BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
2.5. Sarana dan Prasarana
2.5.1. Sarana Pendidikan
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan pada saat ini. Penduduk desa Bandar Baru juga menganggap pendidikan merupakan hal yang sangat penting. Orang tua tidak menginginkan anaknya menjadi orang yang tidak berpendidikan apalagi kehidupan ini semakin ketat persaingannya. Maka pendidikan menjadi faktor yang sangat penting dalam kehidupannya.
Sarana pendidikan yang ada dirasa sudah cukup memadai. Sarana pendidikan yang ada dimulai dari tingkat pendidikan yang rendah sampai perguruan tinggi. Bangunan sekolah yang ada di desa Bandar Baru berjumlah 8 buah. Bangunan sekolah tersebut terdiri dari 1 buah bangunan taman kanak-kanak (TK), 2 buah sekolah dasar (SD), 2 buah sekolah menengah pertama (SMP), 2 buah sekolah menengah atas (SMA) dan sebuah Perguruan Tinggi. Banyaknya bangunan sekolah yang ada dapat dilihat pada tabel berikut :
TABEL 2.5.1. SARANA PENDIDIKAN O SARANA PENDIDIKAN JUML AH PERSENTA SE (%) Taman Kanak- Kanak 1 20 Sekolah Dasar (SD) 2 30 SMP 2 30 SMA 2 30 Peguruan Tinggi 1 20
Sumber Data : Kantor Kepala Desa Bandar Baru, 2009 Kecamatan Sibolangit
Sarana pendidikan yang terdapat di desa Bandar Baru bukan hanya merupakan sekolah negeri, tetapi juga terdapat sekolah swasta. Tingkat pendidikan taman kanak-kanak, menengah atas dan perguruan tinggi merupakan sekolah swasta. Hanya terdapat dua SD negeri dan satu SMA negeri yaitu SMA negeri 1 Sibolangit.
2.5.2. Sarana Kesehatan
Di Desa Bandar Baru banyak ditemui sarana-sarana penunjang kesehatan seperti puskesmas selain itu juga terdapat beberapa praktek dokter. Selain berobat ke puskesmas, masyarakat juga bisa berobat ke dokter, bidan, dan dukun yang praktek di desa Bandar Baru. Semua fasilitas kesehatan telah tersedia, kecuali Rumah Sakit Umum.
2.6. Sistem Religi
2.6.1. Sarana Ibadah
Jumlah sarana ibadah pada tahun ke tahun tidak jauh berbeda. Sarana ibadah yang terdapat di desa Bandar Baru adalah 5 buah bangunan rumah ibadah terdiri dari 1 buah mesjid, 3 buah gereja, dan 1 buah wihara. Kondisi sarana ibadah ini dari tahun ke tahun selalu berkondisi baik. Pembangunan untuk mesjid, gereja, dan wihara dari tahun ke tahun hampir tidak ada.
Agama merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Agama dijadikan sebagai pegangan hidup sehingga masyarakat hidup rukun walaupun terdapat berbagai macam agama, artinya toleransi penduduk cukup tinggi
Dari 3533 orang penduduk, 43,87 % atau sekitar 1550 orang adalah yang beragama Islam. Selebihnya adalah Kristen 40,90 % atau sekitar 1445 orang, Khatolik 14,43% atau sekitar 510 orang dan Budha 0,79 % atau sekitar 28 orang, ini berarti bahwa Kristen merupakan agama mayoritas penduduk. Meskipun demikian toleransi keagamaan pada masyarakat desa Bandar Baru cukup tinggi
TABEL 2.6.1.
KOMPOSISI PENDUDUK BERDASARKAN AGAMA
NO AGAMA YANG DIANUT JUMLAH PERSENTA SE (%) 1 ISLAM 1550 43,87 2 KRISTEN PROTESTAN 1445 40,90 3 KHATOLIK 510 14,43 4 HINDU - - 5 BUDDHA 28 0,79 JUMLAH 3533 100
Sumber Data : Kantor Kepala Desa Bandar Baru 2009, Kecamatan Sibolangit.
Pendidikan keagamaan khususnya bagi keluarga Muslim dilakukan di sebuah Madrasah. Disini anak-anak mendapatkan pendidikan keagamaan. Tetapi Madrasah
bukan satu-satunya cara penduduk mengajarkan nilai keagamaan kepada anak- anaknya, beberapa rumah masih berlangsung pengajian juz amma yang dipimpin oleh seorang guru (ustadz).
