BAB V. PENUTUP
B. Saran
B. Saran
Manusia merupakan makhluk yang diciptakan untuk selalu belajar dan belajar. Setiap orang perlu selalu belajar dari kesalahan atau kekurangan yang ada sehingga mampu menyempurnakan untuk berbuat lebih baik lagi. Oleh karena itu manusia perlu memberi masukan kepada orang lain dan juga berhak untuk menerima masukan dari orang lain. Pada akhir penulisan ini perkenankanlah penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Gereja perlu memperhatikan dan memperhitungkan keberadaan wali baptis
sehingga mereka dapat memaksimalkan tugas mereka sebagai wali baptis. Perhatian itu dapat berupa penyuluhan atau pun pendataan wali baptis yang ada.
2. Paroki St. Ignatius Danan perlu memperhatikan perkembangan iman remaja Katolik agar mereka tetap setia dalam iman dan mampu menjadi generasi penerus Gereja yang tangguh.
3. Gereja perlu mengadakan penyeleksian wali baptis sebelum mengadakan
pembaptisan sehingga benar-benar terpilih wali baptis yang berkualitas.
4. Perlu adanya perhatian dari orang tua untuk memperkenalkan wali baptis anaknya sehingga terjalin komunikasi dan orang tua merasa terbantu dalam mengawasi dan mendampingi anaknya.
5. Wali baptis hendaknya menjalin komunikasi dengan remaja dan mau menyapa terlebih dahulu karena tugas wali baptis adalah melayani bukan untuk dilayani. 6. Usulan wali baptis adalah agar paroki memperhatikan wali baptis dan juga
tugasnya secara maksimal.
7. Usulan remaja untuk wali baptis adalah diadakanya pendampingan secara rutin dan juga rekoleksi bersama wali baptis sehingga mereka bisa saling mengenal.
DAFTAR PUSTAKA
Ardhi Wibowo. (1993). Sakramen Baptis. Yoyakarta: Kanisius.
Banawiratma, J.B. (1989). Baptis, Krisma, Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius. _______. (2000). Hidup Menggereja Kontekstual. Yogyakarta: Kanisius. Buchari, Alma. (2007). Belajar Mudah Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Crichton, L. (1990). Perayaan Sakramen Baptis dan Krisma. Yogyakarta: Kanisius.
Groenen, C. (1979). Panggilan Kristen. Yogyakarta: Kanisius.
_______. (1992). Baptisan-Krisma, Sejarah dan Sistematik. Yoyakarta: Kanisius. Oemar Hamalik. (1995). Psikologi Remaja. Bandung: Mandar Maju.
Hurlock, B. Elizabeth. (1990). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Katekismus Gereja Katolik. (1995). (P. Herman Embuiru, SVD, Penerjemah). Ende: Percetakan Arnoldus (Buku asli dicetak tahun 1993).
Kitab Hukum Kanonik. (2005). (V. Kartosiswoyo, Lich.Iur.Can. dkk,
Penerjemah). (Diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II). Bogor:
Grafika Mardi Yuana (Cetakan pertama tahun 1983). Komisi Liturgi MAWI. (1986). Bina Liturgia 5. Jakarta: Obor.
Komkat KAS. (1997). Mengikuti Yesus Kristus 3. Yogyakarta: Kanisius.
Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius.
Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1966). Landis, Paul H. (Tanpa Tahun). Masalah Anak Remaja. (Manuskrip diktat Pusat
Bimbingan Universitas Kristen Satyawacana). Salatiga; Satyawacana. Leks, Stefan. (2002). Tafsir Injil Matius. Yogyakarta: Kanisius.
Mardisantosa. http://historiadomus.multiply.com/journal/item/97 acces on 29 November 2011.
Mangunhardjana, A. (1985). Membimbing Rekoleksi. Yogyakarta: Kanisius. Prasetya, L. (2008). Baptis: Gerbang Sakramen Lain. Yogyakarta: Kanisius. _______. (2011). Pelayanan Sakramen Baptis. Yogyakarta: Kanisius.
