• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen Motivasi anak bermain ketoprak (Halaman 108-119)

1. Bagi anak muda yang tertarik dengan kesenian ketoprak

Hasil penelitian menunjukkan bila anak muda dapat mencapai tahap tertinggi pada hirarki kebutuhan Maslow dari keterlibatannya di ketoprak. Maka dari itu, anak muda yang memiliki ketertarikan dengan kesenian ketoprak tidak perlu takut ataupun ragu untuk mencocba mengikuti proses ketoprak. Tentunya dengan harapan anak muda dapat mulai termotivasi dengan kebutuhan mendasar dalam hirarki kebutuhan Maslow dan mencapai tahapan tertinggi sehingga dapat ikut terlibat dalam melestarikan kesenian ketoprak.

2. Bagi sanggar atau komunitas ketoprak

Bagi sanggar atau komunitas ketoprak yang ingin terus mempertahankan dan menambah anggota perlu memperhatikan motivasi dari anggotanya. Hirarki kebutuhan Maslow dapat membantu pengurus sanggar atau komunitas untuk memlihat sampai man motivasi kebutuhan anggotanya. Harapannya, pengurus sanggar atau komunitas dapat menciptakan lingkungan yang dapat mendukung anggotanya memenuhi kebutuhan hingga mencapai tahap aktualisasi diri.

3. Bagi peneliti berikutnya

Metode penelitian deduktif yang digunakan dalam penelitian ini menjadi keterbatasan bagi peneliti untuk menemukan temuan-temuan baru. Maka dari itu, metode induktif sangat disarankan untuk penelit berikutnya agar dapat menemukan temuan-temuan baru.

Daftar Pustaka

A.Supratiknya. (2015). Metodologi penelitian kuantitatif dan kualitatif dalam psikologi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Bouvier, H. (2002). Lebur : Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura . Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Brandon, J. R. (2003). Theatre in Southeast Asia. Cambridge: Havard University Press.

Burger, J. M. (2011). Introduction to Personality. Wadsworth: Cengage Learning. Cresswell, J. W. (2014). Research Design; Qualitative, Quantitative, mixed method

approaches. United States of America: SAGE Publication, Inc.

Downs, C. W., Smeyak, G. P., & Martin, E. (1980). Professional Interviewing. New York: Harper & Row Publishers.

Iskandar. (2016). Implementasi Teori Hirarki Kebutuhan Abraham Maslom terhadap peningkatan kinerja pustakawan. Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan Khizanah AlHikmah, 4(1), 24-34.

Lonn, M. R., & Dantzler, J. Z. (2017). A Practical Approach to Counseling Refugees: Applying Maslow’s Hierarchy of Needs. Journal of Counselor Practice, 8(2), 61-82.

Maslow, A. H. (1943). A Theory of Human Motivation. Psychological Review, 370-396.

Maslow, A. H. (1970). Motivation and Personality. New York: Harper and Row Publisher.

Mubah, A. S. (2011). Strategi Meningkatkan Daya Tahan Budaya Lokal dalam Menghadapi. Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, 24(4), 302-308. Retrieved Mei 16, 2018, from http://journal.unair.ac.id

Oblo, D. (2015, September 30). Seniman Ketoprak dalam Pusaran Geger 1965.

Retrieved from nationalgeographic.grid.id:

https://nationalgeographic.grid.id/read/13301743/seniman-ketoprak-dalam-pusaran-geger-1965?page=2

Purnama, F. S., & Pratomo, E. S. (2013). Motivasi Terhadap Compose New Tweet pada Jejaring Sosial Twitter. Empathy, 31.

Raco, J. E. (2010). Metode Penelitian Kualitatif Jenis, Karakteristik dan Keunggulanya. Jakarta: PT. Grasindo.

Riyadi, S. (2011). Pengaruh Kompensasi Finansial, Gaya Kepemimpinan, dan Motivasi Kerja. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, 13(1), 40-45. Retrieved Mei 25, 2018, from htttp:///www.petra.ac.id

Satoto, P. D. (2012). Analisis Drama dan Teater. Yogyakarta: Ombak.

Sigelman, C. K., & Rider , E. A. (2006). Life-Span Human Development. Canada: Cengange Learning.

Subadi, T. (2006). Penelitian Kualitatif. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Suneki, S. (2012). Dampak globalisasi terhadap eksistensi budaya daerah. Jurnal Ilmiah CIVIS, 2(1), 307-321.

Taormina, R. J., & Gao, J. H. (2013). Maslow and the Motivation Hierarchy: Measuring Satisfaction of the Needs . The American Psychology Journal, 2(2), 155-177.

Timmerman, B. T. (2007). The Development of Indonesian Modern Theatre: Four Periods of Creativity from 1970 to 2015 . Asian Theatre Journal, 34(1), 48-74.

Tribunjogja.com. (2017, September 21). Ribuan Pelajara Ikuti Festival Ketoprak di Klaten .Yogyakarta, Indonesia.

