• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui jumlah minyak kelapa dan RBDPO untuk menghasilkan sabun transparan dengan kualitas terbaik. Selain itu perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai pembuatan sabun transparan dengan menggunakan campuran jenis minyak lain, misalnya minyak jagung.

35

DAFTAR PUSTAKA

Annual Book of ASTM Standards. 2001. Volume 15.04. United States : West Conshocken, PA Bailey, A. E. 1950. Industrial Oil and Fat Product. New York : Interscholastic Publishing Inc

Cavitch, S. M. 2001. Choosing Yours Oil, Oil Propeties of Fatty Acid. http://users.siloverlink.net/~timer/soapdesign.html (4 Februari 2011)

[DEPTAN] Departemen Pertanian. 2008. Profil Investasi Biofuel dari Kelapa Sawit. http://agribisnis.deptan.go.id.(4 Februari 2011)

George, E. D. dan J. A. Serdakowski. 1996. The Formulation of Bar Soaps. di dalam Spitz, L. (ed). 1996. Soap and Detergents, A Theoretical and Practical Review. Illinois : AOCS Press Hambali, E., Tatit K. B., Ani S., Giri A. K. 2005. Aplikasi Dietanolamida dari Asam Laurat Minyak

Inti Sawit pada Pembuatan Sabun Transparan. Jurnal Teknologi Industri Pertanian. Vol 15(2), 46-53

Hill, J. C. 2005. High Unsaponifiables and Methods of Using The Same. WO/2005/004831.http://www.wipo.int (1 Februari 2011)

Ketaren, S. 1986. Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta : UI Press

Kirk, R. E., D. F. Othmer, J. D. Scott dan A. Standen. 1954. Encyclopedia of Chemical Technology. 12:573-592. Newyork : Interscience Publishers

Klemczynaka, B., R. Kuster dan M. Schmitt. 2006. Castor Oil.

http//://www.wsu.edu/~gmhyde/433_web_pages/433oil-web-pages/castor/castos-oil2.html (1 Februari 2011)

Luthana, Y. K. 2008. RBDPO. http://yongkikastanyaluthana.wordpress.com (2 Februari 2011) Mitsui, T. 1997. New Cosmetics Science. Tokyo : Shiseido Co., Ltd.

Patterson, H. B. W. 1992. Bleaching and Purifying Fats and Oils. Illinois : AOCS Press

Piyali, G., R. G. Bhirud dan V. V. Kumar. 1999. Detergency and Foam Studies on Linear Alkil Benzen Sulfonat and Secondary Alkil Sulfonat. Jurnal of Surfactant and Detergent. 2(4):489-493

Puspito, H . 2008. Bagaimana Caranya Membuat Sabun. http://javanaturalsoap.wordpress.com(2 Februari 2011)

36

Shrivastava, S. B. 1982. Soap, Detergent, and Parfume Industry. New Delhi : Small Industry

Research Institute

SNI 06-3532. 1994. Sabun Mandi. Jakarta : Badan Standarisasi Nasional

Spitz, L. 1996. Soap and Detergents, A Theoretical and Practical Review. Illinois : AOCS Press Suryani, A. , I. Sailah dan E. Hambali. 2002. Teknologi Emulsi. Bogor : Jurusan Teknologi Industri

Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian IPB

Thieme, J. G. 1968. Di dalam Ketaren, S. 1986. Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta : UI Press Williams, D. F.dan Schimtt. W. H. 1992. Chemistry and Technology of the Cosmetics and Toiletries

Industry. Second Edition. USA : Chesebrough Ponds, Inc Winarno, F. G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : PT Gramedia

Woodroof, J. G. 1979. Coconuts Production, Processing, Products. Second Edition. USA : The AVI Publishing Company, Inc.

37

38

Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Minyak

a. Kadar Asam Lemak Bebas dan Bilangan Asam (SNI 01 – 3555 – 1998) Prinsip :

Kadar asam lemak bebas merupakan persentase jumlah asam lemak bebas yang terdapat di dalam minyak, dihitung berdasarkan berat molekul asam lemak dominan yang terdapat di dalam minyak atau lemak dengan menyabunkan asam lemak bebas tersebut dengan alkali yang ditambahkan. Bilangan asam adalah banyaknya kalium hidroksida dalam miligram untuk menetralkan satu gram lemak yang terkandung dalam suatu senyawa.

Reaksi :

Prosedur :

Sampel ditimbang sebanyak 5 gram ke dalam erlenmeyer. Ditambahkan 50 ml alkohol netral. Dipanaskan di penangas air selama 10 menit. Didinginkan kemudian ditambahkan 3-5 tetes indikator PP dan dititrasi dengan larutan standar NaOH 0.1 N hingga warna merah muda tetap (tidak berubah selama 15 detik).

Kadar asam lemak bebas ml NaOH N NaOH 282

10 gram sampel 100% Bilangan Asam ml NaOH N NaOH 56.1

gram sampel

Keterangan :

56.1 = bobot molekul NaOH

282 = bobot molekul asam lemak dominan (asam oleat 282)

b. Bilangan Penyabunan (SNI 01 – 3555 – 1998) Prinsip :

Asam lemak terikat (dalam trigliserida) dan asam lemak bebas (FFA) bereaksi dengan basa (NaOH/KOH) membentuk garam, gliserol dan air.

