BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
6.2 Saran
1. Jarum Quincke 27G menunjukkan kemampuan yang sama secara statistik dalam mengurangi insidensi dan keparahan PDPH pada pasien-pasien anestesi spinal dibandingkan dengan jarum Whitacre 27G.
2. Penggunaan jarum Whitacre 27G ternyata dapat diterima dan dipakai pada ruang lingkup pendidikan dokter spesialis anestesi berhubung tingkat kesukaran dalam banyaknya usaha tusukan tidak berbeda bermakna secara statistik dibandingkan dengan jarum Quincke 27G.
3. Penelitian ini perlu dilanjutkan dalam membandingkan kedua tipe jarum Quincke dan Whitacre pada populasi wanita hamil yang cenderung lebih mudah mengalami PDPH.
4.
DAFTAR PUSTAKA
1. Shah A, Bhatia PK, Tulsiani KL. Postdural puncture headache in Caesarean Section – A comparative study using 25G Quincke, 27G Quincke and 27G Whitacre needle. Dalam : Indian Journal of Anaesthesiology, 456,2002,hal:373-7.
2. Shutt LE, et al. Spinal anaesthesia for Caesarean section: comparison of 22 gauge and 25 gauge Whitacre needle with 26 gauge Quincke needles. Dalam : Anesthesia Journal, 69, 1992, hal: 589-4.
3. Holdgate A, Cuthbert K. Perils and pitfalls of lumbar puncture in the emergency department. Dalam: Emergency Medicine, Fremantle, 13(3), 2001 Sep,hal: 351-8.
4. Kleinman, Wayne, Mikhail, Maged. Spinal, epidural and caudal blocks. Dalam:
Clinical Anesthesiology, Lange, Edisi 4. 2006, hal: 319.
5. Hart JR, Whitacre RJ. Pencil point needle in prevention of post spinal headache.
147, 1951, hal:. 657-658.
6. Kaul TK, Chopra H, Gautam PL. Hearing Loss after spinal Anesthesia relation to needle size. Dalam: Journal of Anesthesia Clinical Pharmacology, 12, 1996, hal:
113-6.
7. Eerola M, Kaukinen L, Kaukinen S. Fatal brain lesion following spinal anaesthesia. Dalam: Acta Anaesthesiology Scandinavia 25, 1981, hal:115-6.
8. Gerrtse BJ, Gielen MJ. Seven months delay for epidural blood patch in PDPH.
Dalam: European Journal of Anaesthesiology 16, 1999, Vol. I, hal: 650-1.
9. Zeidon A, et al. Does PDPH left untreated lead to subdural haematoma? Case report and review of the literature., Dalam: International Journal of Obstetric Anesthesiology, 15, 2006, hal: 50-8.
10. Hawkins JL, et al. Anesthesia-related deaths during obstetric delivery in the United States. Dalam: Anesthesiology, 1997, Vol. 86, hal: 277-84.
11. Reid JA, Thorburn J. Headache after spinal anesthesia. Dalam: British Journal of Anesthesia, 1991. hal: 674-7.
12. Ripul Oberoi, et al. Incidence of Post Dural Puncture Headache: 25 Gauge Quincke VS 25 Gauge Whitacre Needles. Dalam: Journal of Anaesthesiology of Clinical Pharmacology, 25, 2009, hal: 420-2.
13. Hwang JJ and Ho ST, Wang JJ, Liu HS. Post dural puncture headache in cesarean section: comparison of 25-gauge Whitacre with 25- and 26-gauge Quincke needles. Dalam: Acta Anaesthesiology Singapore, 35(1), Mar 1997,hal: 33-7.
14. Lynch J, Kasper SM, Strick K, Topalidis K, Schaaf H, Zech D, Krings-Ernst. The use of Quincke and Whitacre 27-gauge needles in orthopedic patients: incidence of failed spinal anesthesia and postdural puncture headache. Dalam:
Anesthesiology Analgesia, 79, Jul 1994, Vol. 1, hal: 124-8.
15. Irawan Dino, Tavianto Doddy and Surahman Eri. Kejadian Post Dural Puncture Headache dan Nilai Numeric Rating Scale Pada Pasien Paska Seksio Cesarea Dengan Anestesi Regional Spinal Di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.
