• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

B. Saran

Seiring dengan kemajuan teknologi maka dunia hiburan akan turut berkembang. Karakter anak-anak yang suka bermain akan menjadikan anak sebagai korban dalam perkembangan sarana hiburan. Anak yang terlalu lama bermain game akan mempengaruhi kepedulannya terhadap sesama. Mereka tidak berhubungan langsung dengan sesamanya. Hal tersebut mengharuskan orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak- anaknya.

Televisi merupakan salah satu sarana untuk mencari hiburan dan memperoleh informasi yang up to date, namun sekaran ini banyak tayangan di TV yang tidak mendidik anak-anak. Diantaranya adalah acara gosip dan sinetron. Secara tidak langsung penonton diajari berbohong, memfitnah orang lain, menghardik orang tua, dan tayangannya jauh dari realita kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya.

d. Masuknya Budaya Barat

Pengaruh budaya barat yang bersifat immaterial dan cenderung berseberangan dengan budaya timur akan mengakibatkan norma-norma dan tata nilai kepedulian yang semakin berkurang. Masyarakat yang kehilangan rasa kepedulian akan menjadi tidak peka terhadap lingkungan sosialnya, dan akhirnya dapat menghasilkan sistem sosial yang apatis.

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas kepedulian anak terhadap pendidikan merupakan salah satu wujud empati anak terhadap pendidikan dan hasrat anak untuk menyelesaikan pendidikan tersebut. Faktor yang mempengaruhi turunnya tingkat kepedulian anak terhadap pendidikan yakni karena adanya

pengaruh dari budaya barat, tontonan televisi, internet dan sarana hiburan.

d. Peran Orang Tua pada Anak Usia Sekolah

Menurut Wahit Iqbal Mubarak (2006: 259) peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan orang lain terhadap seseorang sesuai dengan kedudukannya dalam sesuatu sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil, sementara untuk posisi tersebut merupakan identifikasi dari status tentang seseorang dalam suatu sistem sosial dan merupakan perwujudan aktualisasi diri.

Menurut Gracia Zhuo (2008: 71) peran orang tua adalah pertama kali tahu bagaimana perkembangan dan perubahan pada karakter dan kepribadian anak. Orang tua harus selalu realistis dalam memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan anak.

Menurut Melinda J. Vitale (2007: 39) peran orang tua sangat dibutuhkan dalam perkembangan psikologi anak. Orang tua merupakan motivasi dan membantu dalam kecemasan dan mencari tahu apa yang mesti dilakukan untuk terus mengembangkan identitas dan kemandirian anak, sehingga diharapkan orang tua dapat memberikan perhatian dan kasih sayang sepenuhnya pada anak. Kedekatan anak dengan orang tua memiliki makna dan peran yang sangat dalam disetiap aspek kehidupan keluarga.

Berdasarkan beberapa penjelasan dan pendapat para ahli tentang peran orang tua pada anak usia sekolah adalah orang tua merupakan sosok yang sangat dibutuhkan oleh anak, karena peran orang tua dapat memberikan perhatian dan kasih sayang. Tanpa adanya peran dari orang tua anak sulit untuk berkembang, terlebih lagi dalam mencapai tingkat kemandirian.

4. Kelompok Belajar a. Pengertian Belajar

Pemahaman terhadap makna belajar memiliki arti penting, karena perencanaan pembelajaran yang didasarkan pada konsep belajar yang tepat dapat mendukung efektivitas proses belajar. Secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

W.S Winkel dalam Zainal Arifin Ahmad (2012: 6) merumuskan pengertian belajar sebagai suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interkasi aktif dalam lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dal pengetahuan dan pemahaman, keterampilan dan nilai sikap.

Menurut Skinner dalam Trianto (2010: 17) belajar adalah suatu perilaku pada saat orang belajar, maka responnya akan menurun. Perubahan tersebut akan nyata dalam sebuah aspek tingkah laku. Belajar merupakan suatu perubahan yang relative

permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari praktek atau pelatihan. Belajar adalah proses yang aktif suatu fungsi dari keseluruhan lingkungan disekitarnya.

