• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KASUS MENGENAI IDENTITAS DIRI ANAK PENDETA PADA MASA REMAJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "STUDI KASUS MENGENAI IDENTITAS DIRI ANAK PENDETA PADA MASA REMAJA"

Copied!
303
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun oleh : Nama : Yosia Roland A. M

NIM : 039114075

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

ii Skripsi

Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun oleh : Nama : Yosia Roland A. M

NIM : 039114075

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

v

mengenai kamu, demikianlah F irman T uhan, yaitu r ancangan damai

sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan

kepadamu hari depan yang penuh harapan.

(Y eremia 29:11)

Segala perkara dapat kutanggung dalam D ia yang memberi kekeuatan

kepadaku

(F ilipi 4:13)

(6)

vi

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 26 Februari 2008 Penulis

(7)

vii Sanata Dharma

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang identitas diri anak pendeta pada masa remaja. Gambaran tentang identitas diri anak pendeta pada masa remaja meliputi status dalam identitas okupasi, relijius, peran gender, dan seksualitas) dan faktor yang dapat mempengaruhi identitas. Status identitas adalah status yang menandakan ada tidaknya eksplorasi dan komitmen dalam pembentukan identitas. Status identitas terdiri dari empat macam status yaitu penyebaran identitas, pencabutan identitas, penundaan identitas, dan pencapaian identitas.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif studi kasus, dengan data utama yang diperoleh melalui wawancara, dan data pendukung yang diperoleh melalui observasi dan tes grafis.

(8)

viii Dharma University

This research aimed to describe the self identity of pastor’s children in their adolescence stage. The description of pastor’s children identity included the identity state in ocupation, religion, gender, sexuality and the factors that can influence in building identity. The identity state is the state that indicate the exploration or commitment in building identity. The identity states consist of four states, there are identity difusion, identity foreclosure, identity moratorium, and identity achievement.

This reaseach used case study qualitative method. The primary data was goten by the interview, and the secondary data by the observation and graphic test.

(9)

ix

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Yosia Roland Adhiguna Mardjono

Nomor Mahasiswa : 039114075

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

“STUDI KASUS MENGENAI IDENTITAS DIRI ANAK PENDETA PADA MASA REMAJA”

beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, me-ngalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal : 26 Februari 2008

Yang menyatakan

(10)

x

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan bimbingan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi dengan judul “Identitas Diri Anak Pendeta Pada Masa Remaja“. Adapun Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mencapai derajat Sarjana Psikologi pada Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma.

Penulis menyadari bahwa dalam proses belajar di Program Studi Psikologi, sejak awal studi sampai berakhirnya studi melibatkan banyak hal. Atas segala saran, bimbingan, dukungan dan bantuan, pada kesempatan ini dengan penuh kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Tuhan Yesus yang luar biasa, yang selalu menolongku.

2. P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

3. Sylvia CMYM, S.Psi., M.Si, selaku Ketua Progran Studi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

4. Agnes Indar E, S.Psi., M.Si selaku dosen pembimbing akademik dan dosen pembimbing skripsi

5. Segenap dosen dan laboran di Fakultas Psikologi, yang telah membimbing selama penulis kuliah di Universitas Sanata Dharma.

(11)

xi

8. Semua penghuni kos “Patria” baik yang sudah lulus maupaun yang belum, jangan main monster kill terus. Thanks bro for being my friend.

9. Andrian Liem yang telah membantu meringankan beban pembuatan verbatim dan mau meminjamkan laptopnya, thx 4 all

10. Ci Meme, terima kasih buat koreksian bahasa inggrisnya 11. Bp. Anton S yang menjadi orang tua penulis selama di Jogja

12. Seluruh subjek yang tak dapat disebutkan, tarima kasih BUAAANGEEETTS 13. YEIMOSRAXTI teman yang tak tertukarkan, ayo cepetan lulus!!!!!jangan

bangga jadi lulusan SMA

14. Pak Tatang terimakasih buat dukungannya

15. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dan memberi masukan selama penyelesaian Tugas Akhir ini

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Tugas Akhir ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan serta jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk penyempurnaan Tugas Akhir ini.

Akhirnya harapan penulis, semoga Tugas Akhir ini dapat berguna bagi semua pihak dan dapat dijadikan bahan kajian lebih lanjut.

Yogyakarta, 26 Februari 2008

(12)

xii

HALAMAN JUDUL ...i

LEMBAR PERSETUJUAN... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI...ix

KATA PENGANTAR ...x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR LAMPIRAN...xvi

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian...5

D. Manfaat ...5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

A. Remaja ... 7

1. Definisi Remaja ...7

(13)

xiii

1. Diri (The Self) ...12

2. Definisi Identitas Diri... 13

3. Empat Status Identitas ... 16

4. Faktor yang Mempengaruhi Identitas Diri ...29

C. Anak Pendeta ... 35

D. Identitas Diri Anak Pendeta pada Masa Remaja... 36

E. Pertanyaan Penelitian ... 39

BAB III METODE PENELITIAN ... 40

A. Jenis Penelitian ... 40

B. Batasan Operasional ... 41

1. Status Identitas Diri... 41

2. Faktor yang Mempengaruhi Identitas Diri ...43

C. Subjek Penelitian ... 44

D. Metode Pengumpulan Data ... 45

E. Analisis Data ... 50

F. Pemeriksaan Keabsahan Data ... 54

1. Kredibilitas ... 54

2. Dependabilitas ...55

BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN ...57

A. Pelaksanaan Penelitian... 57

(14)

xiv

1. Subjek 1 ...58

2. Subjek 2 ...79

3. Subjek 3 ...97

C. Pembahasan...127

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 139

A. Kesimpulan ... 139

B. Saran ...140

(15)

xv

(16)

xvi

Lampiran 1. Gambar Tes Grafis Subjek 1. ... 144

Lampiran 2. HTS1,0208077... 147

Lampiran 3. WWCR1,S1, 11050 ... 159

Lampiran 4. WWCR2,S1,280607 ... 167

Lampiran 5. WWCR3, S1, 101007... 170

Lampiran 6. Gambar Tes Grafis Subjek 2 ... 178

Lampiran 7. HTS2,020807... 181

Lampiran 8. WWCR1, S2, 090707... 194

Lampiran 9. WWCR2, S2, 100907... 207

Lampiran 10. Gambar Tes Grafis Subjek 3 ... 238

Lampiran 11. HTS3,270807... 241

Lampiran 12. WWCR1,S3,190707... 253

(17)

1

A. LATAR BELAKANG

Masa remaja merupakan masa dimana orang mencari identitas dirinya yang sejati, sehingga pada remaja sering muncul pertanyaan-pertanyaan siapakah saya? apakah yang ada pada diri saya? apakah yang berbeda dengan diri saya dibandingkan dengan orang lain? Apa yang akan saya lakukan dengan hidup saya?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak terlalu dipikirkan di masa kanak-kanak, namun mulai menjadi suatu masalah umum, nyata, dan universal ketika seseorang memasuki masa remaja.

(18)

identitas-identitas yang saling bertentangan akan memiliki suatu kepribadian baru yang menarik dan dapat diterima karena memperoleh suatu pandangan yang jelas tentang dirinya, tidak meragukan tentang identitas batinnya sendiri serta mengenal perannya dalam masyarakat. Remaja yang tidak berhasil mengatasi identitas-identitas yang saling bertentangan atau yang disebut oleh Erikson (dalam Santrock, 1996) sebagai identity confusion akan memiliki perilaku menarik diri, memisahkan diri dari teman-teman sebaya dan keluarga, atau akan kehilangan identitas mereka dalam kelompok.

Marcia (dalam Santrock, 1996) menganalisis teori perkembangan identitas Erikson dan menyimpulkan bahwa terdapat empat status identitas dalam teori tersebut berkaitan dengan eksplorasi dan komitmen, yaitu: penyebaran identitas (identity diffusion), pencabutan identitas (identity foreclosure), penundaan identitas (identity moratorium), dan pencapaian identitas(identity achievement).

(19)

remaja secara tidak langsung dituntut sebagai remaja yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-harinya, namun sebenarnya anak pendeta pada masa remaja memiliki kehendak bebas dalam menjalankan berbagai peran, tidak harus terpaku pada peran yang menjaga nama baik orang tuanya.

Dinamika dalam keluarga seperti pola asuh oran tua merupakan salah satu hal yang penting dalam pembentukan identitas diri. Santrock (1996) mengatakan perkembangan identitas diri remaja dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Orang tua dengan gaya pengasuhan demokratis yang mendorong remaja untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan keluarga akan mempercepat pencapaian identitas. Orang tua dengan gaya pengasuhan otokratis yang mengendalikan perilaku remaja tanpa memberi remaja peluang mengemukakan pendapat akan menghambat pencapaian identitas. Menurut Bernard (dalam Santrock, 1996) Orang tua dengan gaya pengasuhan permisif, yang memberi bimbingan terbatas kepada remaja dan mengizinkan mereka mengambil keputusan-keputusan sendiri akan meningkatkan kebingungan identitas.

