BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3. Saran Partisipan
Pada hasil wawancara juga terdapat saran partisipan terutama mengenali peningkatan kualitas pelayanan tenaga kesehatan dan kualitas fasilitas ruangan pasien. Hal ini seperti pernyataan partisipan berikut ini:
“…Kemudian diperhatikan keadaan sarana dan prasarana yang ada agar pasien lebih nyaman, mulai dari keadaan ruangannya agar selalu bersih, fasilitas yang sudah rusak ya diperbaiki biar nyaman pasiennya…” (Partisipan 1)
“…Kemudian diperhatikan keadaan sarana dan prasarana yang ada agar pasien lebih nyaman, mulai dari keadaan ruangannya agar selalu bersih, fasilitas yang sudah rusak ya diperbaiki biar nyaman pasiennya…” (Partisipan 1)
50
“…Kalau saran saya ya agar perawat dan dokter selalu memberikan pelayanan yang baik dan tidak membeda-bedakan kepada pasien. Apalagi seperti kami masyarakat miskin ini. Janganlah sampai kami merasa dibedakan dengan pasien-pasien yang kayalah, yang keluarga perawatnya, yang PNS lahTerus kan pak agar lebih ditingkatkan juga keadaan kebersihan, mulai dari kebersihan ruangan pasien, tempattidurnya juga, dan kamar mandi juga diperhatikan kebersihannya…” (Partisipan 3)
“…demi untuk kenyamanan pasien agar jadwal berkunjungnya diatur dan dibatasi agar pasien yang lain tidak terganggu, kemudian agar keadaan kebersihan kamar mandi diperhatikan, terlebih agar air bersih selalu tersedia dikamar mandi,…itu aja saran saya pak…” (Partisipan 6)
“…Saran saya, pertama ditingkatkan terus pelayanannya agar lebih baik, kemudian saran saya agar semua fasilitas diperhatikan kebersihannya, dan keadaannya apa masih layak dimanfaatkan…” (Partisipan 7)
5.1. KESIMPULAN
Hasil penelitian yang diperoleh dari kedelapan partisipan terdapat lima tema terkait dengan pengalaman pasien PBI-JKN yang menjalani perawatan di RSUD Gunungsitoli. Kesimpulan penelitian ini adalah yang pertama bahwa pasien PBI-JKN secara umum menerima pelayanan kesehatan yang memuaskan dari tindakan dan sikap khususnya perawat maupun dokter. Kedua, pasien PBI-JKN dilayani tanpa membedakan status sosial ekonomi pasien. Ketiga, informasi pelayanan yang tepat dan administrasi yang memudahkan pasien. Keempat,Mengeluh terhadap pelayanan tenaga kesehatan. Kelima, partisipan mengeluhkan fasilitas ruang pasien kurang memadai.
5.2. SARAN
5.2.1.Bagi pelayanan keperawatan
Kebutuhan masyarakat semakin meningkat dalam hal kualitas pelayanan keperawatan di Rumah sakit, untuk itu dibutuhkan sifat professional perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang lebih baik khususnya bagi pasien masyarakat miskin. Pasien masyarakat miskin lebih sensitif pada sikap dan tindakan tenaga kesehatan khusunya perawat selama melakukan asuhan keperawatan. Sikap dan tindakan perawat yang professional akan memberikan kepuasan bagi pasien dan mempercepat masa penyembuhan.
52
5.2.2.Bagi Rumah sakit
Rumah sakit sebagai penyedia jasa pelayanan kesehatan bagi masyarakat sangat penting untuk menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Untuk memperoleh kualitas pelayanan yang baik dan pasien memperoleh kepuasan selama dirawat hingga memperoleh kesembuhan maka fasilitas kesehatan sangat mendukung hal tersebut
5.2.3.Bagi Peneliti Selanjutnya
Saran bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian tentang pelayanan bagi pasien BPJS adalah pertama, penelitian dilakukan juga dengan metode penelitian kuantitaif. Kedua melakukan penelitian dengan menggali pengalaman dan tanggapan pasien peserta BPJS atau tenaga kesehatan tentang program Jaminan Kesehatan Nasional.
