BAB V PENUTUP
C. Saran-saran
Setelah penulis menguraikan hal-hal tentang peran K.H Ahmad Sanusi dalam pendidikan Islam. Maka, saran-saran yang dapat penulis kemukakan agar sekiranya bisa menjadi manfaat, sebagai berikut:
1. Tidak hanya untuk mengetahui sosok K.H Ahmad Sanusi dan perannya dalam pendidikan Islam yang sangat gigih dalam perjuangannya, namun juga dapat menjadikan kaca perbandingan dalam kehidupan umat generasi penerus dan dapat terus menterdepankan pendidikan Islam.
2. Dan bagi umat seluruhnya dapat menjadikan K.H Ahmad Sanusi sebagai sosok ulama tradisional yang tidak tergerus oleh zaman, sebagai gambaran kehidupan seluruh manusia yang dapat membawa kebaikan bagi dirinya dan bagi orang lain di dunia maupun diakhirat kelak.
DAFTAR PUSTAKA
A. Yasin., Fatah, Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam, (Malang: UIN- Malang Press, Mei 2008), cet. 1.
Abdullah., Amin, Metodologi Penelitian Agama Pendekatan Multi Disipliner, (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semester, 2006).
Arief., Armai, Reformulasi Pendidikan Islam, (Jakarta: CRSD PRESS, April 2005).
_______, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, Juli 2002).
Danim., Sudarwan, Menjadi Peneliti Kualitatif, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2002).
Daud Ali., Muhammad, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005).
Daulay Putra., Haidar, Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional di
Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2004).
_______, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Islam di
Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007).
Falah., Miftahul, Riwayat Perjuangan K.H Ahmad Sanusi, (Masyarakat Sejarawah Indonesia: Maret 2009).
http://ahmadalim.blogspot.com/2010/08/kh-ahmad-sanusi.html, Diakses pada
tanggal 18 September 2013.
Jalaluddin dan Drs. Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam konsep dan
perkembangan Dr. Jalaluddin dan Drs. Usman Said, (Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada, 1996).
Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja grafindo Persada, 2002).
Langgulung., Hasan, Asas-asas Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Al-husna, cet.1, 1988).
_______, Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan Sekolah dan
Keluarga; Sebagai Pola Pengembangan Metodologi, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1978), cet.4.
_______, Kapita Selekta Pendidikan (Islam Dan Umum), (Jakarta: Bina Aksara, 1991).
Marimba D., Ahmad, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1980), cet. 4.
M. Subana dan Sudrajat, Dasar-dasar Penelitian Ilmiah, (Bandung,:Pustaka Setia, 1999).
Mohammad., Herry dkk, Tokoh-tokoh Islam Yang berpengaruh Adab 20, (Jakarta: Gema Insani Press, 2006).
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam , (Bandung:PT.Remaja Rosdakarya, 2002).
Nata., Abuddin , Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001).
_______, Filsafat Pendidikan Islam (Edisi Baru), (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005).
_______, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2010).
Nizar., Samsul , Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Penerbit Gaya Media Pratama, 2001).
Pedoman Penulisan Skripsi, (Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2013).
Rosehan Anwar dan Drs. Andi Bahruddin Malik, Ulama dalam Penyebaran
Pendidikan dan Khazanah Keagamaan, (Jakarta: PT. Pringggondani
Berseri, cet. 1, Desember 2003).
Shaleh., Munandi, K.H Ahmad Sanusi Pemikiran dan Perjuangannya Dalam
Pergolakan Nasional, (Sukabumi: Ketua Umum MUI, 21 September
2011).
_______, K.H Ahmad Sanusi Pemikiran dan Perjuangannya Dalam Pergolakan
Nasional, cet- 2, (Sukabumi, At-Tadbir: 2013).
Tafsir., Ahmad, Ilmu Pendidikan Islam Dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), cet. 7.
Tirta., Raharja Umar, Pengantar Pendidikan , (Jakarta: Rangka Cipta, 1995).
Uhbiyati., Nur, Ilmu Pendidikan Islam. (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997).
