BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Post Dural Puncture Headache
2.2.4 Terapi PDPH
Ada beberapa terapi yang sering dipakai untuk penanganan PDPH, baik invasif maupun non-invasif, yang tersedia bagi tim anestesi. Walaupun tidak semuanya didukung oleh evidence based yang lengkap, tetapi kebanyakan telah diterima dengan baik oleh berbagai kalangan anestesiolog. Terapi non-invasif meliputi tirah baring, status hidrasi, posisi, ikatan abdominal, analgesia, dan obat-obat farmakologis lain seperti kaffein intravena, theophylline, dsb. Terapi invasif meliputi Epidural Blood Patch dan Epidural Dextran.17
Terapi konservatif meliputi posisi berbaring, analgesia, stagen abdomen, pemberian cairan infus atau oral, dan kaffein. Menjaga pasien tetap supine akan mengurangi tekanan hidrostatik yang mendorong cairan keluar dari lubang dura dan meminimalkan nyeri kepala. Medikasi analgesia bisa berkisar dari asetaminofen sampai NSAID. Hidrasi dan kaffein bekerja menstimulasi produksi CSF. Kaffein membantu dengan menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah intrakranial.17,21
Salah satu yang menjadi faktor penentu terjadinya PDPH adalah status hidrasi pasien, dimana konsep hidrasi pada PDPH masih banyak salah dimengerti. Tujuan dari hidrasi adalah untuk memastikan kecepatan produksi CSF optimal, dimana
pasien dalam keadaan dehidrasi akan menyebabkan produksi CSF yang berkurang.
Sehingga, bila seseorang sudah terehidrasi dengan baik, dan kecepatan produksi CSF normal, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa overhidrasi akan membantu meningkatkan kecepatan produksi CSF. Oleh karena itu tidak diperlukan pemberian cairan berlebihan pada pasien yang telah terehidrasi dengan baik, dan penting untuk memastikan bahwa pasien dalam kondisi terhidrasi baik sebelum dilakukan tindakan anestesi spinal. Pada penelitian ini, kami memastikan pasien dalam keadaan terhidrasi baik dengan melakukan terlebih dahulu Tilt Test.22
Tilt test itu sendiri adalah tes kecukupan cairan/hidrasi pada pasien, dengan memperhitungkan faktor posisi dan gravitasi, dilakukan dengan mengukur tekanan darah pasien saat terlentang mendatar dan kemudian mengukur tekanan darah pasien setelah diposisikan tidur terlentang dalam posisi head up dengan sudut 40 – 50 selama 10 menit. Bila terjadi perbedaan MAP lebih dari 10, maka dinyatakan Tilt Test positif dan pasien masih belum terhidrasi dengan cukup.
Epidural blood patch merupakan penanganan yang sangat efektif terhadap PDPH. Dengan melakukan injeksi 15-20 cc darah autologous ke ruang epidural pada, satu interspace dibawahnya atau pada tempat tusukan dura. Hal ini dipercaya akan menghentikan kebocoran yang terjadi pada CSF oleh karena efek massa atau koagulasi. Efeknya bisa terjadi segera atau beberapa jam setelah tindakan ketika produksi CSF secara perlahan akan meningkatkan tekanan intrakranial yang dibutuhkan. Sebanyak 90% pasien akan memberikan respon terhadap tindakan blood
patch ini.17,21
SPINAL
Dura Mengalami Robekan
PDPH
CSF Mengalami Kebocoran
Nyeri kepala berat dan tumpul yang bertambah bila posisi tegak lurus dan hilang bila posisi supine
Isi Cranial tertarik pada posisi tegak lurus Jarum Spinal 27G
Quincke
Jarum Spinal 27G Whitacre
Gambar 3. Kerangka Konsep
BAB 3
3 METODE PENELITIAN
3.1 Desain
Desain penelitian ini menggunakan uji klinis acak, prospektif, double blind untuk mengetahui perbedaan insidensi dan tingkat keparahan PDPH pada pasien post injeksi anestesi spinal dengan jarum Quincke 27G dan Whitacre 27G
3.2 Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada RSUP.H. Adam Malik dan Rumah sakit jejaring pada kota Medan dan sekitarnya. Dilakukan dimulai bulan November 2010 sampai selesai
3.3 Populasi Penelitian
Populasi adalah pasien yang menjalani pembedahan elektif dengan anestesi spinal selain operasi seksio Caesarea
3.4 Sampel dan Cara Pemilihan (Randomisasi) sampel
Diambil dari pasien operasi yang akan dilakukan dengan anestsi spinal anestesia dengan status fisik ASA 1 dan 2.
