• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

B. Saran

Ketentuan tentang kewajiban untuk membuat Akta Koperasi dengan akta notariil sebaiknya tidak menghambat pendirian koperasi khususnya ditempat-tempat yang masih belum ada Notaris. Untuk itu, penulis menyarankan agar diterbitkan ketentuan yang mengatur kewenangan pejabat tertentu di luar pegawai Dinas Koperasi yang dapat membuat Akta Koperasi melalui pelatihan dan pendidikan koperasi sampai dengan tingkat pengetahuan tentang perkoperasian yang memadai.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Afandi, A, Hukum Waris, Hukum Keluarga, Hukum Pembuktian, (Jakarta : Rineka Cipta, 2000),

Badrulzaman, Mariam Darus, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Buku III tentang Perikatan dengan Penjelasannya, (Bandung : Alumni, 1983).

Brugignk, J.J.H, Refleksi Tentang Hukum ;alih bahasa Arief Sidharta, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1999).

Catherine Marshall dan Gretchen B. Rossman, Designing Qualitative Research, London : Sage Pulicaions, 1994

Edilius dan Sudarsono, Manajemen Koperasi Indonesia, (Jakarta : Rineka Cipta, 1996).

Gunadi, Tom, Sistem Perekonomian Menurut Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, (Bandung : Angkasa, 1981).

Hadhikusuma, RT. Sutantya Rahardja, Hukum Koperasi Indonesia, Cetakan II, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001).

Hadhikusuma, RT. Sutantya Rahardja dan Sumantoro, Pengertian Hukum Perusahaan, Cetakan I, (Jakarta : Rajawali Pers, 1991).

Hadisapoetro Soedarsono, Pokok-Pokok Pikiran Pengembangan Koperasi di Indonesia, (Jakarta : CV Sapta Caraka, 1986).

Joseph Raz, The Concept of A Legal System, Oxford : Clarendon Press, 1998.

Kartasapoetra, G, R. G Kartasapoetra dan Ir. A. G Kartasapoetra, Praktek Pengelolaan Koperasi (Jakarta : Rineka Cipta, 1989)

Lubis, Solly, Filsafat Ilmu dan Penelitian, CV.Mandar Maju Bandung, 1994.

Moelong, Lexi, J, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2001).

Muhammad, Abdulkadir, Pengantar Hukum Perusahaan Indonesia, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1991).

, Hukum Koperasi, (Bandung : Alumni, 1987).

, Perjanjian Baku Dalam Praktek Perusahaan Perdagangan , Cetakan I, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1992)

.

Muis, Abdul, Hukum Persekutuan dan Perseroan, (Medan : Fakultas Hukum USU, 2006).

Mutis, Toby, Pengembangan Koperasi, Kumpulan karangan, (Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana, 1992).

M. Wuisman, J.J.J, Penelitian Ilmu-Ilmu sosial, Asas-Asas, (Penyunting : M. Hisyam), (Jakarta : FE UI, 1996)

Pachta, Anjar W, Myra Rosana Bachtiar dan Nadia Maulisa Benemay, Hukum Koperasi Indonesia; Pemahaman, Regulasi, Pendirian dan Modal Usaha, (Jakarta : BPHUI, 2005).

Pramono, Nindyo, Beberapa Aspek Koperasi Pada Umumnya dan Koperasi Indonesia Di Dalam Perkembangan, (Yogyakarta : TPK Gunung Mulia, 1986). Prodjodikoro, Wirjono, Hukum Perkumpulan, Perseroan dan Koperasi Indonesia,

(Jakarta : Dian Rakyat, 1985).

Sagimun M.D. dan Dimyet Myru, Indonesia Berkoperasi (Jakarta : Balai Pustaka, 1965)

Setiawan, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Cetakan IV, (Bandung : Bina Cipta, 1987). Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : UI, 1086).

Simandjuntak, Simandjuntak, Emi, Beberapa Aspek Hukum Dagang Di Indonesia Dalam Perkembangan (Bandung : Bina Cipta, 1979).

