BAB II TNJAUANPUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
6. Sasaran Pengujian Kendaraan Bermotor
Sasaran pengujian kendaraan bermotor meliputi kegiatan memeriksa, mencoba dan meneliti diarahkan kepada setiap kendaraan bermotor wajib uji berkala
secara keseluruhan pada bagian-bagian kendaraan secara fungsional dalam sistem komponen serta dimensi teknisnya baik berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Kendaraan bermotor yang wajib uji berkala untuk memenuhi ambang batas laik jalan yang sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah No. 44 tahun 1993 meliputi:
a. Emisi gas buang kendaraan bermotor b. Kebisingan suara kendaraan bermotor c. Efisiensi sistem rem utama
d. Efisiensi sistem rem parkir e. Kincup roda depan
f. Tingkat suara klakson
g. Kemampuan pancar dan arah sinar lampu utama h. Radius putar
i. Alat penunjuk kecepatan
j. Kekuatan untuk kerja dan ketahanan ban luar untuk masing-masing jenis, ukuran dan lapisan
k. Kedalaman alur ban luar
Pelaksanaan Pengujian kendaraan bermotor di Unit Pengujian Kendaraan Bermotor dan pemeriksaan dilakukan oleh Penguji yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh pemerintah, bagi kendaraan yang memenuhi kelaikan akan disahkan oleh pejabat yang ditunjuk akan diberi tanda uji. Sasaran pengujian kendaraan bermotor meliputi kegiatan memeriksa, menguji, mencoba dan meneliti diarahkan kepada setiap kendaraan bermotor wajib uji secara keseluruhan pada bagian-bagian kendaraan secara fungsional dalam sistem komponen serta dimensi teknisnya baik maupun
berdasarkan persyaratan teknis yang objektif 7. Manfaat Pengujian Kendaraan Bermotor
Sesuai dengan PP 44 tahun 1993, manfaat pengujian kendaraan bermotor sebagai berikut:
a. Mencegah atau memperkecil kemungkinan terjadinya kendaraan lalu lintas, kebakaran, pencemaran lingkungan dan kerusakan-kerusakan berat pada waktu pemakaian.
b. Memberikan informasi kepada masyarakat pengusaha tentang daya angkut yang diizinkan, muatan sumbu terberat serta kelas jalan terendah yang dapat dilalui sehingga diharapkan dapat mencegah kerusakan jalan di jembatan.
c. Memberi saran-saran perbaikan kepada pengusaha/pemilik kendaraan bermotor.
d. Menginformasikan kelemahan-kelemahan terhadap produksi tertentu untuk langkah penyempurnaan khususnya bagi produsen atau agen tunggal pemegang merek.
e. Menyajikan data kuantitatif tentang potensi angkutan, baik angkutan penumpang maupun angkutan barang dalam hubungan dengan pembinaan angkutan secara umum.
B. Kerangka pikir
Pemerintah telah mengeluarkan berbagai program, diantaranya adalah program menurunkan angka kecelakaan, dengan mengeluarkan suatu kebijakan yaitu peraturan pemerintah nomor 55 tahun 2009 tentang kendaraan dan pengemudi yang mengatur kelayakan kendaraan yang beroperasi di jalan. Untuk membuat suatu implementasi kebijakan tersebut, maka standar penilaian yang dapat dipakai adalah organisasi yaitu Pelaksanaan Pengujian Kendaraan Bermotor di Unit
Pelaksana Teknis Penguji Kendaraan Bermotor, Dinas Perhubungan Makassar, yang terdiri dari: a) Struktur organisasi: Unit Pelaksana Teknis Penguji Kendaraan Bermotor, Dinas Perhubungan Makassar, mempunyai struktur organisasi pelaksanaan. b) Keahlian pelaksana: Mempunyai SDM yang berkualitas dibidang pengujian kendaraan atau yang mempunyai sertifikat pengujian kendaraan bermotor, dan c) Perlengkapan alat uji kendaraan: Mempunyai sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor.
