• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran

Berdasarkan hasil analisis dan simpulan yang telah diuraikan, penulis mengajukan beberapa saran, yakni:

1. Guru diharapkan menjadi pendidik yang cerdas serta memahami apresiasi sastra yang dikaitkan dengan keadaan sosial dan bersikap edukatif ketika menyampaikan materi pembelajaran apresiasi sastra.

2. Dari penggambaran peristiwa sejarah Indonesia dalam naskah drama

Cannibalogy karya Benjon, diharapkan peserta didik dapat mengetahui sejarah bangsanya.

3. Lewat kritik sosial yang tertuang dalam naskah drama Cannibalogy karya Benjon, diharapkan siswa mampu memahami norma-norma bangsa serta menjadi calon pemimpin yang bermoral di masa depan.

4. Naskah drama Cannibalogy dapat digunakan sebagai sumber dalam pembelajaran apresiasi sastra dalam mata pelajaran bahasa Indonesia karena naskah tersebut mengandung nilai-nilai sosial, pendidikan moral serta sejarah yang dapat menjadikan peserta didik lebih kritis dan menghormati keadaan sosial di sekitarnya.

124

2005.

Asvi, Adam Warman. Menguak Misteri Sejarah. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2010.

Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2004. Djarot, Eros. dkk. Siapa Sebenarnya Soeharto: Fakta dan Kesaksian Para Pelaku

Sejarah G-30-S/PKI. Jakarta: PT. TransMedia, Cet. 10, 2008.

Damono, Sapardi Joko. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta, Pusat Pembinaan dan Pengenmbangan Bahasa, 1979.

Dimyanti, Ipit S. Panggung Besar, Panggung Kecil: Fenomena Pemuaian Dan

Penukilan Ruang Public Dalam Panggung Teater, Teater Bandung:

Gagasan & Pemikiran. Bandung: Jurusan Teater STSI Bandung.

Djafar Zainuddin. Soeharto: Mengapa Kekuasaannya dapat Bertahan Selama 32 Tahun. Depok: FISIP-UI Press, 2005.

Endraswara, Suwardi. Metodologi penelitian Sastra, Yogyakarta: Medpress, , Cet. IV. 2008

Faruk. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.

Keraf, Gorys. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Kosasih, E. Apresiasi Sastra Indonesia: Puisi, Prosa, Drama. Jakarta: PT Perca, 2008.

K.M Saini. Protes sosial dalam Sastra, Bandung: Angkasa, 1988.

Kurniawan et.al, Pengakuan Algojo 1965. Jakarta: PT Tempo Inti Media, cet. IV, 2013.

Luhulima, James. Hari-Hari Terpanjang: Menjelang Mundurnya Presiden Soeharto. Jakarta: Kompas, 2007.

MD, Mahfud dkk. Kritik Sosial dalam Wacana Pembangunan. Yogyakarta : UI Press, cet. 2, 1997.

Yogyakarta, 2012.

Pradopo, Rachmat Djoko. dkk. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya, 2002.

Rahmanto, B. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanius, 1988.

Ratna, Nyoman Kutha. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2009.

Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2008, Terj. dari A History of Indonesia Since c. 1200 Fourth Edition. Cet. I. Serambi Ilmu Semesta, 2008.

Saliwangi, Basennang. Pengantar Strategi Belajar-Mengajar Bahasa Indonesia.

Malang: IKIP, 1989.

San, Suyadi. Drama Konsep Teori dan Kajian. Medan: CV. Partama Mitra Sari, 2013.

Saraswati, Ekarini. Sosiologi Sastra Sebuah Pemahaman Awal, Malang: UMM Press.

Semi, Attar. Anatomi Sastra. Bandung: Angkasa, 1988.

Semi, Atar. Rancangan Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, (Bandung: Angkasa, 1990

Sikana, Mana. Kritikan Sastra Melayu Modern. Singapura: Pustaka Karya, 2006. Siswanto, Wahyudi. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo, 2008.

Southwood, Julie dan Patrick Flanagan. Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum & Propaganda 1965-1981. Depok: Komunitas Bambu, 2012.