a. Sampel dibagi secara random menjadi 2 kelompok. Kelompok A memakai jarum spinal quincke 27G untuk spinal anestesinya dan Kelompok B memakai jarum spinal Whitacre 27G untuk spinal anestesinya.
b. Randomisasi blok dilakukan oleh relawan dengan memakai tabel angka random. Dengan menjatuhkan pena ke kertas tabel random, ujung pena merupakan angka mulai urutan.
3.5 Estimasi Besar Sampel
Dari penelitian sebelumnya di dapat persentase P1 = 30%, dan P2 diharapkan memiliki perbedaan -20%, sehingga didapat P2 = 10%. Dengan kekuatan 80%. Maka nilai-nilai ini dimasukkan ke dalam rumus mencari besar sampel23 :
Didapat hasil n1 = n2 = 49 orang
Sehingga ditetapkan jumlah keseluruhan sampel penelitian ini adalah 98 orang.
3.6 Kriteria Inklusi dan Eksklusi 3.6.1 Inklusi
1. Bersedia ikut dalam penelitian 2. Usia 18 - 65 tahun
3. Pasien status fisik ASA 1 dan 2 3.6.2 Eksklusi
1. Pasien dengan kelainan kognitif 2. Pasien wanita hamil
3. Pasien dengan nyeri kepala kronik sebelumnya
4. Pasien dengan kontraindikasi untuk dilakukan spinal anestesia
i. Luka atau infeksi pada daerah yang akan dilakukan injeksi spinal ii. Thrombositopenia (<50.000)
iii. Hipovolemia berat dan syok.
iv. Tekanan intrakranial yang meningkat.
v. Kelainan tulang belakang vi. Obesitas berat
3.6.3 Kriteria Drop Out
1. Pasien yang memerlukan usaha tusukan spinal lebih dari 6 kali.
2. Mengalami keadaan syok selama operasi.
3. Operasi berlangsung lama sehingga membutuhkan tambahan obat anestesi umum.
3.7 Informed consent
Setelah mendapat persetujuan dari Komite Etik, penderita mendapatkan penjelasan tentang prosedur yang akan dijalani serta menyatakan secara tertulis kesediaannya dalam lembar informed consent.
3.8 Cara kerja
1. Setelah mendapat informed consent dan disetujui komite etik semua sampel dinilai ulang.
2. Populasi yang dijadikan sampel dibagi secara random menjadi 2 kelompok, A dan B.
3. Tiap pasien dipersiapkan untuk dilakukan tindakan spinal anestesia dengan pemasangan IV line abbocath 18 G dengan pemberian cairan infus RL 1000cc.
4. Pasien dipastikan dalam keadaan normovolemik dengan melakukan tilt test.
5. Kelompok A dipersiapkan untuk dilakukan tindakan spinal anestesia dengan jarum spinal 27G Quincke. Disuntikkan dengan posisi duduk dan dengan posisi bevel paralel dengan sagital plane untuk mencegah robekan dura yang lebih besar.
6. Kelompok B dipersiapkan untuk dilakukan tindakan spinal anestesia dengan jarum spinal 27G Whitacre. Disuntikkan dengan posisi duduk.
7. Dicatat waktu tusukan, jumlah berapa kali usaha tusukan untuk tercapai CSF.
8. 6 jam setelah tusukan, pasien yang dirawat di ruangan diperiksa oleh peneliti yang tidak mengetahui penggunaan jarum yang dipakai untuk pasien ini dan mencatat ada atau tidaknya kejadian PDPH serta tingkat keparahan PDPH.
9. 24 jam setelah tusukan, pasien yang dirawat di ruangan diperiksa oleh peneliti yang tidak mengetahui penggunaan jarum yang dipakai untuk pasien ini dan mencatat ada atau tidaknya kejadian PDPH serta tingkat keparahan PDPH.
