• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

1. Bagi pembaca sastra secara umum, diharapkan dapat mengetahui dan memahami tentang konflik sosial khususnya konflik sosial yang terdapat dalam novel Toba Dreams karya TB Silalahi secara mendalam sehingga menjadi lebih bijaksana dan objektif dalam menghadapi permasalahan sosial yang terjadi dalam realitas kehidupan sosial.

2. Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan rujukan bagi peneliti lain dalam meneliti novel Toba Dreams karya TB Silalahi dengan menggunakan pendekatan yang berbeda seperti pendekatan psikologi sastra, kritik sastra, maupun pendekatan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Fransisko, Aga. 2017. “Nilai-Nilai Patriotisme dalam Novel Toba Dreams Karya TB Silalahi: Analisis Sosiologi Sastra” (Skripsi). Medan: Fakultas Ilmu Budaya USU.

Huky, D.A. Wila. 1986. Pengantar Sosiologi. Surabaya: Usaha Nasional.

Novalia. 2014. “Interaksi dan Konflik Sosial Tokoh Utama dalam Novel Cerita Calon Arang Karya Pramoedya Ananta Toer: Kajian Sosiologi Sastra”

(Skripsi). Medan: Fakultas Ilmu Budaya USU.

Nurgiyantoro, Burhan. 2015. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ratna, Nyoman Kutha. 2013. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rusdiana, H.A. 2015. Manajemen Konflik. Bandung: Pustaka Setia.

Semi, M. Atar. 1989. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.

Setiadi, Elly M. dan Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana.

Sikana, Mana. 1986. Kritikan Sastera: Pendekatan dan Kaedah. Bandung:

Petaling Jaya.

Silalahi, TB. 2015. Toba Dreams. Tangerang: Kaurama Buana Antara.

Soekanto, Soerjono. 2014. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Sumardjo, Jakob dan Saini. 1997. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Tantawi, Isma. 2014. Bahasa Indonesia Akademik. Bandung: Cipta Pustaka Media.

Sumber Kamus:

Sudjiman, Panuti. 1984. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Gramedia.

Sumber Internet:

Al-Hafizh, Mushlihin. 2013. “Gejala dan Sebab Terjadinya Konflik”. www.referensimakalah.com/2013/12/gejala-dan-sebab-sebab terjadinya.html?m=1. Diakses pada Tanggal 1 September 2017.

Sipayung, Ervina. 2016. “Konflik Sosial Tokoh Maryam dalam Novel Maryam Karya Okky Madasari: Kajian Sosiologi Sastra” (Skripsi). Yogyakarta:

Universitas Sanata Dharma (repository.usd.ac.id/6273/) Diakses pada tanggal 2 Februari 2017.

LAMPIRAN I

Sinopsis Novel Toba Dreams

Novel ini bercerita tentang mimpi Sersan Tebe yang ingin hidup dengan tenang dan damai mengandalkan uang pensiunan tentara dan memilih pulang untuk membangun kampung halamannya. Sersan Tebe merupakan mantan prajurit TNI AD, oleh karena itu ia mendidik anak-anaknya layaknya pasukan tempur karena cintanya yang luar biasa kepada mereka.

Ketika Ronggur, anak sulung dari Sersan Tebe menjadi pemberontak dalam keluarga, terjadilah konflik mendalam antara ayah dan anak. Puncak konflik terjadi ketika Sersan Tebe pensiun dari kesatuan tentara. Untuk tetap dapat bertahan hidup, akhirnya Sersan Tebe memutuskan agar keluarganya kembali ke kampung halaman yang ada di Sumatera tepatnya di Desa Tarabunga dekat tepian Danau Toba. Hanya Ronggur anak pertamanya yang menolak keputusan tersebut.

Walaupun pada akhirnya Ronggur juga ikut ke kampung halaman ayahnya

dari wanita yang ia cintai. Oleh karena itu Ronggur memilih kabur dan tinggal di rumah sahabatnya Tommy yang ada di Jakarta.

