BAB II KERANGKA PEMIKIRAN
2.2. Teori dan Konsep yang Digunakan
2.2.2. Sikap Mindfulness
Komunikasi antar budaya sangatlah erat dengan mindfulness saat kita menjalin hubungan dengan budaya, etnis dan ras berbeda. Dalam penjelasan sub bab sebelumnya pun, telah disebutkan mengenai kesadaran diri (mindful) yang harus dimiliki ketika menjalin hubungan dari berbagai individu yang dijumpai. Young (2013, h. 14) menuliskan mengenenai mindfulness, seperti berikut.
The word mindfulness without further qualification can refer to any one or combination of three things: a form of awarenss, the practices that elevate that form of awareness, and the application of that awareness for specific perceptual and behavioral goals.
Sehingga mindfulness bisa dimengerti tentang kesadaran diri yang terjadi pada saat ini dan praktik dalam segala bentuk kesadaran. Kesadaran ini akan diaplikasikan pada persepsi dan kebiasaan tertentu. Young (2013, h. 15) juga menambahkan bahwa mindful awareness bisa terbangun melalui berbagai praktik. Salah satu yang cukup diketahui ialah “Noting” dan “Body Scanning”. Kemudian Young (2013, h. 21) menuliskan bahwa definisi yang sering ada mengenai
mindful awareness seperti berpusat pada waktu sekarang, perhatian yang tidak
menghakimi.
Definisi lain diungkapkan oleh Langer (1992 dikutip dalam Spencer- Oatey, 2013, h. 1) mindfulness merupakan sebuah keadaan sadar di mana individu menyadari konteks dan isi informasi secara implisit. Ini adalah keadaan keterbukaan pada kebaruan yang secara aktif individu lakukan dengan membangun kategori dan perbedaan. Sebaliknya, mindlessness ialah keadaan dari pikiran ditandai dengan keragaman kategori dan perbedaan yang ditarik di masa lalu dan, oleh karena itu, tidak menyadari aspek baru dari situasi sekitar.
Dalam Spencer- Oatey, juga dijelaskan karakteristik dari mindfulness dan
mindlessness. Langer (1989 dikutip dalam Spencer- Oatey, 2013, h. 2-3)
menjelaskan mengenai karakteristik mindfulness yaitu. a) Pembuatan kategori baru
Mindfulness berarti membuat kategori baru secara terus- menerus.
Pengkategorian dan mengkategori ulang, pelabelan dan pelabelan ulang sebagai satu keahlian di dunia yang merupakan proses alami bagi anak- anak.
b) Menerima informasi baru
Keadaan mindful juga terbuka pada informasi baru. Kekurangan informasi baru bisa berbahaya.
c) Lebih dari satu sudut pandang
Keterbukaan, bukan hanya pada informasi baru, melainkan pada perbedaan sudut pandang adalah salah satu ciri penting dari mindfulness. Saat kita menjadi sadar penuh akan pandangan orang lain dibandingkan dari kita sendiri, kita mulai menyadari bahwa terdapat berbagai sudut pandang dari pengamat berbeda.
Selain karakteristik mindfulness, Langer (1989 dikutip dalam Spencer- Oatey, 2013, h. 2) seperti berikut.
a) Terjebak dengan kategori
Mindlessness muncul saat kita terlalu bergantung pada kategori dan
perbedaan yang diciptakan di masa lalu. Begitu perbedaan tersebut diciptakan, keputusan diambil sesuai diri sendiri seumur hidup.
b) Tingkah laku otomatis
Kebiasaan, atau kecenderungan pada kebiasaan yang diulangi terus menerus, menunjukkan mindlessness. Bagaimanapun, kebiasaan
mindless bisa meningkat tanpa sebuah sejarah berulang, dalam
kenyataannya hampir secara seketika. c) Bertindak dari perspektif tunggal
Sering dalam kehidupan kita, kita bertindak seolah- olah hanya dari sebuah seperangkat aturan.
Dalam Spencer- Oatey (2013, h. 10) Ting- Toomey (1999) menuliskan bahwa sikap mindful dalam komunikasi antarbudaya menekankan pada pentingnya mengintegrasikan pengetahuan antar budaya, motivasi dan kemampuan antar budaya untuk mengelola isu- isu berbasis proses secara memuaskan dan mencapai tujuan interaktif yang diinginkan secara tepat dan efektif. Ting- Toomey (1999 dikutip dalam Spencer- Oatey, 2013, h. 11-12) menyebutkan bahwa sikap mindful yang dibutuhkan dalam komunikasi antarbudaya ialah mindful verbal and non verbal communication, mindful
observation dan mindful listening.