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS,
(Jakarta: Biro Hukum dan Organisasi, cet. Pertama, September 2003). Wawancara dengan Drs. H. Munandi Shaleh, pada tanggal 11 Februari 2014. Wawancara dengan Drs. K.H Hasanudin, M.Ag, pada tanggal 11 Februari 2014. Wawancara dengan Drs. K.H. Aab Abdullah S. Ip, M.Ag, pada tanggal 11
Februari 2014.
Wawancara dengan K.H. Anwar Sanusi S.Ag, pada tanggal 11 Februari 2014. Yunus., Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam,(Jakarta: PT. Mutiara Sumber
Widya, 1988).
Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997). _______, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara 2009). _______, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, cet 1, 1991).
1. Gambar K.H Ahmad Sanusi
Ket: Gambar ini pada tahun 1939 Ket: Gambar ini pada tahun 1942
4. Gambar Masjid Pesantren Syamsul Ulum, Gunung Puyuh, Sukabumi (Masjid tersebut yang masih dipakai untuk belajar para santri).
5.
Gambar Drs. K.H Hasanudin M.Ag
Keterangan: Beliau adalah yang penulis wawancarai dalam pembahasan Skripsi ini (Beliau menjabat sebagai ketua Yayasan Pesantren Syamsul Ulum Putri, Gunung Puyuh Sukabumi hingga saat ini, dan beliau juga merupakan menantu cucu K.H Ahmad Sanusi)
Keterangan: Beliau adalah yang penulis wawancarai dalam pembahasan Skripsi ini (Beliau menjabat sebagai ketua Yayasan Pesantren Syamsul UlumPutra, Gunung Puyuh Sukabumi hingga saat ini, dan beliau juga merupakan Alumni dari Pesantren K.H Ahmad Sanusi)
7. Gambar Drs. K.H Aab Abdullah S.Ip, M.Ag
Keterangan: Beliau adalah yang penulis wawancarai dalam pembahasan Skripsi ini (Beliau juga merupakan Alumni dari Pesantren K.H Ahmad Sanusi)
Keterangan: Beliau adalah yang penulis wawancarai dalam pembahasan Skripsi ini (Beliau juga merupakan Alumni dari Pesantren Syamsul Ulum, dan beliau juga seseorang yang dipercayai oleh keluarga K.H Ahmad Sanusi dalam penyimpanan dokumentasi K.H Ahmad Sanusi dan dan beliau juga orang yang membuat tulisan terkait dari semua riwayat perjuangan K.H Ahmad Sanusi serta beliau pula yang menulis ulang dari beberapa karangan
K.H Ahmad Sanusi kemudian
menerbitkanya kembali.
Sukabumi dari 2006 sampai sekarang. Dan Beliau juga Merupakan Cicit dari K.H Ahmad Sanusi.
10.
Gambar Lembaran Sistem Pengajaran Di Pesantren Syamsul Ulum Pada
Masa Pimpinan K.H Ahmad Sanusi.
Kepada Yth.,
Drs. K.H. Hasanuddin M.Ag
Kepala Yayasan Syamsul Ulum (Putri) Di –
Sukabumi
Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
1. Bagaimana sejarah berdirinya pondok pesantren Syamsul Ulum?
Jawaban: Pada saat K.H Ahmad Sanusi pulang dari Makkah kurang lebih selama 5 sampai 7 tahun. Sehingga pada saat itu, K.H Ahmad Sanusi sempat mengajar terlebih dahulu di Pesantren Cantayan (Pesantren Ayahnya) setelah pulang dari Makkah selesai menunaikan haji dan menuntut ilmu disana. Dan memutus untuk mendirikan Pesantren sendiri, atas dorongan ayahnya karena banyaknya anak murid yang diajarkan K.H Ahmad Sanusi. Dan K.H Ahmad Sanusi mendirikan Pesantren pertamanya yang bernama Pesantren Genteng, hingga berubah perluasan pesantren menjadi Syamsul Ulum pada tahun 1930-1934 yang masih berdiri hingga saat ini.
