• Tidak ada hasil yang ditemukan

OUTPUT DATA HASIL PENELITIAN KELOMPOK UMUR * TAHUN DIAGNOSA Crosstabulation

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian IMS

2.3 Cara penularan Infeksi Menular Seksual

 

2.2.3 Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dan pil KB hanya bermanfaat bagi pencegahan kehamilannya saja, berbeda dengan kondom yang juga dapat digunakan sebagai alat pencegahan terhadap penularan IMS

2.2.4 Faktor sosial

a) Mobilitas penduduk b) Prostitusi

c) Kebebasan individu d) Ketidaktahuan

Penyebaran penyakit IMS tidak lepas juga kaitannya dengan perilaku resiko tinggi. Yang dimaksud dengan perilaku resiko tinggi ialah perilaku yang menyebabkan seseorang mempunyai resiko besar terserang penyakit. Yang tergolong kelompok resiko tinggi IMS adalah :

1. Usia

a) 20-34 tahun pada laki-laki b) 16-24 tahun pada wanita

c) 20-24 tahun pada kedua jenis kelamin 2. Pelancong

3. Pekerja seksual komersial atau wanita tuna susila 4. Pecandu narkotik

5. Homoseksual (Hakim, 2007)

2.3 Cara penularan Infeksi Menular Seksual

2.3.1 Hubungan seks yang tidak aman. Yang dimaksudkan tidak aman adalah: a. Hubungan seks lewat vagina tanpa kondom

b. Hubungan seks lewat anus tanpa kondom c. Seks oral

2.3.2 Lewat darah, misalnya transfusi darah, saling bertukar jarum suntik atau benda tajam lainnya, pada pemakaian obat bius, menindik kuping atau tato. 2.3.3 Ibu hamil ke janin: yaitu bisa saat hamil, saat melahirkan, atau sesudah

   

2. 4 Jenis- jenis Infeksi Menular Seksual 2.4.1 Kondiloma akuminata

a) Defenisi

Kondiloma akuminata atau kutil kelamin merupakan diagnosis yang paling banyak pada pasien-pasien yang datang ke klinik penyakit menular seksual. Agen infeksius yang menyebabkan kelainan ini adalah Human papiloma virus (HPV)

(Heffner dan Schust , 2006).

b) Etiologi

HPV merupakan anggota dari famili Papovaviridae yang merupakan virus DNA sirkular rantai ganda. Dari 70 genotiop HPV berbeda yang telah diidentifikasi, hanya tipe 6, 11, 16, 18, 31, 33 dan 35 yang berhubungan dengan lesi genital. Tipe 6 dan 11 paling sering teridentifikasi menjadi kutil kelamin dan tipe 16 dan 18 ditemukan neoplasia (Heffner dan Schust, 2006).

c) Gejala Klinis

Kondiloma akuminata merupakan papul berwarna merah daging, merah muda atau berpigmen dengan permukaan menyerupai daun pakis. Kutil sesil , atau lesi yang menyerupai kondiloma datar, lebih jarang ditemukan mencakup hanya 20% dari kutil kelamin yang dapat terlihat. Mayoritas kutil kelamin terdapat pada penis. Pada wanita, kutil kelamin ditemukan lebih sering pada introus vagina dan labia, jarang mengenai vagina dan serviks. Sebagian besar kutil bersifat asimtomatik, Jika terdapat gejala, biasanya akibat gesekan local oleh pakaian atau hubungan intim yang menyebabkan iritasi (Klausner dan Hook , 2006).

d) Diagnosis

Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan gejala klinis. Pada lesi yang meragukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang dengan , tes asam asetat 5%, kolposkopi, dan pemeriksaan histopatologi. Pada tes asam asetat, dalam beberapa

   

menit setelah dibubuhkan asam asetat 5% akan didapati perubahan warna lesi menjadi putih (acetowhite) (Zubier, 2007).