Prawira, Jonathan. http://www.kidung.com/indo/jangan lelah.htm acces on 11 Desember 2011.
PWI. (1975). Upacara Pembaptisan Kanak-kanak. Ende-Flores: Arnoldus. Riduwan. (2007) Belajar Mudah Penelitian untuk: Guru, Karyawan, dan Peneliti
Pemula. Bandung: Alfabeta.
Sambas Ali Muhidin. (2007). Analisis Korelasi, Regresi dan Jalur dalam Penelitian. Bandung: Pustaka Setia.
Shelton, Charles M. (1988). Menuju Kedewasaan Kristen.Yogyakarta: Kanisius. Soenarja, A. (1987). Inspirasi Hidup dari Hari ke Hari. Yogyakarta: Kanisius. Sumarno Ds., M. S.J,M.A. (2011). PPL PAK Paroki. Diktat Mata Kuliah untuk
Pendidikan Agama Katolik, FKIP, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Sutrisno Hadi. (2004). Metodologi Research Jilid II. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.
(3)
Lampiran 3: Hasil Wawancara dengan Pendamping Remaja
Wawancara ini penulis lakukan dengan pendamping remaja yaitu mas Patmo pada tanggal 28 November 2010 pukul 15.00.
Penulis : Selamat sore mas?
Responden : Selamat sore Dedy?
Penulis : Mas saya mau bertanya seputar remaja Paroki St. Ignatius Danan? Responden : Oke.. apa yang bisa saya jawab pasti saya jawab.
Penulis : Bagaimana mas perjalanan remaja katolik di paroki ini?
Responden : Sejauh saya tahu dan mengikuti remaja mengalami pasang surut. Dari tahun 2002-2007 remaja selalu terlibat dalam kegiatan menggereja. Romo paroki memberikan kesempatan untuk remaja berkembang dengan menikuti kegiatan di kevikepan. Remaja Danan
yang terpanggil menjadi biarawan-biara wati juga ada karena sering
mengadakan kegiatan kunjungan. Namun untuk saat ini remaja mulai
surut dan sangat fakum. Untuk mencari remaja dan dikumpulkan sangat sudah karena kurang dukungan dari pihak paroki.
Penulis : Apa remaja tidak mau mengikuti kegiatan mas?
Responden : Sebenarnya mau, namun belum ada wadah diparoki ini atau bisa dikatakan kehilangan wadah karena biasanya rm. Paroki
melimpahkan kegiatan-kegiatan kepada remaja sehingga mereka semakin berkembang.
Penulis : Baik mas terimakasih atas infonya.
(4)
(5)
Lampiran 5: Kuesioner Penelitian untuk Wali Baptis
Petunjuk soal:
a. Bapak/ibu diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini sesuai
dengan pendapat dan kenyataan yang sudah bapak/ibu alami ketika menjadi wali baptis dengan cara memberikan tanda silang (X) pada huruf a,b,c,d, atau e pada jawaban yang dianggap paling sesuai. Jika diantara jawaban yang disediakan ada yang tidak sesuai, bapak/ibu dapat menuliskan jawaban pada option yang dikosongi atau diberi titik-titik.
b. Istilah calon baptis (katekumen) yang di maksud dalam kuisioner ini adalah:
orang yang anda dampingi selama masa persiapan sampai penerimaan Sakramen Baptis dan masa-masa setelah baptis.
Kuesioner
1. Nama lengkap : ………
2. Lingkungan : ………
3. Jenis kelamin : ………
4. Anda dipermandikan pada saat ………
a. Sekolah Dasar (SD)
b. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP/SMP)
c. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA/SMA/SMK)
d. Perguruan Tinggi (PT)
e. ……….
5. Usia Anda…….
a. ≥ 30 tahun c. ≥ 50 tahun e. ≤ 60 tahun
b. ≥ 40 tahun d. ≥ 60 Tahun
6. Menurut anda apakah penting wali baptis itu………….
a. Penting c. Kurang Penting e. …………..
b. Sangat penting d. Tidak penting
7. Apa peranan seorang wali baptis menurut anda……
a. Sebagai syarat dalam pembaptisan agar sah
(6)
c. Sebagai saksi pembaptisan
d. Sebagai pembimbing iman anak dari proses katekumen sampai nanti ketika
anak dewasa dalam iman
e. …………..