Sumaadmaja, Nursid. Perspektif Studi Sosial. Bandung: Penerbit Angkasa,1980. Tarigan, Henry Guntur. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.

Bandung: Angkasa, 2008.

Tim Analisis Informasi (LAI). Kontroversi Super Semar: Dalam Transisi Kekuasaan Soekarno-Soeharto (Edisi Revisi). Yogyakarta: Medpress, Cet. 10, 2007.

W S. Hasanuddin. Drama Karya Dalam Dua Dimensi. Bandung: Angkasa, Cet. 1, 1996.

Ibo, Ahmad . Catatan Kelam Dunia Seni di Masa Orde Baru.

http://www.huntnews.id/p/detail/16c9fa5c7cc4237d0f3cda537d96eeb1?uc_ param_str=dnfrpfbivesscpgimibtbmntnijblauputoggdnw&pos=14533501285 34&channel=lifestyle&chncat=category_indonesian. Diakses pada 19 Agustus 2016 pukul 22:15 WIB.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Pramoedya Ananta Toer.

http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/tokoh/278/Pramoedya%2 0Ananta%20Toer. Diakses pada 19 Agustus 2016 pukul 22:10 WIB.

Galih, Bayu. Berakhirnya Kekuasaan Soeharto dan Orde Baru.

http://nasional.kompas.com/read/2016/05/21/06060041/21.Mei.1998.Berakh irnya.Kekuasaan.Soeharto.dan.Orde.Baru.?page=all. Diakses pada 12 Juli 2016 pukul 20:30 WIB.

Khairuddin, Fachrul. Sejarah Majalah Tempo: Konflik dan Pembredelan

http://www.kompasiana.com/fachrulkhairuddin/sejarah-majalah-tempo-konflik-dan-pembredelan_5500651a813311a019fa768d. Diakses pada 16 Agustus 2016 pukul 22:17 WIB.

Yohanes, Beny. Profil Beny Yohanes, 2010, dalam Nano Riantiarno (ed.), (http://www.kelola.or.id/database/theatre/list/&dd_id=67&p=3

Poti, Jamhur. Jurnal: Demokratisasi Media Massa Dalam Prinsip Kebebasa.

https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1& cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjcsaPQ46rPAhVJK48KHZwkDfcQFggaM AA&url=http%3A%2F%2Ffisip.umrah.ac.id%2Fwp- content%2Fuploads%2F2012%2F03%2FJURNAL-ILMU- PEMERINTAHAN-BARU-KOREKSI-last.2335.pdf&usg=AFQjCNG9mesSlr6F_tt28tclMSh1ECbuEQ&sig2=QL_ cY7pYZQSlfB8GCjs43Q&bvm=bv.133700528,d.dGo. Diakses pada 25 September 2016 pukul 22:35.

Shadily, Hassan. Ensiklopedi Indonesia, jilid III, Jakarta: Ichtiar Baru – Van Hoeve, 1982.

Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, Cet. 3, 2005.

MATA PELAJARAN Bahasa dan Sastra Indonesia

KELAS /SEMESTER XI (sebelas) / 2 (dua)

PROGRAM IPS

ASPEK PEMBELAJARAN Menulis

STANDAR KOMPETENSI 5. 1 Mengulas secara kritis film/drama

KOMPETENSI DASAR 5.2 Memahami struktur dan kaidah teks film / drama

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI :

No Indikator Pencapaian Kompetensi Nilai Budaya Dan Karakter Bangsa

Kewirausaha Ekonomi Kre

1 Memahami struktur dan kaidah teks film /

drama baik melalui lisan maupun tulisan

Bersahabat/ komunikatif Kreatif

Kepemimpin

Keorisinilan

2 Mengungkapkan kembali struktur teks

film / drama

3 Menginterpretasi makna teks film / drama baik secara lisan maupun tulisan

ALOKASI WAKTU 2 x 45 menit ( 2 pertemuan)

TUJUAN PEMBELAJARAN TUJUAN

Siswa mampu mengungkapkan kembali struktur teks film / drama

MATERI POKOK PEMBELAJARAN

Teks drama/ video rekaman pementasan drama

Unsur yang terkandung dalam teks drama (unsur intrinsik dan ekstrinsik)