Sjahdeni, Kebebasan Berkontrak Dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank Di Indonesia (Jakarta : Institut Bankir Indonesia, 1993)

Sunggono, Bambang, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2005.

Sularso dan E. D. Damanik, Terjemahan Penetapan Peraturan mengenai Perkumpulan-Perkumpulan Koperasi, L. N. I. Tahun 1927. No. 91.

Suwandi, Ima, Koperasi; Organisasi Ekonomi Yang Berwatak Sosial (Jakarta : Bhratara Karya Aksara, 1985)

Tang Thong Kie, Studi Notariat : Beberapa Mata Pelajaran dan Serba-Serbi Praktek Notaris, Buku II, (Jakarta : PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2000).

Tobing, G.H.S, Lumban, Peraturan Jabatan Notaris, (Jakarta : Erlangga, 1999).

Untung, H. Budi, Hukum Koperasi dan Peran Notaris Indonesia, (Yogyakarta : Andi Offset, 2005).

B. MAJALAH Jurnal Renvoi

Media Notariat. Majalah Edisi Mei-Juni 2004. Majalah Nasional Nomor 22 Tahun 2/ 2005 Media Notariat, Majalah Edisi Mei-Juni 2004, hal 17

C. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Indonesia, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. ---, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.

---, Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1994 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pengesahan dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi.

Undang-Undang Nomor 79 Tahun 1958

---, Nomor 14 Tahun 1965 Tentang Perkoperasian, ---, Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, SK Menteri Negara Koperasi dan UKM Nomor 98/ Kep/ M. KUKM/ IX/ 2004 tentang Notaris Sebagai Pembuat Akta Koperasi.

Penetapan Peraturan Perkumpulan-Perkumpulan Koperasi 1949

ABSTRAK

Profesi Notaris adalah profesi yang semi publik. Jabatan Notaris adalah jabatan publik namun lingkup kerjanya berada dalam konstruksi hukum privat. Setelah keluarnya Keputusan Menteri Nomor 98/ KEP/ M.UKM/ IX/ 2004, Notaris berwenang untuk membuat akta koperasi. Keterlibatan Notaris tidak semata-mata membantu proses pembuatan akta-akta koperasi saja, tetapi turut peduli terhadap prospek perkembangan koperasi yang menjadi kliennya dan bersedia memberikan bimbingan dan konsultasi hukum yang berkaitan dengan pembuatan akta koperasi. Tujuannya agar kalangan gerakan koperasi dan kalangan masyarakat koperasi semakin memahami dan tidak awam dengan hal-hal yang berbau hukum.

Metode penelitian dilakukan secara deskriptif. Sedangkan metode pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif. Data dalam penelitian diperoleh dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data primer yang dimaksud adalah data yang dikumpulkan melalui wawancara dengan pihak Dinas Koperasi dan UKM Medan sebanyak 1 (satu) orang dan Notaris

sebanyak 3 (tiga) orang. Pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumen atau bahan pustaka yang berkaitan dengan perkoperasian sebelum dan sesudah Indonesia merdeka dan studi lapangan. Analisis data terhadap data primer dan data sekunder dilakukan setelah terlebih dahulu diadakan pemeriksaan, pengelompokan, pengolahan dan dievaluasi sehingga diketahui validitasnya, lalu dianalisis secara kualitatif dengan mempelajari seluruh jawaban dan terakhir dilakukan pembahasan untuk menyelesaikan permasalahn yang ada.