Prosedur :

Sampel minyak ditimbang sebanyak 2 gram dengan ketelitian 0.0001 gram dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml. Ditambahkan 50 ml larutan KOH 0.5 N dalam etanol 96%. Erlenmeyer dihubungkan dengan pendingin tegak dan dididihkan di atas penangas air atau pemanas listrik selama 30 menit. Larutan ini kemudian ditambahkan 3-5 tetes indikator PP dan dititrasi dengan larutan standar HCl 0.5 N sehingga warna indikator berubah menjadi tidak berwarna. Dengan cara yang sama dilakukan pula penetapan blanko.

Bilangan Penyabunan "V$% V&' N HCl 56.1 gram sampel

39

Keterangan :

V1 = volume HCl 0.5 N yang diperlukan pada titrasi blanko (dalam ml)

V&= volume HCl 0.5 N yang diperlukan pada titrasi sampel (dalam ml) c. Bilangan Iod

Prinsip :

Banyaknya jumlah iodium (mg) yang diserap oleh 100 gram sampel. Bilangan iod ini menunjukkan banyaknya asam-asam lemak tak jenuh baik dalam bentuk bebas maupun dalam bentuk ester-nya disebabkan sifat asam lemak tak jenuh yang sangat mudah menyerap iodium.

Prosedur :

Sampel minyak sebanyak 0.25 gram ditimbang dan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer bertutup. Kemudian sampel dilarutkan dengan 10 ml kloroform. Sebanyak 25 ml larutan hanus ditambahkan dan disimpan selama 30 menit dalam tempat atau kamar gelap. Selanjutnya ditambahkan larutan KI 20% sebanyak 10 ml sambil terus dikocok. Ditambahkan aquades yang telah dididihkan sebanyak 100 ml lalu dititrasi dengan natrium tiosulfat (Na2S2O3) dan sebagai indikator digunakan larutan kanji. Dengan cara yang sama dibuat blanko.

Bilangan Iod "V$% V+' N 12.69 gram sampel

Keterangan :

V$ = ml larutan baku Na2S2O3 untuk titrasi blanko

V+ = ml larutan baku Na2S2O3 untuk titrasi sampel N = normalitas larutan baku Na2S2O3

d. Bilangan Peroksida Prinsip :

Bilangan peroksida ditentukan berdasarkan pengukuran sejumlah iod yang dibebaskan dari KI melalui reaksi oksidasi oleh peroksida pada suhu ruang di dalam medium asam asetat kloroform.

Prosedur :

Sampel minyak sebanyak 5 gram ditimbang dan dimasukkan ke labu erlenmeyer kemudian sebanyak 30 ml campuran pelarut yang terdiri dari 60% asam asetat dan 40% kloroform ditambahkan ke dalamnya. Setelah minyak larut, ditambahkan 0.5 ml larutan kalium iodide jenuh sambil dikocok. Didiamkan selama 2 menit lalu ditambahkan 30 ml aquades. Kelebihan iod dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3) 0.1 N sampai berwarna bening. Dengan cara yang sama dibuat blanko.

Bilangan Peroksida "V$% V+' N 8 100 gram sampel

Keterangan :

V$= ml larutan baku Na2S2O3 untuk titrasi contoh

V+ = ml larutan baku Na2S2O3 untuk titrasi blanko N = normalitas larutan baku Na2S2O3

40

Lampiran 2. Prosedur Analisis Sifat Fisikokimia Sabun Transparan

a. Kadar Air dan Zat Menguap Sabun (SNI 06 – 3532 – 1994) Prinsip :

Penguapan air dan zat menguap menggunakan energi panas.

Prosedur :

Sampel sebanyak 5 gram ditempatkan di dalam wadah tahan panas, kemudian dipanaskan dalam oven bersuhu 105oC selama 2 jam. Gelembung yang timbul dihancurkan dengan batang pengaduk. Sampel ditimbang setelah didinginkan di dalam desikator, atau dipanaskan lagi bila perlu sampai bobotnya tetap.

Kadar Air "%' Bobot Awal "g' % Bobot Akhir "g'

Bobot Awal "g' 100%

b. Kadar Asam Lemak (SNI 06 – 3532 – 1994) Prinsip :

Pengukuran asam lemak yang terikat dalam bentuk garam pada sabun diukur dengan cara memutus ikatan asam lemak dan Na dengan menggunakan asam kuat.

Prosedur :

Kurang lebih 2 gram sampel dimasukkan ke dalam gelas piala, ditambah 25 ml air panas dan dipanaskan di atas penangas air sampai sampel larut seluruhnya, kemudian dimasukkan ke dalam labu Cassia berskala minimal 0.1 ml. Sisa sampel dalam gelas piala dibilas dengan air destilata dan air bilasannya dituang kedalam labu Cassia, kemudian ditambah beberapa tetes indikator oranye dan 10 – 15 ml HCl 10% (atau 7 – 10 ml H2SO4 25%). Asam lemak bebas akan mengapung dan larutan berubah warna menjadi merah muda.

