BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
6.2. Saran
1. Bagi pihak sekolah SMA Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah Medan diharapkan melakukan pendekatan kepada pelajar mengenai dampak dari konsumsi fast food yang berlebihan serta konseling mengenai perilaku konsumsi fast food agar dapat mengurangi konsumsi fast food dan menggantinya dengan berbagai jenis makanan yang lebih sehat dan bergizi.
2. Bagi para orang tua disarankan untuk lebih memperhatikan kebiasaan makan anak, dan perlu diajarkan mengenai gaya hidup sehat melalui konsumsi makanan bergizi seimbang dan aktivitas fisik yang teratur.
3. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan nutrisurvey pada setiap jenis makanan cepat saji pola barat serta meneliti bagaimana profil lipid dan tekanan darah para pelajar yang memiliki IMT berlebih karena kemungkinan para remaja tersebut sudah mengalami sindroma metabolik.
5
Universitas Sumatera Utara
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Makanan Cepat Saji (Fast Food)
Istilah fast food pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat sekitar tahun 1950-an dan pelajar merupakan konsumen terbanyak yang memilih menu
fast food. Fast food dipilih karena keterbatasan waktu maupun fasilitas untuk
menyiapkan makanannya sendiri (Fitri, 2011).
Menurut Hayati (2000) yang dikutip dalam Fitri (2011), secara umum produk fast food dapat dibedakan menjadi dua, yaitu produk fast food yang berasal dari Barat dan lokal. Fast food yang berasal dari Barat sering juga disebut
fast food modern, seperti fried chicken, hamburger, french fries, pizza, dan
sebagainya. Sedangkan fast food lokal sering disebut dengan istilah fast food tradisional seperti warung tegal, restoran padang, warung sunda, dan lain-lain.
Makanan cepat saji modern (fast food) adalah jenis makanan yang mudah disajikan, praktis dan umumnya diproduksi oleh industri pengolahan pangan dengan teknologi tinggi dan memberikan berbagai zat aditif untuk mengawetkan dan memberikan cita rasa bagi produk tersebut (Sihaloho, 2012).
Menurut Khomsan (2002), fast food dikatakan negatif karena ketidakseimbangannya (dari segi porsi serta komposisi sayuran sehingga miskin akan vitamin dan mineral), tinggi garam, dan rendah serat (merupakan faktor pemicu munculnya penyakit hipertensi), serta sumber lemak dan kolesterol (mengandalkan pangan hewani ternak sebagai menu utama). Ketidakseimbangan zat gizi dalam tubuh dapat terjadi jika fast food dijadikan sebagai pola makan harian. Kelebihan kalori, lemak, dan natrium akan terakumulasi dalam tubuh seseorang dapat menimbulkan berbagai penyakit degeneratif, berupa tekanan darah tinggi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, dan diabetes melitus, serta obesitas (Novitasari, 2005).
Fast food cenderung lebih padat energi, kaya akan sumber asam lemak
jenuh (saturated fatty acids) dan asam lemak trans (trans fatty acids), garam, rendah mikronutrien dan dikonsumsi dalam porsi yang cukup besar dibandingkan makanan lain. Sebagai konsekuensi langsung, konsumsi berlebihan dari fast food dihubungkan dengan peningkatan risiko berat badan berlebih (overweight) dan obesitas. (The Food Monitoring Group BMC Public Health, 2012).
