• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V Kesimpulan dan Saran

V.2 Saran

Setelah menganalisis hasil penelitian tersebut, penulis mempunyai saran yang perlu disampaikan dalam implementasi manajemen risiko di bidang impor.Saran-saran yang diberikan dari hasil penelitian ini adalah :

1. Mendidik dan membimbing terus menerus kepada para importir agar semakin patuh terhadap aturan-aturan importasi yang berlaku sehingga tidak merugikan dan membahayakan negara dari segi hak-hak keuangan negara dan barang- barang terlarang.

2. Meningkatkan kerjasama antar lembaga dalam penyidikan pelanggaran- pelanggaran sehingga setiap risiko pelanggaran dapat dicegah dan dimitigasi.

3. Menambah jumlah tenaga pegawai Seksi Penindakan dan Penyidikan berdasarkan analisis beban kerja sehingga visi dan misi Bea dan Cukai bisa di capai dan dilaksanakan secara maksimal.

BAB II

METODE PENELITIAN

II.1 Metode Penelitian

Dalam melakukan penelitian ilmiah perlu diketahui dan dipelajari metode penelitian yang akan digunakan peneliti. Metode penilitian juga dapat dikatakan sebagai strategi dalam pemecahan masalah, karena pada tahap ini dapat memberikan gambaran bagaimana suatu masalah dalam penelitian dapat dipecahkan dan ditemukan jawabannya. Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah tahap-tahap dari penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.Menurut Usman (2009:4), penelitian dengan menggunakan metode deskriptif bermaksud membuat penyandaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat- sifat populasi tertentu.Secara teoritis, menurut Bogdan dan Taylor dalam Moeleong (2006 : 4), penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Berdasarkan pengertian di atas, maka penelitian ini adalah penelitian yang penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara secara mendalam.

II.2 Lokasi Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan di Kantor Pengawasan Dan Pelayanan Bea Dan Cukai Tipe Madya Pabean C Teluk Nibung, Jl. Besar Pelabuhan, Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai.

II.3 Informan Penelitian

Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk menggeneralisasi suatu penelitian sehingga dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan populasi dan sampel. Informan penelitian adalah pelaksana kebijakan yang mengetahui tentang informasi objek penelitian maupun orang lain yang memahami objek penelitian.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan informan yang terdiri dari:

1. Informan Kunci adalah informan yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian atau informan yang mengetahui secara mendalam permasalahan yang diteliti. Dalam penelitian ini yang menjadi informan kunci adalah Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai.

2. Informan Utama adalah mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Adapun informan utama dalam penelitian adalah Seksi Penindakan dan Penyelidikan.

II.4 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini diperlukan data atau keterangan dan informasi. Untuk itu penelitian menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Untuk memperoleh data primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini maka pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan pihak institusi kepabeanan tersebut dan para stakeholder lainnya.

a. Wawancara

Yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan tanya jawab secara langsung antara peneliti dengan informan yang telah dijadikan sumber data. Sehingga akan diperoleh informasi yang berkaitan dengan penelitian.

b. Observasi

Yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek penelitian kemudian mencatat gejala-gejala yang terjadi di lapangan untuk melengkapi data-data yang diperlukan sebagai acuan yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.

2. Teknik Pengumpulan Data Sekunder

Untuk memperoleh data sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian ini maka pengumpulan data dilakukan melalui kajian buku-buku, data dari internet, peraturan perundang-undangan, maupun sumber tertulis lainnya yang berkaitan dengan objek penelitian. Teknik pengumpulan data sekunder dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen sebagai berikut:

a. Studi Dokumentasi

Yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumentasi-dokumentasi yang ada di lokasi penelitian atau sumber-sumber lain yang terkait dengan objek penelitian.

b. Studi Kepustakaan

Yaitu teknik pengumpulan data yang diperoleh dari buku-buku, karyailmiah, dan pendapat para ahli yang berkompetensi, serta memiliki relevansi dengan masalah yang diteliti.

