BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
1. Saran Bagi Anak Pendeta pada Masa Remaja
a. Anak pendeta pada masa remaja sebaiknya lebih banyak melakukan eksplorasi terhadap berbagai peran bermakna dan mengambil sebuah komitmen untuk mencapai suatu identitas
b. Anak pendeta pada masa remaja sebaiknya memiliki persepsi mengenai perannya sebagai anak pendeta seperti anak yang lain pada umumnya, karena hal ini sangat membantu anak pendeta dalam mengeksplorasi untuk mencari identitas.
c. Anak pendeta pada masa remaja disarankan untuk lebih memperhatikan faktor-faktor yang turut menentukan pembentukan identitas.
2. Saran Bagi Penelitian Selanjutnya
a. Penelitian mengenai identitas diri merupakan penelitian yang masih jarang dilakukan di Indonesia, oleh karena itu peneliti memberi saran agar peneliti lain melakukan penelitian yang serupa dengan subjek yang berbeda
b. Peneliti mengharapkan dilakukannya penelitian lain yang menggunakan metode yang berbeda (metode penelitian kuantitatif), sehingga dapat saling melengkapi.
141
Agussyafii.2006.http://www.mailarchive.com/[email protected]/msg022 80.html
Archer, S.L., & Waterman, A.S. 1994. Adolescent identity development: contextual perspective. Dalam Santrock, J.W. 1995. Life-Span Development. Perkembangan Masa Hidup. Edisi kelima. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Archer, S.L. 1989. The status of identity: reflection on the need for intervention. Dalam Santrock, J.W. 1995. Life-Span Development. Perkembangan Masa Hidup. Edisi kelima. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Baron, A Robert., Byrne Donn. 2005. Psikologi Sosial. Edisi 10. jilid 2. jakarta: Erlangga.
Barzilai,Kathryn.http://www.case.edu/med/epidbio/mphp439/Organizational_The ory.htm
Berk, Laura E. 2006. Child Development. 7th ed. Unites States of America: Pearson Education, Inc.
Bernard, H.S.1981.Identity Formation in Late Adolescene. Dalam Santrock, J.W. 1995. Life-Span Development. Perkembangan Masa Hidup. Edisi kelima. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Buss, Arnold H. 1995. Personality. Temperament Social Behavior & The Self. Austin: The University of Texas.
Cremers, A(Terj). 1989.Identitas dan Siklus Hidup Manusia. Jakarta: Gramedia. Creswell. 1998. Qualitative Inquiry and Research Design Chrosing Among Five
Traditions. Sage Publications.
Cakir S. Gulfem ., & Aydin Gul .2005.Parental attitudes and ego identity status of Turkish adolescents. www.findarticle.org
Chaplin, J.P. 2004.Kamus Lengkap Psikologi.Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Danim, S. 2002.Menjadi Peneliti kualitatif. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Enright. R.D., dkk.1980. Parental influence on the development of adolescence autonomy and identity. Dalam Santrock, J.W. 1995. Life-Span Development. Perkembangan Masa Hidup. Edisi kelima. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
G.R Adams., dkk. 19 8 4 .Ego identity status, conformity behavior, and personality in late adolescence. http://www.findarticles.com/p/articles/
Giligan, C. 1990. Teaching Shakespeare s sister. Dalam Santrock, J.W. 1995. Life-Span Development. Perkembangan Masa Hidup. Edisi kelima. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Hall, C.S.,& Lindzey Gardner.1993. Teori-teori Psikodinamik (Klinis). Psikologi Kepribadian 1. Yogyakarta: Kanisius.
Hurlock,B.E. 1991. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi ke-5. Jakarta: Erlangga.
Mappiare, Andi. 1982.Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.
Marcia, J.E. 1993. Ego Identity, A Handbook for Psyhosocial Research. New York: Springer-Verlag
Marcia, J.E. 1980. Ego identity development. Dalam Santrock, J.W. 1995. Life-Span Development. Perkembangan Masa Hidup. Edisi kelima. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Meeus, Wim. 1993.Occupational identity development, school performance, and social support in adolescence: findings of a Dutch study. http://www.findingarticles.com.