Berat badan berlebih pada anak meningkatkan risiko obesitas saat dewasa, hal ini terjadi karena terdapat peningkatan dari sel lemak (fat cell) pada jaringan adiposit terutama di jaringan adiposit viseral dan juga berisiko untuk berkembangnya penyakit kronik lainnya. Adanya akses terhadap makanan berenergi padat yang tinggi lemak (energy-dense high-fat) dan makanan-makanan asin (salty foods) disertai minuman ringan yang manis (sweetened soft drinks) di sekolah, kampus, rumah dan di gerai-gerai makanan cepat saji (fast food), menandai peningkatan masukan energi anak dan remaja yang dapat mendorong terjadinya obesitas. Anak dan remaja ini tiga kali lebih sering makan makanan yang berasal dari restoran dan outlet fast food sekarang ini dibandingkan dengan 30 tahun yang lalu. Ini mungkin dikarenakan makanan-makanan tersebut relatif murah, mudah diakses, banyaknya iklan makanan dan dengan orang tua yang sibuk berkerja sehingga tidak memiliki waktu untuk memasak bagi keluarga (Patterson, dkk, 2011).
Berikut ini adalah makanan cepat saji modern yang paling populer di seluruh dunia yang berasal dari beberapa negara, dikutip dari Sihaloho (2012), diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Hamburger
Hamburger (atau seringkali disebut dengan burger) adalah sejenis makanan
berupa roti berbentuk bundar yang diiris dua dan ditengahnya diisi dengan
patty yang biasanya diambil dari daging, kemudian sayur-sayuran berupa
selada, tomat dan bawang bombay. Hamburger berasal dari negara Jerman. Saus burger diberi berbagai jenis saus seperti mayones, saus tomat dan sambal.
7
Universitas Sumatera Utara
Beberapa varian burger juga dilengkapi dengan keju, asinan, serta bahan pelengkap lain seperti sosis.
2. Pizza
Pizza adalah adonan roti yang umumnya berisi tomat, keju, saus dan bahan lain sesuai selera. Pizza pertama kali populer di negara Italia.
3. French fries (kentang goreng)
French fries adalah hidangan yang dibuat dari potongan-potongan kentang
yang digoreng dalam minyak goreng panas. French fries berasal dari negara Belgia. Kentang goreng bisa dimakan begitu saja sebagai makanan ringan, atau sebagai makanan pelengkap hidangan utama. Kentang goreng memiliki kandungan glukosa dan lemak yang cukup tinggi.
4. Fried Chicken (ayam goreng)
Fried Chicken atau ayam goreng pada umumnya jenis makanan siap saji yang
umum dijual di restoran makanan siap saji. Fried chicken umumnya memiliki protein, kolesterol dan lemak.
5. Spaghetti
Spaghetti berasal dari Italia, namun sudah populer di Indonesia. Spaghetti
adalah mie Italia yang berbentuk panjang seperti lidi, yang umumnya di masak 9-12 menit di dalam air mendidih dengan tambahan daging diatasnya.
6. Fish and Chips
Fish and chips adalah sebuah nama makanan Barat yang terdiri dari kombinasi
antara ikan dan kentang goreng. Rakyat Inggris dan Irlandia menyebutnya dengan istilah ‘chippies’ atau ‘chipper’, dan merupakan menu makan siang murah meriah di kalangan pekerja.
7. Sushi
Sushi adalah makanan Jepang yang terdiri dari nasi yang dibentuk bersama
lauk berupa makanan laut, daging, sayuran mentah atau sudah dimasak. Sushi juga sudah populer di masyarakat Indonesia.
8. Hot Dog
Hot dog merupakan makanan siap saji berupa sosis yang diselipkan dalam roti. Mustard, saus tomat, bawang dan mayonaise dapat melengkapi isiannya.
Masih banyak yang termasuk jenis makanan cepat saji (fast food) modern diantaranya menurut Peter dalam Ade (2011), yaitu the torpedo roll, the pizza pie,
chili con carne, tortillas, club sandwich, sourthen fried chicken, bacon, lettuce and tomato sanwiches, grilled cheese sandwich, dan open beef sandwich. Namun
belum ditemukan referensi mengenai apa saja yang termasuk makanan cepat saji (fast food) lokal yang berada di Indonesia.
