ABSTRAK
MUHAMMAD ZAIN, Implementasi Kebijakan Pengujian Kendaraan Bermotor Di UTD-PKB Dinas Perhubungan Kota Makassar. (Dibimbing oleh Bapak Alimuddin Said dan Ibu Nuryanti Mustari).
Pemberlakuan PP Kota Makassar No 55 tahun 2012 tentang Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor memberikan kewenangan pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor pada Dinas Perhubungan Kota Makassar untuk dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sejalan dengan itu, pelaksanaan pengujian berkala kendaraan bermotor belum terlaksana dengan maksimal yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, maka perlu diteliti dengan tujuan untuk mengetahui implementasi pengujian kendaraan bermotor di Dinas Perhubungan Kota Makassar yang dilihat dari aspek Organisasi dan untuk mengetahui hambatan-hambatan yang ditemui dalam implementasi kebijakan pengujian kendaraan bermotor di Dinas Perhubungan Kota Makassar.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif dengan random Sampling pengambilan sampel yang diambil dari berdasarkan data yang ada yang didukung oleh informasi oleh 10 informan. Data di kumpulkan dengan observasi, wawancara, dan Dokumentasi dan di analisis secara kualitatif. Metode analisis data yang digunakan teknik analisis kualitatif adalah penginterpretasian terhadap apa yang ditemukan dan pengambilan kesimpulan akhir menggunakan logika atau penalaran sistematis.
Hasil analisis dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor di Dinas Perhubungan Kota Makassar cukup belum terlaksana dengan maksimal yang dilihat pada variabel organisasi yaitu kurangnya sumber daya manusia yang mempunyai pendidikan dan golongan/pangkat yang cukup untuk menduduki jabatan yang ada di struktur organisasi dan kondisi alat uji yang tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya serta kurangnya tenaga profesional di bidang pengujian yang mempunyai sertifikasi pengujian. Variabel interpretasi tentang peraturan kebijakan qanun, petunjuk pelaksanaan administrasi dan petunjuk teknis pengujian telah berjalan sesuai dengan peraturan nasional dengan kondisi prasarana dan sarana seadanya, dan variabel penerapan pelaksanaan yaitu dalam prosedur kerja, program kerja dapat berjalan dengan minimnya petugas dan waktu pelaksanaan dijadwalkan pada jam kerja. Implementasi kebijakan mempunyai hambatan selain dari tiga variabel tersebut dan masih rendahnya kesadaran pemilik kendaraan akan pentingnya pengujian kendaraan bermotor.
KATA PENGANTAR
Tak ada kata ataupun kalimat yang pantas terucap selain ungkapan syukur Alhamdulillah Robbil Alamin, penulis panjatkan ke-hadirat Allah SWT, karena atas petunjuk dan bimbingan-Nya jugalah sehingga Skripsi ml dapat terselesaikan penulisannya, meskipun pembahasannya masih jauh dari kesempurnaan, baik isi maupun teknik penuHsannya. Oleh sebab itu, Penulis sangat mengharapkan kepada para pembaca yang budiman, agar dapat memberikan masukan dan kritikan yang bersifat membangun demi perbaikan dan kesempurnaan penulisan Skripsi ini.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih pula kepada Bapak Drs. Alimuddin Said, M. Pd sebagai pembimbing I dan Ibu DR. Nuryanti Mustari, S. Ip, M. Si sebagai pembimbing II, yang telah mengarahkan dan membimbing penulis sejak pengusulan judul sampai kepada penyelesaian skripsi ini. Tak lupa pula penults mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada:
1. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar DR. H. Irwan Akib, M.Pd.
2. Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan A. Luhur Prianto, SIP, M.Si yang telah membina jurusan Ilmu Pemerintahan ini.
3. Dosen Fisipol, Staf Tata Usaha Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar, yang telah banyak membantu penults selama menempuh pendidikan di kampus ini.
DAFTARISI
HALAMANPERSETUJUAN ... ii
ABSTRAK ... iii
KATAPENGANTAR ... iv
DAFTARISI ... vi
DAFTARTABEL ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... . ... .. ...3
C. Tujuan Penelitian ... ... 4
D. Manfaat Penelitian ...4
BAB II TNJAUANPUSTAKA ... 5
A. Tinjauan Pustaka ...5
1. Pengertian Implementasi Kebijakan ... 5
2. Unsur-Unsur Implementasi Kebijakan ... 8
3. Tahapan Implementasi Kebijakan ... 12
4. Model Implementasi Kebijakan ... 15
5. Pengujian Kendaraan Bermotor ... 17
6. Sasaran Pengujian Kendaraan Bermotor ... , ... ,31
7. Manfaat Pengujian Kendaraan Bermotor ... 32
B. Kerangka pikir ... 33
C. Deskripsi Fokus Penelitian ... 34
BAB III METODE PENELITIAN... 36
A. Lokasi Penelitian ... 36
B. Jenis Penelitian ... 36
C. Populasi dan Sampel penelitian....,.,.,. ... ., 36
D. Teknik Pengumpulan Data ... 37
E. Jenis dan Sumber Data ... 37
F. Teknik Analisis Data ... 38
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.. ... 40
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 40
1. Lokasi Penelitian ... 40
2. Implementasi Pengujian Kendaraan Bermotor.,,., ... 40
3. Tanggapan Informan terhadap Pengujian Kendaraan Bermotor yang diselenggarakan oleh Dinas Perhubungan ... 45
B. Faktor-Faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan pengujian kendaraan bermotor. ... 59
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 66
A. Kesimpulan ... 66
B. Saran ... 66
DAFTARPUSTAKA ... 69
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Jumlah Kendaraan Bermotor Yang Melakukan Pengujian Di Dinas
Perhubungan Kota Makassar ... 42
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Transportasi merupakan sarana yang sangat penting dan strategis dalam memperlancar roda perekonomian, serta mempengaruhi semua aspek kehidupan bangsa dan negara. Sehingga transportasi berperan sebagai penunjang, pendorong dan penggerak bagi pertumbuhan daerah yang berpotensi dalam upaya peningkatan dan pemerataan pembangunan serta hasil-hasilnya Transportasi juga sebagai penunjang pembangunan ekonomi, tanpa adanya transportasi sebagai sarana penunjang tidak dapat diharapkan tercapainya basil yang memuaskan dalam usaha pengembangan ekonomi dari suatu negara,
Menyadari pentingnya peranan transportasi bagi kehidupan manusia, pemerintah Indonesia dituntut untuk mencarikan solusi yang terbaik bagi perkembangan transportasi dengan melalui pelaksanaan kebijakan pemerintah menyangkut kesejahteraan para pelaku usaha transportasi, dimana dalam hal ini dapat berdampak pada pelayanan yang diberikan pelaku usaha transportasi terhadap masyarakat sebagai pengguna sarana transportasi tersebut.
Dengan demikian transportasi selalu diusahakan perbaikan dan kemajuannya sesuai dengan perkembangan teknologi, sehingga akan tercapai efisiensinya yang lebih baik. Upaya pemerintah dalam pengembangan transportasi dituangkan dalam peraturan pemerintah nomor 22 tahun 2012 tentang kendaraan dan pengemudi yang mengatur kelayakan kendaraan yang beroperasi di jalan.
Tujuan dart kebijakan tersebut untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan dan
pencemaran udara yang disebabkan oleh kendaraan yang kurang layak jalan.
Kekuatan untuk kerja dan ketahanan ban luar untuk masing-masing jenis, ukuran dan lapisan, Kedalaman alur ban luar bagi kendaraan yang dinyatakan lulus uji mendapat perpanjangan buku uji berkala selama enam bulan dan dilengkapi dengan tanda samping, yaitu berat kosong kendaraan, jumlah berat yang diperbolehkan/diizinkan, daya angkut barang, masa berlaku surat/tanda uji dan kelas jalan terendah yang boleh dilalui dan bagi kendaraan yang dinyatakan tidak lulus uji berkala, maka petugas penguji wajib memberitahukan secara tertulis yaitu perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan, waktu dan tempat dilakukan pengujian ulang tanpa dipungut biaya lagi.
Manfaat yang diperoleh bagi pemilik kendaraan yang telah mengikuti pengujian kendaraan bermotor adalah sebagai berikut:
1. Pengendalian kendaraan yang dioperasikan.
2. Mempermudah penyidikan pelanggaran menyangkut kendaraan yang bersangkutan.
3. Memenuhi kebutuhan data lainnya dalam rangka perencanaan pembangunan nasional.
4. Menjaga kelestarian lingkungan yang disebabkan oleh asap gas buang kendaraan bermotor dan keselamatan baik mated maupun jiwa.