10. 48 jam setelah tusukan, pasien yang dirawat di ruangan diperiksa oleh peneliti yang tidak mengetahui penggunaan jarum yang dipakai untuk pasien ini dan mencatat ada atau tidaknya kejadian PDPH serta tingkat keparahan PDPH.
11. 72 jam setelah tusukan, pasien yang dirawat di ruangan diperiksa oleh peneliti yang tidak mengetahui penggunaan jarum yang dipakai untuk pasien ini dan mencatat ada atau tidaknya kejadian PDPH serta tingkat keparahan PDPH.
3.9 Alur Penelitian
Populasi
Inklusi Eksklusi
Sampel
Randomisa
Kelompok A 27G Quincke
Kelompok B 27G Quincke
Dilakukan pencatatan hemodinamik, waktu tusukan dan jumlah
Penilaian PDPH 6 jam paska spinal
Penilaian PDPH 24 jam paska spinal
Penilaian PDPH 48 jam paska spinal
Penilaian PDPH 72 jam paska spinal Analisa
Data Penelitian Gambar 4. Alur Penelitian
3.10 Identifikasi Variabel 3.10.1 Variabel Bebas
a. Jarum spinal Quincke 27G b. Jarum spinal Whitacre 27G 3.10.2 Variable Tergantung
a. Insidensi PDPH
PDPH adalah sakit kepala yang timbul bila pasien disuruh duduk dan berdiri, dan akan hilang atau berkurang bila pasien berbaring terlentang.
b. Keparahan PDPH
Keparahan PDPH dinilai dengan metode Shaik dkk, membaginya menjadi 3 tingkat, Ringan, tidak ada gangguan dalam aktivitas dan tidak dibutuhkan penanganan Sedang, terjadi gangguan dalam aktivitas dan dibutuhkan analgesia regular dan Berat, pasien hanya dapat berbaring ditempat tidur dan mengalami anoreksia.
3.11 Rencana Manajemen dan Analisa Data
a. Data yang terkumpul dianalisa dengan program software SPSS versi 17.
b. Untuk menentukan peranan tipe jarum spinal dalam menyebabkan PDPH dilakukan dengan uji Chi-square
c. Pengujian kenormalan data dilakukan dengan Kolmogorov-Smirnov.
d. Untuk menentukan perbandingan insidensi PDPH digunakan uji t-independent pada distribusi data yang normal, dan bila distribusinya tidak normal digunakan Mann-Whitney.
e. Batas kemaknaan yang ditetapkan 5%
f. Interval kepercayaan yang dipakai 95%
3.12 Definisi Operasional
a. Anestesi spinal adalah tehnik anestesi dengan memasukkan obat anestesi dengan bantuan jarum spinal ke dalam ruang CSF dengan harapan terjadi blockade sensorik/nyeri dan motorik/gerak pada daerah pusat ke bawah.
b. Bevel adalah ujung jarum spinal
c. Jarum spinal Quincke 27G adalah jarum spinal dengan ujung jarum memotong (cutting) dimana yang dipakai pada penelitian ini adalah jarum spinal Spinocan 27G
d. Jarum spinal Whitacre 27G adalah jarum spinal denga ujung jarum tumpul (pecil point) dimana yang dipakai pada penelitian ini adalah jarum spinal Pencan 27G
e. MAP adalah nilai tekanan darah sistol ditambah 2 kali nilai tekanan darah diastole kemudian dibagi 3.
f. Nyeri PDPH berat adalah nyeri kepala dimana pasien tidak dapat beranjak dari tempat tidurnya dan hanya dapat tidur telentang dan anoreksia dijumpai
g. Nyeri PDPH ringan adalah nyeri kepala tanpa gangguan aktivitas dan tidak diperlukan penanganan
h. Nyeri PDPH sedang adalah nyeri kepala dengan adanya batasan aktivitas dan dibutuhkan tambahan obat untuk nyeri kepalanya
i. PDPH (Post Puncture Dural Headache) adalah perasaan nyeri kepala yang parah dan memberat bila pasien berubah posisi dan hilang bila pasien dalam posisi tidur
j. Tilt Test adalah tes hidrasi dengan mengukur tekanan darah saat terlentang mendatar dan kemudian mengukur tekanan darah pasien setelah diposisikan tidur terlentang dengan posisi head up dan sudut 40
– 50 selama 10 menit. Bila terjadi perbedaan MAP lebih dari 10, maka dinyatakan Tilt Test positif dan pasien masih belum terhidrasi dengan cukup.