Interpretasi adalah Pelaksanaan Pengujian Kendaraan Bermotor di Unit Pelaksana Teknis Penguji Kendaraan Bermotor, Dinas Perhubungan Makassar, sesuai dengan ketentuan yang berlaku yaitu: sesuai dengan peraturan:
Kebijaksanaan yang telah dibuat harus sesuai dengan peraturan yang berlaku baik peraturan tingkat Pusat, Provinsi atau Kabupaten/Kota, petunjuk pelaksana: Tata pelaksanaan yang bersifat administratif dan petunjuk teknis: Pelaksanaan secara teknis yang diterapkan di lapangan. Berikut kerangka pikir penelitian:
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Implementasi Kebijakan Tentang Pengujian Angkutan Umum di Unit Pelaksana Teknis Penguji Kendaraan Bermotor.
C. Deskripsi Fokus Penelitian
1. Implementasi kebijakan adalah tindakan-tindakan komponen pelaksana dalam mencapai tujuan sasaran pengujian kendaraan bermotor di Unit Pelaksana Teknis Penguji Kendaraan Bermotor, Dinas Perhubungan Kota Makassar.
2. Prosedur kerja yaitu memiliki mekanisme kerja yang jelas agar dalam pelaksanaannya tidak terjadi tumpang tindih.
3. Pendaftaran yaitu prosedur yang harus di lalui oleh pemilik kendaraan untuk mendaftarkan kendaraannya untuk dilakukan uji kendaraan bermotor guna mengetahui kondisi kendaraan.
3. Uji emisi kendaraan yaitu uji kelayakan kendaraan seperti pada uji gas buangan kendaraan, apakah masih layak dan tidak menyebabkan polusi.
4. Uji system kemudi yaitu uji kelayakan kendaraan pada system kemudi yang merupakan unsur penting dalam mengontrol jalannya kendaraan
5. Sosialisasi kebijakan pengujian kendaraan yaitu proses pengenalan maupun informasi mengenai pentingnya kendaraan dilakukan pengujian guna mengetahui kondisi pasti kendaraan agar tidak mengakibatkan kecelakaan di jalan raya.
6. Sanksi yaitu aturan yang menetapkan dan pemberian hukuman atau peringatan bagi Perusahaan Otobus (PO) yang tidak lulus dalam pengujian kendaraan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Kota Makassar, khususnya pada Unit Pelaksana Teknis Dinas Penguji Kendaraan Bermotor Kota Makassar, Dipilih UPTD Pengujian Kendaraan Bermotor sebagai lokasi penelitian karena untuk melihat sejauh mana implementasi kebijakan pengujian kendaraan bermotor yang dilaksanakan pada UPTD PKB Kota Makassar.
B. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berusaha mendeskripsikan dan menyajikan basil penelitian secara lengkap sesuai dengan permasalahan yang diteliti.
C. Populasi dan Sampel penelitian 1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai UPTD PKB Kota Makassar.
Adapun jumlah populasi di UPTD PKB Kota Makassar pada bagian pengujian kendaraan bermotor.
2. Sampel penelitian sebanyak 5 orang pegawai UPTD PKB Kota Makassar yang dipilih dengan menggunakan random sampling dan 5 orang sopir PO sebagai sehingga jumlah sampel keseluruhan adalah 10 orang sebagai informan.
D. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi yaitu teknik pengumpulan data yang ditempuh penuUs dengan cara melakukan pengamatan langsung di lapangan.
2. Wawancara yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara langsung kepada informan.
3. Dokumentasi yaitu pengumpulan data dimana peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, dan sebagainya (Arikunto, 2002: 158), Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang pengujian kendaraan bermotor.