Bandung : FK Unpad, 2010, hal: 1-30.
16. Carrie LES, Collins PD. 29 gauge spinal needles. Dalam: Brisith Journal of Anaesthesiology, 66, 1991, hal: 145-6.
17. Turnbull D K, Shepherd D. B.Post-dural puncture headache: pathogenesis, prevention and treatments. Dalam: British Journal of Anaesthesia, 91(5), 2003, hal: 718-29.
18. Singh, Ranju, Padmaja, S. and Jain, Aruna. Incidence of Post Dural Puncture Headache with a 23 G Quincke Needle in Emergency Lower Segment Caesarean Section - an Audit. Dalam: Journal of Anaesthesiology Clinical Pharmacology, 25(4), 2009, hal: 486-90.
19. Kang B, Seuk et al. Comparison of 26G and 27G Needles for Spinal Anesthesia or Ambulatory Surgery Patients. Dalam: Anesthesiology, 76, 1992, hal: 734-8.
20. Shaikh, Jan Muhammad, et al. Post dural puncture headache after spinal anaesthesia for caesarean section: a comparison of 25g quincke, 27g quincke and 27g whitacre spinal needles. Dalam: J Ayub Med Coll Abbottabad, 20(3), 2008, hal: 1-4.
21. Kotur PF. Evidence Based Management of Post Dural Puncture Headache.
Dalam: Indian Journal of Anaesthesiology, 50 (4), 2006, hal: 307-8.
22.Schwalbe, Steve. Pathophysiology and Management of Post-dural Puncture Headache: A Current Review. Society of Obstetric Anesthesia and Perinatology.
2000. Diambil dari: http://www.soap.org/media/newsletters/fall2000/pathophysio logy_management.htm
23. Madiyono, Bambang, Sastroasmoro, Sudigdo and Ismael, Sofyan. Perkiraan Besar Sampel. Dalam: Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi 3, Sagung Seto, 2010, 16, hal: 314-5.
LAMPIRAN 1: RIWAYAT HIDUP PENELITI
Nama : Dr. Edlin
Tempat/Tgl Lahir : Banda Aceh,26 Februari 1981
Agama : Islam
Alamat Rumah : Jl. Sei Bahorok Gg. Keplor No.30 Medan Nama Ayah : dr. Nadi Zaini Bakri, SpAn
Nama Ibu : Rita Zulmi
Status : Belum Menikah
RIWAYAT PENDIDIKAN
1980-1986 : TK Bintang Kecil 1986-1989 : SD Harapan I Medan 1989-1992 : SMP Harapan I Medan 1996-1999 : SMU Negeri 1 Medan
1999-2006 : S1 Pend. Dokter Fakultas Kedokteran USU Medan
2006-Sekarang : PPDS Anestesiologi dan Reanimasi FK USU Medan
LAMPIRAN 2: LEMBAR PENJELASAN KEPADA SUBJEK PENELITIAN Assalamualaikum Wr.Wb,
Bapak/Ibu/Saudara/i Yth.
Saya, Dr. Edlin, saat ini menjalani program pendidikan dokter spesialis Anestesiologi dan Reanimasi akan melakukan penelitian,
Perbandingan Insidensi Post Dural Puncture Headache Setelah Anestesia Spinal Dengan Jarum 27G Quincke dan 27G Whitacre
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pilihan tipe jarum spinal yang dapat mengurangi kejadian dan keparahan dari PDPH atau nyeri kepala setelah tindakan pembiusan melalui tulang belakang pada daerah punggung (pembiusan spinal).
Bapak/Ibu/Saudara/I Yth,
Penelitian ini menyangkut pelayanan tindakan pembiusan pada pasien yang menjalani operasi dengan pembiusan melalui tulang belakang (spinal). Yang dimaksud dengan pembiusan melalui tulang belakang (spinal) adalah pasien mendapatkan pembiusan separuh badan, pasien tetap sadar namun bagian tubuh yang dibius tidak merasa sakit/ sedikit merasa sakit karena telah mendapatkan pembiusan. Diharapkan operasi dapat berlangsung sesuai dengan perkiraan dokter bedah dan anestesi. Tetapi apabila operasi tidak dapat berlangsung sesuai perkiraan dan operasi berlangsung lebih lama maka tehnik pembiusan akan dipertimbangkan kembali mengenai apakah perlu atau tidak untuk beralih ke pembiusan umum.