Labu Cassia berisi larutan sampel dipanaskan dalam penangas air dengan kondisi leher labu terendam air sampai setengahnya. Setelah asam lemaknya terpisah dan mengapung, ke dalam labu ditambahkan air panas sampai lemaknya berada di antara skala pembagian pada leher labu. Larutan dipanaskan terus selama ± 30 menit dan dibaca pada suhu 100 oC (pada saat air dalam penangas mendidih).

Kadar Asam Lemak Volume Asam Lemak "ml' 0.84

Bobot Sampel 100%

Keterangan :

0.84 = BD asam lemak pada 100 oC

c. Kadar Fraksi Tak Tersabunkan (SNI 06 – 3532 – 1994) Prinsip :

Pengukuran senyawa-senyawa yang dapat larut dalam minyak tapi tidak dapat membentuk sabun dengan soda alkali, seperti gum.

41

Prosedur :

Sebanyak 5 gram sampel ditimbang dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml, ditambah 10 ml KOH 0.5 N dalam alkohol dan kemudian dipanaskan di atas penangas air dengan menggunakan pendingin tegak selama kurang lebih 1 jam. Setelah itu, sampel didinginkan dan ditambah indikator phenoptalein serta dititrasi dengan HCl 0.5 N. Pengerjaan blanko menggunakan 70 ml alkohol netral untuk menggantikan sampel. Prosedur yang dilakukan sama seperti pengerjaan sampel.

Kadar Fraksi Tak Tersabunkan "%' "a % b' N 0.0561

0.258 Bobot Sampel "g' 100%

Keterangan :

a = volume HCl untuk sampel (ml) b = volume HCl untuk blanko (ml) N = Normalitas HCl (N)

56.1 = bobot molekul larutan KOH 258 = rata-rata bilangan penyabunan

d. Kadar Bagian Tak Larut dalam Alkohol (SNI 06 – 3532 – 1994) Prinsip :

Pengukuran bagian yang tidak larut dalam alkohol berdasarkan sifat kepolarannya. Bahan-bahan yang tidak larut alkohol dapat berasal dari minyak atau bahan baku lainnya.

Prosedur :

Sebanyak 5 gram sampel dimasukkan ke dalam erlenmeyer 200 ml, kemudian ditambah 10 ml etil alkohol 95% dan diuapkan di atas penangas air sampai kering. Perlakuan tersebut dilakukan sebanyak 3 kali. Sampel kemudian dilarutkan dalam 100 ml alkohol netral, kemudian disaring dengan menggunakan penghisap vakum melalui krus Gooch (atau krus kaca masir) yang telah dilapisi kertas saring. Kertas saring yang digunakan telah diketahui bobotnya. Selama pengerjaan, krus harus ditutup dengan kaca arloji. Residu yang tertahan oleh kertas saring dibilas dengan alkohol netral. Kertas saring kemudian dikeringkan pada suhu 105oC sampai bobotnya konstan dan setelah itu ditimbang.

Kadar Bagian Tak Larut dalam Alkohol "%' Bobot Residu "g'

Bobot Sampel "g' 100%

e. Kadar Alkali Bebas (Dihitung sebagai NaOH) (SNI 06 – 3532 – 1994) Prinsip :

Pengukuran NaOH yang tidak bereaksi dengan asam lemak membentuk sabun. NaOH yang tersisa direaksikan dengan BaCl lalu direaksikan dengan H2SO4.

Reaksi : NaOH 2 BaOH + BaCl + H2SO4 BaOH Ba2SO4 + NaCl + 2H2O

42

Prosedur :

Sampel sebanyak 50 gram dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer, ditambah ± 150 ml etanol dan sedikit batu didih, kemudian dipanaskan. Setelah sampel larut, ke dalam Erlenmeyer ditambahkan 10 ml Barium klorida panas (BaCl2 20%) dan indikator phenoptalein. Labu diputar agar pencampuran terjadi secara sempurna. Sampel kemudian dititrasi dengan H2SO4 1 N sampai warna merah jambu hilang.

Kadar Alkali Bebas "%' 3.1 Volume H+SO7 "ml' Bobot Sampel "g'

f. pH (SNI 06 – 4075 – 1996) Prinsip :

Pengukuran derajat keasaman sabun dengan pH meter.

Prosedur :

Timbang sampel sebanyak ± 1 gram, kemudian dimasukkan ke dalam tabung film. Pipetkan ± 9 ml aquades ke dalamnya dan kocok secukupnya. Pengukuran pH menggunakan pH meter, sebelum dilakukan pengukuran terlebih dahulu pH meter dikalibrasi dengan larutan buffer pH 4 dan 9. Selanjutnya elektroda dibersihkan menggunakan air bebas CO2 dengan pH antara 6.5 sampai 7. Elektroda yang telah dibersihkan kemudian dicelupkan ke dalam contoh pada suhu 25oC. Nilai pH dibaca pada pH meter setelah angka stabil dan dicatat. Apabila dari dua kali pengukuran terbaca mempunyai selisih lebih dari 0.2 maka harus dilakukan pengukuran termasuk kalibrasi.

g. Kekerasan (Wood, 1996) Prinsip :

Kekerasan sabun diukur dengan kedalaman jarum penetrometer menembus sabun transparan pada selang waktu tertentu.