Jents dan Sumber Data
Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dan untuk memperoleh data peneliti menggunakan cara:
1. Data Sekunder diperoleh melalui: Studi kepustakaan yang bersumber pada laporan-Iaporan, dokumen-dokumen yangberhubungan dengan permasal-ahan yang diteliti, terutama mengenai implementasikebijakan tentang pengujian Angkutan Umum di Kota Makassar. Data-data yangdikumpulkan merupakan data yang mempunyai kesesuaian dan kaitan dengankebutuhan penelitian yang dilakukan.
2. Data Primer diperoleh melalui; mencari data primer dapat dilakukan dengan wawancara mendalam (in-dept interview) dengan penggunaan alat penelitian verbal (recording) untuk memperoleh data-datayang diperlakukan dalam penelitian ini menjadi lengkap.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan proses pengumpulan dan mengolah data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dengan analisis akan menguraikan dan memecahkan masalah yang diteliti berdasarkan data yang diperoleh. Dalam penelitian ini digunakan teknik analisis kualitatif. Analisis secara kualitatif adalah analisis data yang tidak bisa dikategorikan secara statistik. Dalam analisis kualitatif ini, maka penginterpretasian terhadap apa yang ditemukan dan pengambilan kesimpulan akhir menggunakan logika atau penalaran sistematis.
Model analisis kualitatif digunakan model analisis interaktif, yaitu model analisis yang memerlukan tiga komponen berupa reduksi data, sajian data, serta penarikan kesimpulan/verifikasi dengan menggunakan proses siklus. Dalam menggunakan analisis kualitatif, maka penginterpretasian terhadap apa yang dhentukan dan pengambilan kesimpulan akhir digunakan logika atau penalaran sistematik. Ada tiga komponen pokok dalam tahapan anatisa data menurut HB Sutopo, yaitu:
1. Data Reduction merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan dan abstraksi data kasar yang ada dalam field note. Reduksi data dilakukan selama penelitian berlangsung, hasilnya data dapat disederhanakan dan ditransformasikan melalui seleksi ketat, ringkasan serta penggolongan dalam suatu pola.
2. Data Display adalah rakitan organisasi informasi yang memungkinkan kesimpulan riset dilakukan, sehingga peneliti akan dengan mudah memahami apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan.
3. Canclution drawing dari awal pengumpulan data peneliti harus mengerti apa arti dari hal-hal yang ditelitmya, dengan cara peneatatan peraturan, pola-pola, pernyataan konfigurasi yang mapan dan arahan sebab akibat sehingga memudahkan dalam pengambilan kesimpulan. Sedangkan analisis Kuantkaif yaitu pengolahan data yang meliputi input data, entri data dan penyajian data hasil penelkian dalam bentuk tabel frekuensi, distribusi, maupun variable-variabel berbentuk numerik.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Dinas perhubungan Kota Makassar adalah Instansi Pemerintah daerah Kota Makassar yang bergerak di Bidang perhubungan, baik itu perhubungan darat, laut, maupun udara. Tugas dari dinas Perhubungan dispesifikasikan pada sistem angkutan umum dan trayeknya dan memeriksakan setiap kendaraan.
2. Implementasi Pengujian Kendaraan Bermotor
Pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor pada dasarnya bertujuan untuk menjaga keselamatan baik bagi pengusaha angkutan maupun penumpang umum (Konsumen). Secara teknis tercantum dalam Pasal 132 ayat (2) menjelaskan bahwa pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor adalah merupakan tanggung jawab pemerintah. Dalam hal ini Dinas Perhubungan yang ditunjuk oleh Pemerintah sebagai satu-satunya lembaga yang diberi wewenang untuk melakukan pengujian kelaikan bagi kendaraan umum.
Petugas di Dinas Perhubungan Kota Makassar juga sudah memiliki spesifikasi sebagaimana disyaratkan dalam pasal 133, pasal 134, pasal 135 dan pasal 136 dimana petugas Dinas Perhubungan sebagai pelaksana teknis pengujian kendaraan dilakukan oleh tenaga penguji yang memiliki kualifikasi teknis.
