BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Sinopsis Film Marmut Merah Jambu Karya Raditya Dika
Film Marmut Merah Jambu karya Raditya Dika adalah salah satu film yang disutradarai, diperankan, dan ceritanya ditulis langsung oleh Radiya Dika. Film ini ber-genre komedi. Banyak dialog antartokohnya yang mampu menghibur para penonton.
Film Marmut Merah Jambu karya Raditya Dika menceritakan kisah kilas balik (flashback) masa remaja seorang siswa SMA bernama Dika dan teman-temannya. Peran Dika sebagai tokoh utama dalam film tersebut diperankan oleh Christoffer Nelwan sebagai Dika ketika SMA dan Raditya Dika ketika dewasa. Dika (dewasa) menemui Bapak Ina (diperankan oleh Tio Pakusodewo) untuk memberikan 1000 burung bangau kertas yang dibuatnya sebagai hadiah untuk pernikahan Ina (diperankan oleh Anjani). Hadiah itu sengaja diberikan oleh Dika untuk memenuhi janjinya kepada Ina sewaktu mereka masih SMA. Ina merupakan gadis yang disukai Dika di SMA.
Ketika mengunjungi rumah Ina untuk memberikan hadiah, Dika tidak mendapat sambutan hangat dari Bapak Ina. Hal ini dikarenakan Bapak Ina menyangka bahwa Dika adalah orang yang menyebabkan dirinya terluka sewaktu Ina merayakan ulang tahun di masa SMA. Dika pun mencoba meyakinkan Bapak Ina bahwa dia bukanlah orang yang melakukan tindakan
tersebut. Dika menyakinkan Bapak Ina dengan cara menceritakan bagaimana kejadian sebenarnya saat itu (saat Bapak Ina terluka oleh alat sengat listrik).
Dika diberikan waktu terbatas oleh Bapak Ina untuk menceritakan semua kejadian yang sebenarnya terjadi. Dika menceritakan kronologis kejadian dimulai dari ia masih SMA. Dika menceritakan bagaimana ia menyukai Ina ketika masih SMA dan bagaimana perjuangannya bersama sahabatnya (Bertus) yang ingin menjadi siswa populardi SMA. Keinginan Dika menjadi popular sendiri dilatarbelakangi karena Dika menyukai Ina. Ia menganggap satu-satunya cara mendapatkan Ina adalah dengan menjadi siswa popular (terkenal) di SMA.
Berbagai cara dilakukan Dika dan Bertus untuk menjadi terkenal di sekolah. Sampai akhirnya mereka berdua memutuskan untuk membuat sebuah Grup Detektif. Grup tersebut dibuat untuk mengungkapkan kejahatan-kejahatan yang terjadi di sekolah. Grup Detektif awalnya hanya terdiri dari 2 orang, yaitu Bertus dan Dika. Kemudian bertambah 1 anggota lagi, yaitu Sindi (diperanan oleh Sonya Pandarmawan ketika SMA dan Frada ketika dewasa). Sindi adalah siswi perempuan yang tertarik dengan Grup Detektif karena menganggap grup tersebut berbeda dengan grup-grup atau ekskul lainnya yang ada di sekolah mereka. Grup Detektif kemudian menjadi popular di sekolah lantaran mereka berhasil memecahkan berbagai kasus kejahatan yang terjadi di sekolah. Grup Detektifmereka dikenal sebagai “Tiga Sekawan”.
Salah satu kasus terbesar yang diterima oleh Grup Tiga Sekawan adalah ancaman pembunuhan terhadap kepala sekolah. Kasus tersebut justru
dimanfaatkan oleh Dika untuk menjatuhkan Michael. Michael adalah laki-laki popular di sekolah yang disukai Ina. Dika dengan sengaja menuduh Michael sebagai pelaku kasus ancaman pembunuhan terhadap kepala sekolah. Dika melakukan hal itu supaya Ina dapat menjauh dari Michael dan ia dapat mencuri kesempatan untuk mendekati Ina.
Maksud terselubung yang direncanakan Dika selama menangani kasus ancaman pembunuhan terhadap kepala sekolah akhirnya diketahui para sahabatnya (Bertus dan Sindi). Mereka mengetahui bahwa Dika telah memfitnah Michael demi kepentingan pribadinya sendiri. Hal tersebut membuat mereka marah dan menjauhi Dika. Tidak hanya itu, kepala sekolah pun akhirnya memutuskan kerja sama dengan Grup Tiga Sekawan karena Dika tidak berhasil membuktikan tuduhannya terhadap Michael. Kasus ancaman pembunuhan terhadap kepala sekolah pun tidak pernah terpecahkan sejak saat itu.
Dika (dewasa) menceritakan semua kejadian di masa SMA-nya secara runtut kepada Bapak Ina. Termasuk kisah ketika Bertus (SMA) tidak sengaja melukai Bapak Ina dengan alat sengat listrik di pesta ulang tahun Ina. Setelah menceritakan semua, barulah Bapak Ina ingat bahwa yang menyebabkan ia terluka terkena alat sengat listrik memang bukan Dika melainkan Bertus. Usai menceritakan kisahnya, barulah Dika ingat pula tentang kasus ancaman pembunuhan kepala sekolah yang belum terpecahkan sampai ia dewasa. Ia lantas mengubungi Bertus teman SMA-nya dahulu, mereka kemudian ke sekolah untuk melihat gambar grafity iblis yang terdapat di tembok sekolah.
Gambar tersebut merupakan jejak kasus ancaman pembunuhan terhadap kepala sekolah. Dika mengamati gambargrafitytersebut, ia menyadari bahwa gambar tersebut bukanlah gambar iblis melainkan gambar marmut merah jambu. Gambar yang sama persis terdapat pada sapu tangan pemberian Sindi semasa mereka masih SMA.
Dika menyadari bahwa kasus ancaman pembunuhan terhadap kepala sekolah adalah sebuah kekeliruan. Kasus tersebut sebenarnya sengaja dibuat oleh Sindi, salah satu anggota Grup Detektif Tiga Sekawan yang ditujukan untuk Dika. Melalui kasus itu, Sindi ingin menyampaikan pesan bahwa sebenarnya ia menyukai Dika. Dika tidak pernah menyadari hal tersebut, kesalahpahaman justru muncul lantaran kepala sekolah menyangka kasus itu adalah ancaman pembunuhan terhadap dirinya.
Akhirnya, Dika memutuskan untuk mencari keberadaan Sindi. Tepat di acara pernikahan Ina, Dika sengaja hadir untuk bertemu dengan Sindi. Ia tahu bahwa Sindi akan hadir dalam acara pernikahan tersebut. Setelah mereka berdua bertemu, Dika pun langsung memaparkan hipotesanya mengenai kasus ancaman pembunuhan terhadap kepala sekolah kepada Sindi. Dika ingin memastikan dan memperoleh kebenaran bahwa pesan dalam kasus tersebut sengaja dibuat Sindi untuk dirinya. Sindi mengiyakan kebenaran hipotesa tersebut. Sindi juga memaparkan bagaimana ia sebenarnya sangat menyukai Dika sejak mereka masih SMA. Selama 11 tahun Sindi masih menantikan Dika sebagai cinta pertamanya. Kasus ancaman pembunuhan terhadap kepala sekolah yang bertahun-tahun tidak terpecahkan akhirnya terungkap hari itu.
Dika dan Sindi pun akhirnya menjalin hubungan “pacaran” setelah keduanya saling terbuka akan perasaan masing-masing.