• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, penulis mengajukan beberapa saran, yaitu:

1. Hikayat diharapkan dapat dijadikan sumber pembelajaran apresiasi sastra Melayu klasik di sekolah, khususnya mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

2. Pembelajaran nilai-nilai religi yang terdapat dalam Hikayat Ali Kawin dapat diimplikasikan terhadap pembelajaran sastra dan diharapkan dapat dijadikan pegangan serta dimaknai dengan tindakan nyata dalam kehidupan.

3. Sekolah hendaknya mendukung pembelajaran sastra di sekolah dengan cara menyediakan sastra Melayu klasik berupa hikayat yang bernuansa religi.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ahsani, H.M.H. Al-Hamid. Imamul Muhtadin ‘Ali bin Abi Thalib: Pintu Gerbang Ilmu Nabi Muhammas SAW. Bandung: Pustaka Hidayah. 2008.

Ancok, Djamaludin dan Fuat Nashori Suroso. Psikologi Islam: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2011.

Atmazaki. Ilmu Sastra Teori dan Terapan. Padang: Angkasa Raya. 1990.

Atmosuwito, Subijantoro. Perihal Sastra dan Religiusitas dalam Sastra. Bandung: Sinar Baru, 1989.

Baried, Siti Baroroh. dkk. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Badan Penelitian dan Publikasi dan Fakultas Universitas Gajah Mada. 1994. Braginsky, V.I. Yang Indah, Berfaedah, dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu

dalam Abad 7-1. Jakarta: INIS. 1998.

Daudy, Ahmad. Kuliah Akidah Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 1987.

Darajat, Zakiyah. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang. 2009.

Djamaris, Edwar. dkk. Sastra Melayu Lintas Daerah. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2008.

Djamaris, Zainal Arifin. Islam Aqidah dan Syariah. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1996.

Doi, Rahman I. Karakteristik Hukum Islam dan Perkawinan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1996.

Fathurahman, Oman. Filologi Indonesia Teori dan Metode. Jakarta: Kencana Prenadamedia Grup. 2015.

Hamid, Ismail. Kesusastraan Indonesia Lama Bercorak Islam. Jakarta: Pustaka al-husna.1989.

Hawthom, Jeremy. Studying the Novel an Introdution. London: British Library Cataloguing in Publication Data 1989.

Hollander, J.J. de. Pedoman Bahasa dan Sastra Melayu. Jakarta: Balai Pustaka. 1986.

Istanti, Kun Zahrun, Sudibyo, dan Rachmat Sholeh, Filologi. Jakarta: Universitas Terbuka. 2011.

Kosasih, E. Dasar-Dasar Keterampilan Bersastra. Jakarta: Yrama Widya. 2012.

Kushartanti, Untung Wuyono, dan Multamia RMT Lauder. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2005.

Lubis, Nabilah. Naskah, Teks, dan Metode Penelitian Filologi. Jakarta: Forum Kajian Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab UIN Syarif Hidayatullah. 1996.

Mangunwijaya, Y.B. Sastra dan Religiositas. Yogyakarta: Kanisius. 1988.

Mujib, Abdul dan Yusuf Mudzakkir. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Group. 2006.

Nurgiyantoro, Burhan .Teori Pengkajian Fiksi . Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press. 2012.

Pujiharto. Pengantar Teori Fiksi. Yogyakarta: Ombak. 2012.

Rahmanto. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius. 1992.

Robson, S.O. Penerjemah: Kentjanawati Gunawan. Prinsip-Prinsip Filologi Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1994.

Saputra, Karsono H, Amyran Leandra Saleh, dan Yudi Irawan. Naskah-Naskah Pesisiran. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. 2010.

Sembodo, Edy. Contekan Pintar Sastra Indonesia. Jakarta: Mizan Publika. 2010.

Siswanto, Wahyudi. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo. 2008.

Sudardi, Bani. Dasar-Dasar Teori Filologi. Surakarta: Badan Penerbit Sastra Indonesia. 2001.

Sudarsono. Sepuluh Aspek Agama Islam. Jakarta: Rineka Cipta. 1994.

