• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sasaran Meningkatnya Pertumbuhan Ekonomi Non Migas…

BAB III CAPAIAN KINERJA PEMERINTAH

3.2. Capaian Kinerja PEMDA

3.2.9. Sasaran Meningkatnya Pertumbuhan Ekonomi Non Migas…

Pertumbuhan ekonomi Kota Bontang sangat bergantung pada sektor migas. Hal ini menjadi tantangan bagi Pemerintah Kota Bontang pada saat pandemi covid-19 yaitu dengan menurunnya ekspor produk migas dan menurunnya harga produk migas sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi Kota Bontang. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Bontang berusaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui sektor non migas sehingga secara bertahap mampu mengurangi ketergantungan pada sector migas. Pertumbuhan ekonomi non migas pada awal tahun 2020 mengalami pelambatan disebabkan terjadinya penyebaran covid-19. Hal ini dapat dilihat dari penurunan daya beli masyarakat dikarenakan terjadinya beberapa pembatasan aktivitas sosial dan ekonomi

karena itu, Pemerintah berusaha mendorong pertumbuhan ekonomi non migas di sektor industri pengolahan yang dimotori oleh PT Pupuk Kaltim dan sektor-sektor ekonomi masyarakat khususnya UMKM. Sasaran “Meningkatnya Pertumbuhan Ekonomi Non Migas” memiliki 1 (satu) indikator kinerja yang disajikan pada tabel berikut.

Tabel 3.48. Realisasi Indikator Kinerja Pertumbuhan PDRB Non Migas Tahun 2020

No Indikator Kinerja Satuan Tahun 2020

Target Realisasi % Capaian 1. Pertumbuhan PDRB Non

Migas

% 3-5 2,43 81,00%

Secara umum, PDRB sektor non migas masih relatif meningkat dibandingkan dengan PDRB sektor migas walaupun masih fluktuatif. Berdasarkan jenis lapangan usaha, PDRB Kota Bontang hingga tahun 2019 masih didominasi oleh lapangan usaha atau sektor industri pengolahan dengan kontribusi rata-rata mencapai 80,7%. Berikut disajikan pencapaian indikator kinerja Pertumbuhan PDRB Non Migas 2016-2020.

3.49. Perbandingan Capaian Indikator Kinerja Pertumbuhan PDRB Non Migas Pertumbuhan PDRB Non Migas

Tahun Target

Realisasi Capaian Kinerja

Capaian Anggaran

Tingkat Efisiensi 2016 7,74 % 12,26 % 158,40 % 82,33 % 76,07 %

2017 8-10 % 2,64 % 35,68% 94,38 % -58,70 %

2018 3-5 % 6,52 % 163% 92,63 % 70,37 %

2019 3-5 % 11,51 % 230,2 % 95,32 % 134,88 %

2020 3-5 % 2,43 % 81,00% 93,11 % -12,11 %

Realisasi indikator kinerja pertahun terhadap target akhir RPJMD pada tahun 2021 disajikan seperti pada tabel di bawah ini.

3.50. Realisasi Indikator Kinerja Pertumbuhan PDRB Non Migas terhadap Target RPJMD No Indikator

Kinerja

Satuan Realisasi 2016

Realisasi 2017

Realisasi 2018

Realisasi 2019

Realisasi 2020

Target 2021 1 Pertumbuhan

PDRB Non Migas

% 12,26 2,64 6,52 11,51 2,43 8-10

Beberapa kendala yang masih terjadi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi Non Migas adalah belum optimalnya peran sektor UMKM dalam perekonomian Kota

pengembangan daya tarik wisata pesisir dan laut. Hal ini mendorong Pemerintah Kota Bontang dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi non migas yang berfokus terhadap penguatan sektor-sektor ekonomi maritim dan sektor ekonomi kerakyatan. Selain itu, Pemerintah juga berusaha meningkatkan investasi di sektor industri non migas.

3.2.10 Sasaran Tersedianya Insfrastruktur Kota yang Memadai untuk Mendukung Perkembangan Ekonomi Kota

Pembangunan suatu daerah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat.

Infrastruktur berperan penting dalam peningkatan investasi dan memperluas jangkauan partisipasi masyarakat. Infrastruktur mampu menjadi roda penggerak pertumbuhan ekonomi suatu daerah dan mendukung peran dan daya saing daerah. Hal ini sejalan dengan sasaran pembangunan Pemerintah Kota Bontang yaitu, Tersedianya Infrastruktur Kota yang Memadai untuk Mendukung Perkembangan Ekonomi Kota. Untuk mengukur sasaran di atas ditetapkan 3 (tiga) indikator kinerja yang disajikan pada tabel berikut.