Prosedur :

Pengukuran kekerasan dilakukan dengan menggunakan penetrometer. Sampel diletakkan di bawah jarum penetrometer dengan kondisi ujung jarum tepat menyentuh permukaan sampel. Tombol kendali ditekan dan jarum dibiarkan menembus bahan selama 10 detik. Pengukuran dilakukan pada tiga titik yang berbeda. Hasil akhirnya adalah rata-rata dari ketiga pembacaan tersebut.

h. Stabilitas Emulsi (Piyali et al., 1999) Prinsip :

Stabilitas emulsi diukur dengan mengukur katahanan emulsi dalam berbagai kondisi.

Prosedur :

Sebanyak 2 gram sampel ditempatkan dalam wadah dan dimasukkan ke dalam oven bersuhu 45oC selama 1 jam, kemudian dimasukkan ke dalam pendingin bersuhu di bawah 0oC selama 1 jam dan akhirnya dimasukkan kembali ke dalam oven bersuhu 45oC selama 1 jam. Sampel dibiarkan hingga dingin di dalam desikator dan kemudian ditimbang bobotnya.

43

Stabilitas Emulsi "%' Bobot Akhir Sampel "g'

Bobot Awal Sampel "g' 100%

i. Stabilitas Busa (Piyali et al., 1999) Prinsip :

Stabilitas busa diukur dengan mengukur persentase busa yang bertahan pada selang waktu tertentu.

Prosedur :

Sebanyak 1 gram sampel dilarutkan ke dalam 9 ml air, dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian dikocok dengan menggunakan vortex selama 30 detik. Busa yang terbentuk diukur tingginya. Sampel didiamkan selama 1 jam kemudian tinggi busa diukur kembali. Jika sampel yang diukur jumlahnya lebih dari satu, harus menggunakan tabung reaksi yang dimensinya sama.

Stabilitas Busa "%' Tinggi Akhir Busa "mm'

Tinggi Awal Busa "mm' 100%

j. Daya Bersih Prinsip :

Daya bersih diukur dengan perbandingan tingkat kekeruhan air sabun sebelum dan sesudah pencucian (ftu turbidity).

Prosedur :

Mentega sebanyak 1 gram dioleskan secara merata pada kain bersih dengan ukuran 10 x 10 cm. Tempatkan sabun ke dalam air sebanyak 200 ml dalam gelas piala dan diukur kekeruhannya sebagai A ftu turbidity. Kain yang telah diolesi mentega dimasukkan ke dalam air sabun dan didiamkan selama 10 menit. Air yang didiamkan tersebut diukur kekeruhannya sebagai B ftu turbidity.

44

Lampiran 3. Contoh Lembar Uji Organoleptik

Nama Panelis :

Tanggal :

Sampel : SABUN TRANSPARAN

Instruksi : Berikan penilaian/tingkat kesukaan Anda terhadap transparansi, tekstur, banyak busa, kesan kulit Anda setelah pemakaian sabun dan wangi.

Tuliskan penilaian Anda dalam tabel sebagai berikut : 5 = Sangat suka

4 = Suka 3 = Biasa 2 = Tidak suka 1 = Sangat tidak suka

Parameter Kode 279 796 513 408 610 256 972 Transparansi Tekstur Wangi Banyak Busa Kesan Bersih

Berdasarkan penilaian Anda secara umum, urutkan sabun transparan yang paling disukai menurut kode :

Rangking Kode 1 2 3 4 5 6 7

45

Lampiran 4. Hasil Analisis Karakterisasi Minyak

Bahan Kadar Asam

Lemak Bebas

Bilangan Peroksida

Bilangan

Penyabunan Bilangan Iod

Minyak Kelapa 0.10 0.68 258.30 8.38

RBDPO 0.15 1.78 196.27 55.23

46

Lampiran 5. Analisis Kadar Air dan Zat Menguap

a. Rekapitulasi Data Hasil Analisis Kadar Air dan Zat Menguap

Jenis Minyak Ulangan Kadar Air dan Zat Menguap (%)

Hasil Analisis Rata-rata Analisis Rata-rata Ulangan

Minyak kelapa : RBDPO (5:15)

1 12.64 12.77

12.50 12.90

2 12.64 12.23

11.82

Minyak kelapa : RBDPO (10:10)

1 12.72 12.71

12.81 12.69

2 13.10 12.92

12.74

Minyak kelapa : RBDPO (15:5)

1 12.17 12.03

12.13 11.90

2 12.50 12.22

11.94

Minyak kelapa : minyak jarak (5:15)

1 14.63 14.59

14.78 14.54

2 14.77 14.96

15.16

Minyak kelapa : minyak jarak (10:10)

1 13.46 13.21

13.38 12.96

2 13.50 13.55

13.59

Minyak kelapa : minyak jarak (15:5)

1 13.32 13.06

13.06 12.80

2 12.80 13.06

13.32

b. Hasil Analisis Keragaman (α = 0.05)

Sumber Variasi SS df MS F P-value F crit

Perlakuan 8.55 5 1.71 32.65 0.00 4.39

Galat 0.31 6 0.05

Total 8.87 11

Kesimpulan :

Hasil analisis keragaman (α = 0.05) menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi minyak nabati berpengaruh nyata terhadap kadar air dan zat menguap sabun transparan

