• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran

Peneliti menyadari bahwa penelitian mengenai implikatur percakapan dengan judul Implikatur Percakapan Antartokoh dalam Film Marmut Merah Jambu karya Raditya Dika ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna.

Oleh karena itu, peneliti mengajukan beberapa saran yang kiranya dapat digunakan bagi peneliti selanjutnya terutama yang melakukan penelitian sejenis agar penelitiannya menjadi lebih baik lagi. Beberapa saran tersebut adalah sebagai berikut:

1. Penelitian ini dilakukan untuk meneliti percakapan antartokoh dalam film

Marmut Merah Jambu karya Raditya Dika yang dicurigai mengandung implikatur. Bagi peneliti yang melakukan penelitian sejenis selanjutnya, akan lebih baik jika objek penelitian berbeda. Masih banyak objek penelitian lain yang dapat diteliti dan dikembangkan oleh peneliti selanjutnya.

2. Penelitian ini hanya meneliti mengenai implikatur percakapan antartokoh dalam film Marmut Merah Jambu karya Raditya Dika. Untuk peneliti selanjutnya, ada baiknya jika melakukan penelitian mengenai implikatur konvensional atau meneliti ketidaksantunan dari film atau objek penelitian yang lainnya.

3. Bagi peneliti selanjutnya akan lebih baik jika hasil penelitian yang dilakukan dapat memberikan sumbangan pengetahuan baru terkait bahasa Indonesia untuk bidang lain (misal; dunia hukum dan dunia pendidikan).

109

DAFTAR PUSTAKA

Andreas, Hery Susanto. 2011. Implikatur Percakapan Antartokoh dalam Novel Projo & Brojo Karya Arswendo Atmowiloto (SKRIPSI). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2011. Tata Bahasa Indonesia Praktis.Jakarta: Rineka Cipta.

Cumming, Louise. 2007. Pragmatics, A Multidisciplinary Perspective (Pragmatik, Sebuah Perspektif Multidisipliner). Adbul Syukur Ibrahim (penerjemah). Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Danesi, Marcel. 2010. Pengantar Memahami Semiotika Media. Yogyakarta: Jala Sutra.

Halliday, M.A.K dan Ruquaiya Hasan. 1992. Bahasa, Konteks, dan Teks; Aspek-aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Kurniawan, Mikael Jati. 2013. Implikatur dalam Iklan Operator Selular Berbahasa Indonesia Pada Media Televisi (SKRIPSI). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Kurniasari, Maria Friani. 2011. Tindak Tutur Dalam Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) Karya Deddy Mizwar (SKRIPSI). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Lubis, A. Hamid Hasan. 2015. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa. Mariani, Maria Evi. 2015. Implikatur Percakapan Orang Tua dengan Anak pada

Peristiwa Makan Malam Bersama dalam Keluarga Pendidik di Yogyakarta (SKRIPSI). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nababan. 1987. Ilmu Pragmatik (Teori dan Penerapannya).Jakarta: Depdikbud. Nandar, F. X. 2009. Pragmatik & Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu. Nurastuti, Wiji. 2007.Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Ardana Media.

Nurgiyanto, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nurudin. 2013. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Praowo. 2009. Berbahasa Secara Santun. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2007. KBBI (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.

Putrayasa, Ida Bagus. 2015. Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Rani, Abdul, dkk. 2006. Analisis Wacana: Sebuah Kajian Bahasa dan Pemakaian. Malang: Bayu Media.

Rahardi, Kunjana. 2003. Berkenalan dengan Ilmu Bahasa Pragmatik. Malang: Penerbit Dioma.

_______________. 2005. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Samarlam. 2014. Pragmatik: Sastra dan Linguistik. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Sudarman, Paryati. 2008. Menulis di Media Massa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Syamsuddin. 2007. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Yule, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

112

120 kata-kata. Ya,

namanya masih muda, masih goblok-goblok”

Dika : “Ya tapi kan, dulu Sindi yang paling pinter aja nggakbisa mecahin kasus itu Om?”