Berikut ini gambaran kandungan nilai gizi dari beberapa jenis makanan cepat saji yang saat ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena pengaruh tren globalisasi (dikutip dari Tarigan, 2012):
1. Komposisi gizi Pizza (100 g):
Kalori (483 KKal), Lemak (48 g), Kolesterol (52 g), Karbohidrat (3 g), Gula (3 g), Protein (3 g).
2. Komposisi gizi Hamburger (100 g):
Kalori (267 KKal), Lemak (10 g), Kolesterol (29 mg), Protein (11 g), Karbohidrat (33 g), Serat kasar (3 g), Gula (7 g).
3. Komposisi gizi Donat (I bh = 70 g):
Kalori (210 Kkal), Lemak (8 g), Karbohidrat (32 g), Serat kasar (1 g), Protein (3 g), Gula (11 g), Sodium (260 mg).
4. Komposisi gizi Fried Chicken (100 g):
Kalori (298 KKal), Lemak (16,8 g), Protein (34,2 g), Karbohidrat (0,1 g). 5. Chicken nugget 6 potong: 250 kalori
6. Komposisi chicken nugget:
protein 15,5%, lemak 9,7%, karbohidrat 66,7%
7. Kentang goreng mengandung 220 kalori (Muliany, 2005).
2.2. Aspek Sosio-Kultural Makanan
Pemilihan akan makanan yang dikomsumsi tidak terlepas dari peranan makanan itu sendiri. Kecuali peranan biologik, yaitu untuk memenuhi rasa lapar, makanan mempunyai peranan sosio-kultural. Den Hartog, Hautvast, dan den Hartog (1980) dalam Almatsier (2009) mengelompokkannya sebagai berikut:
9
Universitas Sumatera Utara
1. Fungsi kenikmatan atau Gastronomik
Manusia makan untuk kenikmatan. Kesukaan akan makanan berbeda dari satu bangsa ke bangsa yang lain, dan dari satu daerah/suku ke daerah/suku lain. Makanan di negara tropik berbeda dengan di negara dengan empat musim.
Di Indonesia, kesukaan makanan antardaerah/suku juga banyak berbeda. Sebagai contoh, sudah terkenal bahwa makanan di Sumatra, khususnya di Sumatra Barat, lebih pedas daripada makanan di Jawa, khususnya Jawa Tengah yang suka makanan manis.
Secara umum makanan yang disukai adalah makanan yang memenuhi selera atau cita rasa/inderawi, yaitu dalam hal rupa, warna, bau, rasa, suhu, dan tekstur.
2. Makanan untuk Menyatakan Jati Diri
Makanan sering dianggap sebagai bagian penting untuk menyatakan jati diri seseorang atau sekelompok orang. Di Jepang misalnya, ikan mentah/sushi merupakan makanan terhormat untuk disajikan kepada tamu- tamu. Di sebagian Sumatra, daging dianggap sebagai makanan berprestise. Amatlah memalukan bila kepada tamu tidak dapat menghidangkan daging. 3. Fungsi Komunikasi
Makanan merupakan media penting dalam upaya manusia berhubungan satu sama lain. Di dalam keluarga kehangatan hubungan antar anggotanya terjadi pada waktu makan bersama. Begitupun di antara keluarga besar diupayakan pertemuan secara berkala dengan makan-makan untuk memelihara dan mempererat hubungan silahturahmi. Antartetangga sering dilakukan tukar-menukar makanan. Dalam bisnis, kesepakatan sering diperoleh dalam suatu jamuan makan di restoran atau di tempat makan lain. Pesta-pesta makan sering diselenggarakan untuk menghormati seseorang, sekelompok orang, atau untuk merayakan suatu peristiwa penting. Banyak waktu dan uang digunakan untuk mengusahakan agar makanan yang disajikan memenuhi selera tamu-tamu yang diundang. Ini sering berakibat seseorang mengeluarkan uang melebihi kemampuannya.