2.1. PASIEN PENERIMA BANTUAN IURAN 2.1.1.Pengertian pasien penerima bantuan iuran
Undang-undang Republik Indonesia nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah sakit menyebutkan bahwa pasien adalah orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan baik secara langsung maupun tidak langsung di Rumah sakit. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 101 tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan disebutkan bahwa Penerima Bantuan Iuran Jaminan kesehatan yang selanjutnya disebut PBI Jaminan Kesehatan adalah fakir miskin dan orang tidak mampu sebagai peserta jaminan kesehatan. Jadi, pasien Penerima Bantuan Iuran adalah fakir miskin dan orang tidak mampu yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan. bantuan iuran jaminan kesehatan adalah Iuran program jaminan kesehatan bagi fakir miskin dan orang tidak mampu yang dibayar oleh pemerintah.
Fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan/atau mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan dirinya dan/atau keluarganya. Orang tidak mampu adalah orang yang mempunyai sumber mata pencaharian, gaji atau upah, yang hanya mampu memenuhi
10
kebutuhan dasar yang layak namun tidak mampu membayar Iuran bagi dirinya dan keluarganya.
2.1.2.Ruang Perawatan Pasien PBI
Pada Peraturan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial kesehatan nomor 1 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan disebutkan bahwa akomodasi atau ruang perawatan bagi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) adalah ruang perawatan kelas III.
2.2.PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL 2.2.1.Pengertian Jaminan Kesehatan
Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Untuk Program Jaminan Kesehatan yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan, Implementasinya telah dimulai 1 Januari 2014. Program tersebut disebut sebagai program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Program Jaminan Kesehatan Nasional yang dikembangkan di Indonesia merupakan bagian dari Sistim Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diselenggarakan melalui mekenisme asuransi sosial. Bertujuan agar seluruh penduduk Indonesia terlindungi dalam sistim asuransi sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. Perlindungan ini diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah.
2.2.2.Hak Peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional
Hak seluruh peserta program Jaminan Kesehatan Nasional sesuai dengan peraturan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan Nomor 1 Tahun 2014 Tentang penyelenggaraan Jaminan Kesehatan adalah mendapatkan mendapatkan nomor identitas peserta, mendapat nomor Virtual Account, memilih fasilitas kesehatan tingkat pertama yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, memperoleh manfaat jaminan kesehatan, menyampaikan pengaduan kepada fasilitas kesehatan dan/ atau BPJS kesehatan yang bekerjasama, mendapatakan informasi pelayanan kesehatan, mengikuti program asuransi kesehatan tambahan. 2.2.3.Manfaat Program Jaminan Kesehatan Nasional
Manfaat jaminan kesehatan bagi seluruh peserta Jaminan Kesehatan Nasional telah di atur dalam Peraturan Presiden nomor 12 tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan, yaitu setiap peserta berhak memperoleh manfaat jaminan kesehatan yang bersifat pelayanan kesehatan perorangan, mencakup pelayanan pormotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Termasuk pelayanan obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis yang diperlukan. Manfaat jaminan kesehatan yang dimaksud adalah manfaat medis dan non medis. Manfaat non medis adalah manfaat akomodasi dan ambulans
Permenkes nomor 28 tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan kesehatan Nasional disebutkan fasilitas kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan untuk peserta JKN terdiri atas fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan
12
(FKRTL). Fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan berupa: Klinik utama atau yang setara, Rumah Sakit Umum, Rumah Sakit Khusus.
Pelayanan Kesehatan rujukan tingkat lanjutan meliputi pelayanan kesehatan yang mencakup rawat jalan dan rawat inap. Rawat jalan pada fasilitas kesehatan tingkat lanjutan meliputi administrasi pelayanan, pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi spesialistik oleh dokter spesialis dan subspesialis, tindakan medis spesialistik sesuai dengan indikasi medis, pelayanan obat dan bahan medis habis pakai, pelayanan alat kesehatan implant, pelayanan penunjang diagnostik lanjutan sesuai dengan indikasi medis, rehabilitasi medis, pelayanan darah, pelayanan kedokteran forensik, pelayanan jenazah di fasilitas kesehatan. Sedangkan Pelayanan rawat inap pada fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan terdiri atas perawatan inap non intensif dan perawatan inap di ruang intensif.
