BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.2. Saran
1. Setiap aspek dalam CPOB hendaknya selalu dilaksanakan dan diawasi pelaksanaannya untuk menjamin mutu produk yang dihasilkan.
2. Standar operasional prosedur hendaknya diterapkan oleh semua bagian dan diawasi pelaksanaannya agar proses berjalan efektif dan efisien.
3. Perlu diadakan review test terhadap pelatihan-pelatihan secara berkala yang diberikan kepada setiap staff untuk mengevaluasi kemampuan kinerja staff. 4. Peningkatan personil dalam menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya dalam bekerja dan meningkatkan motivasi personil agar menyadari tugas dan tanggung jawab masing-masing demi kelancaran proses produksi dan untuk meningkatkan kualitas produk sesuai dengan yang diharapkan.
DAFTAR ACUAN
Anonim.(2012). Profilperusahaan PT. BintangToedjoe.Diambil 3 Oktober 2013.dari: http://www.bintang7.com
BadanPengawasObatdanMakanan. (2012). Pedoman Cara PembuatanObat yang Baik. Jakarta
MenteriKesehatan RI. (1990). PeraturanPemerintah 245/Menkes/SK/V/1990 tentangKetentuandan Tata Cara PelaksanaanPemberianIzin Usaha Industri. Jakarta
MenteriKesehatan RI. (2010). PeraturanPemerintah 1799/Menkes/Per/XII/2010 tentangIndustriFarmasi. Jakarta
Lampiran 1. Struktur Organisasi PT Bintang Toedjoe Plant Head Project Manager Quality System Head Procurement Head Plant Head R & D Head QA-QC Head Finance Analyst Manager Internal Audit Manager Legal Manager IT Manager Accounting Manager Finance Manager Medical Manager CI manager PI Manager RA Manager Marketing & Sales Head Business Development Head SBU Head MKT Support Manager Public Relation Head Sales Dev. Manager National Trade &
Channel Manager National Sales Manager Comben Manager IR Head HRD & GA Head Manufacturing Head Managing Director President Director FAITL Head
Lampiran 2. Struktur Organisasi Departemen Quality Assurance-Quality Control PT. Bintang Toedjoe.
Manufacturing Div. Head
QA Supervisor QA Supervisor QA Supervisor QA Supervisor QC Supervisor QC Supervisor QC Supervisor QC Superintenden t QA Supervisor QA Supervisor QA Supervisor QA Supervisor QA Supervisor QA Manager PG QC Manager PG QC Manager PM QA Manager PM Administrasi Staff QA-QC Head
UNIVERSITAS INDONESIA
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI PT BINTANG TOEDJOE
PERIODE 2 SEPTEMBER – 31 OKTOBER 2013
LAPORAN RISK ASSESMENT CLEANING VALIDATION LINE EFFERVESCENT
DI PT. BINTANG TOEDJOE PULOMAS
MEYLIANA DENYSA, S.Farm. 1206329820
ANGKATAN LXXVII
FAKULTAS FARMASI PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK JANUARI 2014
DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR GAMBAR ... iii BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2 BAB 2 TINJAUAN UMUM ... 3 2.1 Validasi ... 3 2.2 Validasi Pembersihan ... 3 2.2.1 Proses Pembersihan ... 5 2.2.2 Metode Sampling ... 6 2.2.3 Metode untuk Mendetekai Hasil Pembersihan ... 8 2.2.4 Batas Penerimaan Residu ... 9 2.2.4.1 Batas Penerimaan Fisik ... 10 2.2.4.2 Batas Penerimaan Kimia ... 10 2.2.4.3 Batas Penerimaan Residu Mikrobiologi ... 12 BAB 3 METODOLOGI TUGAS KHUSUS ... 13 3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tugas Khusus ... 13 3.2 Metode Pembuatan Risk Assesment Cleaning
Validation Line Effervescent PT. Bintang Toedjoe
Pulomas ... 13 BAB 4 TUGAS KHUSUS PKL ... 14 4.1 Kriteria Penilaian Resiko ... 14 4.2 Perhitungan Risk Assesment ... 15 4.3 Hasil Analisa Maximum Allowance Carry Over
(MACO) Line Effervescent PT. Bintang Toedjoe
Pulomas ... 16
DAFTAR GAMBAR
Halaman
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu aspek CPOB yang dijalankan oleh PT. Bintang Toedjoe adalah validasi. Kegiatan validasi yang disyaratkan CPOB yaitu validasi proses, validasi pembersihan dan validasi metode analisis yang digunakan. Masing-masing kegiatan validasi mempunyai tujuan akhir berupa pembuktian bahwa proses atau metode analisis yang divalidasi layak digunakan sehingga akan diperoleh hasil yang valid (CPOB, 2012). Produsen farmasi harus memvalidasi tiap proses pembersihan mereka untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan cGMP.