METODE PEMBELAJARAN

v Presentasi

STRATEGI PEMBELAJARAN

Tatap Muka Terstruktur Mandiri

Memahami teks film/

drama

Menganalisis teks film/ drama berdasarkan unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terkandung

Siswa dapat memahami unsur intrinsik teks film/drama serta mengkritisi teks yang telah dipelajari

KEGIATAN PEMBELAJARAN

KEGGIATAN KEGIATAN PEMBELAJARAN ALOKASI

WAKTU PEMBUKA

(Apersepsi)

 Guru memberi salam dan

memberi pertanyaan yang berhubungan dengan pembelajaran sebelumnya tentang teks film/ drama serta kondisi yang beredar di masyarakat

Guru memutarkan rekaman

beberapa cuplikan adegan pementasan drama . Cuplikan difokuskan pada fenomena sosial.

20 Menit

Kegiatan Inti :

Eksplorasi

Guru menjelaskan beberapa teknik

yang sangat penting dalam mengkritisi teks drama. Setiap penjelasan langsung disertai contoh yang terdapat dalam teks drama

Elaborasi

Siswa membaca teks drama secara

utuh. Dengan berdiskusi, siswa menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik di dalamnya.

Siswa berdiskusi untuk

merumuskan mengkritisi teks drama.

70 Menit

Siswa mempresentasikan hasil

diskusinya di muka kelas dan ditanggapi secara

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

Menyimpulkan tentang hal-hal

yang belum diketahui

Menjelaskan tentang hal-hal yang

belum diketahui. PENUTUP

(Internalisasi dan refleksi)

 Guru mengakhiri kegiatan

pembelajaran dengan memberikan pesan agar peserta didik selalu belajar agar dapat menjawab soal-soal Kuis Uji Teori untuk mereview konsep-konsep penting tentang mengkritisi teks film/ drama yang telah dipelajari

 Guru memberikan kuis

berkenaan dengan aspek pengetahuan dan keterampilan.

 Guru memberikan arahan

kegiatan berikutnya dan tugas pengayaan

Siswa diajak merefleksikan

nilai-nilai serta kecakapan hidup (live skill) yang bisa dipetik dari pembelajaran

Guru menyampaikan tugas mandiri

(dikerjakan di rumah): mencermati teks. Pengamatan difokuskan pada hubungan teks drama dengan fenomena sosial.

Drama Karya dalam dua dimensi karya Hasanuddin W.S

Material: Naskah drama Cannibalogy

V Mediacetak dan

elektronik

Website internet

Lingkungan Lingkungan masyarakat sekitar siswa

PENILAIAN

TEKNIK DAN BENTUK

V Tes Lisan V Tes Tertulis

V Tagihan Hasil Karya/Produk: tugas, projek, portofolio Pengukuran Sikap

Penilaian diri INSTRUMEN /SOAL

Tugas untuk menganalisis teks drama

Tugas untuk mendiskusikan dan mempresentasikan hasil analisis teks drama

Daftar pertanyaan Kuis uji teori untuk mengukur

pemahaman siswa atau konsep-konsep yang telah dipelajari RUBRIK/KRITERIA

PENILAIAN/BLANGKO OBSERVASI

Blangko observasi dan penilaian kinerja siswa dalam mengikuti diskusi dan presentasi (terlampir di bawah)

Mengetahui Tangerang, Juli 2016

Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

 

Drama adalah bentuk karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan menyampaikan pertikaian dan emosi melalui lakuan dan dialog. Lakuan dan dialog dalam drama tidak jauh berbeda dengan lakuan dan dialog yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.1

Berbicara tentang drama, terdapat dua aspek yang perlu di pahami dan dipisahkan. Yang pertama ialah aspek penulisan naskah dan kedua aspek pementasan. Meskipun keduanya berbeda, namun terdapat ikatan hubungan yang sangat erat. Sebagai sebuah bentuk karya sastra, penyajian drama berbeda dengan bentuk kesusastraan lainnya, cerpen dan novel misalnya. Pada novel dan cerpen masing-masing menceritakan kisah yang melibatkan tokoh-tokoh melalui kombinasi antara narasi dan sedikit dialog, sedangkan sebuah drama pada hakikatnya terdiri atas dialog dan sedikit prolog.