Morris L. Bigge dalam Zainal Arifin Ahmad (2012: 16) menjelaskan bahwa belajar merupakan perubahan terus-menerus dalam kehidupan individu yang tidak didapatkan dari keturunan atau tidak terjadi secara genetik. Perubahan yang terjadi pada setiap individu meliputi perubahan pemahaman, tingkah laku, persepsi, dan motivasi. Belajar senantiasa merujuk pada perubahan sistematis dalam tingkah laku yang terjadi sebagai konsekuensi dari pengalaman dalan situasi-situasi tertentu.

Setiap belajar selalu memiliki sebuah teori sebagai alat untuk mengukur perubahan. Teori yang menjelaskan bagaimana proses terjadinya perubahan tingkah laku pada peserta didik disbut teori belajar. Teori belajar selalu menjelaskan kejadian yang sebenarnya dalam konteks perubahan tingkah laku pesesrta didik.

Menurut Zainal Arifin Ahmad (2012: 18-20) menyatakan bahwa perkembangan teori belajar dibagi menjadi tiga macam yaitu teori belajar behavioristik, teori belajar humanistik dan teori belajar kognitif.

Pada teori belajar pendidik harus memahami bahwa peserta didik tidak hanya orang dewasa yang mudah dalam proses

berfikir. Pendidik juga harus lebih memahami peserta didik pada anak pra sekolah dan anak yang sedang bersekolah. Teori belajar seharusnya dipraktekkan secara murni oleh pendidik kepada peserta didik, agar stimulus yang mereka miliki dapat berjalan sesuai dengan proses belajar.

Dari berbagai definisi belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa pada intinya belajar mengandung hal-hal yang pokok. Hal pokok yang terdapat pada belajar adalah belajar merupakan proses usaha yang memerlukan waktu tertentu, terdapat perubahan tingkah laku peserta didik selama proses belajar, perubahan belajar terjadi melalui pengalaman dan latihan, tingkah laku belajar menjadi sesuatu yang relatif mantap dan belajar terjadi karena adanya interaksi dengan lingkungannya.

b. Pengertian Kelompok Belajar

Menurut Tohirin (2007: 291) kelompok belajar merupakan suatu cara dimana peserta didik memperoleh kesempatan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. Kelompok belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan orang lain yang beranggotakan beberapa orang (5-6 orang), yang ditujukan sebagai sarana untuk bertukar pengalaman dan pendapat.

Menurut Uzer Usman (2008: 94) kelompok belajar merupakan kelompok belajar merupakan suatu proses

pembelajaran yang melibatkan beberapa orang dalam interksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, dalam pengambilan kesimpulan atau pemecahan masalah pada proses pembelajaran.

Menurut Aunur Raman (2011) menemukan beberapa ciri umum kegiatan kelompok belajar :

1) Kelompok belajar merupakan suatu aktivitas belajar pada diri seseorang mamupun banyak orang yang disadari atau disengaja.

2) Kelompok belajar merupakan interaksi individu dengan orang lain, teman sebaya dan lingkungan. 3) Hasil belajar yang diperoleh dari kegiatan kelompok

belajar berupa tingkah laku.

Berdasarkan penjelasan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kelompok belajar merupakan kegiatan yang dilakukan lebih dari satu orang yang berguna untuk sebagai alat bertukar pengalaman. Kelompok belajar memberikan perubahan yang positif pada tingkah laku anak.

c. Manfaat Kelompok Belajar

Menurut Sadker dalam Miftahul (2011: 66) menjabarkan beberapa manfaat anak usia sekolah mengikuti kelompok belajar yaitu:

1) Anak lebih memperoleh hasil pembelajaran yang lebih tinggi.

2) Anak yang mengikuti kelompok belajar lebih memiliki sikap harga diri yang lebih tinggi dan motivasi yang lebih besar untuk belajar.