Trisna, P. Y., & Wilani, N. M. (2016). Hubungan antara Kecerdasan Emosional dan Penyesuaian Pernikahan pada Dewasa Awal di Denpasar. Jurnal Psikologi Udayana, 3(2), 292-300.

Trisno Santosa, R. S. (2010). Seni Teater. Surabaya: Kementerian Pendidikan Nasional.

Utami, L. S. (2015). Teori-Teori Adaptasi Antar Budaya. Jurnal Komunikasi, 7(2), 180-197.

Utami, S., & Hartanto, A. (2010). Pengaruh Kepemimpinan, Motivasi, Komunikasi dam Lingkungan. Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia, 16(8), 58-67. Woolfolk, A. E. (1995). Educational Psychology (6th ed.). United States of

America: Recycled, acid free-paper.

Kredibilitas

1. Bias

Penelitian tentunya membutuhkan strategi untuk melihat kredibilitas penetlian itu sendiri. Penelitian ini menggunakan strategi bias untuk melihat kredibilitas. Strategi bias merupakan strategi yang melihat latar belakang dari peneliti untuk mengetahui apakah latar belakang peneliti akan mempengaruhi interpretasi data yang didapat dalam penelitian Motivasi Anak Muda Bermain Ketoprk ini.

Peneliti tertarik dengan masih banyaknya anak muda di daerah peneliti yang masih mau ikut terlibat dalam melestarikan kesenian tradisi yaitu ketoprak di zaman dimana anak muda lebih suka menggeluti budaya modern. Dari situ, peneliti ingin mengetahui alasan apa yang menyebabkan mereka masih mau terlibat dalam melestarikan budaya ini. Seteleh itu, peneliti mencoba mencari aspek psikologi apa yang sesuai untuk melihat alasan mengapa anak muda masih ada yang terlibat untuk bermain ketoprak. Akhirnya, dipilihlah aspek psikologi yaitu motivasi untuk penelitian ini.

Peneliti memang salah satu orang dari anak muda yang masih bermain ketoprak. Hal tersebut menjadi salah satu kelemahan dari penelitian ini karena dapat memunculkan bias ketika melakukan interpretasi. Menyadari hal tersebut, peneliti mencoba seobyektif mungkin dengan dengan membaca penelitian-penelitian lain yang sudah ada. Selain itu, peneliti juga berusaha menggali informasi sedalam-dalamnya dari informan penelitian agar mendapatkan data yang akurat. Usaha lain

untuk membuat interpretasi obyektif adalah dengan peneliti memposisikan diri bukan sebagai pemain ketoprak dan berusaha untuk benar-benar berdasarkan data yang diperoleh.

2. Thick Description

Thick Description merupakan sebuah strategi untuk melihat kredibilitas penelitian dengan menggambarkan setting dan situasi saat wawancara berlangsung secara terperinci.

a. Informan 1

Wawancara dilakukan pada tangga 27 September 2018. Wawancara dengan informan 1 dilakukan di sebuah kursi panjang yang terletak di antara rumah orangtua informan dan rumah informan yang sedang dibangun. Saat wawancara, informan 1 meggunakan kaos berkerah warna merah dan celana jeans pendek. Saat peneliti datang, informan 1 pada waktu itu baru saja selesai mandi. Informan 1 mempersilakan peneliti untuk duduk. Informan 1 membuatkan pneliti secangkir kopi dan dimulailah wawancara dengan santai. Suasana cukup sepi karena rumah informan terletak di tengan perkampungan dan wawancara dilaksanakan pada malam hari sekitar pukul 20.00 WIB.

b. Informan 2

Wawancara dilakukan pada tanggal 2 November 2018. Peneliti dan informan membuat janji untuk bertemu di gedung serba guna dusun Karangmojo. Pada hari dan tempat yang telah ditentukan, informan

datang ke tempat yang sudah ditentukan dengan menggunkan sepeda. Saat wawancara, informan menggunakan kaos berwarna hitam dan celana jeans pendek. Peneliti datang lebih dahulu dari pada informan 2. Peneliti dan informan 2 duduk di panggung yang terdapat di gedung serba guna tersebut. Suasana saat wawancara cukup sepi karena gedung serba guna yang digunakan berasa di tengah perkampungan. Selain itu wawancara juga dilakukan pada malam hari sekitar pukul 19.30 WIB. c. Informan 3

Wawancara dengan informan 3 dilakukan pada 2 Februari 2019 sekitar pukul 19.00 WIB. Sebelum dilaksanakannya wawancara, peneliti dan informan membuat janji untuk bertemu. Wawancara dilaksanakan di Java Milk, sebuah kafe yang terletak di Bantul. Peneliti datang terlebih dulu baru kemudian disusul oleh informan yang datang dengan salah satu temannya. Saat wawancara, informan menggunakan kaos lengan panjang warna coklat dan celana panjang jeans. Sesaat setelah informan 3 datang, peneliti meminta informan 3 untuk memesan makanan dan minuman. Setelah makanan dan minuman datang, wawancara dimulai. Informan dan peneliti duduk di sebuah meja yang berada tepat di depan pintu masuk kafe. Suasana pada waktu itu cukup ramai karena banyaknya pengujung kafe dan kafe terletak di pinggir jalan raya.