Berdasarkan pengamatan peneliti, anak pendeta diasuh dan diajar untuk hidup sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama, dan anak pendeta secara tidak langsung dituntut untuk hidup sesuai dengan ajaran agama tersebut. Anak pendeta dianggap sebagai wujud dari sukses atau tidaknya orang tua yang berprofesi sebagai pendeta dalam mengasuh anaknya.

(20)

identitas diri anak pendeta, hal ini tampak pada penelitian yang dilakukan oleh Adam G.R, dkk (1984) yang mengatakan bahwa siswa dengan identitas difusi lebih dipengaruhi oleh tekanan konformitas teman sebaya, sedangkan siswa yang memiliki identitas achievement berperilaku sesuai dengan temannya untuk kepentingan berprestasi.

Pergaulan anak pendeta dengan teman sebaya terkadang membawa dampak yang negatif bagi diri anak pendeta dalam mencapai suatu identitas diri. Berdasarkan pengamatan peneliti, anak pendeta dalam masa remaja ada kemungkinan menuruti segala keinginan kelompok agar dapat diterima dalam kelompok atau disebut sebagai konformitas, sehingga sering ditemukan anak pendeta pada masa remaja berperilaku negatif seperti suka mabuk-mabukan, malakukan seks diluar nikah, memakai narkoba.

(21)

B. RUMUSAN MASALAH

Pertanyaan yang menjadi pokok permasalahan pada penelitian ini adalah:

Status identitas apakah yang dimiliki oleh anak pendeta pada masa remaja serta faktor apakah yang yang mempengaruhi pembentukan identitas diri anak pendeta pada masa remaja?

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui status identitas anak pendeta pada masa remaja serta faktor yang mempengaruhi pembentukan identitas diri anak pendeta pada masa remaja.

D. MANFAAT

1. Manfaat teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengembangan terhadap ilmu Psikologi terutama psikologi perkembangan remaja

(22)

2. Manfaat praktis

a. Penelitian ini bermanfaat untuk membantu pembaca mengetahui seluk-beluk kehidupan anak pendeta terutama mengenai pembentukan identitas diri anak pendeta pada masa remaja.

b. Penelitian ini dapat digunakan untuk memberikan informasi tentang status identitas diri dan faktor yang mempengaruhi identitas diri anak pendeta kepada orang tua yang berprofesi sebagai pendeta dan anak pendeta itu sendiri.

(23)

7 A. Remaja

1. Definisi Remaja

Istilahadolescenceatau remaja berasal dari kata Latinadolescere yang berati “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Lazimnya masa remaja dimulai pada saat anak secara seksual menjadi matang dan berakhir saat ia mencapai usia matang secara hukum. Berdasarkan perkembangan self dari usia kanak-kanak sampai remaja yang dikemukakan oleh Mc Devit dan Ormrod (2002), masa remaja awal berlangsung pada usia 10 – 14 tahun dan masa remaja akhir pada usia 14 – 18 tahun.

(24)

2. Karakteristik Remaja

Masa remaja memiliki ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya. Ciri-ciri tersebut antara lain:

a. Masa remaja sebagai periode yang penting

Pada masa remaja dianggap sebagai periode yang penting karena dapat berdampak langsung pada sikap dan perilaku seseorang serta memungkinkan memiliki dampak jangka panjang yang muncul setelah seseorang melalui masa remaja.

b. Masa remaja sebagai periode peralihan

Masa remaja disebut sebagai periode peralihan yaitu suatu periode dimana status individu tidak jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. Remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan merupakan orang dewasa, sehingga mengakibatkan remaja kurang dapat menentukan perilaku yang tepat.

c. Masa remaja sebagai periode perubahan

Perubahan yang terjadi dalam masa remaja tidak hanya perubahan fisik saja tetapi juga terjadi perubahan dalam sikap dan perilaku. Terdapat empat perubahan dalam remaja secarauniversal yaitu

1) Meningginya emosi yang tergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi

(25)

4) Menginginkan dan menuntut kebebasan, tetapi sering takut bertanggung jawab akan akibatnya.

d. Masa remaja sebagai usia bermasalah

Dalam menghadapai masalah remaja cenderung kurang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah, hal ini dikarenakan pada masa kanak-kanak, masalah sebagian besar diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah, selain itu juga dikarenakan para remaja merasa mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru-guru.

e. Masa remaja sebagai masa mencari identitas

Remaja merupakan masa dimana orang mencari identitas dirinya. Pencarian identitas ini berpengaruh terhadap perilaku remaja.

f. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan

Masa remaja memiliki banyak sterereotip yang melekat. Stereotip ini biasanya bersifat negatif seperti remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, yang tidak dapat dipercaya, dan cenderung merusak. Hal ini mengakibatkan pada masa remaja menjadi sesuatu yang menakutkan. g. Masa remaja masa yang tidak realistik

(26)

h. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa

Masa remaja merupakan masa dimana orang belajar untuk menjadi dewasa. Remaja mencoba untuk melakukan berbagai peran orang dewasa sehingga membentuk identitas diri mereka. Masa remaja ini menjadi suatu ambang untuk mencapai masa dewasa.

(Hurlock,1991)

3. Tugas Perkembangan Remaja

Pada masa remaja ini terdapat tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh remaja. Menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1991) tugas perkembangan remaja adalah:

a. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita

Penerimaan dari teman sebaya merupakan suatu hal yang sangat penting bagi remaja sehingga hubungan yang lebih matang sangatlah diperlukan.

b. Mencapai peran sosial pria, dan wanita

(27)

c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif Remaja seringkali sulit untuk menerima keadaan fisiknya bila sejak masa kanak-kanak mengagungkan konsep mereka tentang penampilan diri pada waktu dewasa nantinya.

d. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab Pengembangan nilai-nilai yang selaras dengan nilai-nilai orang dewasa yang akan dimasuki adalah tugas untuk mengembangkan perilaku sosial yang bertanggung jawab.

e. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya

Remaja yang memiliki keinginan untuk mandiri akan lebih mudah untuk dapat mandiri secara emosional.

f. Mempersiapkan karier ekonomi

Remaja belum dapat mandiri secara ekonomi sebelum remaja memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja. Pada masa remaja karir ekonomi perlu dipersiapkan untuk memasuki masa dewasa. g. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga

(28)

h. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku – mengembangkan ideologi.

Nilai-nilai atau ideologi yang sesuai dengan nilai-nilai dewasa dapat dapat ditemukan saat remaja dalam sekolah maupun pendidikan tinggi. Orang tua juga ikut berperan dalam hal ini. Nilai-nilai dewasa terkadang bertentangan dengan nilai-nilai teman sebaya.

Tugas perkembangan remaja juga dapat dilihat melalui tahap perkembangan psikososial. Dalam tahap perkembangan psikososial, remaja memasuki tahap identitas versus kekacauan identitas. Identitas versus kekacauan identitas adalah tahap perkembangan Erikson kelima yang dialami individu pada masa remaja (Santrock, 2003).

B. Identitas Diri pada Remaja

1. Diri (The Self)

Penjelasan tentang diri (self) dapat dipahami melalui penjelasan tentang pemahaman diri (self-undestanding), serta harga diri (self-esteem) dan konsep diri (self-concept) (Santrock, 2003).

a. Pemahaman Diri (self-understanding)

(29)

Pemahaman diri remaja didasari oleh berbagai kategori peran dan keanggotaan yang menjelaskan siapakah diri remaja tersebut.

b. Harga Diri (self-esteem) dan Konsep Diri (self-concept)

Harga diri (self-esteem) adalah dimensi evaluatif yang menyeluruh dari diri. Sebagai contoh, seorang remaja bisa mengerti bahwa dia tidak hanya seseorang, tetapi juga seseorang yang baik. Tidak semua remaja memiliki gambaran positif yang menyeluruh tentang diri mereka.

Konsep diri (self-concept) merupakan evaluasi terhadap domain yang spesifik dari diri. Remaja dapat membuat evaluasi diri terhadap berbagai domain dalam hidupnya – akademik, atletik, penampilan fisik, dsb. Sehingga dapat disimpulkan bahwa harga diri (self-esteem) merupakan evaluasi diri yang menyeluruh, sedangkan konsep diri (self-concept) lebih kepada evaluasi terhadap domain yang spesifik.

2. Definisi Identitas Diri

(30)

identifikasi dan gambaran diri, dimana seluruh identitas yang dahulu diolah dalam perspektif suatu masa depan yang diantisipasi. Dari beberapa pendapat dari para ahli mengenai definisi identitas diri, maka dapat disimpulkan bahwa identitas diri merupakan pemahaman yang berkesinambungan tentang siapa dirinya, kemana arah tujuan, serta menyadari peran-peran sosial yang akan dilakukan dalam masyarakat.