Peran Notaris dalan membuat Akta pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi pada zaman sebelum dan sesudah kemerdekaan adalah sebagai berikut: Pada zaman Hindia Belanda wajib dibuat oleh Notaris dalam Staatsblad 1915-431;Tidak diwajibkan pada Staatsblad 1927-91;Diwajibkan kembali oleh Staatsblad 1933-108.;Sesudah kemerdekaan, sejak tahun 1949 tidak ada lagi kewajiban itu; Sampai dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri Negara Koperasi dan UKM Nomor 98/2004 menjadi wajib dibuat oleh Notaris Pembuat Akta Koperasi.Kendala yang dihadapi Notaris dalam pelaksanaan kebijakan pemerintah dalam membuat akta pendirian koperasi dan akta perubahan anggaran dasar adalah bahwa masih cukup banyak Notaris yang belum memahami seluk-beluk perkoperasian. Selain itu keberadaan Notaris yang belum menyebar secara merata juga merupakan kendala bagi pelaksanaan peraturan pemerintah itu, karena biasanya koperasi lebih banyak berkembang di daerah-daerah pedesaan. Demikian juga mengenai biaya pembuatan akta yang meungkin bagi beberapa pendiri koperasi adalah cukup mahal dan memberatkan.Upaya dalam mengatasi kendala-kendala yang dihadapi Notaris dalam membuat akta pendirian dan perubahan anggaran dasar koperasi adalah bahwa Notaris harus terus mempelajari dan mengikuti perkembangan koperasi di Indonesia. Untuk mengatasi kendala dalam sosialisasi wewenang baru Notaris sebagai pejabat pembuat akta koperasi, maka Ikatan Notaris Indonesia sebaiknya terus berkoordinasi dengan pihak-pihak yang terkait.

Kata kunci : Notaris, Akta Koperasi

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan Hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini dengan judul : “PERANAN NOTARIS DALAM MEMBUAT AKTA PENDIRIAN DAN PERUBAHAN ANGGARAN DASAR BADAN USAHA KOPERASI”

Penulisan tesis ini merupakan suatu persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh gelar Magister dalam Ilmu Kenotariatan (MKn) Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan tesis ini banyak yang telah memberikan bantuan dorongan moril berupa masukan dan saran, sehingga penulisan tesis dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Oleh sebab itu, ucapan terima kasih yang mendalam penulis sampaikan secara khusus kepada yang terhormat dan amat terpelajar Ibu Dr.T.Keizerina Devi A, SH, CN, MHum, Bapak H.Abdul Muis, SH, MS, dan Bapak Notaris/ PPAT Syafnil Gani, SH, MHum, dan selaku komisi Pembimbing Yang dengan tulus iklas memberikan bimbingan dan arahan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini

Kemudian juga, kepada Dosen Penguji yang terhormat dan Amat terpelajar Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, dan Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, MHum, yang telah berkenan memberikann masukan dan arahan yang konstruktif dalam penulisan tesis ini sejak tahap kolokium, seminar hasil sampai pada tahap ujian tertutup sehingga penlisan tesis ini menjadi lebih sempurna dan terarah.

Selanjutnya ucapan terima kasih penuls yang sebesar-besarnya kepada:

8. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, DTM&H., Sp.A (K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada kami untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magister Kenotariatan pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

9. Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, MSc, Selaku Direktris serta seluruh Staf atas Bantuan, Kesempatan dan fasilitas yang diberikan, sehingga dapat diselesaikan studi pada Program Magister Kenotariatan (MKn) Sekolah Pascasarjana universitas Sumatera Utara.

10. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, Selaku Ketua Program Magister kenotariatan (MKn) Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. 11. Pada Bapak dan Ibu Guru Besar juga Dosen Pengajar pada Program Magister

Kenotariatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan membimbing penulis sampai pada tingkat Magister Kenotariatan 12. Bapak Salmeks Saragih SH, MHum, Ibu Notaris Anita Simanjuntak, Ibu Notaris

Nursaida Hasibuan SH, Bapak Notaris Syafril Warman SH, di Medan yang seluruhnya telah banyak membantu memberikan informasi yang dibutuhkan dalam penulisan tesis ini.

13. Para pegawai/karyawan pada program studi Magister Kenotariatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara diantaranya Ibu Fatimah SH, Sari, Lisa, Afni, Rizal, Aldi, dan lain-lain, Yang membantu kelancaran dalam hal menajemen administrasi yang dibutuhkan.