3.51. Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Tersedianya Insfrastruktur Kota yang Memadai untuk Mendukung Perkembangan Ekonomi Kota Tahun 2020

No Indikator Kinerja Satuan Tahun 2020

Target Realisasi % Capaian 1. Panjang Jalan Kondisi Baik % 90,63 98,89 109,11%

2. Jumlah sarana perdagangan/pasar

Unit 3 3 100%

3. Jaringan gas rumah tangga Kelurahan 14 14 100%

103%

3.2.10.1 Indikator Kinerja Panjang Jalan Kondisi Baik

Secara umum, selama beberapa tahun terakhir capaian kinerja panjang jalan kondisi baik mengalami peningkatan. Pada tahun 2020, capaian kinerja mengalami penurunan sebesar 1,06 persen. Hal ini disebabkan karena Pemerintah Kota Bontang harus melakukan refocusing anggaran untuk pencegahan dan penanggulangan pandemi covid-19 sehingga beberapa program tidak dapat sepenuhnya dilaksanakan seperti rehabilitasi maupun pemeliharaan jalan. Untuk dapat mengukur capaian kinerja Panjang Jalan Kondisi Baik dapat menggunakan rumus berikut.

% 𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝐽𝑎𝑙𝑎𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑑𝑖𝑠𝑖 𝐵𝑎𝑖𝑘 =Ʃ 𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝐽𝑎𝑙𝑎𝑛 𝐾𝑜𝑛𝑑𝑖𝑠𝑖 𝐵𝑎𝑖𝑘

Ʃ 𝐽𝑎𝑙𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑥 100%

=197.326

195.337 𝑥 100% = 98,89 %

Berikut disajikan pencapaian indikator kinerja panjang jalan kondisi baik 2016-2020.

3.52. Perbandingan Capaian Indikator Kinerja Panjang Jalan Kondisi Baik Panjang Jalan Kondisi Baik

Tahun Target Realisasi Capaian

Kinerja

Realisasi indikator kinerja pertahun terhadap target akhir RPJMD pada tahun 2021 disajikan seperti pada tabel di bawah ini.

3.53. Realisasi Indikator Kinerja Panjang Jalan Kondisi Baik terhadap Target RPJMD No Indikator

Kinerja

Satuan Realisasi 2016

3.2.10.2 Indikator Kinerja Sasaran Jumlah Sarana Perdagangan/Pasar

Pasar adalah sarana prasarana kegiatan ekonomi dan perdagangan yang sangat vital dalam mendukung perkembangan perekonomian masyarakat sekaligus juga merupakan sarana pelayanan publik. Sesuai dengan target yang ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Kota Bontang 2020, ketersediaan sarana dan prasarana pasar berjumlah 3 unit. Target ini tidak mengalami penambahan dibanding target tahun sebelumnya. Namun fokusnya adalah meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pasar, baik sebagai infrastruktur ekonomi daerah maupun sebagai sarana pelayanan publik. Dalam rangka pencapaian target tersebut peningkatan kualitas sarana dan prasarana pasar dilaksanakan melalui program dan kegiatan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang dan Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan. Adapun program tersebut adalah Program Peningkatan Dan Pengembangan Sarana Dan Prasarana

3.54. Perbandingan Capaian Indikator Kinerja Jumlah Sarana Perdagangan/Pasar Jumlah Sarana Perdagangan/Pasar

Tahun Target Realisasi Capaian

Kinerja

Capaian Anggaran

Tingkat Efisiensi

2016 3 unit 3 unit 100 % 36,93 % 63,07 %

2017 3 unit 3 unit 100 % 26,71 % 73,29 %

2018 3 unit 3 unit 100 % 90,11 % 9,89 %

2019 3 unit 3 unit 100 % 99,94 % 0,06 %

2020 3 unit 3 unit 100 % 98,34 % 1,66 %

Realisasi indikator kinerja pertahun terhadap target akhir RPJMD pada tahun 2021 disajikan seperti pada tabel di bawah ini.

