BAB 9. MANAJEMEN FASILITAS
9.1. Sarana dan Prasarana
Universitas Airlangga memiliki lahan seluas 61,78 hektare (ha) yang terletak di lima wilayah yang terpisah merupakan daya dukung yang penting
terkait dengan pengembangan
Universitas.
Tabel 9.1. Profil Daya Dukung Lahan Universitas Airlangga
No. Lokasi Lahan Status kepemilikan Lahan Penggunaan Lahan Luas Lahan (m2) 1 Kampus A
Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo 47 Surabaya
Milik Universitas Airlangga
Akademik 69.254
2 Kampus B
Jl. Airlangga No. 4-6 Surabaya
Milik Universitas Airlangga Akademik 159.600 3 Kampus C Jl. Mulyorejo Surabaya Milik Universitas Airlangga Akademik 423.469 4 Kampus D
Desa Wonosunyo, Gempol – Pasuruan dan Desa Kunjorowesi, Ngoro – Mojokerto Milik Universitas Airlangga Kebun Percobaan 32.813
5 Desa Tanjung, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik Milik Universitas Airlangga Taman Ternak FKH 11.580 6 Kampus E
Jl. Kyai Tapa No. 11 Jakarta Barat
Milik Universitas Airlangga
Akademik 4.040
7 Kampus Universitas Airlangga PSDKU Banyuwangi
Jl. Wijaya Kusuma No. 133, Kec. Giri, Kab. Banyuwangi
Jl. Ikan Wijinongko No. 18A Sobo, Kec. Banyuwangi, Kab. Banyuwangi
Hibah Akademik 159.430
8 Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo 239 Gresik
Sertifikat Hak Pakai Akademik 7.050 9 Jl. Kusuma Bangsa No. 7A Lamongan Sertifikat Hak Pakai Akademik 6.204
TOTAL 873.440
Laporan Kinerja Universitas Airlangga 2019
79 Fasilitas bangunan di UNAIR juga
terus dilakukan penambahan dari sisi jumlah. Rumah Sakit Universitas Airlangga, pembangunan Gedung C Fakultas Perikanan dan Kelautan, serta gedung Farmasi telah terealisasi dan telah
difungsikan. Adapun tahapan
pembangunan yang masih terus berjalan adalah Syariah Tower dan Gedung Parkir Kampus B. Pengembangan fasilitas infrastruktur yang baik dan optimal akan
menjamin pelaksanaan kegiatan
pembelajaran dapat dioptimalkan dan ke depan mampu meningkatkan kinerja UNAIR dalam menjadi kampus unggulan dunia.
Norma keselamatan bangunan
gedung terhadap bahaya kebakaran di Indonesia tertuang dalam Undang-Undang Bangunan Gedung No. 28 tahun 2002 menyatakan bahwa setiap bangunan gedung harus memiliki ketahanan terhadap bahaya kebakaran dengan menyediakan sistem pemadam kebakaran di dalam dan di area gedung. Sarana proteksi kebakaran seperti smoke detector, fire alarm, pengaturan penggunaan bahan dan struktur bangunan (sistem proteksi pasif) dan springkler, APAR (Alat Pemadam Api Ringan), hydrant di dalam dan di luar gedung, mobil pemadam kebakaran (PMK) merupakan sistem proteksi aktif telah tersedia di Universitas Airlangga. Jalur evakuasi dan titik kumpul telah terpasang di setiap bangunan gedung begitu juga untuk gedung bertingkat juga telah tersedia lift. Untuk mengantisipasi pemadaman listrik sudah tersedia genset sehingga kegiatan perkuliahan dan perkantoran berjalan dengan baik. Bagi mereka yang difabel dan disabel telah difasilitasi dengan jalur tersendiri sehingga aktivitas mereka tidak mengalami hambatan.
9.1.2. Ruang Administrasi
Ketersediaan ruang
perkantoran/administrasi telah cukup memadai, baik di ruang administrasi di kantor manajemen UNAIR maupun di setiap fakultas. Ruang pimpinan dan ruang administrasi UNAIR terletak pada satu gedung di Kampus C yang dikenal dengan nama Kantor Manajemen Universitas Airlangga. Gedung lima lantai ini memiliki luas bangunan total sebesar 7.492,79 m2, dengan rincian lantai 1 seluas 1.986,47,78 m2, lantai 2 seluas 1.924,82 m2, lantai 3 seluas 1.344,82 m2, lantai 4 seluas 1.344,82 m2, dan lantai 5 seluas 891,86 m2. Ruang administrasi tersebar dari lantai 1 hingga lantai 5 dan menempati total ruangan seluas 1.659 m2.
Rasio ketersediaan ruang
administrasi dan ruang akademik di seluruh fakultas menunjukkan rata-rata 1:5,87 dengan rentang rasio perbandingan antar fakultas dari 0,06 hingga 0,32. Walaupun rentang ini cukup besar, namun ketercukupan ruang untuk jumlah pegawai administrasi dalam melayani proses administrasi pendidikan masih memadai.
Di samping ruang administrasi, ketersediaan ruang kerja dosen merupakan sarana pendidikan yang dibutuhkan dosen dalam menjalankan fungsi akademik
sebagai pembimbing atau tempat
konsultasi mahasiswa maupun kegiatan dalam rangka menunjang kompetensi akademik. Rasio luas ruang dosen berkisar antara 0,86 – 17,43 m2/dosen, dengan rerata 6,96 m2/dosen. Standar rerata rasio luas ruang dosen berdasarkan ketentuan Kemenristekdikti adalah 4 m2/dosen, maka keadaan ini menunjukkan adanya ketersediaan ruang yang cukup bagi dosen.