14. Sahabat sahabat terbaik yang telah banyak memberikan masukan , dorongan dan bantuan kepada Penulis, didalam menyelesakan teris ini, antara lain :

Andi Bena Sembiring S.M, Drg.Meilanie Sinaga, Erwin Sihombing ST, Aries Sembiring, Sudirman Sinaga SH,dan namanya tidak dapat disebutkan satu

persatu atas tawa dan candanya dan juga telah banyak memberikan masukannya pada penulis dalam menyelesaikan tesis ini

Sungguh rasanya suatu kebanggaan tersendiri dalam kesempatan ini penulis juga turut menghaturkan sembah sujud ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Ayahanda Daulat Lumban Tobing,(Alm) dan Ibunda Megawati Tampubolon, yang telah mebesarkan dan mendidik penulis dengan kasih sayang yang tulus dan ikhlas, sehingga mampu menghantarkan penulis didalam mencapai cita-cita.

Begitupun juga penulis ucapkan terima kasih kepada adik-adik Andi Sumarihon Tobing, Sarah Tobing, Anita Tobing, yang telah memberkan doa dan perhatian yang cukup besar selama ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi Program Magister Kenotariatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.

Penulis berharap semoga semua bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT, Agar selalu dilimpahkan kebaikan, kesehatan, kesejahteraan dan rezeki yang melimpah kepada kita semua.

Akhirnya penulis berharap semoga tesis ini dapat memberikan manfaat semua pihak, terutama kepada penulis dan kalangan yang mengembagkan ilmu hukum,khususnya dalam bidang ilmu Kenotariatan.

Medan, September 2008 Penulis,

RIWAYAT HIDUP

IV. IDENTITAS PRIBADI

Nama lengkap : Treesna Sari Berliana L. Tobing Tempat/Tanggal Lahir : Medan/ 21 Agustus 1982

Status : Single

Alamat : : Jl. Flamboyan Raya I Lorong 2, No.14 Tj.Selamat Medan

V. ORANG TUA

Nama Ayah : Daulat Lumban Tobing (Alm)

Nama Ibu : Megawati Tampubolon

VI. PENDIDIKAN

SD : Tahun 1988 s/d 1994 SD Santa Maria Tarutung SMP : Tahun 1994 s/d 1997 SMP Santa Maria Tarutung SMA : Tahun 1997 s/d 2000 SMA Negeri 2 Karang Sari

Medan

Perguruan Tinggi / S1 : Tahun 2000 s/d 2005 Universitas Katolik Santo Thomas Medan

Perguruan Tinggi / S2 : Tahun 2006 s/d 2008 Sekolah Pascasarjana Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara-Medan

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK... i ABSTRACT ... ii KATA PENGANTAR ... iii RIWAYAT HIDUP ... vii DAFTAR ISI ... viii DAFTAR TABEL ... x DAFTAR GAMBAR ... xi BAB I PENDAHULUAN ... 1 H. Latar Belakang... 1 I. Perumusan Masalah... 8 J. Tujuan Penelitian... 9 K. Manfaat Penelitian... 9 L. Keaslian Penelitian ... 10 M. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 12 N. Metode Penelitian ... 30

BAB II PERANAN NOTARIS DALAM MEMBUAT AKTA

PENDIRIAN DAN PERUBAHAN ANGGARAN DASAR

KOPERASI SEBELUM DAN SESUDAH KEMERDEKAAN. 34 D. Tinjauan Umum Tentang Koperasi ... 34

1. Sejarah Koperasi di Indonesia... 34 2. Pengertian, Azas dan Landasan Koperasi ... 40 3. Tujuan dan Peranan Koperasi ... 41 4. Bentuk dan Jenis Koperasi Indonesia ... 43 E. Tinjauan Umum Tentang Kenotariatan ... 45 1. Sejarah Kenotariatan di Indonesia ... 45 2. Fungsi Notaris ... 48 3. Wewenang dan Kewajiban Notaris... 50 4. Larangan Bagi Notaris ... 52 F. Peranan Notaris Dalam Membuat Akta Pendirian dan Akta

