• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. PENUTUP

B. Saran

Penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberi sumbangan dalam upaya meningkatkan pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik di sekolah SMP Negeri 1 Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Pokok-pokok Pendidikan Agama Katolik di sekolah tidak hanya dipandang sebagai teori saja tetapi diharapkan sungguh-sungguh dipahami dan terlaksana oleh guru Pendidikan Agama Katolik di sekolah. Selain itu, guru Pendidikan Agama Katolik mengadakan kemping rohani yang dilaksanakan setiap akhir semester agar siswa mensharingkan pengalaman mereka selama mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Katolik di kelas dengan suasana nyaman dan santai. Guru Pendidikan Agama Katolik juga membentuk suatu paguyuban untuk siswa kelas VIII agar mereka semakin aktif dalam kegiatan Gereja misalnya kelompok koor, mazmur, Pembinaan Iman Anak (PIA). Oleh sebab itu, penulis mengusulkan agar silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) bisa menjadi salah satu contoh pembelajaran yang bisa diterapkan di kelas VIII SMP Negeri 1 Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

       

DAFTAR PUSTAKA

Agoes Dariyono. (2003). Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta: PT Grasindo Anggota Ikapi

Banawiratma, J. B. (1991). Iman, Pendidikan dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: Kanisius

Dapiyanta, FX. (2011). Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di Sekolah.Yogyakarta: USD

Groome, Thomas H. (2010). Christian Religious Education. Jakarta: Gunung Mulia

Heryatno Wono Wulung, FX. (2008). Pokok-Pokok Pendidikan Agama Katolik di Sekolah. Yogyakarta: USD

Hofmann, Ruedi. (1994). Naratif Eksperiensial. Yogyakarta: Komisi Kateketik KWI

Hurlock, Elizabeth B. (1980). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga KWI. (1990). Berita Komisi Kateketik KWI. Yogyakarta: Ekawarta ____ (1996). Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius

____ (2007). Persekutuan Murid-Murid Yesus Pendidikan Agama Katolik untuk SMP Buku Guru 2. Yogyakarta: Kanisius

____ (2010). Pendidikan Agama Katolik Membangun Komunitas Murid Yesus untuk SMP Kelas VIII. Yogyakarta: Kanisius

Mintara Sufiyanta, A. (2010). Sang Guru Sang Penziarah, Spiritualitas Guru Kristiani.Jakarta: Obor

____ (2012). Jalan Sang Guru, Spiritualitas Guru Kristiani. Jakarta: Obor

Moleong, Lexy J. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Posdakarya

Singgih Gunarsa, D (1981). Perkembangan Anak. Jakarta: Gunung Mulia

Siti Rahayu Haditono. (1989). Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Syukur Dister, Nico. (1989). Psikologi Agama. Jakarta: B. P. K. Gunung Mulia Sugiyono. (2013). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta

Supratiknya, A. (1995). Teori Perkembangan Kepercayaan Karya-Karya Penting James W. Fowler. Yogyakarta: Kanisius

Suradibrata. P. (1984). Pelayanan Iman Melalui Pendidikan. Yogyakarta: Kolese St. Ignasius

Sumarno DS, M. (2008). Teori Pendidikan Agama Katolik Paroki. Yogyakarta: USD

Vugts. J. C. (1968). Pokok-Pokok Pengajaran Agama Katolik. Bogor: Sekolah Grafika Jatna Juana

   

Lampiran 4 : Kuesioner Penelitian

1. Identitas Responden :

Nama :

Kelas :

Hari/Tanggal :

2. Petunjuk Pengisian Angket

a) Mohon dengan hormat bantuan dan kesediaan siswa/i untuk menjawab seluruh pertanyaan yang tersedia.

b) Bacalah dengan seksama pertanyaan-pertanyaan yang tersedia sebelum anda menjawab

c) Berilah tanda lingkar (O) pada kolom yang siswa/i pilih sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Misalnya :

NO PERTANYAAN SS S TS N STS

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Mata pelajaran Pendidikan

Agama Katolik di sekolah sangat menyenangkan

5 4 3 2 1

3. Ada lima (5) alternatif jawaban yang tersedia untuk menjawab pertanyaan yang terdapat dalam tabel, yaitu :

SS : Sangat Setuju N : Netral

S : Setuju STS : Sangat Tidak Setuju

TS : Tidak Setuju  

   