2.4.2 Herpes Genitalis a) Defenisi

Herpes genitalis adalah infeksi pada genital yang disebabkan oleh Herpes Simplex Virus (HSV) dengan gejala khas berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat rekurens ( Junadarso, 2007). Penyakit ini mencakup 2-4% dari kunjungan ke klinik PMS di Inggris dan AS. Penyakit ini juga dilaporkan banyak terjadi pada ras kaukasia dibandingkan non-kaukasia. Prevalensi antibody anti-HSV yang lebih tinggi terdapat pada kelompok usia koitus pertama kali lebih dini dan memiliki pasangan seksual yang banyak (Heffner dan Schust, 2008).

b) Etiologi

Terdapat dua serologis yang berbeda pada HSV : HSV-1 dan HSV-2. Infeksi HSV-1 menular melalui infeksi primer pada saluran pernafasan. HSV-2 mempunyai prediksi untuk penyakit kelamin walaupun terdapat pula HSV-1 pada genitalia dan infeksi HSV-2 pada rongga mulut. HSV-2 lebih sering menjadi infeksi laten pada ganglion sakralis dan menyebabkan penyakit pada neonatus dibandingkan HSV-1.

c) Gejala Klinis

Masa inkubasi untuk kedua jenis virus adalah sekitar 2 sampai 24 hari setelah infeksi. Periode prodromal sering timbul lesi. Selama perode prodromal dan saat lesi terbuka, virus bersifat menular dan mungkin berkisar selama 2 sampai 6 minggu. Setelah infeksi awal, virus mungkin berada pada periode tenang (dorman) di jaras sensorik yang yang mempersarafi lesi primer. Virus dorman dapat menjadi aktif kembali setiap saat, menyebabkan timbulnya lesi, reaktivasi suatu infeksi herpes laten dapat terjadi sewaktu pasien sakit, mengalami stress,

   

Gejala – gejala selama periode prodromal dapat berupa demam ringan, malese, rasa terbakar di mulut atau genitalia. Sewaktu aktif, muncul kelompok-kelompok vesikel nyeri di bibir, wajah, kulit, hidung, mukosa mulut, dan genitalia (Corwin, 2009).

d) Diagnosis

Diagnosis secara klinis ditegakkan dengan adanya gejala khas berupa vesikel berkelompok dengan dasar eritem dan bersifat rekuren dan bila memungkinkan ditunjang dengan pemeriksaan laboratorium Virus herpes ini dapat ditemukan pada vesikel dan dapat dibiak. Pada keadaan tidak ada lesi, dapat diperiksa antibodi HSV. Pada percobaan Tzanck dengan pewarnaan Giemsa dapat ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear (Handoko, 2008)

2.4.3 Trikomoniasis a) Defenisi

Trikomoniasis adalah IMS yang disebabkan oleh infeksi protozoa, yaitu

Trichomonas vaginalis. Trikomoniasis biasanya diderita bersamaan dengan PMS lain, terutama gonore, dan biasanya menunjukkan bahwa seseorang tersebut mempunyai seksual berisiko tinggi (Matini, et al., 2012).

b) Etiologi

Trichomonas vaginalis merupakan parasit protozoa flagelata yang termasuk dalam filum Sarcomastigophora, sub-phylum Mastigophora, kelas Zoomastigophora, ordo Trichomononadida. Trichomonas vaginalis tidak mempunyai stadium kista. Mempunyai stadium tropozoid yang berukuran 10-25 mikron x 7-8 mikron, mempunyai 4 flagel anterior dan satu flagel posterior yang melekat pada tepi membran bergelombang. Pada perempuan tempat hidup parasit ini adalah di vagina adan uretra, sedangkan pada laki-laki di uretra, vesika seminalis dan prostat. Infeksi terutama terjadi secara langsung waktu hubungan

   

misalnya banyak orang hidup bersama dalam satu rumah dapat terjadi infeksi secara tidak langsung melalui alat sanitasi seperti toilet seat. Neonates mendapatkan infeksi T.vaginalis dari ibu yang terinfeksi selama persalinan melalui jalan lahir (Sutanto,et al., 2008).