5. Memperkecil kerusakan-kerusakan berat pada waktu pemakaian dan akan mengurangi kecelakaan lalu lintas yang di akibatkan oleh kendaraan tersebut.
Pengujian kendaraan bermotor secara berkala sangat penting dilakukan, selain menunjang kendaraan dalam keadaan yang baik dan siap pakai juga dapat
meminimalkan terjadinya kecelakaan di jalan raya yang akan banyak merugikan pengemudi maupun masyarakat di sekitarnya. Dengan melakukan pengujian kendaraan secara berkala maka kestabilan kendaraan akan terjamin baik dari rungsi mesin maupun fungsi kendaraan lainnya
Kebijakan pengujian kendaraan bermotor selain mengurangi tingkat kecelakaan juga mengurangi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh asap gas buang, kecelakaan lalu lintas karena kondisi rem yang tidak layak pakai serta komponen kendaraan lainnya tidak baik secara teknis namun tetap dipaksakan beroperasi, Padahal seyogiannya dilakukan per enam bulan untuk mengecek kondisi mesin kendaraan.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti proses implementasi kebijakan tentang pengujian Kendaraan UPTD-PKB Dinas Perhubungan Kota Makassar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan asumsi yang telah dikemukakan, maka hal yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini yaitu:
1. Bagaimana implementasi kebijakan tentang pengujian kendaraan bermotor di UPTD-PKB Dinas Perhubungan Kota Makassar?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi implementasi kebijakan pengujian kendaraan bermotor di UPTD-PKB Dinas Perhubungan Kota Makassar?
C. Tujuan Penelitian
Mengacu pada permasalahan maka tujuan yang hendak dicapai dalam
penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan implementasi pengujian kendaraan bermotor UPTD-PKB Dinas Perhubungan Kota Makassar yang dilihat dari aspek organisasi, interpretasi, dan pelaksanaan,
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini antara lain:
1. Secara praktis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan pemerintah Kota Makassar dalam melakukan evaluasi kebijakan yang telah dikeluarkan khususnya tentang kebijakan pengujian Kendaraan UPTD-PKB Dinas Perhubungan Kota Makassar.
2. Secara teoritis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam menambah pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan penelitian di bidang implementasi kebijakan publik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
1. Pengeritian Implementasi Kebijakan
Kebijakan Studi implementasi adalah studi perubahan yang terjadi dan perubahan bisa dimunculkan, juga merupakan studi tentang mikrostruktur dari kehidupan politik yaitu organisasi di luar dan didalam sistem politik menjalankan urusan mereka dan berinteraksi satu sama lain dan motivasi yang membuat bertindak secara berbeda Persons (2005:463). Dalam setiap perumusan suatu tindakan apakah itu menyangkut program maupun kegiatan-kegiatan selalu diiringi dengan suatu tindakan pelaksanaan atau implementasi, karena suatu kebijaksanaan tanpa diimplementasikan maka tidak akan banyak berarti. Sesuai dengan hal tersebut, Van Meter dan Van Horn dalam Winamo (2008:146) mengemukakan
"Implementasi kebijakan sebagai tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu-individu (kelompok-kelompok) pemerintah maupun swasta yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan keputusan kebijakan sebelumnya”.
Standar dan sasaran kebijakan didasarkan pada kepentingan utama terhadap faktor-faktor yang menentukan pencapaian kebijakan. Mengidentifikasi indikator-indikator pencapaian merupakan tahap yang krusial dalam analisis implementasi kebijakan. Indikator-indikator pencapaian ini menilai sejauh mana ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan telah direalisasikan. Dampak kondisi-kondisi ekonomi, sosial dan politik pada kebijakan publik merupakan
pusat perhatian yang besar selama dasawarsa yang lalu. Para peminat perbandingan politik dan kebijakan publik secara khusus tertarik dalam mengidentifikasikan pengaruh variabel-variabel lingkungan pada hasil hasil kebijakan. Faktor-faktor implementasi keputusan-keputusan kebijakan mendapat perhatian yang kecil, namun menurut Van Meter dan Van Horn, faktor-faktor ini mempunyai efek yang mendalam terhadap pencapaian Badan-badan pelaksana.
Sedangkan menurut Edwards (2003:1) "Implementasi kebijakan adalah salah satu tahap kebijakan publik, antara pembentukan kebijakan dan konsekuensi-konsekuensi kebijakan bagi masyarakat yang dipengaruhinya".
Jika suatu kebijakan tidak tepat atau tidak dapat mengurangi masalah yang merupakan sasaran dari kebijakan, maka kebijakan itu dapat mengalami kegagalan sekalipun kebijakan itu diimplementasikan dengan sangat baik. Sementara itu, suatu kebijakan yang telah direncanakan dengan sangat baik, dapat mengalami kegagalan jika kebijakan tersebut kurang di implementasikan dengan baik oleh para pelaksana kebijakan.
Selanjutnya dikemukakan oleh O’Jones (1994;88) mengemukakan
"Implementasi adalah suatu proses interaktif antara suatu perangkat tujuan dengan tindakan atau bersifat interaktif dengan kegiatan-kegiatan kebijaksanaan yang mendahuluinya, dengan kata lain implementasi merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk mengoperasikan sebuah program dengan pilar-pilar organisasi, interpretasi dan pelaksanaan”.
Sedangkan menurut Mazmanian dan Sabatier dalam Winarno (2008:189), menjelaskan lebih lanjut tentang konsep implementasi kebijakan sebagai berikut :
memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah program dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi kebijakan, yaitu kejadian-kejadian atau kegiatan yang timbul seteiah disahkannya pedoman-pedoman kebijakan negara, yaitu mencakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat/dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian.
Berdasarkan pendapat para ahli dalam menentukan tahapan implementasi kebijakan tersebut, terlihat bahwa implementasi program adalah tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh individu-individu atau pejabat-pejabat terhadap sesuatu objek/sasaran yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Namun implementasi kebijakan yang sesuai dengan penelitian ini adalah menggunakan teori O’Jones dengan melalui tiga pilar yaitu organisasi, interpretasi dan pelaksanaan dikarenakan lokasi penelitian ini merupakan daerah baru pemekaran yang masih membutuhkan peraturan daerah, sarana, prasarana dan tenaga profesional untuk mendukung teori tersebut yaitu struktur organisasi, keahlian pelaksana, perlengkapan alat uji, kebijakan yang sesuai dengan peraturan pemerintah, sesuai dengan petunjuk pelaksana dan teknis, prosedur kerja dan program kerja yang jelas serta jadwal kegiatan pelaksanaan yang tetap.
2. Unsur-Unsur Implementasi Kebijakan
Tachjan (2006:26) menjelaskan tentang unsur-unsur dari implementasi kebijakan yang mutlak hams ada yaitu:
a) Unsur pelaksana
b) Adanya program yang dilaksanakan serta c) Target group atau kelompok sasaran
Unsur pelaksana adalah implementor kebijakan yang diterangkan Dimock &
Dimock dalam Tachjan (2006:28) sebagai berikut."Pelaksana kebijakan merupakan pihak-pihak yang menjalankan kebijakan yang terdiri dari penentuan tujuan dan sasaran organisasional, analisis serta penrumusan kebijakan dan strategi organisasi, pengambilan keputusan, perencanaan, penyusunan program, pengorganisasian, penggerakkan manusia, pelaksanaan operasional, pengawasan serta penilaian”.
Pihak yang terlibat penuh dalam implementasi kebijakan publik adalah birokrasi Dengan begitu, unit-unit birokrasi menempati posisi dominan dalam implementasi kebijakan yang berbeda dengan tahap formulasi dan penetapan kebijakan publik dimana birokrasi mempunyai peranan besar namun tidak dominan.
Suatu kebijakan publik tidak mempunyai arti periling tanpa tindakan-tindakan riil yang dilakukan dengan program, kegiatan atau proyek. Hal ini dikemukakan oleh Grindle dalam Tachjan (2006:31) bahwa " Implementation is that set of activities directed toward putting out a program into effect.