Pementasan sebuah drama akan memudahkan penikmat sastra untuk memahami drama, karena penikmat akan lebih mudah mengerti dan memahami dialog yang diucapkan dengan intonasi dan artikulasi yang sesuai jika dibandingkan dengan membaca dialog-dialog pada naskah drama secara langsung. Dengan dialog, akan terlihat penokohan, permasalahan dan peristiwa yang hendak dikemukakan oleh pengarangnya. Akan tetapi, jika pemahaman tersebut terus dipaksakan dan berorientasi dengan pengertian seperti di atas, drama akan kehilangan dimensi sastranya, dan hanya akan menonjol dari seni pertunjukannya saja.

1

E.Kosasih, Apresiasi Sastra Indonesia: Puisi, Prosa, Drama, (Jakarta: PT Perca, 2008), h. 81.

Mendengarkan Drama dan Mengidentifikasi Peristiwa serta Konfliknya

Drama merupakan cerita tentang kehidupan manusia yang diperankan di atas panggung atau dipentaskan. Oleh karena merupakan tiruan kehidupan manusia, drama selalu menyajikan rangkaian peristiwa yang berhubungan sebab akibat sehingga terbentuk jalan cerita (alur). Setiap tahapan alur dipentaskan dalam adegan berupa dialog dan pemeranan yang dipisahkan menggunakan perpindahan panggung atau pergantian layar. Secara lengkap, penyajian alur dapat dijelaskan berikut ini.

1) Tahap Situation: Tahap penyituasian, tahap yang pertama berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh (-tokoh) cerita. Tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita, pemberi informasi awal, dan lain-lain yang terutama berfungsi untuk melandastumpui cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya.

2) Tahap Generating Circumstance: Tahap pemunculan konflik, masalah dan

peristiwa yang menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan. Jadi, tahap ini merupakan tahap awal munculnya konflik, dan konflik itu sendiri akan berkembang dan atau dikembangkan menjadi konflik-konflik pada tahap selanjutnya. Tahap pertama dan kedua pada pembagian ini, tampaknya berkesesuaian dengan tahap awal pada penahapan seperti yang dikemukakan di atas.

3) Tahap Rising Action: Tahap peningkatan konflik, konflik yang telah

dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang dan dikembangkan kadar intensitasnya. Peristiwa-peristiwa dramatik yang menjadi inti cerita semakin mencengangkan dan menegangkan. Konflik-konflik yang terjadi, baik internal, eksternal, ataupun keduanya, pertentangan, benturan antarkepentingan, masalah, dan tokoh yang mengarah ke klimaks semakin tak dapat dihindari.

dialami oleh tokoh (-tokoh) utama yang berperan sebagai pelaku dan penderita terjadinya konflik utama.

5) Tahap Denouement: Tahap penyelesaian, konflik yang telah mencapai

klimaks diberi penyelesaian, ketegangan dikendorkan. Konflik-konflik yang lain, sub-konflik, atau konflik-konflik tambahan jika ada, juga diberi jalan keluar, cerita diakhiri. Tahapan ini berkesesuaian dengan tahap akhir di atas.2

Contoh teks drama

Cannibalogy

Naskah drama ini menceritakan tentang seorang penguasa diktator yang menguasai suatu daerah . ia merupakan seorang penguasa yang semena-mena. Karena sifatnya yang tidak baik, maka akhirnya penguasa tersebut jatuh dan diberikan hukuman seumur hidupnya.

BABAK I Fragmen 1

Lewat tengah malam. Kuburan desa pinggiran Mojokuto. Sebuah makam sedang digali. Dari tengah kampung, sayup-sayup terdengar gamelan mengiringi adegan perang pada pertunjukan wayang. Dari liang makam nampak sosok kepala plontos sedang menggaruk tanah dengan kedua tangannya. Dengus nafas dan suara gagak saling menimpal. Angin kencang.

Seonggok jasad dikeluarkan dari liang. Sosok kepala plontos memanggul jasad ke bahunya. Gerakannya sigap. Keringat mengkilat dari bidang dadanya. Kulitnya coklat keruh. Hitam matanya.