Tang, Muhammad Rapi. Mozaik Dasar Teori Sastra. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar. 2008.

Tim Penyusun. Al-‘Alim: Al- quran dan Terjemahannya. Bandung: Al- Mizan. 2011.

Tim Penyusun. Kamus Bahasa Melayu Nusantara. Bandar Seri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei. 2003.

Tim Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: Pusat Bahasa. 2008.

Tim Pusbalitbang Lektur Keagamaan. Pedoman Transliterasi Arab-Latin. Jakarta: Departemen Agama RI 2003

Tumanggor, Rusmin. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Kenca Prenamedia Group. 2014.

Widjojoko dan Endang Hidayat. Teori dan Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: UPI Press. 2006.

Kelas/Semester : X Bahasa / Genap

Materi Pokok : Hikayat

Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

KI 1 Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya dengan mematuhi norma-norma bahasa Indonesia serta mensyukuri dan mengapresiasi keberadaan bahasa dan sastra Indonesia sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

KI 2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan menunjukkan sikap pro-aktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam kehidupan sosial secara efektif dengan memiliki sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia serta mempromosikan penggunaan bahasa Indonesia dan mengapresiasi sastra Indonesia.

KI 3 Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahu tentang bahasa dan sastra Indonesia serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian bahasa dan sastra yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks).

KI 4 Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak untuk mengembangkan ilmu bahasa dan sastra Indonesia secara mandiri dengan menggunakan metode ilmiah sesuai kaidah keilmuan terkait.

A. Kompetensi Dasar

1. Menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa

2. Memiliki rasa toleransi, tanggungjawab, santun, dan percaya diri.

3. Mengembangkan sikap apresiatif dalam menghayati karya sastra dalam mengetahui dan memahami definisi, karakter, jenis-jenis, dan struktur sastra, serta memahami sastra sebagai karya seni dan bidang ilmu yang dekat dengan kita.

B. Indikator Pembelajaran

1. Mengidentifikasi karakteristik sastra Melayu 2. Menjelaskan karakteristik sastra Melayu

3. Mengidentifikasi unsur instrinsik sastra Melayu 4. Menjelaskan unsur instrinsik sastra Melayu

5. Mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu 6. Menjelaskan nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu

C. Tujuan Pembelajaran

Setelah proses mengamati, menanya, mengumpulkan informasi / eksperimen, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan, siswa dapat :

1. Mengidentifikasi karakteristik sastra Melayu 2. Menjelaskan karakteristik sastra Melayu

3. Mengidentifikasi unsur instrinsik sastra Melayu 4. Menjelaskan unsur instrinsik sastra Melayu

5. Mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu 6. Menjelaskan nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu

Materi Prosedur:

1. Karakteristik sastra Melayu klasik 2. Unsur instrinsik sastra Melayu klasik

3. nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu klasik.

E. Metode Pembelajaran (Rincian dari Kegiatan Pembelajaran)

Inquiry, kajian pustaka, Diskusi kelompok, tanya jawab, Penugasan,

F. Media, Alat, dan Sumber Pembelajaran

1. Media:

Internet dan video hikayat 2. Alat/Bahan: teks hikayat 3. Sumber Belajar :

Teori sastra yang berkaitan dengan materi ajar

G. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN ALOKASI

WAKTU Pendahuluan 1. Siswa merespon salam dari guru

berhubungan dengan kondisi siswa dan kelas.

2. Siswa merespon pertanyaan dari guru berhubungan dengan pembelajaran sebelumnya. 3. Siswa menerima informasi

sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

4. Siswa menerima informasi kompetensi, materi, tujuan, dan langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan.

5. Menjelaskan cakupan materi yang akan diajarkan (menyebutkan Kompetensi Dasar yang akan disampaikan.

Inti Mengamati

1. Siswa membaca teks hikayat

2. Siswa mencermati uraian yang berkaitan dengan hikayat

Menanya

3. Siswa menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan hikayat yang sudah dibacakan dengan percaya diri dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar

Mengeksplorasi

4. Siswa mendiskusikan mengenai hikayat yang sudah dibaca. 5. Siswa mencari dari berbagai

sumber informasi tentang hikayat.

melakukan latihan menulis.

