• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan temuan tersebut, maka peneliti menguraikan beberapa saran bagi peneliti selanjutnya:

1. Diharapkan agar peneliti selanjutnya lebih mendalami lagi aplikasi instagram. Sehingga, penelitian bisa tepat pada maksud dan tujuan. juga penelitian tersebut bisa menjawab semua rumusan yang dirancang dari awal.

2. Diharapkan peneliti selanjutnya dapat melengkapi kajian teori yang masih kurang. Adapun kekurangannya yaitu dalam penelitian kuantitatif ini variabel Y nya harus dikembangkan lagi dalam hal kepekaan sosialnya. Serta, dalam pengujian korelasinya diharapkan peneliti selanjutnya dapat teliti saat mengerjakannya. Sehingga, uji korelasinya bisa kuat dan tidak terbantahkan.

3. Dalam membantu pekembangan ilmu dan pengetahuan diharapkan peneliti selanjutnya untuk mencari berbagai teori dari berbagai teori dari berbagai referensi yang tersedia di buku sumber dan jurnal nasional maupun internasional yang relevan dengan penelitian agar mendapatkan hasil penelitian yang terbaik.

DAFTAR PUSTAKA

Adiyanti, M.G. (1999). Skala Keterampilan Sosial, Laporan Penelitian. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu pendekatan praktis. Jakarta: Rineka Cipta.

Aw, Suranto. (2010). Komunikasi Sosial Budaya. Yoyakarta: Graha Ilmu.

Creswell, John. W. (2009). Research Design: Pendekatan kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed (Edisi Ketiga). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nasrullah, Rulli. (2015). Media Sosial. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sapriya. (2015). Pendidikan IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Soekanto, Soerjono. 1996, 2002, 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Soyomukti, Nurani. (2010).Pengantar Sosiologi. Jakarta: Ar-Ruzz Media.

Sugiyono. (2012). Metode Peneletian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2014). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta. Suranto. 2010. Komunikasi sosial budaya. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Dari Internet:

http://voila.co.id/marketing-to-netizen/ https://id.wikipedia.org/wiki/Instagram

PENGARUH ADANYA INSTAGRAM TERHADAP KEPEKAAN SOSIAL MAHASISWA PENDIDIKAN IPS

(Angkatan 2015)

Penelitian ini ditujukan untuk mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 yang sudah mengontrak mata kuliah Pengembangan Keterampilan Sosial.

Di bawah ini terdapat sejumlah pertanyaan yang telah disediakan alternatif jawabannya, pilihlah pada salah satu jawaban yang kamu pilih.

SS : Sangat Setuju

S : Setuju

TS : Tidak Setuju

STS : Sangat Tidak Setuju N

O PERNYATAAN SS S TS STS

1 Saya merasa, saya sering membagi informasilewat instagram berdasarkan pandangan sendiri.

2 Saya adalah seorang pembagi berita/informasilewat instagram yang subjektif.  3 Saya merasa saya suka berkomentar di instagramtanpa dipikirkan ulang. 4

Saya merasa saya langsung berkomentar tanpa membaca dan mencermati suatu informasi di

instagram. 

5 Saya tidak menyukai media sosial instagram, 

6 Media sosial instagram ingin selalu mengetahui informasi yang ada dari para netizennya.

 7

Saya memiliki teori saya sendiri untuk berkomentar terhadap postingan orang lain di

instagram. 

8

Saya suka mengomentari suatu postingan atau informasi di instagram menggunakan

berdasarkan teori saya sendiri. 

9 Saya suka membagi berita, informasi, danmotivasi apapun di instagram yang menurut saya

baik. 

10

Apabila postingan saya disukai dan dikomentar baik di instagram, maka saya beranggapan bahwa informasi yang telah dibagikan

dinyatakan benar dan tepat. 

12 Saya lebih berhati-hati ketika mempublikasiinformasi.  13 Saya lebih mengutamakan fakta ketika

membagikan isi dari informasi tersebut.

 14 Saya sering melakukan kontak sosial misalnya

bertukar informasi dengan satu orang saja.