II.5 Teknik Analisis Data

Teknik data merupakan kegiatan mengelompokkan, membuat suatu urutan, memanipulasi serta menyingkatkan data sehingga mudah untuk membuat suatu deskripsi dari gejala yang diteliti. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisa kualitatif yaitu dengan menyajikan data yang dimulai dengan menelaaj seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber data yang terkumpul, mempelajari data yang tersedia, menelaah, menyusunnya dalam satu-satuan, yang kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya dan memeriksa keabsahan data serta menafsirkannya dengan analisis sesuai dengan kemampuan daya nalar peneliti untuk membuat kesimpulan penelitian. (Moleong 2006:247). Terdapat beberapa langkah dalam melakukan analisis data, yaitu:

1. Resuksi Data

Reduksi data dilakukan dengan merangkum dan memfokuskan hal-hal yang penting tentang penelitian dengan mencari tema dan pola hingga

memberikan gambaran yang lebih jelas serta mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.

2. Penyajian Data

Bermakna sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya kesimpulan adanya penarikan kesimpulan dan penarikan tindakan. Penyajian data ini dilakukan dalam bentuk teks yang bersifat naratif, bagan, dan dalam bentuk tabel.

3. Penarikan Kesimpulan

Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat pada tahap pengumpulan data berikutnya. Namun apabila kesimpulan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Penelitian Terdahulu

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Any Miami pada tahun 2008 dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Penetapan Tingkat Risiko (Risk Ranking) di Bidang Impor”. Penelitian ini membahas tentang bagaimana penetapan tingkat risiko (risk ranking) terhadap profil importir dan profil komoditi di bidang impor. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tujuan penelitian yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian ini adalah profil importir dibagi menjadi tiga kategori sesuai tingkat risiko importir, yaitu hi-rski,

medium-risk, dan low-risk. Kemudian profil komoditi dibagi menjadi tiga kategori

yaitu, very hi-risk (sebagai komoditi yang ditetapkan oleh pemerintah), hi-risk,

dan low-risk.

Penelitian kedua adalah penelitian yang dilakukan oleh Deviyanto The Dlava dalam skripsinya yang berjudul “Implementasi Manajemen Risiko Dalam Bidang Impor” yang berlokasi penelitian di KPPBC Soekarno-Hatta. Penelitian ini membahas tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat risiko suatu impor dan bagaimana penetapan tingkat risiko suatu impor. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tujuan peneltian bersifat deskriptif. Hasil penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan tingkat risiko adalah profil importir, profil komoditi, dan profil pemasok. Kemudian penetapan tingkat risiko suatu impor dilakukan dengan penetapan jalur impor, yaitu jalur

Merah, jalur Kuning, jalur Hijau, jalur MITA Non Prioritas, dan jalur MITA Prioritas. Berikut adalah tabel perbandingan dari penelitian terdahulu

Tabel 1.1 Perbandingan Penelitian Terdahulu

Peneliti Any Miami Deviyanto The Dlava

Tahun 2008 2012

Permasalahan 1. Bagaimana penetapan tingkat risiko (risk

ranking) atas profil

importir dan profil komoditi di bidang impor

1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat risiko suatu impor?

2. Bagaimana penetapan tingkat risko atas suatu impor?

Metode Kualitatif Kualitatif

Hasil Penelitian 1. Profil importir dibagi menjadi tiga kategori sesuai tingkat risko importir, yaitu hi-

risk, medium-risk dan low-risk

2. Profil komoditi dibagi

menjadi tiga karegori, yaitu very

hi-risk (sebagai komoditi yang ditetapkan pemerintah), hi-risk dan low-risk 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat risiko adalah profil

importir, profil komoditi, dan profil

pemasok.