3) Anak lebih peduli dengan teman-temannya, dan diantara mereka akan terbangun rasa ketergantungan yang positif dalam proses belajar mereka nanti. 4) Anak lebih dapat menerima teman dengan baik

walaupun dari etnis, ekonomi dan asal usul yang berbeda.

d. Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran pada Kelompok Belajar

Seperti belajar dan pembelajaran pada umumnya, pembelajaran pada kelompok belajar memiliki kelemahan dan kelebihan. Adapun kelebihan dari mengikuti kelompok belajar adalah:

1) Pembelajaran pada kelompok belajar tidak membosankan karena setiap peserta didik harus memiliki keaktifan dalam menciptakan kekreatifan yang mereka miliki

2) Pengetahuan dapt diperoleh dari diskusi dari satu anak dengan anak lainnya. Setiap anak dapat

bertukar pikiran sesuai dengan pengalaman mereka masing-masing, sehingga anak lebih mudah memahami apa yang mereka pelajari dari kelompok belajar.

3) Menciptakan rasa sosial yang tinggi dan memiliki pengaruh yang besar pada lingkungan tempat tinggal anak.

4) Meningkatkan kemampuan untuk berkooperatif. Selain kelebihan program kelompok belajar juga memiliki kelemahan yaitu:

1) Pada saat pembelajaran pada kelompok belajar situasi ruangan kurang kondusif karena anak mengeluarkan suara.

2) Pada anak yang kurang memiliki kekreatifan,anak akan kurang mampu bergaul dengan teman lainnya. 3) Mengatur waktu pembelajaran karena usia dan

kemampuan anak yang berbeda-beda. B. Penelitian yang Relevan

1. Hasil penelitian yang dilaksakan oleh Elvi Hidayati pada tahun 2010 mengenai Hubungan Aktifitas Kelompok Belajar dengan Prestasi Belajar Anak di Kabupaten Jember. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa : 1) dengan adanya kelompok belajar peserta didik di Kabupaten Jember anak lebih memiliki rasa tanggung jawab

yang besar dan lebih pandai dalam berinteraksi dengan anak lainnya. 2) Dengan adanya kelompok belajar tingkat kreatifitas dan keterlibatan anak dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga adanya peningkatan dalam prestasi belajar anak. 3) Faktor pendukung dengan adanya kelompok belajar tersebut tingkat kualitas anak semakin bertambah dan mendapatkan dukungan dari orang tua untuk memenuhi kebutuhan anaknya di sekolah; sedangkan faktor penghambat adalah kurangnya sarana belajar mengajar, kurang aktifnya pembelajaran peserta didik, dan sebagian kecil orang tua beranggapan kurang pentingnya mengikuti program kelompok belajar.

Penelitian yang relevan di atas, berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu mengenai partisipasi program kelompokbelajar guna mengatasi ketidak pedulian anak usia sekolah. Di sini terdapat kesamaan subjek sebagai dasar penelitian yaitu mengenai partisipasi pendidikan nonformal dengan membentuk kelompok belajar sore hari. Adapun perbedaan antara penelitian yang relevan di atas dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu terdapat pada objek lembaga yang berbeda.

2. Penelitian yang dilaksanakan oleh Kartika Wandini pada tahun 2008 mengenai pengaruh Pola Asuh Belajar, Lingkungan Pembelajaran, Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Akademik Anak Usia Sekolah di Kota Bogor. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa: 1) Anak-anak usia sekolah membutuhkan fasilitas pendidikan yang mencukupi,

kekurangan fasilitas belajar dapat mengakibatkan anak kurang dapat mengaktualisasi kemampuan dasar dalam belajar. 2) Orang tua berfungsi sebagai dorongan mengarahkan tujuan belajar anak sehingga anak mampu menciptakan tingkat percaya diri, rasa tanggung jawab dan terbentuk motivasi belajar yang tinggi. 3) Keadaan lingkungan berfungsi sebagai penentu atau pendorong yang mampu membantu anak usia sekolah dalam penentuan keberhasilan belajar mereka.

