EKOTURISME DI SIBOLANGIT
SKRIPSI
Diajukan Guna Memperoleh Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial
Dalam Bidang Antropologi
OLEH :
EROLD EBEN HAEZER SITUMORANG
050905048
DEPARTEMEN ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
Halaman Persetujuan
Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan
Oleh
Nama : Erold Eben Haezer Situmorang
Nim : 050905048
Judul : EKOTURISME DI SIBOLANGIT
a.n
Pembimbing Skripsi Ketua Departemen Sekertaris
Dra. Sabariah Bangun M.Soc.Sc Drs. Irfan Simatupang, M.si Nip. 195701051987032001 Nip. 196411041991031002
a.n Dekan Pembantu Dekan I
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
karuniaNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini guna melengkapi dan memenuhi
salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Antropologi pada Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Sumatera Utara.
Adapun judul skripsi ini adalah “Ekoturisme Di Sibolangit”. Penulis
menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, karena keterbatasan kemampuan dan
pengetahuan penulis. Untuk itu kritik dan saran demi penyempurnaan skripsi ini akan
sangat penulis harapkan.
Selama penulisan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak. Penulis menyampaikan rasa terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tinginya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. M Arif Nasution selaku Dekan Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Uneversitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Humaizi, M.A. selaku Pembantu Dekan I atas fasilitas
yang telah diberikan kepada penulis.
3. Bapak Drs. Zulkifli Lubis, M.si selaku ketua Departemen
Antropologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Sumatera Utara
4. Drs. Zulkifli, M.A. selaku dosen penasehat akademik yang selalu
mengingatkan kepada penulis untuk segera menyelesaikan
5. Dra. Sabariah Bangun, M.Soc.sc, selaku dosen pembimbing yang
telah banyak meluangkan waktu dan memberikan kontribusi
teoritis dan metodologis dalam penulisan skripsi ini. Penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas seluruh
kebijaksanaan, bimbingan, ketulusan dan kesediaan beliau dalam
penulisan skripsi ini.
6. Dra. Sri Alem Sembiring M.si yang telah meluangkan waktu untuk
menjadi panguji dalam ujian proposal dan skripsi penulis. Terima
kasih atas masukan dalam penyempurnaan skripsi ini.
7. Seluruh Staf Pengajar Departemen Antropologi Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang telah
mendidik dan membekali penulis dalam ilmu pengetahuan.
8. Kepala Desa Bandar Baru atas kerja samanya dalam pemberian
data yang penulis perlukan
9. Informan-informan yang telah membantu penulis dalam
memberikan informasi yang penulis butuhkan yang tidak dapat
penulis sebutkan satu persatu
10.Penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis
persembahkan untuk orang tua tercinta, Mama Pdp. Nurkia
Marpaung dan Papa Oloan Situmorang yang telah memberikan
dukungan baik moril maupun materil kepada penulis sampai
11.Adik-adiku tercinta: Angelica Yohana Situmorang dan Laura
Priskila Situmorang atas kasih sayang dan dukungan doa yang
diberikan kepada penulis. Keluarga besar penulis yang tidak bisa
disebutkan satu persatu, terima kasih atas dukungannya.
12.Spesial ditujukan kepada sahabat-sahabatku tersayang : Helen
Kurnia Sitinjak, Herry A Sianturi, Mas Dhani, Andri, Eva, Darwin,
Herry M, Remaja Barus, Vina, Maria S, Helen, Harni, Aless, Kia,
Kevin dan Toto yang tidak pernah berhenti memberikan semangat
kepadaku dan Thanks untuk persahabatannya.
13.Kepada Kerabat Antropologi 2005 yang tidak bisa disebutkan satu
persatu, terima kasih atas persaudaraanya, dan semua stambuk
2006, 2007, 2008, dan 2009 yang tidak bisa disebutkan satu
persatu.
Akhir kata atas bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, penulis
mendoakan semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan dan melimpahkan
karuniaNya kepada kita semua. Penulis berharap kiranya skripsi ini dapat bermanfaat
bagi pembaca.
Medan, Mei 2010
DAFTAR TABEL
Tabel 2.3.1 Jumlah Penduduk Perdusun Dibagi Bedasarkan Jenis Kelamin…… 27
Tabel 2.4.1 Jumlah Bangunan Rumah Menurut Jenis Konstruksi……… 29
Tabel 2.5.1 Sarana Pendidikan………. 30
Tabel 2.6.1 Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama………... 32
ABSTRAK
Erold Eben Haezer Situmorang, 2010. Ekoturisme di Sibolangit, terdiri dari 5 BAB, 83 halaman, 5 daftar tabel, daftar pustaka, 15 daftar informan, 13 pedoman wawancara, 18 foto penelitian dan 1 peta lokasi dan 2 surat penelitian.
Penelitian ini mengkaji tentang ekoturisme di Sibolangit. Tulisan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran apa-apa saja kegiatan orang-orang yang berkemah, dan mengapa mereka memilih tempat ini sebagai tempat yang cocok untuk kegiatan berkemah, dan alasan wisatawan memilih tempat ini sebagai tempat tujuan mereka untuk berwisata. Serta ingin mengetahui strategi pengelolaan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah, masyarakat, dan wisatawan yang terkait dalam pelayanan kegiatan pariwisata. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif sebagai alat analisisnya.
Hasil penelitian ini adalah Kawasan Taman Wisata Alam Sibolangit sangat potensial untuk dikembangkan sebagai lokasi ekoturisme, mengingat daerah ini memiliki keanekaragaman sumber daya alam hayati yang khas, didalamnya terdapat Air Terjun Dwi Warna yang sangat menarik dan unik yaitu dua air terjun yang mempunyai dua warna yang berbeda antara air terjun yang satu berwarna biru dan air terjun yang kedua berwarna putih, dikawasan Taman Wisata Alam Sibolangit ini juga terdapat sungai dengan air yang jernih serta beberapa jenis spesies hewan, tumbuhan dan pemandangan alam yang indah.
Kesimpulan penelitian ini menyimpulkan bahwa alasan wisatawan berkunjung ke Taman Wisata Sibolangit adalah rasa penasaran, ingin menyegarkan pikiran, dan menenangkan diri dari kehidupan di kota dengan pekerjaan-pekerjaan yang membuat pikiran jenuh. Mereka mengangap tempatnya sangat bagus untuk tempat rekreasi dikarenakan lokasinya yang berada didataran tinggi serta udaranya yang bersih dan sejuk jauh dari polusi. Aktivitas pengunjung yang berkemah di Taman Wisata Sibolangit dimula dari pagi hari sampai siang mulai dari mendirikan tenda, menyiapkan kebutuhan yang diperlukan seperti mencari kayu bakar, menyiapkan bekal untuk kebutuhan makan. Malam hari aktivitas pengunjung yaitu menyalakan kayu bakar untuk penerang dan penghangat badan, ada yang memainkan alat musik dan bernyanyi untuk menghilangkan rasa jenuh dan sebagian lagi berinteraksi kepada sesama pengunjung lain yang sedang kemping (berkemah). Strategi pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah setempat bekerjasama dengan masyarakat berusaha menanami hutan yang selama ini ditebang agar pepohonan besar dihutan penyangga tidak ditebang habis, sehingga tidak berpengaruh pada hilangnya berbagai spesies hewan dan tumbuhan, erosi tanah sekaligus pengikisan unsur hara, sungai kekeringan atau turunnya debit air.
BAB III EKOTURISME DI SIBOLANGIT ………... 35
3.1. Perkembangan Ekoturisme di Taman Wisata Alam Sibolangit…….. 35
3.1.1. Sejarah Ekoturisme di Taman Wisata Alam Sibolangit…... 35
3.1.2. Badan Pengelola Kepariwisataan ……… 36
BAB IV AKTIVITAS WISATAWAN YANG BERKEMAH(KEMPING).... 57
4.1. Kegiatan Pengunjung yang berkemah di Taman Wisata Sibolangit… 57
4.2. Ranger (Pemandu)………. 62
4.3. Penyediaan Sarana dan Prasarana………... 65
4.3.1. Fasilitas Rekreasi……… 65
4.3.2. Fasilitas Informasi dan Pelayanan……….. 65
4.3.3. Fasilitas Transportasi……….. 66
4.4. Strategi Pengelolaan dan Pelestarian Ekoturisme………. 66
DAFTAR PUSTAKA……….. 77
DAFTAR INFORMAN………... 79
PEDOMAN WAWANCARA ………. 81
LAMPIRAN ……… 83
FOTO PENELITIAN ……….. 83
SURAT IJIN PENELITIAN ………... 85
ABSTRAK
Erold Eben Haezer Situmorang, 2010. Ekoturisme di Sibolangit, terdiri dari 5 BAB, 83 halaman, 5 daftar tabel, daftar pustaka, 15 daftar informan, 13 pedoman wawancara, 18 foto penelitian dan 1 peta lokasi dan 2 surat penelitian.
Penelitian ini mengkaji tentang ekoturisme di Sibolangit. Tulisan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran apa-apa saja kegiatan orang-orang yang berkemah, dan mengapa mereka memilih tempat ini sebagai tempat yang cocok untuk kegiatan berkemah, dan alasan wisatawan memilih tempat ini sebagai tempat tujuan mereka untuk berwisata. Serta ingin mengetahui strategi pengelolaan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah, masyarakat, dan wisatawan yang terkait dalam pelayanan kegiatan pariwisata. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif sebagai alat analisisnya.