2. Penetapan tingkat risiko suatu impor dilakukan dengan penetapan jalur impor, yaitu jalur merah, jalur kuning, jalur hijau, jalur MITA Non Prioritas, dan jalur MITA Prioritas

Sumber : Diolah peneliti

I.2 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari - hari, tanpa disadari maupun direncanakan sebuah resiko dari setiap kegiatan kita lakukanakan menghampiri, baik yang bersifat positif (baik) maupun negatif (buruk). Oleh karena itu, diperlukan sebuah disiplin khusus yaitu Manajemen Risiko agar kita mampu memanajemen dengan baik semua risiko yang akan menghampiri sehingga setiap risiko menjadi keuntungan untuk diri kita ataupun memperbaiki/memperkecil dampak dari risiko yang

telahterjadi, dan kedepannya kita mulai terlatih untuk menggambarkan risiko- risiko apa saja yang akan menghampiri setiap kegiatan kita dimasa yang akan datang.

Tidak berbeda dengan individu, begitu juga dengan organisasi baik organisasi swasta maupun organisasi di bawah pemerintah. Dalam hal ini adalah CUSTOMS sebuah Instansi Kepabeanan yang keberadaannya sangat esensial bagi

suatu negara dimanapun, demikian pula dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yakni Instansi Kepabeanan yang dimiliki Indonesia adalah suatu instansi yang memiliki peran yang cukup penting sebagai ujung tombak dalam tugas pengawasan dan pelayananan barang keluar masuk wilayah Indonesia.Direktorat Jenderal Bea dan Cukai selanjutnya kita sebut Bea Cukai merupakan institusi global yang hampir semua negara di dunia memilikinya.Direktorat Jenderal Bea dan Cukai memiliki peran yang cukup penting dari negara dalam melaksanakan tugas dan fungsinya untuk melindungi masyarakat dari masuknya barang-barang berbahaya, melindungi industri tertentu di dalam negeri dari persaingan yang tidak sehat dengan industri sejenis dari luar negeri, memberantas penyelundupan, melaksanakan tugas titipan dari instansi-instansi lain yang berkepentingan dengan lalu lintas barang yang melampaui batas-batas negara, memungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor secara maksimal untuk kepentingan penerimaan keuangan negara.Direktorat Jenderal Bea dan Cukai memilik 4 fungsi utama yaitu :

1. Bea Cukai sebagai pelayan atau pemberi fasilitas perdagangan (Trade

2. Bea Cukai ikut menunjang industri dalam negeri agar dapat bersaing dengan industri luar negeri (Industrial Assistance).

3. Bea Cukai sebagai abdi negara (Revenue Collector).

4. Bea Cukai sebagai pelayan dan pengawas dalam perdagangan (Community

Protector) yaitu.

Sejak diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191/PMK. 09/2008 Tentang Penerapan Manajemen Risiko Di Lingkungan Departemen Keuangan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) sebagai instansi yang berada di bawah langsung Kementerian Keuangan telah menerapkan manajemen risiko sebagai upaya menanggulangi risiko (mitigasi) yang dihadapi oleh organisasi. Bagi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) tentunya penerapan Manajemen Risiko memiliki tujuan dan manfaat.Tujuannya adalah untuk mengantisipasi dan menangani risiko secara efektif dan efisien. Disamping juga untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengendalikan risiko serta memelihara kinerja manajemen risiko serta untuk mengintegrasikan proses manajemen risiko ke dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kinerja. Mengenai manfaat yang akan diperoleh dengan penerapan Manajemen Risiko adalah menghindarkan terjadinya hal-hal yang tidak diharapkan dalam bentuk keluhan maupun keberatan dari para pemangku kepentingan (stakeholder), meningkatkan efisiensi, reputasi, tingkat kepercayaan dari stakeholder.

Contoh Kasus Perlunya Penerapan Manajemen Risiko :

Risiko-risiko yang biasa dihadapi oleh Bea dan Cukai adalah pertama, Penyelundupan fisik yang terjadi di pelabuhan-pelabuhan kecil atau sering disebut sebagai pelabuhan tikus. Kecenderungan terjadi di Pantai Timur Sumatera. Karena di sana rawan terjadinya penyelundupan tekstil dan produk tekstil, terutama pakaian bekas. Kedua adalah soal dokumen. Bea Cukai akan meningkatkan pengawasan melalui sistem IT. Melalui analisis yang dilakukan atas data yang tersedia dan melalui observasi serta mempelajari dokumen yang telah selesai. Atas barang-barang yang termasuk risiko menengah dilaksanakan pemeriksaan secara selektif seperti mainan anak-anak dan lainnya. Barang-barang yang diimpor maupun diekspor masih mempunyai potensi risiko yang kemungkinan dapat merugikan pendapatan negara.