Mengkomunikasikan

7. Siswa mempresentasikan mengenai latihan yang sudah dikerjakan mengenai hal-hal yang penting dalam hikayat. 8. Siswa lain menanggapi

presentasi mengenai hal-hal yang menarik dalam hikayat.

Penutup 1. Siswa bersama guru

menyimpulkan hasil pembelajaran terkait dengan hikayat.

2. Siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan.

3. Siswa dan guru merencanakan tindak lanjut pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya.

15 Menit

H. Penilaian

Jenis/teknik penilaian:

a. Afektif (Kompetensi sikap)

(Keempatnya harus ada instrumen penilaian)

 Observasi ( KD dari KI 2 punya ciri khusus posisinya diisi oleh kata sifat)

 Jurnal ( setelah pertemuan ke-10)

 Penilaian diri (setelah pertemuan ke-10) Petunjuk :

Lembaran ini diisi oleh guru/teman untuk menilai sikap sosial peserta didik dalam toleransi. Berilah tanda cek (v) pada kolom skor sesuai sikap toleransi yang ditampilkan oleh peserta didik, dengan kriteria sebagai berikut:

4 = selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan

3 = sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dan kadang-kadang tidak melakukan

2 = kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan sering tidak melakukan

1 = tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan

Pedoman Observasi Sikap Toleransi

No Aspek Pengamatan

Skor

1 2 3 4

1. Menghormati pendapat teman

2 Menghormati teman yang berbeda suku, agama, ras, budaya, dan gender

3 Menerima kesepakatan meskipun berbeda dengan pendapatnya

4. Menerima kekurangan orang lain

5. Mememaafkan kesalahan orang lain

1 Melaksanakan tugas individu dengan baik

2 Menerima resiko dari tindakan yang dilakukan

3 Tidak menuduh orang lain tanpa bukti yang akurat

4 Mengembalikan barang yang dipinjam

5 Meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan

Pedoman Observasi Sikap Santun

No Aspek Pengamatan

Skor

1 2 3 4

1 Menghormati orang yang lebih tua

2 Mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan orang lain

3 Menggunakan bahasa santun saat menyampaikan pendapat

4 Menggunakan bahasa santun saat mengkritik pendapat teman

5 Bersikap 3S (salam, senyum, sapa) saat bertemu orang lain

Pedoman Penilaian:

Skor = Jumlah penilaian angka seluruh aspek Nilai = skor yang diperoleh x 100

skor maksimal

b. Kognitif (Kompetensi Pengetahuan):

Mata Pelajaran : ... Kelas/Semester :... Tahun Ajaran : ... Bubuhkan tanda √ pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.

No. Nama Siswa

Menjelaskan dan Mengidentifikasi karakteristik, unsur intrinsik, dan nilai yang

terkandung dalam hikayat

1 2 3 4

1.

No Aspek Pengamatan

Skor

1 2 3 4

1 Berani presentasi di depan kelas

2 Berani berpendapat, bertanya, atau menjawab pertanyaan

3 Berpendapat atau melakukan kegiatan tanpa ragu-ragu

4 Mampu membuat keputusan dengan cepat

5 Tidak mudah putus asa/pantang menyerah

2. 3. 4. 5. Rubrik Rubrik Skor

Menjelaskan dan Mengidentifikasi karakteristik, unsur intrinsik, dan nilai yang terkandung dalam hikayat dengan kurang tepat

1

Menjelaskan dan Mengidentifikasi karakteristik, unsur intrinsik, dan nilai yang terkandung dalam hikayat dengan cukup tepat

2

Menjelaskan dan Mengidentifikasi karakteristik, unsur intrinsik, dan nilai yang terkandung dalam hikayat dengan tepat

3

Menjelaskan dan Mengidentifikasi karakteristik, unsur intrinsik, dan nilai yang terkandung dalam hikayat dengan sangat tepat

4

Pedoman Penilaian:

Skor = Jumlah penilaian angka seluruh aspek Nilai = skor yang diperoleh x 100

Kepala Sekolah SMPIT Pelita Bangsa

Lutfi Syafrudin, M. Pd.