Menurut Terry dalam Tachjan (2006:31) program merupakan rencana yang bersifat komprehensif yang sudah menggambarkan sumber daya yang akan digunakan dan terpadu dalam satu kesatuan. Program tersebut menggambarkan sasaran, kebijakan, prosedur, metode, standar dan budjet. Pikiran yang serupa dikemukakan oleh Siagiaan, program harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a) Sasaran yang dikehendaki
b) Jangka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu c) Besarnya biaya yang diperlukan beserta sumbernya
d) Jenis-jenis kegiatan yang dilaksanakan dan Tenaga kerja yang dibutuhkan baik
ditinjau dari segi jumlahnya maupun dilihat dari sudut kualifikasi serta keahlian dan keterampilan yang diperlukan (Wmarno,2008:12)
Selanjutnya, menurut Grindle dalam Tachjan (2006:34) menjelaskan bahwa isi program harus menggambarkan; "kepentingan yang dipengaruhi (interest affected), jenis manfaat (type of benefit), derajat perubahan yang diinginkan (extent of change envisioned), status pembuat keputusan (site of decision making), pelaksana program (program implementers) serta sumber daya yang tersedia (resources commited)"
Program dalam konteks implementasi kebijakan publik terdiri dari beberapa tahap yaitu:
a) Merancang bangun (design) program beserta perincian tugas dan perumusan tujuan yang jelas, penentuan ukuran prestasi yang jelas serta biaya dan waktu.
b) Melaksanakan (application) program dengan mendayagunakan struktur-struktur dan personalia, dana serta sumber-sumber lainnya, prosedur dan metode yang tepat.
c) Membangun sistem penjadwalan, monitoring dan sarana-sarana pengawasan yang tepat guna serta evaluasi (hasil) pelaksanaan kebijakan Taehjan (2006:35)
Unsur implementasi kebijakan publik yang terakhir adalah target group atau kelompok sasaran, Taehjan (2006:35) mendefinisikan bahwa: "target group yaitu sekelompok orang atau organisasi dalam masyarakat yang akan menerima barang atau jasa yang akan dipengaruhi perilakunya oleh kebijakan".
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan kelompok sasaran dalam konteks implementasi kebijakan bahwa karakteristik yang dimiliki oleh kelompok sasaran seperti: besaran kelompok, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
pengalaman, usia serta kondisi sosial ekonomi mempengaruhi terhadap efektivitas implementasi.
Berdasarkan asumsi di atas unsur implementasi kebijakan terdiri dari 3 unsur yaitu pelaksana, program dan target. Unsur pelaksana dalam penelitian ini menurut PP no 44 tahun 1993 adalah Pelaksanaan Pengujian kendaraan bermotor di Unit Pengujian Kendaraan Bermotor dan pemeriksaan dilakukan oleh Penguji yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh pemerintah, bagi kendaraan yang memenuhi kelaikan akan disahkan oleh pejabat yang ditunjuk akan diberi tanda uji. Unsur programnya dalam kebijakan ini adalah pengujian kendaraan yang meliputi uji:
a) Emisi gas buang kendaraan bermotor b) Kebisingan suara kendaraan bermotor c) Efisiensi sistem rem utama
d) Efisiensi sistem rem parker e) Kincup roda depan f) Tingkat suara klaxon
g) Kemampuan pancar dan arah sinar lampu utama h) Radius putar
i) Alat penunjuk kecepatan
j) Kekuatan untuk kerja dan ketahanan ban luar untuk masing-masing jenis, ukuran dan lapisan
k) Kedalaman alur ban luar
Sedangkan unsur targetnya adalah semua kendaraan bermotor jenis mobil bus, mobil barang, kereta gandengan, kereta tempelan, kendaraan umum dan kendaraan
khusus yang dioperasikan di jalan wajib dilakukan uji berkala. Dalam penelitian ini peneliti berfokus pada kendaraan yang muatannya kurang dari 3500 kg.
3. Tahapan Implementasi Kebijakan
Widodo (2007;87) Implementasi mengacu pada tindakan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu keputusan, tindakan ini berusaha untuk mengubah keputusan-keputusan tersebut menjadi pola-pola operasional serta berusaha mencapai perubahan-perubahan besar atau kecil sebagaimana yang telah diputuskan sebelumnya. implementasi pada hakikatnya juga upaya pemahaman apa yang seharusnya terjadi setelah sebuah program dilaksanakan.
implementasi kebijakan tidak hanya melibatkan instansi yang bertanggung jawab untuk pelaksanaan kebijakan tersebut, namun juga menyangkut jaringan kekuatan politik, ekonomi, dan sosial. Dalam tataran praktis, implementasi adalah proses pelaksanaan keputusan dasar. Proses tersebut terdiri atas beberapa tahapan yakni:
a) Tahapan pengesahan peraturan perundangan;
b) Pelaksanaan keputusan oleh instansi pelaksana;
c) Kesediaan kelompok sasaran untuk menjalankan keputusan;
d) Dampak nyata keputusan baik yang dikehendaki atau tidak;
e) Dampak keputusan sebagaimana yang diharapkan instansi pelaksana;
f) Upaya perbaikan atas kebijakan atau peraturan perundangan.
Widodo (2007;91) Proses persiapan implementasi setidaknya menyangkut beberapa hal penting yakni:
a) Penyiapan sumber daya, unit dan met ode;
b) Menerjemahkan kebijakan menjadi rencana dan arahan yang dapat diterima dan
dijalankan;
c) Penyediaan layanan, pembayaran dan hal lain secara rutin. Widodo (2007;101) Oleh karena itu, implikasi sebuah kebijakan merupakan tindakan sistematis dari pengorganisasian, penerjemahan dan aplikasi.
Berikut ini merupakan tahapan-tahapan operasional implementasi sebuah kebijakan:
a) Tahapan intepretasi Tahapan ini merupakan tahapan penjabaran sebuah kebijakan yang bersifat abstrak dan sangat umum ke dalam kebijakan atau tindakan yang lebih bersifat manajerial dan operasional. Kebijakan abstrak biasanya tertuang dalam bentuk peraturan perundangan yang dibuat oleh lembaga eksekutif dan legislatif, bias berbentuk perda ataupun undang-undang. Kebijakan manajerial biasanya tertuang dalam bentuk keputusan eksekutif yang bisa berupa peraturan presiden maupun keputusan kepala daerah, sedangkan kebijakan operasional berupa keputusan pejabat pemerintahan bisa berupa keputusan/peraturan menteri ataupun keputusan kepala dinas terkait Kegiatan dalam tahap ini tidak hanya berupa proses penjabaran dari kebijakan abstrak ke petunjuk pelaksanaan/teknis namun juga berupa proses komunikasi dan sosialisasi kebijakan tersebut baik yang berbentuk abstrak maupun operasional kepada para pemangku kepentingan,
b) Tahapan Pengorganisasian. Kegiatan pertama tahap ini adalah penentuan pelaksana kebijakan (policy implementor) yang setidaknya dapat diidentifikasikan sebagai berikut: instansi pemerintah (baik pusat maupun daerah); sektor swasta; LSM maupun komponen masyarakat. Setelah pelaksana kebijakan ditetapkan; maka dilakukan penentuan prosedur tetap kebijakan yang berfungsi sebagai pedoman,
petunjuk dan referensi bagi pelaksana dan sebagai pencegah terjadinya kesalahpahaman saat para pelaksana tersebut menghadapi masalah, Prosedur tetap tersebut terdiri atas prosedur operasi standar (SOP) atau standar pelayanan minimal (SPM). Langkah berikutnya adalah penentuan besaran anggaran biaya dan sumber pembiayaan.
Pembiayaan bisa diperoleh dari sektor pemerintah (APBN/APBD) maupun sektor lain (swasta atau masyarakat). Selain itu juga diperlukan penentuan peralatan dan fasilitas yang diperlukan, sebab peralatan tersebut akan berperan penting dalam menentukan efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kebijakan. Langkah selanjutnya penetapan manajemen pelaksana kebijakan diwujudkan dalam penentuan pola kepemimpinan dan koordinasi pelaksanaan, dalam hal ini penentuan focal point pelaksana kebijakan. Setelah itu, jadwal pelaksanaan implementasi kebijakan segera disusun untuk memperjelas hitungan waktu dan sebagai salah satu alat penentu efesiensi implementasi sebuah kebijakan.
c) Tahapan implikasi. Tindakan dalam tahap ini adalah perwujudan masing-masing tahapan yang telah dilaksanakan sebelumnya.
Peraturan Pemerintah no 44 tahun 2009 belum bisa diimplementasikan dengan maksimal karena masih bersifat umum dan beium bersifat operasional, dari asumsi tersebut dilakukanlah tahapan-tahapan Interpretasi, pengorganisasian, implikasi yaitu dengan dibuatnya peraturan Walikota no 26 tahun 2007 tentang pengujian kendaraan bermotor di kota Makassar sebagai penjabaran PP no 44 tahun 1993 yang terlalu abstrak dan belum operasional.