Poerwandari, Kristi. 2005. Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia. Jakarta: LPSP3 UI
Rumpak, Nazarius. http://www.persetia.org/nr-dewasa.htm.
Santrock, J.W. 1995. Life-Span Development. Perkembangan Masa Hidup. Edisi kelima. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Santrock, J.W. 2003. Adolescence Perkembangan Remaja. Jakarta: Erlangga. Schutz, Duane., Schutz, Sydney Ellen. 2003. Theories of Personality. ed 6th.
USA: Brooks/ Cole Publishing Company.
Soleiman, Yusak. 2005. http://ysoleiman.blogspot.com/2005/03/penatua-dalam-tradisi-calvinis.html.
Yates, Miranda., & Youniss, James. 1998. Community service and political identity development in adolescence. www.findarticles.com.
http://www.anthro.wayne.edu/ant2100/GlossaryCultAnt.htm http://homepages.gac.edu/~dick/classes/develop/rtf/self-adol.rtf. http://www.nevadaworkforce.com/
Lampiran 2. HTS1,020807 Subjek 1 Tes Grafis 02 Agustus 2007 BAUM Deskripsi Interpretasi 1. Kesan Umum a. Kesan awal
Gambar tampak hidup
b. Ukuran gambar Sedang
c. Penempatan/ lokasi Kanan
menggambar dengan posisi kertas horisontal (berlawanan)
d. Kualitas garis
Tekanan garis yang lemah
Sering muncul garis yang putus-putus
e. Lain-lain
penghapusan yang terlalu banyak
Urutan menggambar wajar atau normal
- Dinamis
- Memiliki penyesuaian diri yang baik
- normal
- menekankan pada kehidupan yang akan datang - kepribadian yang ekstravert
- memiliki kestabilan, menekankan realitas, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, kecenderungan suka memberontak, suka melawan
- kecenderungan suka melawan, memberontak
- kemungkinan adanya rasa ragu-ragu atau kurang bersemangat
- sikap ragu-ragu
- menunjukkan adanya keinginan aktivitas yang tak terkendali
- ketidakmampuan memutuskan sesuatu - ketidakpuasan diri
- Keteraturan dalam proses berpikir - Kontak yang sesuai dengan realitas
1. Aspek Intelektual dan Aspirasi
Subjek dalam aspek intelektual dan aspirasi diindikasikan merupakan orang yang dinamis hal ini bisa dikarenakan subjek memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan hal ini sangat didukung oleh keteraturan dalam proses berpikir yang dimiliki subjek. kedinamisan yang dimiliki subjek terkadang membuat subjek memiliki keinginan untuk melakukan aktivitas yang tak terkendali. Subjek merupakan orang yang memiliki 2. Bagian-bagian a. Akar tidak digambar b. Stembasis melebar kekanan c. Batang ujungnya terbuka d. Dahan
Dahan yang makin mengecil
e. Mahkota
Seperti awan/ berombak
- normal
- perasaan segan atau takut terhadap kekuasaan - mudah merasa tidak percaya (curiga)
- hambatan di dalam kerja sama - sangat otoritas
- ragu-ragu - kepala batu
- serba ingin tahu - tidak terang tujuannya
- tidak dapat memutuskan sesuatu - tidak mau mengikat diri
- daya cipta kurang - mudah marah - kurang stabil - sugestibel
- mempunyai kemampuan sinkronisasikan masa lalu dengan yang akan datang
- mudah menyesuaikan diri pada lingkungan
- cenderung menutup diri tetapi mempunyai suasana hati yang hidup
- menyenangkan - lemah
kestabilan dan menekankan realitas meskipun subjek adalah orang yang dinamis. Selain itu subjek diindikasikan cenderung ragu-ragu atau kurang bersemangat dan hal ini membuat subjek terkadang cenderung kurang mampu atau sukar untuk memutuskan sesuatu sehingga subjek terkadang terlihat tidak memiliki tujuan. Subjek berdasarkan hasil tes juga diduga kurang memiliki daya cipta.
