• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Analisis Data

Dalam dokumen Laurensia Retno Hariatiningsih (Halaman 65-0)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.6 Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabar ke dalam

unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Tahap dalam analisa data yang umum dilakukan dalam penelitian kualitatif, Huberman dan Miles, yaitu :

1. Kategorisasi dan Reduksi Data

Peneliti mengumpulkan informasi-informasi yang penting yang terkait dengan masalah penelitian, dan selanjutnya mengelompokan data tersebut sesuai dengan topik masalahnya.

2. Penyajian Data

Data yang telah terkumpul dan dikelompokan itu kemudian disusun sistematis sehingga peneliti dapat melihat dan menelaah komponen-komponen penting dari sajian data.

3. Penarikan Kesimpulan atau Verifikasi

Pada tahap ini, peneliti melakukan interpretasi data sesuai dengan konteks permasalahan dan tujuan penelitian. Dari interpretasi yang dilakukan akan diperoleh kesimpulan dalam menjawab masalah penelitian. (Sugiyono, 2012:89)

Penelitian ini akan mengkaji cover majalah Tempo edisi 16-22 September 2019 dengan menganalisis tanda menggunakan semiotika model Charles Sanders Peirce sebagai teori segitiga makna (triangle meaning) yang membagi tanda atas representamen, object dan interpretant. Tanda merupakan hasil sementara dari cara-cara pengodean yang membentuk korelasi sesaat antar berbagai elemen, dimana setiap elemen dibiarkan masuk dengan sarat

pengodean tertentu, ke dalam korelasi lain dan akhirnya membentuk sebuah tanda baru. (Eco, 2016:70)

Teori Pierce dipilih untuk digunakan karena bahwa semiotika didasarkan pada logika, karena logika mempelajari bagaimana orang bernalar, sedangkan penalaran menurut Pierce dilakukan melalui tanda-tanda. Tanda-tanda ini menurut Peirce memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta.

(Budiman, 2011:20)

Menurut Pierce, salah satu bentuk tanda adalah kata. Sedangkan objek adalah sesuatu yang dirujuk tanda. Sehinggayang akan dianalisis sign dan objek terkait gambar ilustrasi sampul majalah Tempo. Sementara interpretant adalah pemahaman makna yang muncul dalam diri penerima tanda khususnya peneliti.Dengan dasar triangle meaning inilah kemudian proses analisis data yang akan dilakukan penulis adalah sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi konstruksi realitas dari tanda-tanda yang terdapat dalam cover majalah tempo, kemudian menganalisis serta menginterpretasikan tanda-tanda yang telah diidentifikasi.

2. Memaknai secara penuh dan nyata konstruksi realitas dengan menghubungkan antara tanda yang terdapat dalam cover majalah Tempo.

3. Dari hasil proses analisis terhadap cover majalah Tempo terciptalah suatu kesimpulan mengenai konstruksi realitas yang terdapat dalam cover majalah Tempo edisi 16-22 September 2019.

Selain itu untuk memperkuat argumen maka untuk memahami nterpretasi lebih mendalam dari sebuah tanda penulis mengoperasikan teori dan sumber

wawancara untuk lebih memudahkan dan memahami konstruksi realitas dalam sebuah cover majalah.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

4.1.Gambaran Umum Objek Penelitian 4.1.1. Profil Majalah Tempo

Tempo adalah majalah berita mingguan Indonesia yang umumnya meliput berita dan politik dan diterbitkan oleh Tempo Media Group. Majalah ini merupakan majalah pertama yang tidak memiliki afiliasi dengan pemerintah.

Tempo didirikan oleh Goenawan Mohamad dan Yusril Djalinus, dengan edisi pertamanya terbit pada 6 Maret 1971. Terbitnya edisi tersebut tidak bisa lepas dari peran prakarsa sekumpulan anak muda pada tahun 1969, antara lain yaitu Goenawan Mohamad, Fikri Jufri, Christianto Wibisono dan Usamah, dan awalnya majalah itu bernama "Ekspres". Namun dikarenakan adanya perbedaan prinsip antara jajaran redaksi dan pihak pemilik modal utama, maka Goenawan dan kelompoknya keluar dari Ekspres pada tahun 1970.