 15 Saya sering melakukan kontak sosial dengansuatu kelompok. 16 Saya suka melakukan kontak sosial dari anggotakelompok sendiri dengan kelompok lain.  17 Saya sering berkomunikasi dengan orang lain 

18 Saya suka meniru gaya/perilaku orang lain 

19 Saya sering tersugesti melakukan perilaku yangsama dengan orang lain 20 Ketika saya mengidolakan seseorang, saya ingin

menjadi sama dengan idola saya 

21 Saya selalu memahami perasaan orang lain 

22 Menurut saya instagram adalah media yangmewadahi kerjasama di antara para pengguna.

23

Menurut saya instagram sebagai kumpulan perangkat lunak yang memungkinkan individu maupun komunitas untuk berkumpul, berbagi, berkomunikai, dan dalam kasus tertentu saling berkolaborasi.

24 Instagram adalah tempat berbagi informasi,berbagi dari individu sampai media publik tanpa privasi.

 25 Saya mengetahui dan memahami jaringan yangmerupakan karakteristik dari media sosial.

26 Saya mengetahui dan memahami bahwainformasi menjadi entitas penting dari media

sosial. 

27

Saya mengetahui dan memahami bahwa media sosial memiliki kemampuan dalam ruang kearsipan yang dapat menyimpan data maupun

infromasi. 

28

Saya mengetahui dan memahami bahwa media sosial berguna untuk saling berinteraksi di dunia

maya. 

29

Kesadaran akan real di benak khalayak akan berkurang dan tergantikan oleh realitas semu, kondisi ini disebabkan oleh imaji yang disajikan

oleh instagram. 

31 Saya mengetahui instagram sebagai jejaringsosial.

32 Saya selalu membagi cerita saya di fiturinstagram stories.  33 saya dapat memposisikan diri saya di hadapanpublik

34 Saya dapat bergabung dan bekerja sama denganorang lain  35 Saya dapat menjalin hubungan harmonis dengan

orang lain.

 36 Saya selalu menjalin pertemanan dan

persahabatan dengan orang lain.

37 Saya dapat menyelesaikan masalah saya. 

38 Saya selalu menolak segala tindakan yangmenyimpang.  39 Saya selalu berempati terhadap orang lain. 

Pengaruh Adanya Instagram Terhadap Kepekaan Sosial Mahasiswa Pendidikan IPS

(Survey pada Mahasiswa Pendidikan IPS UPI Angkatan 2015) Linda Siti Zainab

(1500509)

Program Studi Pendidikan IPS, FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh instagram terhadap tingkat kepekaan sosial mahasiswa Pendidikan IPS khususnya angkatan 2015 yang telah mengontrak mata kuliah Pengembangan Keterampilan Sosial. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif jenis survey. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Pendidkan IPS angkatan 2015 yang berjumlah 91 orang. Objek penelitian adalah kepekaan sosial mahasiswa Pendidikan IPS. Untuk mendapatkan data dan infromasi yang dibutuhkan, peneliti membagikan kuisioner/angket kepada responden. Pengujian instrument untuk melihat korelasi antara kedua variabel ini dengan menggunakan pengujian korelasi Kendall’s. hasil analisis data pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh adanya instagram terhadap tingkat kepekaan sosial Pendidikan IPS. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penelitian ini mengenai instagram berpengaruh terhadap tingkat kepekaan sosial mahasiswa Pendidikan IPS khsususnya angkatan 2015.

PENDAHULUAN

Teknologi komunikasi masa kini memberikan fasilitas yang dapat memudahkan manusia untuk berkomunikasi. Dahulu kita hanya mengenal media komunikasi tradisional, seperti radio, televisi, dan media cetak. Seiring dengan perkembangan zaman, kebutuhan manusia akan informasi menyebabkan

semakin meningkat pula

perkembangan teknologi dalam hal pemenuhan kebutuhan akan informasi. Dengan kemajuan dibidang teknologi informasi serta komunikasi sekarang ini, dunia tidak lagi mengenal batas, jarak, ruang dan waktu. Orang akan dapat dengan mudah memperoleh informasi di berbagai belahan dunia tanpa harus dating ke tempat tersebut. Bahkan orang –orang dapat berkomunikasi dengan siapa saja di berbagai tempat di dunia ini, hanya dengan memanfaatkan seperangkat komputer yang tersambung ke internet yang muncul pada tahun 1990-an atau yang biasa kita kenal dengan media baru. Pemanfaatan internet akhir-akhir ini sedang mengalami perkembangan. Media internet tidak lagi hanya sekedar menjadi media komunikasi semata, tetapi juga sebagai bagian