3.13 Masalah Etika
a. Pasien sebelumnya diberi penjelasan tentang tujuan, manfaat serta resiko dan hal yang terkait dengan penelitian. Kemudian diminta mengisi formulir kesediaan menjadi subjek penelitian.
b. Sebelum anestesi dan proses penelitian dimulai dipersiapkan alat kegawatdaruratan (oro/nasopharyngeal airway, ambu bag, sumber oksigen, laringoskop, endotracheal tube ukuran pasien, suction set), monitor (pulse oximetry, tekanan darah, EKG, laju jantung), obat emergensi (efedrin, adrenalin, sulfas atropin, lidokain, aminofilin, deksametason).
c. Jika terjadi hipotensi akibat tindakan spinal, akan diatasi dengan pemberian efedrin, sebuah vasokonstriktor seperlunya.
d. Bila terjadi kegawatdaruratan jalan nafas, jantung, paru dan otak selama anestesi dan proses penelitian berlangsung, maka langsung dilakukan antisipasi dan penanganan sesuai dengan teknik, alat dan obat standar seperti yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
e. Bila terjadi PDPH berat yang sangat mengganggu, maka akan diberikan cairan dekstran 5% 500 cc melalui infus, kemudian obat-obat analgesia seperti parasetamol. Bila diperlukan maka akan dilakukan kompresi abdomen dengan pemakaian korset. Apabila hal ini juga tidak dapat membantu, maka akan dilakukan tindakan Epidural Blood Patch, dengan memberikan 15 cc darah autologous pasien sendiri.
BAB 4
4 HASIL PENELITIAN
Penelitian dilakukan selama 1 bulan dari awal sampai akhir bulan November 2010, dan diperoleh 100 pasien yang bersedia mengikuti penelitian dengan status fisik ASA 1 dan 2 yang menjalani operasi dengan spinal anestesia sesuai dengan prosedur penelitian. Dari 100 pasien yang menjadi subjek penelitian dibagi secara random dalam 2 kelompok dengan menggunakan dua tipe jarum spinal yang berbeda, yakni kelompok A 50 orang dengan jarum spinal Whitacre 27G dan kelompok B 50 orang dengan jarum spinal Quincke 27G.
4.1 Karakteristik Umum Subjek Penelitian
Karakteristik umum subjek penelitian berupa umur, jenis kelamin. Sebaran data karakteristik tersebut terlihat pada tabel (4.1-1)
Tabel 4.1-1. Data Demografi Umur Subjek Penelitian
Jenis Jarum n Mean Std. Deviation p Whitacre 50 44.34 12.145
Umur
Quincke 50 40.60 12.304 0.129*
*uji t-independent tes
Umur pasien yang menjadi subjek pada kedua kelompok dari yang paling muda usia 20 tahun dan tertua usia 65 tahun dengan rerata 44.34 pada kelompok Whitacre dan 40.60 pada kelompok Quincke dengan uji T independent test didapat nilai p = 0.129 berarti tidak ada perbedaan yang bermakna pada kedua kelompok.
Sedang penyebaran demografi subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin bisa dilihat pada tabel (4.1-2) di bawah ini
Tabel 4.1-2. Data Demografi Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Whitacre Quincke Total p Pria 33 (66%) 33 (66%) 66 (66%)
Wanita 17 (34%) 17 (34%) 34 (34%) 1.000*
*uji Chi square
Jenis kelamin pada kelompok Whitacre 33 pria dan 17 wanita, dengan pada kelompok Quincke 33 pria dan 17 wanita dengan uji Chi square didapat nilai p=1.000, berarti tidak ada perbedaan jenis kelamin antara kedua kelompok data.
4.2 Physical status ASA
Karakteristik PS-ASA pada penelitian ini terlihat pada tabel (4.2-1) dibawah ini.
Tabel 4.2-1. Data demografi PS-ASA
PS ASA
Whitacre Quincke Total p 1 23 (46%) 28 (56%) 51 (51%)
2 27 (54%) 22 (44%) 49 (49%) 0.424*
*uji Chi square
Physical status ASA (PS ASA) pada kedua kelompok ini adalah 1 dan 2, dimana pada pasien PS ASA 1 berjumlah 51 orang dan pasien PS ASA 2 49 orang.