Hasil penelitian ini adalah Kawasan Taman Wisata Alam Sibolangit sangat potensial untuk dikembangkan sebagai lokasi ekoturisme, mengingat daerah ini memiliki keanekaragaman sumber daya alam hayati yang khas, didalamnya terdapat Air Terjun Dwi Warna yang sangat menarik dan unik yaitu dua air terjun yang mempunyai dua warna yang berbeda antara air terjun yang satu berwarna biru dan air terjun yang kedua berwarna putih, dikawasan Taman Wisata Alam Sibolangit ini juga terdapat sungai dengan air yang jernih serta beberapa jenis spesies hewan, tumbuhan dan pemandangan alam yang indah.
Kesimpulan penelitian ini menyimpulkan bahwa alasan wisatawan berkunjung ke Taman Wisata Sibolangit adalah rasa penasaran, ingin menyegarkan pikiran, dan menenangkan diri dari kehidupan di kota dengan pekerjaan-pekerjaan yang membuat pikiran jenuh. Mereka mengangap tempatnya sangat bagus untuk tempat rekreasi dikarenakan lokasinya yang berada didataran tinggi serta udaranya yang bersih dan sejuk jauh dari polusi. Aktivitas pengunjung yang berkemah di Taman Wisata Sibolangit dimula dari pagi hari sampai siang mulai dari mendirikan tenda, menyiapkan kebutuhan yang diperlukan seperti mencari kayu bakar, menyiapkan bekal untuk kebutuhan makan. Malam hari aktivitas pengunjung yaitu menyalakan kayu bakar untuk penerang dan penghangat badan, ada yang memainkan alat musik dan bernyanyi untuk menghilangkan rasa jenuh dan sebagian lagi berinteraksi kepada sesama pengunjung lain yang sedang kemping (berkemah). Strategi pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah setempat bekerjasama dengan masyarakat berusaha menanami hutan yang selama ini ditebang agar pepohonan besar dihutan penyangga tidak ditebang habis, sehingga tidak berpengaruh pada hilangnya berbagai spesies hewan dan tumbuhan, erosi tanah sekaligus pengikisan unsur hara, sungai kekeringan atau turunnya debit air.
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Manusia selalu bergerak, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, ciri ini
menandai pola kehidupan manusia pada bangsa primitif maupun modern. Mobilitas
merupakan hakiki manusia itu sendiri yang tidak pernah terpaku pada suatu tempat
untuk memenuhi tuntutan kelangsungan hidupnya. Demikian juga dengan pariwisata.
Sudah berabad-abad lamanya melakukan perjalanan, bahkan sudah ribuan tahun yang
silam manusia sudah melakukan perjalanan dengan alasan tugas militer dan
kepentingan bisnis serta untuk meneliti jenis-jenis makanan sejak jaman prasejarah.
Bahkan perjalanan berekreasi atau berhari libur sudah lama berlangsung sejak hidup
manusia. Ukiran pada pekuburan raja-raja yang sedang melakukan perjalanan untuk
mencari hiburan, misalnya mengail disungai Nil atau berburu di padang pasir.
(Wahab, 1998 : 1).
Pariwisata berasal dari dua kata, yakni Pari dan Wisata. Pari dapat diartikan
sebagai banyak, berkali-kali, berputar-putar atau lengkap. Sedangkan wisata dapat
diartikan sebagai perjalanan atau bepergian yang dalam hal ini sinonim dengan kata
”travel” dalam bahasa Inggris. Atas dasar itu, maka kata ”Pariwisata” dapat diartikan
sebagai perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau berputar-putar dari suatu tempat
ke tempat yang lain, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan ”Tour”. (Yoeti,
1991:103), sedangkan menurut RG. Soekadijo (1997:8), pariwisata ialah segala
Sebagai suatu aktivitas manusia, pariwisata adalah fenomena pergerakan
manusia, barang, dan jasa yang sangat kompleks. Pariwisata semakin berkembang
sejalan perubahan-perubahan social, budaya, ekonomi, teknologi, dan politik.
Runtuhnya sistem kelas dan kasta semakin meratanya distribusi sumberdaya ekonomi,
ditemukannya teknologi transportasi, dan peningkatan waktu luang yang didorong
oleh penciutan jam kerja telah mempercepat mobilitas manusia antar daerah, Negara,
dan benua, khususnya dalam hal pariwisata.
Seperti yang dikutip Dr. James J. Spillane dari M.J. Prajogo (1990 : 13) gejala
pariwisata dalam arti sempitnya adalah kunjungan ke tempat-tempat tertentu sebagai
motivasinya, maupun dalam arti luasnya mencangkup dari segala macam motivasi
yang berpengaruh pada segi kehidupan masyarakat, baik segi sosial, ekonomi, yang
biasa dinyatakan dengan angka (quantifiable) maupun pada segi sosial
(unquantifiable). Pengaruh itu bisa menguntungkan, sehingga perlu untuk diliput,
digandakan dan bisa merugikan sehingga sedapat mungkin dihindari atau dibatasi.
Kehadiran pariwisata di Indonesia ternyata telah memberikan peranan dan
pengaruhnya terhadap masyarakat. Pengaruh ini dapat berupa hal-hal yang positif,
seperti meningkatnya pendapatan masyarakat, membuka lapangan kerja yang baru
dan menambah devisa negara dalam bidang kepariwisataan. Dikebanyakan
negara-negara berkembang saat ini kurangnya dana bagi pembangunan negara-negara diantisipasi
dengan suatu perencanaan yang mengikut sertakan peluang industri wisata bagi
pemasukan devisa. Untuk mendorong tumbuhnya industri wisata banyak negara
Dengan mantapnya industri wisata diharapkan aliran dollar dapat masuk ke
kas negara dan selanjutnya digunakan bagi kas pembangunan, mengurangi hutang luar
negeri, membantu pembayaran import, membantu dan mendorong penguatan
infarastruktur domestik dan mendukung program-program sosial dan peningkatan
sumber daya manusia.
Samsuridjal (1997:24) mengemukakan bahwa jenis-jenis wisata antara lain:
a) Wisata Rekreasi, wisata yang dilakukan orang untuk memanfaatkan
waktu libur di luar rumah. Kebanyakan wisata jenis ini dilakukan
untuk menikmati keindahan alam.
b) Wisata Bahari, Wisata dengan obyek kawasan laut misalnya
menyelam, berselancar, berlayar, memancing dan lain-lain.
c) Wisata Alam, wisata dengan obyek Alam. Obyek gunung yang tinggi,
gua, sungai yang deras, tebing terjal. Pada umumnya peminat obyek ini
adalah para remaja dan petualang.
d) Wisata Budaya, wisata yang menawarkan obyek yang berupa tradisi
dan budaya serta adat istiadat masyarakat yang unik.
e) Wisata Olahraga, Wisata yang dilakukan dengan tujuan pertandingan
dan meningkatkan prestasi olah raga.
f) Wisata Bisnis, Perjalanan yang dilakukan untuk tujuan bisnis. Wisata
jenis ini membutuhkan sarana penunjang bisnis yang baik.
g) Wisata Konvensi, Wisata yang dilakukan ke suatu negara untuk
h) Wisata Jenis lain, keinginan dan ketertarikan masyarakat beraneka
ragam. Perkembangan jenis wisata juga semakin banyak. Kini mulai
populer dengan apa yang disebut dengan wisata sejarah, arkeologi,
berburu, safari, fotografi, bulan madu dan sebagainya.
Wisata merupakan salah satu penggerak perekonomian penting di banyak
kawasan dunia. World Travel and Tourism Concil (WTTC), pada tahun 1995
mengindikasikan dampak positif di sektor wisata bagi perekonomian dunia sebagai
berikut :
1. Sektor wisata akan menggerakkan dan menyumbangkan (setidaknya) 10,9%
dari GDP dunia.
2. Sektor wisata akan memberikan kontribusi lebih dari 11,4% investasi capital
dunia.
3. Sektor wisata diharapkan akan memberikan kontribusi di sektor pembayaran
pajak lebih dari 655 US $ (Brandon, dalam Lukman, 2004).
Amerika Selatan mempunyai pemandangan alam yang beragam dan sangat
menawan. Hutan dan margasatwa didalamnya yang berbeda dengan kawasan
manapun dibelahan dunia lainnya. Situs-situs arkeologi, pantai yang indah, iklim yang
menarik serta kekayaan budaya setempat. Semua pemerintah di negara-negara di
Amerika Selatan telah menyadari peranan penting pariwisata dalam kawasannya
masing-masing. Namum pertumbuhan wisatanya belum mencapai yang diharapkan.
Kecilnya jumlah wisatawan yang mengunjungi kawasan Amerika Selatan ini
A. Amerika Selatan belum maksimal melakukan promosi dan pembangunan di
sektor wisata secara serius.
B. Kawasan Amerika Selatan adalah kawasan yang mempunyai jarak relatif jauh
dari negara-negara penyumbang wisata Internasional.
C. Atraksi yang digunakan belum mempunyai kekuatan kompetitif terhadap
kawasan lainnya.