Kelengkapan peralatan pengujian juga dimiliki oleh Dinas Perhubungan dalam pelaksanaan pengujian kelaikan kendaraan bermotor.
Syarat kewajiban setiap kendaraan bermotor penumpang kendaraan umum secara jelas diatur oleh Pasal 12 dan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 14 tahun 1992.
Secara rinci pasal 12 mengatur mengenai persyaratan teknis dan laik jalan kendaraan bermotor dan pasal 13 mengatur pengujian kendaraan bermotor. Adapun isi dari Pasal 12 dan Pasal 13 adalah sebagai berikut: Pasal 12
1) Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan hams sesuai dengan peruntukannya, memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan serta sesuai dengan kelas jalan yang dilalui.
2) Setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan dan kendaraan khusus yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri serta diimpor, harus sesuai dengan peruntukan dan kelas jalan yang akan dilaluinya serta wajib memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan.
3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Pcraturan Pemerintah.
Pasal 13
1) Setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan, dan kendaraan khusus yang dioperasikan di jalan wajib diuji.
2) Pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi uji tipe dan/atau uji berkala.
3) Kendaraan yang dinyatakan lulus uji sebagaimana dimaksud dalam ayat diberikan tanda bukti.
4) Persyaratan, tata cara pengujian, masa berlaku, dan pemberian tanda bukti sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Pemerintah.
Selanjutnya berdasarkan Pasal 148 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 disebutkan bahwa setiap kendaraan umum yang dioperasikan di jalan wajib melakukan uji berkala kelaikan jaian secara berkala, Pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor bagi setiap kendaraan dilakukan setiap 6 bulan sekali. Sebagai implementasi dari ketentuan wajib uji tersebut dapat diketahui data mengenai jumlah kendaraan bermotor wajib uji dan yang telah diuji oleh Dinas Perhubungan Kota Makassar selama tahun 2010 hingga tahun 2012 adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Jumlah Kendaraan Bermotor Yang Melakukan Pengujian Di Dinas Perhubungan Kota Makassar
No Jenis 2008 2009 2010 2011 2012
1 Mobil PenumpangUmum 200 217 224 328 511
2 Bus Umum 1509 1523 1591 1340 1548
3 Bus Bukan Umum 14232 16083 16777 15104 17351
Jumlah 15941 17823 18592 16772 19410
Sumber : Dinas Perhubungan Tahun 2013
Selanjutnya yang menjadi pembahasan utama yakni bagaimana mekanisme Pelaksanaan Sistem Pengujian Kendaraan Bermotor di Dinas Perhubungan Kota Makassar pada pengujian berkala yang dilakukan setiap 6 (enam) bulan sekali, yang dilaksanakan di Gedung Pengujian Kendaraan Bermotor sesuai dengan alamat pemilik atau peruntukan kendaraan.
1. Ketentuan dan syarat melakukan pengujian kendaraan bermotor, yaitu harus melengkapi:
a. Surat Tanda Uji Kendaraan (STUK) beserta fotocopynya;
b. Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) beserta fotocopynya;
c. Bagi kendaraan penumpang/Bis Umum harus melengkapi ash kartu pengawasan;
d. Biaya Retribusi sesuai tarif
e. Kendaraan beserta pengemudinya datang ke lokasi pengujian.
2. Mekanis Pengujian
Mekanis pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor dapat dilihat sebagaimana pada alur berikut:
Tata cara pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor (PKB) Loket I
a. Pemegang/pemilik kendaraan bermotor melapor pada loket I untuk mendapatkan formulir permohonan uji bagi kendaraan wajib uji dengan melengkapi surat-surat kendaraan bagi wajib uji antara lain:
1) Surat Tanda Uji Kendaraan (STUK) beserta fotocopynya;
2) Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) beserta fotocopynya;
3) Bagi kendaraan penumpang/bis umum harus melengkapi asli Kartu Pengawasan;
4) Kendaraan bermotor yang akan diuji harus hadir di lokasi/lapangan Gedung Pengujian Kendaraan Bermotor Dinas Perhubungan.