April 2016 pukul 21.44 wib)

Berdasarkan kasus di atas sangat jelas bahwa perlunya penerapan Manajemen Risiko yang baik. Maka dari itu penulis tertarik untuk mengambil judul penelitian “IMPLEMENTASI MANAJEMEN RISIKO DI BIDANG IMPOR(Studi

Kasus Pada Kantor Pengawasan Dan Pelayanan Bea Dan Cukai Tipe Madya Pabean C Teluk Nibung Kota Tanjungbalai)”

I.3 Rumusan Masalah

Melihat begitu banyaknya risiko – risiko yang ada dihadapan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sehingga Manajemen Risiko perlu untuk diterapkan untuk menentukan mitigasi yang tepat sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.Penerapan Manajemen Risiko yang baik harus menjadi suatu kewajiban yang harus diterapkan pada fungsi pengawasan dan pelayanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Oleh karena itu, pertanyaan yang menjadi rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana Implementasi Manajemen Risiko di Bidang Impordi Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya C Teluk Nibung Kota Tanjungbalai?

I.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji secara lebih mendalam mengenai untuk mengetahui secara mendalam Implementasi Manajemen Risiko di Bidang Impordi Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya C Teluk Nibung Kota Tanjungbalai.

I.5 Manfaat Penelitian

1. Manfaat Ilmiah

Penelitian diharapkan bermanfaat untuk melatih kemampuan berpikir ilmiah, sistematis, dan bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan dan menuliskan karya ilmiah di lapangan berdasarkan kajian-kajian teori dan aplikasi yang diperoleh dari Ilmu Administrasi Negara.

2. Manfaat Praktis

Bagi penulis, manfaat praktis yang diharapkan dapat diperoleh dari seluruh tahapan penelitian serta hasilnya adalah dapat memperluas wawasan dan sekaligus memperoleh pengetahuan empirik mengenai penerapan fungsi Ilmu Administrasi Negara yang diperoleh selama mengikuti kegiatan perkuliahan di Universitas Sumatera Utara.

3. Manfaat Akademis

Manfaat akademis yang diharapkan adalah bahwa hasil penelitian dapat dijadikan rujukan bagi upaya pengembangan Ilmu Administrasi Negara dan memperkaya ragam penelitian yang telah dibuat oleh mahasiswa/i Ilmu Administrasi negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara serta menjadi bahan referensi bagi terciptanya suatu karya ilmiah.

I.6 KERANGKA TEORI

Menurut Masri Singarimbun (1989:37) Teori merupakan serangkaian asumsi, konsep, konstrak, defenisi, dan preposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep. Kerangka teori ini digunakan untuk memberikan gambaran tentang batasan-batasan teori yang akan dipakai sebagai landasan yang akan dilakukan dalam penelitian. Berikut beberapa teori yang akan dijelaskan sebelum penelitian dilakukan.

I.6.1 Kebijakan Publik

I.5.1.1 Definisi Kebijakan Publik

Secara etimoligis, istilah kebijakan atau policy berasal dari bahasa Yunani “polis” berarti negara. Diartikan ke dalam bahasa Inggris “policie” yang artinya berkenaan dengan pengendalian masalah-masalah publik atau administrasi pemerintahan (William N Dunn 2000:22).

Istilah “kebijakan” atau “policy” dipergunakan untuk menunjuk perilaku sorang aktor (misalnya seorang pejabat, suatu kelompok maupun suatu badan pemerintah) atau sejumlah aktor dalam suatu bidang kegiatan tertentu, (Budi Winarno 2002:14). Sedangkan kata publik sendiri dapat diartikan sebagai negara.