Pemerintah membuat Peraturan Walikota no 10 tahun 2006 tentang jabatan fungsional penguji kendaraan untuk menentukan pelaksana kebijakan (policy implementor) dan diwujudkan dalam program pengujian kendaraan di Unit Pelaksana Teknis Dinas Pengujian Kendaraan Bermotor Makassar dengan ditentukan sasaran pengujian kendaraan bermotor meliputi kegiatan memeriksa, mencoba dan meneliti diarahkan kepada setiap kendaraan bermotor wajib uji berkaiasecara keseluruhan pada bagian-bagian kendaraan secara fungsional dalam system komponen serta dimensi teknisnya baik berdasarkan ketentuan yang berlaku.
4. Model Implementasi Kebijakan
Menurut O’Jones (1994:296) ada tiga pilar penilaian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Organisasi, setiap organisasi harus memiliki struktur organisasi, adanya somber daya manusia yang berkualitas sebagai tenaga pelaksana dan perlengkapan atau alat-alat kerja serta didukung dengan perangkat hukum yang jelas.
b) Interpretasi, maka mereka yang bertanggung jawab dapat melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan atau ketentuan yang berlaku, harus dilihat apakah pelaksanaannya telah sesuai dengan petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang.
c) Penerapan, peraturan/kebijakan berupa petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis telah berjalan sesuai dengan ketentuan, untuk dapat melihat ini harus pula di lengkapi dengan adanya prosedur kerja yang jelas, program kerja serta jadwal kegiatan disiplin.
Sesuai dengan PP 55 tahun 2009, manfaat pengujian kendaraan bermotor yang ingin dicapai sebagai berikut:
a) Mencegah atau memperkecil kemungkinan terjadinya kendaraan lalu lintas, kebakaran, pencemaran lingkungan dan kerusakan-kerusakan berat pada waktu pemakaian.
b) Memberikan informasi kepada masyarakat pengusaha tentang daya angkut yang diizinkan, muatan sumbu terberat serta kelas jalan terendah yang dapat dilalui sehingga diharapkan dapat mencegah kerusakan jalan di jembatan.
c) Memberi saran-saran perbaikan kepada pengusaha/pemilik kendaraan bermotor.
d) Menginformasikan kelemahan-kelemahan terhadap produksi tertentu untuk langkah penyempurnaan khususnya bagi produsen atau agen tunggal pemegang merek.
e) Menyajikan data kuantitatif tentang potensi angkutan, baik angkutan penumpang maupun angkutan barang dalam hubungan dengan pembinaan angkutan secara umum.
5. Pengujian Kendaraan Bermotor
Pengujian kendaraan bermotor disebut juga uji kir adalah serangkaian kegiatan menguji dan/atau memeriksa bagian-bagian kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan dan kendaraan khusus dalam rangka pemenuhan terhadap persyaratan teknis dan laik jalan, berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 44 tahun 1993 tentang kendaraan dan pengemudi, Pengujian Kendaraan bermotor dilaksanakan secara berkala 6 (enam) bulan sekali dalam rangka menjamin keselamatan, kelestarian
lingkungan dan pelayanan umum.
Sesuai dengan Undang-Undang RI No. 14 tahun 1992 tujuan transportasi adalah untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan dengan selamat, aman, cepat, lancar, tertib dan teratur, nyaman dan efisien, maupun memadukan modal transportasi lainnya, menjangkau seluruh pelosok wilayah daratan untuk menunjang pemerataan, pertumbuhan dan stabilitas sebagai pendorong, penggerak dan menunjang pembangunan nasional dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat. Maka untuk mewujudkan hal tersebut diatas semua peruntukannya harus memenuhi persyaratan teknis dan ambang batas laik jalan serta sesuai dengan kelas jalan yang dilalui.
Pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor bersifat pelayanan umum dan lebih diutamakan pada pertimbangan menyangkut aspek keselamatan secara teknis terhadap pengguna/kendaraan bermotor di jalan sampai pada tujuannya dan kelestarian lingkungan dan kemungkinan pencemaran yang diakibatkan oleh kendaraan bermotor yang digunakan di jalan, sehingga tidak untuk mencari keuntungan materil.
Pengaturan dan pembinaan kendaraan maupun mengemudi tersebut tidak dapat dipisahkan dart sistem lalu lintas dan angkutan jalan yang secara keseluruhan merupakan bagian tidak terpisahkan dari sistem transportasi nasional. Pada kenyataannya, kegiatan pengaturan dan pembinaan tersebut menuntut keterlibatan serta dukungan berbagai instansi pemerintah maupun masyarakat yang mempunyai kaitan tugas dengan bidang lalu lintas dan angkutan jalan. Untuk mencapai daya guna dan basil guna yang optimal, diperlukan adanya pengaturan dan pembinaan secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan. Hal ini dapat dicapai jika kegiatan pengaturan dan pembinaan pada masing-masing instansi pemerintah tersebut terkoordinasi secara utuh,
tertib, teratur dan sinergenik antara satu dengan lainnya, tanpa mengurangi tugas dan tanggung jawab masing-masing instansi.
Di dalam Peraturan Pemerintah No. 44 tahun 1993 diatur kewajiban pemilik untuk mendaftarkan kendaraan bermotornya, dalam rangka mengumpulkan data yang dapat digunakan untuk tertib administrasi, pengendalian kendaraan bermotor yang dioperasikan di Indonesia, mempermudah penyidikan pelanggaran atau kejahatan yang menyangkut kendaraan yang bersangkutan, serta dalam rangka perencanaan kendaraan yang bersangkutan, serta dalam rangka perencanaan, rekayasa dan manajemen lalu lintas dan angkutan jalan, dan memenuhi kebutuhan data lainnya dalam rangka perencanaan pembangunan nasional.
Berikut prosedur dan gambaran pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor:
1. Pengujian Berkala Pertama.
Syarat-syarat Pengujian Berkala Pertama adalah sebagai berikut:
a. Permohonan Uji Berkala Pertama dari pemilik atau yang dikuasakan b. Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), asli dan fotocopy;
c. Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pemilik, asli beserta fotocopy atau surat kuasa dari pemilik kendaraan;
d. Sertifikat Uji Tipe yang dikeluarkan Dirjen Perhubungan Darat RI, asli beserta fotocopy
e. Sertifikat Registrasi Uji Tipe yang dikeluarkan oleh penanggung jawab produksi/rakit/ impor, asli beserta fotocopy
f. Surat Keterangan Tera dari Badan Metrologi, bagi kendaraan tanki, taksi dengan argometer dan kendaraan yang menggunakan bahan bakar gas (BBG), asli
beserta fotocopy
g. Rekomendasi dari Kepala Dinas Perhubungan Kota Depok (khusus angkutan penumpang umum
h. Biaya Retribusi sesuai tarif
i. Kendaraan datang ke lokasi pengujian.
Prosedur Pengujian Berkala Pertama :
Prosedur Pengujian Berkala Pertama dapat dilihat sebagaimana alur gambar berikut ini:
Urutan kegiatan Pengujian Berkala Pertama adalah sebagai berikut:
a. Pemilik atau yang dikuasakan mendaftarkan kendaraannya dengan menyerahkan syarat-syarat administrasi
b. Penetapan jumlah Retribusi Pengujian Berkala Pertama dan nomor unit pendaftaran
c. Pemohon membayar biaya retribusi Pengujian Berkala Pertama dan menerima bukti pembayaran serta Formulir Berita Acara Pengujian Berkala Pertama;
d. Pemohon membawa kendaraannya untuk diperiksa dan diuji di gedung Pengujian, serta menyerahkan Formulir Berita Acara Pengujian Berkala beserta syarat-syarat;
e. Penguji melakukan pemeriksaan dan pengujian, pengukuran dimensi kendaraan, penetapan JBB / JBKB, Berat Kendaraan, menghitung Daya Angkut Orang dan Barang, JBI/JBKI, MST dan Kelas Jalan Terendah;
f. Penguji menetapkan hasil pengujian dan menandatangani Berita Acara Pengujian
2. Berkala Pertama;
Pemanggilan dan pemberitahuan hasil pengujian kepada pemohon. Apabila hasil pengujian dinyatakan "Lulus",maka
a. Penetapan dan pembubuhan Nomor Uji pada rangka kendaraan
b. Pemohon diminta menyerahkan Plat Nomor kendaraan untuk dipasang Plat Uji dan diperintahkan untuk pemasangan Tanda Samping
c. Pengisian Buku Uji dan Kartu induk Pemeriksaan
d. Penguji Menandatangani Buku Uji dan Kartu Induk Pemeriksaan;
e. Menyerahkan Buku Uji dan Plat Nomor yang telah dipasangkan Plat Uji.
f. Apabila hasil pengujian dinyatakan "Tidak Lulus", pemohon berhak banding atau melakukan perbaikan-perbaikan sesuai Berita Acara Pengujian Berkala Pertama selanjutnya dilakukan Pengujian Ulang’
g. Waktu Pelayanan Maksimal 90 (sembilan puluh) menit.