Dalam waktu yang kurang lebih sama, Harjoko Trisnadi sedang mengalami masalah. Majalah Djaja, milik Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) , yang dikelolanya sejak 1962 macet terbit. Menghadapi kondisi tersebut, karyawan Djaja menulis surat kepada Gubernur DKI saat itu, Ali Sadikin, meminta agar Djaja diswastakan dan dikelola Yayasan Jaya Raya, sebuah yayasan yang berada di bawah Pemerintah DKI. Lalu terjadi rembugan tripartite antara Yayasan Jaya Raya, yang dipimpin Ir. Ciputra orang bekas majalah Ekspres, dan orang-orang bekas majalah Djaja. Disepakatilah berdirinya majalah Tempo di bawah PT.

Grafiti Pers sebagai penerbitnya.

Pada tahun 1971, dengan peran serta dari Harjoko Trisnadi, Fikri Jufri, Lukman Setiawan, dan Bur Rasuanto, Goenawan yang kemudian dianggap sebagai "pendiri", menerbitkan majalah Tempo untuk pertama kalinya. Pemakaian nama Tempo, tidak lepas dari saran dari para pengecer. Di mana kata ini mudah untuk diucapkan dan memiliki jarak penerbitan yang cukup longgar, yakni

mingguan. Selain itu, namanya, dianggap mirip-mirip dengan majalah terkenal dari Amerika, Time. Dengan rata-rata umur pengelola yang masih 20-an, ia tampil beda dan diterima masyarakat. Dengan mengedepakan peliputan berita yang jujur dan berimbang, serta tulisan yang disajikan dalam prosa yang menarik dan jenaka, majalah ini diterima masyarakat.

Pada tahun 1982, untuk pertama kalinya majalah ini dibredel, karena dianggap terlalu tajam mengkritik rezim Orde Baru dan kendaraan politiknya, Golkar. Saat itu tengah dilangsungkan kampanye dan prosesi Pemilihan Umum.

Tapi akhirnya diperbolehkan terbit kembali setelah menandatangani semacam

"janji" di atas kertas segel dengan Ali Moertopo, Menteri Penerangan saat itu (zaman Soeharto ada Departemen Penerangan yang fungsinya, antara lain mengontrol pers).

Makin sempurna mekanisme internal keredaksiannya, makin mengental semangat jurnalisme investigasinya. Maka makin tajam pula daya kritik Tempo terhadap pemerintahan Soeharto yang sudah sedemikian melumut. Puncaknya, pada Juni 1994, untuk kedua kalinya majalah ini dibredel oleh pemerintah, melalui Menteri Penerangan Harmoko. Ia dinilai terlalu keras mengkritik Habibie dan Soeharto ihwal pembelian kapal kapal bekas dari Jerman Timur. Laporan ini dianggap membahayakan "stabilitas negara", di mana laporan utama membahas keberatan pihak militer terhadap impor oleh Menristek BJ Habibie. Sekelompok wartawan yang kecewa pada sikap Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang menyetujui pembredelan Tempo, Editor, dan Detik, kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Selepas Soeharto lengser pada Mei 1998, mereka yang pernah bekerja di Tempo -dan tercerai berai akibat bredel- berembuk ulang. Mereka bicara ihwal perlu-tidaknya majalah Tempo terbit kembali. Hasilnya, Tempo harus terbit kembali. Maka, sejak 12 Oktober 1998, majalah Tempo hadir kembali.

Untuk meningkatkan skala dan kemampuan penetrasi ke bisnis dunia media, maka pada tahun 2001, PT. Arsa Raya Perdanago public dan menjual sahamnya ke publik dan lahirlah PT Tempo Inti Media Tbk. (PT.TIM) sebagai penerbit majalah Tempo -yang baru.- Pada tahun yang sama (2001), lahirlah Koran Tempo yang berkompetisi di media harian.