Mesin produksi di PT. Bintang Toedjoe perlu dilakukan validasi pembersihan untuk memastikan keamanan, efikasi dan kualitas produk obat. Sehingga dengan melakukan validasi pembersihan akan mencegah terjadinya kontaminasi silang, kontaminan yang berasal dari debu, mikroba ataupun bahan pembersih yang digunakan untuk membersihkan mesin (PIC/S, 2007). Analisa ini dilakukan dengan pemeriksaan fisik, pengukuran residu kimia dan pemeriksaan mikrobiologi.
Mesin produksi di Line Effervescent mencakup super mixer, FBD, Bin tumbler, Vibroseparator dan mesin filling. Pada pelaksanaan tugas khusus ini dilakukan studi analisa resiko validasi pembersihan untuk menentukan produk marker dan zat aktif marker. Line Effervescent memproduksi lebih dari satu produk dan dalam tiap produk terdapat lebih dari satu zat aktif sehingga perlu ditentukan produk dan zat aktif yang paling beresiko. Secara teoritis produk-produk lain yang mempunyai resiko lebih kecil dibandingkan dengan produk-produk marker dalam proses pembersihannya juga akan memenuhi persyaratan. Analisa dilakukan dengan memberi nilai pada tiap bahan dalam formula per produk berdasarkan kategori toksikologi, kelarutan zat aktif dalam air, jumlah bahan aktif, jumlah ruahan, warna dan bau. Hasil penjumlahan nilai skoring tertinggi akan dijadikan produk marker dan menjadi acuan dalam pembersihan tiap mesin yang digunakan dan nilai skoring tertinggi zat aktif pada produk marker akan dijadikan acuan dalam perhitungan MACO (Maximum Allowance Carryover) untuk
2
menentukan batasan maximum bahan aktif yang boleh tertinggal pada mesin setelah pembersihan.
1.2 Tujuan
Tujuan pembuatan tugas khusus ini adalah :
a. Memahami tujuan dari cleaning validation dan mengetahui kriteria dan spesifikasi yang dibutuhkan dalam cleaning validation.
3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Validasi
Validasi adalah suatu dokumentasi dengan tingkat keyakinan tinggi yang membuktikan bahwa proses secara konsisten memenuhi aspek kualitas yang telah ditetapkan sebelumnya (LeBlanc, 2000). CPOB mensyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang perlu dilakukan sebagai bukti pengendalian terhadap aspek kritis kegiatan yang dilakukan. Perubahan signifikan terhadap fasilitas, mesin dan proses yang dapat mempengaruhi mutu produk hendaknya divalidasi. Seluruh kegiatan validasi hendaklah direncanakan. Unsur utama program validasi hendaklah dirinci dengan jelas dan didokumentasikan dalam Rencana Induk Validasi (RIV) (CPOB, 2012).
2.2 Validasi Pembersihan
Validasi pembersihan adalah tindakan pembuktian yang didokumentasikan bahwa prosedur pembersihan yang disetujui akan senantiasa menghasilkan peralatan bersih yang sesuai untuk pengolahan obat (CPOB, 2012). Tujuan dari validasi pembersihan adalah verifikasi keefektifan prosedur pembersihan untuk menghilangkan residu produk, degradasi produk atau bahan pembersih sehingga
monitoring analisis dapat diminimalkan pada fase rutin (PIC/S, 2007). Validasi
prosedur pembersihan dilakukan sebanyak tiga kali berurutan dengan hasil yang memenuhi syarat untuk membuktikan bahwa metode tersebut telah tervalidasi (CPOB, 2012).