2. Aspek Emosi
Dalam aspek emosi diindikasikan subjek merupakan orang yang menyenangkan dan mempunyai suasana hati yang hidup namun subjek cenderung menutup diri dan adakalanya mudah marah, hal ini dikarenakan subjek cenderung kurang stabil dan mudah terpengaruh atau sugestibel terhadap lingkungan disekitarnya. Subjek juga diindikasikan mudah merasa tidak percaya atau curiga. Perasaan curiga atau tidak mudah percaya pada orang dan sifat kepala batu yang dimiliki subjek cenderung membuat subjek sangat otoritas. Subjek terkadang merasa kurang puas terhadap dirinya. Selain itu subjek juga cenderung memiliki perasaan segan atau takut terhadap kekuasaan, namun adakalanya subjek cenderung memberontak atau suka melawan.
3. Aspek Relasi Sosial
Subjek dalam relasi sosialnya cenderung memiliki kepribadian yang ekstravert, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan subjek cenderung mudah untuk bergaul, dan cenderung menyenangkan, namun adakalanya subjek menjadi orang yang tertutup meskipun subjek memiliki suasana hati yang hidup. Subjek diindikasikan kurang mampu untuk bekerjasama dengan orang lain meskipun subjek memiliki kepribadian yang ekstravert, hal ini dikarenakan subjek cenderung tidak mau tergantung atau mengikat diri pada orang lain, selain itu juga dikarenakan sifat subjek yang mudah curiga atau mudah merasa tidak
percaya. Subjek dalam lingkungannya cenderung mudah terpengaruh atau sugestibel. DAP Deskripsi Interpretasi 1. Kesan Umum a. Kesan awal
Gambar terkesan memiliki gerakan yang terkontrol sehingga tampak kaku Usia gambar lebih muda dari usia subjek b. Ukuran gambar Gambar kecil c. Lokasi Di atas Cenderung ke kiri
- Individu yang konflik
- Fiksasi emosional pada usia yang digambarkan atau keinginan untuk kembali kemasa kanak-kanak
- Subjek merasa kecil sehingga dalam menghadapi tantangan kurang berani, represi, kurang bersemangat, adanya rasa inferior, rasa tdak mampu
- Orang dewasa
- Kurang kuat pegangan, kurang mantap
- Berfantasi untuk nampak kuat - Mungkin takabur terhadap kerjanya - Memandang rendah terhadap orang
lain
- Tendensi kurang yakin akan dirinya - Dikuasai emosi
- Menekankan masa lalu - Tendensi impulsif - Self oriented
- Depresi tapi banyak frustasi - Introvert
- Banyak dikendalikan ketidaksadaran
d. Kualitas garis
Tekanan garis yang berubah-ubah
Garis tipis, patah dan tidak tetap
e. Lain-lain
Penghapusan yang terlalu banyak
Urutan menggambar wajar atau normal
Garis batas
2. Bagian-bagian a. Kepala
Kepala agak besar
b. Rambut
Rambut tanpa tekanan Penempatan rambut yang tepat
c. Wajah
Ekspresi wajah yang tersenyum
Wajah yang kekank-kanakan
d. Alis
Alis tebal
- Tidak stabil, impulsif, mudah frustasi
- Ketakutan, tidak aman - Tidak pasti
- Ketidakmampuan memutuskan sesuatu
- Ketidakpuasan diri
- Keteraturan dalam proses berpikir - Kontak yang sesuai dengan realitas - Merasa tidak aman
- Penekanan pada fantasi
- Terlalu membanggaan intelektual - Adanya kemungkinan gangguan
organis (sakit kepala, kerusakan otak, kemunduran)
- Tidak pasti
- Tekanan atau tuntutan kejantanan