Guru Bahasa Indonesia.

rekaan, keagamaan, historis, biografis, atau gabungan sifat-sifat dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk meramaikan pesta

Hikayat mempunyai unsur intrinsik yang yang terdiri dari :

 Tema adalah pokok pikiran yang dicetuskan pengarang yang menjadi jiwa dan dasar cerita.

 Alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama dan menggerakan jalan cerita melalui rumitan dan permasalahan kearah klimaks dan penyelesaian , pautan dapat diwujudkan oleh hubungan waktu dan hubungan sebab-akibat.

 Amanat adalah gagasan yang mendasari karya sastra dan sekaligus pesan yang ingi disampaikan pengarang kepada pembaca

 Latar adalah sesuatu yang melingkupi pelaku dalam cerita.  Tokoh adalah peran, pelaku cerita atau lakon.

 Gaya bahasa adalah pemakaian kata-kata kiasan dan perbandingan yang tepat untuk melukiskan sesuatu maksud guna membentuk plastis bahasa.

Hikayat Ali Kawin

Alkisah seorang perempuan yang diberikan kecantikan luar biasa oleh Allah. Ia memiliki wajah yang bercahaya. Tidak ada ciptaan Allah yang melebihi kecantikannya. Ia adalah putri dari untusan Allah, nabi Muhammad SAW. Namanya adalah Fatimah az-Azahra. Sebab kecantikannya itulah membuat seorang pemuda sangat ingin memilikinya. Pemuda itu ialah Ali bin Abi Thalib.

Ali bin Abi Thalib adalah seorang sahabat nabi Muhammad. Ia adalah orang yang bertakwa. Berkat ketakwaannya tersebut, ia sangat dikasihi oleh Allah SWT. Suatu ketika berdoa dengan penuh harap kepada Allah. Ali bin Abi Thalib dalam doanya mengadu kepada Allah akan hatinya yang sangat

tetapi ia tidak percaya diri karena merasa tidak memiliki apa-apa. Setiap malam dan siang, terutama pada hari Jumat, ia terus berdoa dengan sangat berharap dikabulkan doanya oleh Allah.

Suatu ketika, Allah SWT memanggil malaikat Jibril. Malaikat Jibril diperintahkan untuk mengumpulkan seluruh malaikat dari tujuh langit dan malaikat yang memikul Arasy. Seketika itu, datanglah seluruh malaikat baik dari tujuh langit dan malaikat yang memikul Arasy. Kemudian Allah menyuruh malaikat Jibril membuka pintu syurga. Allah juga memerintah malaikat Zabaniyah menutup pintu neraka.

Allah kemuudian memerintahkan malaikat Jibril untuk menghancurkan kesturi dan apa saja yang harum baunya. Angin berhembus dari bawah Arasy ketika itu, menyebabkan bau dari kesturi dan wangi-wangian tercium oleh seluruh malaikat. Kayu dalam syurga pun ikut tertiup, sehingga menimbulkan segala bunyi yang sangat merdu dan membuat para bidadari berterbangan. Peristiwa tersebut membuat seluruh malaikat terheran. Mereka akhirnya bertanya kepada Allah karena kejadian hari.

Allah menjawab bahwa hari ini hendak menikahkan hamba-Nya Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah az-Zahra. Langsung Allah memerintahkan Jibril beserta para malaikat sebanyak tujuh puluh ribu membawa nampan. Nampan tersebut merupakan mas kawin untuk Fatimah. Mas kawinnya berupa perhiasan dengan berbagai warna, sutra dari benang mas, dan sutra tebal. Jibril pun segera menemui Rasulullah untuk memberi kabar pernikahan Ali bin Abi Thalib.

