BAB V PENUTUP
5.2 Saran
Dalam penelitian ini fokus yang diteliti mengenai teks dengan pisau analisis semiotika, maka diharapkan penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan analisis komunikasi visual dalam ranah media massa, sehingga penelitian selanjutnya berbeda dengan dengan penelitian ini karena melihat dari berbagai macam perspektif. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah dalam bidang ilmu komunikasi khususnya dalam penelitian yang berkaitan tentang analisa tanda dan makna pada cover majalah Tempo.
Selain itu penelitian ini juga diharapkan jadi bahan evaluasi bagi media dalam menggambarkan realitas yang terjadi di masyarakat sehingga tidak terjadi multitafsir dan dugaan di masyarakat mengenai sebuah penggambaran berita.
DAFTAR PUSTAKA
Ardianto, E. dan bambang Q.-A. (2011). filsafat ilmu komunikasi. Simbiosa Rekatama Media.
Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta.
Assegaf, D. H. (1983). Jurnalistik Masa Kini, Pengantar Kepraktekan. Ghalia Indonesia.
Budiman, K. (2011). Semiotika Visual: Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas.
Jalasutra.
Bungin, B. (2007). Sosiologi Komunikasi, Teori, Paradigma, Dan Diskursus Teknologi Komunikasi Di Masyarakat. Kencana.
Danesi, M. (2010). Pengantar Memahami semiotika Media. Jalasutra.
Detikcom, T. (2019). Superkilat, Ini Kronologi 13 Hari DPR-Jokowi Revisi UU KPK. 17 September 2019. https://news.detik.com/berita/d-4709596/superkilat-ini-kronologi-13-hari-dpr-jokowi-revisi-uu-kpk
Eco, U. (2016). Teori Semiotika, Terj. Inyiak Ridwan Muzir. Kreasi Wacana.
Effendy, O. U. (2006). Ilmu Komunikasi; Teori dan Praktek. Remaja Rosda karya.
Eriyanto. (2013). Analisis Isi Pengantar Metodologi untuk Penelitian Ilmu Komunikasi dan Ilmu-ilmu Sosial Lainnya. Kencana Perdana Media Group.
Furchan, A. (2004). Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan. Pustaka Belajar.
google sites. (2006). https://sites.google.com/site/jalansutera/tempo
Ihsanuddin. (2019, September). Tanpa Tanda Tangan Presiden, UU KPK Hasil Revisi Resmi Berlaku. Www.Kompas.Com.
Ismail, N. (2015). Metode Penelitian : Untuk Studi Islam. SamudraBiru.
Kovach, B., & Rosentiel, T. (2006). Sembilan Elemen Jurnalisme. Yayasan Pantau.
Krisyantono, R. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi,. Kencana.
Kriyantono, R. (2010). Teknik Praktis Riset Komunikasi: disertai contoh riset media, public relations, komunikasi pemasaran dan organisasi (Cetakan Ke). Kencana Prenada Media.
Kusrianto, A. (2009). Pengantar Desain Komunikasi Visual. CV ANDI OFFSET.
Marlia, M. (2020). REFERENSI COVER MAJALAH TEMPO EDISI 14 SEPTEMBER: Karikatur Wajah Jokowi dengan Bayangan Hidung Panjang –
Janji Tinggal Janji. Semantik, 9(1), 11–16.
https://doi.org/10.22460/SEMANTIK.V9I1.P11-16
Mulyana, D. (2009). Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. Remaja Rosda karya.
Mulyana, D. (2013). Metode Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya (kedelapan). Remaja Rosda karya.
Muzakki, S. (2019). Setelah Revisi UU KPK Disahkan. 18 September 2019.
https://news.detik.com/kolom/d-4711432/setelah-revisi-uu-kpk-disahkan Noviani, R. (2002). Jalan Tengah Memahami Iklan. Pustaka Pelajar.
Nusa, L. (2016). HALAMAN MUKA MAJALAH TEMPO (Studi Analisis isi Perbedaan Halaman Muka Sebagai Representasi Tajuk Utama Majalah Tempo Edisi Tahun 1993/1994 dengan Tahun 2009/2010). Profetik : Jurnal
Komunikasi, Vol.09(01), 22–31.
https://media.neliti.com/media/publications/224256-halaman-muka-majalah-tempo-studi-analisi.pdf
Paramita, K. (2020). Transkrip Wawancara.
Piliang, Y. A. (2003). Pengantar Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. Jalasutra.