2. Bagaimana sosok K.H Ahmad Sanusi menurut Bapak, dan masyarakat pada umumnya?
Jawaban: K.H Ahmad Sanusi adalah seseorang yang sangat gigih dalam perjuangannya, dan tidak hanya di keagamaan beliau berperan namun di politik pun beliau aktif. Beliau yang pertama kali menerapkan sekolah-sekolah mewah dengan adanya bangku, kursi dan metode yang diajarkannya pun berbeda dari pesantren-pesantren lain karena tujuan beliau ingin semata-mata menterdepankan pendidikan agar bangsa Indonesia ini tidak dikalahkan oleh negara lain yang ingin menguasainya pada saat itu. Dan dengan itu beliau merasa ingin ada perubahan bahwa tidak semua orang yang belajar di Pesantren itu monoton. Beliau sangat menyemangati muridnya untuk selalu bercita-cita yang tinggi karena tidak harus
semua orang yang lulus dari Pesantren itu mesti menjadi Kyai. Namun beliau juga mengharapkan untuk mendirikan pesantren yang sudah selesai belajar olehnya. Dan beliau sangat berpegang teguh pada keagamaan walaupun aktifnya K.H Ahmad Sanusi dalam ruang lingkup politik. Dari sini, masyarakat sangat menyadari bahwa K.H Ahmad Sanusi itu adalah ulama tradisional yang modern dan dipercayai kepandaian beliau dengan dilihat dari beberapa peran-peran K.H Ahmad Sanusi lainnya.
3. Bagaimana peran K.H Ahmad Sanusi terhadap perjuangannya dalam pendidikan Islam? Dan apa saja peran K.H Ahmad Sanusi dalam Pendidikan Islam?
Jawaban: Yang sangat saya kagumi dari beberapa peran K.H Ahmad Sanusi dalam pendidikan Islam bahwa kehebatan beliau yang membuat karangan kitab yaitu kitab Raudhatul ‘Irfan. Karena dari kitab inilah Pemerintah Belanda pada waktu itu melarang untuk dapat dikembangkan dan disebarluaskan. Bagi Pemerintah Belanda, bahwa dari hadirnya kitab tersebut membuat bahaya bagi Pemerintah Belanda di kota Sukabumi. Dari kitabnya yang unik, namun bermanfaat yaitu kitab tafsiran Al-Qur’an yang di terjemahkan ke dalam logatnya beliau (Sunda) yang lainnya pun tidak ada yang seperti beliau dan pastinya tidak dibolehkan oleh Pemerintah Belanda. Dengan banyaknya pengaruh keagamaan dari K.H Ahmad Sanusi, membuat Pemerintah Belanda Geram untuk menahan beliau hingga beliau dipindahkan di Jakarta dalam pengasingannya. Akan tetapi, beliau disana malah semakin aktif dalam peran keagamaannya, dan banyak guru-guru yang belajar oleh beliau karena akibat buku tafsir karangan beliau tersebut. Sudah barang tentu keahlian beliau dalam menafsirkan itu Al-Qur’an sangat baik, karena ilmu yang diterapkan itu dari ilmu para ulama-ulama Makkah. Yang pada waktu itu juga beliau mulai mengenal Sarikat Islam (SI) dan aktif didalamnya karena pertemuannya dengan K.H Abdul Muluk di Makkah. Dan keaktifan beliau dalam berdebat di Makkah dengan para penuntut ilmu dalam masalah keagamaan sangatlah tidak diherankan. Hingga kebiasaan berdebatnya, beliau terapkan di kota sendiri yaitu Sukabumi sepulang dari Makkah. Beliau aktif debat dengan
kalangan ulama Pakauman (ulama yang berpihak pada Belanda) dan kalangan Elite Birokrasi (orang yang memiliki jabatan di Sukabumi). K.H Ahmad Sanusi yang tidak kooperatif terhadap Belanda, menjadi adanya Perdebatan beliau dengan ulama Pakauman hingga membuat K.H Ahmad Sanusi ingin dijauhi dari kampung halamannya oleh ulama Pakauman. Karena jika dicermat, bagi K.H Ahmad Sanusi siapa pun yang berpihak kepada Belanda itu dianggapnnya sebagai musuhnya. Dengan prinsipnya yang kuat, dan tidak adanya kemunafikan pada diri beliau. Dan inisiatif beliau dengan K.H Abdul Halim membuat oganisasi AII yang telah mereka rencanakan selama di Makkah akhirnya terwujud. Organisasi Fusi yang berawal POI dan POII disatukan menjadi organisasi AII hingga masih aktif sampai saat ini. Dan tentunya, peran K.H Ahmad Sanusi yang lain, adalah keproduktifan beliau dalam membuat tulisan, kitabnya yang masih di pakai di Pesantren Syamsul Ulum saat ini adalah kitab Raudhatul ‘Irfan. Karena menurut saya, bacaan kitab tersebut diterjemahkan dengan bahasa yang lain, yang lebih enak didengar, difahami dan lebih mendalam dalam menafsirkannya.