b. Loket 0
Petugas administrasi pengujian kendaraan bermotor menerima nasi! pengisian formulir permohonan uji dari loket I dan petugas tersebut memeriksa/meneliti pengisian formulir beserta kelengkapan surat-surat kendaraan dan setelah lengkap dan benar didaftarkan tanggal penetapan uji selanjutnya berkas tersebut diserahkan ke loket III
c. Loket HI
Berkas loket II tersebut diserahkan kepada Bendaharawan Khusus Penerima dan Bendaharawan Penerima memanggil pemegang/pemilik kendaraan untuk melunasi/membayar antara lain:
1) Biaya Retribusi Uji;
2) Biaya Plat Uji;
3) Biaya Permohonan Uji;
4) Biaya Buku Uji bila ada penggantian buku yang rusak, habis ruang masa uji dan uji pertama kali;
5) Biaya Leges.
d. Loket TV
Setelah berkas tersebut diterima oleh penguji, penguji mengadakan pemeriksaan teknis kendaraan yang diuji dimaksud dan setelah dinyatakan lulus uji Petugas Administrasi menyelesaikan proses pengisian Kartu Induk maupun buku uji dan penandatanganan Buku Uji dimaksud oleh Penguji, serta pemasangan Plat Uji (tanda lulus uji). Bila kendaraan tidak lulus uji,
penguji memerintahkan pemegang/pemilik kendaraan tersebut untuk memperbaiki bagian-bagian yang rusak sesuai petunjuk yang telah disyahkan oleh penguji dan penguji sekalian menetapkan tanggal kendaraan tersebut untuk diuji kembali setelah kendaraan tersebut diperbaiki.
3. Tanggapan Informan terhadap Pengujian Kendaraan Bermotor yang diselenggarakan oleh Dinas Perhubungan.
Untuk mengetahui penilaian dari informan terhadap implementasi kebijakan pengujian kendaraan bermotor di Dinas Perhubungan Kota Makassar, peneliti telah melakukan wawancara mendalam yang terdiri dari tiga aspek, yaitu pertama organisasi yang terdiri dari struktur organisasi, keahllan pelaksana dan perlengkapan alat pengujian, kedua interpretasi adalah pelaksanaan yang sesuai dengan ketentuan peraturan, petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis, dan yang ketiga pelaksanaan yang berjalan sesuai dengan prosedur kerja, program kerja dan jadwal kegiatan yang berdasarkan dengan teori Charles 0?Jones.
Berdasarkan informasi dari beberapa informan, diperoleh keterangan bahwa Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor tahun 2005 yang telah di setujui oleh dewan empat tahun yang lalu bam dapat dtoperasikan tahun 2008 sampai dengan saat ini dengan keterbatasan sarana, alat dan sumber daya manusianya. Untuk memperoleh gambaran yang lebih rinei menurut teori Charles O? Jones aktivitas utama yang paling penting dalam implementasi kebijakan adalah organisasi, interpretasi dan pelaksanan, berikut ini pembahasannya:
1. Prosedur Kerja a. Pendaftaran
Prosedur untuk dilakukan pengujian terhadap kendaraan maka langkah pertama yaitu memasukan permohonan tertulis atau mendaftarakan kendaraan dan setelahnya wajib memenuhi persyaratan uji. Persyaratan untuk mendaftarkan kendaraan guna dilakukan pengujian maka sopir atau pihak PO wajib melengkapi berkas atau ketentuan yang berlaku. Adapun persyaratanya dijelaskan berikut:
1) Pemilik kendaraan atau kuasanya mengajukan permohonan pendaftaran uji di Loket-I, dengan membawa persyaratan buku uji dan STNK. Bila memenuhi syarat akan dapat tanda bukti daftar uji dan surat perintah bayar retribusi.