3.55. Realisasi Indikator Kinerja Jumlah Sarana Perdagangan/Pasar terhadap Target RPJMD Indikator

Kinerja

Satua n

Realisasi 2016

Realisasi 2017

Realisasi 2018

Realisasi 2019

Realisasi 2020

Target 2021 1 Jumlah

Sarana Perdagang an/Pasar

unit 3 3 3 3 3 91,45

3.2.10.3 Indikator Kinerja Sasaran 10 “Jaringan Gas Rumah Tangga”

Jaringan Gas (Jargas) adalah salah satu program strategis pemerintah Kota Bontang yang terdapat dalam Dokumen RPJMD tahun 2016- 2021. Sasaran utamanya adalah program nasional subtitusi energi, khususnya untuk penggunaan rumah tangga.

Program Jargas pada tahun 2019 seluruhnya dibiayai oleh Dana APBN melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Sebelum menjadi urusan Pemerintah Pusat, pada tahun 2013 dan 2014 sebanyak 1472 Sambungan dan Pemerintah Kota Bontang telah mengalokasikan anggaran untuk program dan kegiatan jaringan gas rumah tangga, namun dengan berlakunya Undang-undang 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah yang mengatur bahwa urusan Migas bukan menjadi urusan Pemerintah Kabupaten/Kota. Keberadaan jaringan gas di Kota Bontang, tentu harus ada pengolah atau instansi yang bertanggungjawab atas pemberdayaan jaringan gas tersebut. Maka melalui kebijakan Pemerintah Kota Bontang dibentuklah suatu badan usaha atau BUMD yang diberi nama PT. Bontang Migas dan Energi atau yang disingkat PT. BME melalui Peraturan Daerah Wali Kota Bontang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pendirian Perseroan Terbatas Bontang Migas Dan Energi tanggal 26 April 2012, dengan dasar pertimbangan

keikutsertaan dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam nasional di Kota Bontang.

Adapun tujuan dari pembentukan Peraturan Daerah tersebut adalah:

1. Memanfaatkan sumber daya alam, khususnya minyak dan gas bumi serta mengembangkan industri hulu dan hilir yang organik maupun bukan organik untuk kesejahteraan masyarakat Bontang;

2. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah;

3. Membuka lapangan kerja;

4. Serta menguasai teknologi, manajerial dan finansial yang berkaitan dengan sumber daya alam, khususnya minyak, gas bumi dan energi baik dari energi fosil maupun energi baru dan terbarukan.

Pemerintah Kota Bontang melalui RPJMD 2016-2021 menargetkan sebanyak 15 Kelurahan untuk mendapatkan jaringan sambungan gas. Sampai dengan tahun 2020, kelurahan Bontang Lestari merupakan satu-satunya kelurahan yang belum dipasang jaringan gas rumah tangga. Berikut disajikan pencapaian indikator kinerja Jaringan Gas Rumah Tangga 2016-2020.

3.56. Perbandingan Capaian Indikator Kinerja Jaringan Gas Rumah Tangga Jaringan Gas Rumah Tangga

Tahun Target Realisasi Capaian Kinerja

Capaian Anggaran

Tingkat Efisiensi

2016 3 kelurahan 3 kelurahan 100 % 0 % -

2017 5 kelurahan 14 kelurahan 280 % 0 % -

2018 14 kelurahan 14 kelurahan 100 % 0 % -

2019 14 Kelurahan 14 Kelurahan 100 % 0 % -

2020 14 Kelurahan 14 Kelurahan 100 % 0 % -

Realisasi indikator kinerja pertahun terhadap target akhir RPJMD pada tahun 2021 disajikan seperti pada tabel di bawah ini.

3.57. Realisasi Indikator Kinerja Jaringan Gas Rumah Tangga terhadap Target RPJMD No Indikator

Kinerja

Satuan Realisasi 2016

Realisasi 2017

Realisasi 2018

Realisasi 2019

Realisasi 2020

Target 2021 1 Jaringan

Gas Rumah Tangga

kelurahan 3 14 14 14 14 15

3.3. Capaian Kinerja Lainnya

3.3.1 Capaian Kinerja Berdasarkan SDG’s

Pemerintah Kota Bontang juga berkomitmen untuk melaksanakan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDG’s). Hal ini tergambar dari sasaran-sasaran jangka menengah yang telah ditetapkan Pemerintah Kota Bontang dalam RPJMD tahun 2016-2021.