NO PERTANYAAN SS S TS N STS

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

1 Materi Pendidikan Agama Katoli disampaikan oleh guru dengan penuh kreativitas

5 4 3 2 1

2 Guru Pendidikan Agama Katolik mengajarkan tentang karya Yesus di dunia agar siswa semakin mengenal dan mencintai Yesus

5 4 3 2 1

3 Guru Pendidikan Agama Katolik mendampingi siswa dengan senang hati

5 4 3 2 1

4 Guru Pendidikan Agama Katolik tidak memberikan banyak kesempatan kepada siswa untuk mensharingkan pengalaman mereka

5 4 3 2 1

5 Guru Pendidikan Agama Katolik tidak menempatkan siswa sebagai subjek pada saat mengajar di kelas

5 4 3 2 1

6 Pendidikan Agama Katolik merupakan komunikasi iman

5 4 3 2 1 7 Pendidikan Agama Katolik

membantu perkembangan iman siswa menjadi lebih matang

5 4 3 2 1

8 Pendidikan Agama Katolik membantu siswa semakin mengimani Yesus sebagai anak Allah

5 4 3 2 1

9 Siswa mengenali kehadiran Allah melalui refleksi pengalaman hidupnya

5 4 3 2 1

10 Pengalaman hidup membawa siswa untuk berkembang dalam pikiran, perbuatan, dan iman

5 4 3 2 1

11 Siswa terlibat aktif dalam kegiatan Gereja sehingga mampu membantu perkembangan iman menjadi lebih matang

5 4 3 2 1

12 Pendidikan Agama Katolik membantu perkembangan siswa melalui interaksi dengan lingkungan sekitar dalam kehidupan sehari-hari

5 4 3 2 1

13 Pada saat proses belajar mengajar di kelas ada jarak antara guru

Pendidikan Agama Katolik dan siswa

5 4 3 2 1

14 Guru Pendidikan Agama Katolik tidak mengenal siswa secara personal

15 Guru Pendidikan Agama Katolik menyampaikan materi pelajaran dengan jelas pada saat mengajar

5 4 3 2 1

16 Tersedianya fasilitas yang memadai pada saat proses belajar mengajar berlangsung

5 4 3 2 1

17 Guru Pendidikan Agama Katolik memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif pada saat belajar di kelas

5 4 3 2 1

18 Proses penyampaian materi Pendidikan Agama Katolik di kelas kurang menyenangkan

5 4 3 2 1

19 Suasana kelas waktu pembelajaran Pendidikan Agama Katolik kurang mendukung pada saat proses pembelajaran

5 4 3 2 1

20 Siswa malas mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Katolik

5 4 3 2 1                              

Lampiran 5 : Pertanyaan Wawancara Guru PAK

Soal Wawancara Untuk Guru PAK

1. Apakah menurut anda PAK di sekolah sudah terlaksana dengan baik? Jelaskan jawaban anda!

2. Apakah menurut anda tujuan PAK di sekolah sudah tercapai atau belum? Apa sebab-sebabnya?

3. Mengapa PAK di sekolah perlu lebih mengutamakan perkembangan iman siswa daripada penguasaan materi PAK?

4. Menurut pengamatan anda adakah perbedaan sikap antara siswa yang beragama Katolik dengan siswa yang beragama lain? Mengapa demikian? 5. Apakah anda melihat bahwa siswa sudah aktif dalam kegiatan menggereja?

Apakah penyebabnya? Apa perlunya anak-anak aktif?

6. Bagaimana cara guru PAK memotivasi siswa agar terlibat aktif dalam kegiatan Gereja?

7. Apa saja faktor-faktor pendukung dalam proses pembelajaran PAK di sekolah?

8. Apa yang menjadi faktor-faktor penghambat dalam proses pembelajaran PAK di sekolah?

Lampiran 6: Hasil wawancara Guru Pendidikan Agama Katolik

HASIL WAWANCARA GURU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

1) Hasil wawancara dari pertanyaan no. 1 menyatakan bahwa Pendidikan Agama Katolik di sekolah sudah dilaksanakan guru secara maksimal sesuai dengan kebutuhan siswa pada saat di kelas. Hal ini terbukti pelajaran Pendidikan Agama Katolik di sekolah dilaksanakan rutin setiap minggunya selama 2 jam pelajaran yaitu kelas VII, VIII, dan IX. Guru Pendidikan Agama Katolik juga memberi tugas berupa pekerjaan rumah (PR) agar siswa semakin memahami materi Pendidikan Agama Katolik yang telah disampaikan oleh guru sehingga siswa semakin terbantu dalam perkembangan iman mereka. Data ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan Pendidikan Agama Katolik di sekolah sudah dilaksanakan oleh guru Pendidikan Agama Katolik sesuai dengan kebutuhan siswa di kelas. Guru Pendidikan Agama Katolik secara rutin memberikan pelajaran Pendidikan Agama Katolik setiap minggunya dan memfasilitasi siswa agar mereka semakin berkembang menjadi lebih baik sehingga Pendidikan Agama Katolik di sekolah terlaksana secara maksimal. Tentu saja agar siswa semakin terbantu dan memahami pentingnya Pendidikan Agama Katolik dalam kehidupan mereka. Selain itu, guru Pendidikan Agama Katolik dengan sepenuh hati membantu siswa untuk berkembang menjadi lebih baik melalui materi yang diberikan.