3. Pengujian Rubah Bentuk.
Syarat-syarat pengujian Rubah Bentuk sama dengan Pengujian Berkala Pertama, hanya ditambah dengan sertifikat Rancang Bangun dari Dirjen Perhubungan Darat Prosedur dan kegiatan Pengujian Rubah Bentuk sama dengan Prosedur Pengujian Berkala Pertama, hanya tidak ada pembubuhan nomor uji, karena kendaraan dimaksud sudah mempunyai nomor uji a. Pengujian Berkala Periodik Syarat-syarat Pengujian Berkala Periodik adalah sebagai berikut:
1) Permohonan Uji Berkala Periodik dari pemilik atau yang dikuasakan
2) Buku Uji Berkala asli, jika hilang wajib melampirkan Berita Acara Kehilangan dari Kepolisian dan potongan berita kehilangan di media cetak
3) Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), asli dan fotocopy
4) Kartu Tanda Penduduk (K.TP) Pemilik, asli beserta fotocopy atau surat kuasa dari pemilik kendaraan
5) Kartu Pengawasan (Khusus angkutan penumpang umum).
a. Prosedur Pengujian Berkala Periodik :
Prosedur Pengujian Berkala Periodik dapat dilihat sebagaimana alur pada gambar berikut ini:
1) Pemilik atau yang dikuasakan mendaftarkan kendaraannya dengan menyerahkan syarat-syarat administrasi
2) Penetapan jumlah Retribusi Pengujian Berkala Periodik dan nomor urut pendaftaran
3) Pemohon membayar biaya Retribusi Pengujian Berkala Periodik dan menerima bukti pembayaran serta Formulir Berita Acara Pengujian Berkala;
4) Pemohon membawa kendaraannya untuk diperiksa dan diuji di gedung pengujian, serta menyerahkan Formulir Berita Acara Pengujian Berkala beserta syarat-syarat 5) Penguji menetapkan hasil pengujian dan menandatangani Berita Acara
c. Pengujian Berkala Periodik;
Pemanggilan dan pemberitahuan hasil pengujian kepada pemohon. Apabila hasil pengujian dinyatakan "Lulus", maka .
1) Pemohon diminta menyerahkan Plat Nomor kendaraan untuk dipasang Plat Uji dan diperintahkan untuk pemasangan Tanda Samping
2) Pengisian Buku Uji dan Kartu Induk Pemeriksaan
3) Penguji Menandatangani Buku Uji dan Kartu Induk Pemeriksaan;
4) Penyerahan Buku Uji dan Plat Nomor yang telah dipasangkan Tanda Uji.
5) Apabila hasil pengujian dinyatakan "Tidak Lulus", pemohon berhak banding atau melakukan perbaikan teknis sesuai Berita Acara Pengujian Berkala
6) Periodik, selanjutnya dilakukan Pengujian Ulang;
7) Waktu Pelayanan Maksimal 60 (enam puluh) menit.
4. Pengujian Penghapusan/Scraping.
Syarat-syarat Pengujian Penghapusan/Scraping adalah sebagai berikut:
a. Permohonan Pengujian Penghapusan/Scraping disampaikan kepada Kepala Dinas Perhubungan Kota Depok;
b. Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), ash dan fotocopy
c. Salinan Keputusan Pengadilan (bagi kendaraan hasil sitaan pengadilan) d. Buku uji (khusus kendaraan wajib uji).
Prosedur Pengujian Penghapusan/Scraping:
Prosedur Pengujian Penghapusan/Scraping dapat dilihat sebagaimana atur pada gambar berikut ini:
Urutan Pelaksanaan Pengujian Penghapusan/Scraping adalah sebagai berikut:
a. Pemohon mendaftarkan Pengujian Penghapusan/Scraping dengan menyerahkan syarat-syarat administrasi
b. Penetapan jumlah Retribusi Pengujian Penghapusan/Scraping;
c. Pemohon membayar biaya Retribusi Pengujian Penghapusan/Scraping dan menerima bukti pembayaran
d. Pemohon membawa kendaraannya untuk diperiksa dan diuji di gedung pengujian (apabila tidak dimungkinkan karena sesuatu hal, maka penguji wajib mendatangi ke tempat kendaraan dimaksud berada), serta menyerahkan
e. Formulir Laporan Pengujian Pengujian Penghapusan, beserta syarat-syarat;
1) Penguji menetapkan hasil pengujian dan menandatangani Formulir Laporan Pengujian Penghapusan/Scraping
2) Ketua Panitia Pengujian Penghapusan memberikan Surat Keterangan Penilaian Kondisi Teknis Kendaraan atas dasar Laporan Pengujian Penghapusan/Scraping 3) Pemanggilan dan pemberitahuan hasil pengujian kepada pemohon
4) Pemohon menerima hasil Pengujian Penghapusan/Scraping.
5) Waktu Pelayanan Maksimal 60 (Enam puluh) menit.
5. Pengujian di Tempat
Syarat-syarat Pengujian di tempat sama dengan Pengujian Berkala Periodik, hanya pada pelaksanaannya diharuskan:
a. Jumlah minimal 20 kendaraan b. Memiliki Pelataran yang cukup luas
c. Di lokasi pemohon, dan berada di wilayah Kota.
d. Waktu pelayanan maksimal 60 (Enam puluh) menit
e. Prosedur dan Urutan Kegiatan Pelaksanaan Pengujian di tempat sama dengan Pengujian Berkala Periodik.
6.Numpang Uji
a. Numpang Uji Masuk
Syarat-syarat dan pelaksanaan Numpang Uji Masuk sama dengan Pengujian Berkala Periodik, hanya pada pelaksanaannya diharuskan melampirkan Surat Rekomendasi Numpang Uji dari daerah asal kendaraan yang bersangkutan.
b. Numpang Uji Keluar
Syarat-syarat Numpang Uji Keluar adalah sebagai berikut:
1) Permohonan Numpang Uji dari pemilik atau yang dikuasakan
2) Buku Uji Berkala asli, jika hilang wajib melampirkan Berita Acara Kehilangan dari Kepolisian dan potongan berita kehilangan di media cetak 3) Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), asli dan fotocopy;
4) Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pemilik, asli beserta fotocopy atau surat kuasa dari pemilik kendaraan
5) Kartu Pengawasan (Khusus angkutan penumpang umum).
7. Presedur Numpang Uji Keluar
Prosedur Numpang Uji Keluar dapat dilihat sebagaimana alur pada gambar berikut ini:
Urutan kegiatan Numpang Uji Keluar
Urutan Pelaksanaan Numpang Uji Keluar adalah sebagai berikut:
a. Pemohon mengajukan permohonan Numpang Uji Keluar dengan menyerahkan syarat-syarat;
b. Penetapan jumlah Retribusi Pengujian Numpang Uji Keluar
c. Pemohon membayar biaya Retribusi Pengujian Numpang Uji Keluar dan menerima bukti pembayaran
d. Pembuatan Surat Rekomendasi Numpang Uji;
e. Penetapan Rekomendasi Numpang Uji
f. Pemohon menerima hasil Surat Rekomendasi Numpang Uji Keluar g. Waktu Pelayanan Maksimal 30 (Tiga puluh) menit.