Penelitian yang relevan di atas, berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan. Persamaan objek penelitian terdapat pada anak usia sekolah. Terdapat perbedaan antara penelitian diatas dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu pada subjek yang diteliti. Pada penelitian di atas, subjek yang diteliti adalah pola asuh, lingkungan belajar dan motivasi pada anak. Sedangkan subjek dari penelitian yang akan dilakukan adalah partisipasi program nonformal pada Kelompok Belajar yang sudah berada diluar pengamatan namun masih berada dilingkup wilayah cakupan anak usia sekolah.

C. Kerangka Berfikir

Anak-anak usia sekolah merupakan sebagian kecil aset bangsa yang tidak ternilai harganya, karena kemajuan sebuah bangsa sangat tergantung kepad kemampuan kaum mudanya untuk membuat perubahan- perubahan yang signifikan. Untuk menghasilkan anak-anak bangsa yang memiliki kuantitas dan kualitas yang tinggi anak-anak harus menyelesaikan sekolahnya sesuai dengan harapan dan nantinya akan

memiliki kabalitas, visi, dan kinerja yang memuaskan. Tetapi seiring berjalannya waktu dan kemajuan zaman. Sekarang ini banyak anak usia sekolah tidak melanjutkan sekolahnya dan putus di tengah jalan. Salah satu sumber dari permasalahan tersebut adalah hasil penambangan timah yang sangat menggiurkan siapapun yang menambangnya. Maka dari itu anak-anak di desa Jalanlaut lebih memilih bekerja dibandingkan bersekolah.

Kelompok belajar merupakan program yang turut serta bersam- sama orang tua dan masyarakat untuk mengatasi permasalahan kesejahteraan sosial, khususnya anak-anak usia sekolah. Dalam mengatasi ketidak pedulian anak terhadap pendidikan kelompok belajar berperan sebagai pembina, pengarah, pengajar, pengembang, motivator dalam keberadaan dan pelaksanaan pembelajaran.

Kelompok Belajar sore hari di desa Jalanlaut merupakan salah satu kelompok belajar yang tetap eksis dalam memberi pembelajaran kepada anak-anak yang kurang memperdulikan pendidikan selama lebih dari 5 tahun. Pada Kelompok Belajar sore hari partisipasi masyarakat dan orang tua memiliki manfaat yang sangat besar terhadap anak-anak untuk selalu mengikuti kelompok belajar sore hari di desa Jalanlaut.

Berdasarkan kerangka berfikir di atas, fokus penelitian ini adalah menggali informasi tentang partisipasi program kelompokbelajar pada anak-anak yang tidak memperdulikan pendidikan serta faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat dari partisipasi kelompok belajar

tersebut. Hal ini bertujuan agar hasil penelitian yang dilakukan dapat menjadi acuan orang tua dan masyarakat bahwa kelompok belajar memiliki peran yang besar dan positif bagi kelangsungan pembelajaran ini.

Kerangka Berfikir

Gambar 1. Kerangka Pikir

D. Pertanyaan Penelitian

Dalam upaya memperoleh data yang akurat, maka peneliti merumuskan beberapa pertanyaan penelitian sebagai acuan dalam proses penelitiannya sebagai berikut:

1. Apa saja program pembelajaran yang diberikan kelompok belajar pada anak-anak usia sekolah yang tidak memperdulikan pendidikan?

Kelompok Belajar Anak-anak usia sekolah di desa Jalanlaut Program Pembelajaran Kelompok Belajar Anak-anak usia sekolah tetap memperdulikan pendidikan Partisipasi kelompok

belajar terhadap anak usia sekolah, faktor pendukung

2. Bagaimana bentuk partisipasi kelompok belajar sore hari yang diberikan pada anak yang tidak memperdulikan pendidikan?

3. Apa saja manfaat yang diperoleh dari partisipasi kelompok belajar pada anak usia sekolah di desa Jalanlaut?

4. Apa saja faktor pendukung dari partisipasi kelompok belajar guna mengatasi ketidak pedulian anak terhadap pendidikan?

5. Apa saja faktor penghambat dari partisipasi kelompok belajar guna mengatasi ketidak pedulian anak terhadap pendidikan?

