• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Demam Berdarah Dengue (DBD)

2.2.1 Pengertian Demam Berdarah Dengue (DBD)

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini ditandai dengan demam mendadak 2 sampai dengan 7 hari tanpa penyebab yang jelas, lemah/lesu, gelisah, nyeri ulu hati, disertai dengan tanda perdarahan di kulit berupa bintik perdarahan (petechiae), lebam (echymosis) atau ruam (purpura). Kadang-kadang mimisan, berak darah, muntah darah, kesadaran menurun atau renjatan (shock) (Kepmenkes RI No 581/Menkes/SK/1992).

2.2.2 Vektor Penularan Demam Berdarah Dengue (DBD)

Di Indonesia nyamuk penular (vektor) penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah Aedes aegypti dan Aedes albopictus, tetapi saat ini yang menjadi

vektor utama dari penyakit DBD adalah Aedes aegypti. Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus Dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4. Virus tersebut termasuk dalam grup B Arthropoda borne viruses (arboviruses). Keempat tipe virus tersebut telah ditemukan diberbagai daerah di Indonesia. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus Dengue dengan tipe satu dan tiga (Zulkoni, 2010)

Nyamuk Aedes aegypti dikenal dengan sebutan black-white mosquito atau tiger mosquito karena tubuhnya memiliki ciri yang khas yaitu adanya garis-garis dan bercak-bercak putih keperakan di atas dasar warna hitam. Sedangkan yang menjadi ciri khas utamanya adalah ada dua garis lengkung yang berwarna putih keperakan di kedua sisi lateral dan dua buah garis putih sejajar di garis median dari puggungnya yang berwarna dasar hitam (lyre shaped marking).

Dalam siklus hidupnya Aedes aegypti mengalami empat stadium yaitu telur, larva pupa, dan dewasa. Stadium telur, larva, dan pupa hidup di dalam air tawar yang jernih serta tenang. Genangan air yang disukai sebagai tempat perindukannya (breeding place) adalah genangan air yang terdapat di dalam suatu wadah atau container, bukan genangan air di tanah. Tempat-tempat perindukan yang paling potensial adalah tempat penampungan air (TPA) yang digunakan untuk keperluan sehari-hari: drum, bak mandi, bak WC, gentong/ tempayan, ember, dan lain-lain. Tempat perindukan lainnya yang non-TPA adalah vas bunga, pot tanaman hias, ban bekas, kaleng bekas, botol bekas, tempat minum burung, dan lain-lain, serta tempat penampungan air alamiah: lubang pohon, pelepah daun pisang, pelepah daun keladi, lubang batu, dan lain-lain. Tempat perindukan yang

paling disukai adalah yang berwarna gelap, terbuka lebar dan terlindung dari sinar matahari langsung (Soegijanto, 2006).

2.2.3 Ciri-ciri Nyamuk Aedes aegypti

Nyamuk Aedes aegypti memiliki ciri-ciri yang khas antara lain: a. Sayap dan badannya belang-belang atau bergaris-garis putih.

b. Berkembangbiak di air jernih yang tidak beralaskan tanah seperti bak mandi, WC, tempayan drum, barang-barang penampung air seperti kaleng, ban bekas, pot tanaman air, tempat minum burung dan lain-lain.

c. Jarak terbang ± 100 meter.

d. Nyamuk betina bersifat ‘multiple biters‘ (menggigit beberapa orang karena sebelum nyamuk tersebut kenyang sudah berpindah tempat)

e. Tahan dalam suhu panas dan kelembaban tinggi (Widoyono, 2011). 2.2.4 Taksonomi dan Morfologi Nyamuk Aedes aegypti

A. Taksomoni

Nyamuk Aedes aegypti disebut black-white mosquito, karena tubuhnya ditandai dengan pita atau garis-garis putih keperakan di atas dasar hitam. Di Indonesia nyamuk ini sering disebut sebagai salah satu dari nyamuk-nyamuk rumah.

Menurut Richard dan Davis (1977) dalam Soegijanto (2006), kedudukan nyamuk Aedes aegypti dalam klasifikasi animalia adalah sebagai berikut :

Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Bangsa : Diptera

Suku : Culicidae Marga : Aedes Jenis : Ae. aegypti L. B. Morfologi 1. Telur

Telur Aedes aegypti berwarna hitam dengan ukuran + 0,80 mm, berbentuk oval yang mengapung satu persatu pada permukaan air yang jernih atau menempel pada dinding tempat penampungan air. Telur dapat bertahan sampai dengan enam bulan di tempat yang kering. Telur nyamuk dapat tetap menetas di iklim dingin sekalipun. Perbedaaannya dengan di air yang beriklim panas hanya dalam hal laju waktu menetasnya. Di iklim yang lebih dingin, perlu waktu yang lebih lama dibandingkan dengan telur yang menetas di air yang beriklim lebih panas (Nadesul, 2007).