8. Mutasi Uji
a. Mutasi Uji Masuk
Syarat-syarat dan pelaksanaan Mutasi Uji Masuk sama dengan Pengujian Berkala Periodik, hanya pada pelaksanaannya diharuskan melampirkan Surat Mutasi Uji Kendaraan dan Surat Mutasi Kendaraan/Viskal Antar Daerah dari daerah asal kendaraan yang bersangkutan.
b. Mutasi Uji Keluar
Syarat-syarat Mutasi Uji Keluar adalah sebagai berikut :
1) Permohonan Mutasi Uji Keluar dari pemilik atau yang dikuasakan
2) Buku Uji Berkala asli, jika hilang wajib melampirkan Berita Acara Kehilangan dari Kepolisian dan potongan berita kehilangan di media cetak 3) Surat Mutasi Kendaraan/Viskal Antar Daerah, asli dan fotocopy
4) Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pemilik, asli beserta fotocopy atau surat kuasa dari pemilik kendaraan
5) Kartu Pengawasan (Khusus angkutan penumpang umum);
6) Waktu pelayanan maksimal 30 (Tiga puluh) menit
b. Prosedur Mutasi Uji Keluar :
Prosedur Mutasi Uji Keluar dapat dilihat sebagaimana alur pada gambar berikut ini:
Urutan kegiatan Mutasi Uji Keluar Urutan Pelaksanaan Mutasi Uji Keluar adalah sebagai berikut:
a. Pemohon mendaftarkan Mutasi Uji Keluar dengan menyerahkan syarat-syarat;
b. Penetapan jumlah Mutasi Uji Keluar
c. Pemohon membayar biaya Mutasi Uji Keluar dan menerima bukti pembayaran d. Pembuatan Surat Rekomendasi Mutasi Uji Keluar;
e. Penetapan Surat Rekomendasi Mutasi Uji Keluar
f. Pemohon menerima hasil Surat Rekomendasi Mutasi Uji Keluar.
g. Waktu Pelayanan Maksimal 30 (Tiga puluh) menit.
6. Sasaran Pengujian Kendaraan Bermotor
Sasaran pengujian kendaraan bermotor meliputi kegiatan memeriksa, mencoba dan meneliti diarahkan kepada setiap kendaraan bermotor wajib uji berkala
secara keseluruhan pada bagian-bagian kendaraan secara fungsional dalam sistem komponen serta dimensi teknisnya baik berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Kendaraan bermotor yang wajib uji berkala untuk memenuhi ambang batas laik jalan yang sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah No. 44 tahun 1993 meliputi:
a. Emisi gas buang kendaraan bermotor b. Kebisingan suara kendaraan bermotor c. Efisiensi sistem rem utama
d. Efisiensi sistem rem parkir e. Kincup roda depan
f. Tingkat suara klakson
g. Kemampuan pancar dan arah sinar lampu utama h. Radius putar
i. Alat penunjuk kecepatan
j. Kekuatan untuk kerja dan ketahanan ban luar untuk masing-masing jenis, ukuran dan lapisan
k. Kedalaman alur ban luar
Pelaksanaan Pengujian kendaraan bermotor di Unit Pengujian Kendaraan Bermotor dan pemeriksaan dilakukan oleh Penguji yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh pemerintah, bagi kendaraan yang memenuhi kelaikan akan disahkan oleh pejabat yang ditunjuk akan diberi tanda uji. Sasaran pengujian kendaraan bermotor meliputi kegiatan memeriksa, menguji, mencoba dan meneliti diarahkan kepada setiap kendaraan bermotor wajib uji secara keseluruhan pada bagian-bagian kendaraan secara fungsional dalam sistem komponen serta dimensi teknisnya baik maupun
berdasarkan persyaratan teknis yang objektif 7. Manfaat Pengujian Kendaraan Bermotor
Sesuai dengan PP 44 tahun 1993, manfaat pengujian kendaraan bermotor sebagai berikut:
a. Mencegah atau memperkecil kemungkinan terjadinya kendaraan lalu lintas, kebakaran, pencemaran lingkungan dan kerusakan-kerusakan berat pada waktu pemakaian.
b. Memberikan informasi kepada masyarakat pengusaha tentang daya angkut yang diizinkan, muatan sumbu terberat serta kelas jalan terendah yang dapat dilalui sehingga diharapkan dapat mencegah kerusakan jalan di jembatan.
c. Memberi saran-saran perbaikan kepada pengusaha/pemilik kendaraan bermotor.
d. Menginformasikan kelemahan-kelemahan terhadap produksi tertentu untuk langkah penyempurnaan khususnya bagi produsen atau agen tunggal pemegang merek.
e. Menyajikan data kuantitatif tentang potensi angkutan, baik angkutan penumpang maupun angkutan barang dalam hubungan dengan pembinaan angkutan secara umum.
B. Kerangka pikir
Pemerintah telah mengeluarkan berbagai program, diantaranya adalah program menurunkan angka kecelakaan, dengan mengeluarkan suatu kebijakan yaitu peraturan pemerintah nomor 55 tahun 2009 tentang kendaraan dan pengemudi yang mengatur kelayakan kendaraan yang beroperasi di jalan. Untuk membuat suatu implementasi kebijakan tersebut, maka standar penilaian yang dapat dipakai adalah organisasi yaitu Pelaksanaan Pengujian Kendaraan Bermotor di Unit
Pelaksana Teknis Penguji Kendaraan Bermotor, Dinas Perhubungan Makassar, yang terdiri dari: a) Struktur organisasi: Unit Pelaksana Teknis Penguji Kendaraan Bermotor, Dinas Perhubungan Makassar, mempunyai struktur organisasi pelaksanaan. b) Keahlian pelaksana: Mempunyai SDM yang berkualitas dibidang pengujian kendaraan atau yang mempunyai sertifikat pengujian kendaraan bermotor, dan c) Perlengkapan alat uji kendaraan: Mempunyai sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor.
Interpretasi adalah Pelaksanaan Pengujian Kendaraan Bermotor di Unit Pelaksana Teknis Penguji Kendaraan Bermotor, Dinas Perhubungan Makassar, sesuai dengan ketentuan yang berlaku yaitu: sesuai dengan peraturan:
Kebijaksanaan yang telah dibuat harus sesuai dengan peraturan yang berlaku baik peraturan tingkat Pusat, Provinsi atau Kabupaten/Kota, petunjuk pelaksana: Tata pelaksanaan yang bersifat administratif dan petunjuk teknis: Pelaksanaan secara teknis yang diterapkan di lapangan. Berikut kerangka pikir penelitian:
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Implementasi Kebijakan Tentang Pengujian Angkutan Umum di Unit Pelaksana Teknis Penguji Kendaraan Bermotor.
C. Deskripsi Fokus Penelitian
1. Implementasi kebijakan adalah tindakan-tindakan komponen pelaksana dalam mencapai tujuan sasaran pengujian kendaraan bermotor di Unit Pelaksana Teknis Penguji Kendaraan Bermotor, Dinas Perhubungan Kota Makassar.
2. Prosedur kerja yaitu memiliki mekanisme kerja yang jelas agar dalam pelaksanaannya tidak terjadi tumpang tindih.
3. Pendaftaran yaitu prosedur yang harus di lalui oleh pemilik kendaraan untuk mendaftarkan kendaraannya untuk dilakukan uji kendaraan bermotor guna mengetahui kondisi kendaraan.
3. Uji emisi kendaraan yaitu uji kelayakan kendaraan seperti pada uji gas buangan kendaraan, apakah masih layak dan tidak menyebabkan polusi.
4. Uji system kemudi yaitu uji kelayakan kendaraan pada system kemudi yang merupakan unsur penting dalam mengontrol jalannya kendaraan
5. Sosialisasi kebijakan pengujian kendaraan yaitu proses pengenalan maupun informasi mengenai pentingnya kendaraan dilakukan pengujian guna mengetahui kondisi pasti kendaraan agar tidak mengakibatkan kecelakaan di jalan raya.
6. Sanksi yaitu aturan yang menetapkan dan pemberian hukuman atau peringatan bagi Perusahaan Otobus (PO) yang tidak lulus dalam pengujian kendaraan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Kota Makassar, khususnya pada Unit Pelaksana Teknis Dinas Penguji Kendaraan Bermotor Kota Makassar, Dipilih UPTD Pengujian Kendaraan Bermotor sebagai lokasi penelitian karena untuk melihat sejauh mana implementasi kebijakan pengujian kendaraan bermotor yang dilaksanakan pada UPTD PKB Kota Makassar.
B. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berusaha mendeskripsikan dan menyajikan basil penelitian secara lengkap sesuai dengan permasalahan yang diteliti.
C. Populasi dan Sampel penelitian 1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai UPTD PKB Kota Makassar.
Adapun jumlah populasi di UPTD PKB Kota Makassar pada bagian pengujian kendaraan bermotor.