Dari analisa dengan uji Chi square untuk PS ASA terhadap kedua kelompok, didapat p=0.424, berarti tidak ada perbedaan PS ASA antara kedua kelompok data.
4.3 Jenis operasi pada kedua kelompok penelitian
Karakteristik jenis operasi yang dilaksanakan pada subjek penelitian ini yaitu bedah ortopedi, obstetrik, urologi, digestif. Dimana data demografinya dapat dilihat pada tabel (4.3-1) berikut ini
Tabel 4.3-1. Jenis operasi antar kedua kelompok
Jenis operasi Whitacre Quincke Total p Urologi 23(46%) 15(30%) 38(38%)
Pada penelitian ini jenis operasi urologi paling banyak dijumpai pada kedua kelompok yakni 38 orang (38%), kemudian ortopedi 32(32%), digestif 25 (25%) dan jenis operasi paling sedikit obstetrik 5 (5%). Setelah dianalisa dengan uji Chi square di dapat hasil p=0.65, dengan arti tidak ada perbedaan yang signifikan tetrhadap jenis operasi antar kedua grup.
4.4 Banyak usaha tusukan
Banyaknya usaha tusukan untuk masuk ke rongga sub-araknoid dengan tanda dijumpainya tetesan CSF melalui jarum spinal dapat dilihat melalui tabel di bawah ini.
Tabel 4.4-1. Banyak Usaha tusukan
UsahaTusukan Whitacre Quincke Total p
1 kali tusukan 27 33 60
2 kali tusukan 15 10 25
3 kali tusukan 7 5 12
4 kali tusukan 1 2 3
0.519*
*uji Chi-square
Dari hasil penelitian didapat bahwa ada 33 pasien kelompok Quincke yang hanya membutuhkan 1 tusukan, dan 27 pasien kelompok Whitacre dengan 1 tusukan.
15 pasien membutuhkan 2 tusukan untuk kelompok Whitacre dan 10 pasien untuk kelompok Quincke. 7 pasien membutuhkan 3 tusukan pada kelompok Whitacre dan 5 pasien untuk kelompok Quincke. 1 pasien dari kelompok Whitacre membutuhkan 4 tusukan dan 2 pasien pada kelompok Quincke. Dari analisa tes uji Chi square didapat p=0.519, dengan arti bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna terhadap usaha tusukan antara kedua kelompok jarum.
Gambaran demografis banyaknya tusukan pada dua kelompok ini dapat lebih jelasnya dilihat pada grafik di bawah ini.
Grafik 4.4-1. Banyaknya usaha tusukan
4.5 Insidensi PDPH
Jumlah pasien yang mengalami kejadian PDPH dalam kurun waktu pemantauan penelitian ini dapat dilihat dari table-tabel di bawah ini.
4.5.1 Insidensi PDPH selama observasi Tabel 4.5-1. Insidensi Kejadian PDPH
Insidensi
PDPH Whitacre Quincke Total p
Negatif 49 (98%) 45 (90%) 94 (94%)
Positif 1 (2%) 5 (10%) 6 (6%) 0.204*
*uji Chi square
Pada tabel ini adalah data insidensi PDPH yang terjadi dalam kurun waktu penelitian (3 hari). Didapat hasil pada penelitian ini hanya 1 (2%) pasien pada kelompok Whitacre yang mengalami PDPH, sementara pada kelompok Quincke terdapat 5 (10%) pasien mengalami PDPH. Dari analisa tes Chi square didapat hasil p=0.204, berarti tidak ada perbedaan bermakna insidensi PDPH antara kedua kelompok ini.
Untuk lebih jelasnya gambaran insidensi PDPH antar jarum Whitacre dan Quincke ini dapat dilihat dari grafik (4.5-1) di bawah ini.
Grafik 4.5-1. Insidensi PDPH antara Jarum Whitacre dan Quincke
Tampak walaupun kejadian PDPH lebih banyak terjadi pada pasien kelompok Quincke, 5 org (10%) dan hanya 1 org (2 %) pasien dalam kelompok Whitacre yang mengalami PDPH, tapi dari perbandingan statistik, tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna.
