• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laurensia Retno Hariatiningsih

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Laurensia Retno Hariatiningsih"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

KONSTRUKSI REALITAS COVER MAJALAH TEMPO (STUDI SEMIOTIKA GAMBAR PRESIDEN JOKO WIDODO BERSILUET PINOKIO PADA MAJALAH TEMPO EDISI 16-22

SEPTEMBER 2019)

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Thesis

Laurensia Retno Hariatiningsih 2018620005

SEKOLAH PASCASARJANA SAHID JAKARTA MAGISTER ILMU KOMUNIKASI

JAKARTA

2020

(2)

PERNYATAAN ORISINALITAS

Tesis ini adalah hasil karya sendiri, dan semua sumber yang dikutip maupun yang dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Laurensia Retno Hariatiningsih NPM : 2018620005

Tanggal : 09 September 2020

Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan saya ini, maka saya bersedia dituntut dan diproses sesuai ketentuan yang berlaku.

Jakarta, 09 September 2020

Yang Menyatakan,

(Laurensia Retno H)

(3)

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TESIS UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta, saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Laurensia Retno H

NPM : 2018620005

Fakultas : Magister Ilmu Komunikasi Program Studi : Media dan Jurnalistik

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Pascasarjana Univeristas Sahid Jakarta Hak Bebas Royalti Non Ekslusif (Non-exclusive Royalty Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

Konstruksi Realitas Cover Majalah Tempo (Studi Semiotika Gambar Jokowi Bersiluet Pinokio PadaMajalah Tempo Edisi 16-22 September 2019) Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti ini Universitas Pascasarjana Univeristas Sahid Jakarta berhak menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan Tesis saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan ini saya

buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Jakarta Pada tanggal: Agustus 2020

Yang Menyatakan,

(Laurensia Retno Hariatiningsih)

(4)
(5)

KONSTRUKSI REALITAS COVER MAJALAH TEMPO (Studi Semiotika Gambar Presiden Joko Widodo Bersiluet

Pinokio Pada Majalah Tempo Edisi 16-22 September 2019)

Laurensia Retno Hariatiningsih

Abstrak

Pada September 2019 di Indonesia sedang ramai diperbincangkan revisi UU KPK yang disahkan, kondisi seperti ini majalah Tempo menggambarkan simbol Peresiden Jokowi dengan bayangan siluet Pinokio pada cover majalahTempo edisi 16-22 September 2019.

Tujuan penelitian ini mendeskripsikan maksud dari tanda-tanda dan simbol yang terdapat dalam cover majalah Tempo edisi tanggal 16-22 September 2019. Selain itu juga ingin mengungkap makna yang terdapat pada cover majalah Tempo tersebut. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis, dengan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif menggunakan analisis model triadic semiotika Charles Sander Pierce.

Hasil penelitian menunjukan dari tanda pria berbaju putih dengan kerutan di kening dan bibir cemberut, ini menunjukan masalah yang terjadi di Indonesia sehingga sebagai beban presiden bertanggung jawab penanganan kasus korupsi.

Tanda siluet bayangan presiden Jokowi dengan hidung panjang menyerupai Pinokio disini terlihat penggambaran sifat pinokio. Disini Tempo berusaha kritis tentang kejadian dimasyarakat, dan dengan gambar ini masyarakat memiliki persepsi sendiri tentang situasi yang terjadi saat ini.

Kata Kunci :Konstruksi Realitas, Cover Majalah, Semiotika Model Triadic Charles Sander Pierce.

(6)

CONSTRUCTION REALITY COVER MAGAZINE TEMPO (Semiotic Study of President Joko Widodo’s Pinocchio Silhouette in

Tempo Magazine, 16-22 September 2019 Edition)

Laurensia Retno

Abstract

In September 2019 Indonesia was busy discussing the revision of the Corruption Eradication Commission Law which was passed, in this condition Tempo magazine depicts the symbol of President Jokowi with the silhouette of Pinocchio on the cover of the 16-22 September 2019 edition of Tempo magazine. The purpose of this study describes the meaning of the signs and symbols is included in the cover of the Tempo magazine edition dated 16-22 September 2019. Apart from that, he also wants to reveal the meaning contained in the cover of the Tempo magazine. This study uses a constructivist paradigm, with a descriptive qualitative research approach using Charles Sander Pierce's triadic semiotic analysis model. The results showed that the sign of a man dressed in white with wrinkles on the forehead and pouting lips, this shows the problems that occur in Indonesia so that the president is responsible for handling corruption cases. The silhouette of President Jokowi with a long nose resembling Pinocchio here is a depiction of Pinocchio's character. Here, Tempo tries to be critical about events in the community, and with this picture the people have their own perceptions of the current situation.

Keywords: Reality Construction, Magazine Cover, Triadic Model Semiotics Charles Sander Pierce.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga tesis ini berhasil diselesaikan dengan baik. Judul yang dipilih dalam penelitian ini adalah “Konstruksi Realitas Cover Majalah Tempo (Studi Semiotika Gambar Presiden Jokowi Bersiluet Pinokio Pada Majalah Tempo Edisi 16-22 September 2019)”. Terima kasih peneliti ucapkan kepada Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Bapak Dr. Hifni Alifahmi, M. Si, IAPR serta kepada Bapak Dr. Jamalullail, MM, M.Si selaku dosen pembimbing satu dan Bapak Dr. Ridzki Rinanto S, MM selaku dosen pembimbing dua yang selalu memberikan masukan, perbaikan hingga saran bermanfaat bagi peneliti serta selalu sabar dalam memberikan bimbingan kepada peneliti.

Di samping itu, ucapan terima kasih yang besar juga disampaikan kepada orangtua peneliti Bapak LS. Sugiyanto (Alm) dan Ibu Sri Rahayu, kakak Saya Agustinus Bambang Suprianto, Calon Suami saya Aska Wibianto, seluruh keluarga serta kepada rekan-rekan kerja saya yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang selalu memberikan doa dan semangat tanpa henti kepada peneliti.

Peneliti juga sampaikan terima kasih kepada Bapak/Ibu Dosen yang tak henti memberikan masukan dan bimbingan serta seluruh jajaran staff Universitas Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta Mba Gina, Mba Rezka, Bapak Fadil, Pak Edi, Ibu Lika, Mba Santi, Pak Eko, Mas Kiman juga seluruh teman-teman MIK Sahid angkatan 2018 yang telah membantu, support hingga memberikan kontribusi sehingga tesis ini dapat terselesaikan tepat waktu.

Jakarta, 10 Agustus 2020

(8)

Laurensia Retno H

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN ORISINILITAS ... ii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... iii

PENGESAHAN ... iv

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR BAGAN ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.1.1. Majalah Tempo dan Realitas Pada Media ... 4

1.2 Perumusan Masalah ... 10

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 11

1.4 Manfaat Penelitian ... 12

1.5 Sistematika Penulisan ... 12

BAB II KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS ... 15

2.1 Penelitian Terdahulu ... 15

2.2 Kerangka Teoritis ... 22

2.2.1 Paradigma Konstruktivis ... 22

2.2.2 Teori Semiotika Charles Sander Pierce ... 24

2.2.3 Teori Konstruksi Realitas Sosial ... 33

2.2.4 Majalah ... 37

2.3 Kerangka Pemikiran ... 45

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 46

3.1 Tipe Penelitian ... 46

3.2 Metode Penelitian ... 47

3.3 Unit Analisis ... 48

3.4 Metode Pengumpulan Data dan Sumber Data ... 48

3.4.1 Data Primer ... 48

3.4.2 Data Sekunder ... 50

3.5 Teknik Keabsahan Data ... 51

3.6 Teknik Analisis Data ... 53

(9)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 56

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... 56

4.1.1 Profil Majalah Tempo ... 56

4.1.2 Visi dan Misi Majalah Tempo ... 59

4.1.3 Alur Redaksi Pembuatan Cover Majalah Tempo ... 60

4.2 Hasil Penelitian dan Pembahasan... 63

4.2.1 Analisis Semiotika Cover Majalah Tempo ... 63

4.2.2 Pembahasan ... 69

BAB V PENUTUP ... 77

5.1 Kesimpulan ... 77

5.2 Saran ... 78

DAFTAR PUSTAKA ... 79

RIWAYAT HIDUP ... 83

LAMPIRAN ... 84

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 19 Tabel 2.2 Tipe-Tipe Tanda ... 29 Tabel 2.3 Jenis Tanda dan Cara Kerjanya ... 30

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1Cover Majalah Tempo Edisi 16-22 September 2019 ... 8 Gambar 2.1Model Triadic Pierce ... 26 Gambar 4.1Cover Majalah Tempo Edisi 16-22 September 2019 ... 62

(12)

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Kerangka Pemikiran... 44 Bagan 4.1 Alur Redaksi Pembuatan Cover Majalah Tempo ... 61

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Profil Infoman... 82 Lampiran 2 Transkrip Wawancara Informan ... 83

(14)

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

Akhir tahun 2019 tepatnya di bulan September terjadi kondisi yang memprihatinkan di Indonesia. Revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) secara cepat langsung disahkan oleh pemerintah, sehingga membuat masyarakat tergerak, terjadi demo dari para mahasiswa yang ada di Indonesia, selain itu ramainya pemberitaan revisi UU KPK di media membuat warganet perang komentar di media sosial. Revisi undang- undang tersebut dianggap oleh para penggiat anti korupsi dan masyarakat sebagai aturan yang dapat melemahkan KPK dan posisi KPK dinilai sedang diujung tanduk, terdapat 15 pasal yang dianggap melemahkan peran KPK memberantas korupsi, salah satunya point mengenai melakukan penyadapan harus berdasarkan persetujuan dewan pengawas, penyidik dan penyelidik dari Kepolisian Republik Indonesia dan kejaksaan. Hal ini membuat KPK bukan lagi sebagai lembaga independent, karena penanganan korupsi harus melalui dewan pengawas.