47

c. Hasil Uji Duncan

Perlakuan Duncan Group

Minyak kelapa : minyak jarak (5:15) A Minyak kelapa : minyak jarak (10:10) B

Minyak kelapa : minyak jarak (15:5) B C

Minyak kelapa : RBDPO (10:10) B C

Minyak kelapa : RBDPO (5:15) D C

48

Lampiran 6. Analisis Jumlah Asam Lemak

a. Rekapitulasi Data Hasil Analisis Jumlah Asam Lemak

Jenis Minyak Ulangan Jumlah Asam Lemak (%)

Hasil Analisis Rata-rata Analisis Rata-rata Ulangan

Minyak kelapa : RBDPO (5:15)

1 33.38 33.45

33.46 33.52

2 33.41 33.47

33.53

Minyak kelapa : RBDPO (10:10)

1 33.32 33.45

33.47 33.58

2 33.48 33.49

33.49

Minyak kelapa : RBDPO (15:5)

1 33.52 33.35

33.41 33.19

2 33.38 33.47

33.56

Minyak kelapa : minyak jarak (5:15)

1 33.27 33.22

33.30 33.17

2 33.53 33.38

33.23

Minyak kelapa : minyak jarak (10:10)

1 29.38 29.36

29.23 29.35

2 29.20 29.09

28.98

Minyak kelapa : minyak jarak (15:5)

1 29.35 29.34

30.87 29.34

2 33.40 32.40

31.41

b. Hasil Analisis Keragaman (α = 0.05)

Sumber Variasi SS df MS F P-value F crit

Perlakuan 32.85 5 6.57 8.31 0.01 4.39

Galat 4.74 6 0.79

Total 37.60 11

Kesimpulan :

Hasil analisis keragaman (α = 0.05) menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi minyak nabati berpengaruh nyata terhadap jumlah asam lemak sabun transparan

49

c. Hasil Uji Duncan

Perlakuan Duncan Group

Minyak kelapa : RBDPO (10:10) A Minyak kelapa : RBDPO (5:15) A Minyak kelapa : RBDPO (15:5) A Minyak kelapa : minyak jarak (5:15) A Minyak kelapa : minyak jarak (15:5) B Minyak kelapa : minyak jarak (10:10) B

50

Lampiran 7. Analisis Kadar Fraksi Tak Tersabunkan

a. Rekapitulasi Data Hasil Analisis Kadar Fraksi Tak Tersabunkan

Jenis Minyak Ulangan Kadar Fraksi Tak Tersabunkan (%)

Hasil Analisis Rata-rata Analisis Rata-rata Ulangan

Minyak kelapa : RBDPO (5:15)

1 2.43 2.43

2.42 2.42

2 2.40 2.42

2.43

Minyak kelapa : RBDPO (10:10)

1 2.42 2.36

2.18 2.30

2 1.99 1.99

1.99

Minyak kelapa : RBDPO (15:5)

1 1.99 1.99

1.66 1.99

2 1.32 1.32

1.32

Minyak kelapa : minyak jarak (5:15)

1 2.42 2.37

2.37 2.31

2 2.32 2.37

2.42

Minyak kelapa : minyak jarak (10:10)

1 2.42 2.43

2.10 2.43

2 1.76 1.76

1.76

Minyak kelapa : minyak jarak (15:5)

1 0.44 0.44

1.29 0.44

2 2.09 2.15

2.20

b. Hasil Analisis Keragaman (α = 0.05)

Sumber Variasi SS df MS F P-value F crit

Perlakuan 1.94 5 0.39 1.18 0.41 4.39

Galat 1.97 6 0.33

Total 3.91 11

Kesimpulan :

Hasil analisis keragaman (α = 0.05) menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi minyak nabati tidak berpengaruh nyata terhadap kadar fraksi tak tersabunkan sabun transparan

51

Lampiran 8. Analisis Bagian Tak Larut dalam Alkohol

a. Rekapitulasi Data Hasil Analisis Bagian Tak Larut dalam Alkohol

Jenis Minyak Ulangan Bagian Tak Larut dalam Alkohol (%)

Hasil Analisis Rata-rata Analisis Rata-rata Ulangan

Minyak kelapa : RBDPO (5:15)

1 1.20 1.17

1.11 1.14

2 1.07 1.06

1.04

Minyak kelapa : RBDPO (10:10)

1 0.63 0.65

0.84 0.66

2 1.01 1.04

1.07

Minyak kelapa : RBDPO (15:5)

1 0.69 0.67

0.75 0.66

2 0.81 0.82

0.83

Minyak kelapa : minyak jarak (5:15)

1 1.92 1.91

1.43 1.89

2 0.95 0.96

0.98

Minyak kelapa : minyak jarak (10:10)

1 2.13 2.13

2.19 2.13

2 2.21 2.25

2.30

Minyak kelapa : minyak jarak (15:5)

1 2.74 2.67

1.85 2.60

2 1.07 1.04

1.01

b. Hasil Analisis Keragaman (α = 0.05)

Sumber Variasi SS df MS F P-value F crit

Perlakuan 3.28 5 0.66 2.10 0.20 4.39

Galat 1.88 6 0.31

Total 5.16 11

Kesimpulan :

Hasil analisis keragaman (α = 0.05) menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi minyak nabati tidak berpengaruh nyata terhadap bagian tak larut dalam alkohol sabun transparan