Erikson (dalam Duane Schultz, 2003) berpendapat bahwa pada masa remaja individu akan memasuki tahap identitas versus kekacauan identitas. Identitas versus kekacauan identitas adalah tahap perkembangan Erikson kelima yang dialami individu selama masa remaja (Santrock, 2003). Pada masa ini individu dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan siapakah saya, apakah sebenarnya saya, apa yang menjadi tujuan hidup saya (Santrock, 2003). Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak muncul pada usia anak-anak tetapi akan lebih muncul pada usia remaja. Pada masa remaja, individu mulai merasakan suatu perasaan tentang identitas dirinya, perasaan bahwa ia adalah manusia yang unik, tetapi siap untuk memasuki suatu peranan yang berarti di tengah masyarakat, peranan ini dapat bersifat menyesuaikan diri atau bersifat memperbaharui. Pada masa remaja ini terdapat kesenjangan antara rasa aman di masa kanak-kanak dengan otonomi individu dewasa yang dialami remaja sebagai bagian dari eksplorasi identitas mereka, ini disebut Erikson sebagai

Psychological moratorium(dalam Santrock, 2003).

(31)

identitas diri dan tidak puas lagi menjadi sama dengan teman-temannya dalam segala hal (Hurlock, 1991). Ketika remaja mengeksplorasi dan mencari identitas budayanya, remaja seringkali bereksperimen dengan peran-peran yang berbeda (Santrock, 2003). Peran adalah suatu rangkaian yang berhubungan dengan perilaku, kewajiban, dan hak-hak sebagai konsep aktor dalam situasi sosial. Dalam melakukan suatu peran terkadang muncul suatu kebingungan peran. Kebingungan peran (role confusion) adalah suatu situasi dimana orang mengalami suatu masalah dalam menentukan peran apa yang harus ia mainkan. Misalnya seorang anak guru pada waktu di sekolah diajar oleh guru yang merupakan orang tuanya, ini memunculkan kebingungan anak guru untuk berperan sebagai seorang anak dan seorang murid.

Remaja yang berhasil menghadapi identitas-identitas yang saling bertentangan akan mendapatkan pemikiran yang baru megenai dirinya dan dapat diterima oleh dirinya sendiri, akan tetapi remaja yang tidak berhasil menyelesaikan krisis identitasnya akan mengalami yang disebut Erikson sebagaiidentity confusion (kebimbangan akan identitasnya) (dalam Santrock, 2003). Krisis yang dimaksudkan adalah suatu masa perkembangan identitas dimana remaja memilah-milah alternatif-alternatif yang berarti dan tersedia (Santrock, 2003)

(32)

(Schultz, 2003). Remaja yang mengalami Identity confusion tidak tahu siapa atau apakah mereka, dimanakah mereka diterima, atau kemanakah mereka akan pergi (Schultz, 2003).Identity confusion bisa menyebabkan dua hal yaitu penarikan diri individu, mengisolasi dirinya dengan teman sebaya dan keluarga, atau meleburkan diri dengan teman sebayanya dan kehilangan identitas dirinya (Santrock, 2003).

Erikson yakin bahwa remaja menghadapi sejumlah pilihan dan pada titik tertentu di masa muda akan memasuki suatu masa psychological moratorium (Santrock, 2003). Selama moratorium ini, remaja mencoba berbagai peran dan kepribadian yang berbeda-beda sebelum pada akhirnya remaja mencapai suatu pemikiran diri yang stabil. Pada akhirnya, remaja akan membuang peran-peran yang tidak diharapkan. Ketika remaja secara bertahap menyadari bahwa mereka bertanggung jawab akan diri mereka sendiri dan kehidupan mereka sendiri, remaja akhirnya akan mencari seperti apakah kehidupannya nanti. (Santrock, 2003)

3. Empat Status Identitas

Pakar psikologi Marcia (dalam Santrock, 1995) menganalisa teori perkembangan identitas Erikson. Fokus dalam penelitiannya adalah seberapa banyak subjek mengeksplorasi pilihan identitas (krisis) dan seberapa luasnya mereka membuat komitmen.

(33)

Kata krisis yang dipakai oleh Marcia sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai eksplorasi terhadap peran (Santrock, 2003). Eksplorasi adalah suatu aktivitas yang secara aktif dilakukan individu untuk mencari, menjajaki, mempelajari, mengidentifikasi, mengevaluasi dan menginterpretasi dengan seluruh kemampuan, akal, pikiran, dan potensi yang dimiliki untuk memperoleh pemahaman yang baik tentang berbagai alternatif peran.

(34)

Komitmen (commitment) didefinisikan sebagai bagian dari perkembangan identitas dimana remaja memperlihatkan tanggung jawab pribadi terhadap apa yang akan mereka lakukan. Komitmen ditunjukkan oleh sejauh mana keteguhan pendirian remaja terhadap pilihan-pilihan peran yang dipilihnya yang di tandai oleh faktor-faktor berikut: (1)knowledgeability yaitu merujuk kepada sejumlah infomasi yang dimiliki dan dipahami tentang keputusan pilihan-pilihan yang telah ditetapkan. Remaja yang memiliki komitmen mampu menunjukkan pengetahuan yang mendalam, terperinci dan akurat tentang hal-hal yang telah diputuskan, (2) activity directed toward implementing the chosen identify element yaitu aktivitas yang terarah pada implementasi elemen identitas yang telah ditetapkan., (3)emotional tone yaitu nada emosi yang merujuk kepada berbagai perasaan yang dirasakan individu baik dalam penetapan keputusan maupun dalam mengimplementasikan keputusan tersebut. Nada emosi terungkap dalam bentuk keyakinan diri, stabilitas dan optimisme masa depan, (4)identification with significant other

(35)

mereka tetapkan. Mereka tetap teguh pada keputusannya, tetapi mereka bukan anti perubahan. Mereka mampu menghargai berbagai kemungkinan perubahan, mereka mengkaitkannya dengan kemampuan pribadi dan peluang yang ada (Marcia, 1993).

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Marcia, subjek diwawancarai tentang krisis dan komitmen dalam identitas pekerjaan (okupasi), relijius, ideologi poltik, peran gender dan seksualitas (Buss, 1995).

a. Okupasi (pekerjaan)

Okupasi adalah seperangkat tugas, ketrampilan dan kemampuan yang unik yang berhubungan dengan pekerja yang melaksanakan pekerjaan tertentu (www.nevadaworkforce.com/). Okupasi juga dapat diartikan sebagai suatu nama pekerjaan yang yang menunjukkan aktivitas pekerjaan.

(36)

moratorium dan identitasdiffusion (Wallas-Broscios, Seafica, dan Osipow, dalam Santrock, 2003). Remaja yang lebih jauh terlibat dalam proses pembentukan identitas lebih sanggup mengartikulasikan pilihan karir mereka dan menentukan langkah berikut untuk mencapai tujuan jangka pendek maupun jangka panjang mereka (Raskin ,dalam Santrock, 2003).

Memahami bagaimana remaja membuat pilihan dalam pengembangan karirnya dapat melalui tiga teori yaitu teori perkembangan Ginzberg, teori konsep diri Super, dan teori tipe kepribadian Holland. 1) Teori Perkembangan Ginzberg

Teori ini dikemukakan oleh Ginzberg (Santrock, 2003). Teori ini mengatakan bahwa anak dan remaja melalui tiga tahap pemilihan karir yaitu fantasi, tentatif, dan realistis.

(37)

2) Teori Konsep Diri Super

Teori konsep diri ini dikemukakan oleh Donald Super yang menyatakan bahwa konsep diri individu memainkan peranan utama dalam pemilihan karir seseorang. Masa remaja merupakan saat seseorang membangun konsep diri tentang karir.

(38)

3) Teori tipe kepribadian Holland

Teori tipe kepribadian adalah teori John Holland yang menjelaskan perlu dilakukan suatu usaha agar piihan karir seseorang sesuai dengan kepribadiannya (Holland, dalam Santrock, 2003). Menurut Holland (Santrock, 2003) orang akan lebih menikmati pekerjaan tersebut dan bekerja dibidang tersebut lebih lama jika orang tersebut menemukan karir sesuai dengan kepribadiannya.

b. Relijius

Relijius adalah suatu sistem kepercayaan yang berkenaan dengan kekuatan atau makhluk melebihi manusia biasa atau hal-hal yang gaib yang melebihi dunia material sehari-hari (www.anthro.wayne.edu/ant2100/GlossaryCultAnt.htm).

Pada masa remaja, ketertarikan terhadap agama dan keyakinan spiritual semakin meningkat. Remaja menunjukkan adanya minat yang kuat terhadap hal-hal spiritua, sebagai contoh hampir 90% remaja mengatakan bahwa mereka berdoa (Gallup & Perriello, dalam Santrock, 2003). Dibandingkan dengan anak-anak, doa remaja memiliki karakteristik seperti tanggung jawab, subyektivitas, dan kedekatan (Scarlett & Polimg, dalam Santrock, 2003).

(39)

merupakan masa yang penting dalam perkembangan identitas keagamaan. Tahap ini menggambarkan remaja untuk pertama kalinya berpandangan bahwa individu memiliki tanggung jawab penuh atas keyakinan relijiusnya.

c. Ideologi politik

Pada masa remaja ini, mereka mulai merefleksikan nilai, ideologi, dan tradisi dalam komunitas mereka, dan peran yang memungkinkan yang akan mereka bawa pada saat dewasa.