8. Jika suatu saat katekumen datang kepada anda untuk konsultasi sementara pada
saat yang bersamaan anda harus hadir dalam rapat di lingkungan, apa yang anda lakukan? Anda:
a. tetap datang rapat lingkungan tanpa menjanjikan kesempatan lain pada
katekumen.
b. menemui katekumen terlebih dahulu dan mendengarkan dia dengan
konsekwensi tidak menghadiri rapat lingkungan.
c. menjanjikan kesempatan lain untuk bertemu dengan katekumen dan anda
tetap hadir rapat.
d. melemparkan urusan rapat ke orang lain dan anda menemui katekumen
e. …………..
9. Selama anda mendampingi katekumen, apakah yang sudah anda perbuat untuk
mereka………
a. Hanya diam
b. Mengajarkan mereka untuk aktif dalam hidup gereja
c. Mendampingi mereka sampai dewasa
d. Menagajak untuk pertemuan rutin
e. ………
10.Selama anda bersama anak baptis anda, apa harapan anda untuk anak baptis
atau katekumen yang anda dampingi………
a. Menjadi pribadi Kristiani yang setia dan tanggung jawab
b. Menjadikan pribadi yang beriman pada Kristus dan menjadikan Kristus
sebagai pusat dalam hidupnya.
c. Menjadi pribadi yang mampu bertumbuh sendiri dalam iman
d. Menjadi pribadi yang sukses dan berhasil dalam masadepannya
e. ……….
(7)
a. Menyediakan diri
b. Dipilih oleh calon baptis
c. Ditunjuk oleh ketua lingkungan
d. Dipilih oleh orang tua anak baptis
e. ………..
12.Apa yang mendorong anda sehingga menerima tanggung jawab sebagai wali
baptis?
a. Semata-mata karena kewajiban yang ditugaskan oleh orang lain
b. Merasa perlu untuk melibatkan diri dalam Gereja
c. Karena sangat ingin mendampingi katekumen agar mampu memiliki iman
yang kuat ditengah tantangan jaman
d. Sudah menjadi kewajiban menjadi orang katolik siap ditunjuk untuk
menjadi apapun
e. ……….
13.Segi mana yang menarik anda menerima tanggung jawab untuk menjadi wali
baptis?
a. Kesadaran akan tugas sebagai orang Kristiani
b. Ingin memperdalam pengalaman iman anda sebagi seorang Kristiani.
c. Tanggung jawab sebagai Wali Baptis merupakan kesempatan istimewa
untuk ikut mengambil bagaian dalam hidup menggereja.
d. Merasa awet muda karena bergaul dengan katekumen yang usianya lebih
muda dibawah saya.
e. ……….
14.Menurut anda sampai berapa lama anda akan menjadi Wali Baptis?
a. Selama Hidup
b. Selagi masih bisa dihubungi
c. Selama masa persiapan sampai Krisma
d. Selagi anak baptis rajin menghubungi anda
e. Selama masa persiapan sampai baptis
15.Apa yang mendukung anda dalam proses pendampingan yang anda
(8)
a. Suasana keluarga anda
b. Calon baptis menerima kehadiran anda untuk mendampinginya
c. Antara anda dan calon baptis sudah lama saling mengenal
d. Semangat untuk melayani dan memberikan diri untuk Tuhan
e. ……….
16.Apa yang menghambat anda dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai
wali baptis?
a. Keterbatasan Waktu
b. Rasa malas
c. Kehadiran wali baptis belum dirasa penting oleh calon baptis
d. Belum jelas apa peran wali baptis
e. ………..
17.Keteladanan apa yang sampai saat ini anda coba tawarkan kepada katekumen
atau anak baptis dalam hidup anda?
a. Menjadi aktifis paroki yang giat
b. Tabah dalam menjalani kesulitan dan masalah hidup
c. Menjadi orang yang rajin berdoa
d. Selalu mengikuti kegiatan lingkungan dengan rajin
e. ………..