Putri, N. L. (2017). Analisis Framing Pada Majalah Tempo Dalam Pemberitaan Kebangkitan Pki (Studi Pada Majalah Tempo Edisi 16 – 22 Mei 2016 Dan
eProceedings of Management. Jurnal E-Proceeding of Management, 3(2).
https://libraryeproceeding.telkomuniversity.ac.id/index.php/management/arti cle/view/2269
Riana, F. (2019). Penjelasan Majalah Tempo Soal Sampul Bergambar Jokowi -
Nasional Tempo.co. Tempo.Co.
https://nasional.tempo.co/read/1248507/penjelasan-majalah-tempo-soal-sampul-bergambar-jokowi
Rolnicki, T. E. (2008). Pengantar Dasar Jurnalisme (Scholastic Journalism).
Kencana.
Salukh, N. A. (2019). Kupas Tuntas “Jokowi Pinokio” dalam Majalah Tempo.
Kompasiana.Com.
https://www.kompasiana.com/neno1069/5d7fae710d823027ed255502/kupas-tuntas-jokowi-pinokio-dalam-majalah-tempo?page=all
Septiawan, S. (2009). Jurnalisme Investigasi. Yayasan Obor.
Setiawan, N. (2020). PEMAKNAAN COVER MAJALAH TEMPO (Analisis Semiotika Cover Majalah Tempo Edisi 16 September-22 September 2019).
SOURCE : Jurnal Ilmu Komunikasi, 6(1), 81–88.
http://jurnal.utu.ac.id/jsource/article/view/1744
Shimp, T. A. (2003). Periklanan Promosi & Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran Terpadu (5 Jilid 1). Erlangga.
Sitompul, P. (2014). KONSTRUKSI REALITAS PERAN KPK DALAM PEMBERITAAN ONLINE TERKAIT KASUS KORUPSI (Studi Framing Beberapa Pemberitaan Online Terkait Peran KPK pada Kasus Korupsi Mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiah). Jurnal Studi Komunikasi Dan Media, 18(2), 169. https://doi.org/10.31445/jskm.2014.180203
Sobur, A. (2009a). Analisis Teks Media: Surat Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Remaja Rosdakarya.
Sobur, A. (2009b). Semiotika Komunikasi. Remaja Rosda karya.
Soraya, I. (2019). Fenomena Premanisme Di Instagram (Studi Fenomenologi Kasus Penahanan Ahmad Dani Dalam Akun @Lambe_Turah). Jurnal Ilmu Komunikasi Efek, 2(2). https://doi.org/https://doi.org/10.32534/jike.v2i2.609
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Afabeta.
Sukamto, I. (2019, September). Revisi Undang-Undang Jelas Memperlemah KPK. Majalah Tempo, 5.
Syam, N. (2005). Islam Pesisir. LKis Pelangi Aksara.
Tanzeh, A. (2011). Metodologi Penelitian Praktis. Teras.
Tinarbuko, S. (2008). Seminar Komukasi Visual. Jalasutra.
Toni, A., & Fachrizal, R. (2017). Studi
Semitoka Pierce pada Film Dokumenter The
Look of Silence: Senyap. Jurnal
Komunikasi, 11(2), 137–154.
https://doi.org/10.20885/komunikasi.vol11.iss2.art3
Vera, N. (2014). Semiotika dalam Riset Komunikasi. Penerbit Ghalia Indonesia.
Wibowo, I. S. W. (2013). EBOOK Semiotika Komunikasi Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Skripsi Komunikasi Edisi 2. Mitra Wacana Media.
https://salakanews.com/download/download-ebook-semiotika-komunikasi/
Lampiran 1. Profile Informan Profil Narasumber
Nama Lengkap : Kendra Paramita Tempat dan tanggal lahir : Jakarta, 1980
Tempat bekerja : PT. Tempo Inti Media Tbk.
Lama Bekerja : 2004 - Sekarang
Jabatan : Perancang grafis
Devisi : Kreatif
Riwayat Pendidikan : S1 Desain Komunikasi Visual IKJ
Lampiran 2 Transkrip Wawancara Informan Transkip Wawancara Nama : Kendra Paramita
Tempat Pekerjaan : PT. Tempo Inti Media Tbk.