Perubahan Anggaran Dasar Koperasi Sebelum dan Sesudah

1. Pembuatan Akta Pendirian Koperasi, Akta Perubahan dan Pendaftaran Koperasi Menurut

Perundang-undangan Produk Hindia Belanda... 53 2. Pembuatan Akta Koperasi, Akta Perubahan dan

Pendaftaran Koperasi Sesudah Zaman Kemerdekaan

Sebelum UU No. 25 Tahun 1992... 58 3. Pembuatan Akta Koperasi, Akta Perubahan dan

Pendaftaran Koperasi Menurut UU No. 25 Tahun 1992 ... 66 4. Pembuatan Akta Koperasi, Akta Perubahan dan

Pendaftaran Koperasi Menurut Surat Keputusan Menteri Negara Koperasi dan UKM No.

98/KEP/M.KUKM/IX/2004... 73

BAB III KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI OLEH

NOTARIS DALAM PEMBUATAN AKTA PENDIRIAN DAN AKTA PERUBAHAN ANGGARAN DASAR BADAN

USAHA KOPERASI ... 83 C. Pembuatan Akta Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar

Koperasi Oleh Notaris ... ... 83 D. Kendala-Kendala Yang Dihadapi Notaris Dalam Pembuatan

Akta Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi... 84

BAB IV UPAYA MENGATASI KENDALA-KENDALA YANG

DIHADAPI OLEH NOTARIS DALAM PEMBUATAN AKTA PENDIRIAN DAN AKTA PERUBAHAN

ANGGARAN DASAR BADAN USAHA KOPERASI... 99 A. Status Badan Hukum Koperasi... 99 B. Upaya-Upaya Dalam Mengatasi Kendala-Kendala Yang

Dihadapi Oleh Notaris Dalam Pembuatan Akta Pendirian Dan

Perubahan Anggaran Dasar Koperasi... 111 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 117

C. Kesimpulan... 117 D. Saran ... 118 DAFTAR PUSTAKA ... 120

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1. Jumlah Koperasi yang didirikan/diubah dengan Akta Notaris di

Dinas Koperasi dan UKM Kota Medan ... 82 2. Jumlah Koperasi yang didirikan/diubah dengan Akta Notaris di

Dinas Koperasi dan UKM Sumatera Utara ... 82 3. Jumlah Koperasi di Kota Medan Sampai November 2007 ... 110

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

1. Skema Pengangkatan Notaris menjadi Pejabat Pembuat Akta

Koperasi... 81 2. Struktur Organisasi Dinas Koperasi dan UKM Kota Medan ... 109

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan hidup yang merata lahir dan batin bagi setiap warga negaranya. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang. Sistem perekonomian Indonesia disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Hal ini tercantum dalam Undang-Undang Dasar1945 khususnya Pasal 33 ayat (1) yang menentukan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.

Dalam penjelasan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 dijelaskan bahwa kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat lebih diutamakan daripada kemakmuran dan kesejahteraan pribadi. Hal ini semakin mempertegas bahwa perekonomian Indonesia disusun berdasarkan demokrasi ekonomi dan bangun perusahaan yang sesuai dengan itu adalah koperasi.28 Penjelasan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 menempatkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional dan bagian integral tata perekonomian nasional.

28 M. Hatta, Penjabaran Pasal 33 UUD 1945, (Jakarta:Penerbit Mutiara,1980), hal 26.

M. Hatta dalam pidatonya pada tanggal 12 Juli 1951 menyatakan bahwa tujuan koperasi adalah “menyelenggarakan kemakmuran rakyat dengan jalan menyusun perekonomian sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”. (Andjar Pachta W., Myra Rosana Bachtiar dan Nadia Maulisa Benemay. Hukum Koperasi Indonesia; Pemahaman, Regulasi, Pendirian, dan Modal usaha (Jakarta : Badan Penerbit FH UI, 2005), hal 19 dan 20). Usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan ini biasanya disebut dengan istilah gotong royong yang mencerminkan semangat kebersamaan. (R. T. Sutantya Rahardja Hadikusuma, Koperasi Indonesia (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hal 38)