Metode validasi yang digunakan harus memiliki kepekaan untuk mendeteksi residu atau cemaran. Batas deteksi masing-masing metode analisis harus cukup peka untuk mendeteksi tingkat residu atau cemaran yang dapat diterima. (CPOB, 2012).
Prosedur validasi pembersihan ini biasanya hanya dilakukan pada permukaan alat yang bersentuhan dengan produk, sehingga alat yang tidak bersentuhan langsung dengan produk harus menjadi pertimbangan. Interval waktu antara penggunaan alat dan pembersihan hendaklah divalidasi, demikian juga
4
antara pembersihan dan penggunaan kembali. Hendaklah ditentukan metode dan
interval pembersihan (CPOB, 2012).
Prosedur pembersihan untuk produk dengan proses yang serupa dapat dipertimbangkan untuk memilih suatu rentang yang mewakili produknya. Suatu studi validasi dapat dilakukan menggunakan pendekatan kondisi terburuk (worst
case) dengan memperhatikan isu kritis. Untuk produk yang beracun atau
berbahaya dalam kondisi tertentu dapat disimulasikan dengan produk lain yang mempunyai sifat fisika – kimia yang sama (CPOB, 2012).
Revalidasi pada validasi pembersihan merupakan penilaian yang didasarkan pada validasi pembersihan sebelumnya dimana penilaian ini dilakukan untuk memastikan jika terjadi perubahan metode validasi pembersihan akan tetap menghasilkan hasil yang sama dengan sebelumnya. Revalidasi terdiri dari dua bagian:
1. Revalidasi dengan perubahan yang signifikan
Masalah sederhana yang timbul dari perubahan yang signifikan adalah perubahan proses pembersihan. Perubahan yang signifikan ini akan mempengaruhi hasil pembersihan sehingga diperlukan revalidasi.
2. Revalidasi rutin
Revalidasi rutin ini melibatkan evaluasi validasi awal secara teratur untuk menentukan apakah validasi awal masih berlaku. Revalidasi ini biasanya dilakukan secara rutin, seperti setiap dua tahun (LeBlanc,2000).
Pencatatan harus dilakukan bila pembersihan telah dilakukan. Informasi yang dicatat meliputi luas atau bagian mesin yang dibersihkan, personel yang melakukan pembersihan, kapan pembersihan dilakukan, SOP proses pembersihan dan produk yang sebelumnya diproses dengan mesin yang dibersihkan. Pencatatan ini harus diparaf oleh operator yang melakukan pembersihan dan orang yang bertanggung jawab untuk produksi harus dikaji oleh QA (PIC/S, 2007).
2.2.1 Proses Pembersihan
Pembersihan adalah penghilangan kontaminan dari permukaan yang hendak dibersihkan. Kontaminan ini dapat berasal dari bahan lain, produk intermediate, detergen, mikroorganisme, debu atau lubrikan. Mekanisme
5
pembersihan meliputi solubilisasi, emulsifikasi, dispersi, pembasahan, hidrolisis, oksidasi, physical removal dan antimicrobial action (LeBlanc, 2000).
Proses pembersihan mesin dapat dilakukan dengan metode manual dan
cleaning in place (CIP). Metode pembersihan mesin harus menghasilkan
konsistensi dan performa hasil yang baik. Pemilihan metode pembersihan dan pemilihan detergen harus memudahkan pembersihan residu. (LeBlanc, 2000).
Secara umum, ada dua metode pembersihan yang umum digunakan yaitu metode manual dan metode Cleaning in Place (CIP). Metode CIP lebih baik dari metode manual dalam hal konsistensi hasil pembersihan, keamanan terhadap kesehatan, hemat biaya dan waktu. Efektivitas metode CIP ditentukan oleh lama pembersihan yang tepat (waktu kontak antara permukaan mesin dengan larutan pembersih), suhu larutan pembersih, konsentrasi larutan pembersih, kecepatan aliran larutan pembersih yang tepat sehingga bisa memberikan aliran turbulen yang tepat untuk memberikan efek pembersihan yang tepat (LeBlanc, 2000).