Mindful verbal and non verbal communication terdiri dari aplikasi
fleksibel, keterampilan interaksi adaptif. Adaptasi verbal dan non verbal menciptakan sinkronis interaksi positif. Sinkronisasi interaksi positif, dalam jangka panjang, memfasilitasi pengembangan kualitas hubungan antarbudaya. Hal itu menunjukkan keinginan dan komitmen kita dalam mempelajari perbedaan budaya lainnya. Hal itu menunjukkan kemampuan kita untuk mengubah pola pikir, tingkah laku dan tujuan dalam mempertemukan kebutuhan spesifik dari orang lain dan situasi yang ada. Hal itu memperlihatkan keinginan kita untuk memahami, menghormati dan mendukung identitas budaya orang lain dan cara berkomunikasi – dan melakukannya dengan sensivitas dan mindfulness.
Mindful observation terdiri dari analisis O-D-I-S (observe- desire- interpret- suspend evaluation). Kita harus mempelajari untuk mengobservasi
tanda- tanda verbal dan non verbal yang terjadi dalam komunikasi. Kemudian menjelaskan ke dalam penggalan khusus secara rohaniah dan perilaku saat berinteraksi. Lalu, kita harus menghasilkan beragam interpretasi untuk menjadi
masuk akal. Kita bisa memutuskan untuk menghormati perbedaan dan menangguhkan evaluasi etnosentris. Kita juga bisa memutuskan untuk terlibat dalam evaluasi terbuka dengan mengakui ketidaknyamanan kita terhadap perilaku yang tidak biasa.
Mindful listening menuntut kita memberikan perhatian bijaksana kepada
pesan verbal dan non verbal pembicara sebelum merespon atau mengevaluasi. Hal ini berarti mendengarkan dengan penuh perhatian menggunakan segenap indra kita dan mengecek secara responsif untuk keakuratan proses decoding makna dalam berbagai tingkatan. Mendengar secara mindful adalah sebuah keterampilan komunikasi antarbudaya yang penting untuk berbagai alasan. Pertama, mindful
listening membantu kita mengolah kerentanan emosional antara diri sendiri dan
perbedaan orang lain. Kedua, membantu kita meminimalisasi kesalahpahaman dan memaksimalkan pemahaman yang saling mengerti dalam menciptakan makna. Ketiga, mindful listening membantu kita menemukan bias persepsi kita sendiri dalam proses mendengar. Dengan mendengarkan secara sadar, kita mengirimkan pesan dukungan identitas berkelanjutan pada orang lain. Mindful
listening terdiri dari keterampilan mengamilisasi budaya yang sensitif dan
keterampilan mengecek persepsi.
Langer & Moldoveanu (2000 dikutip dalam Spencer- Oatey, 2013, h. 3) menuliskan mengena keuntungan dari mindfulness. Proses menggambar perbedaan baru dapat menyebabkan sejumlah konsekuensi penyelarasan, termasuk (1) kepekaan yang lebih besar pada lingkungan seseorang, (2) keterbukaan pada informasi baru, (3) pembuatan kategori baru untuk menata persepsi dan (4) peningkatan kesadaran akan banyaknya perspektif dalam pemecahan masalah.
Dalam Samovar, Potter dan McDaniel (2010, h. 464), meningkatkan kemampuan komunikasi antarbudaya langkah pertama dalam mengenal diri sendiri dimulai dengan budaya sendiri. Ingatlah, setiap orang melihat dunia ini melalui kacamata budaya mereka sendiri. Kim (2007) menyatakan setiap kita merupakan produk dari latar belakang budaya, termasuk gender, etnis, keluarga, usia, agama, profesi dan pengalaman hidup lainnya. Inventaris budaya memberikan kita wawasan yang berharga untuk memahami kepercayaan dan perilaku kita, nilai kita dan asumsi. Jadi, merupakan hal yang penting jika kita merefleksikan berbagai aspek identitas budaya kita sendiri dan mengamati pengaruh positif dan negatif dalam perkembangan pribadi dan profesional kita.
Gudykunst (2004 dikutip dalam Spencer- Oatey, 2013, h. 9) menuliskan mengenai mindfulness dan komunikasi antarbudaya, yang dipahami peneliti bahwa saat kita berkomunikasi dengan orang dari berbeda budaya, fokus seharusnya ditujukan selama proses terjadinya komunikasi antar budaya. Melalui fokus pada proses komunikasi dengan orang yang berbeda budaya, membuat kita secara sadar untuk membuat pilihan sehingga tercipta komunikasi yang efektif.