52

Lampiran 9. Analisis Kadar Alkali Bebas dihitung sebagai NaOH

a. Rekapitulasi Data Hasil Analisis Kadar Alkali Bebas

Jenis Minyak Ulangan Kadar Alkali Bebas (%)

Hasil Analisis Rata-rata Analisis Rata-rata Ulangan

Minyak kelapa : RBDPO (5:15)

1 0.48 0.49

0.41 0.49

2 0.33 0.33

0.34

Minyak kelapa : RBDPO (10:10)

1 0.43 0.45

0.41 0.46

2 0.36 0.36

0.37

Minyak kelapa : RBDPO (15:5)

1 0.34 0.35

0.21 0.36

2 0.06 0.06

0.06

Minyak kelapa : minyak jarak (5:15)

1 0.48 0.48

0.49 0.48

2 0.50 0.50

0.51

Minyak kelapa : minyak jarak (10:10)

1 0.29 0.29

0.30 0.29

2 0.31 0.31

0.31

Minyak kelapa : minyak jarak (15:5)

1 0.15 0.15

0.16 0.15

2 0.17 0.17

0.17

b. Hasil Analisis Keragaman (α = 0.05)

Sumber Variasi SS df MS F P-value F crit

Perlakuan 0.17 5 0.03 3.48 0.08 4.39

Galat 0.06 6 0.01

Total 0.22 11

Kesimpulan :

Hasil analisis keragaman (α = 0.05) menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi minyak nabati tidak berpengaruh nyata terhadap kadar alkali bebas sabun transparan

53

Lampiran 10. Analisis Nilai pH

a. Rekapitulasi Data Hasil Analisis pH

Jenis Minyak Ulangan

pH Hasil Analisis Rata-rata Analisis Rata-rata Ulangan

Minyak kelapa : RBDPO (5:15)

1 10.61 10.69

10.74 10.76

2 10.82 10.79

10.76

Minyak kelapa : RBDPO (10:10)

1 10.63 10.63

10.73 10.62

2 10.84 10.84

10.84

Minyak kelapa : RBDPO (15:5)

1 10.56 10.66

10.57 10.76

2 10.45 10.48

10.51

Minyak kelapa : minyak jarak (5:15)

1 10.8 10.88

11.00 10.96

2 11.09 11.12

11.15

Minyak kelapa : minyak jarak (10:10) 1 10.53 10.63 10.81 10.73 2 11.01 10.99 10.96

Minyak kelapa : minyak jarak (15:5)

1 10.65 10.68

10.73 10.7

2 10.83 10.79

10.75

b. Hasil Analisis Keragaman (α = 0.05)

Sumber Variasi SS df MS F P-value F crit

Perlakuam 0.20 5 0.04 1.64 0.28 4.39

Galat 0.14 6 0.02

Total 0.34 11

Kesimpulan :

Hasil analisis keragaman (α = 0.05) menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi minyak nabati tidak berpengaruh nyata terhadap pH sabun transparan

54

Lampiran 11. Analisis Kekerasan

a. Rekapitulasi Data Hasil Analisis Uji Kekerasan

Jenis Minyak Ulangan Kekerasan (mm/detik)

Hasil Analisis Rata-rata Analisis Rata-rata Ulangan

Minyak kelapa : RBDPO (5:15)

1 1.84 1.86

1.94 1.89

2 1.98 2.02

2.06

Minyak kelapa : RBDPO (10:10)

1 1.94 2.01

2.04 2.08

2 2.12 2.07

2.03

Minyak kelapa : RBDPO (15:5)

1 2.08 2.03

2.10 1.99

2 2.14 2.16

2.19

Minyak kelapa : minyak jarak (5:15)

1 1.89 1.93

2.01 1.96

2 2.05 2.10

2.15

Minyak kelapa : minyak jarak (10:10)

1 1.97 2.03

2.00 2.08

2 2.02 1.97

1.92

Minyak kelapa : minyak jarak (15:5)

1 1.98 1.95

2.04 1.92

2 2.07 2.12

2.18

b. Hasil Analisis Keragaman (α = 0.05)

Sumber Variasi SS df MS F P-value F crit

Perlakuan 0.03 5 0.01 0.60 0.70 4.39

Galat 0.05 6 0.01

Total 0.08 11

Kesimpulan :

Hasil analisis keragaman (α = 0.05) menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi minyak nabati tidak berpengaruh nyata terhadap kekerasan sabun transparan

55

Lampiran 12. Analisis Stabilitas Emulsi

a. Rekapitulasi Data Hasil Analisis Stabilitas Emulsi

Jenis Minyak Ulangan Stabilitas Emulsi (%)

Hasil Analisis Rata-rata Analisis Rata-rata Ulangan

Minyak kelapa : RBDPO (5:15)

1 85.28 85.00

85.19 84.71

2 83.31 85.39

87.47

Minyak kelapa : RBDPO (10:10)

1 81.09 82.66

82.90 84.23

2 82.00 83.13

84.27

Minyak kelapa : RBDPO (15:5)

1 81.18 83.24

82.64 85.30

2 80.28 82.05

83.81

Minyak kelapa : minyak jarak (5:15)

1 83.69 85.64

85.44 87.59

2 87.07 85.25

83.42

Minyak kelapa : minyak jarak (10:10)