Pada tanggal 13 September 2019 Joko Widodo (Jokowi) mengadakan jumpa pers untuk menyatakan sikapnya soal revisi UU KPK. Jokowi menyetujui sejumlah poin soal revisi UU KPK, yaitu penyadapan harus seizin dewan pengawas, kewenangan SP3 setelah 2 tahun, hingga pegawai KPK

(15)

menjadi ASN. Jokowi menyatakan menolak 4 poin revisi UU KPK, yaitu penyadapan dengan izin eksternal, penyelidik dan penyidik KPK hanya berasal dari kepolisian dan kejaksaan saja, penuntutan wajib berkoordinasi dengan Kejagung, dan LHKPN dikeluarkan dari KPK. (Detikcom, 2019)

Revisi UU KPK sebagai bagian dari realitas yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia, terdapat masalah sosial yang terjadi dimana KPK sebagai lembaga yang independent mulai melemah peranannya. Ada beberapa peran KPK yang diatur dalam UU KPK kini mulai diubah, seperti pendapat Agung Raharjo sebagai Ketua KPK, dari poin-poin revisi yang berpotensi besar melemahkan KPK yaitu Salah satunya soal melakukan penyadapan harus berdasarkan persetujuan dewan pengawas, penyidik dan penyelidik dari Kepolisian Republik Indonesia dan kejaksaan. Itu dampaknya luar biasa. (Sukamto, 2019:3)

Rencana revisi Undang-Undang KPK ini sebenarnya sudah ada sejak era pemerintahan sebelumnya, namun belum realisasikan. Dalam perjalanannya revisi UU KPK ini tidak pernah pernah dibahas, namun terpilihnya Presiden Jokowi pada pemilihan presiden untuk yang kedua kalinya pada April 2019 lalu, memunculkan kembali masalah revisi UU KPK.

Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hasil revisi mulai berlaku Kamis (17/10/2019) ini. Meski tanpa tanda tangan Presiden Joko Widodo, UU itu otomatis berlaku terhitung 30 hari setelah disahkan di paripurna DPR, 17 September lalu. Ketentuan ini tercantum di dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, tepatnya pada Pasal 73 ayat 1 dan ayat 2. (Ihsanuddin, 2019)

(16)

Pasal 73 ayat 1 menyatakan, "rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 disahkan oleh Presiden dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak Rancangan Undang-Undang tersebut disetujui bersama oleh DPR dan Presiden".

Lalu, Pasal 73 ayat 2 berbunyi, "dalam hal Rancangan Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh Presiden dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak Rancangan Undang- Undang tersebut disetujui bersama, Rancangan Undang-Undang tersebut sah menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan". (Ihsanuddin, 2019)

Melihat fenomena tersebut sampai sebelum presiden Jokowi dilantik menjadi presiden untuk yang kedua kalinya, serta revisi UU KPK tersahkan oleh DPR pada masa Presiden Jokowi menjabat, hal ini dinilai terkesan terburu-buru dan sembunyi-sembunyi. Revisi itu disetujui Dewan Perwakilan Rakyat dalam rapat paripurna. Walaupun Revisi undang-undang ini tanpa ditandatangani oleh Presiden Jokowi, namun secara otomatis seperti pasal di atas setelah 30 hari pengesahan UU KPK ini akan tetap berlaku.

Sikap Jokowi yang seperti ini mengakibatkan prasangka masyarakat, ada bagian masyarakat yang menyatakan bahwa Jokowi mendukung pengesahan Revisi UU KPK, bukan menguatkan KPK tapi justru dapat melemahkan KPK, namun ini dianggap menyesatkan masyarakat karena yang terdapat dalam Revisi UU KPK dianggap melemahkan KPK, sehingga sikap Jokowi dapat dianggap menyesatkan masyarakat.

UU KPK yang baru memiliki dampak yang serius, UU baru ini menyiratkan satu pesan bahwa KPK secara hierarki kelembagaan berada di bawah Presiden

(17)

sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di bidang eksekutif. Karena ia merupakan lembaga yang berada di bawah Presiden, maka Presiden berhak melakukan pengawasan melalui wakil-wakilnya yang ditempatkan di Dewan Pengawas.

Dalam konteks ini, Dewan Pengawas merupakan ancaman bagi independensi KPK. (Muzakki, 2019)

Baik DPR maupun pemerintah tidak ada yang mengakui secara jantan bahwa tujuan revisi UU KPK adalah untuk melemahkan. Semua lantang mengatakan bahwa tujuannya adalah penguatan. Presiden Jokowi berkali-kali menegaskan bahwa ia tidak rela KPK dilemahkan.

Tujuan revisi UU KPK dikatakan Jokowi bukan untuk melemahkan, melainkan untuk menguatkan. Namun penguatan seperti apa yang dimaksud Jokowi jika untuk melakukan penyadapan, penggeledahan, dan penyitaan, pimpinan KPK harus seizin Dewan Pengawas? Dan, hierarki kelembagaan KPK dipertegas di bawah kekuasaan eksekutif dan pegawainya dikontrol dengan status ASN?

Yang terjadi bukan penguatan KPK secara kelembagaan, tetapi penguatan kendali Presiden terhadap KPK. Jika Dewan Pengawas dipilih Presiden, dan untuk melakukan pengawasan, penggeledahan, dan penyitaan harus seizin Dewan Pengawas, maka jelas secara kasat mata bahwa Presiden memegang kendali penuh atas kerja KPK.

Dalam pelaksanaannya, bila nanti KPK mengendus adanya praktik korupsi di satu kementerian, akan sangat sulit mendapatkan izin untuk melakukan penyadapan dari Dewan Pengawas. Sebab sebagai wakilnya di KPK, orang yang akan duduk di Dewan Pengawas pastinya akan meminta izin Presiden terlebih dahulu.

Dengan alur seperti ini, dapat dipahami kenapa inisiatif revisi UU KPK muncul dari partai-partai di koalisi pendukung Jokowi. Dan, kenapa pula pembahasan revisi UU ini hanya memakan waktu 13 hari sejak dimunculkan jadi pembahasan inisiatif DPR.

Jawabannya adalah revisi UU KPK menguntungkan Presiden. Dengan UU baru ini, Presiden lewat Dewan Pengawas bisa mengetahui jika menteri atau koleganya di partai pendukung menjadi target KPK. Dengan kata lain, UU KPK yang baru memungkinkan Presiden melakukan intervensi terhadap kerja KPK.

Setelah revisi UU KPK disahkan, masa depan pemberantasan korupsi berada di tangan Presiden. Mungkin KPK baru masih akan melakukan penangkapan menteri, ketua DPR, ketua partai, dan kepala daerah yang korupsi. Jika itu benar-benar terjadi, pastilah itu sudah seizin Presiden. Jika itu terjadi, mungkin saja pendukungnya yang sekarang kecewa akan kembali memberikan dukungan. Karena kini, KPK tidak lagi independen. (Muzakki, 2019)

1.1.1. Majalah Tempo dan Realitas Pada Media

(18)

Realita mengenai sikap Presiden Jokowi yang tidak rela KPK dilemahkan, namun menyetujui revisi UU KPK yang disahkan oleh DPR menjadi sorotan media. Media seyogyanya berdiri sebagai watch dog terhadap keadaan di ruang publik. Dimana media dalam garis besarnya adalah sebuah institusi yang harus bersandar pada pilar utama kebenaran (Kovach & Rosentiel, 2006:38). Media menyuguhkan suatu penggambaran kebenaran mengenai yang terjadi di Indonesia.

Dalam memberitakan suatu peristiwa media memiliki peran dalam menggambarkan realitas yang terjadi di masyarakat.