- Menunjukkan sikap subjek terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain tentang dirinya
- Tingkah laku sosial yang kekanak-kanakan
e. Mata
Mata berbentuk bulatan
Penekanan pada bintik hitam mata
Bulu mata yang panjang
f. Mulut
Mulut yang mengarah ke atas g. Telinga Kurang penekanan h. Dagu Melebih-lebihkan dagu i. Leher
Leher pendek padat
j. Pundak
Pundak yang sempit atau kecil
k. Lengan
Dilipat ke belakang
Lengan kecil dan tipis
- Egosentris
- Tidak masak: regresi
- Menunjukkan angan-angan/ cita-citanya
- Genit/ bersifat menarik perhatian - Suka membujuk
- Suka memamerkan diri
- Memaksakan diri, berpura-pura sebagai kompensasi perasaan yang bisa menerima
- Tendensi suka menunjukkan senyum
- Penolakan terhadap kritik - Menolak pendapat orang lain
- Kompensasi dari perasaan tidak mampu
- Tidak dapat mengambil keputusan
- Sifat memanjakan diri
- Perwujudan dorongan yang tidak terkendali
- Perasaan inferior atau kurang mampu
- Mencoba mencari kompensasi
- Menolak dunia luar karena rasa curiga dan bermusuhan
- Kontrol yang kaku terhadap impuls (dorongan-dorongannya)
- Merasa lemah dan sia-siat atau tidak berguna
l. Tangan
Tangan dihilangkan
Tangan yang dibelakang
Tangan yang disembunyikan
m. Pinggang
Pinggang ditekankan
Pinggang dengan garis tebal n. Paha
Paha yang pendek
o. Kaki
Kaki kecil
Kaki ditonjolkan memakai sepatu
p. Lain-lain
Pakaian digambar
Kancing di dada baju bagian atas
- Perasaan tidak pasti dalam kontak sosial
- Perasaan tidak mampu - Permusuhan dan seksual - Guilty feeling dari sikap agresif - Menolak atau ketidaksediaan
berhubunan dengan sosial
- Ingin berhubungan dengan sosial tetapi merasa kurang mampu, inferior, takut
- Kesukaran dalam hubungan interpersonal
- Kecenderungan homoseksual yang mungkin ditekan
- Kontrol yang berlebihan
- Kemungkinan kurang masak atau infantil
- Kesadaran seks
- Merasa kurang lincah atau kurang mampu
- Tertekan
- Kontrol kaku terhadap seksualitas - Ketergantungan pada orang lain - Tendensi infantil
- Normal
- Kekurangan afeksional - Ketergantungan
- Kemungkinan identifikasi dengan ibu
Saku baju - Deprifasi afeksi
- Ketergantungan terhadap sikap keibuan
1. Aspek Intelektual dan Aspirasi
Subjek dalam aspek ini diindikasikan memiliki keteraturan dalam proses berpikir dan juga memiliki kontak yang sesuai dengan realitas, namun adakalanya subjek menekankan pada fantasi dan cenderung menunjukkan angan-angan atau cita-citanya. Subjek diindikasikan juga memiliki perasaan inferior, adanya perasaan kurang yakin akan dirinya, kurang mantap, merasa lemah sehingga subjek terkadang merasa kurang mampu, merasa sia-sia dan tak berguna, tidak pasti, menjadi kurang bersemangat, dan kurang dapat mengambil keputusan. Subjek terkadang mencari kompensasi untuk menutupi perasaan tidak mampu tersebut. Kompensasi yang dilakukan oleh subjek antara lain cenderung memaksakan diri, suka memamerkan diri, berusaha tampak kuat, menolak kritikan, dan membanggakan intelektual. Subjek memiliki kecenderung takabur terhadap kerjanya karena subjek merasa tidak mampu untuk mencapai hasil.