Tabel 3.58. Pencapaian SDG’s tahun 2019 No Indikator SDG’s Target (Perpres

Nomor 59/2017)

Capaian Status Perangkat Daerah Target pada tahun 2030, mengurangi setidaknya setengah proporsi laki-laki, perempuan dan anak-anak dari semua usia, yang hidup dalam kemiskinan di semua dimensi, sesuai dengan definisi nasional.

Persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional, menurut jenis kelamin dan kelompok umur.

Menurunnya tingkat kemiskinan pada tahun 2019 menjadi 7-8%.

4,22 Tercapai BPS

Target menerapkan secara nasional sistem dan upaya perlindungan sosial yang tepat bagi semua, termasuk kelompok yang paling miskin, dan pada tahun 2030 mencapai cakupan substansial bagi kelompok miskin dan rentan.

Proporsi peserta jaminan kesehatan melalui SJSN Bidang Kesehatan.

Meningkatnya persentase penduduk yang menjadi peserta jaminan kesehatan melalui SJSN Bidang Kesehatan menjadi minimal 95% pada tahun 2019.

97,4 Tercapai Dinas Kesehatan

Target Pada tahun 2030, menjamin bahwa semua laki-laki dan perempuan, khususnya masyarakat miskin dan rentan, memiliki hak yang sama terhadap sumber daya ekonomi, serta akses terhadap pelayanan dasar, kepemilikan dan kontrol atas tanah dan bentuk kepemilikan lain, warisan, sumber daya alam, teknologi baru, dan jasa keuangan yang tepat, termasuk keuangan mikro.

Persentase perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun yang proses melahirkan terakhirnya di fasilitas kesehatan.

Meningkatnya cakupan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan untuk 40% penduduk berpendapatan terbawah pada tahun 2019 menjadi 70%.

97,5 Tercapai Dinkes

Persentase anak umur 12-23 bulan yang menerima imunisasi dasar lengkap.

Meningkatnya cakupan imunisasi dasar lengkap pada anak usia 12-23 bulan untuk 40% penduduk berpendapatan terbawah pada tahun

92,6 Tercapai Dinkes

Persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap layanan sanitasi layak dan berkelanjutan.

Meningkatnya akses sanitasi layak untuk 40% penduduk berpendapatan terbawah pada tahun 2019 menjadi 100%.

99,52 Tidak

Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/sederajat.

Meningkatnya Angka Partisipasi Murni SD/MI/ Sederajat pada tahun 2019 menjadi 94,78%.

99,09 Tercapai Dinas Pendidikan

Angka Partisipasi Murni (APM)

SMP/MTs/sederajat.

Meningkatnya Angka Partisipasi Murni SMP/MTs/ Sederajat pada tahun 2019 menjadi 82,2%. umur 0-17 tahun dengan kepemilikan akta kelahiran.

Kepemilikan akte lahir untuk penduduk 40%

berpendapatan terbawah pada tahun 2019 menjadi 77,4%.

63,00 Tidak Target Pada tahun 2030, membangun ketahanan masyarakat miskin dan mereka yang berada dalam kondisi rentan, dan mengurangi kerentanan mereka terhadap kejadian ekstrim terkait iklim dan guncangan ekonomi, sosial, lingkungan, dan bencana.

Indeks risiko bencana pada pusat-pusat pertumbuhan yang berisiko tinggi.

Menurunnya indeks risiko bencana pada pusat-pusat

pertumbuhan yang berisiko tinggi dari 58 menjadi 118,6 di 133 Kabupaten/Kota. bencana (PRB) tingkat nasional dan daerah.

ada tidak ada Tidak

tercapai

BPBD

Target Menjamin mobilisasi yang signifikan terkait sumber daya dari berbagai sumber, termasuk melalui kerjasama pembangunan yang lebih baik, untuk menyediakan sarana yang memadai dan terjangkau bagi negara berkembang, khususnya negara kurang berkembang untuk melaksanakan program dan kebijakan mengakhiri kemiskinan di semua dimensi.

Target Pada tahun 2030, menghilangkan kelaparan dan menjamin akses bagi semua orang, khususnya orang miskin dan mereka yang berada dalam kondisi rentan, termasuk bayi, terhadap makanan yang aman, bergizi, dan cukup sepanjang tahun.

Prevalensi kekurangan gizi (underweight) pada anak balita.

Menurunnya

prevalensi kekurangan gizi (underweight) pada anak balita pada tahun 2019 menjadi 17%.