Namun demikian, kebijakan publik merupakan konsep tersendiri yang mempunyai arti dan definisi khusus akademik. Definisi kebijakan publik menurut para ahli sangat beragam. Menurut Easton (1963) dalam (Tangkilisan 2003:2) kebijakan publik adalah sebagai alat pengalokasian nilai-nilai kekuasaan untuk seluruh masyarakat yang keberadaannya meningkat. Sehingga cukup pemerintah yang dapat melakukan suatu tinfakan kepada masyarakat dan tindakan tersebut merupakan bentuk dari sesuatu yang dipilih oleh pemerintah yang merupkan bentuk dari pengalokasian nilai-nilai kepada masyarakat. Menurut Carl Friedrich (1963) dalam (Budi Winarno 2002:19), mendefinisikan kebijakan publik sebagai arah tindakan yang diusulkan seseorang, kelompok atau pemerintah dalam

suatu lingkungan tertentu yang memberikan hambatan-hambatan dan kesempatan-kesempatan terhadap kebijakan yang diusulkan untuk menggunakan dan mengatasi dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu atau merealisasikan suatu sasaran dan maksud tertentu.Menurut James E Anderson (Ibid 2002:16), mendefinisikan kebijakan publik adalah arah tindakan yang mempunyai maksud yang ditetapkan oleh seorang aktor atau sejumlah aktor dalam mengatasi suatu masalah atau suatu persoalan. Konsep kebijakan ini dianggap tepat karena memusatkan perhatian pada apa yang sebenarnya dilakukan atau bukan pada apa yang diusulkan atau dimaksudkan.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bawha kebijakan publik merupakan serangkaian tindakan yang menjadi keputusan pemerintah untuk melakukan atau tindakan melakukan sesuatu yang bertujuan untuk memecahkan masalah demi kepentingan masyarakat.

I.6.1.2 Proses Kebijakan Publik

Tahap-tahap kebijakan publik menurut William Dunn adalah sebagai berikut:

1. Penyusunan Agenda

Agenda setting adalah sebuah fase dan proses yang sangat strategis dalam realitas kebijakan publik. Dalam proses inilah memiliki ruang untuk memaknai apa yang disebut sebagai masal

sebagai masalah publik, dan mendapatkan prioritas dalam agenda publik, maka isu tersebut berhak mendapatkan alokasi sumber daya publik yang lebih daripada isu lain.

Dalam agenda setting juga sangat penting untuk menentukan suatu isu publik yang akan diangkat dalam suatu agenda pemerintah. Isu kebijakan (policy issues) sering disebut juga sebagai masalah kebijakan (policy problem). Policy issues biasanya muncul karena telah terjadi silang pendapat di antara para aktor mengenai arah tindakan yang telah atau akan ditempuh, atau pertentangan pandangan mengenai karakter permasalahan tersebut. Isu kebijakan merupakan produk atau fungsi dari adanya perdebatan baik tentang rumusan, rincian, penjelasan maupun penilaian atas suatu masalah tertentu. Namun tidak semua isu bisa masuk menjadi suatu agenda kebijakan.

1. telah mencapai titik kritis tertentu jika diabaikan, akan menjadi ancaman yang serius;

2. telah mencapai tingkat partikularitas tertentu berdampak dramatis;

3. menyangkut emosi tertentu dari sudut kepentingan orang banyak (umat manusia) dan mendapat dukungan media massa;

4. menjangkau dampak yang amat luas ;

6. menyangkut suatu persoalan yang fasionable (sulit dijelaskan, tetapi mudah dirasakan kehadirannya)

Para pejabat yang dipilih dan diangkat menempatkan masalah pada agenda publik. Banyak masalah tidak disentuh sama sekali, sementara lainnya ditunda untuk waktu lama.

Penyusunan agenda kebijakan seyogianya dilakukan berdasarkan tingkat urgensi dan esensi kebijakan, juga keterlibatan stakeholder. Sebuah kebijakan tidak boleh mengaburkan tingkat urgensi, esensi, dan keterlibatan stakeholder.