Erickson (Miranda & James, 1998) menggambarkan perkembangan komitmen politik sebagai aspek kunci formasi perkembangan identitas pada masa remaja. Pengalaman remaja sebagai warga negara dapat menjadi acuan yang dapat membantu dalam formasi pemahaman dan ikatan politik. Aktivitas kewarganegaraan yang diikuti oleh remaja, bentuk perilaku kewarganegaraan dan pemahaman terhadap perilaku tersebut, dan penempatan suatu penekanan dalam memperjelas proses sosial dimana pemahaman politis muncul merupakan beberapa bidang dalam perkembangan identitas politik pada masa remaja (Miranda & James, 1998)

d. Peran gender

(40)

dan berperasaan. Perbedaan psikologis dan tingkah laku antara laki-laki dan perempuan menjadi lebih jelas selama masa remaja awal karena adanya peningkatan tekanan-tekanan sosialisasi masyarakat untuk menyesuaikan diri pada peran gender maskulin dan feminin tradisional, oleh karena itu remaja harus mulai banyak bersikap sesuai dengan stereotipe perempuan dan laki-laki dewasa.

Perbedaan antara peran gender laki-laki dan perempuan dapat dipahami melalui streotipe peran gender. Stereotipe peran gender adalah kategori-kategori yang bersifat umum yang menggambarkan pandangan dan keyakinan kita tentang perempuan dan laki-laki. Hal ini tentunya sangatlah kompleks karena stereotipe-stereotipe tersebut sangat beragam dan terpengaruh oleh budaya. Menurut penelitian yang luas terhadap pelajar perguruan tinggi di 30 negara (Williams & Best, dalam Santrock, 2003), laki-laki secara luas diyakini lebih dominan, mandiri, agresif, berorientasi pada prestasi dan mampu bertahan, sedangkan perempuan secara luas diyakini lebih mengasihi, bersahabat, rendah diri, dan lebih menolong disaat-saat sedih.

(41)

sebagai sesuatu yang sama oleh penganut agama Kristen daripada komunitas muslim.

e. Seksualitas

Terdapat dua arti mengenai seksualitas, pertama seksualitas menyinggung hal reproduksi atau perkembangbiakan lewat penyatuan individu yang berbeda yang masing-masing menghasilkan sebutir telur dan sperma, dan yang ke-2 adalah menyinggung tingkah laku, perasaan, atau emosi yang berasosiasi dengan perangsangan alat kelamin, daerah erogenus, atau dengan proses perkembangbiakan (Chaplin, 2004)

Tingkah laku seksual remaja biasanya sifatnya meningkat atau progresif. Biasanya diawali dengan necking (berciuman sampai daerah dada), diikuti petting (saling menempelkan alat kelamin), kemudian hubungan intim, atau beberapa kasus seks oral, yang secara besar meningkat pada masa remaja (Santrock, 2003).

(42)

gambaran peran seseorang, mengenai bagaimana individu harus bertingkah laku secara seksual. Perbedaan antara aturan seksual perempu an dan laki-laki dapat menyebabkan timbulnya masalah dan kebingungan bagi remaja ketika tengah mencari identitas seksual mereka.

Dalam pembentukan identitas seksual, remaja membutuhkan informasi yang tepat mengenai masalah seksualitas. Sumber informasi seks yang paling umum adalah teman sebaya, kemudian diikuti oleh literatur, ibu, sekolah, dan pengalaman (Santrock, 2003). Walaupun sekolah biasanya dianggap sebagai sumber utama pendidikan seks, hanya 15 % informasi mengenai seks yang dimiliki remaja diperoleh dari pengajaran sekolah (Santrock, 2003).

Berdasarkan komitmen dan eksplorasi pada remaja identitas diri dapat dibagi kedalam empat status yaitu penyebaran identitas (identity diffusion),

pencabutan identitas (identity foreclosure), penundaan identitas (identity moratorium), dan pencapaian identitas (identity achievement)(Santrock, 2003).

a. Penyebaran identitas(identity difusion)

(43)

pekerjaan dan ideologis, tetapi juga cenderung memperlihatkan minat yang kecil dalam persoalan-persoalan semacam itu.

Orang yang berada dalam status penyebaran identitas memiliki beberapa ciri antara lain memiliki banyak masalah psikologis dan interpersonal, menarik diri dalam pergaulan sosial dan tingkat keintiman rendah, merasa terasing dengan orang tua, dan memiliki perasaan tertolak dari orang tua.

b. Pencabutan identitas(identity foreclosure)

Identity foreclosure adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan remaja yang telah membuat suatu komitmen tetapi belum mengalami suatu krisis. Ini paling sering terjadi ketika orang tua meneruskan komiten kepada remaja mereka., biasanya secara otoriter. Dalam keadaan-keadaan semacam ini, remaja belum memiliki peluang-peluang yang memadai – untuk menjajaki berbagai pendekatan, ideologi, dan pekerjaan-pekerjaan yang berbeda yang mereka kembangkan sendiri.

Beberapa ciri orang yang berada dalam status ini adalah memiliki hubungan yang dekat dengan orang tua namun perlu peningkatan sosialisasi dengan orang lain, memiliki tingkat otonomi yang rendah.

c. Penundaan identitas(identity moratorium)

(44)

Ciri yang melekat pada orang dalam status ini adalah memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dan memiliki masalah dalam otoritas, sedikit kaku dan autoritarian.

d. Pencapaian identitas(identity achievement)

Identity achievement adalah istilah Marcia bagi remaja yang telah mengalami suatu krisis dan sudah membuat suatu komitmen.

Beberapa ciri yang melekat pada orang dalam status ini adalah memiliki tingkat self esteem dan motivasi berprestasi yang tinggi, memiliki moral reasoning, memiliki keintiman, dan mampu untuk merefleksikan diri.

Sejumlah peneliti status identitas (Santrock, 1996) mengungkapkan terdapat suatu pola yang umum diantara individu yang telah mengembangkan identitas positif yaitu mengikuti siklus “MAMA”, moratorium-achivement-moratorium-achievement. Siklus ini bisa berlangsung berulang-ulang sepanjang hidup seseorang. Perubahan pribadi, keluarga, dan sosial tidak bisa diperkirakan, dan ketika terjadi, dibutuhkan fleksibilitas dan keterampilan untuk mengeksplorasi alternatif-alternatif baru dan mengembangkan komitmen-komitmen baru yang dapat memfasilitasi kemampuan-kemampuan individu dalam mengatasi masalah.

(45)

moratorium-achivement-moratorium-achievement. Siklus ini bisa berlangsung berulang-ulang sepanjang hidup seseorang. Perubahan pribadi, keluarga, dan sosial tidak bisa diperkirakan, dan ketika terjadi, dibutuhkan fleksibilitas dan keterampilan untuk mengeksplorasi alternatif-alternatif baru dan mengembangkan komitmen-komitmen baru yang dapat memfasilitasi kemampuan-kemampuan individu dalam mengatasi masalah.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Identitas Diri

Faktor-faktor yang mempengaruhi identitas diri merupakan sesuatu yang sangat luas dan bervariasi, namun faktor-faktor tersebut bukan berarti tidak dapat diidentiifikasi. Berk (2006) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi identitas diri adalah kepribadian (personality), keluarga, teman sebaya, sekolah dan komunitas, dan lingkungan sosial yang lebih besar. a. Kepribadian

(46)

(Identity achievement) atau penundaan identitas (Identity moratorium) (Berzonsky & Kuk, dalam Berk, 2006).

b. Keluarga

Keluarga dimana remaja tinggal sangat memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam pembentukan identitas diri. Remaja yang memiliki keluarga yang memberikan rasa aman, yang membuat remaja dapat percaya diri bergerak dalam dunia yang lebih luas akan memiliki perkembangan identitas yang baik.

Catherine dan Cooper (dalam Santrock, 1996) meyakini bahwa atmosfir keluarga yang mendukung individualitas dan keterikatan merupakan hal yang penting bagi perkembangan identitas remaja. Secara umum, hasil penelitian Cooper mengungkapkan bahwa pembentukan identitas didorong oleh hubungan keluarga yang individual, yaitu yang mendukung remaja untuk mengembangkan pandangannya sendiri, dan juga hubungan yang mengikat yang memberikan landasan yang aman bagi remaja untuk mengeksplorasi dunia sosial yang luas di masa remaja.

(47)

tua, tetapi kurang memiliki kemampuan untuk berpisah dengan orang tuanya. Remaja yang memiliki status penyebaran identitas (identity difusion) cenderung kurang mementingkan kedekatan dengan orang tuanya, dan juga kurang memiliki dukungan dan kehangatan dari orang tua, dan kurang memiliki komunikasi yang terbuka (Berk, 2006).

Stuart Huaser dan koleganya (dalam Santrock, 1996) juga memberi tekanan pada proses keluarga yang mendorong identitas remaja. Para ahli ini telah menemukan bahwa orang tua yang berlaku membiarkan (dengan cara menerangkan, menerima, dan berempati terhadap remaja) lebih bisa mendorong proses perkembangan identitas remaja dibandingkan dengan orang tua yang berlaku mengekang (seperti menghakimi dan tidak menghargai). Gaya interaksi keluarga yang memberikan hak pada remaja untuk menjadi seseorang yang berbeda, dalam suatu konteks dukungan dan mutualis, mendorong pola perkembangan identitas yang sehat.

(48)

aturan orangtua mereka. Sebagai Konsekwensi, pola asuh autoritatif memungkinkan untuk mendorong status identitas foreclosure.