Bapak Ina : “Ya, baguslah kalau kamu itu sadar. Kalau kalian itu pada goblok. Ya?”

menceritakan kisah ancaman pembunuhan kepala sekolah semasa ia masih SMA kepada Bapak Ina.

Bisa…”implikasinya berupa pemberitahuan bahwa kemampuan Dika dan Bertus di anggota grup detektif di bawah Sindi. Tidak terpecahkannya kasus ancaman pembunuhan terhadap kepala sekolah karena kasusnya yang memang susah sehingga Sindi sekalipun tidak dapat

menyelesaikannya.

20. Pak Yoyok : “Yang di belakang itu terus, ayok lanjut. Cantik, ya? (melihat Guru Sejarah sambil berbisik pada Dika) Dia itu gebetan saya dari dulu”

Dika (SMA) :“Pak, Ina kan masih kelas 1 SMA!” Pak Yoyok : “Bukan Ina, Guru

Sejarah. Bu Marsha. Tapi sayang dia udah nikah sama bassis

terkenal di jaman saya kuliah dulu.

Percakapan Pak Yoyok menyukai Bu Marsha. Dika

menyukai Ina. Ina dan Bu Marsha berada di tempat yang sama dan sedang bersebelahan.

Tuturan Pak Yoyok “…Emang ya nak, yang bukan siapa-siapa mana bisa dapat apa-apa…”

implikasinya memberitahukan informasi kepada Dika bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan ia harus menjadi seseorang yang berharga dan berkualitas.

121 Emang ya nak, yang

bukan siapa-siapa mana bisa dapat apa-apa (menunjuk siswa lain yang sedang olah raga). Eh jangan tidur! Lanjut terus. Ayoook!”

21. Bertus (SMA) : “Eem…sorrysiapa ya?”

Sindi (SMA) : “Sindi anak 1F. Udah dipastiin siapa yang terakhir kali liat bola itu?” Dika (SMA) : “Ee…maaf Sindi,

kami lagi ada di tengah kasus penting”

Dika dan Bertus tidak mengenal Sindi. Mereka tidak ingin Sindi ikut campur urusan penyelidikan yang mereka lakukan

Tuturan Dika “Ee…maaf Sindi, kami lagi ada di tengah kasus penting” yang mengimplikasikan bahwa mereka (Bertus dan Dika) tidak ingin Sindi terlibat dalam penyelidikan kasus hilangnya bola volli. Mereka merasa terganggu dengan kehadiran Sindi.

22. Dika : “1 jam Om…kasih saya waktu 1 jam buat cerita, Om”

Bapak Ina : “Setengah jam!” Dika : “Tapi kalau setengah

jam…”

Bapak Ina : “Di mulai dari sekarang! Ya! (Menyalakan stopwatch)

Bapak Ina mengira Dika penyebab kekakacauan pesta ulang tahun Ina yang ke 17 sehingga ia marah melihat kedatangan Dika ke rumahnya.

Tuturan Bapak Ina “Setengah jam!” mengimplikasikan dia hanya memberi Dika waktu setengaj jam untuk menjelaskan maksud kedatangannya, tidak lebih dari itu.

122 gue, nggak?”

Siswa B : “Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif, mohon hubungi beberapa saat lagi”

antara Dika dengan teman sekolahnya. Dika adalah siswa aneh. Siswa B dengan sadar dan sengaja berpura-pura menjadi customer service karena malas menjawab telepon Dika

anda tuju sedang tidak aktif, mohon hubungi beberapa saat lagi” mengimplikasikan sebuah penolakan.