Divisi : Desain dan Ilustrasi Hari & Tanggal : Minggu, 12 Juli 2020 Tempat : Online, GoogleMeet Waktu : 19.40 s/d 20.40 WIB
Judul Tesis : Konstruksi Realitas Cover Majalah Tempo (Studi Semiotika Gambar Jokowi Bersiluet Pinokio Pada Majalah Tempo Edisi 16-22 September 2019
No Pertanyaan Jawaban Narsum
1 Bagaimana proses kerja Redaksi sampai tercipta ide penggunaan Jokowi dan siluetnya dalam cover majalah Tempo edisi 16-22 September 2019?
Hmm kalau Cover Storynya itu kan keputusan Redaksi, jadi eem setiap pecan kita meluncurkan empat laporan panjang. Salah satunya jadi cover story. Nah itu redaksi melalui rapat opini, mereka yang memilih mana
Jadi sebelum masuk ke Mas Kendra, kira-kira ada beberapa referensi gambaran gasih mas ? ya, situasinya kan sedang intens ya soal isu ruu itu kan, revisi undang-undang itu kan, jadi aa pada waktu itu, itu isu yang paling kuat sih. Jadi magnetnya paling besar, isunya kuat terus apatuh namanya, layak untuk dipublikasikan seperti itulah.
Referensi gambar yaa hmm waktu itu kita berembuk sih, kira-kira gagasannya seperti apaasih, memang waktu itu di diskusikan bersama pemred (pemimpin redaksi) juga gitu lalu kita sepakat untuk memilih desain yang itu, yang akhirnya muncul itu.
Hmm, paling redaktur desain ajasih.itukan sebenernya sih terjadinya digrup chat kan, nah disitu kan ada pemimpin redaksi, redaktur desain dan saya sendiri selaku illustrator, ada redaktur eksekutif ya gitulah pokonya hmm gitu jadi, Cuma memang dialog yang intens Cuma antara pemimpin redaksi, redaktur desain dan saya sendiri sih. Tentang akan seperti apakah nanti wajah sampulnya kah, kurang lebih seperti itu.
Hmm galama ya, sebenernya paling, ya karna berjalan di grup chat ya, ya sambil berjalan sehari lahya. Ya kalau di padat-padatkan ya gasampai setengah jam lah. Kalau dipadat-padatkan ya, ya karna di grup chat ya biasalah suka berlangsung begitu saja. Jadi
sehari itulah, tapi ga sampe seharian banget kok, cepet kok, cepet kok. Begitu ada usulan
Iya, karena beliau ikut dalam proses rancangan. Maksudnya keterlibatan beliau cukup jelas disitu dan beliau mengirimkan utusannya ke sidang rancangan undang-undang itu, terus jadi ya aa hmm memang menjadi salah satu yang pas untuk dijadikan sampul ya beliau karna Presidenpun disitu sudah menjadi symbol. Sudah bukan menjadi sosok lagi tapi menjadi symbol pemerintah gitu kan.
Karena pemerintah juga berkontribusi kan dalam hmm rancangan undang-undang ini kan. Revisi undang-undang ini.
3 Apakah makna tanda penggunaan gambar kerutan kening Jokowi dalam cover?
Kerutan kening hmm, saya sering sekali menggambar tokoh-tokoh ya, termasuk Presiden Jokowi.
Itu akhirnya saya sering melihat foto referensi kan, dan foto-foto beliau tuh berbeda sekali antara, ada beberapa perubahan yang tampak hmm sejak dia menjabat sebagai walikota aa hmm Surakarta Solo, lalu Gubernur DKI lalu terpilih presiden sampai mau menjelang ke periode kedua init uh kalau diperhatikan tuh memang ada beberapa perbedaan gitu termasuk kerutan dikeningnya itu. Kerutannya bertambah.
Memang untuk orang yang tidak begitu memperhatikan ga, kayanya sama aja gaada perubahan gitukan. Hmm tapi aaa kalau saya sebagai yang sering menggambar beliau menemukanlah beberapa perbedaan itu yang orang lain
ga liat nah termasuk kerutan dikeningnya itu. Jadi kerutannya semakin bertambah dan banyak apa yaa permanen kayanya sih. Iya factor umur juga ya jadi lebih permanen gitu ya kerutannya. Jadi saya hanya hmm saya sih tidak bermaksud menyematkan makna apa-apa ya disitu, hanya saja digambar seperti itu sesuai dengan kenyataan ajasih gitu. Jadi ya kerutan keningnya nambah, kantung matanya juga makin besar gitu kan ya jadi matanya jadi lebih kecil lagi terus kulitnya lebih cerah sekarang, lebih bersih, lebih putih, bajunya lebih rapi, lebih bagus jaitannya udah lebih bedalah dengan jaman dulu, jaman kampanye apalagi ya. Sekarang tuh kemeja putihnya udah lebih rapi, licin, bahannya lebih tebal terus kayanya udah lebih
Bibir manyun, hmm bukan memang gitu ya bibirnya. Hmm sebentar saya liat dulu, sebenernya sih sebagai keturunan jawa sih hmm memang contour muka seperti itu, konstruksi mulut seperti itu tuh termasuk lazim ya. Hmm sebenernya ga maksud dibikin manyun sih, yaa heheh jadi keliatan manyun ya.. hmm ya yaa tapi memang dikenakan Jokowi dalam cover?