yang tak terpisahkan dari dunia bisnis, industri, pendidikan, kesukaan, dan pergaulan sosial. Jejaring sosial yang marak belakangan ini seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, Skype, dan Google+ adalah produk teknologi media baru yang kini sedang digemari banyak kalangan. Jejaring sosial kini bisa dimanfaatkan lebih jauh. Yang diteliti oleh peneliti mengenai instagram. Instagram merupakan media interaksi sosial. Menurut Mandiberghs (2012), media sosial adalah media yang mewadahi kerja sama di antara pengguna yang menghasilkan konten (user-generated content). Definisi media sosial adalah “medium di internet yang

memungkinkan pengguna

mempresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama, berbagi, nerkomunikasi dengan pengguna lain, dan membentuk ikatan sosial secara virtual”.

Terdapat sedikitnya empat keterampilan yang dianjurkan dalam belajar IPS, ialah keterampilan dalam meneliti, terutama melalui metode inkuiri, keterampilan berpikir, keterampilan sosial dan keterampilan berkomunikasi sosial (Sapriya, 2015). Secara harfiah, istilah “kepekaan”

(sensitify) berasal dari kata peka (sensitive) yang berarti mudah merasa atau mudah terangsang, atau suatu kondisi seseorang yang mudah berekasi terhadap suatu keadaan (Sapriya, 2015). Apabia diakaitkan

dengan kondisi sosial

(kemasyarakatan) maka istilahnya menjadi kepekaan sosial (social sentitivity), ialah kondisi seseorang yang bereaksi terhadap masalah- masalah sosial/ kemasyarakatan. Terdapat sejumlah masalah kemasyarakatan yang diharapkan akan menjadi bagian perhatian setiap siswa dan atau warga Negara dan masyarakatan sehingga perlu dikembangkan sejak mereka berada di bangku sekolah. Pengertian kepekaan sosia seperti di atas tampaknya ada kaitannya dengan istilah kesadaran sosial (social awareness), ialah kemampuan siswa menjadi paham (informed about) dan peka (sensitive) terhadap aspek-aspek politik, sosial, ekonomi di masyarakatnya. Mengutip dari Soyomukti (2010) dari Soerjono Soekanto menegaskan bahwa interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-

kelompok manusia, maupun antara orang per orang dan kelompok manusia.

METODE

Secara metologis penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistic dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2012, hlm. 7). Metode kuantitatif sering juga disebut metode tradiosional, positivistik, ilmiah/scientific dan metode discovery. Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional. Karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut positivistic karena berlandaskan pada filsafa positivism. Metode ini disebut sebagai metode ilmiah (scientific) karena metode ini telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah

yang konkrit, empiris, obyektif karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai IPTEK baru.

Metode ini disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik. Metode penelitian yang sesuai dengan penelitian ini adalah metode survey. Penelitian metode survey merupakan penelitian kauntitatif dengan menggunakan pertanyaan terstruktur yang sama pada setiap orang, kemudian semua jawaban yang diperoleh peneliti dicatat, diolah, dan dianalisis. Pertanyaan terstruktur disebut kuisioner. Kuisioner online berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan diberikan kepada responden untuk mengukur variable-variabel, berhubungan di antara variable yang ada, serta dapat berupa pengalaman dan pendapat dari responden. Metode survey biasanya digunkaan untuk mendapakan data dari tempat tertentu yang alamiah, namun peneliti

melakukan perlkuan dalam

pengumpulan (kuisioner, test, wawancara, dan sebagainya), perlakuan yang diberikan tidak sama pada eksperimen (Sugiyono, 2014).