Jumlah kejadian PDPH dibagi menjadi 4 rentang waktu observasi, yakni 6 jam, 24 jam, 48 jam dan 72 jam paska spinal anestesia. Didapat hasil-hasil sebagai berikut.
4.5.2 Insidensi PDPH 6 jam paska spinal Tabel 4.5-2. Insidensi PDPH 6 jam paska spinal
Insidensi
PDPH 6 jam Whitacre Quincke Total p Negatif 50 (100%) 49 (98%) 99
Positif 0 1 (2%) 1 1.000*
*uji Chi square
Dari hasil di atas dilakukan uji Chi square didapat hasil p=1.000, sehingga tidak ada perbedaan bermakna yang signifikan terhadap insidensi PDPH 6 jam paska spinal pada kedua kelompok ini.
4.5.3 Insidensi PDPH 24 jam paska spinal Tabel 4.5-3. Insidensi PDPH 24 jam paska spinal
Insidensi
PDPH 24 jam Whitacre Quincke Total p Negatif 50 (100%) 49 (98%) 99
Positif 0 1 (2%) 1 1.000*
*uji Chi square
Dari hasil di atas dilakukan uji Chi square didapat hasil p=1.000, sehingga tidak ada perbedaan bermakna yang signifikan terhadap insidensi PDPH 24 jam paska spinal pada kedua kelompok ini.
4.5.4 Insidensi PDPH 48 jam paska spinal Tabel 4.5-4. Insidensi PDPH 48 paska spinal
Insidensi
PDPH 48 jam Whitacre Quincke Total p Negatif 49 (98%) 45 (90%) 94
Positif 1 (2%) 5 (10%) 6 0.204*
*uji Chi square
Dari hasil di atas dilakukan uji Chi square didapat hasil p=0.204, sehingga tidak ada perbedaan bermakna yang signifikan terhadap insidensi PDPH 48 jam paska spinal pada kedua kelompok ini.
4.5.5 Insidensi PDPH 72 jam paska spinal
Tabel 4.5-5. Insidensi PDPH 72 jam paska spinal
Insidensi
PDPH 72 jam Whitacre Quincke Total p Negatif 50 (100%) 48 (96%) 98
Positif 0 2 (4%) 2 0.495*
*uji Chi square
Dari hasil di atas dilakukan uji Chi square didapat hasil p=0.495, sehingga tidak ada perbedaan bermakna yang signifikan terhadap insidensi PDPH 72 jam paska spinal pada kedua kelompok ini.
4.6 Keparahan PDPH
Keparahan dari kejadian PDPH selama pemantauan 6 jam paska, spinal, 24 jam, 48 jam dan 72 jam dapat dilihat dari tabel-tabel berikut ini.
4.6.1 Keparahan PDPH 6 jam paska spinal Tabel 4.6-1. Keparahan PDPH 6 jam paska spinal
Keparahan
Dari data di atas dilakukan uji Chi square dengan hasil p=1.000, berarti tidak ada perbedaan yang bermakna terhadap keparahan PDPH yang terjadi pada kedua kelompok jarum 6 jam paska spinal.
4.6.2 Keparahan PDPH 24 jam paska spinal Tabel 4.6-2. Keparahan PDPH 24 jam paska spinal
Keparahan
Dari data di atas dilakukan uji Chi square dengan hasil p=0.495, berarti tidak ada perbedaan yang bermakna terhadap keparahan PDPH yang terjadi pada kedua kelompok jarum 24 jam paska spinal.
4.6.3 Keparahan PDPH 48 jam paska spinal Tabel 4.6-3. Keparahan PDPH 48 jam paska spinal
Keparahan
Dari data di atas dilakukan uji Chi square dengan hasil p=0.131, berarti tidak ada perbedaan yang bermakna terhadap keparahan PDPH yang terjadi pada kedua kelompok jarum 48 jam paska spinal.
4.6.4 Keparahan PDPH 72 jam paska spinal Tabel 4.6-4. Keparahan PDPH 72 jam paska spinal
Keparahan
Dari data di atas dilakukan uji Chi square dengan hasil p=0.495, berarti tidak ada perbedaan yang bermakna terhadap keparahan PDPH yang terjadi pada kedua kelompok jarum.