Setelah Fatimah mengetahui pernikahan tersebut, ia mengatakan kepada ayahnya bahwa ia telah rida dinikahkan dengan Ali bi Abi Thalib. Sayangnya, ia tidak menginginkan mas kawin dan mengembalikannya kepada Jibril. Segera Jibril menghadap Allah SWT menyampaikan keinginan Fatimah. Allah pun memerintahkan Jibril untuk turun kembali ke bumi agar Fatimah mau menerima mas kawin tersebut. Fatimah pun akhirnya menggantikan mas

mereka masih saling diam dari malam sampai pagi. Pagi harinya Ali bin Abi Thalib berpikir bahwa ia belum memberikan apapun kepada Fatimah. Ia memutuskan untuk bertemu qadi meminta upahnya sebanyak tiga dinar. Segera setelah Ali bin Abi Thalib mendapat upahnya, ia segera pulang untuk memberikan kepada Fatimah.

Ali bin Abi Thalib di tengah perjalanan bertemu dengan laki-laki meminta sedekah karena belum makan selama tujuh hari. Laki-laki itu pun diberi satu dinar oleh Ali bin Abi Thalib. Ketika melanjutkan perjalanan, bertemulah Ali bin Abi Thalib dengan orang tua yang mengaku belum makan tujuh hari tujuh malam. Orang tua pun itu diberi oleh Ali bin Abi Thablib satu dinar. Di pintu kota, Ali bin Abi Thalib bertemu perempuan dengan anak kecil yang meminta sedekah. Diberikanlah lagi sebanyak satu dinar, sehingga tidak ada lagi uang Ali bin Abi Thalib.

Ketika melanjutkan perjalanan pulang, Ali bin Abi Thalib bertemu dengan seorang laki-laki membawa unta berwarna putih. Lelaki tersebut meminta Ali membawa untanya. Datang lagi seorang lelaki hendak memberi unta tersebut seharga lima belas ribu dinar. Uang tersebut kemudian diberikan kepada Fatimah. Fatimah pun memanggil orang faqir dan miskin untuk diberikan sedekah. Begitulah perumpamaan orang yang bersedekah dan rida karena Allah. Allah akan menggantinya dengan pahala yang berlipat ganda.

enam bersaudara dari pasangan H. Ahmad Royani dan Ida. Memulai pendidikan dasar di MI Nurul Khairat. Setelah lulus MI pendidikan dilanjutkan ke Pesantren Al- Itqon Cengkareng, Jakarta untuk tinggat MTs dan MA selama 6 tahun. Pada tahun 2012, merantau Ciputat, Tangerang Selatan untuk melanjutkan pengembaraan intelektualnya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan. Sambil mengeyam perkuliahan, penulis menyelami pengetahuan agama di Pesantren Luhur Sabilussalam selama empat tahun. Ketika di bangku MA penulis sempat mengikuti beberapa perlombaan baik di tingkat daerah maupun tingkat nasional. Penulis pernah meraih juara 2 untuk perlombaan kaligrafi tingkat provinsi DKI Jakarta, juara 2 perlombaan qiratul kutub tingkat kota Tangerang, juara 1 perlombaan qiratul kutub tingkat provinsi DKI Jakarta, juara 5 perlombaan qiratul kutub tingkat nasional, dan juara 2 debat bahasa mahasiswa PBSI dalam event Bulan Bahasa tahun 2013. Pernah tergabung dalam Seminar Internasional di UMM, Malang, dengan menampilkan drama bersama beberapa mahasiswa PBSI lain. Ketika semester VIII, melaksanakan PPKT (Praktik Profesi Keguruan Terpadu) di MTs Yaspina, Rempoa, Ciputat. Penulis yang aktif juga dalam organisasi KMPLS (Keluarga Mahasantri Pesantren Luhur Sabilussalam) memiliki hobi menonton drama Korea sebagai bahan perbandingan perfilman Indonesia, membaca sejarah dan budaya. Semoga karya ilmiah ini yang berjudul Hikayat Ali Kawin: Suntingan Teks dan Nilai-nilai Religi dalam Teks serta Implikasinya terhadap Pembelajaran Sastra di Sekolah dapat memberikan manfaat kepada semua pihak dan menjadi awal untuk penelitian pernaskahan selanjutnya.

Dokumen terkait