Yang akan saya nilai adalah kondisi keadaan pasien setelah operasi terutama mengenai nyeri kepala yang timbul. Perlu diketahui bahwa nyeri kepala ini merupakan resiko umum yang bisa timbul pada setiap operasi dengan pembiusan tulang punggung.
Nyeri kepala yang termasuk istilah PDPH yang saya cari adalah nyeri kepala yang timbul atau memberat bila pasien duduk atau berdiri dan akan menghilang atau berkurang apabila pasien tidur berbaring telentang. Nyeri kepala ini akan saya
perhatikan terus setiap hari sampai 3 hari ke depan setelah operasi. Apabila nyeri kepala ini bersifat mengganggu dan tidak nyaman, maka peneliti akan memberikan dan melakukan penanganan standar yang sesuai dengan prosedur yang sudah diterima secara luas terhadap penanganan PDPH. Hal ini termasuk pemberian cairan tambahan, obat-obatan anti sakit dan stagen perut.
Untuk lebih jelasnya, pada saat turut serta sebagai sukarelawan pada penelitian ini, Bapak/Ibu/Saudara/I akan menjalani prosedur penelitian sebagai berikut:
1. Sukarelawan akan dibagi menjadi dua kelompok yang akan mendapatkan dua tipe jarum yang berbeda, yakni Quincke 27G atau Whitacre 27G.
2. Obat bius akan dimasukkan melalui jarum tersebut ke daerah punggung dan berselang beberapa menit sukarelawan akan kehilangan sensasi nyeri dan gerak pada daerah bagian bawah tubuhnya. Waktu dan banyak usaha tusukan akan dicatat.
3. Setelah sudah dipastikan bahwa sukarelawan tidak merasakan sensasi nyeri, maka operasi akan dimulai.
4. Enam jam setelah tusukan, sukarelawan akan didatangi oleh peneliti yang akan menanyakan keadaan dan kondisi nyeri kepalanya. Apabila nyeri kepala timbul saat sukarelawan berubah posisi dari tidur ke duduk atau berdiri dan nyeri menghilang bila pada posisi tidur telentang, maka pasien mengalami PDPH.
Nyeri kepala yang tidak sesuai dengan kondisi ini tidak termasuk nyeri kepala PDPH.
5. Peneliti akan kembali memeriksa keadaan dan kondisi nyeri kepala pasien pada 24 jam, 48 jam dan 72 jam setelah tusukan jarum spinal.
6. Apabila pasien sudah pulang dan waktu penelitian belum selesai, maka peneliti akan menghubungi sukarelawan melalui nomor telepon yang telah ditinggalkannya.
Pada lazimnya, penelitian ini tidak akan menimbulkan hal-hal yang berbahaya bagi Bapak/Ibu/Saudara/I sekalian, namun bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama penelitian berlangsung, yang disebabkan oleh perlakuan yang dilakukan pada penelitian ini, Bapak/Ibu/Saudara/I sekalian dapat menghubungi Dr. Edlin (Telp :
081-263888409) untuk dapat pertolongan. Selain itu penelitian ini juga diawasi dan di supervisi oleh konsultan dan dokter ahli dari bagian Anestesiologi dan Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Kerjasama Bapak/Ibu/Saudara/I sangat diharapkan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini yang akan diperkirakan memakan waktu lebih kurang 3 hari. Bila masih ada hal-hal yang belum jelas menyangkut penelitian ini, setiap saat dapat ditanyakan kepada peneliti : Dr. Edlin
Setelah memahami berbagai hal yang menyangkut penelitian ini, diharapkan Bapak/Ibu/Saudara/I yang telah terpilih sebagai sukarelawan pada penelitian ini, dapat mengisi lembar persetujuan turut serta dalam penelitian yang telah disiapkan. Harap dimaklumi bahwa keikutsertaan Bapak/Ibu/Saudara/I dalam penelitian ini bersikap sukarela dan tanpa paksaan apapun.
Medan, November 2010
Peneliti
(Dr. Edlin)
LAMPIRAN 3: LEMBARAN KOMITE ETIK
LAMPIRAN 4: PERSETUJUAN KESEDIAAN MENSUBJEK PENELITIAN Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : ...