4. Kurikulum apa saja yang dipakai oleh pondok pesantren Syamsul Ulum?(kitab2 yang dikaji)
Jawaban: Untuk masalah itu, kita memakai dari beberapa kitab yang tidak jauh berbeda dengan Pesantren lain, namun kita juga masih memakai kitab dari karangan K.H Ahmad Sanusi selian Raudhatul ‘Irfan juga memakai kitab
Tamsyiyatul Muslimin yang juga dari karangan beliau.
5. Bagaimana sistem organisasi yang dikembangkan oleh pesantren Syamsul Ulum pada saat ini?
Jawaban: Disini memakai organisasi layaknya OSIS, namun namanya berbeda yaitu Organisasi Santri Putri (OSPI). Yang bertugas untuk membantu bapak mengelolah Pesantren, dari kebanyakan anak mahasiswa-wi dari STAI Syamsul Ulum sebanyak 35 orang. Mereka bukan hanya kuliah namun juga ikut mengaji di Pesatren Syamsul Ulum.
6. Apa kontribusi KH. Ahmad Sanusi dalam pengembangan pendidikan Islam pada semasa hidupnya?
Jawaban: Dengan semangatnya beliau, metode pengajaran yang di terapkan menjadi berkembang pada saat itu. Hingga sangat berbeda dengan Pesantren-pesantren yang lainnya. Dan semangatnya pula dalam pemahaman umat terhadap makna Al-Qur’an.
7. Sistem dan kegiatan apa saja yang masih dikembangkan dan dipertahankan oleh bapak untuk pondok pesantren Syamsul Ulum terhadap kontribusi K.H Ahmad Sanusi pada masa itu?
Jawaban: Yaitu kegiatan mengajar dangan sistem Trapikal yaitu santri yang belajar disini harus melalui beberapa tahapan antara lain: I’dadiyah (Persiapan),
Awaliyah (Tingkat Satu), dan uliyyah serta ada juga Ma’had Ali (tingkah
pengajian para orang tua).
8. Apa saran bapak terhadap pendidikan Islam, khususnya di kota Sukabumi, dan apa pendapat bapak tentang hasil yang telah di capai oleh KH. Ahmad Sanusi?
Jawaban: Yang jelas, bapak menginginkan agar pendidikan Islam tetap diterdepankan, semanagat jiwa muda anak sekarang harus seperti jiwa orang zaman dulu. Banyaknya semangat untuk mendirikan pesantren dan terus berkarya dalam karya keagamaan. Menurut bapak tentang hasilnya, sangat memberikan pengajaran yang baik kepada generasi-generasi sekarang dan perannya yang begitu kharismatik dapat menjadi kaca berbandingan bagi kita saat ini.
9. Ada berapa sumber tenaga pengajar 2013-2014?
Jawaban: Sebanyak 35 orang, banyak yang mengajar di Pesantren Syamsul Ulum ini memiliki kegitan mengajar juga di Sekolah (MTS, MA, STAI) Syamsul Ulum. Dan juga tidak sedikit yang mengajar di Pesantren Syamsul Ulum ini adalah dari para alumni.