Majalah Tempo terbit dengan wajah baru, untuk meningkatkan skala dan kemampuan penetrasi ke bisnis dunia media, pada 2001 PT Arsa Raya Perdana melakukan go public dan mengubah namanya menjadi PT Tempo Inti Media Tbk (Perseroan) sebagai penerbit majalah Tempo yang baru. isi dari majalah Tempo yang juga baru. Jika pada masa sebelum pembredelan majalah Tempo lebih menggunakan kata-kata metafor pada berita dalam mengajukan sebuah kritik, kini majalah Tempo lebih menggunakan sebuah pemberitaan dengan gaya argumentative dengan gaya laporan yang investigatif dan sebuah pemberitaan yang analitis. Dengan memilih gaya yang baru seperti ini pemberitaan dalam majalah Tempo tidak lagi perlu berbasa-basi menggunakan metafor dalam memberitakan sebuah konflik.

Penyampaian kritik dan konflik dilakukan dengan cara yang lebih terbuka seperti tuntutan era keterbukaan. (Putri, 2017:22)

Sebaran informasi di bawah bendera PT TIM Tbk, terus berkembang dengan munculnya pproduk-produk baru seperti majalah Tempo edisi bahasa

Inggris, Travelounge (2009) dan Tempo Interaktif, yang kemudian menjadi tempo.co serta Tempo News Room (TNR), kantor berita yang berfungsi sebagai pusat berita media Group Tempo. Tempo juga mencoba menembus bisnis televisi dengan mendirikan Tempo TV, kerja sama dengan kantor berita radio KBR68H.

Untuk saat ini majalah Tempo ada yang terdapat dalam berntu fisiknya, dan ada pula yang terdapat dalam bentuk digital yang terdapat dalam laman majalah.tempo.co

4.1.2. Visi dan Misi Majalah Tempo 1. Visi Majalah Tempo

Visi majalah Tempo adalah menjadi acuan dalam proses kebebasan rakyat untuk berfikir dan mengutarakan pendapat, serta membangun suatu masyarakat yang menghargai kecerdasan dan perbedaan pendapat.

2. Misi Majalah Tempo

Majalah Tempo memiliki beberapa misi, diantanya adalah:

a. Menyumbangkan kepada masyarakat suatu produk multimedia yang menampung dan menyalurkan secara adil suara yang berbeda-beda.

b. Sebuah produk multi media yang mandiri, bebas dari tekanan kekuasaan modal dan politik.

c. Terus menerus meningkatkan apresiasi dan ide-ide baru, bahasa, dan tampilan visual yang baik.

d. Sebuah karya yang bermutu tinggi dan berpegang pada kode etik.

e. Menjadikan tempat kerja yang mencerminkan Indonesia yang beragam sesuai denagn kemajuan zaman.

f. Sebuah proses kerja yang menghargai kemitraan dari semua sector.

g. Menjadi lahan yang subur bagi kegiatan-kegiaan untuk memperkaya khasanah artistik dan intelektual.

4.1.3. Alur Redaksi Pembuatan Cover Majalah Tempo

Peristiwa yang terjadi dan diliput oleh wartawan Tempo terbagi menjadi dua yaitu peristiwa terencana dan peristiwa insidential. Peristiwa yang dipilih oleh reporter, disaring melalui beberapa kali tahap hingga dimuat di Tempo. Pertama, reporter menyerahkan hasil liputan ke Tempo News Room, lalu diserahkan ke redaktur. Hal ini menunjukan bahwa reporter menyaring berita dan disempurnakan formatnya oleh redaktur.

Karena reporter diberikan kuasa memilih berita, mereka dituntut memiliki pemikiran yang sama dalam memandang peristiwa sehingga tidak terjadi kesalahpahaman. Oleh sebab itu wartawan harus mengikuti rapat redaksi sebelum liputan. Hal ini menunjukan upaya menyatukan pemikiran wartawan dan berita yang akan ditulis. Sehingga pada akhirnya merepresentasikan pandangan Tempo.