Berbeda dengan industri wisata di Malaysia yang tumbuh dengan cepat
dimulai pada tahun 1995. Total penerimaan dari sektor wisata bagi Malaysia
tercatat 3,6 Milliar US $ dari sekitar 7. 468. 749 wisatawan dengan rata-rata
waktu kunjung 11-8 dalam waktu semalam. Melihat dari sektor wisata
tersebut pemerintah Malaysia menganggarkan 119 juta US $ untuk
pembangunan sektor pariwisata. Dilakukan kampanye-kampanye pariwisata
dilakukan secara besar-besaran di seluruh penjuru dunia yakni dengan
memanfaatkan keunikan Malaysia lewat semboyan “ Malaysia : Truly Asia “.
Promosi ini digencar-gencarkan dibandara-bandara, majalah-majalah,
iklan-iklan televisi, serta biro-biro perjalanan wisata / travel (Luchman, 2004).
Tetapi sungguh sangat disesalkan dalam mempromosikan biro-dalam
mempromosikan keunikan yang ada dinegaranya, Malaysia secara sepihak mengambil
atau mengklaim budaya-budaya yang berasal dari Indonesia sebagai salah satu dari
kekayaan budaya Malaysia, untuk menarik wisatawan-wisatawan mancanegara.
Budaya-budaya yang diklaim atau diakui Malaysia sebagai budaya yang berasal dari
a. Batik
b. Alat musik tradisional Angklung
c. Kesenian tradisional Reog Ponorogo
d. Kesenian Wayang
e. Lagu “ Rasa Sayange “
f. Tari Pendet
Menurut A.J Nerwal, wisatawan adalah seorang yang memasuki wilayah
negeri asing dengan maksud dan tujuan apapun asalkan bukan untuk tinggal permanen
atau untuk usaha-usaha yang teratur melintasi perbatasan dan mengeluarkan uangnya
di negeri yang dikunjungi, dimana apa yang diperolehnya itu bukan suatu yang ada di
daerahnya tetapi yang ada di daerah orang lain.
Di Negara Indonesia sendiri pertumbuhan wisatawan mancanegara mencapai
angka tertinggi di tahun 1989 (25 %), kemudian turun drastis mencapai pertumbuhan
terendah pada tahun 1997 yaitu ketika terjadi kerusuhan terbesar di Indonesia.
Ketakutan akan keamanan terus menggerogoti angka kunjungan pada tahun-tahun
berikutnya dimana tahun 1998 pertumbuhan tercatat – 11, 16 %. Konflik horizontal
yang terjadi di Ambon dan Poso dan dampak dari aksi terorisme juga menjadi penentu
keberhasilan industri wisata suatu kawasan, wisatawan harus mendapatkan
Keterpurukan industri wisata Indonesia setelah kerusuhan tahun 1998 semakin
parah ketika kasus teror Bom Bali I yang menelan ratusan korban jiwa yang sebagian
besar korbannya adalah wisatawan asing/mancanegara. Setahun kemudian
daerah-daerah wisata di Indonesia semakin sepi dari kunjungan wisatawan-wisatawan baik
domestik maupun mancanegara.
Berlanjutnya teror-teror bom seperti bom Marriot I, bom Kedubes Australia,
bom Bali II, dan baru-baru yang terjadi terakhir kali adalah bom Kuningan (Marriot
dan Ritzh Charlton)semakin meyakinkan negara-negara luar terutama negara-negara
Barat untuk mengeluarkan “travel warning” bagi warganya untuk berwisata ke
Indonesia, mengingat sasaran teroris adalah orang-orang barat.
Di Negara Indonesia sendiri konsep formal pariwisata tercantum dalam pasal I
Instruksi Presiden No 9. Tahun 1990 tentang kepariwisataan. Dalam pasal tersebut
dirumuskan bahwa ruang lingkup pariwisata adalah semua kegiatan yang
berhubungan dengan promosi, perjalanan dengan fasilitas lainnya yang diperlukan
oleh para wisatawan.
Indonesia dikenal sebagai negara yang kekayaan sumber daya alam hayati
terutama dalam hal keanekaragaman flora, fauna dan tipe-tipe ekosistem yang semua
ini mempunyai potensi yang sangat besar untuk dapat dimanfaatkan dalam
Keanekaragaman yang tinggi mempunyai arti penting dalam bidang ekonomi,
terutama untuk kebutuhan bahan pangan, obat-obatan, kosmetika dan pengembangan
wisata yang berbasis alam; hutan, laut dan matahari. Potensi ekonomi dari kekayaan
alam kita ini, tak dapat kita raih dimasa datang jika erosi keanekaragaman hayati, dari
segi ekosistem, spesies maupun genetic terus terjadi akibat exploitasi yang berlebih
dan adanya pemanasan global dan perubahan iklim.
Dari dunia timur maupun barat telah banyak mengunjungi Indonesia. Dalam
melakukan perjalanan tersebut merupakan awal perjalanan dari ekowisata. Wisata ini
tidak hanya sekedar untuk melakukan pengamatan burung, penelusuran jejak hutan
belantara, tetapi telah terkait dengan konsep pelestarian hutan dan pengembangan
penduduk lokal. Ekowisata ini kemudian merupakan suatu perpaduan dari berbagai
minat yang tumbuh dari keprihatinan terhadap lingkungan ekonomi dan sosial serta
memanasnya suhu permukaan bumi akibat adanya pemanasan global yang semakin
parah akibat adanya efek rumah kaca. Ekowisata tidak dapat dipisahkan dengan
konservasi, oleh sebab itu bisa juga disebut sebagai bentuk perjalanan wisata yang
bertanggungjawab.
Berbeda dengan wisata konvensional, ekowisata merupakan kegiatan wisata
yang menaruh perhatian besar terhadap kelestarian sumber daya alam. Masyarakat
ekowisata Internasional mengartikannya sebagai perjalanan wisata alam yang
bertanggung jawab dengan cara mengkonservasi lingkungan dan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat lokal (dalam Anton dan Helmut 2006 : 36).
Ekowisata merupakan suatu bentuk wisata yang sangat erat dengan
prinsip-prinsip konservasi. Dengan demikian ekowisata sangat tepat dan berdaya guna dalam
Propinsi Sumatera Utara yang dengan kekayaan alamnya yang beragam
merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang banyak kita jumpai objek wisatanya,
khususnya untuk kegiatan ekowisata, yang diantaranya bisa kita temukan di daerah
Kabupaten Deli Serdang (terutama daerah wisata alam Sibolangit) di daerah
Kabupaten Langkat (daerah wisata Bukit Lawang), Kabupaten Dairi dan Kabupaten
Karo dan yang lainnya, hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini. :
Tabel berikut akan memberikan gambaran lokasi-lokasi wisata alam yang ada
di Sumatera Utara :
NO Taman Wisata Objek Wisata
1 Cagar Alam Sibolangit (Deli Serdang)
1.1Pemandangan alam pesisir timur
Sumatera Utara 1.2Karantina Orang Utan
2 Suaka Margasatwa Karang
Gading (Langkat Timur)
2.1 Pemandangan laut lepas pantai Selat Malaka
2.2 Berbagai lokasi memancing ikan laut.
3 Taman Wisata Alam
Sibolangit (Deli Serdang)
3.1 Koleksi Jenis Pohon dalam dan luar negeri
3.2 Sarana pengenalan penelitian jenis pohon
4 Suaka Margasatwa
Siranggas (Dairi)
4.1 Habitat satwa yakni Harimau Sumatera, Rusa, kancil dan sebagainya
5 Taman wisata alam Lau
Debu-debu (Tanah Karo)
5.1 Pemandian air panas
5.2 Tempat-tempat suci bagi penganut kepercayaan Pemena
Demikian juga dengan Taman Wisata Alam Sibolangit (Luas + 24,85 Ha)
sebagai objek penulis. Tanaman Wisata Alam Sibolangit terletak di Kecamatan
Sibolangit Kabupaten Deli Serdang atau tepatnya di Sibolangit Camp Area (Area
kemping Sibolangit). Penulis memilih lokasi ini sebagai objek penelitian adalah untuk
mendapatkan gambaran alasan para wisatawan memilih lokasi ini sebagai lokasi
tempat wisata berkemah serta aktivitas kesehariannya ketika berkemah dan ingin
melihat peran-peran institusi terhadap kawasan wisata Taman Wisata Alam
Sibolangit.
Hampir setiap hari Taman Wisata Alam Sibolangit selalu dikunjungin oleh
para wisatawan terutama yang berasal dari kota Medan ataupun dari Tanah Karo,
tetapi ada juga yang berasal dari Tanjung Balai, Pematang Siantar, Langkat dan
daerah-daerah lain yang ada di kawasan Sumatera Utara, juga turis mancanegara ada
yang datang ke tempat ini. Memang tidak heran jika para wisatawan yang datang
ketempat ini dikarenakan Taman Wisata Sibolangit juga merupakan tempat atau pusat
kegiatan Pramuka, hampir setiap bulan ada saja kegiatan Pramuka dikarenakan
kawasan Sibolangit adalah tempat Jambore di Sumatera Utara, bahkan pada tahun
1977 Sibolangit pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan Jambore Nasional yang
dilaksanakan pada tanggal 1-20Juli 1977, dan didalam Taman Wisata Alam Sibolangit
ini juga terdapat kekayaan alam yang sangat indah dan unik yaitu Air Terjun Dwi
Pertumbuhan wisata ini didorong oleh semakin banyaknya para Pecinta Alam
(Nature Lovers). Walaupun pada kenyataannya sangat sulit didefinisikan “Pecinta
Alam” para kelompok ini telah menyumbangkan jasa besar bagi pembukaaan
daerah-daerah baru bagi tujuan wisata, terutama pada ekosistem hutan tropik dengan
kekayaan hayatinya yang khas. Sangat disayangkan beberapa “Pecinta Alam”
menyumbangkan peran besar bagi menurunnya nilai-nilai, situs-situs atau monument
alam dengan cara mencoret-coret dan mengotori komponen-komponen seperti
bebatuan, tebing, kayu, dan lain-lain.