2. Aspek Emosi
Dalam aspek emosi, subjek diduga dikuasai oleh emosi, dan cenderung impulsif, ada kecenderungan tidak stabil dalam emosinya, dan cenderung depresi tetapi banyak frustasi. Subjek terkadang memiliki kontrol terhadap impuls untuk mengatasi sifat subjek yang impulsif namun kontrol tersebut cenderung kaku. Emosi subjek cenderung kurang masak, adanya fiksasi emosional atau keinginan untuk kembali kemasa kanak-kanak sehinggga subjek cenderung egosentris. Selain itu subjek juga cenderung adanya deprivasi afeksi atau kekurangan afeksional. Terkadang subjek memiliki perasaan tidak pasti, tertekan, merasa kurang mampu, lemah, sia-sia dan tidak berguna sehingga menimbulkan perasaan takut,
tidak aman dan cenderung frustasi. Subjek diindikasikan juga memiliki perasaan bersalah (guilty feeling) terhadap sikap agresif.
3. Aspek Konsep Diri
Subjek memiliki konsep diri yang tidak terhambat, atau wajar, ada tendensi untuk menunjukkan senyum, namun adakalanya subjek merupakan individu yang konflik. Konfllik yang dialami subjek ini terkadang membuat subjek merasa kecil, dalam menghadapi tantangan kurang berani, represi, kurang bersemangat, adanya rasa inferior, dan rasa tidak mampu, kurang yakin pada dirinya. Subjek juga memiliki kcenderungan mengidentifikasi ibunya. Subjek merasa bahwa dirinya tidak pasti sehingga subjek kurang mampu untuk membuat sebuah keputusan. Subjek cenderung dikendalikan oleh ketidaksadaran sehingga terkadang membuat subjek takabur terhadap kerjanya. Subjek memiliki tendensi tidak masak, infantil, cenderung regresi, cenderung self oriented, dan tidak stabil. Subjek cenderung memiliki kesadaran terhadap seksualitas, namun hal ini membuat subjek cenderung kaku dalam mengontrol seksualitas. dalam hal konsep diri, subjek diindikasikan memiliki tuntutan dalam kejantanan, hal ini membuat subjek cenderung homoseksual, namun subjek menekan kecenderungan homoseksual tersebut. Dalam tes ini subjek diindikasikan memiliki sifat genit atau suka menarik perhatian, ada kecenderungan suka memamerkan diri, cenderung suka memanjakan diri, dan suka membujuk.
4. Aspek Relasi Sosial
Subjek dalam relasi sosialnya diindikasikan memiliki keinginan untuk berhubungan sosial, namun subjek merasa kurang mampu, inferior, ada perasaan takut sehingga subjek tampak introvert. Subjek diindikasikan juga cenderung menolak dunia luar karena subjek memiliki rasa curiga dan bermusuhan terhadap lingkungan sosialnya sehingga subjek cenderung mengalami kesukaran dalam hubungan interpersonal dan memiliki
perasaan tidak pasti dalam kontak sosial. Rasa curiga, bermusuhan, dan sikap memandang rendah orang lain yang dimiliki oleh subjek sangat memungkinkan subjek cenderung menolak pendapat dari orang lain. Subjek memiliki tingkah laku sosial yang kekanak-kanakan, sehingga subjek cenderung tergantung dengan orang lain terutama dengan ibunya.
HTP Deskripsi Interpretasi 1. Kesan Umum a. Proporsi gambar Gambar proposional b. Posisi
Orang cenderung dekat dengan rumah
Gambar saling berhubungan c. Komposisi
Gambar memiliki komposisi yang baik
d. Penyelesaian gambar
Gambar rumah paling selesai
Gambar orang kurang selesai
2. Bagian-bagian a. Rumah
Rumah bagus
Rumah besar
Rumah tertutup
- Memiliki kecerdasan yang baik - Memiliki peranan yang baik dalam
keluarga
- Terikat atau perlindungan atau lebih dekat dengan ibu
- Daya abstraksi baik
- Memiliki rasio yang baik
- Memiliki perhatian yang lebih pada ibu
- Kurang memperhatikan diri, perhatian terhadap diri kurang
- Ibu berperan dengan baik - Persepsi anak terhadap ibu baik - Peranan ibu sebagai pelindung baik
(bisa melakukan fungsinya secara baik)
b. Pohon
Pohon besar
Pohon jamak
c. Orang Kecil
Melakukan sesuatu yang tak ada hubungannya dengan kegiatan keluarga
- ayah menunjukkan sikap otoriter, menguasai, galak, kurang memberi kesempatan
- Fungsi ayah kabur, tak berharga, tak dipercaya
- dirinya tidak/ kurang berperan dalam keluarga
- merasa kurang dipercaya, kurang diperhatikan, kurang berharga - Tekanan lebih besar pada keadaan di
luar keluarganya (sudah pada tindakan)
1. Aspek Intelektual dan Aspirasi
Subjek dalam aspek intelektual dan aspirasi diindikasikan memiliki kecerdasan yang baik. selain itu subjek juga memiliki daya abstraksi yang baik dan hal ini sangat didukung oleh kemampuan subjek dalam merasio.