a) Gejala Klinis

Pada wanita, yang diserang terutama dinding vagina, dapat bersifat akut maupun kronik. pada kasus akut terlihat sekret vagina seropurulen berwarna kekuning-kuningan, kuning-hijau, berbau tidak enak (malodorus), dan berbusa. Dinding vagina tampak kemerahan dan sembab. Kadang-kadang terbentuk abses kecil pada dinding vagina dan serviks yang tampak sebagai granulasi berwarna merah dan dikenal sebagai strawberry appearance dan dikenal disertai gejala dispareunia, perdarahan pascakoitus, perdarahan intramenstrual. Bila banyak sektret yang keluar dapat timbul iritasi pada lipat paha atau disekitar genitalia eksterna, selain vaginitias dapat pula terjadi uretritius, bartholinitis, skenitis, dan sistitis yang pada umumnya tanpa gejala. pada kasus yang kronik gejala lebih ringan dan secret biasanya tidak berbusa.

Pada laki-laki yang diserang terutama uretra, kelenjar prostat, kadang-kadang preputium, vesikula seminalis,dan epididimis. Pada umumnya gambaran klinis lebih ringan dibandingkan dengan wanita. Bentuk akut gejalanya mirip uretritis nongonore, misalnya disuria, poliuria, dan secret uretra mukoid atau mukopurulen. Urin biasanya jernih, tetapi kadang-kadang ada benang-benang halus. Pada bentuk kronik gejalanya tidak khas, gatal pada uretra, disuria, dan keluhan urin keruh pada pagi hari (Daili, 2008).

d) Diagnosis

Diagnosis berdasarkan keluhan keputiuhan atau fluor albus, rasa panas pada genital pada vulva/vagina dan adanya secret encer, berbusa, bau tidak sedap, adanya lesi bekas garukan karena gatal dan hiperemi pada vagina. Diagnosis pasti ditegakkan dengan menemukan parasit T.vaginalis dalam bahan sekret vagina,

   

sekret uretra, sekret prostat dan urin. Metode biakan air daging merupak standar baju untuk mendiagnosis trikomoniasis karena mudah dan memerlukan sedikitnya 300-500 trikomonas/ml untuk mulai pertumbuhan dalam biakan, namun diperlukan waktu biakan 2-7 hari. Selain itu ada juga metode sampul plastic (in pouch system) yaitu pemeriksaan langsung dari biakan dan ada juga pemeriksaan PCR menggunakan sekret vagina dan urin. Sensitivitas PCR menggunakan sekret vagina lebih tinggi dibandingkan dengan urin (Sutanto, et al., 2008).

2.4.4. Infeksi Genital Non Spesifik a) Defenisi

Infeksi Genital Non Spesifik (IGNS) adalah IMS yang berupa peradangan di uretra, rectum, atau serviks yang disebabkan oleh kuman non spesifik, Sedangkan uretritis non spesifik (UNS) merupakan peradangan yang disebabkan oleh kuman non spesifik. Diduga penyebab IGNS/UNS antara lain : Chlamdya Trachomatis, Ureaplasma urealyticum dan Mycoplasma hominis, alergi dan bakteri. Insidensi IGNS di beberapa Negara menunjukkan insidensi yang cukup tinggi dan angka perbandingannya dengan UNS kira-kira 2:1. Banyak ditemukan pada orang dengan keadaan social ekonomi yang lebih tinggi, usia lebih tua, dan aktivitas seksual yang tinggi.

b) Etiologi

Chlamdya Trachomatis merupakan parasit obligat intraseluler sehingga untuk pertumbuhannya membutuhkan sel hidup. Memiliki badan elementer dan badan reticular dengan menggunakan pengecatan giemsa. (Lumintang, 2007).