Kenapa menggunakan baju putih?
Nah itu dia, jadi sesuai hmm strategi timnya, tim suksesnya, jadi kotak-kotak itu dipakai hanya saat untuk kampanye saja, agar mudah dikenali, gitu kan. Cirri
khas agar berbeda, tapi begitu beliau sudah menjabat ya eeee sebenernya sih kalau yang kemeja putih ini memang pilihan personal beliau sih, sepertinya ingin menampilkan dirinya sebagai apa ya sosok yang sederhana gitu kan, sosok yang sederhana, merakyat, ndeso gitukan digambarkan dengan kemeja putih itu ajasi dan kayanya sih kemeja putih untuk Jokowi lebih iconic ya disbanding kotak-kotak. Karena kotak-kotak nyata sekali hanya digunakan saat kampanye dan kalau kemeja putih bisa digunakan kemana-mana, jadi dan dalam situasi apapun beliau lebih banyak berkemeja putih, meskipun sekarang udah campur batik, jas juga mungkin tapi hmm yang iconic yang paling mudah dikenali orang ya kemeja putih sebenarnya sih dengan lengan baju yang dilipat. Jadi sebenernya penggunaan kemeja putih hanya agar lebih mudah dikenali dan jaga-jaga kalau-kalau mukanya ga mirip gitu kan jadi yauda dikasi kemeja putih gitu kan, yagitudeh pokonya, kemeja putih ya supaya mengamankan citra gitulah
6 Apakah makna tanda penggunaan siluet yang menyerupai gambar Jokowi dalam cover?
Apakah makna tanda penggunaan siluet yang menyerupai gambar Jokowi namun dengan hidung panjang dalam cover?
Nah gini ya, jadi hmm saya harus bicara sedikit mengenai ilustrasi. Saya harus menyinggung sedikit tentang ilustrasi ya. Jadikan kita membuat ilustrasi kan artinya kita mengcreate sesuatu kan.
Menciptakan, menggambar dari nol. Kalau kita udah gambar cape-cape, susah-susah terus misal kita gambar Jokowi nih, udah jadi nih gambarnya, bayangannya. Gambar Jokowi
dengan bayangan terus apa menambahkan imajinasi disitu kan, jadi membuat sesuatu hal yang tidak mungkin untuk mencapai sesuatu hal yang tidak mungkin di dunia nyata itu kan hanya bisa dengan ilustrasi gitu kan dan tidak bisa dilakukan oleh foto gitu dan ini menarik nih ilustrasi adalah kita bisa memberikan apa ya semacam gangguan-gangguan kecil gitulah kepada karya-karya kita gitukan, termasuk yang ini. Jadi kita ingin memberikan sesuatu sentuhan yang lebih gitu yang dikit aja ada maknanya gitu bermakna besar. Udah akhirnya kita pilihlah ideom hidung panjang itu untuk disini, tapi tidak di Jokowinya langsung tapi dibayangannya. Nah ini nih yang menarik. Nah kalau di orangnya langsung kan itu menuding kan, menuding, tapi yang menarik ini adalah bayangannya yang berhidung panjang. Nah ketika si hidung panjang ini terjadi di bayangan nah ini multitafsir sifatnya memang. Multitafsir dan multiinterpretasi gitu kan jadi bisa bermacam-macam artinya.
