metode Penelitian Bidang Sosial. Universitas Gajah Mada Hal- 42.

H. J. Kahmadi 1981. Rambu-rambu Dalam Biara. Ende : Nusa Indah. Hardawiryana. 1979. Selibat Imam . Yogyakarta. Hal 7-8 .

Heidjrachman Ranupandojo, Drs. Suad Husnan M.B.A, 1986 “Manajemen Personalia”. Edisi III. BPFE. Yogyakarta.

Heuken. S.J. 1991-1994 Ensiklopedi Gereja. Yayasan Cipta Loka Karya. Jakarta. Kartini, Kartono, 1988. Pemimpin dan Kepemimpinan. Rajawali. Jakarta.

Konstitus Dogmatis Tentang Gereja (LG), No : 40 Dalam Dokumen Konsili Vatikan II,1993 Diterjemahkan Oleh R. Harda Wiryana, Jakarta : Dokumentasi dan Penerangan KWI. Obor.

Marc, Oraison , Di Persimpangan Jalan Hidup Orang Tidak kawin ( Yogyakarta : Kanisius 1973 ) hal : 21 Jilid II.

Mardi, Prasetyo et al…… 1987 (Penterjemah), Kaul Harta Melimpah Dalam Bejana tanah Liat . Yogyakarta : Kanisius

MGR. Anicetus. B. Sinaga. Imam Triniter :1996. Pedoman Hidup Imam . Yogyakarta : Obor Hal 271 – 277.

Moleong, Lexy, J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. Remaja Rosdakarya.

O. Gerald and Farrugia, E.G.1996. Kamus Teologi. Yogyakarta. Kanisius.

R. Harda, Wiryana. 1979. Selibat Iman, Yogyakarta : Pusat Pastoral Yogyakarta, Hal 72.

Robertson, Roland. 1988. Agama : Dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis. Jakarta : Papas Sinar Sihati

Sanapiah, Faisal. 2003. Format – format Penelitian Sosial : Dasar – dasar Aplikasi. Jakarta. PT. RajaGrafindo Persada.

Scharf, R Betty 2004 : Sosiologi Agama. Edisi Kedua, Prenada Media, Kencana. Jakarta. Hal 79 – 80

Soerjono, Soekamto. Kamus Sosiologi. (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1993).Hal 72.

Sunarto, Kamanto 2000 : Pengantar Sosiologi. Edisi Kedua. Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Jakarta. Hal : 182

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia (ED), 2003 Kamus Besar Bahasa Indonesia Jakarta : Balai Pustaka, Hal 765.

Usman, Sunyoto ; 2004. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset.

Van, Bremeen. 1983. Kupanggil Engkau Denagn NamaMu . Yogyakarta. Kanisius.

Majalah :

• ROHANI No 05. Tahun ke-49, Mei 2002.

• ROHANI No 11. Tahun ke-51 November 2004.

• ROHANI No 01. Tahun ke-52, Januari 2005.

• Kompas 2004 ; 15 juni 2004 Situs Internet : 082002.htm, ( 30 mei 2004 )  http://www. Indocell.net/yesaya  http://www.catholicpriest.com

april 2007 Pukul 11. 39 WIB

INTERVIEW GIUDE

Nama : Lena Mariana Br Haloho Nim : 030901055

Judul Penelitian : Hidup Selibat Pada Komunitas Calon Biarawan

CALON BIARAWAN

PANDUAN WAWANCARA

1. PROFIL INFORMAN

A. DATA PRIBADI INFORMAN

1. Nama : 2. Jenis kelamin : 3. Tmpt / Tgl Lahir : 4. Alamat rumah : 5. Suku : 6. Biara / Asrama : 7. Tingkat Pendidikan : 8. Asal : 9. Jumlah bersaudara : 10.Anak ke :

B. DATA DASAR

1. Sebelum menjalani hidup selibat di Seminari ini, apakah saudara pernah mengikuti pendidikan formal?

2. Dari siapakah saudara mengetahui keberadaan Seminari ini?

3. Bagaimana saudara bisa masuk menjalani hidup selibat di Seminari ini? 4. Pernahkah saudara mengalami kesulitan saat hendak menempuh pendidikan di

Seminari ini?

5. Kesulitan dalam hal apa yang saudara alami? 6. Apakah tidak ada Seminari di daerah asal saudara?

7. Apa alasan saudara memilih masuk untuk menjalani hidup selibat ?

8. Siapakah orang pertama yang saudara kabari bahwa saudara mempunyai rencana masuk ke Seminari ini?

9. Apa reaksi orang tersebut? Berikan alasan!

10.Kapan saudara mulai menjalani hidup selibat di Seminari ini?

11.Bagaimana perasaan saudara setelah sekian lama menjalani hidup selibat di Seminari ini?

2. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI CALON BIARAWAN MENJALANI HIDUP SELIBAT DI SEMINARI 1. Sebelum saudara menjalani hidup selibat di Seminari ini, apakah sebelumnya

saudara telah mengetahui tentang selibat itu sendiri? 2. Apa yang saudara ketahui tentang selibat?