10. Ada berapa jumlah santri pada tahun 2013-2014?
Jawaban: Sebanyak 500-an murid
11. Apa saja sarana dan prasarana di pondok pesantren Syamsul Ulum?
Jawaban: Sarana dan Prasarana disini biasa saja, sengaja tidak dibuat mewah selain biaya yang masih kekurangan. Menurut saya, sarana dan prasarana disini sudah cukup lumayan, di zaman dulu saja sangat miris jika dibandingkan dengan sarana dan prasarana sekarang. Santri tidak perlu adanya kemewahan, karena dari sinilah santri dapat bersungguh dapat menuntut ilmu
Sukabumi, 11 Februari 2014. Salam Hormat,
Jakarta,
Kepada Yth.,
K.H. Anwar Sanusi S.Ag
Kepala Yayasan Syamsul Ulum (Putra), Sukabumi.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
1. Bagaimana sejarah berdirinya pondok pesantren Syamsul Ulum?
Jawaban: Dengan didirikan oleh K.H Ahmad Sanusi, kurang lebih tahun 1933-1934. Yang berawal dari pesantren Genteng hingga pesantren Syamsul Ulum pada saat ini. dan tepatnya pesantren Syamsul Ulum didirikan ini lantaran penuhnya santri yang belajar kepada beliau ketika di Pesantren Cantayan yaitu pesantren ayahnya K.H Ahmad Sanusi. Diadakannya sekolah pada waktu itu dengan tahapan I’dadiyah, Tsanawiyah, dan ‘Aliyah. Sehingga setelah pendiri pesantren Syamsul Ulum yaitu K.H Ahmad Sanusi meninggal dilanjutkan oleh anaknya yaitu K.H Acep Zarkasyi.
2. Bagaimana sosok K.H Ahmad Sanusi menurut Bapak, dan masyarakat pada umumnya?
Jawaban: Mengenai sosok K.H Ahmad Sanusi, dalam perannya sangatlah aktif di keagamaan maupun politik. Yang K.H Ahmad Sanusi adalah seorang ulama tradisional yang modern dan berkharismatik yang tinggi, itulah yang dinilai oleh saya dan masyarakat pada umumnya. Jika ingin lebih jelas lagi tentang sosok dan peran K.H Ahmad Sanusi, bisa kepada bapak Drs. H. Munandi Shaleh yang dapat menjelaskan. Karena beliaulah yang menyimpan dokumentasi-dokumentasi K.H Ahmad Sanusi hingga beliau rajin mengoleksi dan kemudian menjadikan buku terbitan baru untuk sekarang ini dari riwayat perjuangannya hingga karya-karya K.H Ahmad Sanusi pun ada.
3. Kurikulum apa saja yang dipakai oleh pondok pesantren Syamsul Ulum?(kitab2 yang dikaji)
Jawaban: Kalau pada zaman K.H Ahmad Sanusi mengajar, kurikulumnya lebih kepada kitab-kitab saja. Berbeda dengan saat ini, bahwa kurikulum yang diajarkan itu bercampur dengan kitab-kitab juga pendidikan umumnya juga diadakan. Dan kitab yang masih dipakai dari karangan K.H Ahmad Sanusi di Pesantren Syamsul Ulum saat ini yaitu kitab Raudhatul ‘Irfan dan juga kitab Tamsyiyatul Muslimin, dan banyak kitab-kitab yang lainnya.
4. Bagaimana sistem organisasi yang dikembangkan oleh pesantren Syamsul Ulum pada saat ini? dan apa visi misi pesantren Syamsul Ulum saat ini?
Jawaban: Saat ini dipesantren Syamsul Ulum Putra menerapkan organisasi yang layaknya seperti OSIS, yaitu OSPA. Jika di pesantren putri itu OSPI, di putranya OSPA (Organisasi Snatri Putra). Dan organisasi yang di Madrasah adalah OSIMA (Organisasi Madrasah). Dan visi misinya adalah mencetak kader-kader ulama yang Tafaqu Fiddin.