1 83.93 83.33

82.99 82.74

2 83.70 82.64

81.58

Minyak kelapa : minyak jarak (15:5)

1 81.04 83.23

82.82 85.41

2 81.86 82.42

82.97

b. Hasil Analisis Keragaman (α = 0.05)

Sumber Variasi SS df MS F P-value F crit

Perlakuan 16.60 5 3.32 12.89 0.00 4.39

Galat 1.55 6 0.26

Total 18.15 11

Kesimpulan :

Hasil analisis keragaman (α = 0.05) menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi minyak nabati berpengaruh nyata terhadap stabilitas emulsi sabun transparan

56

c. Hasil Uji Duncan

Perlakuan Duncan Group

Minyak kelapa : minyak jarak (5:15) A Minyak kelapa : RBDPO (5:15) A Minyak kelapa : minyak jarak (10:10) B Minyak kelapa : RBDPO (10:10) B Minyak kelapa : minyak jarak (15:5) B Minyak kelapa : RBDPO (15:5) B

57

Lampiran 13. Analisis Stabilitas Busa

a. Rekapitulasi Data Hasil Analisis Stabilitas Busa

Jenis Minyak Ulangan Stabilitas Busa (%)

Hasil Analisis Rata-rata Analisis Rata-rata Ulangan

Minyak kelapa : RBDPO (5:15)

1 38.46 38.46

34.74 38.46

2 31.25 31.01

30.77

Minyak kelapa : RBDPO (10:10)

1 71.43 70.33

42.31 69.23

2 14.29 14.29

14.29

Minyak kelapa : RBDPO (15:5)

1 46.15 44.51

33.64 42.86

2 23.33 22.78

22.22

Minyak kelapa : minyak jarak (5:15)

1 8.00 7.85

8.92 7.69

2 10.00 10.00

10.00

Minyak kelapa : minyak jarak (10:10)

1 8.70 8.89

8.16 9.09

2 7.14 7.42

7.69

Minyak kelapa : minyak jarak (15:5)

1 33.33 33.33

30.00 33.33

2 26.67 26.67

26.67

b. Hasil Analisis Keragaman (α = 0.05)

Sumber Variasi SS df MS F P-value F crit

Perlakuan 2052.35 5 410.47 1.32 0.37 4.39

Galat 1859.91 6 309.98

Total 3912.26 11

Kesimpulan :

Hasil analisis keragaman (α = 0.05) menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi minyak nabati tidak berpengaruh nyata terhadap stabilitas busa sabun transparan

58

Lampiran 14. Analisis Daya Bersih

a. Rekapitulasi Data Hasil Analisis Uji Daya Bersih

Jenis Minyak Ulanga

n

Daya Bersih (ftu turbidity) Hasil Analisis Rata-rata Analisis Rata-rata Ulangan

Minyak kelapa : RBDPO (5:15)

1 252 247.00

259.25 242

2 265 271.50

278

Minyak kelapa : RBDPO (10:10)

1 217 220.50

229.75 224

2 244 239.00

234

Minyak kelapa : RBDPO (15:5)

1 293 295.50

285.50 298

2 272 275.50

279

Minyak kelapa : minyak jarak (5:15)

1 35 34.50

33.00 34

2 31 31.50

32

Minyak kelapa : minyak jarak (10:10) 1 81 79.50 82.75 78 2 88 86.00 84

Minyak kelapa : minyak jarak (15:5)

1 161 159.50

167.25 158

2 171 175.00

179

b. Hasil Analisis Keragaman (α = 0.05)

Sumber Variasi SS df MS F P-value F crit

Perlakuan 102061.25 5 20412.25 149.91 0.00 4.39

Galat 817.00 6 136.17

Total 102878.25 11

Kesimpulan :

Hasil analisis keragaman (α = 0.05) menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi minyak nabati berpengaruh nyata terhadap daya bersih sabun transparan

59

c. Hasil Uji Duncan

Perlakuan Duncan Group

Minyak kelapa : RBDPO (15:5) A Minyak kelapa : RBDPO (5:15) A Minyak kelapa : RBDPO (10:10) B Minyak kelapa : minyak jarak (15:5) C Minyak kelapa : minyak jarak (10:10) D Minyak kelapa : minyak jarak (5:15) E

60

Lampiran 15. Analisis Transparansi

a. Rekapitulasi Jumlah Panelis Berdasarkan Skala Penilaian terhadap Transparansi Sabun Transparan TRANSPARANSI

Jenis Minyak Skala Penilaian Jumlah

1 2 3 4 5 A1 0 10 12 7 1 30 % 0 33.33 40.00 23.33 3.33 100 A2 3 6 11 7 3 30 % 10.00 20.00 36.67 23.33 10.00 100 A3 0 4 8 13 5 30 % 0 13.33 26.67 43.33 16.67 100 A4 3 6 6 8 7 30 % 10.00 20.00 20.00 26.67 23.33 100 A5 0 4 6 16 4 30 % 0 13.33 20.00 53.33 13.33 100 A6 0 2 7 13 8 30 % 0 6.67 23.33 43.33 26.67 100 Keterangan :

A1 = minyak kelapa : RBDPO (5:15) A2 = minyak kelapa : RBDPO (10:10) A3 = minyak kelapa : RBDPO (15:5) A4 = minyak kelapa : minyak jarak (5:15) A5 = minyak kelapa : minyak jarak (10:10) A6 = minyak kelapa : minyak jarak (15:5)

b. Hasil Perhitungan Uji Friedman Respon Panelis terhadap Transparansi Sabun Transparan

Kesimpulan :

Hasil Uji Friedman menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi minyak nabati berpengaruh nyata terhadap transparansi sabun transparan.