Pola asuh orang tua yang diterapkan dalam keluarga juga memiliki pengaruh dalam pembentukan identitas diri remaja. Orang tua dengan gaya pengasuhan demokratis, yang mendorong remaja untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan keluarga akan mempercepat pencapaian identitas. Orang tua dengan gaya pengasuhan otokratis, yang mengendalikan perilaku remaja tanpa memberi remaja peluang mengemukakan pendapat, akan menghambat pencapaian identitas. Menurut Bernard (dalam Santrock, 1996) Orang tua dengan gaya pengasuhan permisif, yang memberi bimbingan terbatas kepada remaja dan mengizinkan mereka mengambil keputusan-keputusan sendiri akan meningkatkan kebingungan identitas.

c. Teman Sebaya

(49)

menjadi rekan kerja yang aktif dalam membangun kesadaran atas identitasnya (Santrock, 2003).

Remaja dalam berinteraksi dengan teman sebaya sangatlah memungkinkan terjadinya sebuah konformitas. Konformitas ini dapat mempengaruhi aspek-aspek kehidupan remaja dan bahkan dapat mempengaruhi perkembangan identitas remaja. Adam G.R, dkk (1984) dalam penelitiannya terhadap korelasi antara status identitas ego dengan konformitas mengatakan bahwa siswa dengan identitas difusi lebih dipengaruhi oleh tekanan konformitas teman sebaya, sedangkan siswa yang memiliki identitas achievement berperilaku sesuai dengan temannya untuk kepentingan berprestasi.

d. Sekolah dan Komunitas

(50)

e. Lingkungan Sosial yang Lebih Besar (faktor kebudayaan dan etnis)

Konteks kebudayaan yang lebih luas dan periode waktu sejarah mempengaruhi perkembangan identitas. Faktor-faktor kebudayaan menjadi suatu perhatian yang besar bagi Erikson (Santrock, 1996). Banyak penelitian yang mengungkapkan faktor-faktor kebudayaan dan etnis berperan besar dalam perkembangan identitas, namun penelitian tersebut lebih menekankan pada bagaimana kelompok etnis minoritas berjuang mempertahankan identitas budaya mereka bersamaan dengan penyesuaian mereka terhadap budaya mayoritas. Phinney dan Alipuria (Santrock, 1996) dalam penelitiannya mengatakan bahwa proses eksplorasi identitas etnis lebih sering terjadi pada mahasiswa etnis minoritas dibandingkan dengan mahasiswa kulit putih.

Santrock (2003) secara tidak langsung juga menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan identitas diri yaitu pengaruh keluarga terutama orang tua, dan aspek budaya dan etnis. Dalam pembentukan identitas karir faktor-faktor yang mempengaruhi adalah kelas sosial, orang tua dan teman sebaya, sekolah serta gender (Santrock, 2003).

(51)

a. Faktor Eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor yang mempengeruhi pembentukan identitas diri yang berasal dari luar individu tersebut misalnya keluarga (orang tua), teman sebaya, sekolah dan komunitas, serta lingkungan sosial yang lebih luas seperti budaya dan etnis.

b. Faktor Internal

Faktor internal merupakan faktor yang mempengaruhi identitas diri yang berasal dari dalam diri individu. Faktor ini lebih menunjuk kepada

personality yang dimiliki oleh orang tersebut dan secara tidak langsung menunjuk pada aspek afektif dan kognitif.

C. Anak Pendeta

(52)

pastoral, agar warga jemaatya setia menapaki jalan Tuhan, ikut berperan serta dalam pembangunan bangsa dan masyarakat. Pelayanan ini membutuhkan empati dan perhatian khusus sebagai ungkapan kepedulian sang pendeta terhadap warga jemaatnya.

Dengan demikian yang dimaksudkan dengan anak pendeta adalah anak yang memiliki orang tua yang berprofesi sebagai pendeta atau pemimpin agama Kristen Protestan (pendeta) bertugas untuk menggembalakan/ memelihara umat Kristen dan memberikan pelayanan sakramen dan memberitakan Firman Tuhan di gereja.

D. Identitas Diri Anak Pendeta pada Masa Remaja

Remaja merupakan masa dimana orang telah masuk dalam tahap identity cohesion versus role confusion: the identity crisis, tahap ini berdasarkan teori perkembangan psikososial yang dikemukakan oleh Erik H Erickson (dalam Hall dan Lindzey,1993). Berdasarkan teori ini remaja mencari identitas diri mereka. Identitas diri merupakan prinsip kesatuan yang membedakan diri sesorang dari orang lain. Konsep identitas pada umumnya menunjuk pada suatu kesadaran akan kesatuan dan kesinambungan pribadi.

(53)

Anak pendeta dalam menemukan identitas dirinya sedikit berbeda dengan anak remaja lain, perbedaan ini terletak pada kesempatan anak pendeta pada usia remaja untuk mencoba berbagai peran. Anak pendeta pada masa remaja memiliki hambatan yang lebih besar dalam mencoba berbagai peran dibandingkan dengan remaja yang lainnya. Hal ini dikarenakan masyarakat memiliki harapan terhadap anak pendeta yaitu anak pendeta harus dapat menjadi teladan bagi orang lain. Masyarakat memiliki harapan demikian terhadap anak pendeta karena masyarakat berkeyakinan bahwa hasil didikan dari seorang pemuka agama harus memiliki sikap dan perilaku yang lebih baik dibandingkan dengan remaja yang lain. Dari sini dapat dilihat bahwa pola asuh orang tua sangat berpengaruh terhadap perilaku dan sikap anak dan secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap pembentukan identitas diri si anak.

(54)

Sturt Hauser, dkk (dalam Santrock, 1996) menjelaskan proses-proses keluarga yang meningkatkan perkembangan identitas remaja. Mereka menemukan bahwa orang tua yang menggunakan perilaku-perilaku yang memudahkan (enabling behavior) – seperti menjelaskan, menerima, dan berempati – lebih memfasilitasi perkembangan identitas remaja daripada orang tua yang menggunakan perilaku-perilaku yang membatasi (constraining behavior) – seperti mengkritik dan tidak menghargai.

Dalam kehidupan masa remaja, teman merupakan sesuatu yang sangat penting selain keluarga. Dalam masa remaja pengaruh dari teman sebaya sangatlah kuat karena remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama dengan teman-teman sebaya. Hal ini juga dialami oleh anak pendeta pada masa remaja. Pengaruh dari teman sebaya ini dapat berupa pengaruh positif maupun negatif. Pengaruh teman sebaya yang negatif dapat memungkinkan anak pendeta pada masa remaja berperilaku negatif meskipun pola asuh yang diterapkan dalam keluarga sangat baik. Pergaulan dengan teman sebaya ini sangatlah berpengaruh juga terhadap pembentukan identitas diri remaja anak pendeta. Adam G.R, dkk (1984) dalam penelitiannya terhadap korelasi antara status identitas ego dengan konformitas mengatakan bahwa siswa dengan identitas difusi lebih dipengaruhi oleh tekanan konformitas teman sebaya, sedangkan siswa yang memiliki identitas achievement berperilaku sesuai dengan temannya untuk kepentingan berprestasi.

(55)

internal yang ada dalam diri seseorang juga tidak dapat diabaikan dalam pembentukan identitas diri dengan alasan manusia berinteraksi tidak hanya dengan lingkungan disekitarnya tetapi juga dalam diri individu itu sendiri. Berk (2006) menyatakan bahwa salah satu faktor yang membentuk identitas diri adalah

personality (kepribadian) orang tersebut.

Dengan demikian peneliti ingin memahami identitas diri anak pendeta pada masa remaja dengan cara menemukan status identitas anak pendeta pada masa remaja dan faktor yang membentuk identitas diri yang berpengaruh terhadap pembentukan identitas diri anak pendeta.

E. Pertanyaan Penelitian

(56)

40

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif studi kasus. Pendekatan kualitatif studi kasus merupakan penelitian mengenai fenomena khusus yang hadir dalam suatu konteks yang terbatasi dan mencoba untuk menerjemahkan pandangan-pandangan dasar interpretif dan fenomenologis (Poerwandari, 2005). Menurut Danim (2002) penelitian studi kasus merupakan penelitian yang melakukan studi mendalam mengenai unit sosial tertentu yang hasil dan penelitiannya memberikan hasil yang mendalam mengenai unit sosial tersebut. Penelitian studi kasus bersifat mendalam dengan penekanan pada kasus-kasus yang spesifik yang terjadi pada satu rentang waktu yang ketat. Pendekatan studi kasus dapat membuat peneliti memperoleh suatu pemahaman yang utuh mengenai fenomena yang akan diteliti.

(57)

B.

Batasan Operasional

1. Status Identitas Diri

Status identitas adalah status yang menandakan ada tidaknya eksplorasi dan komitmen dalam pembentukan identitas. Status identitas bukan merupakan suatu jenjang, tetapi lebih pada proses yang dialului remaja untuk tumbuh. Dalam penelitian ini status yang ingin diketahui adalah status pada identitas okupasi (pekerjaan), relijius, peran gender, dan seksualitas. Pemilihan status identitas okupasi, relijius, peran gender, dan seksualitas pada penelitian ini berdasarkan tugas perkembagan pada usia remaja menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1991). Untuk mengetahui status identitas, perlu terlebih dahulu mengetahui eksplorasi dan komitmen subjek dalam hal okupasi, relijius, peran gender, dan seksualitas.