3. Menurut pendapat saudara, apakah menjalani hidup selibat itu adalah sesuatu hal yang wajar?

4. Apa motivasi saudara menjalani hidup selibat di Seminari ini?

5. Hingga saat ini, pernahkah saudara mendapatkan cobaan dari segi biologis agar tidak menghidupi selibat itu sendiri?

6. Apa tantangan terbesar dari dalam diri yang saudara hadapi selama menjalani hidup selibat?

7. Selama saudara menjalani hidup selibat di Seminari ini, adakah pandangan negative dari lingkungan tempat tinggal saudara, atau pun dari teman- teman, atau juga dari keluarga saudara, karena saudara memilih hidup selibat?

8. Jika diberikan dua pilihan, mana yang lebih saudara pilih, hidup Selibat atau menikah?

9. Apa tanggapan saudara terhadap situasi dunia saat ini, terutama dengan kondisi Indonesia sendiri, dimana orang – orang telah meninggalkan atau melupakan hal – hal yang sakral dan mementingkan kepentingan Duniawai? 10.Apa upaya atau strategi saudara agar menjaga keutuhan hidup selibat tersebut?

3. KONFLIK – KONFLIK YANG PERNAH DIHADAPI 1. Selama saudara menjalani hidup selibat, pernahkah terjadi konflik? 2. Apa yang memicu terjadinya konflik itu sendiri?

3. Siapa oknum atau orang yang terlibat atau mengalami konflik?

4. Pernahkah saudara mengalami konflik dengan sesama yang menjalani hidup selibat? Berikan alasan?

5. Apa hal – hal yang memicu terjadinya konflik tersebut?

6. Biasanya siapakah yang terlebih dahulu memicu terjadinya konflik? 7. Siapa yang paling sering mengalami konflik?

8. Konflik apa yang paling sering terjadi?

9. Intensitas konflik yang terjadi lebih mengacu ke konflik besar atau konflik kecil?

10.Hal – hal apa yang sering memicu terjadinya konflik itu? 11.Apa yang saudara perbuat jika terjadi konflik?

12.Siapakah yang biasanya menjadi pendamai?

13.Ketika saudara berinteraksi dengan lingkungan sekitar, apakah itu di lingkungan seminari atau pun dengan masyarat\kat sekitar, atau juga dengan Bapak asrama, pernahkah saudara mendengar terjadi konflik?

14.Apa yang memicu terjadinya konflik tersebut? 15.Siapakah yang menjadi pendamai konflik itu sendiri?

16.Selain konflik dengan sesama atau pun dengan Bapak asrama, pernahkah saudara mengalami konflik dengan masyarakat sekitar?

17.Apa yang memicu terjadinya konflik tersebut?

INTERVIEW GIUDE

Nama : Lena Mariana Br Haloho Nim : 030901055

Judul Penelitian : Hidup Selibat Pada Komunitas Calon Biarawan

BAPAK ASRAMA

PANDUAN WAWANCARA

I. PROFIL INFORMAN

A. DATA PRIBADI INFORMAN

1. Nama : 2. Jenis kelamin : 3. Tmpt / Tgl Lahir : 4. Asal : 5. Alamat : 6. Agama : 7. Suku : 8. Pendidikan terakhir : 9. Status : 10.jabatan :

B. DATA – DATA

1. Bisakah Pastor menjelaskan sedikit tentang pengertian hidup selibat? 2. Sejak kapan Pastor menjadi Bapak Asrama ?

3. Siapakah yang menjabat sebagai Bapak asrama sebelum Pastor ? 4. Bolehkah saudara atau keluarga atau teman datang berkunjung?

5. Selama Pastor menjadi Bapak asrama, pernahkah pihak keluarga dari calon Biarawan datang berkunjung?

6. Apakah pada saat berkunjung tersebut ada ketentuan yang harus dipatuhi? 7. Apa ketentuan - ketentuan atau peraturan- peraturannya?

8. Apa saja kegiatan yang dilakukan setiap harinya oleh calon biarawan, Mulai dari pagi hari hingga malam hari?

9. Kapankah para calon biarawan boleh keluar dari asrama? 10.Apakah ada syarat yang harus dipatuhi apabila hendak keluar?

11.Apa saja syarat atau peraturan yang harus dipatuhi apabila hendak keluar? 12.Selama yang Pastor ketahui, apa alasan calon birawan memilih hidup selibat? 13.Apakah motivasi atau alasan mereka hidup selibat itu karena masalah pribadi

atau karena memang kemauan dari dalam diri sendiri?

14.Diantara dua pilihan diatas manakah alasan yang lebih mndominasi?

15.Selama Pastor menjadi Bapak Asrama apakah ada calon biarawan yang kurang mematuhi peraturan?

16.Adakah terjalin interaksi yang baik antara Bapak asrama dengan Calon Biarawan?

17.Selama Pastor menjadi Bapak asrama, pernahkah terjadi Konflik antara sesama?

18.Pernahkah terjadi konflik antar sesama dengan yang lainnya? 19.Apakah yang menyebabkan terjadinya konflik itu ?

20.Pernahkah terjadi konflik antara Bapak asrama dengan calon biarawan? 21.Mengapa konflik itu bisa terjadi?

22.Siapakah yang menjadi pendamai apabila konflik terjadi?

23.Konflik apa yang paling sering terjadi diantara sesama calon biarawan? 24.Konflik besar atau konflik kecil yang sering melanda calon biarawan?

Dokumen terkait