Baik yang positif ataupun negative ataupun netral. Jadi aa sebenernya kita tidak bermaksud untuk menetapkan sebuah statement yang spesifik begini begini begini itu engga, tapi kita lebih senang
membebaskan tafsir kepada para pembaca gitu. Jadi pembaca terlibat gitu, jadi mereka juga bebas untuk menafsirkan sendiri gambar ini gitu, kami lebih memilih seperti itu.lebih senang dengan cara seperti itu gitu. Jadi hmm yang kami sampaikan disini hanya sebatas, oke ini hmm sampul ini berbicara tentang janji atau tentang broken promise atau hal-hal yang tidak ditepati, pernyataan tidak sesuai dengan kenyataan. Seperti itulah, jadi kami hanya me me me memberikan nuansa-nuansa saja. Itu sebabnya kami memilih untuk menyematkan hidung panjang dan bayangan kan macem-macem kan artinya, itu bisa bayangan dia bisa juga bukan bayangan dia kan, atau ada benda lain yang membuat hidungnya tampak panjang atau apapunlah itu apapun kemungkinannya sangat luas gitu jadi kami memang tidak pernah menetapkan makna secara spesifik, jadi hanya berbicara secara luas aja. Tapi bayangan kan artinya banyak kan, ada juga yang bilang kalau bayangan itu adalah orang-orang yang ada dibelakang Jokowi gitu kan yang mempengaruhi beliau gitu kan, atau dia sendiri atau bisa juga
Apakah dikaitkan dengan revisi ruu kpk tsb?
Oia jelas dong, kan memang bicara tentang revisi ruu kpk ini kan.
Janji tinggal janji itu apa ya hmm dia Headline yang memperkuat aaa ilustrasi gitu
kan. Jadi kan kalau Cuma mengunci temanya aja gitu, jadi cover ini bicara soal RUU KPK gitu kan nah untuk membatasi hanya headline Janji Tinggal Janji saja kan masih belum jelas ya, masih ambigu. Jadi dibantu lagi dengan apa namanya tuh pengantarnya
8 Apakah makna copy “PARA PENGGIAT ANTI KORUPSI
MENUDING PRESIDEN pertanyaan diatasnya tentang headline janji tinggal janji.
9 Apakah makna penggunaan warna putih pada headline dan copy?
Hmm kalau maknanya, makna secara harfiahnya sih secara kontras ya biar kebaca. Kalau teks memang kita hmm apa ya fokusnya adalah pada keterbacaan si sebenernya, kontras gitu. Kontras dengan gambar latar belakangnya gitu apakah terbaca.
10 Apakah makna penggunaan warna abu-abu pada background cover? bentuk symbol kenetralan ajasi selain itu untuk membuat
sosoknya lebih muncul gitu kan kontras juga kan bajunya putih terus ada warna kulitnya dan segala macem gitu kan sama untuk membantu menampilkan bayangan juga, kalau kita pilih latar warna putih oke bayangannya muncul sosoknya muncul tapi kemejanya nggak keliatan. Kalau warna hitam kontras tapi bayangannya nggak keliatan, kalau misalnya berwarna merah, kuning, hijau, biru nanti dikait-kaitkan dengan gapernah berfikir sampe sejauh itu ya bahwa jadi setiap hal harus ada maknanya gitu, yang penting tujuan utama kita adalah menampilkan presiden sebagai simbol lalu ada bayangannya gitu dan itu saja sih fokusnya, mungkin ya kalau ada yang mau meneliti tentang maknanya sih sah-sah saja si bebas-bebas saja Cuma kalau saya pribadi sih aaaa saya maunya orang fokus di presiden dan bayangannya gitu karena yang terjadi sesuatu di situ gitu kan. Kendalanya itu ya ada pada bayangannya itu, jadi memang gambar ini dirancang untuk mengarahkan pembaca kesitu.
12 Bagaimana makna interpretan pada cover ?
Hmm, apaya, hmm saya jadi ikutan
pusing nih. Kalau
interpretasinya diserahkan ke pembaca secara bebas gitu gapapa ga, iya maknanya secara sederhana sih aaa janji yang tidak ditepati sebenernya atau lebih sederhananya lagi perkataan yang tidak sesuai
dengan kenyataan. Secara buttom linenya seperti itu sih.
Cuma itu yang berusaha kita sampaikan sih sebenernya bahwa disini ada perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan, janji dia saat kampanye dulu gitu kan terkait dengan penguatan kpk yang terjadi sekarang malah sebaliknya gitu kan.
13 Bagaimana realitas yang terdapat dalam cover majalah Tempo edisi 16-22 September 2019 ?
Arahnya kesitu (Janji yang tidak dipenuhi, perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan) tapi masih membuka kemungkinan bahwa aa hmm jadi sampul ini tetap ada praduga tak bersalahnya ya bahwa ini bukan maunya Jokowi, itu ya tetap ada. Tapi indikasi dan fakta-faktanya sejauh ini ya beliau menyetujui gitu kan, kampanye kan penguatan supaya terpilih.