BAB III

METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian dapat didefinisikan sebagai upaya mencari jawaban yang benar atas suatu masalah berdasarkan logika dan didukung oleh data-data empirik. Dapat pula dikatakan bahwa penelitian adalah kegiatan yang dilakukan secara sistematis melalui proses pengumpulan data, pengolahan data, serta menarik kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh menggunakan metode dan teknik tertentu (Departemen Pendidikan Nasional, 2008: 5).

Dalam melakukan penelitian banyak pendekatan penelitian yang dapat digunakan untuk membantu untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan metode study kasus (case study), yaitu sebuah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Study kasus didefinisikan sebagai metode untuk memahami individu yang dilakukan secara integrative dan komprehensif agar diperoleh pemahaman yang mendalam tentang individu tersebut beserta masalah yang dihadapinya dengan tujuan masalahnya dapat terselesaikan dan memperoleh perkembangan diri yang baik. (Susilo Rahardjo dan Gudnanto, 2011: 250)

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain. Secara

holistik dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. (Lexy J. Moleong, 2011: 6)

Menurut Sugiyono (2010: 15), metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambil sample sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan) analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.

Penelitian kualitatif adalah penelitian untuk menjawab permasalahan yang memerlukan pemahaman secara mendalam dalam konteks waktu dan situasi yang bersangkutan, dilakukan secara wajar dan alami sesuai dengan kondisi objektif dilapangan tanpa ada manipulasi, serta jenis data yang dikumpulkan terutama data kualitatif. Proses penelitian yang dimaksud antara lain melakukan pengamatan terhadap orang dalam kehidupannya sehari-hari, berinteraksi dengan mereka, dan berupaya memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya. Untuk itu peneliti harus terjun kelapangan dengan waktu yang cukup lama (Zainal Arifin, 2012: 29).

Tujuan utama penelitian kualitatif adalah untuk menggambarkan (to describe), memahami (to understand), dan menjelaskan (to explain)

tentang suatu fenomena yang unik secara mendalam dan lengkap dengan prosedur dan teknik yang khusus sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif sehingga menghasilkan sebuah teori yang grounded yaitu teori yang dibangun berdasarkan data, yang diperoleh selama penelitian berlangsung.

Menurut Bogdan dan Biklen dalam Sugiyono (2010: 9-10) mengajukan beberapa ciri-ciri yang membedakan penelitian kualitatif dengan penelitian lainnya, yaitu :

1. Latar Alamiah, dilakukan pada kondisi yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen), langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrumen kunci.

2. Penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif. Data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menemukan pada angka.

3. Penelitian lebih menekankan pada proses dari pada produk atau out come.

4. Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif.

5. Penelitian kualitatif lebih menekankan makna (data dibalik yang teramati).

Sedangkan jenis penelitian yang menggunakan metode deskriptif adalah penelitian yang dilakukan dengan memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau fenomena. (Bambang Prasetyo dan L. Miftahul Jannah, 2005: 42)

Alasan dipilihnya pendekatan ini adalah karena penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau fenomena yang terjadi, dan berusaha memaparkan data sebagaimana adanya tentang Partisipasi Program KelompokBelajar pada Anak Usia Sekolah guna Mengatasi Ketidak Pedulian Anak terhadap Pendidikan di Desa Jalanlaut Kabupaten Bangka. Pendekatan ini juga berdasarkan pendekatan bahwa data yang dicari sebagian besar adalah data yang menggambarkan peran pendidikan nonformal dalam mendorong anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan yang semestinya dalam program kelompok belajar sore hari diungkap dalam bentuk kata-kata atau kalimat dengan analisis data non- statistik atau analisis dengan prinsip logika.