2) Pemilik/kuasanya membayar retribusi uji di Loket-II, dan memperoleh tanda bukti bayar retribusi uji (cash register).
3) Pemilik/kuasanya mengajukan penetapan pelayanan teknis pengujian di Loket-III, yang meliputi penetapan waktu, tempat, dan uji teknis.
4) Pemilik/kuasanya/pengemudi membawa kendaraan ke lokasi pengujian dan menunjukkan identitas pemilik/surat kuasa dan tanda bukti penetapan uji, kemudian memperoleh Surat Perintah Uji (SPU) dari Loket-TTI sebagai pengantar untuk melaksanakan uji teknis kendaraan.
Adapun bagan Bagan tentang sistem dan prosedur pengujian disajikan di bawah ini:
Gambar 10. Bagan Prosedur Pengujian Kendaraan Bermotor Sumber : Dinas Perhubungan Kota Makassar
Urutan kegiatan Pengujian Berkala Pertama adalah sebagai berikut
1) Pemilik atau yang dikuasakan mendaftarkan kendaraannya dengan menyerahkan syarat-syarat administrasi
2) Penetapan jumlah Retribusi Pengujian Berkala Pertama dan nomor urut pendaftaran
3) Pemohon membayar biaya retribusi Pengujian Berkala Pertama dan menerima bukti pembayaran serta Formulir Berita Acara Pengujian Berkala Pertama 4) Pemohon membawa kendaraannya untuk diperiksa dan diuji di gedung
Pengujian, serta menyerahkan Formulir Berita Acara Pengujian Berkala beserta syarat-syarat
Adapun tugas-tugas pelaksana Pengujian Kendaraan Bermotor di Dinas Perhubungan Kota Makassar dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang beriaku maka setiap petugas dituntut memiliki kemampuan yang memadai sesuai dengan bidangnya, Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Hadira (tanggal 3
Oktober 2013) menyatakan bahwa:
"...Dinas Perhubimgan terbentuk berdasarkan Ketentuan PP 41 tahun 2003 tentang Organisasi Perangkat Daerah terbentukkh Qamrn Rota Makassar Nomor 3 tahun 2003 mengenai aturan prosedur kerja sebelum uji kelayakan kendaraan dilakukan maka prosedur teknis haruslah dipenuhi terlebih dahulu yaitu mendaftarkan kendaraan untuk dilakukan uji kelayakan yang selanjutnya akan dilakukan uji emisi dan uji system kendali jika yang bersangkutan sudah memenuhi persyaratan diawal."
Selanjutnya wawancara dengan Bapak Ibrahim pada tanggal 3 Oktober 2013 sebagai berikut:
"...pendaftaran memang tidak termasukdalam PP 41 tahun 2003 namun merupakan persyaratan teknis dimana dengan adanya pendaftaran maka dapat diketahui secara pasti pemilik kendaraan dan bagaimana kondisi kendaraan dengan begitu kami pihak pelaksana pengujia kelayakan dapat menyampaikan apa-apa saja yang perlu dibenahi dan diperbaiki"
Dari wawancara dengan Ibu Hadira dan Pak Ibrahim dapat diketahui bahwa setelah masalah administrast terkadang tidak begitu diperhatikan oleh pemilik kendaraan, apalagi bagi PO besar. Didukung dengan pendapat dari Pak Majid sebagai petugas administrasi pada tanggal 3 Oktober 2013 yaitu:
"...Kalau masalah pendaftaran saja sulit dilakukan maka pengujian juga pun akan suit dilaksanakan, jangan heran jika banyak terjadi kecelakaan karena kondisi kendaraan yang kurang bagus tetapi karena tidak mau repot ya pakai saja tak perlu diperiksa, padahal aturan sebenarnya PO yang tidak lulus pengujian akan dikenakan sansksi"
Ilampir sejalan dengan pendapat Ibu Hadira, Pak Majid sebagai petugas administrasi menyatakan salah satu guna dari diadakannya loket pendaftaran sebelum dilakukan pengujian pada kendaraan yaitu selain untuk informasi identitas kendaraan juga untuk membudayakan kebiasaan antri pada pemilik-pemilik kendaraan, apalgi untuk PO besar akan lebih indah diliat jika keseluruhan prosedur di ikuti sehingga sistem kerja juga akan terlaksana secara tertib.