2. Formulasi kebijakan

Masalah yang sudah masuk dalam agenda dibahas oleh para pembuat kebijakan. Masalah-masalah tadi didefinisikan untuk kemudian dicari pemecahan masalah yang terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif atau pilihan kebijakan yang ada. Sama halnya dengan perjuangan suatu masalah untuk masuk dalam agenda kebijakan, dalam tahap perumusan kebijakan masing-masing slternatif bersaing untuk dapat dipilih sebagai kebijakan yang diambil untuk memecahkan masalah.

3. Adopsi/ Legitimasi Kebijakan

Tujuan legitimasi adalah untuk memberikan otorisasi pada proses dasar pemerintahan. Jika tindakan legitimasi dalam suatu masyarakat diatur

oleh kedaulatan rakyat, warga negara akan mengikuti arahan pemerintah. Namun warga negara harus percaya bahwa tindakan pemerintah yang sah.Mendukung. Dukungan untuk rezim cenderung berdifusi - cadangan dari sikap baik dan niat baik terhadap tindakan pemerintah yang membantu anggota mentolerir pemerintahan disonansi.Legitimasi dapat dikelola melalui manipulasi simbol-simbol tertentu. Di mana melalui proses ini orang belajar untuk mendukung pemerintah.

4. Implementasi Kebijakan

Suatu program kebijakan hanya akan menjadi catatan-catatan elit, jika program tersebut tidak diimplementasikan. Oleh karena itu, program kebijakan yang telah diambil sebagai alternatif pemecahan masalah harus diimplementasikan, yakni dilaksanakan oleh badan-badan administrasi maupun agen-agen pemerintah tingkat bawah. Kebijakan yang telah diambil dilaksanakan oleh unit-unit administrasi yang memobilisasikan sumberdaya finansial dan manusia. Pada tahap implementasi ini berbagai kepentingan akan bersaing. Beberapa implementasi kebijakan mendapat dukungan para pelaksana, namun beberapa yang lain mungkin akan ditentang oleh para pelaksana.

5. Penilaian/ Evaluasi Kebijakan

Secara umum yang menyangkut estimasi atau penilaian kebijakan yang mencakup substansi, implementasi dan dampak. Dalam hal ini, evaluasi dipandang

sebagai suatu kegiatan fungsional. Artinya, evaluasi kebijakan tidak hanya dilakukan pada tahap akhir saja, melainkan dilakukan dalam seluruh proses kebijakan. Dengan demikian, evaluasi kebijakan bisa meliputi tahap perumusan masalh-masalah kebijakan, program-program yang diusulkan untuk menyelesaikan masalah kebijakan, implementasi, maupun tahap dampak kebijakan.

I.6.1.3 Implementasi Kebijakan Publik

Pengertian implementasi adalah serangkaian kegiatan yang terencana berdasarkan kebijakan/program yang telah dibuat yang berkaitan dengan kepentingan publik. Kebijakan yang telah dibuat merupakan strategi yang memanfaatkan sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah-masalah publik yang ada. Kebijakan dilaksanakan oleh aktor politik atau sekelompok aktor politik (implementor) untuk memecahkan masalah-masalah yang ada sebatas kewenangan yang dimiliki oleh para implementor.

Selama ini kebijakan publik hanya menitik beratkan pada studi tentang proses pembuatan kebijakan dan studi-studi tentang evaluasi, tapi mengabaikan permasalahan-permasalahan pengimplementasian. Dua perspektif awal dalam studi implementasi didasarkan pada pertanyaan sejauhmana implementasi terpisah dari formulasi kebijakan, yakni apakah suatu kebijakan dibuat oleh pusat dan diimplementasikan oleh daerah (bersifat Top-Down) atau kebijakan tersebut dibuat dengan melibatkan aspirasi dari bawah termasuk yang akan menjadi para pelaksananya (Bottom-Up). Padahal persoalan ini hanya merupakan bagian dari

permasalahan yang lebih luas, yakni bagaimana mengidentifikasikan gambaran-gambaran dari suatu proses yang sangat kompleks, dari berbagai ruang dan waktu, serta beragam aktor yang terlibat di dalamnya.

Dalam studi implementasi terdapat berbagai variabel yang

Dokumen terkait