Mesin yang akan dibersihkan dengan metode CIP harus mempunyai design mesin yang sesuai. Hal ini berarti bahwa sebelum suatu mesin dibuat, maka harus ditetapkan terlebih dahulu proses pembersihan mesin agar proses pembersihan didukung oleh design mesin. Design mesin yang akan dibersihkan dengan CIP tidak boleh ada celah atau retak sehingga produk dapat terperangkap di dalamnya. Bagian mesin yang kontak dengan produk terbuat dari stainless steel. Bagian mesin yang tidak kontak produk harus dari material bahan tahan korosi. Design tank harus melengkung, sistem pipa harus berbentuk slope, sambungan harus kontinu dan halus (Schmidt & Erickson, 2005).
Proses pembersihan ini harus didokumentasikan dalam Standard
Operating Procedure (SOP) (PIC/S, 2007). Pengembangan proses pembersihan
tergantung dari kerumitan mesin, sifat bahan yang kontak dengan mesin, parameter kritis (interval waktu antara mesin terakhir digunakan dan proses pembersihan dilakukan, suhu, tekanan, volume mesin dan waktu proses) (Kim, 2006).
Mesin yang sama dapat digunakan untuk memproses beberapa produk sehingga diperlukan prosedur pembersihan yang efektif agar tidak terjadi kontaminasi. Untuk produk yang sulit dibersihkan, sebaiknya digunakan mesin
6
khusus yang memproduksi produk tersebut (dedicated equipment). Efisiensi prosedur pembersihan untuk penghilangan residu detergen harus dievaluasi. Komposisi detergen harus diketahui, bila tidak diketahui komposisi detergen, maka sebaiknya digunakan detergen alternatif yang komposisinya dapat diketahui. Menurut WHO, kriteria pemilihan detergen (Startup, 2009):
1. Diloloskan oleh QC dan memenuhi kriteria food standard. 2. Diketahui komposisinya
3. Mudah dibersihkan dengan pembilasan, ditunjukan dengan tercapainya batas yang disyaratkan
4. Pertimbangan terjadinya degradasi detergen
Operator yang melakukan pembersihan harus dilatih secara rutin dan harus dilakukan pencatatan pelatihan. Operator yang melakukan prosedur pembersihan secara manual harus disupervisi secara regular (PIC/S, 2007). Desain mesin harus diperiksa secara teliti dan harus diidentifikasi bagian mesin yang merupakan area kritis (area yang paling sulit dibersihkan). Kondisi yang memungkinkan untuk tumbuhnya mikroorganisme seperti kelembapan, suhu, retakan dan permukaan kasar harus diperhatikan. Mesin harus disimpan kering dan tidak boleh ada air tertinggal di mesin. Tujuannya adalah untuk mencegah kontaminasi mikroba.
2.2.2. Metode Sampling
Sampling harus dilakukan sesuai protokol validasi pembersihan. Ada dua
metode sampling yang digunakan yaitu swabbing (penyekaan) dan rinsing (bilasan).
a. Swabbing
Sampling dengan metode swabbing harus menggunakan material dan
medium yang sesuai untuk sampling . Recovery sample secara akurat mungkin dipengaruhi oleh pemilihan material sampling . Sampling dengan cara swabbing dilakukan dengan membasahi polyester swab dengan Purified
water (bila perlu yang telah diasamkan dengan asam fosfat) (Wallace, 2003).
Pada metode sampling swab ini, tidak seluruh permukaan pada mesin di
7
meninggalkan residu pada mesin dan dihitung total produk yang kontak dengan mesin. Perhitungan ini yang akan menjadi acuan untuk penentuan Maximum
Allowance Carryover (MACO).Metode ini juga terpilih untuk sampel residu yang
tidak mudah larut dalam air (APIC, 2000). Metode swabbing dilakukan dengan bantuan swab template 5 x5 cm, dengan pola pada gambar (LeBlanc, 2000).
