• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2. Saran

5.2.2. Saran Praktis

Peran kompetensi budaya dan sikap mindfulness dalam intercultural

friendship antara mahasiswa Indonesia dengan Jerman dan Inggris bisa

ditambahkan pembahasan mengenai bahasa sebagai faktor penting dalam menjalin hubungan pertemanan. Pembahasan mendalam tentang bahasa yang memiliki makna dan arti tertentu dari budaya yang berbeda akan meningkatkan rasa saling pengertian dan pemahaman.

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Bungin, Burhan. 2007. PENELITIAN KUALITATIF: KOMUNIKASI, EKONOMI,

KEBIJAKAN PUBLIK , DAN ILMU SOSIAL LAINNYA. Ed. 2. Jakarta:

Kencana

Bungin, Burhan. 2008. PENELITIAN KUALITATIF: KOMUNIKASI, EKONOMI,

KEBIJAKAN PUBLIK DAN ILMU SOSIAL LAINNYA. Ed, 6. Jakarta:

Kencana Media Group.

Creswell, John W. 2014. Research Desaign: Qualitative, Quantitative and Mix

Methods Approaches. Edisi Keempat. California: SAGE Publications, Inc.

Deardorff, Darla K. 2009. The SAGE handbook of intercultural competence. Singapura: SAGE Publications Asia- Pacific Pte. Ltd.

Denzin, Norman K. Lincoln, Yvonna S. 2005. The SAGE Handbook of

Qualitative Research. Edisi Ketiga. California: Sage Publications, Inc.

DeVito, Joseph A. 2009. The Interpersonal Communication Book. Edisi Kedua Belas. Boston: Pearson Education Inc.

DeVito, Joseph A. 2014. The Interpersonal Communication Book. Edisi Ketiga Belas. Harlow: Pearson Education Limited.

Flick, Uwe. 2014. AN INTRODUCTION TO QUALITATIVE RESEARCH. Ed. 5. Singapura: SAGE Publications Asia-Pasific Pte Ltd.

Gudykunst, William B. ed. 2003. Cross-Cultural and Intercultural Communication. California: Sage Publications.

Gungor, Ayse. 2014. Symbols, Representation, Expression in the History of

Culture. Istanbul: DAKAM Publishing.

Kriyantono, Rachmat. 2009. Teknik Praktis Riset Komunikatif. Jakarta: Kencana Kriyantono, Rachmat. 2009. TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI:

DISERTAI CONTOH PRAKTIS RISET MEDIA, PUBLIC RELATIONS,

ADVERTISING, KOMUNIKASI ORGANISASI, KOMUNIKASI

PEMASARAN. Ed. Pertama. Jakarta: Kencana

Kuncaraningrat, 2004. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia/ oleh

Koentjaraningrat dkk. Jakarta: Djambatan

Littlejohn, Stephen W., Foss, Karen A. 2014. Teori Komunikasi. Ed. 9. Jakarta: Salemba Humanika.

Miller, Katherne. 2005. COMMUNICATION THEORIES: PERSPECTIVES,

PROCESS, AMD CONTEXTS. Singapura: Mc Graw- Hill Education

(Asia).

Moelong, Lexy. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Ed. Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Deddy. 2010. KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA: Pemikiran,

Perjalanan dan Khayalan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Deddy., Rakhmat, Jalaluddin. 2010. KOMUNIKASI ANTARBUDAYA:

Panduan Berkomunikasi dengan Orang- Orang Berbeda Budaya.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Deddy. 2013. METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF: Paradigma

Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: PT Remaja

Rosdakarya.

Prof. Dr. Emzir, S. Pd. 2012. Analisis Data: Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers.

Salam, Muslim. 2011. Dialog PARADIGMA METODOLOGI PENELITIAN

SOSIAL. Makassar: MASAGENA PRESS.

Samovar, Larry., Porter, Richard E., McDaniel, Edwin R. 2009. Intercultural

Communication: A Reader. Edisi 12. Boston: Wadsworth Cangage

Learning.

Samovar, Larry., Porter, Richard E., McDaniel, Edwin R. 2010. Komunikasi

Lintas Budaya. Ed. 7. Jakarta: Salemba Humanika.