Laporan Kinerja Universitas Airlangga 2019
82
9.1.3. Ruang Kuliah
Total luas ruang kuliah di lingkungan Universitas Airlangga pada tahun 2019 sebesar 31.263,61 m2 yang tersebar di 14 fakultas dan 1 Sekolah Pascasarjana dan mengalami peningkatan pada tahun 2017. Peningkatan tersebut disebabkan mulai berfungsinya Gedung C Fakultas Perikanan dan Kelautan yang terdiri atas 8 lantai, 2 ruang kuliah umum, dan 5 ruang sidang. Total luas ruang kuliah sangat bervariasi antar satu dan lain fakultas, yaitu berkisar antara 476 m2 sampai 5.058,00 m2. Daya tampung masing-masing ruang kuliah pada ketiga kampus A, B, dan C berkisar antara 10– 500 orang. Ruang kuliah semuanya dilengkapi dengan sistem pencahayaan, ventilasi, dan pendingin ruangan (AC atau kipas angin), serta kelengkapan fasilitas pengajaran (seperti LCD, Audio Visual, SCR, komputer, dll) yang memberi kenyamanan bagi mahasiswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Rasio luas ruang kuliah terhadap
mahasiswa menurut persyaratan
Peadcock, yaitu 1 m2/mahasiswa, sedangkan rasio menurut UNESCO 0,75 m2/mahasiswa. Rerata ruang gerak mahasiswa di dalam ruang kuliah telah memenuhi standar UNESCO, karena saat ini telah mencapai rerata 1,08 m2/ mahasiswa, sedangkan rasio ruang gerak berkisar antara 0,30–2,78 m2. Rasio ruang gerak menurut standar Kemenristekdikti adalah 2 m2/mahasiswa berdasarkan Surat Dikti No. 2920/D/T/2007. Ketersediaan ruang gerak mahasiswa berpengaruh pada kenyamanan belajar yang berdampak pada daya serap mahasiswa terhadap materi kuliah.
Manajemen penggunaan ruang telah dilakukan dengan cukup baik. Beberapa fakultas telah mengembangkan sistem
untuk pengaturan penggunaan ruang kelas. Hal tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektivitas penggunaan sarana dan prasarana serta memberikan kenyamanan akses bagi mahasiswa dan dosen, dan menunjukkan bahwa UNAIR
telah siap untuk program
internasionalisasi menuju 500 WUR pada tahun 2020.
9.1.4. Manajemen Laboratorium
Berdasarkan data yang dihimpun tahun 2018, ketersediaan jumlah dan luas laboratorium di masing-masing fakultas bervariasi sesuai dengan kebutuhan program studi. Total luas ruang
laboratorium di UNAIR mencapai
24.013,12 m2. Sebanyak 14,29% laboratorium di UNAIR telah memenuhi standar Kemenristekdikti 2 m2/mahasiswa
berdasarkan Surat Dikti No.
2920/D/T/2007, selebihnya masih belum memenuhi standar tersebut. Frekuensi penggunaan laboratorium cukup tinggi antara 1-6 shift per hari selama 4-5 hari/minggu. Di sisi lain, terdapat hal yang
perlu dicermati dari tingginya
pemanfaatan fasilitas laboratorium, yaitu dampak pada beban kerja dosen dan pemeliharaan alat (kalibrasi, sistem keamanan, dan life time peralatan) laboratorium yang digunakan. Jumlah mahasiswa aktif yang cukup besar yaitu 38.332 orang dibandingkan dengan fasilitas laboratorium yang masih terbatas menimbulkan risiko terkait optimalisasi pelaksanaan praktikum dan penelitian, sehingga perlu dilakukan analisis terkait ketersediaan ruang laboratorium untuk pelaksanaan penelitian atau penyediaan laboratorium khusus untuk penelitian mahasiswa semester akhir dan bagi dosen.
Hal tersebut diharapkan mampu
Laporan Kinerja Universitas Airlangga 2019
81 dan meningkatkan kompetensi mahasiswa
dalam hal teknis lapang.
Keberadaan sub direktorat
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) sejak tahun 2012 sangat membantu dalam menciptakan suasana kerja yang aman bagi tenaga kependidikan, dosen, mahasiswa, dan peneliti di laboratorium dengan kelengkapan sarana K3, seperti
penataan layout laboratorium,
penempatan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), pemasangan safety shower dan eye-wash pada setiap laboratorium kimia yang ada di seluruh fakultas di lingkungan UNAIR. Sejak tahun 2016 seluruh laboratorium kimia di UNAIR telah dilengkapi dengan fasilitas K3. Meskipun demikian perlu dianalisis maintenance dan pelatihan bagi laboran guna mendukung keamanan dan keselamatan kerja mahasiswa, dosen, dan peneliti di lingkungan UNAIR.
Keberadaan Rumah Sakit
Universitas Airlangga (RSUA), Rumah Sakit Penyakit Tropik (RSPT), Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga (RSHPUA) juga menunjang proses pembelajaran, penelitian, dan pelayanan yang terintegrasi, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan
kompetensi lulusan disamping
peningkatan kualitas kesehatan
masyarakat. Keberadaan ketiga rumah sakit tersebut yang didukung oleh Lembaga Penyakit Tropik dan BSL-3 secara bersinergi merupakan aset UNAIR dalam mewujudkan National Health Science Center melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan pelayanan,
sehingga diharapkan mampu
menghasilkan kebijakan dan bioproduk yang berguna bagi peningkatan kesehatan masyarakat. Prinsip resource sharing juga telah diterapkan dalam kegiatan
perkuliahan dalam hal penggunaan kedua gedung tersebut.