Umur : ...
Alamat : ...
Pekerjaan : ...
No. Telepon yang dapat dihubungi : ………..
Setelah memperoleh penjelasan sepenuhnya dan menyadari serta memahami tentang tujuan, manfaat serta resiko yang mungkin timbul, seperti nyeri kepala yang berat, dalam penelitian berjudul : Perbandingan Insidensi Post Dural Puncture Headache Setelah Anestesia Spinal Dengan Jarum 27G Quincke dan 27G Whitacre
Dan mengetahui serta memahami bahwa subjek dalam penelitian ini sewaktu-waktu dapat mengundurkan diri dalam keikutsertaannya, maka saya setuju ikut serta/ mengikut sertakan anak/adik/ayah/ibu/suami/istri saya yang bernama: ………
dalam uji penelitian dan bersedia berperan serta dengan mematuhi semua ketentuan yang berlaku dan telah saya sepakati dalam penelitian tersebut di atas.
Medan,………...2010
Mengetahui, Yang menyatakan,
Penanggung Jawab Penelitian Peserta Uji Klinik
(Dr.Edlin) (Nama Jelas : ...)
Saksi Orang Tua/Wali Peserta Uji Klinik
(Nama Jelas : ...) (Nama Jelas : ...)
LAMPIRAN 5: LEMBARAN OBSERVASI PERIOPERATIF PASIEN
WAKTU INSERSI JARUM SPINAL : BANYAK USAHA INSERSI :
Mulai Kerja Blok Sensorik : Mulai Kerja Blok Motorik : Monitoring Durante Operasi
Periode Inspeksi Klasifikasi PDPH 6 jam paska injeksi spinal
24 jam paska injeksi spinal 48 jam paska injeksi spinal 72 jam paska injeksi spinal
Tingkat keparahan PDPH
Ringan
Tidak ada gangguan dalam aktivitas Tidak dibutuhkan penanganan Sedang
Terjadi gangguan dalam aktivitas Dibutuhkan analgesia secara regular Berat
Hanya dapat berbaring di tempat tidur Anoreksia
LAMPIRAN 6: DATA HASIL PENELITIAN
2 MD 25 Pria Refrakturisasi + Skeletal traksi 1 58 165 Spinocan 2 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
3 AR 52 Pria Turp 2 45 155 Pencan 1 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
25 PS 23 Pria Debridement 1 53 150 Spinocan 1 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
53 SU 47 Wanita histerectomi 2 60 168 Pencan 1 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
81 M 47 Wanita Appendectomy 1 55 155 Spinocan 4 + + + ‐ 2 2 1 0
82 S 32 Wanita Removal ORIF 1 60 165 Pencan 2 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
83 SL 67 Pria TURP 2 60 160 Spinocan 2 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
84 M 28 Wanita ORIF 2 55 154 Spinocan 1 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
85 LS 51 Pria Debridement 1 50 160 Pencan 1 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
86 DL 29 Wanita ORIF 1 61 168 Pencan 2 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
87 DA 22 Wanita Appendectomy 1 63 155 Spinocan 1 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
88 P 26 Pria Appendectomy 1 54 154 Spinocan 1 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
89 R 45 Wanita histerectomi 2 60 165 Pencan 1 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
90 K 30 Wanita ORIF 2 55 150 Pencan 3 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
91 S 56 Pria TURP 2 60 170 Pencan 1 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
92 L 31 Wanita Removal ORIF 1 50 166 Spinocan 2 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
93 MA 27 Pria Hernioraphy 2 50 157 Spinocan 1 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
94 SN 56 Pria TURP 2 65 169 Pencan 3 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
95 HM 44 Pria Appendectomy 1 60 160 Pencan 2 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
96 LS 20 Pria TURP 2 64 172 Spinocan 1 ‐ ‐ + ‐ 0 0 1 0
97 P 25 Wanita ORIF 2 55 165 Pencan 1 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
98 R 27 Wanita Appendectomy 1 58 150 Spinocan 1 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
99 S 31 Wanita Hernioraphy 1 65 164 Spinocan 1 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
100 HP 58 Pria TURP 2 65 170 Pencan 1 ‐ ‐ ‐ ‐ 0 0 0 0
LAMPIRAN 7: TABEL RANDOMISASI