Jumlah subjek dari penelitian ini adalah 91 orang mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 yang sudah mengontrak mata kuliah Pengembangan Keterampilan Sosial maka sampel diambil sebesar 70% dari jumlah populasi. Sehingga jumlah subjek penelitian ini adalah sebesar 63 orang.

HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi hasil peneitian dilakukan dengan menyederhanakan data yang dipeoleh dari seluruh kuisioner online yang telah diisi ke dalam diagram lingkaran dan disertai dengan interpretasi setelah diagram, agar lebih mudah unutk dipahami oelh pembaca. Kuisioner online telah disebar kepada 91 orang responden dengan 39 pertanyaan, namun hanya 63 orang saja yang mengisi kuisioner tersebut. Berikut ini adalah beberapa hasil dari seluruh angket yang hasilnya telah diolah oleh peneliti dan mewakili setiap variabelnya.

(1) Sering membagi informasi lewat instagram berdasarkan pandangan sendiri. Pada data gambar tersebut dapat dilihat bahwa presentase yang menjawab sangat setuju dan

setuju adalah sama yaitu sebesar 41, 1%. Berbeda dengan yang menjawab tidak setuju yakni sebanyak 15%. Sedangkan sangat tidak setuju 2,8%. Mengenai pernyataan ini dapat dikatakan bahwa mahasiswa Pendiidkan IPS angkatan 2015 sering membagi informasi melalui instagram berdasarkan pandangannya sendiri. (2) Pembagi berita/informasi lewat instagram yang subjektif. Pada data tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 46% dominan tidak setuju, 41,3% menunjukkan setuju, lalu presentase ssangat setuju dan sangat tidak setuju sebanyak 6,3%. Dapat disimpulkan dari pernyataan ini bahwa mahasiswa Pendidikan IPS merupakan bukan mahasiswa yang membagikan berita/informasi melalui instagram secara subjektif. (3) Suka berkomentar di instagram tanpa dipikirkan ulang. Pada data tersebut dapat dilihat bahwasebanyak 58,7% yang menyatakan tidak setuju, sebanyak 28,6% menyatakan sangat tidak setuju, lalu yang menyatakan setuju sebanyak 9,5%, dan paling sedikit adalah mahasiswa yang sangat setuju. Jadi mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 tidak suka berkomentar di instagram tanpa dipikirkan terlebih

dahulu. (4) Pada data tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 63,5% yang menunjukkan jawaban tidak setuju, sebanyak 34,9% menunjukkan jawaban sangat tidak setuju, dan yang menjawab setuju hanya 1,6%, sedangkan yang tidak dipilih sama sekali yaitu pada pilihan sangat setuju. Jadi dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 mereka ketika mengomentari informasi di instagram senantiasa dibaca dan dicermati terlebih dahulu.

(5) Tidak menyukai media sosial instagram. Berdasarkan gambar yang terlihat di atas terdapat beberapa informasi yaitu, responden dominan tidak setuju sebanyak 57,1%, sebanyak 33,3% menyatakan sangat tidak setuju, hanya 6,3% yang menyatakan setuju, serta sisanya menyatakan sangat setuju. Jadi, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 menyukai media sosial instagram. (6) Media sosial instagram ingin selalu mengetahui informasi yang ada dari para netizennya. Berdasarkan data terdapat beberapa informasi yang dapat diambil, sebanyak 73% responden dominan setuju mengenai pernyatan tersebut. Jumlah responden yang tidak setuju

sebanyak 20,6%, responden yang sangat setuju hanya 6,3%, sedangkan yang menjawab sangat tidak setuju tidak ada. jadi dapat disimpulkan dari diagram di atas yakni mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 bahwa instagram selalu ingin mengetahui informasi dari para penggunanya. (7) Memiliki teori sendiri untuk berkomentar terhadap postingan orang lain di instagram. Pada data tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 69,8% mahasiswa dominan setuju, sebanyak 19% tidak setuju, namun mahasiswa yang sangat setuju hanya 7,9%, sisanya responden memilih pada pilihan sangat tidak setuju. Jadi dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Pendidikn IPS memiliki teori sendiri ketika berkomentar pada postingan orang lain di instagram. (8) Suka mengomentari suatu postingan atau informasi di instagram menggunakan berdasarkan teori sendiri. Pada data tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 68,3% responden setuju, sedangkan yang tidak setuju sebanyak 30,2%, responden yang memilih sangat tidak setuju hanya 1,5%. Responden tidak ada yang memilih sangat setuju. Jadi dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Pendidikan IPS 2015 suka

berkomentar dalam suatu

postingan/informasi di instagram berdasarkan teorinya sendiri.