Media menyajikan sebuah pengetahuan bagi manusia dimana menurut Berger dan Luckmann realitas sosial dengan memisahkan pemahaman “kenyataan” dan

“pengetahuan”. Realitas diartikan sebagai kualitas yang terdapat di dalam realitas- realitas, yang diakui memiliki keberadaan (being) yang tidak bergantung kepada kehendak kita sendiri. Sementara pengetahuan didefinisikan sebagai kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata (real). Realitas dalam pengetahuan adalah sebuah realitas yang dikonstruksi secara sosial. (Sobur, 2009a:81)

Media menyajikan berita Revisi UU KPK sesuai dengan apa yang terjadi dimasyarakat. Media menampilkan pendapatnya melalui pesan yang ingin disampaikan, disini media menjadi salah satu sumber informasi dan wujud dari opini publik terkait dengan realitas Revisi UU KPK dengan pemerintahan saat ini.

Pertengahan September media hampir seluruh media baik di Indonesia seperti kompas, CNN, Republika, dan media asing seperti Asia Times dan Euronews, menyoroti yang sedang menjadi trending topik, yaitu sikap Presiden Jokowi terhadap revisi UU KPK yang dianggap dapat melemahkan peran dan kinerja

(19)

KPK. Semua media menjadikan revisi UU KPK menjadi isi pemberitaan di setiap media. Salah satu media yang menjadikan revisi UU KPK adalah Majalah Tempo.

Majalah Tempo adalah majalah berita mingguan Indonesia yang umumnya meliput berita dan politik. Halaman muka majalah Tempo menjadi sebuah topik yang menarik untuk dikaji karena untuk beberapa kali, halaman muka majalah ini menimbulkan kontroversi. Salah satunya adalah Pada era Reformasi, Tempo tak surut mengundang kontroversi, ulasan artikelnya mengenai ada Tomy di Tenabang, Kasus Akbar Tanjung, hingga gambar sampul Majalah Tempo, yang memuat lukisan "Perjamuan Terakhir" karya Leonardo Da Vinci, yang sangat sakral bagi agama Nasrani, di pelesetkan dengan gambar Soeharto di meja makan bersama enam anaknya. Gambar tersebut dimuat pada halaman muka majalah Tempo edisi 4-10 Februari 2008, beberapa hari setelah wafatnya mantan presiden Soeharto. (Nusa, 2016:23)

Menjadi menarik dari majalah Tempo adalah setiap halaman muka majalah Tempo terkadang ditemukan seorang atau tokoh yang diangkat sebagai halaman muka majalah ini. Berkenaan dengan halaman muka majalah berita Tempo khususnya pada dua periode penerbitan yaitu periode I No. 12 Tahun XXIII – 22Mei 1993 - No. 17 Tahun XXIV – 25 Juni 1994 dan periode II Edisi 3824/3-9 Agustus 2009 hingga saat ini. Kedua periode tersebut setidaknya ditemukan dua macam teknik pengemasan halaman muka yaitu dengan menggunakan fotografi dan ilustrasi. (Nusa, 2016:25)

Dengan gaya pemberitaan Tempo baik itu gambar dan teks dengan menggunakan gaya argumentatif ini membuat banyak masyarakat yang memiliki minat untuk membaca Tempo. Hal ini terlihat karena Majalah Tempo adalah The

(20)

Leading News Magazine di Indonesia dengan pembaca 535.000 orang. Pembaca

yang berasal dari pembaca yang tetap loyal, sekaligus memikat hati pembaca muda yang berasal dari kalangan orang perkotaan dari kelas menengah atas.

Mereka tentunya mapan secara ekonomis, berpendidikan dan diharapkan menjadi motor perkembangan bangsa ini. (Google Sites, 2006) Dari banyaknya jumlah pembaca ini menunjukkan bahwa majalah Tempo memiliki daya pikat terhadap pembacanya, dengan gaya pemberitaan menggunakan gambar ilustrasi yang argumentatif, dengan penampilan analogi pada gambar ilustrasi dan tulisan yang memberikan argumen terhadap yang terjadi di masyarakat.

Gambar ilustrasi pada cover majalah merupakan salah satu bentuk komunikasi dalam menyampaikan argumen. Penyampaian argumen melalui gambar sebagai jauh lebih mudah dipahami dengan penggunaan simbol atau tanda. Cover majalah dengan menggunakan gambar ilustrasi merupakan cara menyajikan informasi yang unik, karena dapat mendukung kata-kata yang disampaikan. Sehingga gambar memiliki kekuatan yang cukup hebat dalam mempengaruhi opini publik. Dengan penggunaan tanda atau simbol yang mudah dicerna dan dimengerti oleh pembaca.

Simbol pada gambar merupakan simbol yang disertai maksud (signal). Pada dasarnya simbol adalah sesuatu yang berdiri atau ada untuk sesuatu yang lain, kebanyakan diantaranya tersembunyi atau tidak jelas. Sebuah simbol dapat berdiri untuk institusi, ide, cara berfikir, harap dan banyak hak lain. (Sobur, 2009b:36)

Begitu halnya Majalah Tempo edisi tanggal 16-22 September 2019, menjadikan topik utama dengan simbol Jokowi sebagai pinokio. Gambaran

(21)

Jokowi sebagai pinokio dianggap bahwa majalah Tempo menggambarkan keadaan yang terjadi saat itu.

Majalah Tempo menuangkan keadaan kedalam bentuk visual pada cover majalahnya, dengan menampilkan gambar Jokowi tampak samping dengan bayangan hitam yang berhidung panjang seperti Pinokio. Gambar pada cover ini muncul ditengah-tengah keadaan Indonesia yang sedang ramai dengan RUU KPK, ditambah lengkap dengan headline yang terdapat pada cover majalah yang bertuliskan “JANJI TINGGAL JANJI, PARA PENGGIAT ANTI KORUPSI MENUDING PRESIDEN INGKAR JANJI PRIHAL PENGUATAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI BENARKAH SEJAK AWAL JOKOWI MENDUKUNG KETUA KOMISI TERPILIH?”.

Sumber : (Riana, 2019)

Gambar 1.1 Cover Majalah Tempo Edisi Janji Tinggal Janji Fenomena ini yang menjadikan majalah Tempo menggunakan Karikatur Jokowi Pinokio sebagai simbol cover majalah yang berjudul Janji Tinggal Janji cukup kontroversial, karena masyarakat mengetahui bahwa Pinokio merupakan tokoh fiksi anak-anak yang berasal dari italia. Le avventure di Pinocchio atau

(22)

Petualangan Pinokio adalah sebuah fiksi klasik dari Italia dengan tokoh pentingnya adalah Pinokio yang terkenal di kalangan anak-anak. Dalam fiksi karangan Carlo Collodi ini, Pinokio mengalami banyak masalah dalam petualangannya karena sifatnya yang polos, bodoh, suka berbohong, dan egois.

(Salukh, 2019)

Penggunaan gambar pinokio sebagai suatu teks atau tanda selalu menghadirkan anggapan secara kontekstual, anggapan yang dihadirkan sebagai suatu penggambaran realitas. Anggapan-anggapan ini merupakan suatu yang dapat mengungkap makna. Cover Majalah Tempo Pinokio ini mepersentasikan suatu kenyataan yang sama dengan antara yang terjadi saat ini dengan sosok Pinokio sebagai seorang yang muncul dari kisah dongeng.

Penelitian ini melihat bahwa simbol atau tanda pada cover majalah Tempo dengan sebuah ilustrasi gambar Jokowi Pinokio merupakan sebuah gambar yang memiliki makna yang dapat digali, ilustrasi gambar sebagai bahasa simbolis memiliki tujuan dan arti sehingga menciptakan sebuah makna. Untuk membongkar makna yang terdapat dalam cover majalah Tempo Jokowi Pinokio, maka penelitian ini menggunakan semiotika untuk mengupas tanda-tanda, dengan melihat realitas sosial dan kebudayaan dalam tanda yang terdapat pada cover majalah Tempo, dimana ada aturan yang memungkinkan tanda-tanda tersebut memiliki arti.

Dengan menggunakan teori semiotika dapat mengklasifikasikan tanda-tanda visual dan kata-kata yang terkandung dalam cover majalah, sebagai tujuan untuk mengungkap makna dan tanda-tanda atau simbol yang ada. (Sobur, 2009b:34)

Dunia realitas disaring, difragmentasi, dielaborasi dikemas menjadi hyper-sign, lewat komodifikasi tanda-tanda. Elemen-elemen tanda yang

(23)

merupakan bagian dari realitas dan yang bukan realitas (fantasi, imajinasi, ideology) kedalam suatu yang kontradiktif dan eklektif tanda-tanda (eclectic sign), yang menciptakan semacam realitas baru (neo-reality), yang tidak lagi berkaitan dengan realitas sesungguhnya. (Piliang, 2003:170)

Penulis memahami semua tanda dan simbol yang muncul dalam sebuah teks dan visual dalam pesan, mewakili realitas sosial yang ada dalam masyarakat, bahkan lebih jauh lagi tanda-tanda dan simbol-simbol ini terkadang mengkonstruksi sebuah realitas baru di masyarakat.