Ronggur yang sesungguhnya mewarisi tabiat keras ayahnya menemukan cinta di dalam diri Andini, seorang wanita ningrat yang berbeda agama dengannya. Tetapi orangtua Andini menolak keras hubungan anaknya dengan Ronggur karena menganggap Ronggur hanyalah pria miskin. Ronggur berusaha untuk mencari kerja di Jakarta, namun pekerjaan yang didapatnya hanyalah sebagai seorang supir taksi. Ronggur sadar betapa susahnya mencari pekerjaan di Jakarta, namun ia tidak menyerah dan terus berusaha untuk membuktikan pada semua orang bahwa kelak dirinya akan berhasil.

Suatu hari saat sedang membawa taksinya berkeliling, Ronggur mendapat dua orang penumpang yang ternyata adalah mafia sekaligus bandar narkoba.

Kedua orang tersebut menjebak Ronggur agar mau menjadi anggota mereka.

Sejak saat itu, Ronggur terjebak dalam lingkaran hitam yang memaksanya untuk terus menjadi seorang pengedar narkoba. Di samping itu, kehidupan Ronggur yang semula miskin dan kesusahan berubah menjadi mapan dan kaya raya.

Ronggur juga berhasil menikahi Andini dengan berbohong kepada orangtua wanita itu kalau putrinya sedang hamil anak dari Ronggur.

Perlahan Ronggur menghujani keluarganya dengan barang-barang mewah dan perhiasan. Sersan Tebe merasa curiga, bagaimana bisa anaknya tiba-tiba menjadi kaya raya. Namun Ronggur tetap menyimpan rapat rahasianya dari siapapun. Adik-adik Ronggur pun mendapatkan hal-hal seperti yang mereka inginkan. Adik pertama Ronggur yang awalnya dipaksa masuk AKMIL oleh Sersan Tebe akhirnya berkata jujur bahwa ingin melanjutkan pendidikan sebagai

pendeta. Sedangkan adik kedua Ronggur berhasil masuk ke SMA favorit di Sumatera dengan pendidikan semi militer.

Kehidupan Ronggur berjalan nyaman, sampai suatu ketika adik Tommy ikut mengonsumsi narkoba hingga meninggal. Tommy yang sudah mengetahui pekerjaan haramnya marah besar dan menyalahkan Ronggur atas apa yang terjadi pada adiknya. Sebenarnya Ronggur sudah mulai menjauhi bisnis haramnya, namun setelah adik Tommy meninggal, para bandar narkoba itu kembali mencari Ronggur karena sudah lama menghilang dan tidak melakukan bisnis itu lagi.

Ronggur menemui Bonsu yang merupakan bos besar dari komplotan bandar narkoba tempat ia bergabung dan meminta kebebasan dari pekerjaan haram itu.

Bonsu memberi syarat untuk kebebasan Ronggur asal ia dapat membunuh seorang jaksa yang jujur dan berani dalam menebas bisnis narkoba. Dengan berat hati Ronggur mengiyakan syarat itu. Ronggur mengirim anak dan istrinya ke kampung halaman ayahnya di Sumatera untuk melindungi mereka dari kompotan mafia tersebut. Namun bukannya membunuh jaksa itu, Ronggur malah membunuh Bonsu dan anggota bandar narkoba lainnya di sebuah club.

Tak butuh waktu lama, keesokan harinya Ronggur telah dicari polisi atas kasus pembunuhan yang dilakukan oleh gembong narkoba terhadap komplotan mafianya sendiri. Ronggur lari ke kampung halamannya dan bersembunyi di sebuah gubuk kecil yang ada di tepi Danau Toba. Sersan Tebe mengetahui perbuatan anaknya dan pergi mencari Ronggur.

Tibalah ia di tempat persembunyian Ronggur. Di sana Ronggur mengungkapkan semua yang dirasakannya terhadap ayahnya. Sersan Tebe menangis dan meminta maaf karena terlalu sibuk berperang dan tidak pernah ada

waktu untuk anaknya selama ini. Sersan Tebe membujuk Ronggur untuk menyerahkan diri dan bertanggung jawab atas semua perbuatannya, ketika itu polisi sudah berada di lokasi dan mengepung tempat persembunyiannya. Namun naas ketika Ronggur keluar dan ingin menyerahkan diri kepada polisi, seorang komplotan mafia yang masih hidup sudah membidik Ronggur dari jauh dan menembaknya tepat di dada. Ronggur meninggal seketika di tepi Danau Toba tepatnya di pelukan ayahnya. Pada akhirnya, Ronggur dimakamkan di tanah kelahiran ayahnya yaitu di Desa Tarabunga.