(9) Suka membagi berita, informasi, dan motivasi apapun di instagram yang menurutnya baik. Pada data tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 66,7 menunjukkan bahwa mereka dominan setuju. Lalu yang memberi respon sangat setuju sebanyak 28,6, lalu sisanya berada di tidak setuju dan sangat tidak setuju. Jadi dapat disimpukan bahwa mahasiswa Pendidiakn IPS 2015 mereka suka untuk berbagi berita, informasi, dan motivasi apapun di instagram yang menurutnya baik. (10) Ketika postingan disukai dan dikomentari di instagram, maka pribadi beranggapan bahwa informasi yang telah dibagikan dinyatakan benar dan tepat. Pada data tersebut dapat dilihat bahwa mereka menjawab dominan setuju sebanyak 61,9%. Lalu responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 22,2%, sedangkan yang tidak setuju sebanyak 14,3%, sisanya mereka memilih sangat tidak setuju. Jadi dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 ketika mereka memberikan informasi sesuatu di instagram yang

disukai dan dikomentari maka mereka menganggap informasi tersebut benar dan tepat. (11) Selektif dalam mempublikasi informasi. Pada data tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 57,1% dominan setuju serta responden yang memilih sangat setuju sebanyak 42,9. Responden tidak ada yang memilih tidak setuju dan tidak sangat setuju. Jadi dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 selektif falam mempublikasi informasi. (12) Lebih berhati-hati ketika mempublikasi informasi. Pada data tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 56,6% responden dominan sangat setuju sera responden yang setuju sebanyak 44,4%. Tidak ada responden yang tidak setuju maupun sangat tidak setuju. Jadi dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 berhati-hati ketika mempublikasi informasi.

(13) Lebih mengutamakan fakta dalam membagikan isi dari informasi tersebut. Pada data tersebut dapat diambil beberapa informasi yaitu responden dominan setuju sebanyak 50,8%, serta yang memilih sangat setuju sebanyak 47,6% sisanya yang memilih tidak setuju. Namun tidak ada

yang memilih sangat tidak setuju. Jadi dapat disimpulkan bahwa mahasiswa

Pendidikan IPS angkatan

mengutamakan fakta dalam

membagikan isi dari informasi tersebut. (14) Instagram adalah media yang mewadahi kerjasama di antara para pengguna. Pada data tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 74,6% setuju pada pernyataan tersebut, yang menjawab tidak setuju sebanyak 17,5%, hanya 6,3% yang menjawab sangat setuju, dan sisanya menjawab tidak sangat setuju. Jadi dapat disimpukan bahwa mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 selalu bekerja sama menggunakan instagram. (15) Instagram sebagai kumpulan perangkat lunak yang memungkinkan individu maupun komunitas untuk berkumpul, berbagi, berkomunikasi, dan dalam kasus tertentu saling berkolaborasi. Berdasarkan data di atas, terdapat beberapa informasi yang dapat diambil diantaranya ialah responden dominan menjawab setuju sebanyak 73%, yang menjawab sangat setuju sebanyak 19%, hanya 7,9% responden yang memilih tidak setuju, serta reponden tidak ada yang menjawab tidak sangat setuju. Jadi dapat disimpulkan bahwa mahasiswa