4. Fungsi Status Ekonomi
Makanan sering digunakan untuk menunjukkan prestise dan status ekonomi. Semua budaya mempunyai makanan yang dianggap berprestise. Makan beras dianggap lebih berprestise daripada makan jagung dan umbi- umbian. Oleh karena itu, disamping karena pertambahan penduduk, konsumsi beras di Indonesia semakin hari semakin bertambah sehingga menjadi masalah dalam pengadaannya. Beras putih dianggap lebih berprestise daripada beras tumbuk, padahal beras tumbuk mengandung lebih banyak zat-zat gizi daripada beras giling. Di negara industri, roti putih dulu dianggap lebih bergengsi daripada roti yang berwarna kecoklatan (dibuat dari tepung gandum yang tidak sempurna penggilingannya). Akan tetapi sekarang, karena kesadaran gizi sudah semakin besar, banyak orang memilih memakan roti berwarna kecoklatan (brown bread) tersebut.
5. Simbol Kekuasaan
Melalui makanan seseorang atau sekelompok masyarakat dapat menunjukkan kekuasaan terhadap orang atau kelompok masyarakat lain. Majikan memberikan makanan yang berbeda daripada yang ia makan kepada bawahan/pembantunya. Memberi makanan yang berkualitas rendah dalam jumlah yang tidak mencukupi kepada orang tahanan merupakan sebagian dari hukumannya. Dalam keadaan bermusuhan suatu negara menetapkan embargo bahan pangan terhadap negara musuhnya. 6. Fungsi Religi, Magis, dan lain-lain.
2.3. Remaja
2.3.1. Pengertian dan Perkembangan Remaja
Remaja adalah masa transisi antara kehidupan seorang anak menjadi dewasa. Ada beberapa pandangan berbeda dalam menentukan batasan usia remaja. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan batas usia remaja adalah 10-20 tahun. Sedangkan dalam Sadock (2007), membedakan masa remaja menjadi tiga
11
Universitas Sumatera Utara
bagian, yaitu remaja awal yang berusia 12-14 tahun, remaja pertengahan berusia 14-16 tahun, dan remaja akhir yang berusia 17-19 tahun.
WHO memberikan definisi tentang remaja yang lebih bersifat konseptual yang dikutip dari Sarwono (2000) dalam Pratiwi (2011). Definisi tersebut dikemukakan dalam 3 kriteria, yaitu: biologis, psikologis, dan sosial ekonomi, sehingga secara lengkap definisi tersebut berbunyi remaja adalah suatu masa dimana:
1. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seks sekundernya sampai ia mencapai matang seksual.
2. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari anak menjadi dewasa.
3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.
Dalam Sadock (2007), awal dari masa remaja ini ditandai dengan pubertas, yang merupakan proses perkembangan fisik dan reproduksi, baik primer maupun sekunder, seorang anak menjadi dewasa. Laju pertumbuhan anak, baik perempuan maupun lelaki, hampir sama cepatnya sampai pada usia 9 tahun. Selanjutnya, antara 10-12 tahun, pertumbuhan anak perempuan mengalami percepatan lebih dahulu karena tubuhnya memerlukan persiapan menjelang usia reproduksi; sementara anak lelaki baru dapat menyusul dua tahun kemudian. Pubertas dimulai sekitar umur 10-11 tahun untuk anak perempuan dan 12-13 tahun untuk anak laki- laki. Waktu pubertas dan laju pertumbuhan pada anak sangat bervariasi. Selama lima sampai tujuh tahun perkembangan pubertas, berat badan remaja mencapai sekitar 20 persen dari berat badan dewasa dan 50 persen dari berat badan dewasa ideal. Hampir seluruh organ tubuh ukurannya bertambah dua kali lipat dari ukuran sebelumnya, dan hampir setengah dari pertumbuhan tulang total terjadi (Arisman, 2010)
Masa remaja merupakan jalan panjang yang menjembatani periode kehidupan anak dan dewasa, yang berawal pada usia 9-10 tahun dan berakhir di usia 18 tahun. Masa ini merupakan sebuah dunia yang “lengang” dan rentan
dalam artian fisik, psikis, sosial, dan gizi. Pertumbuhan yang disertai dengan perubahan fisik, memicu berbagai kebingungan (Arisman, 2010).