14 Bagaimana Tempo melihat fenomena dimasyarakat sehingga bisa memunculkan ide menggunakan Jokowi dan siluetnya?
Aah iya jadi sebenernya kami kan tetap saja media, semua berdasarkan hasil temuan kerja jurnalis dari teman-teman redakasi kan jadi memang dan dari data yang kami kumpulkan ya dari narasumber yang bisa dipertanggungjawabkan seperti para penggiat anti korupsi, lembaga-lembaga anti korupsi semua nadanya sama gitu bahwa ini pelemahan kpk gitu bukan penguatan justru pelemahan gituloh dan dari situ dapat disimpulkan bahwa ini yang terjadi sekarang tidak sesuai dengan yang beliau janjian pada saat kampanye dulu gitu kan, jadi secara sederhana seperti itu sih, kok bisa gitu kan, karena ini drastic banget gituloh jadi dari pelemahan kpk yang sudah terjadi beberapa tahun sebelumnya secara berangsur
angsur itu nah ini yang paling EPIK kelemahannya di SAHkan secara drastis dan sah gitu kan. Kan kan ada apa gitukan, kalau beliau memang setuju dengan penguatan kan pasti ini tidak terjadi, beliau punya power untuk mencegah ini, secara resmi secara legitimasi dia punya power untuk berbuat sebaliknya gitu tapi yang terjadi ya kaya gini.
Jadi hmmm akhirnya opini Tempo pun mengumpulkan seperti itukan, ga sesuai nih dengan janji pada saat kampanye.
15 Pesan apa yang ingin disampaikan maupun dibangun dimasyarakat dari penggunaan cover Jokowi dan siluetnya Dalam cover majalah Tempo edisi 16-22 September 2019?
Iya Sederhana sih sebenernya bahwa ya Jokowi tidak menepati janji gitu. Sebenernya sih gol tujuan mulianya caelah tujuan mulianya adalah aaaa kita ingin apa ya kita mau masyarakat juga kritis gitu, kritis melek politik jadi jangan apatis ya mentang-mentang udah kepilih terus kita terima begitu aja, apatis, apapun yang terjadi kita yaudahlah ya toh dia udah kepilih segala macem sebenernya ga gitu juga gitu jadi kita berhak untuk kritis justru setelah terpilih kita harus aaa lebih kritis gitu terhadap apa yang terjadi gitu kan.
Karena apa namanya kalau dibiarkan apa namanya masyarakat membiarkan apatis tadi gitu kan, gamau tau terus terima jadi yaaa apapun yang terjadi terjadilah terus aaa buta soal politik dan itu terjadi bahaya gampang sekali hak-hak kita dibatasi sedemikian rupa, dibatasi, diawasi, diancam segala macem kan itu apa ya namanya melenceng dari demokrasi. Gambaran ideal dari
demokrasi dan itu udah jauh semuanya mengerikan gitu terus bagaimana keberpihakan kepada pengusaha, pengusaha tambang dan itukan tidak hanya bagi warga tapi juga kelestarian lingkungan itu juga parah kan dampaknya. Ya nanti pengusaha tambang bisa seenaknya dong. Jadi masyarakat lebih kritis, melek politik, ga buta-buta amat minimal tau apa yang direncanakan oleh pemerintah dan legisatif gitu kan jadi kita bisa mengawal demokrasi.
Sekarang nih kita udah kecolongan banyak gitu semoga kedepannya bisa lebih diawasi lagi udah gitu aja dan si sampulnya Janji tinggal janji ini, tidak hmm sori saya perlu cerita sedikit nih sampul ini tidak terjadi begitu saja, beberapa orang bilang kita bikin sampul cukup keras terhadap pemerintah, nyentil banget gitu kan tapi ini tidak terjadi begitu saja kalau kita lihat cover-cover sebelumnya baik dari Koran Tempo maupun majalah Tempo itu kita mulainya soft banget jadi nanti coba diperhatikan Koran maupun majalah tempo sebelum-sebelumnya awalnya itu Cuma mengingatkan gitu kan, mewanti-wanti terus kok ga didengerin, kok malah makin parah ya akhirnya kita juga menyindir makin keras gitu kan, gitu jadi memang efek bola salju sekali ini si cover ini,
dimulai dari glinding bolanya kecil jadi makin besar ya karena apa yak arena ga digubris juga
dimulai dari glinding bolanya kecil jadi makin besar ya karena apa yak arena ga digubris juga