Selain itu, pengunjung sering memasuki destinasi wisata dengan membawa
makanan yang dikemas dalam berbagai produk dan bentuk. Bahan-bahan pengemas
yang tidak dapat terdegradasi dan beracun seperti palstik, ataupun botol gelas.
Bahan-bahan tersebut secara ekologis tidak akan mampu dicerna dan dihancurkan oleh
organisme-organisme pengurai dan akibatnya limbah tersebut terakumulasi di
lingkungan tanpa dapat diuraikan (Nebel dan Wright, 2000).
Kejadian seperti yang disebutkan di atas juga terjadi di Taman Wisata Alam
Sibolangit, bisa dilihat banyak orang yang datang ke taman tersebut membuang
sampah secara sembarangan, mangambil tanaman-tanaman di hutan seperti jamur, dan
tanaman-tanaman lainnya yang dijadikan oleh mereka oleh-oleh perjalanan mereka,
bahkan ada beberapa yang menjual sebagai hiasan. Juga tidak jarang mereka membuat
“prasasti-prasasti” dibebatuan, pohon-pohon dan sebagainya sehingga mengotori
1.2. Perumusan Masalah
Beradasarkan uraian latar belakang masalah di atas maka perumusan masalah
penelitian ini dapat diperjelas dengan pertanyaan sebagai berikut :
1. Bagaimana aktivitas pengunjung yang kemping (berkemah) di Taman Wisata
Alam Sibolangit ?
2. Apakah yang menjadi alasan wisatawan memilih Taman Wisata ini sebagai
tempat perjalanan wisata alam mereka ?
3. Bagaimana strategi pengelolaan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah
masyarakat setempat, serta wisatawan yang terkait dalam pelayanan kegiatan
kepariwisataan tanpa melupakan kelestarian lingkungan ?
1.3. Lokasi Penelitian
Daerah lokasi penelitian penulis memilih lokasi Taman Wisata Alam
Sibolangit dengan fokus penelitian di Kawasan Kemping Sibolangit dengan : Air
Terjun Dua Warna, Jagawana Atas, DAM, Pintau, Sinembah Dll. Taman Wisata
Alam ini dikelilingi hutan lindung dengan desa yang terdekat adalah Desa Bandar
Baru, kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang.
1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif bertujuan untuk
mendapatkan gambaran apa-apa saja kegiatan orang-orang yang berkemah dan
mengapa mereka memilih tempat ini sebagai tempat yang cocok untuk kegiatan
berkemah, dan alasan wisatawan memilih tempat ini sebagai tempat tujuan mereka
Serta ingin mengetahui strategi pengelolaan yang dilakukan oleh Pemerinta
Daerah, masyarakat, dan wisatawan yang terkait dalam pelayanan kegiatan
pariwisata.
Adapun manfaat penelitian dari hasil penelitian ini untuk menambah referensi
dibidang antropologi, menambah wawasan dan sebagai acuan untuk
penelitian-penelitian selanjutnya.
1.5. Tinjauan Pustaka
Konsep ekoturisme merupakan suatu konsep yang akhir-akhir ini gencar
dibicarakan baik dalam seminar, maupun lokakarya. Konsep ini diisukan mempunyai
peran ganda yaitu disatu pihak mampu melestarikan sumber daya alam dan dipihak
lain mampu meningkatkan devisa negara dan pendapatan masyarakat disekitar
kawasan. Istilah ekoturisme muncul akibat semakin terancam punahnya sumber daya
alam hayati yang dapat mengancam kehidupan manusia (Mangarah, 1992).
Ekoturisme diartikan sebagai suatu perjalanan yang bersahabat dengan
lingkungan alam, tidak mengganggu alam, sekalipun tujuan perjalanan itu menikmati
pemandangan alam, dan pepohonan, yang alami, udara yang segar, kebudayaan
masyarakat sekitarnya,, menikmati flora dan fauna, yang ada dilingkungan tersebut.
Menurut Mardjuka, (1995:22) ekoturisme meliputi semua kegiatan yang harus
Hal serupa juga diungkapkan oleh Elisabeth Boo, seorang pakar wisata
Ecotourism dari WWF (World Wildlife Foundation)dalam bukunya yang berjudul
The Potential and Pitfall (1990) dengan mengutip pandangan Nector Celballos Las
Curain dari IUONR (International Union For Conservation of Nation Resources).
Berpandangan bahwa :
• Ecoturism is defined as traveling to relatively undisturbed or uncontaminated nature areas with the specific objectives of studying, admiring, and enjoying the scenary and its wild plant and animal, as well existing cultural.
Mengandung arti bahwa ekoturisme dapat didefenisikan sebagai suatu
kunjungan kesuatu daerah yang tidak merusak alam dan tidak mencemari
kealamiahan lingkungan dengan tujuan study, mengagumi alam atau menikmati
pemandangan pegunungan dan pepohonan yang ada dipuncak bukit, serta berbagai
jenis hewan, maupun kebudayaan yang ada didalmnya.
Pariwisata berasal dari dua kata, yakni Pari dan Wisata. Pari dapat diartikan
sebagai banyak, berkali-kali, berputar-putar atau lengkap. Sedangkan wisata dapat
diartikan sebagai perjalanan atau bepergian yang dalam hal ini sinonim dengan kata
”travel” dalam bahasa Inggris. Atas dasar itu, maka kata ”Pariwisata” dapat diartikan
sebagai perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau berputar-putar dari suatu tempat
ke tempat yang lain, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan ”Tour”. (Yoeti,
1991:103), sedangkan menurut RG. Soekadijo (1997:8), pariwisata ialah segala
Salah satu objek wisata ekoturisme yang terpenting adalah hutan. Hutan
merupakan ekosistem atau kekayaan alam yang mempunyai jasa ekonomi maupun
biologi. Di bidang ekonomi, hutan dapat diolah masyarakat untuk berbagai kebutuhan
seperti kayu bakar, papan, obat-obatan, dan pemukiman. Dibidang biologi hutan
menjamin kelangsungan hidup hayati dan pemeliharaan tanah. Dari segi ekologi hutan
terdiri dari berbagai tumbuhan atau vegetasi yang berinteraksi dengan semua factor
lingkungan.
Hal ini sejalan dengan fungsi hutan sebagi taman nasional, cagar alam, suaka
margasatwa, taman wisata, taman buru, hutan lindung dan lain-lain. (Khoyat, 1995 :
20). Bahkan fungsi ekoturisme menarik dan sejalan dengan gerkan hijau yang
memperjuangkan pembangunan yang berkelanjutan. Oleh sebab itu hutan merupakan
objek yang terpenting bagi ekoturisme,(Wirawan : skripsi, 2007) .
Pohon-pohon yang ada di dalam hutan sangat penting dalam usaha
menstabilkan kesuburan tanah. Misalnya hutan-hutan di sepanjang Bukit Barisan
merupakan mata rantai utama yang menghubungkan musim hujan dengan
kelangsungan hidup. Secara tidak langsung tanah-tanah di tebing-tebing sangat mudah
laongsor apabila semua pohon sudah habis dan dapat membahayakan masyarakat di
sekitar lingkungan tersebut.
Gangguan-gangguan hidroliks berupa banjir, maupun kurangnya debit air yang
mengalir pada musim kemarau didaerah yang pohon-pohonnya sudah habis ditebang.
Hal ini sesuai dengan UU No 32 tahun 2009 beberapa point penting dalam UU No 32
1. Keutuhan unsur-unsur pengelolaan lingkungan hidup.
2. Kejelasan kewenangan antara pusat dan daerah.
3. Penguatan pada upaya pengendalian lingkungan hidup
4. Penguatan instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan
hidup, yang meliputi instrumen kajian lingkungan hidup strategis, tata ruang,
baku mutu lingkungan hidup, kriteria baku kerusakan lingkungan hidup,
amdal, upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan
lingkungan hidup, perizinan, instrumen ekonomi lingkungan hidup, peraturan
perundang-undangan berbasis lingkungan hidup.
5. Pendayagunaan perizinan sebagai instrumen pengendalian;
6. Pendayagunaan pendekatan ekosistem;
7. Kepastian dalam merespons dan mengantisipasi perkembangan lingkungan
8. Penguatan demokrasi lingkungan melalui akses informasi, akses partisipasi
dan akses keadilan serta penguatan hak-hak masyarakat dalam perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup;
9. Penegakan hukum perdata, administrasi, dan pidana secara lebih jelas;
10.Penguatan kelembagaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang
lebih efektif dan responsif
11.Penguatan kewenangan pejabat pengawas lingkungan hidup dan penyidik
Pemulihan sumber daya hutan dan bukan hanya bersifat ekstraktif semata
tanpa memperhatikan dampak yang akan ditimbulkan akibat adanya eksploitasi hutan.