2. Aspek Emosi
Pada aspek emosi subjek cenderung merasa kurang dipercaya, kurang diperhatikan, dan kurang berharga. Subjek juga merasakan bahwa lingkungan sekitar subjek cenderung menekan. Subjek memiliki kecenderungan kurang memperhatikan diri, perhatian terhadap diri kurang
3. Aspek Relasi Sosial
Subjek dalam relasi sosial terutama dalam keluarga memiliki peranan yang baik meskipun subjek merasa kurang dipercaya, kurang diperhatikan, dan kurang keluarga. Subjek memiliki persepsi yang baik terhadap ibunya. Bagi subjek, ibu subjek dapat melakukan peranannya dengan baik yaitu dapat menjadi pelindung yang baik sehingga subjek
cenderung terikat atau lebih dekat dengan ibu, namun dalam tes ini subjek diindikasikan merasa kurang diterima oleh ibunya. Persepsi subjek terhadap ayahnya adalah ayah subjek memiliki fungsi yang kabur dan tak dapat dipercaya. Ayah subjek menunjukkan sikap yang otoriter, menguasai, galak, dan kurang memberikan kesempatan.
Lampiran 3. WWCR1,S1,110507
Subjek 1 Wawancara 1 11 Mei 2007
No Verbatim Koding Analisis
1 P: Bagaimana hubungan kamu dengan orangtuamu?
2 S: Baik-baik saja, biasa saja, tapi adakalanya kurang baik kalau pas lagi jengkel gara-gara aku nglakuin kesalahan.
Lbkel Subjek memiliki hubungan yang baik dengan orang tuanya, hubungan baik itu menjadi kurang karena perilaku subjek yang terkadang menjengkelkan orang tuanya
3 P: Kesalahan seperti?
4 S: ya.. masalah kecil, kaya’ mandi kelamaan.
Lbkel Masalah-masalah kecil sehari-hari antara subjek dan orang tuanya yang membuat hubungan subjek dan orang tuanya sedikit renggang 5 P: selain itu...??
6 S: Hmm..masalah pacaran, papaku nda gitu senang. Menurut papi belum saatnya, kebetulan nda seneng sama orangnya, nda tau kenapa. Ada orang lain cerita jelek-jelekin.
Lbkel Masalah antara subjek dan orang tuanya, masalah pacaran
7 P: menurut kamu mama papamu gimana?
8 S: papa lebih keras tegas, disiplin, tapi mama lebih lembut.
Lbkel Karakteristik/ sifat orang tua subjek menurut pandangan subjek
Ayah: keras, tegas, disiplin Ibu : lebih lembut
9 P: selain itu??
10 S: apa ya...sama-sama galak, kolot Lbkel Karakteristik/ sifat orang tua subjek menurut pandangan subjek
kolot 11 P: kalau cara kamu berkomunikasi
dengan pamamu gimana?cara ngobrolnya gitu?
12 S: nda bisa jadi teman, nda bisa curhat kaya teman sekolah, nda bisa kaya temanan gitu. cuma sebatas orang tua dan anak.
Lbkel Komunikasi antara subjek dan orang tuanya kurang baik. Subjek terkesan kurang bebas dalam berkomunikasi dengan orang tuanya. Subjek kurang terbuka dengan orang tuanya 13 P: Bagaimana cara kedua orang tuamu
mendidik kamu?