Acara-acara hari besar keagamaan juga sering dilaksanakan seperti Maulid Nabi dan Isra’ Miraj bagi kaum Muslim dan perayaan-perayaan Natal serta Paskah bagi yang Kristen dan hari-hari besar agama lainnya.
2.7. Mata Pencaharian
Penduduk desa Bandar Baru mempunyai mata pencaharian yang beraneka ragam. Sumber mata pencaharian penduduk yang paling banyak adalah bidang perdagangan. Mata pencaharian dalam bidang perdagangan ini juga didukung oleh letak desa Bandar Baru sebagai salah satu lokasi wisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan-wisatawan dari berbagai daerah.
Bidang perdagangan bukan merupakan satu-satunya sumber mata pencaharian bagi penduduk desa Bandar Baru ini. Penduduk desa ini juga ada yang bekerja sebagai pegawai pemerintahan, pertanian, pegawai negeri, tentara/polisi. Selanjutnya sumber mata pencaharian penduduk dapat dilihat pada tabel berikut :
TABEL 2.7.1.
SUMBER MATA PENCAHARIAN PENDUDUK
O LAPANGAN USAHA PERSENTASE (%) Pertanian/peternaka n 14,57 Pedagang 58,62 Pegawai Negeri 10,86 Angkutan/Supir 7,67 TNI/Polri 4,47 Lainnya 3,19
Sumber Data : Kantor Kepala Desa Bandar Baru 2009, Kecamatan Sibolangit
Dari data diatas dapat dilihat bahwa selain pada sektor perdagangan penduduk juga banyak yang bekerja pada sektor pertanian dan peternakan. Dapat dilihat bahwa
pertanian merupakan sumber mata pencaharian terbanyak kedua setelah perdagangan. Selain pertanian dan perdagangan juga banyak penduduk yang merupakan peternak.
Data yang tertera pada tabel diatas sebenarnya sangat relatif. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor dan kondisi realitas, antara lain karena :
1. Dalam satu keluarga ada dua atau lebih yang bekerja sebagai pilar utama keluarga atau penghasilannya dijadikan sebagai sumber utama pendapatan keluarga.
2. Ada satu kepala keluarga yang memiliki dua jenis pekerjaan utama sekaligus. Karena cukup waktu dan dana seorang pedagang adalah juga pemilik penginapan.
3. Data tersebut belum menggambarkan dengan jelas dan terperinci mengenai berbagai jenis pekerjaan penduduk.
2.8. Organisasi Sosial
Salah satu ciri yang menarik kawasan ini adalah sifat kemajemukan ,masyarakatnya. Masyarakat yang tinggal di kawasan desa Bandar Baru bersifat heterogen, terdiri dari berbagai suku dan budaya. Namun dominan sebagian besar penduduk adalah suku Karo dan suku yang lain adalah Jawa, Toba, Tionghoa, Mandailing, dan Aceh. Dari segi agama mayoritas beragama Kristen dan Islam, sebagian kecil beragama Budha.
Bahasa yang digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa daerah setempat yaitu bahasa Karo dan bahasa Indonesia. Menurut Pak Pane Sekretaris Desa Bandar Baru budaya Karo seyogianya mewarnai kehidupan
masyarakat, karena mayoritas penduduknya adalah etnis Karo. Demikian juga dengan budaya Karo sudah mulai berangsur-angsur hilang khususnya dikalangan generasi muda. Budaya Karo yang nampak masih sangat kental adalah dalam acara perkawinan dan pada pesta tahunan. Pada saat pesta perkawinan pakaian tradisional Karo masih dipakai oleh mempelai, demikian juga dengan tatacara atau prosesi lain mulai dari pertunangan sampai acara pesta.
Peran Kepala Desa untuk menumbuhkan kembali budaya Karo yang sudah mulai hilang adalah dengan membuat pesta tahunan, membentuk kelompok-kelompok karang taruna demi untuk mempelajari lebih dalam lagi tentang budaya Karo misalnya mengadakan acara “gendang guro-guro aron”. Pola pergaulan antar penduduk tampak masih sangat intim, kunjungan ke rumah tetangga masih sering dipraktekkan sekedar mengobrol mengenai berbagai hal yang dipandang penting. Ini berarti kekerabatan antar penduduk cukup kuat untuk menopang pengaruh pariwisata.