Pemanfaatan hutan sebagai tempat tujuan wisata sendiri harus memeperhatikan usaha
atau penanggulangan dampak penting yang negatif yang bersumber kepada :
teknologi yang dipakai, ukuran ekonomi dan pilihan lembaga yang mengelola. Dari
ketiganya aspek teknologi yang harus diwaspadai, sebab dampak lingkungan akan
hanya mungkin dilakukan dengan menggunakan metedologi/teknologi yang tepat
guna (Mardjuka,1995 : 22). Khusus untuk kegiatan kepariwisataan, pemerintah
berdasarkan Undang-undang konservasi dapat memberikan izin hak pengusahannya
pada zona kawasan pemanfaatan di Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam
dengan mengikutsertakan masyarakat.
Kegiatan pengusahaan ditujukan untuk meningkatkan pendapatan dan devisa
negara serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Zain, 1995 : 28-30).Pengelolaan
hutan agar hutan wisata itu lestari, maka pihak yang diberi wewenang, bekerjasama
dengan masyarakat dan tidak menyampingkan kearifan lokal. Seperti yang terdapat
pada hutan wisata Kera Sangeh, di Bali, dimana hutan tersebut dapat lestari karena
pengelolaannya yang mengikutsertakan masyarakat adat setempat, di samping itu
masyarakat di sekitar hutan tersebut mampu meningkatkan pendapatan mereka
melalui arus pariwisata yang berkunjung untuk menikmati hutan itu. (Atmaja dalam
Kawasan Konservasi didefinisikan sebagai kawasan yang dilindungi karena
ciri-ciri tertentu yang dimiliki oleh kawasan tersebut cirri-ciri tersebut antara lain :
(Mac Kinnon et.al dalam Chafid Fandelli 2000)
• Keunikan ekosistemnya, misalnya terdapat faunistik yang khas di pulau
Sulawesi antara garis abstrak Wallace dan Weber.
• Adanya sumber daya fauna yang telah terancam kepunahan, misalnya Badak
Jawa bercula satu, di Ujung Kulon, Banteng di Baluran dan Jalak di Bali
Barat.
• Keanekaragaman baik jenis flora dan faunanya, misalnya Kawasan Gunung
Gede Pangrango.
• Panorama atau ciri Geofisik yang memiliki nilai esteitik.
• Karena fungsi Hidro-logi kawasan untuk pengaturan air, erosi dan kesuburan
tanah.
Didalam UU No 5 tahun 1990 disebutkan dua kategori kawasan konservasi
yaitu :
1. Kawasan Suaka Alam yang terdiri atas Cagar Alam, dan Suaka
Margasatwa. Memiliki khas baik didarat maupun diperairan sebagai
kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta
ekosistemnya, yang berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga
kehidupan.
2. Kawasan Pelestarian alam yang terdiri atas Taman Nasional, Taman
Hutan Raya dan Taman Wisata Alam.
Begitu juga dengan Taman Wisata Alam Sibolangit memiliki ciri-ciri tersebut,
Mengingat Cagar Alam ini kaya akan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan (flora)
yang bukan hanya sekedar untuk koleksi, melainkan juga memberikan juga
memberikan kontribusi yang sangat penting bagi keperluan ilmu pengetahuan dan
pendidikan(sebagai laboratorium alam) serta pengembangan pariwisata (rekreasi),
maka pada tahun 1980 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.
636/Kpts/Um/9/1980 sebagai Cagar Alam Sibolangit (seluas 24,85 Ha) dialih
fungsikan menjadi kawasan Taman Wisata Sibolangit.
Menurut Van Lavieren dalam Chafid Fandelli (2000 : 78). Pelayanan yang
perlu dilakukan agar pengunjung merasa puas adalah :
1. Adananya pintu gerbang masuk
2. Pusat informasi
3. Kantor pengelola
4. Fasilitas kemudahan pengunjung, Telekomunikasi, Restorasi, Penginapan(jika
perlu)kebersihan laingkungan, dan MCK.
5. Fasilitas rekreasi, olahraga, tempat bermain, shelter peristirahatan
6. Rambu-rambu penting bagi pengunjung
7. Jalan-jalan dan kawasan pariwisata alam, lokasi-lokasi berkemah.
Berdasarkan keterangan yang tersebut semuanya tersedia di dalam kawasan
Taman Wisata Alam Sibolangit sehingga mempermudah pengunjung untuk
menikmati wisata alam mereka.Satu hal yang tidak boleh diabaikan terutama dalam
kaitannya dengan ekowisata adalah pelestarian lingkungan dan penghargaan atas
budaya setempat. Dalam konteks ini wisatawan dapat diajak untuk mengunjungi
bahkan terlibat dalam kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh masyarakat setempat,
Aspek pelestarian lingkungan dan penghargaan atas budaya setempat yang
terjadi merupakan bagian dari dampak ekonomi. Dengan adanya kunjungan wisata
dan masukkan unsur pemberdayaan yang tepat, maka pola-pola perilaku seperti
penebangan hutan secara liar, perburuan hewan langka, dan pertambangan liar dapat
direduksi, sederhananya pola pencarian dapat beralih kesektor wisata yang lebih
menguntungkan dan ramah lingkungan (http : // www.pnm.co.id).
1.6. Metodologi Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Menurut Hadari Nawawi metode penelitian deskriptif dapat diartikan sebagai
prosedur pemencahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau
melukiskan subjek atau objek penelitian seseorang, lembaga, masyarakat, dan
lain-lainpada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana
adanya.
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif untuk
mengumpulkan data dan informasi kualitatif, dan menjelaskan secara terperinci
mengenai alasan mengapa banyak orang yang memilih taman wisata ini sebagai
tempat yang tepat untuk berwisata mereka dan bagaimana pemerintah serta
2. Teknik Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data dan informasi yang dibutuhkan maka penulis
melakukan teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data yang digunakan
ketika peneliti melakukan observasi partisipasi di lapangan adalah dengan
menggunakan metode wawancara dan observasi partisipasi. Wawancara mendalam
(depth interview) kepada beberapa informan dengan menggunakan alat bantu
pedoman wawancara (interview guide) yang berhubungan dengan masalah penelitian.
Wawancara mendalam dimaksudkan untuk memperoleh sebanyak mungkin data-data
mengenai alasan para wisatwan, memilih tempat ini sebagai tempat berwisata, dan
untuk mengetahui alasan para pengunjung berkemah (kemping)di Taman Wisata
Sibolangit.
Informan dalam penelitian ini adalah penduduk yang di sekitar desa Bandar
Baru namun di sini peneliti mengadakan pengkategorisasikan informan menjadi
informan pangkal, informan kunci dan informan biasa.
1. Informan pangkal dalam penelitian ini adalah ranger (pemandu), orang yang
kemping, wisatawan yang berkunjung karena peneliti beranggapan bahwa
ranger,orang yang kemping dan wisatawan tersebut mengetahui siapa-siapa
saja yang diwawancara untuk mendapatkan informasi.
2. Infroman kunci merupakan seseorang yang mengetahui tentang unsur-unsur
kebudayaan yang diketahui. Dalam penelitian ini informan kunci adalah
Kepala Ranger, Kepala Desa dan tokoh-tokoh masyarakat
3. Selain informan pangkal dan informan kunci penlitian ini dibutuhklan
informan biasa. Informan biasa dapat diambil dari para wisatawan yang
berkunjung dan juga yang melakukan kemah di Taman Wisata ini serta para
Tokoh-tokoh masyarakat Informan ini dibutuhkan untuk mendapatkan
informasi mengenai Taman Wisata Sibolangit ini.
Selain wawancara penelitian ini juga menggunakan observasi
(pengamatan). Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara
sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Pengamatan dan
pencatatan yang dilakukan terhdap objek di tempat terjadi atau berlangsungnya
peristiwa, sehingga observer berada bersama objek yang diselidiki, disebut observasi
langsung.
Observasi yang dilakukan adalah observasi partisipasi yaitu peneliti ikut dalam
kegiatan kemping di taman tersebut untuk mendapatkan bagaimana aktivitas
pengunjung yang berkemah di Taman Wisata Alam Sibolangit
Sedangkan observasi tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan tidak
pada saat berlangsungnya peristiwa yang akan diselidiki misalnya peristiwa tersebut
diamati melalui pemutaran film, rangkaian slide atau rangkaian foto.
(Rachman, 1999 : 77).
1.7. Analisis Data
Analisis data merupakan proses mengatur, mengurutkan, dan
mengelompokkan memberi kode, dan mengkatagorikannya. Dalam penelitian ini
data-data yang sudah terkumpul kemudian diolah dan dianalisis secara kualitatif.