Usaha-usaha masyarakat dalam mencapai kehidupan yang lebih baik sangat bergantung pada usaha-usaha pemerintah dalam meningkatkan perekonomian negara. Apabila pemerintah berhasil meningkatkan perekonomian negara, maka semakin dapat diharapkan juga bahwa bagi anggota masyarakat akan semakin terbuka kemungkinan untuk meningkatkan taraf hidupnya.29 Salah satu langkah yang ditempuh pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup dan memajukan kesejahteraan masyarakat adalah melaksanakan kebijakan pembangunan ekonomi yang lebih diarahkan kepada terwujudnya demokrasi ekonomi. Agar hal ini dapat terwujud, sangat dibutuhkan pula peran aktif masyarakat dalam kegiatan pembangunan ekonomi. Pemerintah tidak mungkin dapat bekerja sendiri tanpa dukungan dan peran aktif masyarakat.

Bentuk peran aktif dan dukungan masyarakat bagi pemerintah dalam pembangunan ekonomi yang diarahkan kepada terwujudnya demokrasi ekonomi, dapat dilakukan melalui koperasi. Sebagai sarana untuk mencapai masyarakat adil dan makmur, koperasi tidak lepas dari landasannya yaitu Pancasila. Kekhususan koperasi di Indonesia sangat dipengaruhi oleh ideologi bangsa dan sistem politik ekonomi negara yang tercermin dari isi peraturan perundang-undangan yang mengatur perkoperasian di Indonesia.30

Koperasi merupakan usaha bersama yang dalam menjalankan kegiatan usahanya melibatkan seluruh anggota yang ada secara gotong royong lazimnya seperti dalam kegiatan suatu keluarga. Semangat kebersamaan ini tidak saja dalam bentuk gotong royong bertanggung jawab atas kegiatan usaha koperasi tetapi juga dalam 29 Emmy Pangaribuan Simandjuntak, Beberapa Aspek Hukum Dagang Di Indonesia Dalam

Perkembangan (Bandung : Bina Cipta, 1979), hal 116.

bentuk memiliki modal bersama.31 Oleh karena itu, jelas bahwa peran koperasi sangat penting dalam menumbuh serta mengembangkan potensi ekonomi masyarakat serta dapat mewujudkan kehidupan demokrasi ekonomi yang memiliki ciri-ciri demokratis, kebersamaan dan kekeluargaan serta keterbukaan.

Menurut Abdul Muis : ”Pada koperasi terdapat pula unsur pengejaran keuntungan komersil, namun pengejaran keuntungan tidak terlalu dititikberatkan melainkan lebih dipentingkan kepada kesejahteraan para anggautanya, sehingga di katakan berwatak sosial”.32

Koperasi memiliki peranan yang sangat penting terutama bagi masyarakat kecil untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah membentuk Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian sebagai pengganti dari Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Koperasi dan undang-undang sebelumnya yang dibuat pada masa orde lama. Dikeluarkannya undang-undang ini menunjukkan suatu bentuk keseriusan pemerintah dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Segala sesuatu yang menyangkut koperasi dari awal berdiri sampai akhir dari adanya koperasi tidak terlepas dari keikutsertaan pemerintah.

Koperasi di Indonesia juga wajib memiliki ruang gerak dan kesempatan usaha yang luas menyangkut kehidupan perekonomian rakyat yang dapat menyelaraskan dengan perkembangan lingkungan yang dinamis. Pembangunan koperasi perlu diarahkan agar semakin berperan dalam perekonomian nasional. Pengembangnnya 31 R. T. Sutantya Rahardja Hadikusuma, Hukum Koperasi Indonesia, Cetakan II, (Jakarta : PT.

Raja Grafindo Persada, 2001),hal 39.

32 H. Abdul Muis, S.H. M.S, Hukum Persekutuan dan Perseroan (Medan : Fakultas Hukum USU, 2006) hal 5

diarahkan agar koperasi benar-benar menerapkan prinsip koperasi dan kaidah usaha ekonomi yang mantap, demokrasi, otonom, partisipatif dan berwatak sosial. Hal ini bertujuan agar koperasi dapat menjalankan kegiatan usaha dan berperan utama dalam kehidupan ekonomi rakyat.