Eksplorasi adalah suatu aktivitas yang secara aktif dilakukan individu untuk mencari, menjajaki, mempelajari, mengidentifikasi, mengevaluasi dan menginterpretasi dengan seluruh kemampuan, akal, pikiran, dan potensi yang dimiliki untuk memperoleh pemahaman yang baik tentang berbagai alternatif. Komitmen di tunjukkan oleh sejauh mana keteguhan pendirian remaja terhadap pilihan-pilihan peran yang dipilihnya.

(58)

a. Penyebaran identitas(identity difusion)

Identity diffusion ialah istilah yang digunakan Marcia untuk menggambarkan remaja yang belum mengalami krisis (yaitu mereka yang belum menjajaki pilihan-pilihan yang bermakna) dan belum membuat komitmen apapun. Mereka tidak hanya belum memutuskan pilihan-pilihan seperti dalam hal okupasi, relijius, ideologi, peran gender, dan seksualitas tetapi juga cenderung memperlihatkan minat yang kecil dalam persoalan-persoalan semacam itu.

Orang yang berada dalam status penyebaran identitas memiliki beberapa ciri antara lain memiliki banyak masalah psikologis dan interpersonal, menarik diri dalam pergaulan sosial dan tingkat keintiman rendah, merasa terasing dengan orang tua, dan memiliki perasaan tertolak dari orang tua.

b. Pencabutan identitas(identity foreclosure)

(59)

Beberapa ciri orang yang berada dalam status ini adalah memiliki hubungan yang dekat dengan orang tua namun perlu peningkatan sosialisasi dengan orang lain, memiliki tingkat otonomi yang rendah. c. Penundaan identitas(identity moratorium)

Identity moratorium adalah istilah yang digunakan Marcia untuk menggambarkan remaja yang sedang berada ditengah-tengah krisis, tetapi komitmen mereka tidak ada atau didefinisikan secara samar

Ciri yang melekat pada orang dalam status ini adalah memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dan memiliki masalah dalam otoritas, sedikit kaku dan autoritarian.

d. Pencapaian identitas(identity achievement)

Identity achievement adalah istilah Marcia bagi remaja yang telah mengalami suatu krisis dan sudah membuat suatu komitmen.

Beberapa ciri yang melekat pada orang dalam status ini adalah memiliki tingkat self esteem dan motivasi berprestasi yang tinggi, memiliki moral reasoning, memiliki keintiman, dan mampu untuk merefleksikan diri.

2. Faktor yang Mempengaruhi Identitas Diri

Faktor yang mempengaruhi pembentukan identitas diri adalah: a. Faktor Eksternal

(60)

misalnya keluarga (orang tua), teman sebaya, sekolah dan komunitas, serta lingkungan sosial yang lebih luas seperti budaya dan etnis. b. Faktor Internal

Faktor internal merupakan faktor yang mempengaruhi identitas diri yang berasal dari dalam diri individu. Faktor ini lebih menunjuk kepada personality yang dimiliki oleh orang tersebut dan secara tidak langsung menujuk pada aspek afektif dan kognitif.

C. Subjek Penelitian

Dalam penelitian ini, subjek yang dipilih berdasarkan kriteria-kriteria tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya dan berdasarkan teori atau konstruk operasional sesuai dengan tujuan penelitian.

Subjek dalam penelitian ini memiliki beberapa karakteristik yaitu:

1. Subjek berada pada masa remaja akhir yaitu usia 14 – 18 tahun, sesuai dengan tahap perkembanganself yang dinyatakan oleh Mc Devit dan Ormrod (2004), karena pada tahap remaja akhir orang lebih dapat mengeksplorasi pilihan-pilihan yang ada sehingga tampak suatu proses perkembangan identitas dirinya.

(61)

Kristen yang bertugas sebagai pengajar, pembimbing, pemimpin umat Kristen dalam sebuah gereja.

Pada penelitian ini menggunakan tiga orang subjek. Subjek pertama St (17 tahun), kedua Ia (14 tahun), dan yang ketiga Sk (16 tahun).

D. Metode Pengumpulan Data

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara. Dalam penelitian ini, wawancara digunakan sebagai metode utama dalam pengambilan data. Metode wawancara adalah metode pengumpulan data dengan jalan tanya – jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematik dan berlandaskan kepada tujuan penyelidikan. Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu (Poerwandari, 2005).

(62)

berbentuk wawancara mendalam, dimana peneliti mengajukan pertanyaan mengenai berbagai segi kehidupan subjek, secara utuh dan mendalam.

Penelitian ini juga menggunakan metode observasi dalam mengumpulkan data. Observasi merupakan kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. Observasi dalam penelitian ini hanya sebagai data tambahan yang dilakukan saat wawancara berlangsung yang digunakan untuk melihat komunikasi non verbal subjek saat wawancara.

Pengambilan data dalam penelitian ini juga menggunakan tes psikologi yaitu tes grafis. Tes grafis merupakan tes proyektif dimana tes ini menggunakan stimulus yang ambigu untuk mengungkapkan kepribadian seseorang. Tes grafis ini terdiri dari Tes DAP (Draw a Person)/ DAM (Draw a Man), Tes Baum, dan Tes HTP (House Tree Person). Peneliti dalam menganalisa tes grafis menggunakan interreter sebagai bahan pertimbangan analisa dan interpretasi tes grafis.

Penelitian ini menggunakan tes grafis dengan maksud untuk mengungkap bagaimanakah hubungan keluarga subjek, relasi sosial subjek serta kepribadian subjek, yang nantinya digunakan untuk mendukung data wawancara, atau sebagai data tambahan dalam pembahasan faktor yang memengaruhi identitas diri.

(63)

identitas diri. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data-data tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1. Data Pelengkap

Data pelengkap yang dimaksud dalam penelitian ini adalah data mengenai latar belakang subjek meliputi kepribadian, latar belakang keluarga, latar belakang sosial. Untuk memperoleh data mengenai kepribadian subjek digunakan tes grafis, sedangkan untuk memperoleh data mengenai latar belakang keluarga dan sosial digunakan metode wawancara yang disertai observasi, dan tes grafis. Panduan wawancara mengenai latar belakang keluarga dan sosial adalah sebagai berikut:

1)

Latar Belakang Keluarga

Aspek yang akan diungkap mengenai latar belakang keluarga adalah: a) Hubungan antara orang tua subjek dengan subjek

b) Pendapat subjek tentang karakteristik orang tuanya c) Cara orang tua subjek mendidik anaknya (pola asuh) d) Cara berkomunikasi antara subjek dengan orang tuanya

2)

Latar Belakang Sosial

Aspek yang akan diungkap mengenai latar belakang sosial adalah: a) Lingkungan pergaulan subjek

b) Cara subjek menjalani pergaulannya

(64)

d) Persepsi lingkungan pergaulan subjek terhadap subjek sebagai anak pendeta

2. Status Identitas

Untuk mengetahui status identitas subjek digunakan metode pengambilan data wawancara yang disertai observasi. Status identitas subjek diketahui melalui eksplorasi dan komitmen yang telah dilakukan oleh subjek dalam hal okupasi (pekerjaan), relijius, peran gender, seksualitas. Panduan wawancara mengenai eksplorasi dan komitmen adalah sebagai berikut:

1) Eksplorasi

a) Okupasi (pekerjaan)

Pekerjaan yang pernah dilakukan oleh subjek b) Relijius

Agama yang pernah dipelajari subjek dan persepsi subjek terhadap agama yang dianut subjek

c) Peran gender

Pendapat subjek mengenai peran gender subjek Peran gender yang pernah dicoba subjek d) Seksualitas

Hubungan heteroseksual

(65)

2) Komitmen a) Pekerjaan

Pekerjaan yang diingini subjek dan alasan memilih pekerjaan tersebut

Yang dilakukan untuk mencapai pekerjaan tersebut b) Relijius

Hal yang membuat subjek yakin akan agamanya c) Peran gender

Peran gender yang diinginkan subjek ketika dewasa Pandangan mengenai karakteristik laki-laki/ perempuan d) Seksualitas

Harapan dalam hubungan heteroseksual

Perilaku seksual yang ingin atau tidak ingin dilakukan

3. Faktor yang Mempengaruhi Identitas Diri

(66)

E.

Analisis Data

Analisis data kualitatif (Bogdan & Biklen, dalam Moleong, 2006) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang tidak dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Dalam penelitian ini analisis yang digunakan adalah analisis tematik. Analisis tematik merupakan proses mengkode informasi yang dapat menghasilkan daftar tema, model tema atau indikator yang kompleks, kualifikasi yang biasanya terkait dengan tema tersebut, atau hal-hal diantara atau gabungan dari hal-hal tersebut (Poerwandari, 2005). Tema tersebut secara minimal dapat mendeskripsikan fenomena, dan secara maksimal memungkinkan interpretasi fenomena. Suatu tema dapat diidentifikasi pada tingkat termanifestasi (manifestast level), yaitu yang secara langsung dapat terlihat, dan suatu tema dapat juga ditemukan pada tingkat laten, tidak secara eksplisit terlihat, tetapi mendasari atau membayangi (Poerwandari, 2006).

