BAB III METODOLOGI PENELITIAN
4.4 Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Calon Biarawan
4.4.1 Tantangan Dalam Hidup Selibat
4.4.1.1 Tantangan Dari Dalam Diri
Manusia adalah mahluk sosial dan juga mahluk seksual (Klerikus juga sebagai mahluk seksual dan juga mahluk sosial), keseksualan itu bisa menimbulkan masalah yang pelik atau rumit yang berkaitan dengan hidup selibat yang sedang dijalani klerus, jika tidak ditangani dengan tepat guna. Kaum klerus harus dapat mengolahnya dengan baik, agar klerus tahu apa sesungguhnya yang
dimaksud dengan seksualitas manusia dan juga agar kaum klerus tahu sampai diambang batas mana seksualitas dalam dirinya.
Sebagai seorang mahluk sosial dan juga mahluk seksual, klerus sebagai seorang lelaki yang saat ini sedang menempuh pendidikan guna mencapai pentahbisan, seorang klerus pun memiliki masalah dalam hal seksualnya. Tantangan dari dalam diri sendiri ini jauh lebih besar atau lebih sulit meredakannya. Belum tentu klerus menang dengan selibatnya dan bisa meredakan tantangannya ini, dan belum tentu juga klerus kalah.
Tantangan yang dialami klerus dalam hal seksualitas sama dengan manusia biasa yaitu : afektifitas dan seksualitas genital. Hanya saja perbedaannya klerus tidak boleh terlalu mngeindahkan seksualitasnya, sedangkan manusia biasa tergantung pada dirinya, apakah akan dituruti atau cukup dengan hanya diredam saja. Afektifitas itu sendiri adalah kasih sayang, pengertian, penghargaan, pengakuan dan penerimaan. Sedangkan yang termasuk kedalam seksualitas genital ialah : seperti Masturbasi, persetubuhan, perasaan – perasaan fantasi – fantasi serta kerinduan – kerinduan yang mengarah keseksualitas genital, dalam kenyataan yang ada, seksualitas genital itu tidak jarang menimbulkan masalah – masalah yang sangat runit dalam kehidupan klerus dalam penghayatan hidup selibatnya.
Semua mahluk hidup termasuk kaum klerus ingin pemenuhan hidup seksualnya dengan normal dan wajar, kenormalan dan kewajaran itu terletak atau
ada dalam perkawinan, walaupun klerus tidak bisa menikmati atau memenuhi perkawinan, hidup klerus tetap utuh atau lengkap sebagai seorang manusia tepatnya sebagai seorang laki – laki. Keutuhannya itu terletak pada selibatnya itu sendiri. Klerikus sebagai seorang mahluk seksual tidaklah harus mutlak menunjukkan afektifias seksualnya demi menjaga keseimbangan biologis dan psikologis karena hubungan seksualnya, demi menjaga keseimbangan biologis dan psiologis yang bebas dan sifatnya dalam dirimasing – masing individu. Klerus tidak memungkiri atau menyangkal bahwa energi seksual itu adalah sangat kuat dan asasi. Namun dalam energi seksual itu sendiri merupakan kecenderungan kepada aktifitas yang senantiasa bersifat “sesuka hati atau mana suka” untuk perkembangan dan pembentukan pribadi masing – masing terutama pribadi klerus.
Sebagai seorang klerus, kebutuhan dasar yang hendak dipuaskan dalam hidup sebagai seorang mahluk seksual, sama dengan kebutuhan manusia biasa yaitu dorongan persatuan kesempurnaan dan persahabatan timbal balik. Disadari oleh masing –masing klerus dalam pribadinya dengan selibat, bahwa klerus telah merelakan hidup persatuan seksual, merelakan dalam arti disini adalah dengan sengaja tidak mau mengambil persatuan hidup itu, akan tetapi kebutuhan tetap saja kebutuhan dan terus terdorong untuk dipenuhi klerus. Dan disini akan muncul konflik manakala klerus tidak sanggupmengintegrasikannya.