Melihat kebijakan redaksional tersebut, membuktikan bahwa meskipun wartwan memiliki hak untuk menentukan sudut pandang pemberitaan, namun tetap saja ideologi yang ada pada Tempo menjadi patokan utama dalam menyajikan berita. Berita yang disajikan harus merepresentasikan pemikiran dan sudut pandang Tempo terhadap suatu peristiwa. Pada dasarnya tugas utama media, dalam sistem demokrasi, adalah memberikan informasi kepada masyarakat. Tempo menganggap

investigasi itu sebagai alat jurnalistik dalam menjalankan tugas utamanya, yaitu menyampaikan informasi yang berlandaskan kebenaran fakta-fakta jurnalisme. Untuk menjalankan tugas-tugas semacam itulah, wartawan mempunyai hak-hak istimewa. Hak istimewa ini selalu berhubungan dengan kepentingan publik. Karena itulah, pada saat wartawan melakukan peliputan, wartawan mendapat kemudahan untuk mendapatkan akses dibandingkan pihak-pihak yang lain. (Septiawan, 2009)

Cover Story merupakan keputusan Redaksi, jadi setiap pekan kita meluncurkan empat laporan panjang. Salah satunya jadi cover story. Setelah itu melalui rapat opini, redaksi memilih mana yang layak untuk dijadikan cover story. Disetiap edisi itu memang situasinya sesuai dengan isu yang sedang intens.

Dalam setiap cover story majalah yang menjadi magnet paling besar yaitu isu yang paling kuat dan layak untuk dipublikasikan. Referensi gambar berdasarkan diskusi dengan para redaksi dan Pemred (Pemimpin Redaksi), lalu disepakati untuk memilih desain nama yang sesuai, yang akhirnya muncul dicover majalah adalah cover yang disetujui. (Paramita, Wawancara 2020)

Peristiwa di masyarakat

Hasil liputan diserahkan ke News Room

Penyaringan dan Penyempurnaan Format Berita dan Cover Majalah oleh Redaktur

Bagan 4.1 Alur Redaksi Pembuatan Cover Majalah Tempo 4.2.Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.2.1. Analisis Semiotika Cover Majalah Tempo

Dalam bab ini akan membahas mengenai temuan dari permasalahan pokok penelitian dengan menganalisis objek penelitian dengan menggunakan teori triadict Charles Sanders Peirce dengan menguraikan representamen (sign), object, dan interpretant. Dalam penelitian ini objek penelitiannya adalah cover majalah tempo edisi 19-22 September 2019, dengan gambar sebagai berikut :

Sumber : (Riana, 2019)

Gambar 4.1 Cover Majalah Tempo Edisi 16-22 September 2019 Cover majalah Tempo terdiri dari kumpulan tanda-tanda yang terdiri dari dua bagian yaitu visual (gambar) dan verbal (kata-kata). Dalam menganalisis cover majalah tersebut, memerlukan pengidentifikasian tanda-tanda sebagai unit analisis. Majalah Tempo Edisi 16-22 September 2019 bertemakan tentang “Janji Tinggal Janji”. Unsur visual atau gambar dalam cover majalah edisi ini menampilkan presiden Joko Widodo (Jokowi), mengenakan pakaian putih, dengan bibir dimajukan kedepan. Selain itu juga terdapat siluet atau bayangan hitam menyerupai gambar Jokowi dengan namun pembedanya adalah hidungnya

panjang, dengan background cover berwarna abu-abu. Selain gambar yang terkait dengan unit analisis yang diteli adalah unsur verbal seperti teks dengan kata

“JANJI TINGGAL JANJI: PARA PENGGIAT ANTI KORUPSI MENUDING

PRESIDEN INGKAR JANJI PRIHAL PENGUATAN KOMISI

PEMBERANTASAN KORUPSI, MEMBENARKAN SEJAK AWAL JOKOWI MENDUKUNG KETUA KOMISI TERPILIH”

Dalam penelitian ini menggunakan teori semiotika Charles Sander Pierce yang menjadi pisau analisis untuk menganalisis cover majalah Tempo. Pierce secara khusus memberikan perhatian pada tanda dan objek yang maksud. Jika mengamati tanda atau representamen dalam cover majalah maka tampak objek yang mengungkapkan sesuatu. Model triadic Pierce melalui tiga titik yaitu representamen atau tanda, objek, dan interpretan. Tiga titik ini dihubungkan dengan penjabaran sebagai berikut:

1. Representamen Cover Majalah Tempo Edisi 16-22 September 2020.

Cover Majalah Tempo Edisi 16-22 September 2019

Representamen

Qualisign Sinsign Legisign

Kecemasan, kecewa, tidak mau tau, keresahan, kebohongan ini masuk sebagai reprentamen dalam katagori qualisign.