Proses yang dijalankan dalam penelitian ini untuk menganalisis data adalah sebagai berikut:

1. Mengorganisasikan data

(67)

sistematis dan selengkap mungkin dapat memungkinkan peneliti untuk memperoleh kualitas data yang baik, mendokumentasikan analisis yang dilakukan, serta menyimpan data dan analisis yang berkaitan dengan penyelesaian penelitian.

2. Melakukan koding

Setelah mengorganisasikan data secara sistematis, langkah selanjutnya adalah memberikan kode-kode pada materi yang diperoleh. Koding dimaksudkan untuk dapat menganalisis data sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari. Dalam tahap ini peneleti memberikan nama untuk masing-masing berkas dengan kode tertentu. Selain itu peneliti juga memberikan kode pada transkrip verbatim untuk mempermudah peneliti dalam menganalisis.

Tabel 3.1 Kode Organisasi Data

Data Kode

Hasil Tes Grafis, subjek 1, tanggal 2 Agustus 2007

Wawancara 1, subjek 1, tanggal 11 Mei 2007 Wawancara 2, subjek 1, tanggal 28 Juni 2007 Wawancara 3, subjek 1, tanggal 10 Oktober 2007

Hasil Tes Grafis, subjek 2, tanggal 2 Agustus 2007

HTS1,020807

WWCR1,S1, 110507 WWCR2,S1,280607 WWCR3, S1, 101007

(68)

Wawancara 1, subjek 2, tanggal 9 Juli 2007 Wawancara 2, subjek 2, tanggal 10 September 2007

Hasil Tes Grafis subjek 3, tanggal 27 Agustus 2007

Wawancara 1, subjek 3, tanggal 19 Juli 2007 Wawancara 2, subjek 3, tanggal 29 Agustus 2007

WWCR1, S2, 090707 WWCR2, S2, 100907

HTS3,270807

WWCR1,S3,190707 WWCR2,S3,290807

Tabel 3.2

Kode Analisis Data Wawancara

Aspek yang digali Koding

1. Latar Belakang Keluarga 2. Latar belakang pergaulan

sosial

3. Status Identitas a. Eksplorasi

1) Okupasi (Pekerjaan) 2) Relijius

3) Peran gender 4) Seksualitas b. Komitmen

1) Okupasi (Pekerjaan) 2) Relijius

3) Peran gender 4) Seksualitas

(69)

3. Analisa awal

Pada tahap ini analisis tematik mulai dilakukan. Pada tahap ini peneliti berusaha untuk membaca berulang-ulang transkrip untuk mendapatkan pemahaman tentang kasus atau masalah, kemudian peneliti menyeleksi fakta-fakta relevan, atau dengan kata lain membuat catatan mengenai padatan fakta yang dapat memunculkan tema atau kata-kata kunci.

4. Pengujian terhadap dugaan

Data yang dipelajari akan memunculkan dugaan-dugaan yang merupakan kesimpulan-kesimpulan sementara. Dugaan yang berkembang tersebut harus terus dipertajam, dan diuji ketepatannya.

5. Tahapan Interpretasi

(70)

F. Pemeriksaan Keabsahan Data

1. Kredibilitas

Kredibilitas merupakan istilah yang sering dipakai dalam penelitian kualitatif untuk mengganti konsep validitas, dimaksudkan untuk merangkum bahasan menyangkut kualitaspenelitian kualitatif. Kredibilitas studi kualitatif terletak pada keberhasilannya mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan seting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks.

Stangl dan Sarantokos ( dalam Poerwandari, 2005) menyampaikan bahwa dalam penelitian kualitatif validitas dicoba dicapai tidak melalui manipulasi variabel, melainkan melalui orientasinya, dan upayanya mendalami dunia empiris, dengan menggunakan metode yang paling cocok untuk pengambilan dan analisis data. Terdapat beberapa konsep validitas yang dipakai yaitu:

1) Validitas Kumulatif

Validitas kumulatif dicapai bila temuan dari studi-studi lain mengenai topik yang sama menunjukkan hasil yang kurang lebih serupa.

2) Validitas Komunikatif

(71)

3) Validitas Argumentatif

Validitas argumentatif tercapai bila presentasi temuan dan kesimpulan dapat diikuti dengan baik rasionalnya, serta dapat dibuktikan dengan melihat kembali data mentah.

2. Dependabilitas

Dependability adalah suatu istilah untuk menjelaskan reliabilitas suatu penelitian kalitatif. Beberapa hal penting untuk meningkatkan dependability penelitian kualitatif adalah

1) Koherensi

Yaitu bahwa metode yang dipilih memang mencapai tujuan yang diinginkan

2) Keterbukaan

Yang dimaksudkan keterbukaan adalah sejauh mana peneliti membuka diri dengan memanfaatkan metode-metode yang berbeda untuk mencapai tujuan.

3) Diskursus

Sejauh mana dan seintensif apa peneliti mendiskusikan temuan dan analisisnya dengan orang-orang lain.

(72)
(73)

57

A. Pelaksanaan Penelitian

1. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah anak pendeta yang berada dalam masa remaja akhir (14 – 18 tahun). Subjek terdiri dari tiga orang yaitu:

2. Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu dan tempat dilaksanakan peneltian adalah sebagai berikut ini:

Subjek Hari,Tanggal Tempat Pengumpulan Data Jumat, 11 Mei 2007 Rumah subjek 1 Wawancara 1 1

Kamis, 28 Juni 2007 Rumah subjek 1 Wawancara 2 Subjek Nama Jenis Kelamin Usia Pendidikan

Subjek 1 St Perempuan 17 tahun SMU

Subjek 2 Ia Laki-laki 14 tahun SMP

(74)

Rabu, 10 Oktober 2007

Rumah subjek 1 Wawancara 3

Kamis, 2 Agustus 2007

Rumah subjek 1 Tes grafis

Senin, 9 Juli 2007 Rumah subjek 2 Wawancara 1 Senin, 10 September

2007

Rumah subjek 2 Wawancara 2 2

Kamis, 2 Agustus 2007

Rumah subjek 2 Tes grafis

Kamis, 19 Juli 2007 Rumah subjek 3 Wawancara 1 Rabu, 29 Agustus

2007

Rumah subjek 3 Wawancara 2 3

Senin, 27 Agustus 2007

Rumah subjek 3 Tes grafis

Secara keseluruhan pengambilan data yang dilakukan terhadap ketiga subjek diselesaikan dalam waktu 6 bulan.

B. Hasil Penelitian

1. Subjek 1

a. Latar Belakang Subjek 1) Identitas Subjek

Subjek 1 dalam penelitian ini memiliki identitas sebagai berikut:

Nama : St

(75)

Usia : 17 tahun

Urutan kelahiran : anak ke-1 dari 2 bersaudara

2) Kepribadian Subjek (kesimpulan umum tes grafis)

Dalam aspek intelektual dan aspirasi, subjek diindikasikan memiliki kecerdasan yang baik yang dapat dilihat melalui rasa ingin tahu yang dimiliki oleh subjek, cara berpikir subjek yang cenderung dinamis, serta daya abstraksi dan kemampuan merasio yang baik yang dimiliki oleh subjek. Selain itu subjek juga lebih menekankan pada relaitas, dan memiliki keteraturan dalam proses berpikir. Subjek dalam hal aspek intelektual dan aspirasi memiliki sisi negatif yaitu memiliki perasaan kurang yakin, kurang mantap, merasa lemah pada dirinya sehingga membuat subjek cenderung merasa kurang mampu, ragu-ragu dan sulit untuk memutuskan sesuatu, dan merasa tidak mampu untuk mencapai hasil.

(76)

diindikasikan juga memiliki perasaan bersalah (guilty feeling) terhadap sikap agresif.

Subjek memiliki konsep diri yang tidak terhambat, atau wajar, ada tendensi untuk menunjukkan senyum, namun adakalanya subjek merupakan individu yang konflik. Konfllik yang dialami subjek ini terkadang membuat subjek merasa kecil, dalam menghadapi tantangan kurang berani, represi, kurang bersemangat, adanya rasa inferior, dan rasa tidak mampu, kurang yakin pada dirinya. Subjek cenderung dikendalikan oleh ketidaksadaran sehingga terkadang membuat subjek takabur terhadap kerjanya. Subjek memiliki tendensi tidak masak, infantil, cenderung regresi, cenderung self oriented, dan tidak stabil. Subjek juga memiliki kontrol yang kaku terhadap seksualitas. Subjek diindikasikan memiliki sifat genit atau suka menarik perhatian, ada kecenderungan suka memamerkan diri, cenderung suka memanjakan diri, dan suka membujuk. Subjek juga diindikasikan mudah merasa tidak percaya atau curiga.