24. Bertus (SMA) : “Nembak cewek itu harus banyak, biar kemungkinan diterimanya itu banyak. Kalau gue nembak 100 cewek dengan probilitas 10%, gue mungkin diterima 10 kali. Lu nggakbelajar Matematika apa?” Dika (SMA) : “Ber…tapi yang

namanya dua unsur itu harus cocok-cocokan, lu nggak belajar Kimia apa?” Bertus (SMA) : “Halah…lu nggak

usah sok pinter deh.

Percakapan terjadi di sekolah. Bertus akan menembak salah 1 siswa agar menjadi pacarnya. Bertus dan Dika adalah siswa aneh yang sering ditolak saat menyatakan cinta.

Tuturan Dika “Ber…tapi yang namanya dua unsur itu harus cocok-cocokan, lu nggak belajar Kimia apa?” mengimplikasikan sebuah peringatan kepada Bertus bahwa untuk diterima (saat menembak) kedua belah pihak harus saling memiliki ketertarikan.

123 Liat ni…liat”

25. Michael : “Temen-temen sorry,ya. kita pengennongkrong di sini”

Bertus (SMA) : “Oh…ow, iya. Nggak papa,

silahkan. Tadi agak kotor sedikit. Dik bangun Dik, bangun bangun. Nggak papa, ini agak kotor (sambil mengelap bangku bekas mereka duduk)” Percakapan terjadi ketika Michael bersama

teman-temannya ingin duduk di bangku yang sedang diduduki oleh Dika dan Bertus. Michael adalah siswa terkenal di sekolah.

Tuturan Michael “Temen-temen sorry, ya. kita pengen nongkrong di sini” implikasinya mengusir Dika dan Bertus secara halus.

26. Dika (SMA) : “Tuh…lihatkan, kita jadi kayak gini!” Bertus (SMA) : “Dik…apa salah sih,

gue nyoba ngebuat kita popular?”

Dika dan Bertus dibawa ke UKS karena luka cubitan dari teman-temanya. Mereka dicubit setelah mengikuti ide Bertus untuk menjadi terkenal

Tuturan Dika “Tuh…lihatkan, kita jadi kayak gini!” implikasinya menuduh Bertus sebagai penyebab atas apa yang menimpa mereka.

27. Bapak Ina : “Haduuuh…haduuuh. Goblok! Goblok kok dipelihara. He…grup detektif itu kenapa dibikin lagi? Kamu pernah, ya? Jatuh dari

Dika membuat grup detektif agar menjadi terkenal di sekolahnya. Bapak Ina

menganggap membuat grub detektif di zaman

Tuturan Bapak Ina yang berupa pertanyaan apakah Dika pernah jatuh dari angkot atau tidak, mengimplikasikan kejengkelan Bapak Ina atas sikap bodoh Dika dan Bertus.

124 angkot, kepalanya

duluan, kena aspal? Pernah, ya?”

Dika : “Nggak pernah, Om”

itu adalah tindakan bodoh.

28. Bertus (SMA) : “Gue sama Sindi udah make

kemampuan gue, supaya kita sampai di tempat ini untuk acara ulang tahunnya Ina”

Dika (SMA) : “Tapi gue kan nggak di undang?”

Sindi (SMA) : “Ya elah Dik, acara ulang tahunnya anak SMA mah nggak perlu pakai undangan segala kali!”

Bertus dan Sindi merencanakan agar Dika datang

menyatakan cinta di hari ulang tahun Ina.

Tapi gue kan nggak di undang?” implikaturnya berupa sebuah informasi bahwa Dika tidak berhak datang ke pesta ulang tahun Ina sebab ia bukan tamu yang diharapkan kedatangannya.

29. Bertus (SMA) : “Kalian kemarin masuk ke ruang olah raga?

(mengintrogasi)” Siswa C : “Iya, kemarin gue

yang narok bola volli baru”

Bertus (SMA) : “Berarti elu

pelakunya! Jangan

Bertus sedang menyelidiki kasus hilangnya bola volli Pak Yoyok. Bertus adalah siswa yang sangat sok tahu dan sering bertindak ceroboh

Tuturan Bertus “Berarti elu pelakunya! Jangan bohong lu! Jangan bohong!” implikasinya menuduh Siswa C sebagai pelaku pencuri bola volli.