Ureaplasma urealyticum merupakan mikroorganisme paling kecil, gram negatif, dan sangat pleomorfik karena tidak mempunyai dinding sel yang kaku (Daili, 2008).

c) Gejala Klinis

   

bisa juga berupa bercak di celana dalam. Adanya keluhan disuria, namun tidak sehebat nyeri pada infeksi gonore. Pada pemeriksaan klinis, bisa didapati muara uretra tampak tanda peradangan berupa edema dan eritema, dapat ringan sampai berat. Pada wanita, gejala sering asimtomatis. Bila ada, keluhan berupa duh genital yang kekuningan. Pada pemeriksaan klinis genital dapat ditemuakn kelainan serviks, misalnya terdapat eksudat serviks mukopurulen, erosi serviks, atau folikel-folikel kecil (Lumintang, 2007).

d) Diagnosis

Dengan memperhatikan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium berupa permeriksaan apusan sekret uretra atau serviks. Pada pemeriksaan sekret uretra dengan pewarnaan gram dengan pewarnaan Gram ditemukan leukosit >5 pada pemeriksaan mikroskop dengan pembesaran 1000 kali. Pada pemeriksaan mikroskopik sekret serviks dengan pewarnaan gram didapatkan >30 leukosit per lapangan pandang dengan pembesaran 1000 kali. Tidak dijumpai diplokokus gram negative, serta pada pemeriksaan sediaan basah tidak dijumpai adanya parasit Trichomonas vaginalis (Lumintang, 2007).

2.4.5 Gonore a) Defenisi

Gonore dalam arti luas mencakup semua penyakit yang disebabkan oleh

Neisseria Gonorrhoea (Daili, 2008). Gonore merupakan penyakit yang sebagian besar merupakan penyakit pada orang mud. Insidensi memuncak pada pria dan wanita saat berusia 18-24 tahun. Selain usia, faktor resiko lain seperti keadaan sosio ekonomi yang rendah, lingkungan urban, ras non kulit putih, pria homoseksual dan prostitusi (Heffner dan Schust, 2008).

b) Etiologi

Neisseria gonorrhoeae termaksuk golongan diplikok berbentuk biji kopi berukuran lebar 0,8µ dan panjang 18µ, bersifat tahan asam. Pada sediaan langsung dengan pewarnaan gram bersifat Gram Negatif, terlihat di luar dan di

   

dalam le ukosit, tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati daam keadaan kering, tidak tahan diatas suhu 39oC, dan tidak tahan zat desinfektan. Pada umumnya gonore ditularkan melalui hubungan kelamin, yaitu secara genito-genital, oro-genital dan ano-genital. (Daili, 2008)

c) Gejala Klinis

Masa tunas sangat singkat, pada pria umumnya berkisar antara 2-5 hari. Infeksi Neisseria gonorrhoeae pada laki-laki bersifat akut yang didahului rasa panas di bagian distal uretra, diikuti rasa nyeri pada penis, keluhan berkemih seperti disuria dan polakisuria. terdapat duh tubuh yang bersifat purulen atau sero-purulen. kadang –kadang terdapat juga ektropion. Pada beberapa keadaan duh tubuh baru keluar setelah pemijatan atau pengurutan duh tubuh korpus penis ke arah distal, tetapi pada kedaan penyakit yang lebih berat nanah tersebut menetes sendiri keluar.

Pada wanita, masa tunas sulit ditentukan karena pada umumnya asimtomatis. Gejala utama meliputi duh tubuh vagina yang berasal dari endoservitis di mana bersifat purulen, tipis dan agak berbau. Beberapa pasien dengan servitis gonore kadang mempunyai gejala yang minimal. disuria atau keluar sedikit duh tubuh dari uretra yang mungkin disebabkan oleh uretritis yang menyertai servitis. Dispareunia dan nyeri perut bagian bawah. Jika servitis gonore tidak diketahui atau asimtomatis, maka dapat berkembang menjadi PID (Pelvic Inflammatory Disease). Nyeri ini merupakan akibat dari menjalarnya infeksi ke endometrium, tuba fallopi, ovarium dan peritoneum (Murtiastutik, 2008).

d) Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan pemeriksan penunjang berupa sediaan langsung dan kultur (Dailli,2008). Pus dan sekret diambil dari uretra, serviks, rektum, konjungtiva, tenggorokan atau cairan synovial untuk dikultur dan dibuat sediaan apus. Dengan perwarnaan gram, pada sediaan apus eksudat uretra atau endoserviks menunjukkan adanya diplokokus

   

seperti medium Thayer-Martin dimodifikasi. Pada pria, bila hasil pewarnaan postif, maka tindakan biakan tidak perlu dilakukan, tetapi pada wanita, meskipun hasil pewarnaannya positif, tetap perlu dilakukan kultur. Sediaan apus eksudat konjungtiva yang diwarnai dengan pewarnaan gram dapat juga bersifat diagnostik, tetapi sediaan apus spesimen dari tenggorokan atau rectum secara umum tidak membantu. (Brooks, et al., 2008). Untuk identifikasi kultur, ada dua macam media yang bisa digunakan yaitu media transpor (media stuart dan media transgrow) dan media pertumbuhan, seperti Mc Leod’s chocolate agar, Media Thayer Martin, dan Modified Thayer Martin Agar (Daili, 2008).

2.4.6 Sifilis a) Defenisi

Sifilis adalah IMS yang disebabkan oleh Treponema palidum. Sifilis memiliki banyak gejala klinis dan gejalanya menyerupai penyakit infeksi lain, oleh karena itu sering juga disebut “great impostor”. Angka kejadian sifilis masih ditemukan cukup tinggi, di Amerika pada tahun 2006-2007 angka kejadiannya mengalami peningkatan sebanyak 12%. Kelompok yang paling sering mengalami infeksi ini adalah laki-laki yang homoseksual (Euerle, 2012).

b) Etiologi

Treponema pallidum memilik bentuk spiralyang ramping dengan lebar kira-kira 0,2 µm dan panjang 5-15 µm. Basil gram negatif. Organisme ini aktif bergerak, berotasi dengan cepat di sekitar endoflagelnya. Mempunyai sifat pertumbuhan yang mikroaerofilik, baik hidup di lingkungan dengan kadar oksigen 1-4%. (Brooks, et al., 2008). Sifilis ditularkan melaui hubungan seksual, dari ibu ke fetusnya, transfusi darah dan juga dapat melalui kontak terhadap luka yang infeksius (Euerle, 2012).

   

c) Gejala Klinis 1. Sifilis Primer

Masa inkubasi adalah sekitar 1 minggu sampai 3 bulan setelah paparan. (Klausner dan Hook, 2007). Tanda klinis yang pertama muncul adalah tukak, dapat terjadi dimana saja di daerah genitalia eksterna. Lesi awal biasanya papul yang mengalami erosi, teraba keras karena terdapat undurasi. Permukaan dapat tertutup krusta dan terjadi ulserasi. Ukuran bervariasi 1-2 cm. Bagian yang mengelilingi lesi meninggi dan keras. Bila tidak disertai infeksi bakteri lain, maka akan berbentuk khas dan hampir tidak ada rasa nyeri.

Pada pria selalui disertai pembesaran kelenjar limfe inguinal medial unilateral / bilateral. Tukak jarang terlihat pada genitalia eksterna wanita karena lesi sering pada vagina dan serviks. Dengan menggunakan spekulum, akan terlihat lesi di serviks, berupa erosi atau ulserasi yang dalam. Lesi primer tidak selalu ditemukan pada genitalia eksterna, akan tetapi juga dapat di luar genitalia seperti bibir, lidah, tonsil, putting susu, jari dan anus. Tanpa diberi pengobatan, lesi primer akan sembuh spontan dalam waktu 4 sampai 6 minggu. Makin lama lesi terjadi, makin

banyak kemungkinan tes serologis menjadi reaktif. Bila lelah terjadi sekitar 4 minggu atau lebih, kemungkinan tes serologis sudah reaktif (Hutapea, 2007).

Dokumen terkait