Gambar presiden Jokowi dengan siluet menyerupai gambar Jokowi dengan siluet hidungnya lebih panjang dan terdapat teks Janji Tinggal Janji.

Janji yang tidak ditepati, kebohongan,

keberpihakan.

Representamen atau tanda dalam cover majalah Tempo ini terlihat latar belakang berwarna abu-abu, disertai ilustrasi seorang pria mengenakan baju putih dengan bibir dimajukan kedepan, mata meram dengan rambut belah kesamping dan terdapat kerutan dikeningnya. Teks yang tertulis dalam cober majalah Tempo tersebut yaitu “Janji Tinggal Janji: Para Penggiat Anti Korupsi Menuding

Presiden Ingkar Janji Prihal Penguatan Komisi Pemberantasan Korupsi, Membenarkan Sejak Awal Jokowi Mendukung Ketua Komisi Terpilih”.

2. Objek Cover Majalah Tempo Edisi 16-22 September 2020.

Cover Majalah Tempo Edisi 16-22 September 2019

Objek tersebut sebagai ikon presiden Jokowi.

2. Siluet yang menyerupai pria baju kemeja putih tampak

samping, matanya meram, bibirnya dikedepankan. Siluet ini berada dibelakang gambar pria tersebut.

Namun hidung siluet ini lebih panjan dari gambar pria tersebut.

Siluet ini menjadi ikon

3. Interpretan Cover Majalah Tempo Edisi 16-22 September 2020.

Cover Majalah Tempo Edisi 16-22 September 2019

Interpretan

Rhame Dicentsign Argument

1. Gambar pria

Siluet berhidung lebih panjang dalam cover

4.2.2. Pembahasan

1. Realitas dalam Cover Majalah Tempo Edisi 16-22 September 2019

Berger dan Luckmann untuk memahami konstruksi sosial dimulai dengan mendifinisikan apa yang dimaksud dengan kenyataan dan pengetahuan.

Kenyataan sosial dimaknai sebagai sesuatu yang tersirat didalam pergaulan sosial yang diungkapkan secara sosial melalui komunikasi lewat bahasa, bekerjasama melalui bentuk-bentuk organisasi sosial. (Syam, 2005:35)

Berger dan Luckman menganggap proses dimana orang menciptakan realitas kehidupan sehari-hari sebagai konstruksi realitas simbolik. Menurut mereka, dunia sosial adalah produk manusia, dan bukan sesuatu yang given.

(Noviani, 2002:13)

Realitas dapat dimaknai melalui teks bahasa seperti dalam penelitian ini pada cover majalah Tempo yang terdiri dari suatu simbol baik itu gambar maupun kata-kata. Bahasa merupakan medium yang menjadi pelantara dalam memaknai sesuatu, memproduksi dan mengubah makna. Melalui bahasa dapat mengkomunikasikan sesuatu pesan yang ingin disampaikan, dan lewat bahasa tertuang simbol atau tanda dalam mengungkapkan pikiran, konsep, dan ide mengenai sesuatu.

Penelitian ini mencoba menjelaskan makna dengan menafsirkan dan memaknai cover majalah Tempo Edisi 16-22 September 2019 dengan menguraikan tanda-tanda baik itu gambar dan tulisan yang terdapat dalam cover majalah tersebut. Menggunakan model triadic dan konsep trikotominya Charles Sanders Peirce dengan menghubungkan representamen (sign) dengan objek yang

kemudian akan terbentuk interpretan (pemaknaan) dalam pemikiran peneliti bahwa cover majalah tersebut bahwa mengacu kepada suatu realitas yang terjadi, cover majalah ini juga akan dihubungkan dengan teori dan sumber lain yang menyangkut realitas berdasarkan refrensi yang digunakan peneliti.