Putar arah swab
Gambar 2.1 Pola Swabbing
Swab yang digunakan harus kompatibel dengan bahan aktif, tidak
mengganggu pada saat pengujian dan tidak menyebabkan degradasi senyawa. Pelarut yang digunakan harus larut baik dan tidak mendorong terjadinya degradasi (Prabu, S.L dan Suriyaprakash, T.N.K, 2010).
b. Rinsing
Sampling dengan metode rinsing memungkinkan sampling pada area yang
lebih luas. Selain itu, metode ini dapat digunakan untuk bagian mesin yang tidak bisa diakses dengan tangan. Namun perlu dipertimbangkan kelarutan kontaminan dalam medium bilasan. Metode ini juga mengurangi indikasi bahwa masih ada residu yang tertinggal. Zat marker yang dapat larut air dapat menggunakan metode ini (LeBlanc, 2000).
Pelarut yang digunakan harus dipilih berdasarkan kelarutan bahan aktif dan dapat digunakan untuk produk berikutnya. Kelemahan dari sampling rinsing ini adalah bahwa residu atau kontaminan mungkin tidak larut secara fisik (Prabu, S.L dan Suriyaprakash, T.N.K, 2010).
Ada dua tipe sampling rinse (LeBlanc, 2000): 1. Sampling rinse terakhir
Sampel diperoleh pada akhir proses pembilasan akhir, jika medium bilasan air. Keuntungan dari metode ini adalah prosesnya sederhana dan
mulai selesai
mulai
8
efektif untuk mengambil sampel pada bagian yang tidak terlihat atau tidak terdeteksi oleh metode swabbing.
2. Sampling rinse terpisah
Bilasan sampling terpisah atau sampling rinse separate ini dilakukan setelah proses pembilasan pada mesin sudah selesai. Semua permukaan harus di sampling untuk mengetahui semua jenis kontaminasi. Keuntungan dari metode ini adalah dapat menggunakan larutan bilasan yang berbeda dari larutan proses pembersihan.
2.2.3 Metode untuk Mendeteksi Hasil Pembersihan (ISPE, 2011)
Ada beberapa metode untuk deteksi proses pembersihan. Metode tersebut seperti pemeriksaan visual, konduktivitas, TOC, pH, mikro dan metode analisis spesifik zat.
a. Pemeriksaan visual
Metode ini dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada residu yang terlihat di mesin setelah prosedur pembersihan dilakukan (PIC/S, 2007).
b. Konduktivitas
Metode ini digunakan untuk mendeteksi residu senyawa bermuatan. Metode ini sangat berguna untuk menentukan residu senyawa detergen dan beberapa produk (ISPE, 2011).
c. Total Organic Carbon (TOC)
Metode ini bersifat sederhana, cepat dan dapat mendeteksi residu dengan kadar rendah (ISPE, 2011). TOC akan mendeteksi karbon organik dan bahan organik lainnya, termasuk komponen organik dalam agen pembersih (Mollah, A.H, 2008).
d. Metode analisis spesifik zat
Metode analisis harus divalidasi sebelum validasi pembersihan dilakukan. Metode analisis yang digunakan untuk deteksi residu atau kontaminan harus spesifik untuk zat yang akan diukur kadarnya dan memberikan sensitivitas sesuai dengan tingkat kebersihan yang ditetapkan oleh perusahaan (PIC/S, 2007).
9
Metode pendeteksian pH sangat sensitif terhadap ion hidrogen dan sangat baik untuk mendeteksi adanya asam dan basa yang tertinggal pada mesin. (WHO, 2002)
e. Mikrobiologi
Sistem sanitasi dipantau secara efektif dan berkala serta diverifikasi atau dengan pengambilan contoh mikrobiologi pada permukaan kontak alat dengan bahan dan disesuaikan dengan perubahan kondisi lingkungan. Hal ini untuk memfasilitasi keberlangsungan pengendalian yang efektif terhadap zat dan yang dapat mengkontaminasi alat (SNI, 2011).