Proses analisis data dimulai dengan menealah seluruh data yang tersedia dati berbagai
sumber yaitu wawancara dan observasi. Tahap akhir dalam penelitian ini adalah
mengadakan pemeriksaan keabsahan data. Kemudian tahap penapsiran data diakhiri
BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
2.1. Letak dan Kondisi Geografis
Penelitian ini dilakukan di desa Bandar Baru Kecamatan Sibolangit Kabupaten
Deli Serdang. Desa Bandar Baru berada pada 45°14 - 6°18 LU dan 110°33 - 120°48
BT. Secara administrasi desa Bandar Baru merupakan salah satu desa dari 15 desa
yang ada di Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Propinsi Sumatera Utara
dan mempunyai batas-batas sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan desa Suka Makmur.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dati II Karo.
- Sebelah Barat berbatasan dengan Sei Betimus / desa Durin Sirugun.
- Sebelah Timur berbatasan dengan desa Sikeben.
Luas wilayah desa Bandar Baru adalah 1250 Ha atau sekitar 22,26 km persegi
Total luas ini meliputi kawasan taman wisata Sibolangit, kawasan pemukiman,
terminal, pasar, sarana rekreasi, penginapan-penginapan, dan lahan pertanian. Desa
Bandar Baru masih dibagi-bagi atas lima dusun yang masing-masing dipimpin oleh
seorang kepala dusun. Kelima dusun tersebut adalah Dusun I, Dusun II, Dusun III,
Desa Bandar Baru berada pada ketinggian 860 M diatas permukaan air laut.
Suhu rata-ratanya berkisar 18° C - 26° C dengan kelembaban udara yang relatif
tinggi, topografi desa ini terletak di dataran tinggi dengan curah hujan sepanjang
tahun berkisar antara 3250 Mm /tahun. Keadaan ini menyebabkan suasana sejuk di
kawasan ini.
Orbitasi (jarak dari pusat pemerintahan)desa ini adalah :
- Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan : - km
- Jarak dari pusat pemerintahan kota ADM : 47 km
- Jarak dari ibukota kab / kodya TK II : 74 km
- Jarak dari ibukota Prop. Dati I : 47 km
- Jarak dari ibukota Negara : - km
2.2. Sejarah Awal Mula Desa
Sejarah desa Bandar Baru menurut Kepala Desa Salomo Sembiring yaitu,
pada zaman dahulu desa ini adalah lautan yang luas ini dibuktikan dengan adanya
bekas kapal yang terdampar sebagai bukti bahwa desa ini dahulunya lautan Dulunya
desa ini adalah lautan maka itu nama desa ini dinamakan Bandar Baru oleh orang
Belanda, sebab Bandar itu artinya adalah pelabuhan, karena sejak zaman kolonial desa
Menurut Kepala Desa pada tahun sekitar 1960an desa ini dijadikan
perkebunan teh milik perusahaan-perusahan pemerintah kolonial maupun swasta yang
sekarang sudah dipindahkan ke daerah Sidamanik (Simalungun). Untuk mengelola
perkebunan-perkebunan tersebut pemerintah kolonial mendatangkan para pekerja dari
luar pulau Sumatera yaitu mendatangkan para pekerja dari Jawa untuk dipekerjakan di
perkebunan-perkebunan teh di desa ini. Selain sebagai daerah perkebunan teh dahulu
desa ini juga merupakan tempatnya gudang senjata tentara Belanda sehingga di
bangun barak-barak serta penginapan-penginapan untuk para tentara-tentara Belanda.
Pada tahun 1960an desa ini juga merupakan salah satu basis PKI yang ada di
kawasan Deli Serdang. Pada era 60-an tersebut banyak para pendatang yang datang ke
desa Bandar Baru ini, adalah penduduk pendatang. Sekitar tahun 60-an banyak
penginapan yang dibangun oleh pihak-pihak pendatang ini. Pembangunan dilakukan,
memakai tenaga buruh karyawan dari suku Jawa, oleh sebab itu suku Jawa banyak
tinggal di desa Bandar Baru ini.
Desa Bandar baru juga terkenal sebagai tempat “lokalisasi” terbesar yang ada
di Sumatera Utara bahkan sudah terkenal sampai keluar negeri, karena adanya
lokalisasi ini sudah ada sejak zaman Belanda karena orang-orang Belanda sering
membawa perempuan-perempuan dari daerah Jawa sebagai hiburan mereka.
Menurut Sofyan Kepala Dusun V menyatakan sebelum desa ini dinamakan
Bandar Baru nama desa ini adalah Silangit yang artinya di bawah langit karena letak
Sebelum desa ini terbentuk pada awalnya adalah kampung yang bernama
kampung PIK-PIK. Pendiri pertama kampung ini adalah orang keturunan Pakistan
yang sudah lama menetap di desa ini. Setelah berkembang dan menjadi desa maka
orang tersebut menjadi kepala desa yang pertama.
Alamnya yang asri dan indah menyebabkan orang sering mengunjungi desa
Bandar Baru ini terutama pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Secara terus menerus
jumlah orang yang datang ke desa Bandar Baru ini semakin bertambah. Lambat laun
kawasan ini dijadikan sebagai tempat wisata. Sehingga jumlah penduduk yang
bertempat tinggal semakin bertambah.
Di kawasan desa Bandar Baru ini juga terdapat cagar alam. Berdasarkan surat
Keputusan Menteri Pertanian No. 636/Kpts/Um/9/1980 Cagar Alam Sibolangit
(seluas 24,85Ha) dialih fungsikan menjadi kawasan Taman Wisata Sibolangit yang
menjadi fokus perhatian penulis.
2.3. Keadaan Penduduk
Penduduk desa Bandar Baru dari tahun ke tahun semakin bertambah.
Perpindahan ini erat hubungannya dengan motivasi perekonomian. Mobilitas ini pada
akhirnya turut mempengaruhi jumlah penduduk. Penduduk desa Bandar Baru
mayoritas etnis Karo dan daerah ini terdapat juga etnis-etnis lainnya yang minoritas
diantaranya etnis Jawa, etnis China, etnis Batak, etnis Nias, etnis Simalungun dan
Penduduk di desa Bandar Baru mayoritas beragama Kristen. Selain agama
Kristen tentunya juga terdapat agama lain yang dibawa oleh etnis pendatang yaitu
agama Islam yang merupakan penganut terbesar kedua di desa ini serta agama Budha,
dan Hindu.
Penduduk desa Bandar Baru berjumlah 3533 jiwa. Dengan penduduk laki-laki
berjumlah 1755 jiwa dan penduduk perempuan berjumlah 1778 jiwa. Terdapat 782
rumah tangga yang mendiami desa ini. Selanjutnya jumlah penduduk setiap dusun
dapat dilihat pada table berikut :
TABEL 2.3.1
JUMLAH PENDUDUK PERDUSUN DIBAGI BERDASARKAN JENIS KELAMIN
Sumber data : Data Kependudukan Tahun 2009 Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit
Dari tabel diatas, dapat dilihat penduduk terpadat terdapat di Dusun IV dengan
jumlah penduduk 1520 jiwa dengan penduduk laki-laki berjumlah 725 jiwa dan
penduduk perempuan berjumlah 795 jiwa, karena didusun IV banyak pendatang yang
bermukim didusun tersebut, sedangkan dusun dengan jumlah penduduk paling sedikit
yaitu Dusun I dengan jumlah penduduk berjumlah 314 jiwa yang terdiri 184 jiwa
penduduk laki-laki dan 130 jiwa penduduk perempuan.
Sehubungan dengan komposisi desa, terdapat kecenderungan mobilitas yang
tinggi, dimana terdapat jumlah penduduk yang berpindah-pindah dalam jangka waktu
tertentu. Mobilitas penduduk ada yang sifatnya harian dan ada pula yang mingguan.
Mobilitas harian terjadi pada mereka yang bekerja, berusaha, atau belajar diluar desa
Bandar Baru. Setiap hari terutama pagi hari, mereka berangkat meninggalkan desa
Bandar Baru dan baru kembali pada saat siang maupun sore hari. Itulah sebabnya
pada hari-hari biasa desa Bandar Baru sering tampak lenggang antara pukul 09.00
pagi sampai pukul 12.00 siang. Mobilitas mingguan terutama terjadi pada hari Sabtu
dan Minggu dimana banyak wiatawan yang berlibur pada hari itu.
2.4. Pola Pemukiman
Perhatian penduduk terhadap kebutuhan-kebutuhan primer seperti
sandang, pangan dan papan cukup penting, rumah merupakan salah satu sarana yang
tampak menonjol dalam kehidupan masyarakat, bukan saja berfungsi sebagai tempat
berlindung untuk keluarga tetapi terkadang dimanfaatkan juga untuk menjadi daya
tarik wisatawan. Oleh karena itu sebagian perumahan penduduk disesuaikan dengan
kebutuhan pariwisata, yaitu berupa penginapan-penginapan seperti villa, dan losmen
dengan kamar-kamar khsusus yang berukuran antara 2 x 2 meter sampai dengan 4 x 5
meter. Ada juga rumah yang sekaligus dipergunakan sebagai tempat berjualan atau
Pada garis besarnya ada tiga model rumah penduduk Desa Bandar Baru yaitu
permanen, semi permanen, dan kayu / papan. Pada umumnya masyarakat yang tinggal
di desa Bandar Baru bermukim di pinggiran-pinggiran jalan-jalan raya yang mudah
diakses transportasinya. Selain karena kemudahan sarana transportasi masyarakat juga
banyak yang bermata pencaharian sebagai pedagang. Hal ini juga mempermudah para
pedagang untuk memasarkan barang dagangannya, desa Bandar Baru juga merupakan
wilayah yang strategis kerena merupakan jalur yang dilalui transportasi antar kota dan
antar provinsi, sehingga sangat cocok untuk menjalankan usaha.