Pedoman Wawancara

Aspek Penjelasan Indikator

Kebutuhan Fisiologis

Individu bertindak karena ada dorongan dari dalam dirinya untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya. Kebutuhan fisiologis ini meliputi kebutuhan akan makanan, minuman dan kebutuhan pengganti lain untuk memuaskan rasa lapar.

a. Adanya dorongan untuk bermain ketoprak karena ingin mendapatkan

imbalan untuk

memenuhi kebutuhan fisiologisnya.

b. Ketika mengikuti proses latihan ketoprak individu dapat memenuhi kebutuhan fisiologisnya dengan fasilitas yang disediakan. Kebutuhan Keselamatan dan Rasa aman

Ada kecenderungan dari individu yang menyukai dunia yang aman, tertib, teratur dan taat hukum. Oleh sebab itu, muncul kebutuhan akan keselamatan dan rasa aman yang perlu dipenuhi. Kebutuhan akan rasa aman muncul setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi.

c. Adanya keyakinan saat bermain ketoprak, orang-orang di sekitarnya yang dapat memberikan rasa aman. d. Ketika subyek berada

bersama teman-teman yang sama-sama bermain ketoprak, subyek merasa keselamatannya terjamin. e. Kebutuhan fisiologis sudah terpenuhi,

ditunjukkan dengan dorongan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis bukan menjadi yang utama. Kebutuhan akan

rasa memiliki dan cinta

Kebutuhan akan rasa memliki dan cinta ini bukan hanya dengan pasangan, tetapi juga teman, keluarga dan orang disekitar. Individu akan berusaha supaya ia dianggap, dimiliki, merasa mencintai dan dicintai orang di sekitarnya. Kebutuhan ini muncul setelah dua kebutuhan sebelumnya, kebutuhan fisiologis dan rasa aman terpenuhi.

f. Adanya rasa memiliki dengan teman yang sama-sama bermain ketoprak.

g. Adanya rasa dimiliki dan dicintai oleh teman-teman yang sama-sama bermain ketoprak yang dapat ditunjukkan dari sikap antar individu. h. Merasa menjadi salah

satu bagian dari

kelompok, dalam hal ini adalah anak-anak muda yang bermain ketoprak. i. Dorongan untuk

bermain ketoprak bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan fisiologis dan mencari rasa aman. Kebutuhan akan

Harga Diri

Kebutuhan akan harga diri merupakan kebutuan individu yang ingin dinilai orang lain sebagai individu yang bermutu tinggi dan memiliki dasar yang

j. Adanya keyakinan dengan bermain

ketoprak individu akan dianggap sebagai pribadi yang bermutu tinggi.

kuat. Kebutuhan ini meliputi keinginan individu memliki kekuatan, berprestasi, memiliki kemampuan yang unggul, keingininan memiliki nama baik dan penghargaan yang berdasar dari orang lain. Kebutuhan akan harga diri muncul setelah tiga kebutuhan sebelumnya terpenuhi.

k. Adanya keyakinan dengan bermain

ketoprak individu diakui oleh orang lain dan mendapat pujian yang berdasar dari orang lain. l. Individu merasa

berprestasi dan memiliki keunggulan dengan bermain ketoprak. m. Dorongan individu

dalam bermain ketoprak bukan hanya karena ingin memenuhi kebutuhan fisiologis, mencari rasa aman dan menjadi bagian dari suatu kelompok tertentu. Kebutuhan akan

Aktualisasi Diri

Pada kebutuhan akan aktualisasi diri, individu memiliki keinginan untuk mewujud-nyatakan

kemampuan yang dia miliki. Hal ini akan bisa tercapai ketika individu sudah mengenal dirinya sendiri dan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya. Kebutuhan ini muncul setelah empat kebutuhan sebelumnya terpenuhi. n. Individu bermain ketoprak karena menyadari bila ia memiliki kemampuan di bidang ini dan

diwujudnyatakan. o. Adanya kesadaran akan

potensi yang ia miliki dan bermain ketoprak sebagai sarana

menyalurkan potensi yang dimiliki.

p. Individu telah mengenal dirinya dengan baik sehingga ia tahu dimana perannya dan bermain ketoprak adalah bagian dari dirinya.

q. Dorongan untuk

bermain ketoprak bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, mencari rasa aman, untuk menjadi bagian dari suatu kelompok maupun diakui oleh orang lain.

Dalam dokumen Motivasi anak bermain ketoprak (Halaman 108-119)

Dokumen terkait