Koperasi sebagai badan usaha senantiasa harus diarahkan dan didorong untuk ikut berperan secara nyata meningkatkan kesejahteraan anggotanya dengan memberikan status badan hukum koperasi melalui pengesahan atas perubahan Anggaran Dasar dan pembinaan yang merupakan wewenang dan tanggung jawab pemerintah. Dalam hal ini pemerintah melimpahkan wewenangnya kepada Menteri yang membidangi koperasi.

Dalam menghadapi perkembangan perekonomian yang semakin kompleks, maka dalam dunia bisnis diperlukan kepastian hukum. Salah satu cara untuk memperoleh kepastian hukum yaitu dari dokumen-dokumen yang dibuat oleh pelaku bisnis. Hal ini juga berlaku bagi koperasi sebagai salah satu pelaku bisnis. Koperasi memerlukan adanya kepastian hukum menyangkut dokumen-dokumen yang dibuatnya.

Menurut Tan Thong Kie:

Setiap masyarakat membutuhkan seseorang (figuur) yang keterangan-keterangannya dapat diandalkan, dapat dipercayai, yang tanda tangan serta segelnya (capnya) memberi jaminan dan bukti kuat, seorang ahli yang tidak memihak dan penasihat yang tidak ada cacatnya (onkreukbaar atau unimpeachable), yang tutup mulut, dan membuat surat perjanjian yang dapat melindunginya dihari-hari yang akan datang.33

Hal ini terkait dengan keabsahan segala perbuatan yang dilakukan oleh badan hukum maupun orang perorangan. Sehubungan dengan hal ini, walaupun pemerintah

33 Tan Thong Kie, Studi Notariat : Beberapa Mata Pelajaran dan Serba-Serbi Praktek Notaris, Buku I, (Jakarta : PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2000), hal 162.

berwenang dalam pembentukan koperasi, pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri tanpa bantuan dari pihak tertentu yang juga diberikan wewenang untuk menangani bidang-bidang tertentu terkait dengan proses pembentukan koperasi. Salah satunya adalah dengan terkait dengan proses hukum yang merupakan syarat penting bagi eksistensi sebuah koperasi. Oleh karena itu pemerintah merangkul Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah beserta dinas-dinas terkait.

Proses hukum tidak terlepas dari peraturan hukum yang berlaku. Hukum berperan sebagai suatu alat agar terpenuhinya keabsahan pembentukan suatu badan usaha termasuk koperasi. Berdasarkan hal tersebut, maka seiring dengan perkembangan dan kebutuhan yang ada saat ini, pemerintah merasa perlu untuk membuat suatu terobosan baru bagi koperasi agar sebagai badan hukum, koperasi dapat disejajarkan dengan bentuk badan hukum lainnya dalam beberapa hal, salah satunya adalah pembuatan akta pendirian.

Menurut R.T Sutantya Rahardja Hadikusuma :

“Dengan diperolehnya status badan hukum, maka secara hukum, koperasi tersebut telah diakui keberadaannya seperti orang (person) yang mempunyai kecakapan untuk bertindak, memiliki wewenang wewenang untuk mempunyai harta kekayaan, melakukan perbuatan-perbuatan hukum seperti : membuat perjanjian, menggugat dan digugat di muka pengadilan, dan sebagainya. Sehingga dengan demikian, sebagai suatu badan hukum maka koperasi juga merupakan subyek hukum”34

Kenyataan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat adalah bahwa pada umumnya koperasi di Indonesia adalah yang berskala kecil dan kurang mengalami 34 R. T. Sutantya Rahardja Hadikusuma, Op. Cit, hal 68-69.

perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini dikarenakan masyarakat beranggapan bahwa koperasi diperuntukkan hanya untuk golongan tertentu saja. Selain itu, selama ini perkembangan koperasi berjalan tersendat-sendat, dikarenakan sedikitnya akses

Dokumen terkait