Manfaat pelayanan preventif dan promotif pada program JKN antara lain penyuluhan kesehatan perorangan mengenai pengelolaan faktor resiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan sehat. Pelayanan skrining kesehatan untuk mendeteksi resiko penyakit dan mencegah dampak lanjutan, yaitu Diabetes mellitus, hipertensi, kanker leher rahim, kanker payudara. Pemeriksaan penunjang pelayanan skrining kesehatan meliputi pemeriksaan gula darah, pemeriksaan IVA untuk kasus kanker leher rahim, pemeriksaan Pap Smear.
Pelayanan obat untuk Peserta Jaminan Kesehatan Nasonal di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) dilakukan oleh apoteker di instalasi farmasi rumah sakit/klinik utama /apotek sesuai ketentuan
perundang-undangan. Pelayanan obat mengacu pada daftar obat yang tercantum dalam fornasi dan harga obat yang tercantum dalam e-katalog obat.
Prosedur Pelayanan pada fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan adalah Peserta datang ke Rumah Sakit dengan menunjukkan nomor identitas peserta JKN dan surat rujukan supaya memperoleh Surat Eligibilitas Peserta (SEP) untuk mendapatkan pelayanan, kecuali kasus emergency, tanpa surat rujukan. Peserta dapat memperoleh pelayanan rawat jalan dan atau rawat inap sesuai dengan indikasi medis. Apabila Rumah sakit belum memiliki dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi medik, maka kewenangan klinis dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi medik dapat diberikan kepada dokter yang selama ini sudah ditugaskan sebagai koordinator pada bagian/ departemen/ instalasi rehabilitasi medik rumah sakit, dengan kewenangan terbatas sesuai kewenangan klinis dan rekomendasi surat penugasan klinis yang diberikan oleh komite medik rumah sakit kepada direktur/kepala rumah sakit.
Fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan baik fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan atau belum bekerja sama, wajib memberikan pelayanan penanganan pertama kepada peserta JKN pada keadaan darurat medis (emergency). Fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan gawat darurat tidak diperkenankan menarik biaya kepada peserta. Fasilitas kesehatan yang tidak bekerjasama dengan BPJS Kesehatan harus segera merujuk ke fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan setelah keadaan daruratnya teratasi dan pasien dalam kondisi dapat dipindahkan.
14
Seluruh peserta yang menjalani pelayanan perawatan rawat inap di rumah sakit mendapatkan haknya, hal ini sesuai dengan Undang-undang nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah sakit. Hak tersebut meliputi hak untuk memperoleh informasi mengenai tata tertib, hak dan kewajibannya selama berada di Rumah sakit. Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi. Hak memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi, mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan, mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya.
Hak lain pasien selama di Rumah sakit adalah mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan, memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya didampingi keluarganya dalam keadaan kritis. Hak menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah sakit, mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya, menggugat dan/atau menuntut Rumah sakit apabila Rumah sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar.
2.2.4.Badan Penyelenggara Program Jaminan Kesehatan Nasional
Undang-undang republik Indonesia nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, menyatakan bahwa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang selanjutnya disingkat BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial. BPJS menyelenggarakan sistem jaminan sosial nasional berdasarkan asas kemanusiaan, manfaat, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bertujuan untuk mewujudkan terselenggaranya pemberian jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan anggota keluarganya. BPJS terbagi atas: BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan menyelenggarakan program jaminan kesehatan.