Kajian semiotik dapat memahami fungsi terdapat pada cover majalah Tempo edisi tanggal 16-22 September 2019, dalam mengungkap makna tersirat dari cover majalah Tempo tersebut. Dalam mengungkap makna tersirat didapat dari pemaknaan yang subjektif, yang berfokus pada simbol, tanda, lambang dan gambar. Oleh karena itu menggunakan semiotika Charles Sanders Pierce yang digolongkan kepada ikon, indeks dan simbol untuk mengungkap muatan pesan yang terdapat dalam cover majalah Tempo edisi tanggal 16-22 September 2019.

Berkaitan dengan fenomena di atas, maka untuk peneliti menarik judul penelitian adalah:

“Konstruksi Realitas Cover Majalah Tempo (Studi Semiotika Gambar Jokowi Bersiluet Pinokio Pada Majalah Tempo Edisi 16-22 September 2019)”

1.2.Perumusan Masalah

Dari fenomena di atas terjadi prokontra dalam cover majalah Tempo edisi edisi tanggal 16-22 September 2019, sebagian masyarakat beranggapan bahwa cover majalah dengan gambar pinokio tersebut merupakan gambaran terhadap kondisi saat ini, gambar pinokio merefleksikan bahwa Jokowi bersifat sama

(24)

dengan pinokio, namun disisi lain terdapat masyarakat yang memiliki pandangan berbeda seperti para relawan Jokowi mengenai cover di majalah Tempo tersebut mereka merasa tersinggung dengan adanya gambar tersebut, maka untuk itu penelitian ini ingin mengungkap konstruksi tanda dan memahami makna dalam cover majalah Tempo edisi edisi tanggal 16-22 September 2019, merupakan maka fokus penelitian ini adalah :

1. Bagaimana tanda-tanda dan simbol digunakan dalam pembuatan cover majalah Tempo edisi tanggal 16-22 September 2019?

2. Apa makna-makna yang terdapat dalam cover majalah Tempo edisi edisi tanggal 16-22 September 2019?

3. Konstruksi realitas apakah yang dibangun dalam cover majalah Tempo edisi edisi tanggal 16-22 September 2019?

1.3.Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1. Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah Untuk mengungkap makna pria dan siluetnya yang terdapat dalam cover majalah Tempo edisi edisi tanggal 16-22 September 2019, dengan cara mengidentifikasi tanda-tanda yang terdapat dalam cover dengan proses pemaknaan secara subjektif terhadap cover majalah.

1.3.2. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dibahas sebelumnya, tujuan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Untuk mendeskripsikan maksud dari tanda-tanda dan simbol yang terdapat dalam cover majalah Tempo edisi tanggal 16-22 September 2019.

(25)

2. Untuk mengungkap makna yang terdapat pada cover majalah Tempo edisi edisi tanggal 16-22 September 2019.

3. Untuk mengungkap konstruksi realitas yang dibangun dalam cover majalah Tempo edisi edisi tanggal 16-22 September 2019.

1.4.Manfaat dan Kegunaan Penelitian

Manfaat dari penelitian ini diharapkan menambah wawasan dan pengetahuan dalam penelitian komunikasi dengan pendekatan semiotika.

sedangkan kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.4.1. Teoritis

Untuk perkembangan ilmu pengetahuan di bidang komunikasi khususnya pengungkan makna dalam sebuah visual, dengan penggunaan teori model semiotika Charles Sanders Pierce.

1.4.2. Praktis

Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi kerangka acuan praktisi dalam menganalogikan pesan kedalam bentuk visual, agar mampu merumuskan ide-ide kreatif untuk pemberitaannya.

1.5.Sistematika Penulisan

Sistematika dalam penulisan penelitian ini untuk memudahkan penulis untuk mengurutkan pembahasan yang hendak dikaji, serta memberikan gambaran yang lebih jelas pada tesis ini, adapun sistematika penulisan tesis ini adalah :

(26)

BAB 1 : PENDAHULUAN

Pada bab ini dikemukakan secara garis besar dari isi Thesis antara latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini terdiri dari dua sub bab penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini, definisi konseptual yang berisi teori-teori yang relevan dengan permasalahaan penelitian dan kerangka pemikiran yang menjelaskan pola pikir penelitian.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini menjelaskan mengenai tipe penelitian yang digunakan, paradigma penelitian, pemilihan metode penelitian yang digunakan, instrumen penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik pengelolahan data, unit analisis data dan rencana pengujian keabsahan data.

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

Pada bab ini membahas mengenai gambaran umum mengenai objek penelitian, penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan lebih mendalam, peneliti melakukan temuan data dan melakukan analisis data.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

(27)

Pada bab ini membahas hasil penelitian yang dirangkum oleh peneliti terhadap objek penelitian berdasarkan hasil analisis dengan memberikan kesimpulan dan saran-saran terhadap penelitian yang telah dilakukan.

BAB II

KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS

2.1. Penelitian Terdahulu

Berdasarkan penelusuran penelitian terdahulu, penulis mengambil lima penelitian relevan dan terkait dengan penelitian ini. Penelitian terdahulu dikemukakan berdasarkan permasalahan dan tujuan, teori dan konsep, metodologi dan hasil penelitian. Hasil penelitian terdahulu adalah sebagai berikut :

Pertama, Noval Setiawan (2020), Pemaknaan Cover Majalah Tempo

(Analisis Semiotika Cover Majalah Tempo Edisi 16 September-22 September 2019), dalam Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 6, Nomor 1, April 2020, Universitas Teuku Umar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna dari makna ilustrasi, teks dan warna pada sampul majalah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis semiotik Roland Barthes, yang meneliti tanda-tanda melalui tiga tahap analisis yaitu denotasi, konotasi, mitologi. Hasil penelitian ini mungkin mengungkapkan bahwa sampul majalah edisi ini menunjukkan sifat-sifat yang

(28)

dimiliki oleh Pak Jokowi seperti yang terlihat dari penggambaran bentuk wajah pada ilustrasi. Arti denotasi, baik makna bayangan, pakaian dan ekspresi diilustrasikan. Sedangkan konotasi ilustrasinya adalah tentang ekspektasi publik terhadap revisi UU KPK. Adapun ciri-ciri ekspresi Presiden Jokowi dengan mata tertutup dan bibir yang murni mengekspresikan sesuatu dan hidungnya terulur, bahwa Pak Jokowi adalah pembohong. Lebih jauh lagi, makna mitologis yang ditemukan di balik ilustrasi adalah gambar yang berisi asumsi tentang janji-janji Jokowi yang tidak terkait dan tanggung jawab Presiden terhadap Revisi UU KPK.

Kemudian dalam teks judul dan teks judul serta warna hitam di bayangan hidung, ada provokasi di dalamnya terkait dengan ideologi majalah tempo. Kesimpulan dari penelitian ini, bahwa gambar-gambar visual yang terdapat dalam sampul depan majalah "Promise Staying Promise". (Setiawan, 2020)

Kedua, Marlia dan Aceng Ruhendi Saifullah (2020), REFERENSI COVER

MAJALAH TEMPO EDISI 14 SEPTEMBER: Karikatur Wajah Jokowi dengan Bayangan Hidung Panjang – Janji Tinggal Janji. Dalam Jurnal Semantik, Volume 9, No. 1, Februari 2020 p–ISSN 2252-4657 DOI 10.22460/semantik.vXiX.XXX.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya cover Tempo yang kontroversial karena telah menyandingkan karikatur Jokowi dengan bayangan hidung panjang bertuliskan “Janji Tinggal Janji”. Pihak pro menganggap itu suatu teguran yang kritis, namun pihak kontra menganggap itu penghinaan. Perbedaan inilah yang memicu konflik di antaranya. Tujuan kajian ini adalah mengidentifikasi dan mendeskripsikan rujukan (reference) responden terhadap cover tersebut dengan harapan dapat meredam konflik yang ada. Metode yang digunakan phenomenological text and image analysis, dengan instrumen segi tiga makna

(29)

Odgen & Richards (OR) dan truth table Keith Allan (KA). Berdasarkan analisis, ditemukan perbedaan temuan. Dengan segi tiga makna OR, responden cenderung merujuk Jokowi pembohong dan ingkar janji. Sedangkan berdasarkan truth table KA, Jokowi pembohong dan ingkar janji merupakan proposisi yang false (F).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penyandingan Jokowi dengan Pinokio dan janji tinggal janji bukanlah sesuatu yang mutlak dan identik dengan kebohongan. (Marlia, 2020)

Ketiga, Ahmad Toni dan Rafki Fachrizal (2017), Studi Semiotika Pierce

pada Film Dokumenter ‘The Look of Silence: Senyap’. Dalam Jurnal komunikasi P-ISSN: 1907-898X, E-ISSN: 2548-7647 Volume 11, Nomor 2, April 2017, Film The Look Of Silence: “Senyap” termasuk dalam kategori film dokumenter.