2) Hasil wawancara dari pertanyaan no. 2 menyimpulkan bahwa tujuan Pendidikan Agama Katolik di sekolah sudah tercapai yaitu membantu memperkembangkan iman siswa. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu pertama, pada saat memberikan materi Pendidikan Agama Katolik guru menggunakan media gambar, cerita, dam film sehingga siswa memahami materi yang diberikan. Kedua, sekolah bekerjasama dengan Gereja untuk

melibatkan siswa dalam kegiatan Gereja misalnya koor, mazmur, lektor, dan misdinar. Kedua faktor tersebut mampu membantu iman siswa berkembang sehingga tujuan Pendidikan Agama Katolik di sekolah terlaksana dengan baik. Wawancara menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Katolik di sekolah bertujuan untuk membantu perkembangan iman siswa. Terlihat jelas bahwa tidak hanya materi saja yang disajikan secara menarik akan tetapi sekolah juga melibatkan siswa secara langsung dalam kegiatan Gereja. Tentu saja pemahaman siswa tentang Pendidikan Agama Katolik diterapkan melalui kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah. Keduanya saling mendukung dalam perkembangan iman siswa.

3) Hasil wawancara dari pertanyaan no. 3 menyatakan bahwa Pendidikan Agama Katolik di sekolah lebih mengutamakan perkembangan iman siswa daripada penguasaan materi karena perkembangan iman siswa tidak hanya dilihat dari perkembangan akademik saja tetapi juga dilihat dari sikap dan perbuatannya sehari-hari. Pendidikan Agama Katolik diharapkan membantu siswa untuk berkembang menjadi lebih baik terutama dalam sikap dan perbuatan terhadap teman di sekolah dan orangtua di rumah. Hal ini menunjukkan bahwa iman siswa berkembang tidak hanya di sekolah tetapi juga di rumah. Pada saat di rumah perkembangan iman siswa terlihat dari cara siswa tersebut berperilaku kepada orangtua. Siswa bersikap hormat dan berbicara sopan kepada orangtua serta taat terhadap peraturan yang ada di rumah. Oleh sebab itu, Pendidikan Agama Katolik di sekolah lebih mengutamakan perkembangan iman daripada penguasaan materi. Akan tetapi bukan berarti materi Pendidikan Agama Katolik diabaikan karena materi Pendidikan Agama Katolik dapat mendukung proses perkembangan iman siswa.

4) Hasil wawancara dari pertanyaan no. 4 menyatakan bahwa ada perbedaan antara siswa yang beragama Katolik dengan siswa yang beragama lain. Hal ini terlihat jelas pada saat mereka berada di lingkungan sekolah. Siswa yang

beragama Katolik mempunyai kepekaan yang kuat apabila melihat guru yang membutuhkan bantuan mereka. Selain itu, siswa yang beragama Katolik sudah mempunyai kesadaran dari dalam dirinya untuk menghormati orang yang lebih tua dan bersikap sopan apabila berbicara dengan orang lain. Tentu saja ini dilatarbelakangi oleh keluarga di rumah terutama orangtua. Orangtua memberi nasehat dan membantu siswa agar mampu berperilaku baik. Wawancara menunjukkan bahwa siswa yang beragama Katolik sudah mempunyai pondasi yang kuat dari dalam dirinya. Ketika mereka berada di lingkungan sekolah, siswa tersebut bisa mengendalikan diri dalam bersikap terutama dengan teman dan guru.

5) Hasil wawancara dari pertanyaan no. 5 menunjukkan bahwa siswa sudah terlibat aktif dalam kegiatan Gereja. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu pertama, kegiatan yang diselenggarakan oleh Gereja menarik bagi siswa sehingga mereka sangat antusias dalam mengikuti kegiatan tersebut. Kedua, dalam setiap kegiatan Gereja siswa dilibatkan langsung misalnya pada saat dekorasi sehingga mereka mempunyai pengalaman yang mengesankan. Siswa sangat perlu untuk terlibat aktif dalam kegiatan Gereja karena siswa akan menjadi tulang punggung Gereja sehingga mereka diajarkan bagaimana bertanggungjawab dalam melaksanakan kegiatan. Data ini menunjukkan bahwa sekolah dan Gereja saling berkerjasama dalam membantu siswa untuk berkembang baik dalam pikiran, perbuatan, dan iman. Kegiatan tersebut melatih siswa agar mempunyai pengalaman bagi masa depan mereka sebagai generasi penerus Gereja.