2.3. STUDI FENOMENOLOGI
Fenomenologi adalah suatu ilmu yang memiliki tujuan untuk menjelaskan fenomena dalam bentuk pengalaman hidup. Penggunaan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi bertujuan untuk memperoleh data yang lebih komprehensif, mendalam, credible dan bermakna. Fenomenologi berfokus pada apa yang dialami oleh manusia pada beberapa fenomena dan bagaimana mereka menafsirkan pengalaman tersebut. Penelitian dalam pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitannya terhadap orang-orang yang berada dalam situasi tertentu. Tujuan penelitian fenomenologi sepenuhnya adalah untuk menggambarkan pengalaman hidup dan persepsi yang muncul (Polit & Beck, 2012).
16
Sumber data utama dalam penelitian fenomenologi berasal dari perbincangan yang cukup dalam (in-depth interview) antara peneliti dan partisipan dimana peneliti membantu partisipan untuk menggambarkan pengalaman hidupnya tanpa adanya suatu diskusi. Melalui perbincangan yang cukup dalam peneliti berusaha untuk menggali informasi sebanyak mungkin dari partisipan. Partisipan yang terlibat dalam penelitian akan dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Dalam hal ini, partisipan harus memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti (Polit & Beck, 2012). Hasil penelitian dalam studi fenomenologi diperoleh melalui proses analisis data.
Menurut Lincoln & Guba (1985 dalam Polit & Beck, 2012) untuk memperoleh hasil penelitian yang dapat dipercaya (trustworthiness) maka data divalidasi dengan empat kriteria. Pertama, kredibilitas (Credibility) merupakan kriteria untuk memenuhi nilai kebenaran dari data dan informasi yang dikumpulkan. Artinya, hasil penelitian harus dapat dipercaya oleh semua pembaca secara kritis dan dari partisipan sebagai informan. Credibility termasuk validitas internal. Cara memperoleh tingkat kepercayaan yaitu perpanjangan kehadiran peneliti/pengamat (prolonged engagement), ketekunan pengamatan (persistent observation), triangulasi (triangulation), diskusi teman sejawat (peer debriefing), analisis kasus negatif (negative case analysis), pengecekan atas kecukupan referensial (referencial adequacy checks), dan pengecekan anggota (member checking). Validasi kedua, Tranferabilitas (transferability) adalah kriteria yang digunakan untuk memenuhi bahwa hasil penelitian yang dilakukan dalam konteks tertentu dapat ditransfer ke subyek lain yang memiliki topologi yang sama. Transferability
termasuk dalam validitas eksternal. Maksudnya adalah dimana hasil suatu penelitian dapat diaplikasikan dalam situasi lain. Ketiga, dependabilitas (dependability) mengacu pada kekonsistenan peneliti dalam mengumpulkan data, membentuk dan menggunakan konsep-konsep ketika membuat interpretasi untuk menarik kesimpulan. Kriteria ini dapat digunakan untuk menilai apakah proses penelitian kualitatif bermutu atau tidak. Teknik terbaik adalah dependability audit yaitu meminta dependen atau independen auditor untuk memeriksa aktifitas peneliti. Dependability menurut istilah konvensional disebut reliabilitas atau syarat bagi validitas. Keempat, konfirmabilitas (confirmability) memfokuskan apakah hasil penelitian dapat dibuktikan kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan dan dicantumkan dalam laporan lapangan. Hal ini dilakukan dengan membicarakan hasil penelitian dengan orang yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dalam penelitian dengan tujuan agar hasil dapat lebih objektif. Confirmability merupakan kriteria untuk menilai kualitas hasil penelitian.
1 BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Harus disadari bahwa hidup dan kebebasan manusia akan menjadi tanpa makna jika kesehatannya tidak terurus. karena itu kesehatan sebagai isu HAM, dalam hal ini hak atas derajat kesehatan yang optimal, dengan konsekuensi setiap manusia berhak atas derajat kesehatan yang optimal. Negara berkewajiban memenuhi hak itu tentu bukan sesuatu yang tanpa dasar (Karunia, 2007). Falsafah dan dasar negara Pancasila terutama sila ke-5 mengakui hak asasi warga atas kesehatan. Hal ini juga tercantum dalam pasal 28H dan pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945. Undang-undang nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan ditegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan dan memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. Hak atas kesehatan ini merupakan hak setiap warga negara, maka pemerintah berkewajiban memenuhi hak tersebut kepada seluruh warga Negara termasuk fakir miskin dan orang tidak mampu.