2. Sampel penelitian sebanyak 5 orang pegawai UPTD PKB Kota Makassar yang dipilih dengan menggunakan random sampling dan 5 orang sopir PO sebagai sehingga jumlah sampel keseluruhan adalah 10 orang sebagai informan.
D. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi yaitu teknik pengumpulan data yang ditempuh penuUs dengan cara melakukan pengamatan langsung di lapangan.
2. Wawancara yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara langsung kepada informan.
3. Dokumentasi yaitu pengumpulan data dimana peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, dan sebagainya (Arikunto, 2002: 158), Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang pengujian kendaraan bermotor.
Jents dan Sumber Data
Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dan untuk memperoleh data peneliti menggunakan cara:
1. Data Sekunder diperoleh melalui: Studi kepustakaan yang bersumber pada laporan-Iaporan, dokumen-dokumen yangberhubungan dengan permasal-ahan yang diteliti, terutama mengenai implementasikebijakan tentang pengujian Angkutan Umum di Kota Makassar. Data-data yangdikumpulkan merupakan data yang mempunyai kesesuaian dan kaitan dengankebutuhan penelitian yang dilakukan.
2. Data Primer diperoleh melalui; mencari data primer dapat dilakukan dengan wawancara mendalam (in-dept interview) dengan penggunaan alat penelitian verbal (recording) untuk memperoleh data-datayang diperlakukan dalam penelitian ini menjadi lengkap.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan proses pengumpulan dan mengolah data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dengan analisis akan menguraikan dan memecahkan masalah yang diteliti berdasarkan data yang diperoleh. Dalam penelitian ini digunakan teknik analisis kualitatif. Analisis secara kualitatif adalah analisis data yang tidak bisa dikategorikan secara statistik. Dalam analisis kualitatif ini, maka penginterpretasian terhadap apa yang ditemukan dan pengambilan kesimpulan akhir menggunakan logika atau penalaran sistematis.
Model analisis kualitatif digunakan model analisis interaktif, yaitu model analisis yang memerlukan tiga komponen berupa reduksi data, sajian data, serta penarikan kesimpulan/verifikasi dengan menggunakan proses siklus. Dalam menggunakan analisis kualitatif, maka penginterpretasian terhadap apa yang dhentukan dan pengambilan kesimpulan akhir digunakan logika atau penalaran sistematik. Ada tiga komponen pokok dalam tahapan anatisa data menurut HB Sutopo, yaitu:
1. Data Reduction merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan dan abstraksi data kasar yang ada dalam field note. Reduksi data dilakukan selama penelitian berlangsung, hasilnya data dapat disederhanakan dan ditransformasikan melalui seleksi ketat, ringkasan serta penggolongan dalam suatu pola.
2. Data Display adalah rakitan organisasi informasi yang memungkinkan kesimpulan riset dilakukan, sehingga peneliti akan dengan mudah memahami apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan.
3. Canclution drawing dari awal pengumpulan data peneliti harus mengerti apa arti dari hal-hal yang ditelitmya, dengan cara peneatatan peraturan, pola-pola, pernyataan konfigurasi yang mapan dan arahan sebab akibat sehingga memudahkan dalam pengambilan kesimpulan. Sedangkan analisis Kuantkaif yaitu pengolahan data yang meliputi input data, entri data dan penyajian data hasil penelkian dalam bentuk tabel frekuensi, distribusi, maupun variable-variabel berbentuk numerik.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Dinas perhubungan Kota Makassar adalah Instansi Pemerintah daerah Kota Makassar yang bergerak di Bidang perhubungan, baik itu perhubungan darat, laut, maupun udara. Tugas dari dinas Perhubungan dispesifikasikan pada sistem angkutan umum dan trayeknya dan memeriksakan setiap kendaraan.
2. Implementasi Pengujian Kendaraan Bermotor
Pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor pada dasarnya bertujuan untuk menjaga keselamatan baik bagi pengusaha angkutan maupun penumpang umum (Konsumen). Secara teknis tercantum dalam Pasal 132 ayat (2) menjelaskan bahwa pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor adalah merupakan tanggung jawab pemerintah. Dalam hal ini Dinas Perhubungan yang ditunjuk oleh Pemerintah sebagai satu-satunya lembaga yang diberi wewenang untuk melakukan pengujian kelaikan bagi kendaraan umum.
Petugas di Dinas Perhubungan Kota Makassar juga sudah memiliki spesifikasi sebagaimana disyaratkan dalam pasal 133, pasal 134, pasal 135 dan pasal 136 dimana petugas Dinas Perhubungan sebagai pelaksana teknis pengujian kendaraan dilakukan oleh tenaga penguji yang memiliki kualifikasi teknis.
Kelengkapan peralatan pengujian juga dimiliki oleh Dinas Perhubungan dalam pelaksanaan pengujian kelaikan kendaraan bermotor.
Syarat kewajiban setiap kendaraan bermotor penumpang kendaraan umum secara jelas diatur oleh Pasal 12 dan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 14 tahun 1992.
Secara rinci pasal 12 mengatur mengenai persyaratan teknis dan laik jalan kendaraan bermotor dan pasal 13 mengatur pengujian kendaraan bermotor. Adapun isi dari Pasal 12 dan Pasal 13 adalah sebagai berikut: Pasal 12
1) Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan hams sesuai dengan peruntukannya, memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan serta sesuai dengan kelas jalan yang dilalui.
2) Setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan dan kendaraan khusus yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri serta diimpor, harus sesuai dengan peruntukan dan kelas jalan yang akan dilaluinya serta wajib memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan.
3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Pcraturan Pemerintah.
Pasal 13
1) Setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan, dan kendaraan khusus yang dioperasikan di jalan wajib diuji.
2) Pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi uji tipe dan/atau uji berkala.
3) Kendaraan yang dinyatakan lulus uji sebagaimana dimaksud dalam ayat diberikan tanda bukti.
4) Persyaratan, tata cara pengujian, masa berlaku, dan pemberian tanda bukti sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Pemerintah.
Selanjutnya berdasarkan Pasal 148 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 disebutkan bahwa setiap kendaraan umum yang dioperasikan di jalan wajib melakukan uji berkala kelaikan jaian secara berkala, Pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor bagi setiap kendaraan dilakukan setiap 6 bulan sekali. Sebagai implementasi dari ketentuan wajib uji tersebut dapat diketahui data mengenai jumlah kendaraan bermotor wajib uji dan yang telah diuji oleh Dinas Perhubungan Kota Makassar selama tahun 2010 hingga tahun 2012 adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Jumlah Kendaraan Bermotor Yang Melakukan Pengujian Di Dinas Perhubungan Kota Makassar
No Jenis 2008 2009 2010 2011 2012
1 Mobil PenumpangUmum 200 217 224 328 511
2 Bus Umum 1509 1523 1591 1340 1548
3 Bus Bukan Umum 14232 16083 16777 15104 17351
Jumlah 15941 17823 18592 16772 19410
Sumber : Dinas Perhubungan Tahun 2013
Selanjutnya yang menjadi pembahasan utama yakni bagaimana mekanisme Pelaksanaan Sistem Pengujian Kendaraan Bermotor di Dinas Perhubungan Kota Makassar pada pengujian berkala yang dilakukan setiap 6 (enam) bulan sekali, yang dilaksanakan di Gedung Pengujian Kendaraan Bermotor sesuai dengan alamat pemilik atau peruntukan kendaraan.
1. Ketentuan dan syarat melakukan pengujian kendaraan bermotor, yaitu harus melengkapi:
a. Surat Tanda Uji Kendaraan (STUK) beserta fotocopynya;
b. Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) beserta fotocopynya;
c. Bagi kendaraan penumpang/Bis Umum harus melengkapi ash kartu pengawasan;
d. Biaya Retribusi sesuai tarif
e. Kendaraan beserta pengemudinya datang ke lokasi pengujian.