Selain hal itu,kleus juga sangat membuthkan pemuasan terhadap kebutuhan akan kehadiran seorang sosok orang lain atau kerinduan akan sesorang. Dimana seorang klerikus ingin menemukan cinta, kasih sayang, dan pengakuan berfikir dalam hal sosok orang lain tersebut. Hal ini memanglah normal untuk dialami seorang klerus karena klerikus adalah mahluk seksual. Apabila dalam hal membutuhkan seorang sosok ini menyebabkan ketidakmatangan pemikirannya dan kurang dewasa dan sukar menerima orang lain, hal ini akan membuat klerikus tersebut gigih atau kuat untuk memenuhinya. Maka hukum selibat yang selama ini dipegang klerus dengan teguh tidak akan berhasil dipenuhinya.
Hati dan energi klerikus tidak boleh lebih dipusatkan untuk menangkap hati orang lain guna mendapatkan perhatiannya. Akibatnya apabila semuanya itu tidak terpenuhi maka klerikus akan gampang merasa kesepian, kekosongan, cemas, dan gelisah karena merasa ditinggalkan. Klerikus arusa dapat menyeimbangkan hati dan perasaannya ini demi selilbat yang sedang dijalaninya. Ketidakmatangan klerikus dalam hal seksualitasnya ini bisa menyebabkan kekurangwajaran dalam bersikap, kurang wajar dalam melihat seksualitasnya. Dorongan – dorongan seksual yang sebenarnya wajar dan normal untuk dijalani seorang klerus bisa dilihat sebagai sesuatu yang tidak sehat. Sebagai contoh klerikus cenderung menyamakan kebutuhan akan cinta dengan keinginan untuk kemesraan genital.
Ketidakmatangan klerikus dalam hal kebutuhan seksual ini cenderung akan membuat penekanan – penekanan perasaan – perasaan genital yang muncul pada penekanan kebawah sadaran. Akibatnya kaum klerikus atau pribadi itu sendiri akan menjadi stress. Dan akibat dari stress ini cenderung akan membuat kompensasi. Seksualitas seorang selibater memang sangat rumit dan dapat mengakibatkan semua orang yang kurang mengerti apa itu selibat menjadi kebingungan. Hal ini pun menjadi tantangan sebagai seorang selibater, dan walaupun begitu, klerikusklerikus haruslah tahu hendak klerus apakan perasaan – perasaaan yang mendesak dan menuntut untuk dipenuhi, hendakkah klerikus mengelusnya? Atau mencumbunya? Atau membiarkan terjadi secara alamiah? Sebagai seorang klerikus yang sedang menjalani hidup selibat, hal itu terkadang dilanggarnya demi memenuhi kebutuhan yang ingin dipenuhinya tersebut harus tersalurkan.
Manusia biasa terkadang cenderung menyamakan kebutuhan akan cinta dengan keinginan untuk kemesraan genital. Hal ini tentulah salah besar, semua itu ada baasannya, sampai dimanakah kebutuhan akan cinta itu dipenuhi dan keinginan kemesraan genital itu sendiri harus diambang batas mana? Untuk kaum kleikus hal ini harus dipagari dengan pemikiran yang sangat matang jika tidak maka selibat yang selama ini dijalaninya tidak akan ada artinya.
Klerikus harus tahu dan sadar untuk menjunjung tinggi nilai hidup selibat.demi mewujudkan kerajaan Allah, sesama dan diri sendiri, akan tetapi
dilain pihak kaum klerikus juga harus sadar bahwa sirinya sebagai mahluk seksual, sebagai seorang laki – laki yang gagah dan sehat klerikus tetap mau menikmati kemesraan, keakraban dan juga nafsu birahi, fantasi – fantasi dan untuk kerinduan untuk memuaskan tidak boleh terlalu menggebu – gebu.