4.7 Hubungan insidensi PDPH dengan banyaknya tusukan
Dalam penelitian dilakukan analisa data terhadap banyaknya tusukan dengan insiden kejadian PDPH, yang bisa dilihat dari tabel data di bawah ini.
Tabel 4.7-1. Hubungan banyak tusukan dengan PDPH Insidensi PDPH Banyak Usaha
Tusukan Negatif Positif
Total
p
1 kali tusukan 57 3 60
2 kali tusukan 23 2 25
3 kali tusukan 12 0 12
4 kali tusukan 2 1 3
0.170*
*uji Chi square
Dari data di atas dilakukan analisa dengan tes uji Chi square dan didapatkan hasil p=0.170, berarti tidak ada hubungan kejadian PDPH dengan banyaknya usaha tusukan spinal.
Untuk lebih jelasnya gambaran hubungan banyaknya tusukan dengan insidensi PDPH ini dapat dilihat melalui grafik (4.7-1) di bawah ini.
Grafik 4.7-1. Hubungan banyak tusukan dan insidensi PDPH
BAB 5
5 PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum
Dari data umum karakteristik sampel terlihat bahw umur, jenis kelamin, PS ASA dan jenis operasi antara kedua kelompok tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik, sehingga sampel yang diambil relative homogen dan layak untuk dibandingkan.
5.2 Banyak Usaha Tusukan
Banyaknya usaha tusukan diperhitungkan karena tingkat kesukaran dalam penggunaan jarum Whitacre diperkirakan sedikit lebih sulit dibandingkan penggunaan jarum Quincke yang sudah lazim dipakai.
Dari penelitian Lynch dkk, menggunakan jarum spinal 27G Quincke dan 27G Whitacre pada pasien-pasien ortopedik dengan spinal anestesi, menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna terhadap kegagalan tindakan anestesi dengan 27G Quincke 8.5% dan 27G Whitacre 5.5%.14
Pada penelitian ini dilakukan pengamatan berapa kali usaha tusukan dilakukan dalam upaya mencapai ruang sub-arakhnoid dengan tipe jarum Quincke dan Whitacre. Dimana yang melakukan tusukan ini adalah dokter-dokter PPDS anestesi dengan pengalaman tindakan spinal anestesi minimal 6 bulan (pertengahan semester 2). Dari hasil penelitian ini didapatkan p=0.519 melalui uji Chi square dengan makna tidak ada perbedaan yang bermakna terhadap usaha tusukan antar kedua jarum.
Sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa walau penggunaan jarum Whitacre sedikit lebih sulit, tetapi tingkat kesulitan dalam penggunaannya tidak jauh berbeda dengan jarum Quincke secara statistik.
5.3 Insidensi PDPH
Keluhan PDPH diduga merupakan akibat dari hilangnya cairan cerebrospinal ke dalam ruang epidural. Hal ini disebabkan terjadinya robekan akibat penggunaan jarum spinal. Diperkirakan besar dan tipe jarum antara cutting point dengan pencil point dapat mengurangi insidensi PDPH yang timbul.
Dari penelitian Lynch dkk, menggunakan jarum spinal 27G Quincke dan 27G Whitacre pada pasien-pasien ortopedik dengan spinal anestesi, menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna antara kedua tipe jarum dengan 27G Quincke 1.1%
dan 27G Whitacre 0.5%.14 Sebaliknya, pada penelitian Ripul dkk, yang membandingkan insidensi PDPH antara jarum 25G Quincke dengan 25G Whitacre pada pasien-pasien obstetrik, menemukan bahwa ada perbedaan yang bermakna terhadap kejadian insidensi PDPH antara jarum 25G Quincke (9%) dan 25G Whitacre (1%).12 Begitu juga dengan penelitian Irawan dkk dan Shah dkk yang meneliti insidensi PDPH pada pasien paska seksio caesarea dengan 3 jarum spinal, yakni 25G Quincke, 27G Quincke dan 27G pencil point, didapatkan ada hubungan bermakna insidensi PDPH dengan tipe jarum yang digunakan, dimana jarum Whitacre 27G memiliki insidensi yang lebih kecil dibandingkan jarum 25G dan 27G Quincke.
Pada penelitian ini hanya 1 (2%) pasien pada kelompok Whitacre yang
Pada penelitian ini hanya 1 (2%) pasien pada kelompok Whitacre yang