Masa remaja adalah periode kritis dalam perjalanan kehidupan manusia, karena pada saat itulah individu mulai mengembangkan sikap mental dan identitas dirinya, dimana seseorang mulai berinteraksi dengan lebih banyak pengaruh lingkungan dan mengalami pembentukan perilaku. Perubahan gaya hidup pada remaja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebiasaan makan remaja. Remaja menjadi lebih aktif, lebih banyak makan di luar, dan mendapat banyak pengaruh dalam pemilihan makanan yang akan dimakannya, selain itu remaja juga sering mencoba-coba makanan baru, salah satunya adalah fast food (Virgianto dan Purwaningsih, 2006).
2.3.2. Masalah Gizi Remaja
Cukup banyak masalah yang berdampak negatif terhadap kesehatan dan gizi remaja. Disamping penyakit atau kondisi yang terbawa sejak lahir, penyalahgunaan obat, kecanduan alkohol dan rokok serta hubungan seksual terlalu dini, terbukti menambah beban para remaja. Dalam beberapa hal, masalah gizi remaja serupa atau merupakan kelanjutan dari masalah gizi pada usia anak, yaitu anemia defisiensi besi serta kelebihan dan kekurangan berat badan (Arisman, 2010).
Menurut Wardlaw (2004), banyak remaja perempuan yang berhenti meminum susu, sehingga mereka tidak mengonsumsi cukup kalsium yang berguna untuk memaksimalkan mineralisasi tulang mereka. Asupan kalsium yang cukup untuk lelaki dan perempuan antara usia 9 dan 18 tahun adalah 1300 mg per hari, dibandingkan dengan 800 mg per hari untuk anak-anak yang lebih muda. Sedangkan menurut Arisman (2010), remaja tidak setiap hari makan buah dan sayur, sementara kudapan asin dan manis (70%) dimakan beberapa kali (sepertiga dari mereka) setiap hari. Survei Departemen Pertanian Amerika Serikat (1995) membuktikan bahwa remaja putri yang berusia 12-19 tahun, hanya mengonsumsi 777 mg kalsium sehari.
13
Universitas Sumatera Utara
Masalah selanjutnya adalah defisiensi zat besi. Anemia defisiensi besi beberapa kali muncul pada remaja wanita setelah mereka mulai menstruasi (menarche) dan pada remaja lelaki muncul selama percepatan pertumbuhan mereka. Sekitar 10% remaja memiliki simpanan besi yang rendah atau berhubungan dengan anemia. Penting bagi remaja untuk memilih makanan baik yang mengandung zat besi, seperti daging tanpa lemak, biji-bijian, dan sereal. Remaja wanita, khususnya yang memilki siklus menstruasi yang berat, membutuhkan konsumsi makanan yang kaya akan zat besi (atau secara teratur mengonsumsi suplemen besi). Defisiensi besi merupakan kondisi yang sangat merugikan untuk remaja. Masalah ini dapat menyebabkan kelelahan (fatigue) dan menurunkan kemampuan untuk berkonsentasi dan belajar di sekolah (Wardlaw, 2004).
Salah satu masalah serius yang bersifat universal kini adalah konsumsi makanan olahan, seperti yang ditayangkan dalam iklan televisi secara berlebihan. Makanan ini meski dalam iklan diklaim kaya akan vitamin dan mineral, sering terlalu banyak mengandung gula serta lemak, disamping zat aditif. Konsumsi makanan jenis ini secara berlebihan dapat berakibat kekurangan zat gizi lain. Kegemaran pada makanan olahan yang mengandung zat (gula, lemak, dan aditif secara berlebihan) ini menyebabkan remaja mengalami perubahan patologis yang terlalu dini (Arisman, 2010).