Jaminan Kesehatan Nasional atau National Health Insurance (NHI) kini semakin banyak digunakan di dunia. Inggris merupakan Negara pertama yang memperkenalkan JKN ditahun 1911, yang sekarang disebut National Health Service (NHS). Suatu sistem kesehatan yang didanai dan dikelola oleh pemerintah secara nasional. Tujuan adalah menjamin bahwa seluruh penduduk mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis tanpa mempertimbangkan
kemampuan ekonominya. Asuransi Kesehatan Nasional di Australia disebut Medicare. Begitu baiknya pengelolaan Medicare di Australia, maka Asuransi kesehatan komersial kurang diminati masyarakat walaupun memberikan pengurangan kontribusi asuransi wajib. JKN di Taiwan disebut NHIA (National Health Insurance Administration), Sistim JKN di Taiwan ini dimulai dengan menggabungkan penyelenggaraan asuransi kesehatan bagi pegawai negeri, pegawai swasta, petani, dan pekerja disektor informal. Penggabungan tersebut telah meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan yang menjamin akses yang sama kepada seluruh penduduk. Dengan paket jaminan komprehensif yang sama meningkatkan kepuasan peserta dengan tingkat kepuasan lebih dari 70%. (Thabrany, 2014)
Deklarasi Alma-Ata (1978) mendeklarasikan komitmen untuk mengembangkan suatu sistim kesehatan dimana semua orang memiliki akses kepada pelayanan kesehatan yang dibutuhkan tanpa terkendala biaya, sistim kesehatan ini dikenal sebagai Universal Health Coverage. Tujuan utama UHC adalah kesetaraan dalam akses pelayanan kesehatan, kualitas pelayanan kesehatan yang cukup baik, perlindungan atas resiko kejatuhan ekonomi. (WHO, 2013 dalam Adisasmito, 2014). Utk mewujudkan UHC di Indonesia maka pemerintah bertanggungjawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diselenggarakan melalui mekanisme asuransi sosial. Tujuannya agar seluruh
3
penduduk indonesia terlindung dalam sistim asuransi sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan (Permenkes, 2014).
Berdasarkan pengelolaan dana, asuransi kesehatan dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : asuransi kesehatan pemerintah dan asuransi kesehatan swasta. Pada asuransi kesehatan pemerintah , pemerintah ikut serta dalam pembiayaan kesehatan, dapat mengawasi biaya kesehatan dan pelayanan kesehatan dapat di standarisasi. Tetapi terdapat kekurangan dari asuransi kesehatan pemerintah, yaitu berkaitan dengan mutu pelayanan kurang sempurna (Alamsyah, 2012). Konsep asuransi kesehatan sosial merupakan konsep asuransi dimana prinsip kesehatan sebagai suatu pelayanan sosial masih dijunjung tinggi. Ada suatu prinsip, bahwa pelayanan kesehatan tidak semata-mata berdasarkan status sosial, sehingga masyarakat lapisan bawah terhambat untuk memperoleh pelayanan kesehatan (Sulastomo, 2007)
Pemenuhan kebutuhan akan pelayanan kesehatan bagi fakir miskin dan orang tidak mampu dilakukan oleh pemerintah dengan melaksanakan ketentuan pasal 14 dan pasal 17 Undang- undang nomor 40 tahun 2004 tentang Sistim Jaminan Sosial Nasional. Pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2012 Tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan. Pada pasal 3 peraturan tersebut disebutkan bahwa Bantuan iuran jaminan kesehatan yang selanjutnya disebut Bantuan Iuran adalah Iuran program jaminan kesehatan bagi Fakir miskin dan orang tidak mampu yang iurannya dibayar oleh Pemerintah. Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan disingkat PBI Jaminan Kesehatan. Peserta PBI Jaminan kesehatan merupakan peserta pada program Jamkesmas, seperti yang
tercantum dalam Permenkes nomor 903 tahun 2011 pada bagian kepesertaan, yaitu peserta Jamkesmas adalah masyarakat miskin dan tidak mampu diseluruh Indonesia.