Dalam model triadic Charles Sanders Peirce diuraikan melalui representamennya adalah latar belakang berwarna abu-abu, disertai ilustrasi seorang pria mengenakan baju putih dengan bibir dimajukan kedepan, mata meram dengan rambut belah kesamping dan terdapat kerutan dikeningnya. Teks yang tertulis dalam cober majalah Tempo tersebut yaitu “Janji Tinggal Janji: Para Penggiat Anti Korupsi Menuding Presiden Ingkar Janji Prihal Penguatan Komisi Pemberantasan Korupsi, Membenarkan Sejak Awal Jokowi Mendukung Ketua Komisi Terpilih”.

Objeknya tentu saja terkait dengan realitas yang terjadi di masyarakat, yaitu Pria mengenakan baju kemeja putih tampak samping, matanya meram, bibirnya dikedepankan. Pria tersebut sebagai ikon Jokowi, selain itu Siluet ditafsirkan sebagai bayangan atau hal yang menyerupai gambar yang beriringan dengan gambar tersebut. Selanjutnya akan diuraikan mengenai proses pemaknaan interpretannya.

Pria mengenakan baju kemeja putih tampak samping, matanya meram, bibirnya dimajukan, dengan kening berkerut dahinya, Pria tersebut sebagai ikon presiden Jokowi disini memiliki penafsiran bahwa presiden Jokowi cemberut dan kerutan itu menandakan bahwa sebagai seorang presiden itu memiliki tugas yang sangat berat, semakin lama Jokowi menjadi presiden semakin terlihat semakin banyak kerutan sehingga mengisyaratkan bahwa mengurus suatu Negara itu tidak

mudah. Disatu sisi banyak masalah yang terjadi di Indonesia sehingga sebagai beban presiden bertanggung jawab terhadap bangsa Indonesia kaitannya dengan penelitian ini terkait dengan kasus korupsi.

Cover majalah Tempo merupakan gambar tersebut merupakan metafora dari pemberitaan dalam majalah tersebut, yakni keresahan terhadap revisi UU KPK serta tanggung jawab dari pemerintah. (Setiawan, 2020) Siluet yang menyerupai gambar presiden Jokowi, siluet ini berada dibelakang gambar pria tersebut.

Namun hidung siluet ini lebih panjan dari gambar pria tersebut, Siluet ini ditafsirkan sebagai Pinokio, jika siluet diartikan sebagai bayangan, maka dari itu siluet gambar jokowi diartikan sebagai bayangan Jokowi yang menyerupai Pinokio. jika dikaitkan dengan headline dan subheadline “Janji Tinggal Janji: Para Penggiat Anti Korupsi Menuding Presiden Ingkar Janji Prihal Penguatan Komisi Pemberantasan Korupsi, Membenarkan Sejak Awal Jokowi Mendukung Ketua Komisi Terpilih”. Dari sini terlihat bahwa ada yang ingin disampaikan, terlihat penggambaran presiden Jokowi dianggap berbohong terkait dengan janjinya untuk mendukung KPK, namun kenyataannya revisi UU KPK tetap akan disahkan.

Seperti yang dijelaskan oleh pembuat ilustrator dalam wawancaranya sebagai berikut:

“Sampul ini berbicara tentang janji atau tentang broken promise atau hal-hal yang tidak ditepati, pernyataan tidak sesuai dengan kenyataan”. (Paramita, Wawancara 2020)

Penggambaran yang terdapat di dalam cover majalah Tempo sebagai gambaran mengenai kritis Tempo terhadap kondisi yang terjadi saat ini. Kritis Tempo memiliki pandangan yang sesuai dengan ekspetasi khalayak.