Ranks 2,63 3,03 3,92 3,33 3,80 4,28 A1 A2 A3 A4 A5 A6

Mean Rank Test Statisticsa

30 18,697 5 ,002 N Chi-Square df Asymp. Sig. Friedman Test a.

61

Lampiran 16. Analisis Tekstur

a. Rekapitulasi Jumlah Panelis Berdasarkan Skala Penilaian terhadap Tekstur Sabun Transparan TEKSTUR

Jenis Minyak Skala Penilaian Jumlah

1 2 3 4 5 A1 0 4 17 6 3 30 % 0 13.33 56.67 20.00 10.00 100 A2 0 1 12 14 3 30 % 0 3.33 40.00 46.67 10.00 100 A3 0 2 7 18 3 30 % 0 6.67 23.33 60.00 10.00 100 A4 1 6 12 4 7 30 % 3.33 20.00 40.00 13.33 23.33 100 A5 0 5 17 5 3 30 % 0 16.67 56.67 16.67 10.00 100 A6 0 3 16 8 3 30 % 0 10.00 53.33 26.67 10.00 100 Keterangan :

A1 = minyak kelapa : RBDPO (5:15) A2 = minyak kelapa : RBDPO (10:10) A3 = minyak kelapa : RBDPO (15:5) A4 = minyak kelapa : minyak jarak (5:15) A5 = minyak kelapa : minyak jarak (10:10) A6 = minyak kelapa : minyak jarak (15:5)

b. Hasil Perhitungan Uji Friedman Respon Panelis terhadap Tekstur Sabun Transparan

Kesimpulan :

Hasil Uji Friedman menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi minyak nabati berpengaruh nyata terhadap tekstur sabun transparan.

Ranks 3,15 4,02 4,32 3,15 2,92 3,45 A1 A2 A3 A4 A5 A6

Mean Rank Test Statisticsa

30 19,481 5 ,002 N Chi-Square df Asymp. Sig. Friedman Test a.

62

Lampiran 17. Analisis Wangi

a. Rekapitulasi Jumlah Panelis Berdasarkan Skala Penilaian terhadap Wangi Sabun Transparan WANGI

Perlakuan Skala Penilaian Jumlah

1 2 3 4 5 A1 0 3 10 11 6 30 % 0 10.00 33.33 36.67 20.00 100 A2 0 3 13 8 6 30 % 0 10.00 43.33 26.67 20.00 100 A3 0 8 12 7 3 30 % 0 26.67 40.00 23.33 10.00 100 A4 3 7 10 6 4 30 % 10.00 23.33 33.33 20.00 13.33 100 A5 2 8 12 4 4 30 % 6.67 26.67 40.00 13.33 13.33 100 A6 2 7 10 9 2 30 % 6.67 23.33 33.33 30.00 6.67 100 Keterangan :

A1 = minyak kelapa : RBDPO (5:15) A2 = minyak kelapa : RBDPO (10:10) A3 = minyak kelapa : RBDPO (15:5) A4 = minyak kelapa : minyak jarak (5:15) A5 = minyak kelapa : minyak jarak (10:10) A6 = minyak kelapa : minyak jarak (15:5)

b. Hasil Perhitungan Uji Friedman Respon Panelis terhadap Wangi Sabun Transparan

Kesimpulan :

Hasil Uji Friedman menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi minyak nabati berpengaruh nyata terhadap wangi sabun transparan.

Ranks 4,17 4,08 3,30 3,15 3,12 3,18 A1 A2 A3 A4 A5 A6

Mean Rank Test Statisticsa

30 13,608 5 ,018 N Chi-Square df Asymp. Sig. Friedman Test a.

63

Lampiran 18. Analisis Banyak Busa

a. Rekapitulasi Jumlah Panelis Berdasarkan Skala Penilaian terhadap Banyak Busa Sabun Transparan BANYAK BUSA

Perlakuan Skala Penilaian Jumlah

1 2 3 4 5 A1 1 4 16 8 1 30 % 3.33 13.33 53.33 26.67 3.33 100 A2 0 4 15 10 1 30 % 0 13.33 50.00 33.33 3.33 100 A3 0 4 17 5 4 30 % 0 13.33 56.67 16.67 13.33 100 A4 0 6 7 12 5 30 % 0 20.00 23.33 40.00 16.67 100 A5 0 5 16 6 3 30 % 0 16.67 53.33 20.00 10.00 100 A6 0 3 17 6 4 30 % 0 10.00 56.67 20.00 13.33 100 Keterangan :

A1 = minyak kelapa : RBDPO (5:15) A2 = minyak kelapa : RBDPO (10:10) A3 = minyak kelapa : RBDPO (15:5) A4 = minyak kelapa : minyak jarak (5:15)

Dokumen terkait