Pada penelitian Patterson (2011) di London didapati kemungkinan alasan- alasan mengapa mereka senang membeli makanan dan minuman dari outlet fast
food atau takeaway outlets. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan
bahwa pengaruh teman sebaya menjadi faktor penting yang signifikan dan potensial mempengaruhi frekuensi konsumsi, dimana ini menjadi gengsi tersendiri bagi para remaja. Kemudian rasa dan akses yang cepat menjadi dua alasan populer lainnya. Pada laporan sebelumnya juga ditemukan bahwa mereka menikmati rasa dari makanan tersebut. Rasa mungkin dapat dihubungkan dengan kandungan tinggi lemak dan garam pada produk ini.
Ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran energi mengakibatkan pertambahan berat badan. Obesitas yang muncul pada usia remaja cenderung berlanjut hingga ke dewasa dan lansia. Sementara obesitas itu sendiri merupakan salah satu faktor risiko penyakit degeneratif, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, artritis, penyakit kantong empedu, beberapa jenis kanker, gangguan fungsi pernapasan, dan berbagai gangguan kulit (Arisman, 2010).
Ada tiga alasan mengapa remaja dikatakan rentan. Pertama, percepatan pertumbuhan dan perkembangan tubuh memerlukan energi dan zat gizi yang lebih banyak. Kedua, perubahan gaya hidup dan kebiasaan pangan menuntut penyesuaian masukan energi dan zat gizi. Ketiga, kehamilan, keikutsertaan dalam olahraga, kecanduan alkohol dan obat, meningkatkan kebutuhan energi dan zat gizi, disamping itu, tidak sedikit remaja yang makan secara berlebihan dan akhirnya mengalami obesitas (Arisman, 2010).
Remaja merupakan golongan yang paling mudah terkena budaya dari luar, karena mereka sedang mengalami masa pencarian identitas diri akibat periode transisi yang dilalui. Pada masa ini mereka sudah memiliki kebebasan (tahap independensi) dalam memilih makanan apa saja yang disukainya dan cenderung tidak berselera lagi makan di rumah bersama keluarga, serta lebih senang menghabiskan waktu di luar rumah bersama teman-temannya. Kebebasan inilah yang merubah kebiasaan remaja menjadi makan tidak teratur, terutama melewatkan sarapan pagi dengan alasan sibuk, seringnya mengkonsumsi makanan yang tidak sehat dan makanan ringan (snack) selama waktu sekolah, serta juga memiliki aktivitas fisik yang rendah (Patterson, 2011).
Remaja belum sepenuhnya matang, baik secara fisik, kognitif, dan psikososial. Dalam masa pencarian identitas ini, remaja cepat sekali terpengaruh oleh lingkungan. Kegemaran yang tidak lazim, seperti pilihan untuk menjadi vegetarian atau food fadism, merupakan sebagian contoh keterpengaruhan ini. Kecemasan akan bentuk tubuh membuat remaja sengaja tidak makan, tidak jarang berujung pada anoreksia nervosa. Kesibukan menyebabkan mereka memilih makan di luar, atau hanya menyantap kudapan. Lebih jauh, kebiasaan ini
15
Universitas Sumatera Utara
dipengaruhi oleh keluarga, teman, dan media (terutama iklan di televisi). Teman sebaya berpengaruh besar pada remaja dalam hal memilih jenis makanan. Ketidakpatuhan terhadap teman dikhawatirkan dapat menyebabkan dirinya “terkucil”, dan itu akan merusak rasa percaya diri (Arisman, 2010).
2.3.3. Kebutuhan Gizi Remaja
Penentuan kebutuhan akan zat gizi remaja secara umum didasarkan pada
Recommended Daily Allowances (RDA) atau Angka Kecukupan Gizi yang
dianjurkan (AKG). Untuk praktisnya, RDA disusun berdasarkan perkembangan kronologis bukan kematangan. Karena itu, jika konsumsi energi remaja kurang dari jumlah yang dianjurkan, tidak berarti kebutuhannya belum tercukupi. Status gizi remaja harus dinilai secara perorangan, berdasarkan data yang diperoleh dari pemeriksaan klinis, biokimiawi, antropometris, diet, serta psikososial (Arisman, 2010).
Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKG) atau Recommended Daily
Allowances (RDA) adalah taraf konsumsi zat-zat gizi esensial, yang berdasarkan
pengetahuan ilmiah dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hampir semua orang sehat. Angka kecukupan gizi berbeda dengan angka kebutuhan gizi (dietary
requirements). Angka kebutuhan gizi adalah banyaknya zat-zat gizi minimal yang
dibutuhkan seseorang untuk mempertahankan status gizi adekuat. AKG yang dianjurkan didasarkan pada patokan berat badan untuk masing-masing kelompok umur, gender, aktivitas fisik, dan kondisi fisiologis tertentu seperti kehamilan dan menyusui (Almatsier,2009).
WHO menganjurkan rata-rata konsumsi energi makanan sehari adalah 10- 15% berasal dari protein, 15-30% dari lemak, dan 55-75% dari karbohidrat (Almatsier, 2009).
Menurut Arisman (2010), banyaknya energi yang dibutuhkan oleh remaja dapat diacu pada tabel RDA. Secara garis besar remaja putra memerlukan lebih banyak ebergi dibandingkan remaja putri. Pada usia 16 tahun remaja putra membutuhkan sekitar 3.470 kkal per hari, dan menurun menjadi 2.900 pada usia 16-19 tahun. Kebutuhan remaja putri memuncak pada usia 12 tahun (2.550 kkal),
untuk kemudian menurun menjadi 2.200 kkal pada usia18 tahun. Perhitungan ini didasarkan pada stadium perkembangan fisiologis, bukan usia kronologis. Wait dkk., menganjurkan penggunaan kkal per cm tinggi badan sebagai penentu kebutuhan akan energi yang lebih baik. Perkiraan energi untuk remaja putra berusia 11-18 tahun, yaitu 13-23 kkal/cm, sementara remaja putri dengan usia yang sama, yaitu 10-19 kkal/cm.
Perhitungan besarnya kebutuhan akan protein berkaitan dengan pola tumbuh, bukan usia kronologis. Untuk remaja putra, kisaran besarnya kebutuhan ini ialah 0,29-0,32 gr/cm tinggi badan. Sementara remaja putri hanya 0,27-0,29 gr/cm (Arisman, 2010)
Makanan yang tinggi protein biasanya tinggi lemak sehingga dapat menyebabkan obesitas. Kelebihan protein memberatkan ginjal dan hati yang harus memetabolisme dan mengeluarkan kelebihan nitrogen. Batas yang dianjurkan untuk konsumsi protein adalah dua kali Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk protein. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI (WKNPG VI) tahun 1998 menganjurkan angka kecukupan gizi (AKG) protein untuk remaja 1,5 - 2,0 gr/kg BB/hari. AKG protein remaja dan dewasa muda adalah 48-62 gr per hari untuk perempuan dan 55-66 gr per hari untuk laki-laki. Sedangkan menurut Depkes RI tahun 2004, angka kecukupan energi dan protein rata-rata yang dianjurkan pada remaja tercantum dalam tabel 2.1.
Tabel 2.1. Kecukupan Energi dan Protein Rata-rata yang Dianjurkan pada Remaja Jenis Kelamin Umur (Tahun) Berat Badan (kg) Energi (kkal) Protein (gr) Laki-laki 10-12 35 2050 50 13-15 46 2400 60 16-19 55 2600 65 Perempuan 10-12 37 2050 50 13-15 48 2350 57 16-19 50 2200 50
Sumber: Depkes RI, 2004
17
Universitas Sumatera Utara
Kebutuhan akan semua jenis mineral juga meningkat. Peningkatan