2.2.4 Batas Penerimaan Residu
Batas residu yang ditetapkan harus dapat dicapai dan dapat diverifikasi(PIC/S, 2007). Penetapan batas residu tidak bisa secara cukup berfokus hanya kepada bahan utama saja karena mungkin saja terjadi dekomposisi bahan yang mungkin lebih sulit untuk dihilangkan. Pendekatan dalam menentukan batas :
a. Spesifik untuk produk
b. Dikelompokkan dalam famili produk dan memilih produk worst case. c. Mengelompokkan ke dalam kelompok resiko (produk yang sangat mudah
larut, potensi mirip, produk dengan toksisitas tinggi, produk yang sulit untuk dideteksi).
2.2.4.1 Batas penerimaan Fisik
Penetapan batas penerimaan residu fisik pada validasi pembersihan meliputi TOC, pH dan konduktivitas.
a. TOC (Total Organic Carbon)
Batasan TOC pada pembilasan akhir mesin <500 ppb. (Clark, K.A, 2000). Pembilasan akhir ini dimaksudkan untuk menghilangkan agen pembersih secara keseluruhan (Mollah, A.H, 2008).
b. pH
Untuk mengetahui batasan pH pada purified water digunakan klorida dan ammonia dengan batasan pH 5.0 – 7.0 (USP, 2008).
10
Batas konduktivitas untuk air bilasan pada validasi pembersihan 1,3 µS/cm (USP, 2008).
2.2.4.2 Batas penerimaan kimia (APIC, 2000) :
1. Berdasarkan dosis terapetik/ Therapeutic Daily Dose (TDD)
Prinsipnya adalah bahwa zat tidak terkontaminasi pada proporsi tertentu (biasanya 1/1000 bagian) zat sebelumnya. Metode ini hanya digunakan bila dosis terapeutik harian diketahui.
( ) =
Keterangan :
MACO = Maximum Allowance Carryover (jumlah maksimum produk sebelumnya yang diizinkan berada di produk berikutnya)
TDD sebelumnya = Therapeutic Daily Dose sebelumnya (dosis terapeutik harian produk sebelumnya)
MBS = Minimum Batch Size (jumlah bets minimum untuk produk berikutnya)
TDS selanjutnya = Total Daily Serve (Total maksimum produk dapat dikonsumsi selanjutnya (g/hari))
SF = Safety factor
Nilai SF bervariasi tergantung rute administrasi obat: a. Topikal (10-100)
b. Oral (100-1000)
c. Parenteral (1000-10000) 2. Berdasarkan data toksikologis
Bila dosis terapeutik tidak diketahui (misalnya untuk bahan intermediate atau untuk detergen), dapat digunakan data toksisitas untuk menghitung MACO
= ( ⁄ ) ( )
11
Dari angka NOEL yang didapat MACO dapat dihitung dengan persamaan:
=
Keterangan :
MACO = Maximum Allowance Carryover (jumlah maksimum produk sebelumnya yang diizinkan berada di produk berikutnya)
NOEL = No Observed Effect Level (dosis yang tidak menimbulkan efek farmakologis yang terlihat) MBS = Minimum Batch Size (jumlah bets minimum untuk
produk berikutnya)
TDS selanjutnya = Total Daily Serve (Total maksimum produk dapat dikonsumsi selanjutnya (g/hari))
SF = Safety factor
LD 50 = Dosis yang dapat menyebabkan kematian pada 50% hewan coba.
70 = Berat rata-rata dewasa (kg)
2000 = Konstanta
3. Batas general limit 10 ppm atau 100 ppm (tergantung kebijakan masing-masing institusi) (APIC, 2000).
=
Keterangan :
MACO = Maximum Allowance Carryover (jumlah maksimum produk sebelumnya yang diizinkan berada di produk berikutnya)
MBS = Minimum Batch Size (jumlah bets minimum untuk produk berikutnya)
12
terbaik. Secara praktisnya, ini berarti bahwa harus digunakan dedicated
equipment untuk bahan-bahan ini (PIC/S, 2007)
2.2.4.3 Batas Penerimaan Residu Mikrobiologi
Penetapan batas penerimaan untuk kontaminasi mikroba lebih sulit daripada penetapan batas residu kimia. Berbeda dengan batas penetapan batas residu kimia, tidak ada panduan resmi untuk penetapan batas residu mikrobiologi. Kriteria minimum yang digunakan keberadaan mikroorganisme yaitu Eschericia
coli atau Enterococcus (LeBlanc,2000).