B. Subyek Penelitian

Subyek penelitian merupakan orang-orang yang ditunjuk sebagai sumber informasi yang dapat memberikan informasi yang sebenarnya mengenai latar belakang dan keadaan yang sebenarnya dari obyek yang akan diteliti sehingga data-data yang dihasilkan sesuai dengan kenyataan dan lebih akurat. Subyek penelitian yang dipilih pada penelitian ini terdiri dari orang-orang yang terlibat langsung dan benar-benar mengetahui tentang Partisipasi Program KelompokBelajar pada Anak Usia Sekolah di Desa Jalanlaut yakni tiga orang pengurus kelompok belajar yang mencakup sebagai pendidik, tiga orang peserta didik yang aktif mengikuti pembelajaran, dan tiga orang tua peserta didik yang bermata pencaharian

sebagai penambang timah yang kurang memperdulikan pendidikan anak mereka.

C. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan disebuah program pendidikan nonformal yaitu kelompok belajar sore hari yang didirikan khusus untuk untuk anak usia sekolah yang meninggalkan pendidikan mereka dan lebih mementingkan menambang timah yang menghasilkan uang. Kelompok belajar sore hari ini terletak di Desa Jalanlaut No. 3 dan berada 3 Km dari pusat kota Sungailiat. Alasan dipilihnya Kelompok Belajar Sore Hari ini adalah karena sudah hampir 3 tahun kelompok belajar sore hari ini dibentuk dan telah eksis sampai saat ini dalam mengatasi ketidak pedulian anak pada pendidikan karena pengaruh tambang timah tradisional yang semakin marak membuat anak-anak untuk berhenti bersekolah di desa Jalanlaut. Dan selama itulah peran pendidik, orang tua dan tokoh masyarakat di desa Jalanlaut sangat dibutuhkan demi perkembangan kelompok belajar sore hari sehingga memperkecil angka putus sekolah. D. Sumber dan Jenis Data

1. Jenis Data

Jenis data dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu jenis data primer dan jenis data sekunder. Jenis data primer adalah jenis data tentang gambaran stress dan strategi coping yang dialami oleh subyek. Meliputi beberapa gejala yang dialami oleh subyek dan perilaku yang ditampilkan oleh subyek. Data sekunder adalah data yang memuat

identitas subyek dan beberapa dokumen penting lainnya tentang proses pencalonan subyek menjadi calon legislatif yang menjadi data penunjang atau data pelengkap.

2. Sumber Data

Sumber untuk memperoleh data yang diperlukan adalah segala perilaku dan kata-kata subyek. Untuk keabsahan data peneliti menggunakan telaah triangulasi sumber, yaitu penggunaan sumber yang berbeda untuk mengumpulkan data sejenis. Sumber data yang dimaksud adalah signifikant other yaitu istri subyek dan sahabat subyek beberapa sumber data. Sumber data bisa berbentuk kata-kata, perilaku dan sumber tertulis seperti data arsip tentang identitas subyek.

E. Definisi Konsep

Anak putus sekolah adalah berhentinya peserta didik secara terpaksa dari suatu lembaga pendidikan tempat dia belajar. Artinya adalah terlantarnya anak dari sebuah lembaga pendidikan formal, yang disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya kondisi lingkungan tempat tinggal yang kurang memadai. (Musfiqon: 2007: 19)

Anak putus sekolah disini disebabkan karena kurangnya keperdulian anak terhadap pendidikan. Adapun indikator yang menyebabkan tidak pedulinya anak terhadap pendidikan diantaranya :

1. Lingkungan yang kurang baik terhadap perkembangan pendidikan anak, sehingga minat anak untuk bersekolah kurang mendapat perhatian sebagaimana mestinya.

2. Anak kurang mendapatkan perhatian dari orang tua terutama tentang pendidikannya, juga karena kurangnya orang-orang terpelajar sehingga yang mempengaruhi anak kebanyakan adalah orang yang tidak bersekolah.

3. Anak seusia sekolah sudah mengenal bahkan sudah mampu mencari uang terutama untuk keperluannya sendiri.

Dokumen terkait