TABEL 2.4.1.
JUMLAH BANGUNAN RUMAH MENURUT JENIS KONSTRUKSI
O
Sumber Data : Kantor Kepala Desa Bandar Baru 2009, Kecamatan Sibolangit.
Penduduk dari tahun ke tahun semakin meningkat dan sarana perumahan pun
semakin meningkat dan dari tahun ketahun juga banyak yang melakukan
pembangunan rumah, baik yang berkonstruksi permanen, semi permanen serta kayu
atau papan.
2.5. Sarana dan Prasarana
2.5.1. Sarana Pendidikan
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan pada
saat ini. Penduduk desa Bandar Baru juga menganggap pendidikan merupakan hal
yang sangat penting. Orang tua tidak menginginkan anaknya menjadi orang yang
tidak berpendidikan apalagi kehidupan ini semakin ketat persaingannya. Maka
Sarana pendidikan yang ada dirasa sudah cukup memadai. Sarana
pendidikan yang ada dimulai dari tingkat pendidikan yang rendah sampai perguruan
tinggi. Bangunan sekolah yang ada di desa Bandar Baru berjumlah 8 buah. Bangunan
sekolah tersebut terdiri dari 1 buah bangunan taman kanak-kanak (TK), 2 buah
sekolah dasar (SD), 2 buah sekolah menengah pertama (SMP), 2 buah sekolah
menengah atas (SMA) dan sebuah Perguruan Tinggi. Banyaknya bangunan sekolah
yang ada dapat dilihat pada tabel berikut :
TABEL 2.5.1.
Sarana pendidikan yang terdapat di desa Bandar Baru bukan hanya
merupakan sekolah negeri, tetapi juga terdapat sekolah swasta. Tingkat pendidikan
taman kanak-kanak, menengah atas dan perguruan tinggi merupakan sekolah swasta.
Hanya terdapat dua SD negeri dan satu SMA negeri yaitu SMA negeri 1 Sibolangit.
2.5.2. Sarana Kesehatan
Di Desa Bandar Baru banyak ditemui sarana-sarana penunjang
kesehatan seperti puskesmas selain itu juga terdapat beberapa praktek dokter. Selain
berobat ke puskesmas, masyarakat juga bisa berobat ke dokter, bidan, dan dukun yang
praktek di desa Bandar Baru. Semua fasilitas kesehatan telah tersedia, kecuali Rumah
2.6. Sistem Religi
2.6.1. Sarana Ibadah
Jumlah sarana ibadah pada tahun ke tahun tidak jauh berbeda. Sarana
ibadah yang terdapat di desa Bandar Baru adalah 5 buah bangunan rumah ibadah
terdiri dari 1 buah mesjid, 3 buah gereja, dan 1 buah wihara. Kondisi sarana ibadah ini
dari tahun ke tahun selalu berkondisi baik. Pembangunan untuk mesjid, gereja, dan
wihara dari tahun ke tahun hampir tidak ada.
Agama merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Agama
dijadikan sebagai pegangan hidup sehingga masyarakat hidup rukun walaupun
terdapat berbagai macam agama, artinya toleransi penduduk cukup tinggi
Dari 3533 orang penduduk, 43,87 % atau sekitar 1550 orang adalah yang
beragama Islam. Selebihnya adalah Kristen 40,90 % atau sekitar 1445 orang, Khatolik
14,43% atau sekitar 510 orang dan Budha 0,79 % atau sekitar 28 orang, ini berarti
bahwa Kristen merupakan agama mayoritas penduduk. Meskipun demikian toleransi
keagamaan pada masyarakat desa Bandar Baru cukup tinggi
TABEL 2.6.1.
Sumber Data : Kantor Kepala Desa Bandar Baru 2009, Kecamatan Sibolangit.
Pendidikan keagamaan khususnya bagi keluarga Muslim dilakukan di sebuah
bukan satu-satunya cara penduduk mengajarkan nilai keagamaan kepada
anak-anaknya, beberapa rumah masih berlangsung pengajian juz amma yang dipimpin oleh
seorang guru (ustadz).
Acara-acara hari besar keagamaan juga sering dilaksanakan seperti
Maulid Nabi dan Isra’ Miraj bagi kaum Muslim dan perayaan-perayaan Natal serta
Paskah bagi yang Kristen dan hari-hari besar agama lainnya.
2.7. Mata Pencaharian
Penduduk desa Bandar Baru mempunyai mata pencaharian yang
beraneka ragam. Sumber mata pencaharian penduduk yang paling banyak adalah
bidang perdagangan. Mata pencaharian dalam bidang perdagangan ini juga didukung
oleh letak desa Bandar Baru sebagai salah satu lokasi wisata yang sering dikunjungi
oleh wisatawan-wisatawan dari berbagai daerah.
Bidang perdagangan bukan merupakan satu-satunya sumber mata
pencaharian bagi penduduk desa Bandar Baru ini. Penduduk desa ini juga ada yang
bekerja sebagai pegawai pemerintahan, pertanian, pegawai negeri, tentara/polisi.
Selanjutnya sumber mata pencaharian penduduk dapat dilihat pada tabel berikut :
TABEL 2.7.1.
Dari data diatas dapat dilihat bahwa selain pada sektor perdagangan penduduk
pertanian merupakan sumber mata pencaharian terbanyak kedua setelah perdagangan.
Selain pertanian dan perdagangan juga banyak penduduk yang merupakan peternak.
Data yang tertera pada tabel diatas sebenarnya sangat relatif. Hal ini
disebabkan oleh beberapa faktor dan kondisi realitas, antara lain karena :
1. Dalam satu keluarga ada dua atau lebih yang bekerja sebagai pilar utama
keluarga atau penghasilannya dijadikan sebagai sumber utama pendapatan
keluarga.
2. Ada satu kepala keluarga yang memiliki dua jenis pekerjaan utama sekaligus.
Karena cukup waktu dan dana seorang pedagang adalah juga pemilik
penginapan.
3. Data tersebut belum menggambarkan dengan jelas dan terperinci mengenai
berbagai jenis pekerjaan penduduk.
2.8. Organisasi Sosial
Salah satu ciri yang menarik kawasan ini adalah sifat kemajemukan
,masyarakatnya. Masyarakat yang tinggal di kawasan desa Bandar Baru bersifat
heterogen, terdiri dari berbagai suku dan budaya. Namun dominan sebagian besar
penduduk adalah suku Karo dan suku yang lain adalah Jawa, Toba, Tionghoa,
Mandailing, dan Aceh. Dari segi agama mayoritas beragama Kristen dan Islam,
sebagian kecil beragama Budha.
Bahasa yang digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari adalah
bahasa daerah setempat yaitu bahasa Karo dan bahasa Indonesia. Menurut Pak Pane
masyarakat, karena mayoritas penduduknya adalah etnis Karo. Demikian juga dengan
budaya Karo sudah mulai berangsur-angsur hilang khususnya dikalangan generasi
muda. Budaya Karo yang nampak masih sangat kental adalah dalam acara perkawinan
dan pada pesta tahunan. Pada saat pesta perkawinan pakaian tradisional Karo masih
dipakai oleh mempelai, demikian juga dengan tatacara atau prosesi lain mulai dari
pertunangan sampai acara pesta.
Peran Kepala Desa untuk menumbuhkan kembali budaya Karo yang sudah
mulai hilang adalah dengan membuat pesta tahunan, membentuk kelompok-kelompok
karang taruna demi untuk mempelajari lebih dalam lagi tentang budaya Karo misalnya
mengadakan acara “gendang guro-guro aron”. Pola pergaulan antar penduduk
tampak masih sangat intim, kunjungan ke rumah tetangga masih sering dipraktekkan
sekedar mengobrol mengenai berbagai hal yang dipandang penting. Ini berarti
kekerabatan antar penduduk cukup kuat untuk menopang pengaruh pariwisata.
BAB III
3.1. Perkembangan Ekoturisme di Taman Wisata Alam Sibolangit
3.1.1. Sejarah Ekoturisme di Taman Wisata Alam Sibolangit
Pada tahun 1914 Tuan J.A Lorzing mendirikan Kebun Raya Sibolangit,
sebagai cabang dari Kebun Raya Bogor. Kemudian pada tanggal 10 Maret 1938
Kawasan Kebun Raya Sibolangit tersebut ditetapkan statusnya menjadi Cagar Alam
berdasarkan Surat Keputusan Z.b No. 37/PK. Barulah pada tahun 1980 menurut Surat
Keputusan Menteri Pertanian No. 636/Kpts/Um/9/1980 sebagian kawasan Cagar
Alam Sibolangit (seluas 24,85 Ha) dialih fungsikan menjadi Kawasan Taman Wisata
Sibolangit. Dengan demikian Kawasan Cagar Alam Sibolangit hanya tinggal 85,15
Ha dan sampai sekarang belum ada perubahan.