Pendidikan IPS angkatan 2015 selalu berkumpul, bebagi, berkomunikasi, daling berkolaborasi di dalam instagram. (16) Instagram adalah tempat berbagi informasi, berbagi dari individu sampai media publik tanpa privasi. Berdasarkan data di atas ada beberapa poin penting yaitu responden dominan menjawab setuju sebanyak 54%, berbeda seikit dengan responden yang menjawab tidak setuju sebanyak 39,7%, sedangkan yang menjawab sangat setuju hanya 6,3%, tidak ada yang menjawab tidak sangat setuju. Jadi dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 selalu berbagi informasi, berbagi dari individu sampai media publik yang menggunakan instagram tanpa privasi. (17) Tahu dan paham jaringan yang merupakan karakteristik dari media sosial. Berdasarkan data di atas dapat diambil beberapa informasi, diantaranya responden dominan setuju sebanyak 79,4%, lalu berbeda jauh dengan responden tidak setuju terhadap pernyataan tersebut sebanyak 14,3%, sedangkan responden sangat setuju hanya 6,3%. Jadi dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 sudah mengetahui dan memahami jaringan

merupakan karakteristik dari media sosial.

(18) Tahu dan paham bahwa informasi menjadi entitas penting dari media sosial. . Berdasarkan data di atas dapat diambil beberapa informasi yakni sebanyak 84,1% responden dominan setuju, sedangkan yang menjawan sangat setuju hanya 9,5%, responden yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju merupakan sisanya. Jadi dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 mengetahui dan memahami informasi yang menjadi entitas penting dari media sosial. (19) Tahu dan paham bahwa media sosial memiliki kemampuan dalam ruang kearsipan yang dapat menyimpan data maupun informasi. Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa sebanyak 77,8% dominan menjawab setuju, lalu sebanyak 12,7% sangat setuju, hanya 7,9% menjawab tidak setuju, serta sisanya menjawab tidak sangat setuju. Jadi mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 mengetahui dan memahami bahwa media sosial memiliki kemampuan dalam ruang kearsian yang dapat menyimpan data maupun informasi. (20) Tahu dan

paham bahwa media sosial berguna untuk saling berinteraksi di dunia maya. Pada data tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 71,4% setuju, lalu sebanyak 22,2% sangat setuju, hanya 6,3% tidak setuju, serta tidak ada yang memilih sangat tidak setuju. Jadi mahasiswa Pendidikan IPS sudah mengetahui dan memahami bahwa media sosial berguna untuk saling berinteraksi di dunia maya. (21) Kesadaran akan real di benak khalayak akan berkurang dan tergantikan oleh realitas semu, kondisi ini disebabkan oleh imaji yang disajikan oleh instagram. Pada data tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 74,6% dominan setuju, yang sangat setuju 12,7%, hanya 9,5% mereka yang tidak setuju, sisanya tidak sangat setuju. Jadi dapat disimpukan bahwa mahasiswa Pendidikan IPS sadar akan real di benak khalayak akan berkurang dan tergantikan oleh realitas semu, kondisi ini disebabkan oleh imaji yang disajikan oleh instagram.

(22) Selalu bertukar konten informasi dengan pengguna instagram lainnya. Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 69,8% setuju, yang tidak setuju sebanyak 23,8%, sisanya adalah yang menjawab sangat

setuju dan yang paling sedikit adalah yang menjawab tidak sangat setuju. Jadi mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 selalu bertukar konten informasi dengan pengguna instagram lainnya. (23) Tahu bahwa instagram sebagai jejaring sosial. Pada data tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 66,7% dominan setuju, sebanyak 31,7 sangat setuju, sisanya adalah yang memilih tidak setuju. Jadi mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 sudah mengetahui bahwa instagram sebagai sebuah jaringan sosial. (24) Selalu membagi cerita di fitur instagram stories. Pada data tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 54% setuju, 31,7% tidak setuju, 7,9% sangat tidak setuju serta sangat setuju hanya 6,3%. Jadi dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Pendidikan IPS selalu berbagi cerita di fitur instagram. (25) Sering melakukan kontak sosial misalnya betukar informasi dengan satu orang saja. Pada data tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 52,4% dominan tidak setuju, namun berbeda sedikit dengan yang setuju yaitu 34,9%, hanya 9,5% menjawab sangat setuju, sisanya menjawab tidak sangat setuju. Jadi dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Pendidikan IPS angkatan 2015 jarang

melakukan kontak sosial misalnya bertukar informasi dengan satu orang saja. (26) Sering melakukan kontak

Dalam dokumen Pengaruh Adanya Instagram terhadap Tingk (Halaman 81-101)

Dokumen terkait