125 bohong lu! Jangan

bohong!”

30. Bapak Ina : “Owh…gitu, ya? Eh kamu mbok nambah to, kok makannya dikit banget sih? Ini, opo gulai ayam? Opo sayur? Sayur? Atau, paru? Paru, ya?”

Dika : “Sa…saya mau minum aja sih om”

Percakapan terjadi di ruang makan. Dika tidak ingin menambah makanan tapi sungkan dan takut dengan Bapak Ina.

Tuturan Dika “Sa…saya mau minum aja sih, Om.” Implikasinya adalah sebuah informasi bahwa dia menolak apa yang ditawarkan Bapak Ina.

31. Bertus (SMA) : “Lu yakin?” Dika (SMA) : “Ber…kita harus

membela kebenaran kan?”

Bertus (SMA) : “Iya, sih”

Dika (SMA) : “Percaya sama gue”

Bertus dan Dika menyelidi Michael yang dituduh sebagai pelaku ancaman pembunuhan terhadap kepala sekolah.

Tuturan Bertus (SMA) “Lu

yakin?” mengimplikasikan sebuah keraguan terhadap penyelidikan yang dilakukan Dika.

32. Kepsek : “Kepala ekskul basket itu? Yang rambutnya wangi itu?”

Dika (SMA) : “Ya, betul Bu!” Kepsek : “Nggakmungkin,

masak?” Dika (SMA) : “Berikan saya

beberapa hari, saya bisa buktikan Bu”

Dika menuduh Michael sebagai pelaku ancaman pembunuhan kepala sekolah. Michael siswa berprestasi dan terkenal sehingga kepala sekolah agak ragu

Tuturan “Berikan saya beberapa hari, saya bisa buktikan Bu” implikasinya Dika belum dapat membuktikan tuduhannya dan meminta tambahan waktu kepada kepala sekolah untuk

membuktikannya

126 gue juga nemuin

kalok ternyata dia keringetnya banyak banget. Gue ambil sampelnya di lapangan tadi” Ina : “Dik…ketek lu aja

basah terus. Thanks, ya”

ketika Dika menghasut Ina agar menjauhi Michael. Dika menyukai Ina.

basah terus. Thanks,ya”

menimplikasikan sebuah sindiran tehdap Dika sekaligus penegasan bahwa Ina tidak merasa

bermasalah dengan Michael yang berkeringat.

34. Sindi : “Elu masih simpen nggak? Handuknya? Lu pernah nggaksih, kalau elu lagi di keramaian, terus elu inget-inget cinta pertama elu waktu di SMA? Orang yang lu suka waktu itu? Lu sering nggaknanya sama diri lu sendiri, jangan-jangan gue udah ngelewatin cinta pertama gue hanya karena gue nggakberani ngomong sama dia. Kira-kira itu yang gue rasain selama 11 tahun ini. Cinta itu kayak marmut lucu warna merah jambu yang berada di sebuah roda, seakan dia udah pergi jauh

Percakapan antara Sindi dan Dika yang sudah 11 tahun tidak betemu. Sindi

menyukai Dika begitu pula sebaliknya.

Tuturan Dika “Berhenti yuk” mengandung implikasi ia ingin menjalin hubungan khusus semacam pacaran dengan Sindi.

128

Jenis Implikatur Percakapan

IPK : Implikatur percakapan khusus IPU : Implikatur percakapan umum IPB : Implikatur percakapan berskala

No. Percakapan Konteks Jenis Implikatur

Percakapan 1. Dika : “1 jam Om…kasih saya

waktu 1 jam buat cerita, Om”

Bapak Ina : “Setengah jam!” Dika : “Tapi kalau setengah

jam…”

Bapak Ina : “Di mulai dari sekarang! Ya! (Menyalakan stopwatch)

Bapak Ina tidak berkenan dengan kehadiran Dika.

IPU Permintaan

2. Bertus (SMA) : “Hallo? Lu mau nggak

jadi pacar gue?” Siswa A : “Mendingan gue

mati!!!”

Percakapan antara Bertus dengan Siswa A melalui telepon, Bertus menembak Siswa A. Bertus jelek dan Siswa A tidak

menyukainya.

IPK Hiperbolis

3. Dika : “Iya…elu mau jadi pacar gue, nggak?”

Siswa B : “Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif, mohon hubungi beberapa saat lagi”

Dika adalah siswa aneh. Siswa B dengan sadar dan sengaja berpura-pura menjadi customer service karena malas menjawab telepon Dika.

IPK Penolakan

4. Bertus (SMA) : “Nembak cewek itu harus banyak, biar kemungkinan diterimanya itu banyak. Kalau gue nembak 100 cewek dengan probilitas 10%, gue mungkin

Percakapan terjadi ketika

Bertus ingin meminta salah 1 siswa menjadi pacarnya. Bertus dan Dika adalah siswa aneh yang sering ditolak saat menyatakan cinta.

diterima 10 kali. Lu nggakbelajar Matematika apa?” Dika (SMA) : “Ber…tapi yang

namanya dua unsur itu harus cocok-cocokan, lu nggak belajar Kimia apa?” Bertus (SMA) : “Halah…lu nggak

usah sok pinter deh. Liat ni…liat”

5. Michael (SMA) : “Temen-temen sorry,ya. kita pengennongkrong di sini”

Bertus (SMA) : “Oh…ow, iya. Nggak papa, silahkan. Tadi agak kotor sedikit. Dik bangun Dik, bangun bangun. Nggak papa, ini agak kotor

(sambil mengelap bangku bekas mereka duduk)”

Percakapan terjadi ketika Michael bersama teman-temannya ingin duduk di bangku yang sedang diduduki oleh Dika dan Bertus. Michael adalah siswa terkenal di sekolah

IPK Permintaan

6. Dika (SMA) : “Ber emangnya kenapa sih, populer dan urusan cewek sekarang jadi penting banget buat elu?”

Bertus (SMA) : “Dik…gini gini, lu tahu kan? Di SMA itu kita bisa ketemu sama jodoh kita, semakin lama kita ketemu sama jodoh kita, semakin lama kita nikah”

Dika (SMA) : “Ber…lu aja sunat nggak berani-berani, udah ngomongin

Bertus dan Dika siswa aneh dan tidak terkenal sehingga mereka sulit mendapatkan pacar di sekolah.

nikah!”

7. Dika (SMA) : “Tuh…lihatkan, kita jadi kayak gini!” Bertus (SMA) : “Dik…apa salah sih,

gue nyoba ngebuat kita popular?”

Percakapan Dika dan Bertus dibawa ke UKS karena luka cubitan dari teman-temanya. Mereka dicubit setelah mengikuti ide Bertus untuk menjadi terkenal

IPU Tuduhan

8. Bertus (SMA) : “Kenapa lu?!” Dika (SMA) : “Siomay itu biar gue

yang bayar. Ber gue lupa bawa duit. E…gue bayarin siomay elu, tapi gue pinjem duit elu dulu, nanti gue bayar ke elu lagi”

Bertus (SMA) : “Ok…ok”

Dika dan Bertus sedang marahan. Dika merasa Bertus benar dengan idenya sehingga ia ingin berbaikan dengan Bertus.

IPK Permintaan

9. Bapak Ina : “Haduuuh…haduuuh. Goblok! Goblok kok dipelihara. He…grup detektif itu kenapa dibikin lagi? Kamu pernah, ya? Jatuh dari angkot, kepalanya duluan, kena aspal? Pernah, ya?”