16,14 Tercapai Dinkes

Prevalensi penduduk dengan kerawanan pangan sedang atau

Menurun 96,8 Tidak

tercapai

Dinas Ketahanan

Pangan

Kerawanan Pangan.

Target Pada tahun 2030, menghilangkan segala bentuk kekurangan gizi, termasuk pada tahun 2025 mencapai target yang disepakati secara internasional untuk anak pendek dan kurus di bawah usia 5 tahun, dan memenuhi kebutuhan gizi remaja perempuan, ibu hamil dan menyusui, serta manula.

Prevalensi stunting (pendek dan sangat pendek) pada anak di bawah lima tahun/balita.

Menurun 26 Tercapai Dinkes

Prevalensi malnutrisi (berat badan/tinggi badan) anak pada usia kurang dari 5 tahun, berdasarkan tipe.

Menurun 6,99 Tercapai Dinkes

Prevalensi anemia pada ibu hamil.

Menurunnya prevalensi anemia pada ibu hamil pada tahun 2019 menjadi 28%.

27,6 Tercapai Dinkes

Persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif.

Persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif menjadi 50%

pada tahun 2019.

98,83 Tercapai Dinkes

Kualitas konsumsi pangan yang

diindikasikan oleh skor Pola Pangan Harapan (PPH) mencapai; dan tingkat konsumsi ikan.

- Meningkatnya kualitas konsumsi pangan yang

diindikasikan oleh skor Pola Pangan Harapan (PPH) mencapai 92,5 pada 2019. tingkat konsumsi ikan menjadi 54,5 100.000 kelahiran hidup.

Angka Kematian Ibu (AKI).

Menurunnya angka kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2019 menjadi 306.

79,0 Tercapai Dinkes

Proporsi perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun yang proses melahirkan terakhirnya ditolong oleh tenaga

Meningkatnya persentase persalinan oleh tenaga kesehatan terampil pada tahun 2019 menjadi 95%.

99,87 Tercapai Dinkes

Persentase perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun yang proses melahirkan terakhirnya di fasilitas kesehatan.

Meningkatnya persentase persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan pada tahun 2019 menjadi 85%.

97,5 Tercapai Dinkes

Target Pada tahun 2030, mengakhiri kematian bayi baru lahir dan balita yang dapat dicegah, dengan seluruh negara berusaha menurunkan Angka Kematian Neonatal setidaknya hingga 12 per 1000 KH (Kelahiran Hidup) dan Angka Kematian Balita 25 per 1000.

Angka Kematian Balita (AKBa) per 1000

Neonatal (AKN) per 1000 kelahiran hidup.

Menurun 8 Tidak

tercapai

Dinkes

Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup.

Menurunnya angka kematian bayi per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2019 menjadi 24.

11 Tidak Tercapai

Dinkes

Persentase kecamatan yang mencapai 80%

imunisasi dasar lengkap pada bayi. lengkap pada bayi pada tahun 2019 menjadi 95%.

100 Tercapai Dinkes

Target Pada tahun 2030, mengakhiri epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria, dan penyakit tropis yang terabaikan, dan memerangi hepatitis, penyakit bersumber air, serta penyakit menular lainnya.

Prevalensi HIV pada populasi dewasa.

Menurunnya prevalensi HIV pada populasi dewasa tahun 2019 menjadi <0,5%.

0,2 Tercapai Dinkes

Insiden Tuberkulosis (ITB) per 100.000 penduduk.

Menurunnya prevalensi

Tuberculosis (TB) per 100.000 penduduk pada tahun 2019 menjadi 245.

991 Tidak tercapai

Dinkes

Kejadian Malaria per 1000 orang.

Menurun 0 Tercapai Dinkes

Jumlah kecamatan yang mencapai eliminasi malaria.

Meningkatnya jumlah kabupaten/kota dengan eliminasi malaria pada tahun 2019 menjadi 300.

3 Tercapai Dinkes

Jumlah orang yang memerlukan intervensi terhadap penyakit tropis

Menurun 13 Tidak

tercapai

Dinkes

(Filariasis dan Kusta).

Jumlah kecamatan dengan eliminasi Kusta.

Meningkatnya jumlah provinsi dengan eliminasi kusta sebanyak 34 provinsi pada tahun 2019.

0 Tidak

tercapai

Dinkes

Jumlah kecamatan dengan eliminasi filariasis (berhasil lolos dalam survei penilaian transmisi tahap I).