LAMPIRAN II

Biografi Pengarang

Letjen TNI (Purn). Dr. (HC) Tiopan Bernhard Silalahi (lahir di Pematangsiantar, 17 April 1938 (umur 79 tahun) adalah mantan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara pada Kabinet Pembangunan VI. Lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1961 ini memiliki jabatan terakhir di militer adalah Asisten I Kasad dengan pangkat Mayor Jenderal, tahun 1988.

Selanjutnya dikaryakan sebagai Sekjen Departemen Pertambangan dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (1993-1998).

Pengabdian di bidang militer diawali sebagi Danton Yonkav 4 Siliwangi dalam operasi Kamdagri di Jawa Barat (1962), Wadanki dalam operasi Kamdagri di Sulawesi Selatan (1963-1965) bersamaan dengan operasi Dwikora. Danyonkav 8 Tank Kostrad (1972), ke Timur Tengah sebagai pasukan PBB pada perang Oktober 1973 antara Israel dan Mesir sebagai Camp Commandant UNEF Middle East di Kairo. Dosen Sesko AD (1974), Asops Kasdam XVI Hasanuddin di Ujung Pandang (1978), Kasdam IV Diponegoro (1984) dan Asisten Perencanaan dan Anggaran KASAD (1986) dengan pangkat Mayor Jenderal TNI.

Sejalan dengan penugasannya, TB Silalahi memanfaatkan waktunya dengan mengikuti pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran Bandung sampai sarjana muda (1968) dan mendapatkan S1 pada Sekolah tinggi Hukum Militer dengan predikat Cumlaude (1995). Atas prestasinya dalam bidang pemerintahan dan sosial, ia beroleh gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gregorio

Araneta, 8 agustus 1996 di Manila, Filipina. Karier militernya dilanjutkan dengan tugas karya sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pertambangan dan Energi (1988). Pada masa Pemerintahan Presiden Soeharto (1993), Kabinet pembangunan VI, Ia mendapat kepercayaan menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Jenderal TNI. Tahun 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkat TB Silalahi menjadi penasehat presiden yang kemudian pada tahun 2006 menjadi Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah dan pada tahun 2007 diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dalam bidang pertahanan dan keamanan.

TB Silalahi adalah pendiri dan anggota Dewan Pembina Yayasan Soposurung yang mendirikan dan mengelola sebuah sekolah unggulan di Balige, Sumatera Utara. Menurunnya mutu pendidikan di Bonapasogit, menggerakkan hati TB Silalahi untuk turut serta bertanggungjawab, bersama teman-teman masa kecilnya (Alumni SMA Soposurung) ia mendirikan Yayasan Soposurung, berupa sebuah asrama yang menampung siswa/i lulusan SMP yang terpilih melalui seleksi yang ketat untuk melanjutkan pendidikan di jenjang SMA, setiap tahun 40 orang putra-putri terbaik bonapasogit (sejak 2008 menjadi 80 orang) digembleng mental dan karakternya disamping mengikuti pendidikan formal di sekolah (SMAN 2 Balige).

Letjen TNI (Purn). Dr. T.B. Silalahi, S.H. lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, Pada 17 April 1938. Di tengah kesibukannya beraktivitas di birokrasi pemerintahan, menjadi pembicara di berbagai forum, dan sebagai utusan Presiden, ia beberapa kali menjadi sutradara, di antaranya: Operet Natal Nasional

selama 13 tahun berturut-turut dari tahun 1993 s.d. 2006 di Jakarta Convention Center (JCC); pembukaan Sea Games 1997; pementasan sendratari yang melibatkan 5 ribu penari dan 5 ratus pendukung dari siswa-siswi yang berasal dari 26 SMA di Jakarta; Operet Nommensen di Stadion Teladan Medan tahun 2007 yang dihadiri lebih dari 80 ribu penonton; Operet Nommensen di sentul City Convention (SCC), Bogor, April 2009, yang dihadiri 15 ribu penonton. Ia pun telah menulis puluhan buku mengenai birokrasi, militer, politik, sejarah, juga tentang kepemimpinan. Toba Dreams merupakan novel debutnya, yang diangkat ke layar lebar.

Dokumen terkait