18.Setelah penerimaan Sakramen Baptis, usaha-usaha apa yang telah anda
lakukan untuk memperdalam iman neofit/baptisan baru?
a. Melibatkan neofit kedalam kegiatan jemaat
b. Penambahan informasi mengenai iman Katolik melalui bacaan rohani
c. Melepaskan sama sekali
d. Menganggap neofit sebagai anak sendiri dan perlahan-lahan memberikan
pendidikan iman didalam perjumpaan sehari-hari
e. ………
19.Bila anda merasa bahwa seorang wali baptis itu penting, apa yang anda
usulkan untuk paroki mengenai keberadaan wali baptis saat ini?
a. Dikumpulkan dan diberi pengarahan
(9)
c. Didata dan diberikan tanggung jawab yang jelas
d. Diadakan pertemuan rutin
e. ……….
20.Usulan konkrit apa yang anda ajukan untuk meningkatkan peranan anda?
(10)
Lampiran 6: Kuesioner Penelitian untuk Remaja
Petunjuk soal:
a. Teman-teman remaja diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah
ini sesuai dengan pendapat dan kenyataan yang sudah teman-teman alami
selama ini bersama wali baptis dengan cara memberikan tanda centang (√)
pada kolom yang disediakan. Contoh: Saya sudah dipermandikan.
Setuju |__√_|___|___|___|___| Tidak Setuju
b. Teman-teman dalam mengisi kuisioner ini diharapkan berdasarkan kenyataan
yang ada dan dialami selama ini.
Kuesioner
1. Wali Baptis adalah seorang yang beriman Katolik, baik ia laki-laki maupun
perempuan, yang sudah dewasa uasia dan imannya yang ditunjuk untuk mendampingi proses perkembangan iman orang yang dibaptis, baik kanak-kanak maupun orang dewasa.
Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
2. Wali Baptis adalah Bapa Rohani.
Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
3. Seseorang yang dibaptis harus memiliki Wali Baptis.
Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
4. Wali baptis saya adalah seorang yang sudah dewasa dalam iman dan bukan
saudara.
Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
5. Wali baptis saya berusia lebih dari 20 tahun.
Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
6. Saya selalu disapa oleh Wali Baptis saya.
Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
7. Wali baptis saya selalu memberikan dorongan agar saya semakin rajin
beribadah dan serius dalam belajar.
(11)
8. Saya tidak segan untuk bercerita kepada Wali Baptis saya ketika sedang
mengalami masalah.
Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
9. Saya sangat mengenal siapa Wali Baptis saya karena saya sering berkunjung
kerumah Wali Baptis untuk bimbingan Rohani. Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
10. Wali Baptis saya sudah menjalankan tugasnya dengan baik yaitu
membimbing saya dan selalu mengingatkan saya ketika saya mulai bimbang. Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
11. Saya tidak malu ketika bertemu dengan Wali Baptis.
Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
12. Wali Baptis saya orang yang sudah saya kenal dan dekat dengan saya jadi
saya tidak merasa kenberatan apabila ingin sharing pengalaman. Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
13. Saya tidak tahu siapa Wali Baptis saya karena saya belum pernah dikenalkan.
Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
14. Saya malu untuk pergi ke Wali Baptis karena belum begitu kenal.
Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
15. Saya tidak suka dengan Wali Baptis karena bisanya hanya ceramah dan
mengatur-ngatur saya.
Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
16. Saya berharap mengenal Wali Baptis saya.
Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
17. Hendaknya diadakan pertemuan rutin minimal sebulan sekali dengan Wali
Baptis.
Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
18. Saya ingin Wali Baptis saya selalu menyapa dan mengingatkan saya ketika
saya mulai goyah.
Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
19. Saya ingin diadakan Katekese bersama Wali Baptis sehingga tercipta suasana
(12)
Setuju |___|___|___|___|___| Tidak Setuju
20. Usulan konkrit yang saya ajukan berkaitan dengan peran wali baptis untuk
meningkatkan semangat keterlibatan saya dalam hidup menggereja adalah……