Suman : Guru, syaratnya sudah dapat. Ini baru yang kelima. Ya,...harus tambah dua lagi. Ilmuku hampir sampai. Semua syarat akan kupenuhi, guru. Hah, aku lapar. Aku bosan melarat. Aku minta kaya! Aku ingin kebal dari senjata. Gusti, paringono kuat slamet!

Suara gamelan perang meninggi. Suman berjalan tergesa ke timur, menembus gelap. Kuburan sesaat senyap. Bias api obor menyorot ke areal makam. Muncul dua orang tentara desa, Kuro dan Sentolo.

***

Mbok Tirah : O...Nang... Wetonmu iku Seloso Kliwon. Kamu cocoknya ya berdagang. Itu sudah garis hidupmu. O...alah, kok sekarang semuanya malah kamu obong. Sing eling tho Nang...nang...

Suhar : (Wajahnya mengeras, tapi sikapnya mantap)

Mbok Tirah, aku sudah bangkrut. Nasibku sempit di sini. Kampung ini sepertinya menolakku.

Mbok Tirah : Jangan putus asa. Gusti Allah sing dhuwe kuasa. Pergi ke desa lain,Suhar. Coba lagi. Pasti laku daganganmu. Bapakmu dulu juga begini. Tapi ndak pernah sampai ngobong. Rejeki harus disyukuri. Gusti Allah ora sare.

2

Nurgiantoro, Teori Pengkajian Fiksi,(Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2013) h.149.

mengepul. Belasan orang bersenjata tajam mengendap-endap mendekatinya dari arah belakang. Segera orang-orang merangseknya.

Suman : (Membalik, sorot matanya menantang. Mulutnya masih mengunyah keratan daging hangus.

Suaranya tenang, berjalan mendekati orang-orang) Mau coba ? Massa : Bunuh! Bunuh!!

(Dari arah belakang, Kuro menerjang dan meringkus Suman. Sentolo menyudahinya dengan pukulan keras batang kayu ke kepala Suman. Suman rubuh. Massa bersorak. Pukulan bertubi ke tubuh Suman. Muncul Daeng, dalam seragam hitam prajurit)

Kuro : Lihat sendiri. Dagingnya sudah dibikin sate. Lainnya sedang direbus. Lihat di lehernya. Itu masih daging korban juga. Malah dibikin kalung. Orang ini gemblung, Daeng.

Sentolo : Matanya melotot terus. Seperti burung hantu. Nantang dia. Ada setan di dagingnya. Kamu ini manusia apa binatang ?!

Fragmen 4

Hari yang lain. Malam belum tua. Sebuah kelokan di tepi Bengawan Solo. Cahaya bulan meronai wajah pepohonan. Rumput tinggi. Suara serangga malam.

Suhar : Ini tempatnya. Mirip seperti mimpiku. Alam akan memberi tanda-tanda.Takdir baruku mulai dari sini. (Memungut sesuatu dari hampar batu) Apa ini? (Membaca judul majalah) Playboy. (Membuka halaman, nafasnya mendadak terengah)

Cahaya tajam seperti kilat menyambar jidat Suhar. Tubuhnya tersungkur ke hampar batu. Muncul sosok kurus kecil, kepalanya berkuluk hijau tua, mengenakan baju batik berlapis-lapis. Di tangannya terhunus keris yang masih mengepulkan asap.

Ki Butho : Aku penunggu Bengawan Solo.

Suhar : Saya datang Ki Butho. Saya minta ijin eyang, saya mau...

Ki Butho : Sudah kubaca maksudmu. Romanmu bagus,cah. Tapi jiwamu belum bersih, Suhar. Suhar : Mohon saya dibersihkan, Ki.

Ki Butho : Kamu sedia syaratnya ?

Suhar : Ada, Ki. Kemenyan, cerutu, beras hitam, air kembang, daun kelor, darah ayam cemani. Ki Butho : Masih kurang.

Suhar : Bisa saya penuhi, Ki.