Kawasan Taman Wisata Sibolangit yang sebagian masuk terletak di desa
Bandar Baru ini pada awalnya masih dikunjungi oleh masyarakat setempat dalam
jumlah yang terbatas dan menjadi ramai ketika sebahagian Taman Wisata Sibolangit
menjadi tempat atau lokasi bumi perkemahan pramuka untuk wilayah Sumatera Utara.
Kawasan Taman Wisata Sibolangit pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan
Jambore Nasional Gerakan Pramuka Indonesia Tahun 1977. Jambore tersebut
dilaksanakan pada tanggal 1-20 Juli 1977 setelah adanya jambore ini maka semakin
ramai dikunjungi orang baik itu dari institusi sekolah-sekolah maupun dari
mahasiswa, pecinta alam dan umum.
3.1.2. Badan Pengelola Kepariwisataan
Pengembangan pariwisata di Taman Wisata Sibolangit sangat tergantung pada
menyelenggarakan segala aktivitas untuk memajukkan aspek-aspek penting dalam
kepariwisataan. Badan-badan pengelola tersebut antara lain adalah :
01.Dinas pariwisata
02.Pemerintah Daerah Tingkat II Deli Serdang
03.Aparat Desa Bandar Baru.
Sedangkan dari pihak-pihak lain seperti dari Lembaga Swadaya, pihak-pihak
swasta, WWF (World Wild Fund for Nature), dan pihak-pihak lainnya masih tidak
ada. Tugas-tugas lembaga-lembaga ini tidak lain adalah mengelola aspek-aspek teknis
kepariwisataan sesuai dengan bidangnya masing-masing.
3.1.3. Wisatawan
Tentu saja perkembangan ekoturisme Taman Wisata Alam Sibolangit ini
dimaksudkan untuk menarik wisata sebanyak mungkin. Semakin banyak wisatawan
yang datang akan semakin besar pula devisa yang bisa diperoleh dan semakin terjalin
integrasi budaya antar masyarakat pendatang dengan masyarakat desa Bandar Baru.
Pada akhirnya kedatangan turis ke Taman Wisata Sibolangit ini akan memberikan
hasil berupa pendapatan kepada penduduk setempat.
Sebaliknya kedatangan wisatawan ke daerah ini akan berpengaruh juga pada
terjadi pencemaran lingkungan, bisa disebabkan karena bahan-bahan makanan dan
minuman, dan bisa juga mencabuti atau membakari tumbuhan.
Untuk membiayai pelestarian lingkungan sekaligus menghindari perusakan
kepada para wisatawan baik itu yang mengadakan kemping (berkemah) di dalam
hutan maupun yang pergi jalan melihat keindahan Ari Terjun Dwi Warna (Telaga
Biru) dipungut bayaran apabila masuk ke areal hutan tersebut. Untuk wisatawan yang
hanya kemping (berkemah) di dalam hutan harus membayar Rp. 3000/orang selama
dia kemping (berkemah) di dalam hutan tersebut. Untuk wisatawan yang hanya
jalan-jalan menelusuri keindahan Air Terjun Dwi Warna (Telaga Biru) harus membayar Rp.
7000/orang jika tidak memakai pemandu (ranger) ke Air Terjun tersebut, tetapi jika
memakai pemandu (ranger) maka dikenakan biaya sebesar Rp. 25.000/orang.
Perlu diketahui yang menangani tarif retribusi serta keamananannya adalah
pihak ranger (pemandu) yang dibentuk susunan kepengurusannya oleh kepala Desa
Bandar Baru dan ketua Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) sebagai
penasehat dari kepengurusan ranger tersebut.
Ada hal yang menarik dari lokasi Taman Wisata Sibolangit ini yaitu secara
administratif hutan untuk kemping (berkemah) dan lokasi Air Terjun Dwi Warnanya
terletak di dua desa yang bersebelahan yaitu : Desa Bandar Baru dan Desa Durin
Sirugun. Lokasi untuk berkemah berada di desa Durin Sirugun dan lokasi Air Terjun
Dwi Warna terletak di Desa Bandar Baru
Penanganan seputar tarif retribusi baik yang untuk berkemah (kemping) dan
Untuk retribusi kemping (berkemah) diserahkan kepada Desa Durin Sirugun yang
mengurus keuangannnya dan untuk retribusi lokasi Air Terjun Dwi Warna diserahkan
kepada Desa Bandar Baru untuk mengelolanya, ini mulai berlaku sejak tahun 2009
sebelumnya pihak ranger sendiri yang menetapkan peraturan-peraturan mengenai tarif
retribusinya.
Jumlah wisatawan yang berkunjung setiap tahun menunjukkan angka
peningkatan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Kedatangan para
wisatawan sangat dipengaruhi menarik tidaknya paket wisata yang ditawarkan dan
pelayanan wisata yang diberikan. Sayangnya data lengkap jumlah wisatawan yang
berkunjung ke daerah Taman Wisata Sibolangit ini tidak tersedia. Ketika ditanyakan
kepada Pak N. Sinuraya kepala Ranger (pemandu) ia mengatakan bahwa :
“jumlah wisatawan yang kemping setiap bulan kalau lagi
sunyi sekitar 300an orang, tapi kalau pas ramai-ramainya misalnya ketika hari libur-libur semester, hari merah kalender mau mencapai 500-an orang di lokasi air terjun Dwi Warna pas sunyi sekitar 200-an orang tapi pas ramai-ramainya mau mencapai 500 orang perbulannya.” (Wawancara, tanggal 13 Maret 2010)
3.2. Jenis dan Potensi Ekoturisme
Kawasan wisata Taman Wisata Sibolangit dilihat dari segi penawaran
komoditi yang bersifat alamiah. Potensinya cukup besar untuk dikembangkan.
Tinggal bagaimana memfungsikan potensi tersebut dengan dukungan berbagai
institusi yang ada. Yang ditawarkan antara lain adalah :
Terdapat banyak jenis binatang di Taman Wisata Sibolangit. Binatang yang
langsung dijumpai adalah jenis owa (Hylobates lar), monyet, kera, siamang, babi,
kambing, kijang, rusa, kancil, tringgiling, kus-kus, juga terdapat berjenis-jenis burung
melalui suaranya yang dapat didengar dan bulunya yang jatuh ke tanah.
Burung yang telah dapat diidentisifikasi dan menjadi pusat perhatian untuk
upaya perehabilitasian adalah burung rangkong (Aceros undulutus), enggang papan
(Buceros rhinoceros) elang dan burung lain yang berukuran kecil. Binatang liar yang
sering dijumpai berdasarkan jejak kakinya antara lain adalah rusa, kijang, dan babi
hutan.
3.2.2. Pemandangan Alam
Daya tarik utama di Taman Wisata Sibolangit adalah hutannya yang termasuk
kawasan hutan hujan tropis hal ini mendorong para pecinta alam (Nature Lover) untuk
melakukan kegiatan perkemahan di seputar hutan Taman Wisata ini. Selain hutannya
yang sangat cocok untuk kegiatan perkemahan ada satu lagi lokasi yang menjadi
bagian dari ekowisata adalah Air Terjun Dwi Warna (Telaga Biru). Mengapa
dikatakan air terjun dwi warna karena ada dua buah air terjun yang besar yang saling
berhadapan, Air terjun yang pertama dengan ketinggian + 50m berwarna biru, dan air
terjun yang kedua berwarna putih dengan ketinggian + 20m, untuk dapat tiba di lokasi
air terjun tersebut dibutuhkan waktu perjalanan + 3-4 jam masuk kedalam hutan mulai
dari pos penjagaan pemandu.
Menurut A. Haris Pane, seorang Sekertaris Desa mangatakan :
“awal di temukannya air terjun dwi warna di dalam hutan tersebut bermula pada tahun sekitar 80’an Direktur PTPN II yang bernama Obe Siahaan hilang disekitar hutan Taman Wisata ini dikarenakan Pesawat yang ditumpanginya hilang atau jatuh ketika berangkat dari Rantau ke Medan. Maka pemerintah setempat menghimbau warga setempat untuk membantu mencarinya dengan di iming-imingi sejumlah uang jika pesawat dan mayatnya diketemukan, ketika masyarakat mulai mencari pesawat yang hilang secara tidak sengaja ditemukan air terjun ini, tetapi ketika itu masyarakat belum tau bahwasanya air terjun tersebut bisa dijadikan tempat wisata.”
Pada tahun 80-an beberapa pecinta alam yang berasal dari berbagai kampus
mengadakan kemping di Air Terjun Dwi Warna tetapi terjadi suatu musibah terhadap
seorang peserta kemping yang meninggal di Air Terjun Dwi Warna demi untuk
mengenangnya maka didirikan monumen untuk memperingatinya. Mulai tahun 1998
lokasi Air Terjun Dwi Warna baru dikomersilkan untuk umum. Setelah ditelusuri
ternyata air terjun ini bersumber dari letusan Gunung Sibayak yang membentuk aliran
sungai yang dialiri belerang (sulfur) yang kemudian bersatu dengan resapan air hutan
sehingga menjadi berair dingin yang berwarna biru. Uniknya lagi, air terjun tersebut
tidak mengeluarkan bau belerang, namun jangan pernah meminum air tersebut. Selain
itu, keberadaan air terjun ini juga tersembunyi di dalam hutan hujan tropis di tengah