Dika : “Nggak pernah, Om”

Dika membuat grup detektif aneh yang sudah tidak popular di zamannya ketika SMA agar ia menjadi terkenal.

IPK Ejekan

10. Bapak Ina : “Iya…lanjut lagi ceritanya” Dika : “Tapi?”

Bapak Ina : “Saya masih punya waktu setengah jam lagi. Gimana? Terus terus?”

Percakapan antara Dika dengan Bapak Ina dikediamnanya. Dika menceritakan kisah SMA-nya kepada Bapak Ina dengan waktu terbatas (hanya diberi waktu 1 jam oleh Bapak Ina untuk bercerita dan tinggal tersisa waktu 30 menit).

IPK Permintaan

11. Dika (SMA) : “Kita ngapain sih di sini?”

Bertus (SMA) : “Di Jakarta, rata-rata dalam sehari terjadi

Percakapan Bertus dan Dika mencari kasus untuk ditangani. Bertus yakin akan mendapatkan kasus

258 kejahatan dan sebagian besarnya terjadi di jalanan. Kita tungguin aja, palingan bentar lagi juga ada kasus” Kakek Tua : “Assalamualaikum?” Bertus (SMA) : “Wa’alaikumsalam

hati-hati ya kek, awas mati! Di jalan banyak kejahatan!”

dengan mengamati jalanan di depan sekolah.

12. Bertus (SMA) : “Eem…sorrysiapa ya?”

Sindi (SMA) : “Sindi anak 1F. Udah dipastiin siapa yang terakhir kali liat bola itu?”

Dika (SMA) : “Ee…maaf Sindi, kami lagi ada di tengah kasus penting”

Dika dan Bertus tidak mengenal Sindi. Mereka tidak ingin Sindi ikut campur urusan

penyelidikan yang mereka lakukan.

IPK Penolakan

13. Jimmy : “Eh sorrykayaknya kita butuh ruangan lagi deh”

Vani : “Lah buat apa?” Jimmy : “Ya, buat piala. Elu

sendiri kan tahu kalau clubbasket kita udah keseringan menang”

Vani : “Oh, ruangannya sih ada tapi kayaknya gue harus tanya ke kepala sekolah dulu deh bisa apa enggak”

Percakapan terjadi di ruang OSIS, Jimmy yang terkenal lebih mudah mendapatkan ruangan daripada grup detektif.

IPB Permintaan

14. Bapak Ina : “Bentar ya. Ee…iya, saya mau pesen nasi padang. Mau? (menawarkan kepada Dika), Em 2 (Berbicara di telepon). He’eh! Pake cabe nggak? (tanya kepada Dika)”

Percakapan terjadi ketika

Bapak Ina memesan makanan padang yang pedas, Dika tidak

menyukai makanan pedas namun takut

mengatakannya karena

Dika : “Enggak Om”

Bapak Ina : “Cemen banget, masak

nggakpake cabe sih?” Dika : “Eh…iya Om. Maksud

saya pakai cabe yang banyak Om. Tapi kalau bisa nggakpedes”

Bapak Ina galak.

15. Dika : “Nah setelah dari perpustakaan, kami kan per…em…gimana kalau ceritanya, saya langsung ke bagian yang penting aja? Ya, Om? Jadi sebulan kemudian…”

Bapak Ina : “Bentar-bentar, tunggu, tunggu. Kamu itu bisa cerita apa enggak sebenernya? Cerita kok loncat-loncat kayak begitu. Bagaimana sih?! Yang bener! Terus…terus!”

Percakapan, Bapak Ina sangat galak. Dika diberi waktu terbatas untuk bercerita sehingga ia ingin mempersingkat ceritanya.

IPU Permintaan

16. Bapak Ina : “Owh…gitu, ya? Eh kamu mbok nambah to, kok makannya dikit banget sih? Ini, opo gulai ayam? Opo sayur? Sayur? Atau, paru? Paru, ya?”