Meningkatnya jumlah kabupaten/kota dengan eliminasi filariasis pada tahun 2019 menjadi 35.

3 Tercapai Dinkes

Target Pada tahun 2030, mengurangi hingga sepertiga angka kematian dini akibat penyakit tidak menular, melalui pencegahan dan pengobatan, serta meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan

Angka kematian (insidens rate) akibat bunuh diri.

Menurun 0 Tercapai Dinkes, Dinas

Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, Polres Jumlah kecamatan yang

memiliki puskesmas yang menyelenggarakan upaya upaya kesehatan jiwa pada tahun 2019 menjadi 280.

3 Tercapai Dinkes

Pada tahun 2030, menjamin akses universal terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk keluarga berencana, informasi dan pendidikan, dan integrasi kesehatan reproduksi ke dalam strategi dan program nasional.

Proporsi perempuan usia reproduksi (15-49 tahun) atau pasangannya yang memiliki kebutuhan keluarga berencana dan menggunakan alat kontrasepsi metode modern.

Meningkatnya angka prevalensi pemakaian kontrasepsi suatu cara pada tahun 2019 menjadi 66%.

68,82 Tercapai, tapi tren menurun

Dinkes

Angka prevalensi penggunaan metode kontrasepsi (CPR) semua cara pada Pasangan Usia Subur (PUS) usia 15-49 tahun yang berstatus kawin.

Meningkatnya cakupan angka pemakaian kontrasepsi semua cara pada perempuan usia 15-49 tahun untuk 40% penduduk

berpendapatan terbawah pada tahun 2019 menjadi 65%.

68,82 Tercapai, tapi tren menurun

Dinkes

Angka penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP)

Meningkatnya angka

2019 menjadi 23,5%.

Mendukung penelitian dan pengembangan vaksin dan obat penyakit menular dan tidak menular yang terutama berpengaruh terhadap negara berkembang, menyediakan akses terhadap obat dan vaksin dasar yang terjangkau, sesuai the Doha Declaration tentang the TRIPS Agreement and Public Health, yang menegaskan hak negara berkembang untuk menggunakan secara penuh ketentuan dalam Kesepakatan atas Aspek-Aspek Perdagangan dari Hak Kekayaan Intelektual terkait keleluasaan untuk melindungi kesehatan masyarakat, dan khususnya, menyediakan akses obat bagi semua.

Persentase ketersediaan obat dan vaksin di Puskesmas.

Meningkat 100 Tercapai Dinkes

Meningkatkan secara signifikan pembiayaan kesehatan dan rekrutmen, pengembangan, pelatihan, dan retensi tenaga kesehatan di negara berkembang, khususnya negara kurang berkembang, dan negara berkembang pulau kecil.

Kepadatan dan distribusi tenaga kesehatan.

Meningkat 4,8 Tercapai Dinkes, BPS (Bontang dalam Angka)

Pada tahun 2030, menjamin bahwa semua anak perempuan dan laki-laki menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah tanpa dipungut biaya, setara, dan berkualitas, yang mengarah pada capaian pembelajaran yang relevan dan efektif.

Persentase SD/MI berakreditasi minimal B.

Meningkatnya persentase SD/MI berakreditasi minimal B pada tahun 2019 menjadi 84,2%.

91,80 Tercapai Disdikbud

Persentase SMP/MTs berakreditasi minimal B.

Meningkatnya persentase SMP/MTs berakreditasi minimal B pada tahun 2019 menjadi 81%.

82,35 Tercapai Disdikbud

Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI/sederajat.

Meningkatnya Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI/sederajat pada tahun 2019 menjadi 114,09%.

106,22 Tidak tercapai

Disdikbud

Angka Partisipasi Kasar (APK)

SMP/MTs/sederajat.

Meningkatnya APK SMP/MTs/sederajat pada tahun 2019 menjadi 106,94%.

97,05 Tidak tercapai

Disdikbud

Rata-rata lama sekolah penduduk umur ≥15 tahun.

Meningkatnya rata-rata lama sekolah penduduk usia di atas 15 tahun pada tahun 2019 menjadi 8,8 tahun.

10,72 Tercapai Disdikbud

Pada tahun 2030, menjamin bahwa semua anak perempuan dan laki-laki memiliki akses terhadap perkembangan dan pengasuhan anak usia dini, pengasuhan, pendidikan pra-sekolah dasar yang berkualitas, sehingga mereka siap untuk menempuh pendidikan dasar.

Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Anak

Meningkatnya APK anak yang mengikuti

94,42 Tercapai Disdikbud

Dini (PAUD) pada tahun 2019 menjadi 77,2%.

Pada tahun 2030, menghilangkan disparitas gender dalam pendidikan, dan menjamin akses yang sama untuk semua tingkat pendidikan dan pelatihan kejuruan, bagi masyarakat rentan termasuk penyandang cacat, masyarakat penduduk asli, dan anak-anak dalam kondisi rentan.

Rasio Angka Partisipasi Murni (APM)

perempuan/laki-laki di (1) SD/MI/sederajat; (2) SMP/MTs/sederajat; (3) SMA/SMK/MA/sederajat;

dan Rasio Angka Partisipasi Kasar (APK) perempuan/laki-laki di (4) Perguruan Tinggi.

a. Rasio APM

perempuan/laki-laki di SD/MI/paket A yang setara gender pada tahun 2019 meningkat. di SMP/MTs/ Paket B yang setara gender pada tahun 2019 meningkat. di SD/MI/paket A yang setara gender pada tahun 2019 meningkat. di SMP/MTs/ Paket B yang setara gender pada tahun 2019 meningkat.

97,05 Tidak tercapai

Disdikbud

Pada tahun 2030, menjamin bahwa semua remaja dan proporsi kelompok dewasa tertentu, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kemampuan literasi dan numerasi.

Persentase angka melek aksara penduduk umur

≥15 tahun.

Meningkatnya rata-rata angka melek aksara penduduk usia di atas 15 tahun pada tahun 2019 menjadi 96,1%.

99,92 Tercapai, tapi tren menurun

Disdikbud

Persentase angka melek aksara penduduk umur 15-24 tahun dan umur 15-59 tahun.

Meningkatnya persentase angka melek aksara

penduduk usia dewasa usia 15-59 tahun pada tahun 2019.

99,92 Tercapai, tapi tren menurun

Disdikbud

Meningkatkan penggunaan teknologi yang memampukan, khususnya teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan.

menguasai/memiliki telepon genggam.

Pada tahun 2030, secara substansial mengurangi produksi limbah melalui pencegahan, pengurangan, daur ulang, dan penggunaan kembali.

Jumlah timbulan sampah yang didaur ulang.

Meningkatnya pengelolaan sampah terpadu (reduce, reuse, and recycle/3R) melalui beroperasinya 115 unit recycle center skala kota dengan kapasitas 20 ton per hari hingga tahun 2019.

213,54 Tercapai DLH

3.4. Realisasi Anggaran

Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah Kota Bontang tahun 2020 menunjukkan bahwa pendapatan asli daerah Rp. 199.808.704.887,27 sedangkan belanja terealisasikan sebesar Rp. 1.444.663.527.548,79 dan terdapat surplus anggaran sebesar Rp.

82.863.375.720,89. Realisasi APBD Kota Bontang tahun 2020 tergambar pada tabel berikut ini.

3.59. Laporan realisasi APBD Kota Bontang tahun 2020

Nomor Uraian Pagu Anggaran Realisasi %

1 2 3 4 5

01 PENDAPATAN 1.374.543.490.116,38 1.527.526.903.269,68 111,13 02 PENDAPATAN DAERAH 95.978.011.625,00 100.014.196.975,55 104,21 03 Pendapatan Asli Daerah 187.706.530.331,10 199.808.704.887,27 106,45 04 Pendapatan Pajak Daerah 95.978.011.625,00 100.014.196.975,55 104,21 05 Pendapatan Retribusi Daerah 4.083.500.000,00 4.648.143.497,25 113,83 06 Pendapatan Pengelolaan

Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

2.561.257.068,55 2.561.257.068,55 100,00

07 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah

85.083.761.637,55 92.585.107.345,92 108,82

08 PENDAPATAN TRANSFER 09 TRANSFER PEMERINTAH

PUSAT - DANA PERIMBANGAN

895.572.929.009,00 1.040.061.885.220,00 116,13

10 Dana Bagi Hasil Pajak 139.995.620.279,00 147.435.529.217,00 105,31 11 Dana Bagi Hasil Sumber Daya

Alam

460.113.893.730,00 602.408.449.607,00 130,93 12 Dana Alokasi Umum 231.143.244.000,00 229.778.988.000,00 99,41