2. Jentik (larva)

Pertumbuhan larva (jentik) nyamuk Aedes aegypti dibagi dalam 4 tingkat (instar) sesuai dengan pertumbuhan larva tersebut, yaitu:

1. Instar I : berukuran paling kecil, yaitu 1-2 mm 2. Instar II : berukuran 2,5 - 3,8 mm

3. Instar III : memiliki ukuran sedikit lebih besar dari larva instar II 4. Instar IV : berukuran paling besar 5 mm

Pupa Aedes aegypti berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan

rata-rata pupa nyamuk lain. Kepompong (pupa) berbentuk seperti “koma”. Bentuknya

lebih besar namun lebih ramping dibanding larva (jentik)nya. 4. Nyamuk dewasa

Nyamuk dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata nyamuk lain dan mempunyai ciri khas warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian badan dan kaki. Vektor penyakit DBD adalah nyamuk Aedes aegypti betina. Perbedaan antara nyamuk Aedes aegypti jantan dan betina terletak pada morfologi antenanya.Aedes aegypti jantan memiliki antena berbulu lebat sedangkan antena pada nyamuk betina berbulu agak jarang/tidak lebat (Ditjen PP & PL, 2014).

2.2.5 Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti

Nyamuk Aedes aegypti mengalami metamorfosis sempurna yaitu : telur-jentik-kepompong-nyamuk. Stadium telur, jentik dan kepompong hidup/berada di dalam air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu + 2 hari setelah telur terendam air. Stadium jentik biasanya berlangsung 6-8 hari dan stadium kepompong (pupa) berlangsung antara 2-4 hari. Pertumbuhan dari telur sampai menjadi nyamuk dewasa selama 9-10 hari. Umur nyamuk Aedes aegypti betina dapat mencapai 2-3 bulan (Ditjen PP & PL, 2014).

Menurut Soegijanto (2006) telur nyamuk Aedes aegypti didalam air dengan suhu 20-40°C akan menetas menjadi larva dalam waktu 1-2 hari. Kecepatan pertumbuhan dan perkembangan larva dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu temperatur, tempat, keadaan air kandungan zat makanan yang ada di

dalam tempat perindukan. Pada kondisi optimum, larva berkembang menjadi pupa dalam waktu 4-9 hari, kemudian pupa menjadi nyamuk dewasa dalam waktu 2-3 hari. Jadi pertumbuhan dan perkembangan telur, larva, pupa, sampai dewasa memerlukan waktu kurang lebih 7-14 hari.

2.2.6 Tempat Perkembangbiakan Nyamuk Aedes aegypti

Nyamuk Aedes aegypti memiliki tempat perkembangbiakan utama adalah tempat-tempat penampungan air berupa genangan air yang tertampung di suatu tempat atau bejana di dalam atau sekitar rumah. Nyamuk ini biasanya tidak dapat berkembang biak di genangan air yang langsung berhubungan dengan tanah. Jenis tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari, seperti : drum, tangki, reservoir, tempayan, bak mandi/wc dan ember.

2. Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari, seperti : tempat minum burung, vas bunga, perangkap semut dan barang-barang bekas (ban, kaleng, botol, plastik dan lain-lain).

3. Tempat penampungan air alamiah seperti : lobang pohon, lobang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang dan potongan bambu.

2.2.7 Penyebaran Nyamuk Aedes aegypti

Nyamuk Aedes aegypti betina mampu terbang rata-rata 40 meter, maksimal 100 meter, namun secara pasif misalnya karena angin atau terbawa kendaraan, nyamuk dapat berpindah lebih jauh. Aedes aegypti sebagai vektor DBD tersebar luas di daerah tropis dan subtropis. Di Indonesia, nyamuk ini dapat

tersebar dan berkembang biak sampai ketinggian daerah 1.000 m dari permukaan laut. Nyamuk tidak dapat berkembang biak di atas ketinggian 1.000 m karena pada ketinggian tersebut suhu udara terlalu rendah, sehingga tidak memungkinkan kehidupan bagi nyamuk tersebut (Ditjen PP & PL, 2014).

2.2.8 Ekologi Vektor

Penyakit DBD melibatkan tiga organisme yaitu virus Dengue, nyamuk Aedes aegypti dan host manusia. Untuk memahami penyakit yang ditularkan vektor dan untuk pengendalian penyakit sebagai ekosistem alam dimana subsistem yang terkait dalam ekosistem ini adalah virus, nyamuk Aedes aegypti, manusia, lingkungan fisik dan lingkungan biologi (Depkes, 2007).

a. Virus Dengue. Virus ini termasuk dalam genus Flavivirus dari family Flaviviridae terdiri dari 4 serotipe yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. b. Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor yang menularkan virus Dengue

melalui gigitan nyamuk dari orang sakit ke orang sehat.

c. Manusia merupakan sebaran inang (organisme dimana parasit hidup dan mendapatkan makanan) untuk penyakit DBD.

d. Lingkungan fisik meliputi :

1. Tempat Penampungan Air (TPA) baik di dalam maupun di luar rumah sebagai tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti.

2. Ketinggian tempat, dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut tidak ditemukan nyamuk Aedes aegypti.

3. Curah hujan menambah genangan air sebagai tempat perindukan dan kelembaban udara terutama untuk daerah pantai.

4. Kecepatan angin juga mempengaruhi pelaksanaan pemberantasan vektor dengan cara fogging.

5. Suhu udara mempengaruhi perkembangan virus di dalam tubuh nyamuk (Depkes, 2007).

Dokumen terkait