Dimana unsur yang terkandung dalam film dokumenter adalah realitas, (fakta dan data), film statement, subjektif, structure/alur cerita, dan elemen dramatik, serta medium televisi atau film. Dalam film dokumenter, terdapat pula jenis-jenis film dokumenter di dalamnya. Film The Look Of Silence: “Senyap” termasuk kedalam jenis dokumenter rekonstruksi. Dokumenter jenis ini mencoba memberi gambaran ulang terhadap peristiwa yang terjadi secara utuh. Biasanya, ada kesulitan tersendiri dalam mempresentasikannya kepada penonton sehingga harus dibantu rekonstuksi peristiwanya. Fokus utama film documenter rekonstuksi ialah rokonstuksi suatu peristiwa penting dan menarik yang pernah terjadi atau dialami seseorang. Penelitian ini menggunaka studi deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu analis semiotik Charles Sanders Pierce. Metode semiotik, yaitu metode analitis untuk menilai signifikasi. Peneliti menggunakan paradigma konstruktivisme. Data diperoleh melalui pemilihan adegan di film "The Look Of

(30)

Silence: Silent" dimana ada unsur-unsur yang berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia. Peneliti menyimpulkan bahwa kehadiran adegan yang mewakili pelanggaran hak prosedural film "The Look Of Silence: Silent.” Pelanggaran digambarkan melalui adegan merekonstruksi pembunuhan yang dilakukan oleh mantan pelaku tragedi G30S. Kemudian, film ini bisa menjadi perspektif baru. ke masyarakat di sisi lain kejadian G30S. (Toni & Fachrizal, 2017)

Keempat, Parulian Sitompul (2014), KONSTRUKSI REALITAS PERAN

KPK DALAM PEMBERITAAN ONLINE TERKAIT KASUS KORUPSI (Studi Framing Beberapa Pemberitaan Online Terkait Peran KPK pada Kasus Korupsi Mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiah). Dalam Jurnal Studi Komunikasi dan media, Volume 18 No 2 halaman 169. Tulisan ini menyajikan hasil penelitian tentang konstruksirealitas peran KPK dalam pemberitaan online terkait kasus korupsi. Framing Robert Entmant dipakai sebagai perangkat pengumpulan data pada penelitian ini.Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat dua konstruksi utama dalam ketiga berita online. Pertama konstruksi bingkai militansi KPK, peran KPK sebagai opsi oposisi terhadap kekuatan penguasa atau pemerintah yang bergerak tidak pada nilai proses hukum tetapi pada nilai-nilai universal demokrasi. Kedua, konstruksi bingkai KPK sebagai organisasi anti elitis, ini merupakan konstruksi peran KPK sebagai bentuk perlawanannya kepada korupsi yang memang merupakan perilaku elite. Secara teoritis perlu dilakukan kajian wacana lebih dalam terkait pemberitaan tentang KPK, mengingat kasus yang banyak dan bergulir. Secara praktis bahwa media sebaiknya memberikan pemberitaan yang mendukung kebenaran. Dimana pemberitaan tentang korupsi jangan dijadikan sebuah konstruksi elitis ataupun konstruksi yang membangun

(31)

opini tertentu yang menonjolkan sisi berlawanan dengan pengakuan hukum atau keadilan universal. (Sitompul, 2014)

Kelima, Reihan Hirzin Rahman1, Dr. Dewi K. Soedarsono, Nur Atnan,

S.IP., M.Sc, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Universitas Telkom. Dalam jurnal e-Proceeding of Management : Vol.3, No.2 Agustus 2016 halaman 2595-2600 ISSN : 2355-9357. Representasi Toleransi Umat Beragama Dalam Film Cahaya Dari Timur (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce Dalam Film Cahaya Dari Timur). Latar belakang masalah penelitian ini didasari pada sebuah toleransi yang dimunculkan melalui sepak bola. Film “Cahaya Dari Timur” merupakan film yang memperlihatkan adegan dan dialog yang dianggap menyimpang dan bisa dijadikan gambaran sebuah representasi toleransi umat beragama. Film adalah media komunikasi massa.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetauhi bagaimana sebuah toleransi umat beragama direpresentasikan dalam film. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Charles Sanders Pierce. Dengan menggunakan teori ini, diharapkan bisa membantu peneliti mengungkapkan tanda-tanda yang mengacu pada representasi toleransi umat beragama yang coba disampaikan dalam film Cahaya Dari Timur, kepada para penontonnya. Berangkat dari teori tersebut, nantinya dipilih berbagai adegan dan dialog yang dianggap merepresentasikan toleransi umat beragama.

Selanjutnya adegan dan dialog tersebut dianalisis berdasarkan segitiga unsur makna (triangle meaning) milik Charles Sander Pierce yang meliputi sign, object, interpretant. Serta tahap selanjutnya yaitu dengan aspek tanda Charles Sander Pierce yaitu ikon, indeks, dan simbol. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, dimana dalam penelitian ini menganggap makna sebagai perhatian

(32)

utama. Selain itu penelitian ini hanya mengembangkan dan menghimpun fakta, kemudian menganalisisnya. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian riset yang data-datanya berupa pernyataan-pernyataan dan berasal dari pendekatan interpretatif (subyektif) Representasi toleransi umat beragama yang diceritakan dalam film ini disimbolkan melalui setiap adegan-adegan yang dimainkan oleh para pemain, didukung dengan dialog-dialog yang diucapkan para pemain. Dalam film ini dapat ditemukan simbol-simbol yang bisa merepresentasikan bentuk toleransi. (Rahman et al., 2016)

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

Peneliti Judul Penelitian Persamaan Perbedaan Original Penelitian Noval Setiawan

(2020). Dalam Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 6, Nomor 1, April 2020,

Universitas Teuku Umar

Pemaknaan Cover Majalah Tempo (Analisis Semiotika Cover Majalah Tempo Edisi 16 September- 22 September 2019)

Objek penelitian yang dibahas adalah cover Majalah Tempo Edisi 16

September- 22

September 2019

Penggunaan metode analisis

Semiotika Roland Barthes

Meneliti fokus pada

konstruksi realitas dalam cover majalah Tempo.

Marlia dan Aceng Ruhendi

Saifullah

(2020). Dalam Jurnal

Semantik, Volume 9, No.

1, Februari 2020.

REFERENSI COVER MAJALAH TEMPO EDISI 14 SEPTEMBER : Karikatur Wajah Jokowi dengan

Bayangan Hidung

Panjang – Janji Tinggal Janji.

Objek penelitian yang dibahas adalah cover Majalah Tempo Edisi 16

September- 22

September 2019

Metode penelitian yang digunakan menggunakan phenomenologi cal text and image analysis, dengan

instrumen segi tiga makna Odgen &

Richards (OR) dan truth table Keith Allan (KA).

Menggunakan metode penelitian analisis semiotika Pierce.

(33)

Ahmad Toni dan Rafki Fachrizal (2017), Senyap’

Jurnal

komunikasi P- ISSN: 1907- 898X, E-ISSN:

2548-7647 Volume 11, Nomor 2, April 2017

Studi Semitoka Pierce pada Film

Dokumenter

‘The Look of Silence:

Senyap’.

Menggunakan metode analisis semiotika Pierce.

Objek pada

penelitian ini adalah film .

Fokus penelitian menganalisis cover

majalah Tempo.

Parulian Sitompul (2014). Dalam Jurnal Studi Komunikasi dan media, Volume

18 No 2

halaman 169 2014

Konstruksi

Realitas Peran Kpk Dalam Pemberitaan Online Terkait Kasus Korupsi (Studi

Framing Beberapa Pemberitaan Online Terkait Peran KPK pada Kasus Korupsi Mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiah).

Fokus penelitian pada

konstruksi realitas.

Menggunakan metode penelitian analisis framing.

Selain

mengungkap makna, penelitian ini bertujuan untuk

melihat konstruksi redaksi dalam cover majalah, dengan menggunaka n metode analisis semiotika.

Reihan Hirzin Rahman1, Dr.

Dewi K.

Soedarsono, Nur Atnan, S.IP., M.Sc, (Jurnal e- Proceeding of Management : Vol.3, No.2 Agustus 2016 halaman 2595- 2600 ISSN : 2355-9357).

Representasi Toleransi Umat Beragama Dalam Film Cahaya Dari Timur

(Analisis Semiotika Charles

Sanders Peirce Dalam Film Cahaya Dari Timur).

Menggunakan analisis semiotika Pierce.

Objek penelitiannya berupa film.

Mengungkap makna gambar Kartun pinokio.

Relevansi penelitian di atas dengan penelitian ini adalah menggunakan teori semiotika Pierce, hal ini karena semiotika pierce lebih menekankan pada logika

(34)

dan filosofi yang ada di masyarakat, maksudnya logika merupakan berdasarkan nalar, dan nalat tersebut dituangkan di dalam tanda. Tanda-tanda ini memungkinkan kita berfikir, menghubungkan dan memberik makna pada apa yang ditampilkan. Dari penelitian pendahuluan di atas dapat mengetahui posisi penelitian ini yaitu memberikan gambaran bagaimana mengkonstruksi realitas dalam cover majalah. Untuk itu maka kebaruan dalam penelitian ini adalah penggunaan objek cover majalah tempo dengan ilustrasi Jokowi dengan siluet pinokio.