“Sampul ini tidak terjadi begitu saja, beberapa orang bilang kita bikin sampul cukup keras terhadap pemerintah, nyentil banget gitu kan tapi ini

tidak terjadi begitu saja kalau kita lihat cover-cover sebelumnya baik dari Koran Tempo maupun majalah Tempo itu kita mulainya soft banget… Jadi memang tidak terjadi begitu saja, tapi berangsur-angsur menjadi besar karena aaaa dari merekanya juga tidak ada perubahan gitu kan, perubahan kearah yang lebih baik, jadi kami merasa perlu memberikan sesuatu yang lebih keras gitu”. (Paramita, Wawancara 2020)

Cover majalah Tempo disini tidak dibuat tanpa alasan, maupun memiliki tujuan, karena melihat fenomena yang terjadi yang ada dimasyarakat maupun pemerintahan. Untuk kasus yang menyangkut kasus yang besar yang menuntut harus adanya perubahan dari pemerintahan majalah Tempo cukup keras menyentil pemerintah, disini Tempo berusaha untuk mengkritisi pemerintah. Hal ini sesuai dengan ideologi majalah Tempo itu sendiri sebagai ideologi majalah Tempo yang bersifat kritis sesuai dengan konstitusi serta ruh demokrasi pada suatu media.

(Setiawan, 2020:82) Dan visi dari majalah Tempo itu sendiri sebagai media yang menjadi acuan dalam proses kebebasan rakyat untuk berfikir dan mengutarakan pendapat, serta membangun suatu masyarakat yang menghargai kecerdasan dan perbedaan pendapat.

Hal ini juga dipertegas oleh Kendra Paramita (Pembuat Cover Majalah) sebagai berikut :

“Dari ilustrasi yang dibuat Tempo ingin masyarakat memiliki kritis terhadap keadaan saat ini, tidak ada pesan khusus yang ingin disampaikan, namun Tempo ingin masyarakat memiliki persepsi sendiri terhadap situasi saat ini. Terjadi Multitafsir dan multiinterpretasi itu jadi bisa bermacam-macam artinya. Baik yang positif ataupun negative ataupun netral. Jadi sebenernya kita tidak bermaksud untuk menetapkan sebuah statement yang spesifik begini begini begini itu engga, tapi kita lebih senang membebaskan tafsir kepada para pembaca, Jadi pembaca terlibat gitu, jadi mereka juga bebas untuk menafsirkan sendiri gambar ini gitu. Jadi pembaca terlibat gitu, jadi mereka juga bebas untuk menafsirkan sendiri gambar ini gitu, kami lebih memilih seperti itu. lebih senang dengan cara seperti itu gitu. Jadi hmm yang kami sampaikan disini hanya sebatas, oke ini hmm sampul ini berbicara tentang janji atau tentang broken promise atau hal-hal yang tidak ditepati, pernyataan tidak sesuai dengan kenyataan. (Paramita, Wawancara

“Dari ilustrasi yang dibuat Tempo ingin masyarakat memiliki kritis terhadap keadaan saat ini, tidak ada pesan khusus yang ingin disampaikan, namun Tempo ingin masyarakat memiliki persepsi sendiri terhadap situasi saat ini. Terjadi Multitafsir dan multiinterpretasi itu jadi bisa bermacam-macam artinya. Baik yang positif ataupun negative ataupun netral. Jadi sebenernya kita tidak bermaksud untuk menetapkan sebuah statement yang spesifik begini begini begini itu engga, tapi kita lebih senang membebaskan tafsir kepada para pembaca, Jadi pembaca terlibat gitu, jadi mereka juga bebas untuk menafsirkan sendiri gambar ini gitu. Jadi pembaca terlibat gitu, jadi mereka juga bebas untuk menafsirkan sendiri gambar ini gitu, kami lebih memilih seperti itu. lebih senang dengan cara seperti itu gitu. Jadi hmm yang kami sampaikan disini hanya sebatas, oke ini hmm sampul ini berbicara tentang janji atau tentang broken promise atau hal-hal yang tidak ditepati, pernyataan tidak sesuai dengan kenyataan. (Paramita, Wawancara

Dalam dokumen Laurensia Retno Hariatiningsih (Halaman 65-0)