14 TRANSFER PEMERINTAH PUSAT - LAINNYA

85.731.300.000,00 85.731.300.000,00 100,00

15 Dana Otonomi Khusus 0,00 0,00 0,00

16 Dana Penyesuaian 85.731.300.000,00 85.731.300.000,00 100,00 17 TRANSFER PEMERINTAH

PROVINSI

117.808.551.000,00 113.827.001.248,00 96,62

18 Pendapatan Bagi Hasil Pajak 117.808.551.000,00 113.827.001.248,00 96,62 19 Pendapatan Bagi Hasil

Lainnya

0,00 0,00 0,00

20 LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH

87.724.179.776,28 88.098.011.914,41 96,62

21 Pendapatan Hibah 85.823.000.000,00 83.526.173.874,62 97,32

22 Pendapatan Dana Darurat 0,00 0,00 0,00

23 Pendapatan Lainnya 1.901.179.776,28 4.571.838.039,79 240,47

24 BELANJA 1.556.121.460.870,00 1.444.663.527.548,79 92,84 25 BELANJA MODAL 361.102.952.802,00 335.261.171.744,00 92,84

26 Tanah 6.080.387.000,00 812.584.064,00 13,36

27 Belanja Peralatan dan Mesin 82.682.867.786,00 76.181.448.112,00 92,14 28 Belanja Gedung dan

Bangunan

128.381.262.801,00 124.111.579.495,00 96,67 29 Belanja Jalan, Irigasi dan

Jaringan

130.640.082.015,00 123.626.335.995,00 94,63

30 Belanja Aset Tetap Lainnya 1.310.181.000,00 1.228.818.150,00 93,79 31 Belanja Aset Lainnya 12.008.172.200,00 9.300.405.928,00 77,45 32 BELANJA OPERASI 1.131.800.997.208,00 1.053.321.453.045,79 93,07 33 Belanja Pegawai 533.490.744.794,00 500.776.600.362,00 93,87 34 Belanja Barang 547.480.022.872,00 Rp507.411.229.165,7

9

92,68

35 Bunga 0,00 0,00 0,00

36 Subsidi 0,00 0,00 0,00

37 Hibah 48.374.148.000,00 44.227.697.894,00 91,43

38 Bantuan Sosial 1.576.081.542,00 234.946.274,00 14,91

39 Bantuan Keuangan 880.000.000,00 670.979.350,00 76,25

40 BELANJA TIDAK TERDUGA 63.217.510.860,00 56.080.902.759,00 88,71 41 Belanja Tak Terduga 63.217.510.860,00 56.080.902.759,00 88,71

42 JUMLAH BELANJA DAN TRANSFER

1.556.121.460.870,00 1.444.663.527.548,79 92,84

43 SURPLUS/DEFISIT (181.577.970.753,62) 82.863.375.720,89 45,64

44 PEMBIAYAAN 45 PENERIMAAN PEMBIAYAAN

181.577.970.753,62 181.577.970.753,62 100,00 46 Penggunaan SILPA 181.577.970.753,62 181.577.970.753,62 100,00

47 PENGELUARAN PEMBIAYAAN

0,00 0,00 0,00

48 Pembiayaan Netto 181.577.970.753,62 181.577.970.753,62 100,00

49 SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN

0,00 264.441.346.474,51 100,00

Hasil analisis persentase rata-rata capaian kinerja sasaran dan persentase penyerapan anggaran disajikan dalam tabel sebagai berikut.

Tabel 3.60. Analisis Efisiensi Pencapaian Sasaran Strategis Tahun 2020

No Sasaran %

Rata-rata Capaian

Kinerja Sasaran

Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) % Realisasi Anggaran

Ket

1. Meningkatnya Kualitas

Pendidikan Untuk Semua

103 % 72.801.184,00276

29 28503424958 0,813808

59.650.910.246,00 81,93% Efisien

2. Meningkatnya Kualitas

Kesehatan Untuk Semua

82,31 % 150.758.455.382,00 140.031.149.780,79 92,88% Tidak Efisien

3. Meningkatnya Kesejahteraan Kehidupan Sosial

103,16 % 3.891.756.730 3.695.684.189 94,96% Efisien

4. Terwujudnya Penyelenggaraan Pemerintahan yang Transparan, Akuntabel dan Partisipatif

99,12 % 20.312.471.024,00 20.100.674.173,00 98,95% Efisien

5. Meningkatnya Cakupan Pengelolaan

5. Meningkatnya Cakupan Pengelolaan