Batas penerimaan residu mikrobiologi untuk air bilasan mengacu kepada persyaratan USP, yaitu Purified water mempunyai angka mikroba ≤100 CFU/ml (USP, 2008).
13
BAB 3
METODOLOGI TUGAS KHUSUS 3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tugas Khusus
Tugas khusus dilaksanakan selama Praktek Kerja Profesi Apoteker Periode 2 September -31 Oktober 2013 di Departemen Quality Assurance, PT. Bintang Toedjoe Pulomas.
3.2 Metode Pembuatan Risk Assesment Cleaning Validation Line Effervescent PT. Bintang Toedjoe Pulomas
Menghitung MACO
Menghitung MACO zat aktif marker berdasarkan perhitungan 10 ppm, TDD dan LD50 dari tiap mesin yang digunakan dan menetapkan nilai terendah dari perhitungan untuk
dijadikan nilai MACO. Menetapkan zat aktif marker
Memberi skoring pada tiap bahan dalam produk marker dan menetapkan nilai zat aktif tertinggi sebagai zat aktif marker.
Menentukan produk marker
Menghitung jumlah skor impact dari masing-masing produk dan menetapkan nilai tertingginya sebagai produk marker
Memberi skoring berdasarkan impact
Melakukan analisis risiko berdasarkan kategori toksikologi, kelarutan zat aktif dalam air, jumlah bahan aktif, jumlah ruahan, warna, bau dan diberi skor sesuai dengan batasannya.
Pendataan mesin yang digunakan
Pendataan jenis mesin yang digunakan untuk setiap produk Pendataan produk dan jumlah batch
14
BAB 4
TUGAS KHUSUS PKL
Tujuan Risk assesment adalah proses penilaian untuk mengetahui resiko yang paling besar dari suatu produk dalam satu line. Risk assesment dibuat berdasarkan jumlah batch yang diproduksi dan impact dari produk yang ada. Risk
assesment ini dilakukan per mesin produksi yang digunakan dan yang
mempunyai metode pembersihan yang sama pada produk-produk yang berbeda. Sehingga proses ini dapat divalidasi dengan menggunakan marker, yaitu produk yang mempunyai resiko terbesar.
Adapun tahapan penilaian dari risk assessment ini dimulai dari pendataan produk dan jumlah batch, pendataan mesin yang digunakan, memberi skoring berdasarkan impact, menentukan produk marker, menetapkan zat aktif dan menghitung MACO (Maximum Allowance Carryover).
4.1 Kriteria Penilaian Resiko
Pendataan produk dan Jumlah Batch
PT. Bintang Toedjoe Pulomas memproduksi banyak jenis produk effervescent. Pendataan produk dan jumlah batch merupakan hal pertama yang penting dilakukan sebelum membuat risk assesment tahunan ini untuk mengetahui apa saja yang akan di produksi untuk satu tahun ke depan. Pada tahun 2014 mendatang PT. Bintang Toedjoe Pulomas akan memproduksi sejumlah produk untuk lokal dan ekspor dengan jumlah batch yang berbeda-beda.
Skoring Jumlah Batch Number
Jumlah batch yang didapat akan di beri skoring sesuai range dan kategorinya. Jumlah batch yang akan di produksi akan sangat berpengaruh pada perhitungan, yang nantinya akan dikalikan dengan total skoring impact untuk mendapatkan skoring akhir. Kriteria jumlah batch disesuaikan dengan jumlah batch yang diproduksi dalam satu tahun. Jumlah batch dan nilai skor dari batch number ini dimasukan ke dalam tabel Hasil Risk assessment.
Impact dan Skoring
Pada saat pembersihan mesin, bisa jadi masih ada bahan dari produk sebelumnya yang tertinggal pada mesin dan ini perlu diperhatikan. Bahan dalam
15
tiap produk beresiko mempengaruhi sifat fisika-kimia bahan produk lain dalam