14 S: ya itu.... orangnya disiplin, keras Lbkel Orang tua subjek mendidik anaknya dengan disiplin, membuat orang tua subjek terkesan galak, tegas terhadap subjek 15 P: kalau dalam mengemukakan
pendapat, misalnya ada masalah, kamu gimana?
16 S: ya dianggap sambil lalu, dianggap masih kecil, belum tahu apa-apa
Lbkel Subjek kurang memiliki kesempatan menyelesaikan masalah
Subjek dianggap oleh orang tuanya masih kecil, belum dewasa
17 P: kalau dalam mengambil keputusan, siapa yang lebih sering memutuskan? Kamu atau orang tua?
18 S: yang menentukan kebanyakan pama. Lbkel Orang tua subjek cenderung otoriter
19 P: bisa kasih contoh nda pas kejadian seperti apa?
20 S: misalnya dalam hal berpakaian, harus sesuai kaya pama (sesuai keinginan pama). Terkadang papa memaksakan kehendak.
Lbkel Contoh kejadian sehari-hari yang menunjukkan sifat dari orang tua subjek
21 P:menurut kamu pakaian yang baik kaya gimana?
22 S: ya yang enak dipakai, nyaman, nda terbuka banget. Takut diomongin orang, termasuk di rumah, jadi sorotan, eh anak pendeta kaya gini-gini...
Faktr Identitas peran seks subjek lebih dikarenakan subjek memiliki ketakutan
dipergunjingkan orang lain Subjek merasa sebagai anak pendeta menjadi sorotan
orang lain 23 P: Pernah berpakaian nyentrik nda?
Yang aneh-aneh gitu.... 24 S: nda berani, nda PD, malu.
25 P: bagaimana sifat kamu menurut pandanganmu?
26 S: ya itu...nda PD, pemalu
27 P: nda PD, pemalu dalam hal apa? 28 S: semua...
29 P: pernah nyoba berdandan, atau pakai baju yang agak terbuka?
30 S: kalau tampil di depan orang berpakaian agak terbuka dandan nda PD, cuma kalau nda berani pake ya dicoba dikamar,di luar dicopot lagi, jadine ya kaya gini terkesan polos
Krp Ada keinginan untuk mencoba sesuatu dalam hal peran seks tetapi subjek merasa malu
Kemungkinan ada perasaan takut menjadi bahan omongan orang lain. 31 P: ada alasan lain selain nda PD?
32 S: ada pikiran-pikiran negatif, diomongin orang, negatif thinking gitu...
Faktr Identitas peran seks subjek dikarenakan subjek memiliki pikiran negatif terhadap orang lain jika berperilaku yang agak nyentrik diomongin orang lain 33 P: kalau dalam berpenampilan seperti
cara berpakaian kamu dapat idenya dari mana?
34 S: dari teman tapi perlu pertimbangan orang tua, tapi ada juga dari aku sendiri tapi cuma sebagian kecil
Faktr Dalam berpakaian yang menunjukkan peran seks subjek lebih dipengaruhi oleh orang tua subjek 35 P: bagaimana persepsimu terhadap
temanmu terutama yang di sekolah? 36 S: temanku itu tidak bisa care, jadinya
aku merasa terasing
Lbsos Subjek merasa terasing dalam bergaul di sekolah 37 P: kalo temenmu pergi jalan-jalan nda
pernah ikut?
38 S: aku nda suka ikut-ikut pergi karena aku merasa terasing
Lbsos Subjek kurang bisa membaur dengan teman di sekolah. Relasi sosial subjek kurang 39 P: kalo temen deket punya nda?
main kesini
41 P: cewek apa cowok? 42 S: cewek
43 P: kalo yang sekelas nda ada teman dekat ya...?
44 S: habis temen sekelas aneh semua, suka ngomongin orang lain, ngegosip, nda suka berbagi, dulu aku pernah minta