2.2. Kerangka Teoritis

2.2.1. Paradigma Konstruktivisme

Paradigma konstruktivismeialah paradigma dimana kebenaran suatu realitas sosial dilihat sebagai hasil konstruksi sosial, dan kebenaran suatu realitas sosial bersifat relatif. Paradigma konstruktivisme ini berada dalam perspektif interpretivisme (penafsiran) yang terbagi dalam tiga jenis, yaitu interaksi simbolik, fenomenologis dan hermeneutik.

Paradigma konstruktivisme dalam ilmu sosial merupakan kritik terhadap paradigma positivis. Menurut paradigma konstruktivisme realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang, seperti yang biasa dilakukan oleh kaum positivis. Konsep mengenai konstruksionis diperkenalkan oleh sosiolog interpretative, Peter L.Berger bersama Thomas Luckman. Dalam konsep kajian komunikasi, teori konstruksi sosial bisa disebut berada diantara teori fakta sosial dan defenisi sosial. (Eriyanto, 2013:13)

(35)

Menurut Ardiyanto (2011) Teori kontrukvisme ini lebih berkaitan dengan program penelitian dalam komunikasi antarpersonal. Sejak tahun 1970-an para akademisi mengembangkan komunikasi antarpersonal secara sistematik dengan membuat peta terminologi secara teoritis dan hubungannya, dengan mengelaborasikan sejumlah asumsi, serta uji coba teori dalam ruang lingkup situasi produksi pesan. Teori konstruktivis menyatakam bahwa indivisu menginterpretasikan dan beraksi menurut katagori konseptual dari pemikiran. Realitas tidak menggambarkan diri individu namun harus disaring melalui cara pandang orang terhadap realitas tersebut. (Soraya, 2019:256)

Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu menginterpretasikan dan beraksi menurut kategori konseptual dari pikiran.

Realitas tidak menggambarkan diri individu namun harus disaring melalui cara pandang orang terhadap realitas tersebut. Teori konstruktivisme dibangun berdasarkan teori yang ada sebelumnya, yaitu konstruksi pribadi atau konstruksi personal (personal construct) oleh George Kelly. Ia menyatakan bahwa orang memahami pengalamannya dengan cara mengelompokkan berbagai peristiwa menurut kesamaannya dan membedakan berbagai hal melalui perbedaannya.

Para kontruktivis percaya bahwa pengetahuan itu ada dalam diri seseorang yang sedang mengetahui. Pada proses komunikasi, pesan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang ke kepala orang lain.

Penerima pesan sendirilah yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalaman mereka. (Ardianto, 2011:154)

(36)

Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan. Konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta hubungan-hubungan sosialnya. Subjek memiliki kemampuan melakukan kontrol terhadap maksud- maksud tertentu dalam setiap wacana. Komunikasi dipahami, diatur, dan dihidupkan oleh pernyataa- pernyataan yang bertujuan. Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan penciptaan makna, yakni tindakan pembentukan diri serta pengungkapan jati diri sang pembicara. Oleh karena itu analisis dapat dilakukan demi membongkar maksud dan makna-makna tertentu dari komunikasi. (Ardianto, 2011:156)

Konstruktivisme berpendapat bahwa semesta secara epistimologi merupakan hasil konstruksi sosial. Pengetahuan manusia adalah konstruksi yang dibangun dari proses kognitif dengan interaksinya dengan dunia objek material. Pengalaman manusia terdiri dari interpretasi bermakna terhadap kenyataan dan bukan reproduksi kenyataan. Dengan demikian dunia muncul dalam pengalaman manusia secara terorganisasi dan bermakna.

Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis yang memandang tindakan komunikasi sebagai suatu konstruksi sosial dari proses bedasarkan pengetahuannya dan muncul berdasarkan pengalamannya yang diinterpretasikan dalam bentuk makna yang dituangkan dalam suatu bentuk pesan berupa tanda, kaitannya dengan penelitian ini gambar Pinokio muncul berdasarkan pengalaman sipembuat yang dituangkan di dalam majalah Tempo, sehingga memiliki pesan tersembunyi yang ingin disampaikan.

(37)

2.2.2. Teori Semiotika Charles Sanders Pierce

Semiotika merupakan suatu kajian ilmu tentang mengkaji tanda. Dalam kajian semiotika menganggap bahwa fenomena sosial pada masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda, semiotik itu mempelajari sistem- sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkikan tanda-tanda tersebut mempunyai arti.

Menurut Sobur (2009b:15) Semiotika adalah suatu ilmu atau metode yang mengkaji tanda. Tanda-tanda adalah seperangakat yang kita pakai dalam upaya mencari jalan di dunia ini, ditengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia.

Semiotika berasal dari bahasa Yunani semeion yang berati berarti ”tanda”

atau sign dalam bahasa Inggris ini adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda yang menjadi segala bentuk komunikasi yang mempunyai makna antara lain: kata (bahasa), ekspresi wajah, isyarat tubuh, film, sign, serta karya sastra yang mencakup musik ataupun hasil kebudayaan dari manusia itu sendiri. Sedangkan Luxemburg menyatakan bahwa semiotik adalah ilmu yang secara sistematis mempelajari tanda-tanda dan lambang-lambang, sistem-sistemnya dan proses perlambangan. Dapat dikatakan bahwa dengan semiotika melihat bagaimana karya itu ditafsirkan oleh para pengamat dan masyarakat lewat tanda-tanda atau lambang. (Sobur, 2009b:96)

Semiotika berupaya menemukan makna tanda termasuk hal-hal yang tersembunyi dibalik sebuah tanda (teks,iklan, berita). Karena sistem tanda sifatnya amat kontekstual dan bergantung pada pengguna tanda tersebut. Pemikiran

(38)

pengguna tanda merupakan hasil pengaruh dari berbagai konstruksi sosial di mana pengguna tanda tersebut berada. (Sobur, 2009b:18)

Teori semiotika Charles Sanders Pierce sering kali disebut “Grand Theory” karena gagasannya bersifat menyeluruh, deskripsi struktural dari semua penandaan, Pierce ingin mengidentifikasi partikel dasar dari tanda dan menggabungkan kembali komponen dalam struktural tunggal. (Wibowo, 2013:17) Pierce memperkenalkan kembali istilah Locke karena Ia melihat semiotika konsisten dengan tradisi sebelumnya. Mereka yang menggunakan istilah semiotika melihat disiplin ini lebih sebagai bentuk penelaahan yang berorientasi filsafat. Mereka yang menggunakan istilah semiologi melihat bahwa disiplin ini sama dengan keseluruhan metodenya dengan ilmu lain seperti psikologi.

Istilah Semiotik yang dikemukakan pada akhir abad ke-19 oleh filsuf aliran pragmatik Amerika, Charles Sanders Pierce merujuk kepada doktrin-doktrin formal tentang tanda-tanda. Yangmenjadi dasar dari semiotik adalah konsep tentang tanda: Tak hanya bahasa dansistem komunikasi yang tersusun oleh tanda- tanda, melainkan dunia itu sendiripun seluruhnya terdiri dari tanda-tanda sejauh terkait dengan pikiran manusia.

Sebuah bendera kecil, sebuah isyarat tangan, suatu keheningan, suatu kebiasaan makan, sebuah gejala mode, suatu gerak syaraf , peristiwa memerahnya wajah, suatu kesukaan tertentu, letak bintang tertentu, suatu sikap, setangkai bunga, rabut uban, sikap diam membisu. Gagap, berbicara cepat, berjalan sempoyongan, menatap, api, putih, bentuk, bersudut tajam, kecepatan kesabaran, kegilaan, kekawatiran, kelengahan, semuanya itu dianggap sebagai tanda.

(Tinarbuko, 2008:12)

(39)

Pierce menandaskan bahwa kita hanya dapat berfikir dengan medium tanda. Manusia hanya dapat berkomunikasi lewat sarana tanda. Pierce dikenal dengan teori segitiga maknanya (triangle meaning). Menurutnya, semiotika berangkat dari tiga elemen utama, yaitu tanda (sign atau representamen), acuan tanda (object), pengguna tanda (interpretan). Yang dikupas teori segitiga adalah bagaimana muncul dari sebuah tanda digunakan orang pada waktu berkomunikasi.

(Krisyantono, 2006:263)

Charles Sanders Pierce dikenal dengan model triadic dan konsep trikotominya yang terdiri atas berikut ini :

Sumber : (Wibowo, 2013:17)

Gambar 2.1 Model Triadic Pierce

Model diatas seringkali disebut juga sebagai teori segitiga makna (triangle meaning semiotics). Dalam pandangan Pierce, fungsi tanda merupakan proses

konseptual yang akan terus berlangsung dan tak terbatas. Kondisi tersebut dinamakan “semiosis tak terbatas”, yaitu rantai makna-keputusan oleh tanda-tanda baru menafsirkan tanda sebelumnya atau seperangkat tanda-tanda).