Savaneli, Bidzina. 2016. Mediterranean Journal of Social Sciences. Italia: MCSER.

Sihabudin, Ahmad. 2013. KOMUNIKASI ANTARBUDAYA: Satu Perspektif. Jakarta: Bumi Aksara

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: CV. ALFABETA

Suyanto, Bagong dan Sutinah. 2011. METODE PENELITIAN SOSIAL:

BERBAGAI ALTERNATIF PENDEKATAN. Ed. Revisi. Jakarta: Kencana

West, Richard., Turner, Lynn H. 2010. INTRODUCING COMMUNICATION

THEORY: Analysis and Application. Ed. 4. New York: McGraw- Hill .

Yin, Robert K. 2013. Studi Kasus: Desain dan Metode. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

ONLINE

Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa. 2008. “Kamus Besar Bahasa Indonesia”. Badanbahasa.kemdikbud.go.id. Diakses pada 19 Juli 2016.

http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/index.php

Direktorat Jenderal Multilateral, Kementerian Luar Negeri. 2011. Direktori

Organisasi Internasional Non- Pemerintah (OINP) di Indonesia. E-book.

Jakarta: Kementerian Luar Negeri. Diakses pada 24 Juli 2017.

http://www.kemlu.go.id/Buku/Direktori%20Organisasi%20Internasional% 20Non-Pemerintah%20di%20Indonesia.pdf

Mardolina, Yiska. 2015. Pola Komunikasi Lintas Budaya Mahasiswa Asing dengan Mahasiswa Lokal di Universitas Hasanuddin. Skripsi. Universitas Hasanuddin. Diakses pada 1 April 2017.

http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/15652

Mas’udah, Durrotul. 2014. Mindfulness dalam Komunikasi Antarbudaya. Skripsi. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Diakses pada 1 April 2017.

http://digilib.uin-suka.ac.id/13031/1/BAB%20I,%20IV,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf Pratiwi, Priska Sari. 2016. “Jumlah Warga Asing ke Indonesia Meningkat”.

Beritasatu.com. Diakses pada 19 Juli 2016.

http://www.beritasatu.com/nasional/349541-jumlah-warga-asing-ke-indonesia-meningkat.html

Spencer, Helen., Oatey. 2013. Mindfulness for Intercultural Interaction: A

Compilation of Quotations. E- Book. Inggris: GlobalPAD Open House.

Diakses pada 11 Juni 2017.

https://www2.warwick.ac.uk/fac/soc/al/globalpad/openhouse/interculturals kills/mindfulness.pdf

Ulpa, Maria. 2014. Akomodasi Komunikasi dalam Interaksi Antarbudaya. Skripsi. Universitas Syarif Hidayatullah. Diakses pada 26 Juli 2017.

http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/26875/3/MARIA %20ULPA-FDIKOM.pdf

Young, Shinzen. 2013. What is Mindfulness. E- Book. Diakses pada 19 September 2016. http://shinzen.org/Articles/WhatIsMindfulness_SY_Public.pdf

Peran Kompetensi Budaya dan Sikap Mindfulness dalam Intercultural Friendship

Pertanyaan:

Bagian I (Umum)

1. Siapakah nama Anda? 2. Berapakah usia Anda?

3. Apakah kewarganegaraan Anda?

4. Apakah latar belakang pendidikan Anda?

5. Berapa lama durasi Anda tinggal di Indonesia? (Opsional bagi pemuda Indonesia) Bagian II

1) Apa yang membuat Anda mengikuti projek exchange melalui organisasi AIESEC di Indonesia? 2) Sebutkan dan jelaskan prasangka, etnosentrisme dan atau stereotip yang Anda miliki pada

pemuda dari negara lain sebelum melakukan projek exchange?

3) Bagaimana Anda memaknai perilaku yang sopan dan keterusterangan dari teman beda budaya Anda? Perilaku komunikasi seperti apa yang mereka anggap sopan dan berterusterang? 4) Jelaskan pengalaman Anda mengenai penyertaan dan pengecualian selama Anda berteman

dengan pemuda dari negara lain. Bagaimana Anda memaknai penyertaan dan pengecualian? 5) Jelaskan pengalaman Anda mengenai kritik dan pujian selama Anda berteman dengan pemuda

dari negara lain. Bagaimana Anda memaknai kritik dan pujian?

6) Jelaskan pengalaman Anda mengenai ketegasan yang dialami selama berteman dengan pemuda dari negara lain. Bagaimana Anda memaknai ketegasan yang dilakukan?

Sebutkan masalah komunikasi yang Anda alami bersama teman beda budaya dari negara lain. 7) Ketika Anda berkomunikasi dengan teman dari negara lain, jarak apa yang Anda pakai Intim,

personal, sosial atau publik?

8) Ceritakan pengalaman Anda berteman dengan pemuda dari negara lain mengenai sentuhan dan bagaimana Anda memaknainya?

9) Ceritakan pengalaman Anda berteman dengan pemuda dari negara lain mengenai tatapan mata dan bagaimana Anda memaknainya?

10) Ceritakan pengalaman Anda berteman dengan pemuda dari negara lain mengenai ekspresi wajah dan bagaimana Anda memaknainya?

11) Ceritakan pengalaman Anda berteman dengan pemuda dari negara lain mengenai waktu dan bagaimana Anda memaknainya? Termasuk manakah orientasi waktu yang Anda miliki? 12) Menurut Anda, bagaimana kebiasaan yang teman Anda lakukan jika dikaitkan dengan

individualis atau kolektivis?

13) Bagaimana Anda melihat dan memaknai high context dan low context? Jelaskan pengalaman Anda alami tentang high context dan low context.

14) Bagaimana Anda melihat dan memaknai budaya toleransi ambiguitas rendah dan tinggi? Jelaskan pengalaman Anda alami tentang budaya toleransi ambiguitas rendah dan tinggi.

15) Ceritakan pengalaman Anda berteman dengan pemuda dari negara lain mengenai pakaian dan bagaimana Anda memaknainya?

16) Perilaku mindless dan mindful apa yang kalian alami selama projek berlangsung?

17) Strategi komunikasi apa yang Anda lakukan dalam mengakomodasi perbedaan budaya selama projek berlangsung? Bagaimana Anda melakukannya?

18) Bagaimana Anda melihat peran kompetensi budaya yang dimiliki di antara Anda dan pemuda dari negara lain untuk mengatasi masalah komunikasi antarbudaya yang terjadi?

Interview Questions

1) What makes you join the exchange project through AIESEC organization in Indonesia?

2) Mention and explain about prejudice or ethnocentrism or stereotype that you have before do the

project for other youths from another country?

3) Mention communication problems that you experience along the project here and how you handle

that?

4) How do you understand about politeness and directness of communications from your intercultural

friends? How do you communicate politeness and directness? Tell your experience about politeness and directness with Indonesian youths.

5) How do you understand about inclusion and exclusion of communications from your intercultural

friends? How do you communicate inclusion and exclusion? Tell your experience about inclusion and exclusion with Indonesian youths.

6) How do you understand about giving critics and compliments from your intercultural friends? How do

you communicate the critics and compliments? Tell your experience about critics and compliments with Indonesian youths.

7) How do you understand about assertiveness from your intercultural friends? How do you

communicate assertiveness? Tell your experience about assertiveness with Indonesian youths.

8) What kind of distance that you use when you communicate with Indonesian youths, intimacy or

personal or social or public?

9) How do you understand about touching while you are communicating with Indonesian youths? Tell

your experience about touching when you are communicating.

10) How do you understand about eyes looking while you are communicating with Indonesian youths?

Tell your experience about eyes looking when you are communicating.

12) How do you understand about time orientations while you are communicating with Indonesian

youths? Tell your experience about touching when you are communicating. And what time orientation that you have (monochroic or polichronic)?

13) How do you understand about individualist and collectivist culture from your intercultural friends?

Tell your experience about individualist and collectivist with Indonesian youths.

14) How do you understand about high and low context from your intercultural friends? Tell your

experience about individualist and collectivist with Indonesian youths.

15) Tell me about your experience with friends from other countries about clothes and how do you interpret them?

16) What are the mindful and mindless actions that Indonesian friends have? Tell me about your

experience of mindful and mindless actions.

17) What strategy that you do when you are accommodating the culture differences? How do you do to

accommodate the culture difference?

18) How do you see the role of cultural competence that you and youth of other countries have to

Transkrip Wawancara

Narasumber : Natasya Helbert Hari/ Tanggal : Jumat/ 21 April 2017

Tempat : Perpustakaan Kampus IPMI Business School

R : Halo Tasya! Walaupun udah tau namanya, tapi boleh dikenalkan lagi nama lu, usia, kewarganegaraannya apa, sama latar belakang pendidikan dan durasi beraktivitas atau berkegiatan sama Annika ya?

N : Nama saya Natasya Helbert, terus usianya sekarang masih 20. Warga negara Indonesia, latar belakang pendidikan kuliah semester 6 jurusan Bisnis. Durasinya 6 minggu, eh atau durasi pas apa nih? Pas realize karena gue udah whatsapp?

R : Boleh yang di whatsapp juga. N : November 25 2016 udah mulai chat.

R : Pertama itu kenapa lu mau membuat projek ini, selain memenuhi tugas sebagai vice president dalam anggota AIESEC?

N : Apa ya? Mikir dulu hehehe. Karena sebenarnya Al Izhar udah maju gitu sekolah, tapi gue juga pikir kenapa ga bikin community development gitu- gitu juga kan. Jadi di sebelah Al Izhar ada RPTRA juga jadi gue pengen bikinnya, Al Izhar untuk ngajarin bahasanya dan leadership development anak- anak sekolahannya, sama terus di RPTRA lebih ke arah main- mainnya. Tadinya gue mikirnya walaupun TNnya mahal tapi harus ada community envolvement, tetap harus ada dampak ke sosialnya gitu kan. Karena berhubungan dengan SDG nomor 4, quality education, jadi waktu itu bikin planning udah berencana untuk buat ngajar di sekolah mahal tapi juga memberi dampak di masyarakat sekitarnya. R : RPTRA itu apa sih?

N : Ruang Publik Terbuka Ramah Anak atau Terpadu Ramah Anak gitu, lupa.

R : Itu yang kemarin di deket yang…

N : Iya, itu yang pas Global Village itu, di belakang Al- Izhar ada RPTRA. Jadi sehabis ngajar kita ke sana seminggu sekali. Terus ada lagi selain RPTRA, kita kunjungin komunitas Sahabat Anak setiap hari Rabu. Itu juga mereka itu

dulunya street kids gitu, kayak anak jalanan yang dikumpulin, disekolahin non-formal sih ngajarin bahasa Inggris dan matematika gitu.

R : Nah sebelum lu ketemu atau mengenal mereka atau berhubungan sama mereka, terutama Annika, ada ga sih prasangka atau prejudice atau stereotype atau bahkan etnosentris sama orang Jerman?

N : Itu maksudnya sebelum kontak- kontakan ya? R : Iya, sebelum itu.

N : Iya, ada.

R : Apa tuh contohnya?

N : Karena kan biasanya stereotipe orang Jerman keras, karena bokap gue juga dulu sekolah di Jerman. Jadi gue tau bokap gue orangnya keras kepala bangetlah, terus itu aduh, orangnya not friendly, yang susah disukain orang gitu. Terus harus tepat waktu, terus kalo mau ini ya harus ini, ya kayak ngotot gitu. Jujur gue awalnya takut tapi dalam hati juga senang karena dapet EP Jerman, wets culture ini bagus. Tapi susah nih kayaknya karena Eropa, termasuk Kem dari Inggris, malah gue awalnya paling takut sama Kem. Hehehe. Sekarang gue malah bersyukur karena ada Kem.

R : Kenapa?

N : Karena kalo denger- denger rumor dari anak AIESEC lain bilang kalo orang Eropa itu paling rempong, banyak maunya terus tepat waktu, detail. Mungkin Kem juga cowok jadi ditambah ga pake ikon pas balas, sedangkan Annika kash smiley gitu. Nah jadi kesannya gimana gitu sama Kem. Waktu awalnya gue berpikir orang Jerman itu keras gitu- gitu, tapi pas gue interview sama Annika, eh dia ramah minta ampun. Ketawa- ketawa mulu, waktu itu pas interview gue di IPMI, eh wifi-nya malah ngadat ngadat gitu, parah banget. Akhirnya gue nanya lewat whatsapp dan ucapin maaf karena masalah wifi. Terus gue bilang maaf maaf gitu, eh dia bilang, „It‟s okay, it‟s okay.‟ Wah ini orang baik banget nih. Pas waktu itu mau interview, gue bagi- bagi kan ke anggota lain dan gue dapat dua orang Jerman. Ada Annika sama Julia, di mana Julia beda banget, nah itu kenapa yang buat gue orang Jerman stereotipenya kayak gitu, yang tipikalnya Julia itu.

R : Oh si Julia lebih yang kayak stereotype lu?

N : Iya, kayak Julia gitu. Dia itu ga murah senyum dan kayak jawabannya biasa aja. Walaupun pengalaman dia bagus, gue ga terima dia karena dia ga friendly. Menurut gue friendly salah satu yang penting untuk terima EP. Sedangkan Annika friendly dan bisa diajak kerja sama gitu.

R : Terus pertanyaan selanjutnya. Ada ga sih suatu pengalaman yang membuat lu culture shock baik lu ke Annika atau dari yang lain.

N : Ga ada, hehehe apa ya. Bentar gue inget- inget dulu. Oh mungkin ini, ini bukan kaget banget sih tapi lucu aja. Kayak yang dari Jepang, mereka suka selfie- selfie gitu, terus ada ini.

R : Mereka bawa kamera atau gimana?

N : Jadi kamera selfie mereka bisa ada stiker- stiker lucu gimana gitu, katanya dia lagi ngetrend di sana. Nih ini- ini [menunjukkan foto], ini bukan kaget banget sih, kaget aja, alay- alay gitu. Lucu- lucuan gitu, orang Jepang dan China bilang kalo itu keren, ya gue bilang itu norak sih dalam hati. Hehehe.

R : Hahaha parah. Terus- terus? Kayak kebiasaan atau tindakan mereka gimana.

N : Oh kalo orang China, sebenarnya ga lebay- lebay banget sih. Hehehe. Kalo orang Jerman ga terlalu culture shock sih, mereka lebih detail gitu. Kayak dua minggu sebelumnya, mereka udah nagih jadwalnya gimana. Tapi mereka masih friendly, mungkin kebetulan juga kita dapat yang friendly. Bahkan Kem mau makan pake tangan kosong, awalnya Annika juga tapi akhir- akhirnya mereka mau coba. Kem itu kayak orang Indonesia banget. Gue main congklak loh sama Kem, dia malah lebih jago mainnya. Sebenarnya kan Kem keturunan orang Ghana, nah di sana itu ada culture yang mirip kayak mainan congklak katanya. Jadi dia bisa main sama gue gitu.

R : Jadi culture shock-nya yang lu miliki itu so so ya? Ga ada yang ngagetin? N : Iya, ga sih, gue pikir- pikir ga ada culture shock banget, biasa aja.

R : Nah, ini beranjak ke komunikasi verbal dan non- verball, tapi komunikasi verbal dulu. Tentang hal pertama itu kesopanan atau politeness sama directness. Menurut Tasya sendiri, si Annika itu orangnya polite ga sama direct atau ga? Dalam hal omongan ya.

N : Ngomong ya? Dia, sebenarnya dia polite bukan direct tapi kan orang Jerman tipikalnya direct harusnya kan, even gue orangnya direct gitu karena terpengaruh bokap hehehe. Kalo Annika itu orangnya nanya- nanya terus tapi habis itu dia minta maaf, itu masuknya gimana?

R : Polite sih kayak gitu.

N : Nah iya. Kalo Kem lebih ke direct sih, tapi dia ga pernah nunjukkin ga suka atau apa. Ga sih, dia selalu satisfied. Even, kita kan kasih survey, nah Kem direct bilang dia ga suka kenapa. Kalo Annika, „Everything is okay, great!‟

Hehehe. Kalo Kem tuh jujur, dia bilang ga sukanya di mana, terus kasih improve di mananya. Gara- gara Kem, ada masukan- masukan berguna gitu.

R : Kalo menurut lu, mereka terbiasa gitu ga sih di kehidupannya? N : Polite sama direct itu?