b, Pengujian Kendaraan
Pengujian kendaraan bermotor adalah serangkaian kegiatan pemeriksaan persyaratan teknis dan pengujian ambang batas !aik jalan, yang digunakan untuk penetapan dan pengesahan keiaikan jalan kendaraan bermotor. Pengujian berkala kendaraan bermotor dilaksanakan berdasarkan sistem dan prosedur yang ditetapkan oleh ketentuan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2003 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Maksud dari diselenggarakannya pengujian kendaraan bermotor adalah untuk menjamin agar setiap kendaraan yang akan digunakan dijalan, selalu dan tetap memenuhi persyaratan teknis dan ketentuan ambang batas laik jalan. Dalam penjaminan ini, pemilik kendaraan wajib menjaga kondisi teknis kendaraannya selama masa uji masih berlaku, dan untuk itu dapat dilakukan uji petik laik jalan untuk mengetahui keiaikan jalan. Sedangkan tujuan dari pengujian kendaraan bermotor adalah untuk menjamin keselamatan pengemudi dan pemakai jalan, turut menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan pelayanan umum.
Jenis-jenis kendaraan yang wajib melakukan pengujian kedaraan diantaranya yaitu:
1) Mobil Penumpang; Setiap kendaraan bermotor yang diiengkapi sebanyak banyaknya 8 tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi.
2) Mobil Bus: Setiap kendaraan bermotor diiengkapi lebih dari 8 tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi.
3) Mobil Barang: Setiap kendaraan bermotor selain dari yang termasuk dalam sepeda motor, mobil penumpang dan mobil bus.
4) Kendaraan Khusus adalah kendaraan bermotor selain daripada kendaraan bermotor untuk penumpang dan kendaraan bermotor untuk barang yang penggunaannya untuk keperluan khusus atau mengangkut barang-barang khusus.
Pelaksana penguji kendaraan bermotor adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan pengujian kendaraan bermotor. Profesi pekerjaan seorang penguji telah ditetapkan menjadi jabatan fungsional penguji kendaraan bermotor berdasarkan ketentuan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.
150/KEP/M.P AN/11/2003 tentang Jabatan Fungsional Penguji Kendaraan Bermotor dan Angka Kreditnya, serta Keputusan Bersama Menteri Perhubungan dan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. KM.48 Tahun 2004 dan No. 20 Tahun 2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penguji Kendaraan Bermotor dan Angka Kreditnya. Tugas-tugas pokok tersebut telah ditentukan oleh Kepala Pengujian Kendaraan dimaksud, hal ini dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih dalam
pelaksanaan pengujian. Kenyataan tersebut didukung oleh hasil wawancara yang penulis lakukan pada Bapak Chaidir pada tanggal 5 Oktober, bahwa:
"...Pegawai negeri di bidang pengujian ada dua orang dan yang satu orang tersebut memiliki sertifikat pengujian serta dibantu oleh 10 orang pegawai harian lepas/honorer, tetapi mereka dapat melaksanakan tugasnya masing-masing dengan pengawasan dua pegawai tersebut sehingga tidak terjadinya tumpang tindih pelaksanaan pengujian tersebut"
"...Pegawai negeri di bidang pengujian ada dua orang dan yang satu orang tersebut memiliki sertifikat pengujian serta dibantu oleh 10 orang pegawai harian lepas/honorer, tetapi mereka dapat melaksanakan tugasnya masing-masing dengan pengawasan dua pegawai tersebut sehingga tidak terjadinya tumpang tindih pelaksanaan pengujian tersebut"