Ki Butho : Satu kerbau betina yang masih perawan. Dan edisi terbaru majalah yang kau pegang itu. Suhar : Yang dua itu, saya belum sedia, Ki. Saya juga belum paham kaitannya dengan maksud saya. Ki Butho : Suhar, Suhar. Kamu ini mau tapa brata, minta berkah kekayaan dan kemulyaan. Tapi apa yang kamu bawa?! Cuma kemenyan dan sebotol darah ayam. Lainnya cuma tetek bengek murahan. Penuhi semua syaratnya. Baru aku bisa membimbingmu membaca rencana alam untuk kamu.

Suhar : Apa yang mesti saya perbuat, Ki ?

Ki Butho : (Menempelkan ujung keris ke kepala Suhar) Kau dan aku akan mengikat sebuah perjanjian. Setiap kali nasibmu membaik, kau harus kembali ke Bengawan Solo. Memberi makan sungai besar ini. Bukan dengan darah ayam, Suhar. Kau harus memberi makan Bengawan Solo dengan darah segar yang sesungguhnya. Satu kepala baru untuk setiap kali alam mengangkatmu ke derajat lebih tinggi. (Nada suaranya berubah, tekanan dan ancaman ) Sanggup ?

Suhar : Saya belum paham...

Ki Butho : Pada waktunya kau akan paham. Darah !( Dengan ujung kerisnyaKi Butho mengoleskan darah ayam cemani ke kening Suhar. Sisanya dikucurkan melingkar di sekeliling mezbah batu, dimana Suhar bersimpuh ) Cerutu ! (Suhar menyodorkan cerutu.Ki Butho ambil cerutu, lalu menyalakannya. Terbatuk) Ah, cerutu murah. Kau boleh mulai semedi malam ini. Tempat ini sudah aku lindungi.

Suman. Penduduk Mojokuto memainkan musik dari pukulan bambu dan besi. Arak-arakan itu sampai ke depan pendopo. Daeng naik ke lantai pendopo, memasuki pintu, lalu sesaat ke luar lagi, mendatangi massa.

Daeng : Mas Ageng, pemimpin Mojokuto, sedia menerima kalian.

Mas Ageng muncul. Sosoknya pendek, berkulit hitam, alisnya setebal kumisnya. Tubuhnya berisi. Di bahunya menclok seekor iguana, yang selalu dielusnya. Mas Ageng masih mengunyah sirihnya. Sinta Salim,selir Mas Ageng, seorang perempuan peranakan, membawakan tempolong.

Mas Ageng : Mana orangnya ?

Daeng : ( Kepada Kuro dan Sentolo) Lepaskan talinya!

Suman digelandang ke depan Mas Ageng. Didudukkan di atas tanah. Mas Ageng memandanginya sesaat. Alis Suman setebal rambut alis dirinya.

Mas Ageng : Kamu senang daging ? Suman : Tidak suka.

Mas Ageng : (Suaranya berubah meninggi dan tegas) Suman, kenapa mayat mbah Sirep kamu makan ?!

Suman : (Berlutut di depan kaki Mas Ageng)Saya ingin kaya, tuan. Dan saya ingin kebal dari senjata. Saya ingin jadi prajurit. Maju perang. Membela tanah yang kupijak.

Sentolo : (Merenggut kepala Suman. Menempelkan golok ke leher Suman) Bohong!! Ngawur!! Gemblung!! Hukum dia, den Mas. Penclas lehernya! Biar dia nyahok! Beri aku perintah, den Mas. Suman : Jika sekarang tuan ijinkan golok ini menebas leherku, teruskan, tuan. Aku tidak melayani rasa sakit. Kalau hari ini harus menjadi hari kematianku, Suman hanya menyesal, sedikit sekali baktiku untuk tanah Mojokuto.

Sentolo : (Mendesak Mas Ageng) Den Mas,...

Mas Ageng : (Mengambil golok dari tangan Sentolo. Dengan isyarat tangan meminta Sentolo mundur. Meminta pada Daeng). Daeng, baringkan.