Dika : “Sa…saya mau minum aja sih om”

Percakapan terjadi di ruang makan. Dika tidak ingin menambah makanan tapi sungkan dan takut dengan Bapak Ina.

IPU Permintaan

17. Dika (SMA) : “Jadi pelakunya?” Bertus (SMA) : “Siapa yang tidak pernah kita duga nulis surat kaleng? Ayo kita sebutin bareng. Ibu kantin!” Sindi (SMA) : “Ber…gue tahu elu

bego, tapi nggak

gini-gini juga kali!”

Bertus, Dika, dan Sindi sedang mencari tahu pelaku pengiriman surat kaleng kepada ketua OSIS. Bertus siswa aneh, jelek, dan bodoh menuduh Ibu Kantin tanpa bukti. Sindi anggota grub detektif yang paling pintar.

18. Bertus (SMA) : “Bu…apakah Ibu yang menulis surat kaleng untuk ketua OSIS?”

Ibu kantin : “Kalau itu Ibu nggak

tahu, tapi kalau yang nulis bon makanan ini memang Ibu. Eh Bertus…kamu masih banyak hutang di sini!”

Bertus (SMA) : “Maaf, ya Bu (sambil membayar hutang)”

Percakapan Bertus belum membayar hutangnya kepada Ibu Kantin

IPU Tuduhan

19. Sindi (SMA) : “Ber…gue kan udah bilang, seharusnya emang kita datangin aja alamatnya”

Bertus (SMA) : “Sebenernya gue pengen ngomong kayak gitu dari tadi”

Sindi (SMA) : “Terserah lu deh Ber!”

Percakapan Bertus tidak mengindahkan saran Sindi untuk mendatangi alamat dalam surat kaleng padahal sarannya tersebut benar.

IPU Penyangkalan

20. Bapak Ina : “ Owh…gitu, ya? Eh, mbok kamu nambah to? Kok makannya dikit banget, sih? Ini, opo gulai ayam? Opo sayur? Sayur? Atau, paru? Paru, ya?

Dika : “Sa…saya mau minum aja, Om”

Dika tidak ingin

menambah makanan yang ditawarkan Bapak Ina karena ia sudah kenyang dan hanya haus.

IPU Penolakan

21. Ina : “Ee…gue mau ngajakin elu sama grup detektif elu buat ikutan ke acara gue.

Gimana, Dika?”

Dika : “Gue sih mau-mau aja. Nanti gue tanya temen-temen gue dulu, ya?”

Percakapan terjadi di depan MADING sekolah. Ina menawarkan interview

untuk grub detektif. Dika menyukai Ina dan senang diuandang interview tetapi ia berpura-pura cuek.

IPU Permintaan

22. Ina : “Ee gue mau ngajakin elu sama grup

Percakapan terjadi di depan Mading sekolah.

detektif elu buat ikutan ke acara gue. Gimana, Dik?” Dika (SMA) : “Gue sih mau-mau

aja. Nanti gue tanya temen-temen gue dulu, ya?”

Ina menawarkan interview

untuk grup detektif.

23. Ina : “Oops… aduh, eh ketabrak”

Michael (SMA) : “SorryNa, lu nggak papa?”

Ina : “Ee nggak papa,

sorryya Mich” Michael (SMA) : “Iya ngak papa kok.

Elu mau kemana?” Ina : “Tuh (menunjuk),

mau duduk di situ” Michael (SMA) : “Oh, ya udah.

Bareng yuk?”

Ina menyukai Michael tetapi Michael tidak tahu. Ina dengan sengaja menabrakkan dirinya ke Michael.

IPK Kesepakatan

24. Kepsek : “Kepala ekskul basket itu? Yang rambutnya wangi itu?”

Dika (SMA) : “Ya, betul Bu!” Kepsek : “Nggakmungkin,

Dokumen terkait