Pelayanan rumah sakit kepada pasien miskin dinilai masih buruk. Hal itu terungkap pada hasil survei yang dilakukan oleh ICW terkait pelayanan kesehatan. Dari hasil survei, hampir 74,9 persen responden yang berasal dari masyarakat miskin mengeluhkan pelayanan rumah sakit. Masalah lainnya berdasar temuan ICW adalah akses terhadap obat generik, selain fasilitas rumah sakit yang buruk Beberapa peserta jamkesmas mengeluhkan kekecewaan yang berkaitan dengan rumitnya proses administrasi untuk mengurus persyaratan jamkesmas, sikap perawat dan dokter yang tak ramah, lamanya waktu menunggu tindakan-tindakan medis atau operasi dan fasilitas ruang rawat yang kurang memadai. Survei tersebut, dilakukan pada akhir tahun 2009 di lima kota, Jakarta, Bogor, Depok,Tangerang, dan Bekasi. Survei menyasar 738 responden di 23 rumah sakit yang terdiri dari lima rumah sakit swasta dan 18 rumah sakit pemerintah (Republika, 2010)
Penelitian sebelumnya yang berhubungan telah dilakukan oleh Rattu, Herman, dan Revolino (skripsi), 2015 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tentang Perbedaan kualitas pelayanan keperawatan terhadap pasien penerima Bantaun Iuran dan Pasien Bukan Penerima Bantuan Iuran mendapatkan hasil bahwa kualitas pelayanan keperawatan pasien Penerima Bantuan Iuran dan Bukan Penerima Bantuan Iuran sama-sama “Baik“. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Widyasih, M Fatkhul, dan Eni (skripsi), 2014 di RS Islam Kendal
5
tentang persepsi masyarakat terhadap pelayanan BPJS, didapatkan persepsi masyarakat terhadap pelayanan BPJS di Rumah Sakit Islam Kendal dari 215 responden sebanyak 84 orang (39,1%) mengatakan pelayananan BPJS tidak baik. Demikian juga dengan hasil penelitian (skripsi) yang dilakukan oleh Sari, Hesti, dan Dyah (2014) tentang Analisis kualitas pelayanan pasien Jamkesmas rawat jalan di RSUD kabupaten Sukoharjo disimpulkan bahwa pelayanan Jamkesmas bagian rawat jalan masih kurang memuaskan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan persepsi antara petugas dalam memberikan pelayanan rawat jalan kepada pasien Jamkesmas. Petugas menganggap bahwa pelayanan yang diberikan sudah sesuai dengan kemampuan dan pedoman pelaksanaan Jamkesmas, akan tetapi pelayanan yang diberikan petugas masih kurang mampu memenuhi kebutuhan dan keinganan pasien Jamkesmas. Baik dari cara pelayanan, sikap pelayanan, pembedaan pelayanan serta tidak ada transparansi tindakan pelayanan untuk pasien jamkesmas.
Pelayanan kesehatan di Rumah sakit saat ini tidak saja bersifat pengobatan , tetapi pelayanan kesehatan di Rumah sakit merupakan pelayanan kesehatan yang paripurna, yaitu promotif, preventif, kuratif (Herlambang, 2012). Rumah sakit memang tidak boleh dipandang sebagi suatu entitas yang terpisah dan berdiri sendiri dalam sistim kesehatan. Rumah sakit adalah bagian dari sistim kesehatan, berperan dalam mendukung pelayanan kesehatan dasar melalui penyediaan fasilitas rujukan (Hartono, 2010). Permenkes nomor 28 tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanana Program Jaminan Kesehatan menyebutkan bahwa Rumah Sakit Umum sebagai Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL).