BAB II KERANGKA PEMIKIRAN
2.2. Teori dan Konsep yang Digunakan
2.2.3. Teori Akomodasi
Komunikasi yang terjadi dalam setiap hubungan bertujuan dengan bisa menyampaikan pesan secara benar dan tepat. Saat menjalankan proses komunikasi, individu akan bertemu dengan lawan bicaranya yang memiliki latar belakang berbeda. Penyampaian pesan yang dilakukan biasanya disesuaikan dengan lawan bicara yang dihadapi, agar pesan yang dimaksudkan bisa dipahami.
Di situlah terjadi adaptasi yang lebih kompleksnya disebut akomodasi. Seperti dalam Littlejohn dan Foss (2014, h. 224) menyebutkan bahwa teori akomodasi meletakkan dasar pengenalan berbagai jenis penyesuaian dan hubungannya, tetapi fenomena ini sebenarnya merupakan bagian dari sebuah proses adaptasi dalam interaksi yang jauh lebih kompleks.
Littlejohn dan Foss (2014, h. 222) menjelaskan bahwa teori ini dirumuskan oleh Howard Giles dan para koleganya, teori akomodasi menjelaskan bagaimana dan kenapa kita menyesuaikan perilaku komunikasi kita terhadap tindakan orang lain. Gallois, dkk (1995, dikutip dalam Gudykunst, 2003, h. 26) mengatakan bahwa teori akomodasi komunikasi mengarah pada memahami interaksi antara individu dari grup berbeda dengan menilai bahasa, kebiasaan non verbal dan penggunaan paralanguage individu. Dalam West dan Turner (2010, h. 467) menjelaskan mengenai akomodasi yang didefinisikan sebagai kemampuan menyesuaikan, memodifikasi atau mengatur perilaku seseorang dalam menanggapi orang lain. Dalam Deardorff (2009, h. 25), teori akomodasi komunikasi termasuk dalam sebuah proses adaptasi yang menyangkut tentang sebuah identitas seseorang, direpresentasikan dengan solidaritas pada lawan bicaranya.
Asumsi yang terdapat dalam teori akomodasi dijelaskan oleh West dan Turner (2010, h. 469) yang mengingat bahwa akomodasi dipengaruhi jumah pelaku, situasi dan keadaan kebudayaan, berikut beberapa asumsi.
a) Ucapan dan kesamaan dan ketidaksamaan perilaku terdapat di seluruh percakapan
b) Sikap dalam kita mempersepsikan ucapan dan perilaku orang lain akan menentukan bagaimana kita mengevaluasi sebuah percakapan
c) Bahasa dan perilaku menyampaikan informasi tentang status sosial dan kepemilikan grup.
d) Beragam akomodasi memiliki tingkat kelayakan tersendiri, dan norma menuntun proses akomodasi.
Giles dan para koleganya dalam Littlejohn dan Foss (2014, h. 222) telah menetapkan sebuah pengamatan umum bahwa para pelaku komunikasi sering kali saling meniru perilaku. Mereka menyebutnya pemusatan (convergence), atau penyamaan. Kebalikannya, - pelebaran (divergence) – atau pemisahan terjadi ketika pembicara mulai melebih- lebihkan perbedaan mereka. Dalam West dan Turner (2010, h. 472), pilihan dalam percakapan yang terdapat dalam teori akomodasi komunikasi ialah konvergensi, divergensi dan overakomodasi.
Giles dan kolegasnya (1987, dalam West dan Turner, 2010, h. 473) menyimpulkan bahwa konvergensi biasanya secara kognitif dimediasi oleh stereotip kita dari bagaimana mengkategorisasi secara sosial apa yang dibicarakan oleh orang lain. Hal ini berarti bahwa orang akan mengkonvergensi menuju stereotip dibandingkan menuju ucapan dan perilaku yang sesungguhnya. West dan Turner (2010, h. 475- 476) menjelaskan mengenai divergensi bahwa terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan.
Pertama, divergensi tidak seharusnya disalahartikan sebagai sebuah usaha tidak sepakat atau tidak merespon komunikator lainnya. Divergensi tidak sama dengan tidak perhatian. Ketika seseorang berdivergensi, mereka telah memilih
secara sederhana untuk menjauhkan diri dari komunikator dan percakapan. Alasannya beragam. Dan menurut Giles (2008), tidak semua divergensi adalah persepsi yang negatif. Kedua, alasan orang berdivergensi menyangkut pada perbedaan kekuatan dan peran dalam percakapan. Divergensi sering berlangsung dalam percakapan ketika terdapat perbedaan kekuatan antara komunikator dan ketika ada perbedaan peran yang jelas dalam percakapan. Street (1991, dalam West dan Turner, 2010, h. 476) berkomentar bahwa salah seorang yang berkomunikasi memiliki status yang lebih bagus akan berbicara dalam waktu yang lebih lama, memprakarsai hampir seluruh topik pembicaraan, berbicara dengan pelan dan memiliki postur tubuh yang lebih rileks, dibandingkan dengan yang memiliki kekuatan lebih rendah.
Jane Zuengler (1991, dalam West dan Turner, 2010, h. 477) menemukan bahwa overakomodasi adalah istilah yang dikaitkan dengan orang- orang, yang meskipun bertindak dengan niat baik, tetapi sebagai gantinya menggurui atau merendahkan. Overakomodasi memiliki dampak membuat target merasa lebih buruk. Overakomodasi bisa muncul dalam tiga bentuk: sensory overaccommodation, dependency overaccommodation dan intergroup overaccommodation. Sensory overaccommodation biasa dipahami pada orang lain
yang dipersepsikan memiliki keterbatasan kemampuan (fisik, bahasa atau lainnya). Dependency overaccommodation berlangsung saat pembicara menempatkan pendengar dalam sebuah peran berstatus rendah. Intergroup
overaccommodation berlangsung ketika pembicara menempatkan pendengar
Pemusatan atau pelebaran dapat bersifat timbal balik (mutual), pelaku komunikasi dapat bersama atau terpisah, atau dapat bersifat nonmutual, di mana seseorang memusat dan yang lainnya melebar. Pemusatan juga dapat bersifat sebagian atau keseluruhan. Para peneliti penyesuaian menemukan bahwa penyesuaian penting dalam komunikasi. Hal ini dapat memberikan jati diri sosial dan mengikat atau pencelaan atau pengucilan. Littlejohn dan Foss (2014, h. 223) juga menuliskan bahwa kadang- kadang, daripada memusat, Anda memilih untuk mempertahankan gaya Anda atau benar- benar bergerak ke arah yang berbeda dari gaya lawan bicara Anda. Anda mungkin berusaha untuk mempertahankan gaya Anda sendiri ketika Anda ingin memperkuat jati diri Anda.
Dalam Miller (2005, h. 155) menjelaskan bahwa konvergensi membutuhkan persetujuan sosial yang biasa dipengaruhi oleh status sosial atau kekuatan yang dimiliki orang yang melakukan interaksi. Para ahli teori akomodasi menyatakan lebih dahulu bahwa konvergensi cenderung akan terjadi jika lawan interaksi memiliki status atau kekuasaan yang lebih tinggi. Tetapi konvergensi tidak bisa terjadi seperti itu di setiap saat. Sedangkan mengenai divergensi, Miller (2005, h. 156) menjelaskan bahwa divergensi sangat berkaitan dengan identitas. Pendekatan divergensi dijelaskan sebagai sarana seseorang untuk menekankan dan menetapkan hubungannya dengan kelompok sosial tertentu yang berbeda darinya. Bahkan divergensi bisa mengarah pada penghinaan terhadap sebuah kelompok tertentu jika tidak dilengkapi dengan pengertian antara orang yang saling berinteraksi.
Akomodasi komunikasi antarbudaya diperlukan untuk bisa menjembatani perbedaan budaya seperti yang dijelaskan sebelumnya. Perbedaan yang terdiri dari
komunikasi verbal dan non verbal serta orientasi waktu, budaya toleransi ambiguitas tinggi dan rendah, orientasi kolektivis dan individualis, konteks tinggi dan rendah juga cara berpakaian. Perbedaan komunikasi verbal yang diteliti yaitu kesopanan dan keterusterangan, penyertaan dan pengecualian, pemberian saran dan pujian, serta ketegasan. Perbedaan komunikasi non verbal yang diteliti yaitu jarak komunikasi, sentuhan dalam komunikasi, ekspresi wajah serta tatapan mata dalam komunikasi. Sehingga melalui penelitian ini, akan melihat bagaimana akomodasi yang terjadi dalam menghadapi perbedaan dalam berkomunikasi antarbudaya.