(Daeng menelentangkan tubuh Suman di atas sebatang gebok pisang. Mas Ageng menempelkan ujung golok ke dada Suman)

Orang-orang Mojokuto, dengarkan keputusanku. Orang ini miskin. Begitu juga pikirannya. Dia tidak hormat pada jasad orang mati, karena dia merasa harus bertahan hidup. Tak ada orang lain memberinya jalan keluar. Dia mencari jalan keluar di dunia orang mati. Pikirannya menjadi bagian dari kematian itu juga. Tapi orang ini berkeras hati ingin hidup. Kalau dia mau hidup, dia harus berpikir seperti orang hidup. Dia harus patuh pada hukum.

Mas Ageng : (Mas Ageng menekankan ujung golok lebih keras ke dada Suman. Suman menahan nafas. Penduduk bersorak )

Perbuatannya patut dihukum. Ya!! Tapi orang-orang Mojokuto, dengarkan keputusanku. Di dunia orang hidup, menghukum bukan menyakiti. Juga bukan untuk menghabisi. Menghukum itu, menyembuhkan.

Suman, kau dihukum, supaya kau sembuh. Supaya kau patuh di dunia orang hidup,dan hormat di dunia orang mati. Kau dihukum untuk hidup. Maka, kau harus bekerja merawat seluruh makam di tanah Mojokuto, dan menjaganya seperti kau menjaga kehidupanmu sendiri, Itulah baktimu untuk tanah Mojokuto. Sekali saja kau langgar ini, berarti kau gagal untuk sembuh. Dan kalau kau gagal sembuh, maka tanganku sendirilah yang akan menjadi hukum untuk hidupmu!

(Dengan sepenuh tenaga, Mas Ageng menancapkan golok ke batang gebok pisang. Golok tegak terpasak. Cairan semerah darah meleleh dari lapisan gebok. Orang-orang takjub. Suman bersimpuh di kaki Mas Ageng)

Kebo : Mojokuto diserang. Rumah-rumah dibakar. Mas Ageng : Siapa mereka ?

Kebo : Dari laut utara datangnya. Lusinan kapal besi, dengan bendera merah biru merapat ke pantai. Syahbandar melaporkan, mereka cuma kapal dagang pembeli rempah. Tapi mereka tidak seperti pedagang.

Mas Ageng : Kapal besi ?

Kebo : Dengan senjata meriam, dan pasukan berseragam. Badan mereka tinggi, berkulit putih, dengan topi lancip bersurai. Mereka menyisir gudang rempah, dan membongkar paksa pintu-pintunya. Rempah-rempah dijarah. Pasukanku yang melawan, mereka tembak. Penduduk ditawan. Mereka bersiap menuju kemari, dengan kuda, dan meriam.

Mas Ageng : Siapa pemimpinnya ?!

Kebo : Landless. Panglima Landless. Pasukannya menyebut nyebut nama itu sambil bernyanyi, menendang penduduk dan membakar gudang gudang yang sudah mereka kuras isinya.

Terdengar lagi dentuman meriam. Lalu suara pasukan berkuda, makin menegas. Mars yang bergelora.

Daeng : Kita akan melawan!

Mas Ageng : Daeng, siapkan seluruh pasukanmu, dan siaga di gerbang timur. Kebo, kau akan menahan setan putih itu bersama pasukan Murod, di gerbang barat. Perintahkan penduduk mengungsi ke tepi hutan. Aku sendiri yang akan menjaga pendopo. Laksanakan segera!

Daeng : Segera! Kebo, kita akan melawan. (Berlari ke timur) Kebo : Sampai darah terakhir! (Berlari ke Barat)

(Letusan senjata makin kerap. Gerombolan penduduk berlarian. Sesaat sepi, tanpa suara. Suman masih bersimpuh.)

Sinta Salim menarik kain panjangnya, lalu ujungnya diselipkan ke pinggang. Dia memasang busur dan anak panah.

Sinta Salim : (Berteriak nyaring) Cantrik Dalem! Bela Mojokuto!

Dari arah lain masuk belasan perempuan, siap dengan panah dan busur. Sinta Salim berjalan ke luar pendopo, diikuti belasan perempuan itu.

Anggota kelompok :

Analisislah unsur intrinsik dari naskah drama Cannibalogy karya Benny Yohanes:

No. Unsur

Intrinsik Jawaban Bukti

1. 2. 3. Alur a) Penyituasian b) Pemunculan

Dokumen terkait