6) Hasil wawancara dari pertanyaan no. 6 menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Katolik memotivasi siswa dengan berbagai cara agar siswa terlibat aktif dalam kegiatan Gereja. Pertama, siswa diberikan gambaran tentang karya-karya Yesus di dunia agar siswa termotivasi untuk terlibat aktif dalam kegiatan Gereja. Kedua, guru Pendidikan Agama Katolik memberikan penghargaan berupa rosario kepada siswa yang mempunyai prestasi misalnya

juara lomba koor dan lomba Kitab Suci. Ketiga, guru mendekati siswa secara personal apabila ada siswa yang belum terlibat aktif dalam kegiatan Gereja serta memberikan arahan. Hal ini menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Katolik sungguh-sungguh berusaha untuk membantu siswa agar mereka mempunyai kesadaran dari dalam dirinya bahwa sangat penting melibatkan diri dalam kegiatan Gereja. Selain itu, guru Pendidikan Agama Katolik juga memberikan kesempatan untuk siswa mengembangkan bakat-bakat mereka. Bakat yang siswa miliki sangat bermanfaat bagi kemajuan Gereja misalnya koor, mazmur, lektor, dan misdinar.

7) Hasil wawancara dari pertanyaan no. 7 menunjukkan bahwa ada 4 faktor pendukung dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di sekolah yaitu pertama, 70% siswa di SMP Negeri 1 Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat beragama Katolik sehingga sangat mendukung untuk pembelajaran Pendidikan Agama Katolik. Kedua, 50% guru-guru SMP Negeri 1 Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat beragama Katolik jadi tidak mengalami kesulitan apabila melakukan kegiatan. Ketiga, sekolah melaksanakan Iman dan Taqwa (IMTAQ) yang rutin dilaksanakan setiap hari jumat sebelum masuk kelas jam 06.30. Keempat, tugas-tugas siswa tidak hanya tugas sebagai murid di sekolah tetapi mereka juga mendapat tugas untuk koor di Gereja, membaca Kitab Suci, dan misdinar di Gereja. Data ini menunjukkan bahwa banyak faktor yang mendukung dalam pembelajaran Pendidikan Agama Katolik sehingga siswa sangat terbantu untuk berkembang. Sekolah tidak hanya memberikan materi Pendidikan Agama Katolik tetapi juga mengadakan kegiatan agar siswa terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Selain itu, guru Pendidikan Agama Katolik juga mendapat dukungan dari guru-guru yang lain dalam melaksanakan kegiatan di sekolah.

8) Hasil wawancara dari pertanyaan no.8 menyatakan bahwa ada 2 faktor penghambat dalam proses pembelajaran yaitu pertama, kurangnya minat siswa dalam proses pembelajaran artinya ada sebagian siswa menganggap

bahwa pelajaran Pendidikan Agama Katolik hanya sebatas belajar di sekolah. Kedua, siswa kurang terlibat aktif sehingga hanya beberapa orang saja tetapi siswa yang kurang terlibat aktif bukan berasal dari daerah Sepauk sehingga merekapun dalam menjalankan proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di sekolah hanya sebatas belajar. Hal ini menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Katolik perlu melakukan pendekatan secara personal terhadap masing-masing siswa. Hal ini diharapkan dapat membantu berbagai kesulitan baik dari dalam diri maupun dari luar diri siswa. Mengingat tidak semua siswa berasal dari daerah Sepauk sehingga mereka perlu dilakukan pendekatan.

Lampiran 7 : Nama-nama siswa-siswi Kelas VIII SMP Negeri 1 Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat

1. Leni Marlina 2. Margareta Ita 3. Fransiska Nika 4. Priska Leberta Idot 5. Gabrilia Domita Sari 6. Veronika Alda 7. Ayek Sina

8. Natalia Nita Sasmita 9. Veronika Lena Melinda 10. Sumi Yati

11. Hendro

12. Crishtopy Dugarry 13. Indi Hermanto

14. Alexsander Candrawati 15. Blasius Yodi Diatamas 16. Sabina Balon 17. Elma Tiana 18. Yosepha Rani 19. Mida 20. Yuliana 21. Mega 22. Devensius Hengky 23. Meriyani 24. Martina Sugiarti 25. Supardi

26. Donius Niko 27. Yanki 28. Sudirman

29. Silvanus Anes Andry 30. Petrus Cuuk

Dokumen terkait