5. Apa kontribusi KH. Ahmad Sanusi dalam pengembangan pendidikan Islam pada semasa hidupnya?
Jawaban: Dengan cara pengajaran yang beliau terapkan berbeda dengan pesantren lain, dengan adanya metode-metode dalam mengajar, dan kitab-kitab karagannnya yang sangat bermanfaat sebagai acuan belajar santri Syamsul Ulum hingga saat ini. Sampai membuat banyaknya para santri yang masantren pada waktu itu mencapai 1000. Pada saat K.H Ahmad Sanusi meninggal pun dan kemudian digantikan oleh K.H Aceh Zarkasyi, santrinya tetaplah banyak. Dan K.H Ahmad Sanusi menerapkan tiga ajaran yang dijadikan pedoman para santrinya yaitu pendidikan, perjuangan, dan dakwah. Dan beliau menginginkan agar kelak santrinya mendirikan pesantren jika sudah tamat belajar di Syamsul Ulum.
6. Sistem dan kegiatan apa saja yang masih dikembangkan dan dipertahankan untuk pondok pesantren Syamsul Ulum terhadap kontribusi K.H Ahmad Sanusi pada masa itu?
Jawaban: Yang masih dipertahankan dari kepemimpinan K.H Ahmad Sanusi hingga sekarang adalah “pendidikan” yaitu sebagai penerus yang berilmu hingga saat ini da sampai nanti , “perjuangan”yaitu amar ma’ruf nahi munkar serta tanpa pamrih dan “dakwah” yaitu berlatihnya para santri untuk berdakwah dalam satu minggu satu kali. Dan juga adanya barjanji, serta seninya pun ada disini seperti marawis, qosidah, dan ada juga tahfidz, dll.
7. Apa saran bapak terhadap pendidikan Islam, khususnya di kota Sukabumi, dan apa pendapat bapak tentang hasil yang telah di capai oleh KH. Ahmad Sanusi?
Jawaban: Bahwasanya, masyarakat jangan samapai melebihi batas, yaitu terlalu terpaku dengan keduniawian, harus di imbangi dengan keagamaan yang kuat. 8. Ada berapa sumber tenaga pengajar 2013-2014?
Jawaban: Tenaga pengajarnya hampir sama dengan yang di Putri, pengajar yang di pesantren putri juga mengajar di putra. Bedanya, yang di putri pengajarnya lebih banyak PR, dan di putra lebih banyak pengajar LK. Namun, jika pengajar Tahfidz itu bisa campuran dari pengajar PR dan LK.
9. Ada berapa jumlah santri pada tahun 2013-2014?
Jawaban: Jumlah santri putra pada saat ini sekitar 200 santri.
10. Apa saja sarana dan prasarana di pondok pesantren Syamsul Ulum?
Jawaban: Layakya pesantren biasa, yang sederhana saja. Namun pasti adanya peningkatan dari pada periode-periode masa lalu hingga saat ini.
Sukabumi, 11 Februari 2014. Salam Hormat,
Jakarta,
Kepada Yth.,
Drs. K.H. Aab Abdullah S. Ip, M.Ag.
Di – Sukabumi
Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
1. Bagaimana sejarah berdirinya pondok pesantren Syamsul Ulum?
Jawaban: Sejarahnya yang dapat saya ceritakan, bahwa dahulu sebelum adanya Syamsul Ulum itu K.H Ahmad Sanusi membangun pesantren Genteng, hingga pada akhirnya berubah lebih diperluas tempatnya dengan dinamakan pesantren Syamsul Ulum. Dan dahulu juga disekitar masjid pesantren Syamsul Ulum ini adalah kali seperti sungai kiranya, namun tetap juga bisa terlihat kali itu di belakang. Mengapa bisa rata dengan bangunan-bangunan ini? karena dari sinilah terlihat, bahwa tidak adanya dana sedikit pun dari pemerintah akan tetapi atas bantuan masyarakat-masyarakat sekitar yang memang gigih dan ikhlas membantu untuk mendirikan Pesantren Syamsul Ulum yang K.H Ahmad Sanusi dirikan ini. dari kekharismatikan beliau pula masyarakat gigih bantu membangun dan banyak juga yang mengaji dengan beliau pada waktu itu.