(77)

laku sosial yang kekanak-kanakan, sehingga subjek cenderung tergantung dengan orang lain terutama dengan ibunya

3) Latar Belakang Keluarga

Subjek dalam kehidupan sehari-hari terkadang memiliki hubungan yang kurang baik oleh karena perilaku subjek yang terkadang menjengkelkan orang tuanya, hal ini dikarenakan oleh masalah-masalah kecil antara subjek dan orang tuanya misalnya jika mandi terlalu lama maka orang tuanya terutama ayahnya akan menegor subjek. Selain masalah-masalah kecil yang dialami subjek, subjek juga memiliki masalah dengan orang tuanya tentang pacaran. Orang tua subjek kurang setuju dengan hubungan antara subjek dengan pacarnya.

Menurut persepsi subjek, ayah subjek memiliki sifat yang keras, tegas dan disiplin sedangkan ibunya lebih lembut. Kedua orang tua subjek memiliki sifat yang galak dan kolot.

(78)

Komunikasi antara subjek dan orang tuanya cenderung kurang baik. Subjek terkesan kurang bebas dalam berkomunikasi dengan orang tuanya, ada rasa sungkan dengan kedua orang tuanya. Hal ini tampak pada sikap subjek yaang kurang terbuka dengan kedua orang tuanya, subjek merasa bahwa orang tuanya kurang bisa dijadikan seorang teman, dan kurang bisa dijadikan tempat untuk mencurahkan isi hatinya. Dalam menyelesaikan masalah subjek kurang memiliki kesempatan menyelesaikan masalahnya, subjek dianggap oleh orang tuanya masih kecil, belum dewasa

4) Latar Belakang Sosial

Subjek dalam berelasi sosial sebenarnya merupakan orang yang mudah untuk meyesuaikan diri, dan cenderung ekstrovert namun oleh karena subjek merasa kurang mampu, inferior, ada perasaan takut maka subjek tampak introvert.

(79)

subjek meminta bantuan kepada teman-temannya untuk mengajari suatu mata pelajaran, subjek mengalami kesulitan dalam pelajaran tersebut dan teman-teman subjek tidak mau membantunya.

Persepsi subjek terhadap teman-teman sebaya laki-laki di sekolahnya adalah lebih kompak yang dikarenakan teman-teman sebaya laki-laki subjek suka pergi bersama, tetapi kekompakan tersebut hanya sebatas di sekolah saja. Lingkungan pergaulan di sekolah membuat subjek kurang dapat bergaul dengan teman sebaya laki-lakinya, hal ini tampak pada situasi dimana saat bersekolah tempat duduk antar laki-laki dan perempuan terpisah.

Selain memiliki pergaulan di sekolah, subjek juga menjalin hubungan dengan teman-teman subjek yang ada di gereja. Subjek merasa bahwa teman-teman subjek yang ada di gereja terkadang mendiskriminasikan subjek sebagai anak pendeta, diskriminasi ini lebih tertuju pada tuntutan peran subjek sebagai anak pendeta.

(80)

membantu temannya yang lemah atau dalam arti subjek mau membantu saat temannya membutuhkan bantuannya.

Pandangan subjek mengenai peran anak pendeta di lingkungan sosial adalah sebagai seorang anak pendeta harus dapat menjadi teladan atau contoh bagi orang lain dan bersikap baik kapanpun dan dimanapun. Hal ini membuat subjek merasa kurang dapat mengekspresikan diri atau dalam arti kurang dapat mengektualisasikan diri.

b. Status Identitas 1) Identitas Okupasi

Subjek dalam identitas okupasinya telah melakukan eksplorasi. Subjek pernah mencoba untuk bekerja yaitu berjualan asesoris wanita ketika masih SD.

“ pernah tapi waktu SD, jualan jepit-jepit, ngambil barangnya di Petraco terus dijual di sekolah, ada tante-tante yang pesen juga” (WWCR1, S1, 110507,no 64)

(81)

“ semisal pergi ke rumah sakit ikut masuk ke ruang praktek, lihat dokternya gimana ngobati pasiennya, kalo di UKS bantu periksa tensi darah, seminggu bisa 4 kali” (WWCR2, S1, 280607, no 20)

Selain mencari informasi tentang pekerjaan seorang dokter, subjek juga mencoba mencari informasi tentang desain interior. Informasi yang subjek peroleh berasal dari saudaranya. Informasi yang diperoleh subjek bekerja dalam bidang desain interior merupakan pekerjaan yang menyenangkan karena dapat menyalurkan hobi.

“ katane sih menyenangkan, nda bikin bosen, jadine itu...sambil kaya hobi” (WWCR3, S1, 101007, no 34)

Subjek juga mencoba untuk mencari informasi tentang pekerjaan yang berkaitan dengan farmasi. Subjek dalam mengeksplorasi informasi tentang farmasi hanya sebatas tahu bagaimanakah perkuliahan yang akan dijalanani jika masuk fakultas farmasi. Subjek kurang mengetahui pekerjaan apakah yang dapat dilakukan setelah lulus kuliah di farmasi.

“...Sekarang pinginya masuk di Farmasi” (WWCR3, S1, 101007, no 8)

“kalo kerjanya belum tahu” (WWCR3, S1, 101007, no 22)

“ setahuku itu ya kuliah ke lab trus percobaan larutan, ngetes makanan” (WWCR3, S1, 101007, no 42)

(82)

kuliah di fakultas tertentu. Perubahan-perubahan keputusan menentukan masuk dalam fakultas kedokteran menjadi fakultas farmasi tanpa adanya suatu pertimbangan minat dan bakat yang dimiliki oleh subjek. Subjek masih merasa ragu-ragu dan kurang mantap memilih fakultas apa yang akan dimasuki di dunia perkuliahan, yang tentunya berpengaruh terhadap komitmen dalam pekerjaan.

“ aku malah pinginnya sekarang masuk farmasi” (WWCR3, S1, 101007, no 6)

“ nda itu cuma keinginan apa ya... keinginan waktu kecil aja. Sekarang pinginya masuk di Farmasi” (WWCR3, S1, 101007, no 8)

Subjek yang tidak memiliki komitmen dalam pekerjaan, dan eksplorasi yang telah dilakukan subjek baik dalam mencari informasi tentang pekerjaan dan mencoba bekerja dengan berjualan dapat menunjukkan status identitas pekerjaan subjek saat ini. Subjek dalam identitas pekerjaannya memiliki status penundaan identitas (identity moratorium) yaitu subjek telah melakukan eksplorasi-eksplorasi atau sedang mengalami krisis namun belum memiliki komitmen dalam pekerjaan.

2) Identitas Relijius

(83)

pelajaran agama universal, sehingga subjek memperolah pengetahuan tentang berbagai agama.

“ ...dari sekolah juga, khan ada pelajaran agama universal, secara tidak langsung pernah mempelajari” (WWCR1, S1, 110507,no 78)

Dalam mengeksplorasi tentang berbagai agama, subjek hanya sekedar ingin mengetahui tentang agama-agama lain tanpa mendalami agama tersebut.

“ kalau cuma pingin tahu agama lain iya, tapi untuk mempelajari kayanya nda, nda penting, sudah yakin banget sama agama Kristen” (WWCR1, S1, 110507,no 82)

Subjek memiliki komitmen terhadap agamanya. Komitmen ini tampak pada keyakinan sujek terhadap agama yang subjek peluk. Subjek merasa bahwa agamanya berbeda dengan agama-agama lain.

“ beda dari yang lain, lebih meyakinkan. Kalu lihat mujizat Beni Hin kayanya Tuhan bener-bener menyertai, bener-bener ada, jadi semakin yakin” (WWCR1, S1, 110507,no 80)

“ ...sudah yakin banget sama agama Kristen” (WWCR1, S1, 110507,no 82)

Gambar

Tabel 3.1Kode Organisasi Data
Tabel 3.2
Tabel 4.1Rangkuman Hasil Penelitian
Gambar tampak hidup
+7

Referensi

Dokumen terkait

diri individu yang dilabel indigo dan kuesioner Orientasi Masa Depan untuk.. mengukur gambaran orientasi masa

Sebanyak 55.56% (lima Odapus usia dewasa awal) di Yayasan “X” Kota Bandung memiliki gambaran orientasi masa depan ranah pekerjaan yang tidak jelas dan sebagian lainnya

Pengamen remaja yang mempunyai konsep diri positif adalah pengamen remaja yang menghayati, menampilkan perilaku, dan menerima dirinya dilihat dari dimensi internal

Siswa sekolah menengah kejuruan adalah siswa yang berada pada rentangan usia remaja. Dimana masa yang mulai memasuki dunia pendidikan tinggi dan penentuan karir

Permasalahan dalam penelitian ini adalah bahwa makna suatu pengalaman remaja dalam melakukan aktivitas “OOTD” di Instagram menghantarkan pada identitas remaja yang berbeda-beda

Studi Deskriptif Help Seeking Behaviour Pada Remaja yang Pernah Mengalami Parental Abuse Ditinjau dari Tahap Perkembangan (Masa Awal Anak-anak – Masa Remaja) dan Identitas

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan memperoleh pemahaman mengenai gambaran dari konflik diri remaja sebagai akibat penerapan disiplin otoriter yang diterapkan

Tiga dari lima informan tersebut masuk pada kelompok remaja perempuan obesitas dengan konsep diri positif dikarenakan, penyampaian yang dilakukan oleh orang tuanya