Proses semiosis seperti tergambarkan pada skema di atas ini menghasilkan rangkaian hubungan yang tak berkesudahan, maka pada gilirannya sebuah interpretan akan menjadi representamen, menjadi interpretan lagi, menjadi

(40)

representamen lagi, dan seterusnya. Gerakan yang tak berujung-pangkal ini oleh Umberto Eco dan Jacques Derrida kemudian dirumuskan sebagai proses semiosis tanpa batas. (Budiman, 2011:3)

Sebuah tanda atau representamen (representamen) menurut Peirce adalah sesuatu yang bagi seseorang mewakili sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas. Sesuatu yang lain itu dinamakan sebagai interpretan (interpretant) dari tanda yang pertama yang pada giliranya mengacu pada objek (object). Dengan demikian, sebuah tanda atau representamen memiliki relasi tradik langsung dengan interpretan dan objeknya. (Budiman, 2011:18)

Proses tersebut tidak ada awal dan tidak ada akhir karena semuanya saling berhubungan. Selanjutnya salah satu bentuk tanda (sign) adalah kata. Sedangkan sesuatu dapat disebut representamen (tanda) apabila memenuhi dua syarat diantaranya adalah pertama, bisa dipersepsi, baik dengan panca-indera maupun dengan pikiran atau perasan. Kedua, berfungsi sebagai tanda (mewakili sesuatu yang lain). Interpretant adalah apa yang diproduksi tanda di dalam kuasa pikiranlah yang jadi penginterpretasi; namun dia juga dapat dipahami representamen. Yang paling baik adalah yang memandang interpretant sebagai representasi yang lain yang dirujukan kepada objek yang sama. Dengan kata lain, untuk menentukan apakah yang jadi interpretant sebuah tanda, yang harus dilakukan adalah menamai interpretant itu dengan tanda lain yang juga memiliki interpretan lain yang harus dinamai dengan tanda lain dan begitu seterusnya.

Dua hal yang perlu diperhatikan ketika akan menganalisis dengan menggunakan teori Charles Sanders Peirce adalah pertama, hendaknya penggunaan teori harus disesuaikan dengan pemahamannya masing-masing.

(41)

Kedua, jika hanya menganalisis tanda-tanda yang tersebar dalam pesan komunikasi maka, dengan tiga jenis dari Pierce, yakni representamen, obyek dan interpretant sudah bisa diketahui hasilnya. Namun, apabila melakukan

analisis yang lebih mendalam, maka harus menggunakan semua tingkatan tanda dari trikonomi pertama hingga ketiga.

1. Representamen

Representamen adalah bentuk yang diterima oleh tanda atau berfungsi sebagai tanda.Tanda atau representamen menurut Charles Sanders Peirce adalah sesuatu yang bagi seseorang mewakili sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapisitas.

Represenamen; bentuk yang diterima oleh tanda atau berfungsi sebagai tanda (Saussure menamakannya signifier). Representamen kadang diistilahkan juga menjadi sign. (Vera, 2014:38)

Sign (Representamen) merupakan bentuk fisik atau segala sesuatu yang dapatdiserap pancaindra dan mengacu pada sesuatu, trikotomi pertama dibagi menjaditiga, yaitu sebagai berikut :

a. Qualisign adalah tanda yang menjai tanda berdasarkan sifatnya.

Misalnyasifat warna merah adalah qualisign, karena dapat dipakai tanda untukmenunjukkan cinta, bahaya, atau larangan.

b. Sinsign adalah tanda-tanda yang menjadi tanda berdasarkan bentuk ataurupanya di dalam kenyataan. Semua ucapan yang bersifat individual bisamerupakan sinsign suatu jeritan, dapat berarti heran, senang atau kesakitan

(42)

c. Legisign adalah tanda yang menjadi tanda berdasarkan suatu peraturan yangberlaku umum, suatu konvensi, suatu kode. Semua tanda-tanda bahasa adalahlegisign, sebab bahasa adalah kode, setiap legisign mengandung di dalamnyasuatu sinsign, suatu second yang menghubungkan dengan third, yakni suatuperaturan yang berlaku umum.

2. Object

Object merupakan sesuatu yang merujuk pada tanda. Sesuatu yang

diwakili oleh representamen yang berkaitan dengan acuan.Pierce membedakan tanda-tanda objek dalam gambar dapat dilihat dari jenis tanda yang digolongkan dalam semiotika. Diantaranya: ikon, indeksdan simbol.

Tabel 2.2 Tipe-Tipe Tanda

Jenis Tanda (Representamen)

Hubungan Antar Tanda Dan Sumber Acuan

Contoh

Ikon Tanda dirancang untuk

mempresentasikan sumber acuan melalui simulasi atau persamaan (artinya, sumber acuan dapat dilihat, didengar dan

seterusnya, dalam ikon)

Segala macam gambar (bagian, diagaram dan lain- lain), photo, kata-kata dan seterusnya

Indeks Tanda dirancang untu

mengidentifikasikan sumber acuan atau saling menghubungkansumber Acuan

Jari yang menunjuk, kata keterangan seperti di sini, di sana, kata ganti seperti aku, kau, ia dan seterusnya

Simbol Tanda dirancang untuk

menyandingkan sumber acuan melalui kesepakatan atau persetujuan

Simbol sosial seperti mawar, simbol matematika dan seterusnya

Sumber: (Danesi, 2010:38)

a. Ikon adalah tanda yang mengandung kemiripan rupa sehingga tanda itu mudah dikenali oleh para pemakainya. Di dalam ikon hubungan antara

(43)

representament dan objeknya terwujud sebagai kesamaan dalam beberapa kualitas. Contohnya sebagian besar rambu lalu lintas merupakan tanda yang ikonik karena „menggambarkan‟ bentuk yang memiliki kesamaan dengan objek yang sebenarnya.

b. Indeks adalah tanda yang memiliki keterkaitan fenomenal atau eksistensial di antara representamen dan objeknya. Di dalam indeks hubungan antara tanda dengan objeknya bersifat kongkret, aktual dan biasanya melalui suatu cara yang sekuensial atau kausal. Contoh jejak telapak kaki di atas permukaan tanah, misalnya, merupakan indeks dari seseorang atau binatang yang telah lewat di sana, ketukan pintu merupakan indeks dari kehadiran seorang tamu di rumah kita.

c. Simbol, merupakan jenis tanda yang bersifat arbiter dan konvensional sesuai kesepakatan atau konvensi sejumlah orang atau masyarakat. Tanda- tanda keabsahan pada umumnya adalah simbol-simbol. Tak sedikit dari rambu lalu lintas yang bersifat simbolik.

Proses signifikasi bisa saja menghasilkan rangkaian hubungan yang tidak berkesudahan, sehingga pada gilirannya sebuah interpretan akan menjadi representament, menjadi interpretan lagi, jadi representamen lagi dan seterusnya.

Charles Sanders Peirce (1893-1914) membagi tanda dan cara kerjanya ke dalam tiga kategori sebgaimana tampak dalam table di bawah ini :

Tabel 2.3 Jenis Tanda dan Cara Kerjanya

No. Jenis Tanda Ditandai dengan Contoh Proses Kerja

1. Ikon - Persamaan

- kemiripan

Gambar dan foto Dilihat

2. Indeks - hubungan sebab akibat Asap, apai, gejala, diperkirakan

(44)

- keterkaitan dan penyakit 3. Simbol - konvensi atau

kesepakatan sosial

Kata-kata dan isyarat Dipelajari

Sumber : (Danesi, 2010:38) 3. Intrepretan

Interpretant; bukan penafsir tanda, tetapi lebih menunjuk pada makna dari tanda. menurut Vera (2014:23) Intrepretan adalah tanda yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.Tanda dibagi menjadi rheme, dicisign, dan argument yaitu sebagai berikut :

a. Rheme, bilamana lambang tersebut interpretannya adalah sebuah first danmakna tanda tersebut masih dapat dikembangkan.

b. Dicisign (dicentsign), bilamana antara lambang itu dan interpretannyaterdapat hubungan yang benar ada.

c. Argument, bilamana suatu tanda dan interpretannya mempunyai sifat yang berlaku umum (merupakan thirdness).