R : Kalo Kem tuh emang gitu ya, bukan karena dia lagi di Indonesia gitu kan?

N : Oh iya, Kem kayak gitu sih di sananya, menurut gue. Kalo Annika juga gitu sih, dari semenjak interview sama gue dia kan gitu juga, jadi ga berubah. Kem juga ga berubah sih, jadi sama aja kok.

R : Selanjutnya ke kritik dan pujian atau bahasa Inggrisnya criticize dan praise. Menurut Tasya, mereka lebih banyak yang mana? Terus kalo dibandingkan sama orang Indonesia gimana? Sebutin dong salah satu contoh dari keduanya, criticize sama praise itu.

N : Kalo Annika, apa ya, criticize nya, hem. Gue bingung deh, kayak dia ga pernah kritik gitu. Itu bukan kritik sih soalnya bahasa dia, misalnya „Jadwal besok udah ada belum, it would be better for me if I prepare before it‟. Kayak gitu kritikannya terhadap jadwal yang ga keluar tepat waktu gitu loh. Kalo praise-nya Annika, ya langsung aja gitu.

R : Banyak dong ya, praise- nya?

N : Banyak- banyak hahaha. Dia kayak „Thank you so much udah di-arrange acara ke Bandung. I love you guys.‟ Gitu- gitu lah pokoknya. Kalo Kem kritiknya paling, tapi kalo ini gue ga tau sih kritik atau apa ya, „Ga usah terlalu urusin gue, I don‟t want to repotin lu. Gue bisa sendiri kok, asal lu kasih tau caranya.‟ Hahaha kayak gitu- gitulah kata- katanya Kem. Kalo praise-nya, kayak „Nania, you did really good job to arrange the schedule!‟ ya gitu- gitu lah.

R : Kalo dibandingkan sama orang Indo gimana?

N : Orang Indo tuh macem- macem sih ya, gue juga bingung sih, hehehe. Tergantung orangnya sih, ada yang suka kritik tapi tergantung culture yang beda juga sih. Kalo gue itu emang orangnya blak- blakan, beda mungkin sama Jawa, lebih ke arah matur nuwun. Gitu- gitu kan, gue juga bingung beda- bedainnya. Hehehe.

R : Tapi kalo misalnya yang lu lihat secara general, kebiasaan orang Indonesia itu di dunia nyata atau maya, lebih banyak kritik atau pujian?

N : Kritik sih, kalo orang Indonesia. Hehehe, ga tau sih, kalo dari Line suka ada kritik- kritik suatu kejadian. Tapi kalo gue lihat medsos-nya Kem, malah mereka memuji kita. Lucunya gitu.

R : Malah kebalik ya? N : Iya hahaha.

R : Nah, selanjutnya tentang assertiveness. Ketegasan gitu, menurut lu komunikasi mereka yang seperti apa untuk menunjukkan ketegasan mereka gitu? Kayak dia maunya ini, ga marah sih tapi dia mempertegas dia maunya seperti itu atau gimana- gimana. Ada ga pengalaman seperti itu? Dan menurutmu, mereka tegas ga?

N : Annika ga sih.

R : Annika kayak berbeda dari Jerman lain ya? Hehehe.

N : Iya, emang dia one of kind dari orang Jerman yang berbeda gitu. Kalo misalnya Annika tegas pun, dia akhir- akhirnya kayak orang Indonesia, kayak minta maaf gitu- gitu loh. Nah kalo Kem itu beda, dia masih tegas atau assertive gitu loh. Kayak yang gue tadi gue bilang sih, dia bilang ga mau diurusin sama panitianya gitu gitu. Apa yang ada di otaknya, dia akan omongin gitu loh. Jadi kalo yang straight forward itu si Kem, kalo Annika tuh masih berpikir itu harus diomongin atau ga. Even menurut gue, kayaknya ada hal yang dia ga omongin ke gue tapi dia ngomong ke orang lain. Dia kayak ga enak sama gue gitu, kayaknya. R : Lucu ya si Annika, kayak orang Indonesia. Hehehe.

N : Iya emang, mirip orang Indonesia gitu malah. Hahaha.

R : Terus yang verbal lagi. Nah lebih ke arah, ada ga sih hal- hal yang

Dokumen terkait