2. Kurikulum apa saja yang dipakai oleh pondok pesantren Syamsul Ulum?(kitab2 yang dikaji)
Jawaban: Kalau yang masantren disini banyak memakai karangan K.H Ahmad Sanusi, dan jika dilihat di MA memiliki jurusan IPA, IPS, dan keagamaan. Sudah barang tentu pengajaran disini tidak akan ingin tertinggal jauh dari pada kemodernan saat ini. Namun, tetap keagamaannya juga diutamakan. Salah satu kitab yang masih dipakai dari dulu hingga sekarang adalah kitab Tafsir karangan K.H Ahmad Sanusi (Raudhatul ‘Irfan) dan (Tamsyiyatul Muslimin).
3. Apa kontribusi KH. Ahmad Sanusi dalam pengembangan pendidikan Islam pada semasa hidupnya?
Jawaban: Dari banyaknya karya K.H Ahmad Sanusi yang ratusan dan tentunya manfaat dari kitab tersebut dapat dirasakan oleh para murid-murid beliau dengan terus memakai pedoman kitab karangan beliau dari periode ke periode selanjutnya.
4. Sistem dan kegiatan apa saja yang masih dikembangkan dan dipertahankan oleh bapak untuk pondok pesantren Syamsul Ulum terhadap kontribusi K.H Ahmad Sanusi pada masa itu?
Jawaban: Di pesantren Syamsul Ulum ini, sistemnya seperti sistem klasikal adanya Tsanawiyah dan Aliyah namun belum tercatat di Kementrian Agama atau pun Departemen Agama, hal ini tentu terlihat tampil beda dari pada pesantren-pesantren yang lain.
5. Apa saja sarana dan prasarana di pondok pesantren Syamsul Ulum?
Jawaban: disini terlihat lumayan, karena jika saya bandingkan dengan masa lalu itu sangat jauh berbeda. Minimnya sarana prasarana, namun tetap mencetak santri berkualitas yang baik.
Sukabumi, 11 Februari 2014. Salam Hormat,
Jakarta,
Kepada Yth.,
Drs. H. Munandi Shaleh, M.Si.
Di – Sukabumi
Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
1. Ceritakan tentang profil K.H Ahmad Sanusi ?
Jawaban: Untuk masalah tanggal kelahiran K.H Ahmad Sanusi banyak yang memiliki argumen yang berbeda. Namun, argumen saya ini akan memberikan yang benar-benar otentik. Yaitu pada tanggal 12 Muharram 1306 H bertepatan dengan tanggal 18 September 1888 M pada malam Jum’at. Mungkin jika ada yang berbeda, saya disini bukan asal bicara. Tetapi, saya menjawab ini berdasarkan apa yang ditulis oleh K.H Ahmad Sanusi sendiri di lampiran catatan orang terkemuka. Dan pada tahun 1905, beliau mulai belajar di berbagai pesantren kurang lebih selama 4 setengah tahun, beliau tidak bersekolah hanya belajar di Makkah selama 5 tahun. 2. Apa saja peran K.H Ahmad Sanusi dalam pendidikan Islam yang bapak
ketahui?
Jawaban: K.H Ahmad Sanusi pernah bertemu dengan K.H Abdul Halim dan K.H Abdul Muluk di Makkah, dan pada saat itu pula K.H Abdul Muluk mengajaknya masuk ke SI pada tahun 1913. Dan K.H Ahmad Sanusi pernah diperlihatkan anggaran dasarnya, namun beliau masuk SI tidak dibaiat, namanya langsung saja dimasukkan ke daftar nama-nama anggota SI. Pertemuannya dengan K.H Abdul Halim membuat kedua memiliki hubungan yang semakin erat, karena beliau sama-sama dari Jawa Barat. Dari situlah, K.H Ahmad Sanusi dan K.H Abdul Halim sekitar tahun antara 1910/1911. Dan mulai berniat untuk mendirikan organisasi AII dan lembaga-lembaga sekolah, namun hanya berniat. Dan organisasi pun didirikan ketika keduanya
pulang ke kampungnya masing-masing. Dari apa yang telah saya ketahui, bahwa pada pemerintahan Jepang, AII itu sempat di non aktifkan oleh pihak Jepang. Namun, hal tersebut dimintanya kembali aktif oleh K.H Ahmad