Penelitian ini meneliti mengenai cover majalah Tempo yang memfokuskan penelitian pada gambar dan teks, maka semiotika yang tepat untuk penelitian ini adalah semiotika Charles Sanders Peirce. Semiotika Charles Sanders Peirce adalah tidak lain dari pada sebuah nama lain bagi logika, yakni doktrin formal tentang tanda-tanda. Yang menjadi dasar dari semiotika adalah konsep konsep tentang tanda: tak hanya bahasa dan sistem komunikasi yang tersusun oleh tanda- tanda melainkan dunia itu sendiri terkaitdengan pikiran manusia. (Sobur, 2009b:32)

Penelitian ini menggunakan teori dan analisis semiotika Pierce dengan dengan fokus kepada representamen, objek dan interpretan yang terdapat dalam

(45)

teori triadic semiotikan Pierce, dengan mengklasifikasikan tanda atau representamen, menjadi qualisign, sinsign, dan legisign. Selanjutnya mengaitkan tanda dengan objek dengan membagi tanda atas ikon, indeks dan simbol. icon adalah suatu ilustrasi yang tampil dalam cover majalah Tempo. Selanjutnya terdapat indeks yang merupakan tanda yang memiliki hubungan sebab akibat dengan apa yang mewakilinya, contohnya tek dalam majalah Tempo yang mewakili keterangan gambar cover tersebut. Selanjutnya adalah interpretan, tanda (sign, representamen) dibagi atas rheme, dicent sign atau dicisign dan argument.

(Sobur, 2009b:41)

Pertama, Rheme yang merupakan tanda yang memungkinkan orang

menafsirkan berdasarkan pilihan, contohnya terkait penelitian ini adalah gambar ilustrasi pada sampul majalah Tempo yang menggambarkan Jokowi dan siluet pinokio sebagai sesuatu yang sedang terjadi di Indonesia. Kedua, decisign merupakan tanda yang sesuai dengan kenyataan, contoh dalam penelitian ini adalah ilustrasi gambar dan teks yang terdapat dalam cover majalah Tempo berkaitan dengan realita yang terjadi di Indonesia. Ketiga, argument merupakan tanda yang langsung memberikan alasan tentang sesuatu, kaitannya dengan penelitian ini adalah teks yang menyatakan bahwa itu merupakan gambar mengenai realitas yang terjadi di Indonesia.

2.2.3. Teori Konstruksi Realitas Sosial

Perkembangan fenomenologi sebagai ilmu interpretif kemudian berpengaruh bagi kemunculan dan berkembangnya konstruksionisme realitas.

(46)

Berger dan Luckmann untuk memahami konstruksi sosial dimulai dengan mendifinisikan apa yang dimaksud dengan kenyataan dan pengetahuan.

Kenyataan sosial dimaknai sebagai sesuatu yang tersirat didalam pergaulan sosial yang diungkapkan secara sosial melalui komunikasi lewatbahasa, bekerjasama melalui bentuk-bentuk organisasi sosial dansebagainya. Kenyataan sosial ditemukan didalam pengalaman intersubyektif. Sedangkan pengetahuan mengenai kenyataan sosial dimaknai sebagai semua hal yang berkitan dengan penghayatan kehidupan masyarakat dengan segala aspeknya meliputi kognitif, psikomotoris,emosional dan intuitif. Kemudian dilanjutkan dengan meneliti sesuatu yang dianggap intersubyektif tadi, karena Berger menganggap bahwa terdapat subyektivitas dan objektivitas didalam kehidupan manusia danmasyarakatnya. (Syam, 2005:35)

Berger dan Luckmann mulai menjelaskan realitas sosial dengan memisahkan pemahaman kenyataan dan pengetahuan. Realitas diartikan sebagai suatu kualitas yang terdapat didalam realitas-realitas yang diakui sebagai memiliki keberadaan (Being) yang tidak tergantung pada kehendak kita sendiri. Sedangkan pengetahuan didefinisikan sebagai kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata dan memiliki karakteristik yang spesifik.

Berger dan Luckman memandang realitas sosial terbentuk sebagai proses tiga tahap, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Eksternalisasi yaitu usaha pencurahan atau ekspresi diri manusia ke dalam dunia, baik dalam kegiatan mental maupun fisik yang ditandai oleh hubungan antar manusia dengan lingkungan dan dengan dirinya sendiri. Melalui eksternalisasi manusia menemukan dirinya dengan cara membangun dan membentuk dunia

(47)

sekelilingnya. Objektivasi adalah suatu proses dimana obyek yang memiliki makna umum sebelum seorang indvidu lahir di dunia. Hasil objektivasi ini kemudian dikenal dengan nama pengetahuan. Sebagian dari pengetahuan ini dianggap sesuai dengan realitas yang ada, sebagian lagi hanya dianggap sesuai dengan realitastertentu saja. Melalui proses objektivasi, masyarakat menjadi sebuah realitas yang alami dan diterima apa adanya. Objektivasi merupakan hasil yang telah dicapai, baik mental maupun fisik dari kegiatan eksternalisasi manusia.

Sedangkan proses internalisasi adalah proses dimana individu terlahir tidak langsung menjadi anggota masyarakat. Hanya saja ia dilahirkan dengan kecenderungan ke arah kemasyarakatan. Proses awal keterlibatan individu untuk menjadi anggota masyarakat disebut internalisasi, artinya pengertian atau interpretasi dari peristiwa objektivasi sebagai pengekspresian makna, yaitu sebagai kesatuan dari proses-proses subjektif lainnya yang menjadi makna subjektif dalam diri individu. Melalui internalisasi itulah manusia menjadi produk masyarakat. Proses internalisasi lebih merupakan penyerapan kembali dunia objektif ke dalam kesadaran sedemikian rupa sehingga subjektif individu dipengaruhi oleh struktur dunia sosial. Berbagai macam unsur dari dunia yang telah terobjektifkan tersebut akan ditangkap sebagai gejala realitas di luar kesadarannya, sekaligus sebagai gejala internal bagi kesadaran. Melalui internalisasi, manusia menjadi hasil dari masyarakat. (Bungin, 2007:32)

Berger dan Luckman menganggap proses dimana orang menciptakan realitas kehidupan sehari-hari sebagai konstruksi realitas simbolik. Menurut mereka, dunia sosial adalah produk manusia, dan bukan sesuatu yang given.

Dunia sosial dibangun melalui tipifikasi-tipifikasi yang memiliki referensi utama

(48)

pada obyek dan peristiwa yang dialami secara rutin oleh individu dan dialami bersama dengan orang lain dalam pola yang taken for granted. Dan generasi yang lebih muda akan mempelajari realitas ini melalui proses sosialisasi, seperti mereka mempelajari hal-hal lain yang membangun dunia, yang mereka temui sehari-hari.

(Noviani, 2002:13)

Berdasarkan pandangan Berger dan Luckman mengenai konstruksi realitas sosial, bahwa realitas sosial tidak terjadi dalam ruang hampa, tetapi sarat dengan kepentingan-kepentingan, maka salah satu kepentingan disana adalah kepentingan media massa. Media massa, dalam hal ini adalah cover majalah, lazim melakukan berbagai tindakan dalam konstruksi realitas dimana hasil akhirnya berpengaruh kuat terhadap pembentukan makna atau citra tentang suatu realitas. Salah satu tindakan itu adalah dalam hal pilihan leksikal atau simbol (bahasa). Misalnya, sekalipun media massa hanya bersifat melaporkan, tapi jika pemilihan kata, istilah atau sebuah simbol yang secara konvensional memiliki arti tertentu di tengah masyarakat, tak pelak akan mengusik perhatian masyarakat tersebut.(Sobur, 2009b:32)

Penelitian ini mengenai konstruksi realitas sosial dalam cover majalah Tempo, merupakan hasil konstruksi realitas dengan simbol (bahasa sebagai dasarnya. Simbol atau bahasa disini bukan saja sebagai alat dalam merepresentasikan realitas, namun bisa menentukan bentuk seperti apa yang ingin diciptakan oleh simbol tentang realitas tersebut. Akibatnya media masa memiliki peluang yang sangat besar dalam mempengaruhi makna dan gambaran yang dihasilkan dari realiatas yang dikonstruksinya. Konstruksi realitas disini ada

Referensi

Dokumen terkait

Apabila pada sambungan dengan saluran berbeda disisipkan suatu induktor atau kapasitor, maka pada titik sambungan, bentuk gelombang pantul dan terusan akan berbeda

Sebaiknya ambil yang 40% saja karena kegiatan – kegiatan di mall bukan merupakan kegiatan – kegiatan yang spesifik, kegiatan – kegiatan di mall lebih

Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Manajemen pada Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap waste dari alumunium foil dengan menggunakan diagram tulang ikan [2], memberikan

Dalam penelitian ini keahlian komite audit diukur menggunakan persentase jumlah komite audit dengan keahlian finansial atau akuntansi terhadap jumlah total komite audit

Berdasarkan beberapa masalah diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa yang menjadi pokok permasalahan adalah Bagaimana peranan kepemimpinan dalam meningkatkan motivasi

Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa unsur intrinsik dan nilai budaya pada Legenda Sang Kuriang Kesiangan , serta wawancara dengan instruktur

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa definisi empati adalah kemampuan individu yang melibatkan komponen kognitif dan afektif untuk menempatkan diri dalam