2. Mekanis Pengujian
Mekanis pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor dapat dilihat sebagaimana pada alur berikut:
Tata cara pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor (PKB) Loket I
a. Pemegang/pemilik kendaraan bermotor melapor pada loket I untuk mendapatkan formulir permohonan uji bagi kendaraan wajib uji dengan melengkapi surat-surat kendaraan bagi wajib uji antara lain:
1) Surat Tanda Uji Kendaraan (STUK) beserta fotocopynya;
2) Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) beserta fotocopynya;
3) Bagi kendaraan penumpang/bis umum harus melengkapi asli Kartu Pengawasan;
4) Kendaraan bermotor yang akan diuji harus hadir di lokasi/lapangan Gedung Pengujian Kendaraan Bermotor Dinas Perhubungan.
b. Loket 0
Petugas administrasi pengujian kendaraan bermotor menerima nasi! pengisian formulir permohonan uji dari loket I dan petugas tersebut memeriksa/meneliti pengisian formulir beserta kelengkapan surat-surat kendaraan dan setelah lengkap dan benar didaftarkan tanggal penetapan uji selanjutnya berkas tersebut diserahkan ke loket III
c. Loket HI
Berkas loket II tersebut diserahkan kepada Bendaharawan Khusus Penerima dan Bendaharawan Penerima memanggil pemegang/pemilik kendaraan untuk melunasi/membayar antara lain:
1) Biaya Retribusi Uji;
2) Biaya Plat Uji;
3) Biaya Permohonan Uji;
4) Biaya Buku Uji bila ada penggantian buku yang rusak, habis ruang masa uji dan uji pertama kali;
5) Biaya Leges.
d. Loket TV
Setelah berkas tersebut diterima oleh penguji, penguji mengadakan pemeriksaan teknis kendaraan yang diuji dimaksud dan setelah dinyatakan lulus uji Petugas Administrasi menyelesaikan proses pengisian Kartu Induk maupun buku uji dan penandatanganan Buku Uji dimaksud oleh Penguji, serta pemasangan Plat Uji (tanda lulus uji). Bila kendaraan tidak lulus uji,
penguji memerintahkan pemegang/pemilik kendaraan tersebut untuk memperbaiki bagian-bagian yang rusak sesuai petunjuk yang telah disyahkan oleh penguji dan penguji sekalian menetapkan tanggal kendaraan tersebut untuk diuji kembali setelah kendaraan tersebut diperbaiki.
3. Tanggapan Informan terhadap Pengujian Kendaraan Bermotor yang diselenggarakan oleh Dinas Perhubungan.
Untuk mengetahui penilaian dari informan terhadap implementasi kebijakan pengujian kendaraan bermotor di Dinas Perhubungan Kota Makassar, peneliti telah melakukan wawancara mendalam yang terdiri dari tiga aspek, yaitu pertama organisasi yang terdiri dari struktur organisasi, keahllan pelaksana dan perlengkapan alat pengujian, kedua interpretasi adalah pelaksanaan yang sesuai dengan ketentuan peraturan, petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis, dan yang ketiga pelaksanaan yang berjalan sesuai dengan prosedur kerja, program kerja dan jadwal kegiatan yang berdasarkan dengan teori Charles 0?Jones.
Berdasarkan informasi dari beberapa informan, diperoleh keterangan bahwa Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor tahun 2005 yang telah di setujui oleh dewan empat tahun yang lalu bam dapat dtoperasikan tahun 2008 sampai dengan saat ini dengan keterbatasan sarana, alat dan sumber daya manusianya. Untuk memperoleh gambaran yang lebih rinei menurut teori Charles O? Jones aktivitas utama yang paling penting dalam implementasi kebijakan adalah organisasi, interpretasi dan pelaksanan, berikut ini pembahasannya:
1. Prosedur Kerja a. Pendaftaran
Prosedur untuk dilakukan pengujian terhadap kendaraan maka langkah pertama yaitu memasukan permohonan tertulis atau mendaftarakan kendaraan dan setelahnya wajib memenuhi persyaratan uji. Persyaratan untuk mendaftarkan kendaraan guna dilakukan pengujian maka sopir atau pihak PO wajib melengkapi berkas atau ketentuan yang berlaku. Adapun persyaratanya dijelaskan berikut:
1) Pemilik kendaraan atau kuasanya mengajukan permohonan pendaftaran uji di Loket-I, dengan membawa persyaratan buku uji dan STNK. Bila memenuhi syarat akan dapat tanda bukti daftar uji dan surat perintah bayar retribusi.
2) Pemilik/kuasanya membayar retribusi uji di Loket-II, dan memperoleh tanda bukti bayar retribusi uji (cash register).
3) Pemilik/kuasanya mengajukan penetapan pelayanan teknis pengujian di Loket-III, yang meliputi penetapan waktu, tempat, dan uji teknis.
4) Pemilik/kuasanya/pengemudi membawa kendaraan ke lokasi pengujian dan menunjukkan identitas pemilik/surat kuasa dan tanda bukti penetapan uji, kemudian memperoleh Surat Perintah Uji (SPU) dari Loket-TTI sebagai pengantar untuk melaksanakan uji teknis kendaraan.
Adapun bagan Bagan tentang sistem dan prosedur pengujian disajikan di bawah ini:
Gambar 10. Bagan Prosedur Pengujian Kendaraan Bermotor Sumber : Dinas Perhubungan Kota Makassar
Urutan kegiatan Pengujian Berkala Pertama adalah sebagai berikut
1) Pemilik atau yang dikuasakan mendaftarkan kendaraannya dengan menyerahkan syarat-syarat administrasi
2) Penetapan jumlah Retribusi Pengujian Berkala Pertama dan nomor urut pendaftaran
3) Pemohon membayar biaya retribusi Pengujian Berkala Pertama dan menerima bukti pembayaran serta Formulir Berita Acara Pengujian Berkala Pertama 4) Pemohon membawa kendaraannya untuk diperiksa dan diuji di gedung
Pengujian, serta menyerahkan Formulir Berita Acara Pengujian Berkala beserta syarat-syarat
Adapun tugas-tugas pelaksana Pengujian Kendaraan Bermotor di Dinas Perhubungan Kota Makassar dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang beriaku maka setiap petugas dituntut memiliki kemampuan yang memadai sesuai dengan bidangnya, Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Hadira (tanggal 3
Oktober 2013) menyatakan bahwa:
"...Dinas Perhubimgan terbentuk berdasarkan Ketentuan PP 41 tahun 2003 tentang Organisasi Perangkat Daerah terbentukkh Qamrn Rota Makassar Nomor 3 tahun 2003 mengenai aturan prosedur kerja sebelum uji kelayakan kendaraan dilakukan maka prosedur teknis haruslah dipenuhi terlebih dahulu yaitu mendaftarkan kendaraan untuk dilakukan uji kelayakan yang selanjutnya akan dilakukan uji emisi dan uji system kendali jika yang bersangkutan sudah memenuhi persyaratan diawal."
Selanjutnya wawancara dengan Bapak Ibrahim pada tanggal 3 Oktober 2013 sebagai berikut:
"...pendaftaran memang tidak termasukdalam PP 41 tahun 2003 namun merupakan persyaratan teknis dimana dengan adanya pendaftaran maka dapat diketahui secara pasti pemilik kendaraan dan bagaimana kondisi kendaraan dengan begitu kami pihak pelaksana pengujia kelayakan dapat menyampaikan apa-apa saja yang perlu dibenahi dan diperbaiki"
Dari wawancara dengan Ibu Hadira dan Pak Ibrahim dapat diketahui bahwa setelah masalah administrast terkadang tidak begitu diperhatikan oleh pemilik kendaraan, apalagi bagi PO besar. Didukung dengan pendapat dari Pak Majid sebagai petugas administrasi pada tanggal 3 Oktober 2013 yaitu:
"...Kalau masalah pendaftaran saja sulit dilakukan maka pengujian juga pun akan suit dilaksanakan, jangan heran jika banyak terjadi kecelakaan karena kondisi kendaraan yang kurang bagus tetapi karena tidak mau repot ya pakai saja tak perlu diperiksa, padahal aturan sebenarnya PO yang tidak lulus pengujian akan dikenakan sansksi"
Ilampir sejalan dengan pendapat Ibu Hadira, Pak Majid sebagai petugas administrasi menyatakan salah satu guna dari diadakannya loket pendaftaran sebelum dilakukan pengujian pada kendaraan yaitu selain untuk informasi identitas kendaraan juga untuk membudayakan kebiasaan antri pada pemilik-pemilik kendaraan, apalgi untuk PO besar akan lebih indah diliat jika keseluruhan prosedur di ikuti sehingga sistem kerja juga akan terlaksana secara tertib.
b, Pengujian Kendaraan
Pengujian kendaraan bermotor adalah serangkaian kegiatan pemeriksaan persyaratan teknis dan pengujian ambang batas !aik jalan, yang digunakan untuk penetapan dan pengesahan keiaikan jalan kendaraan bermotor. Pengujian berkala kendaraan bermotor dilaksanakan berdasarkan sistem dan prosedur yang ditetapkan oleh ketentuan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2003 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Maksud dari diselenggarakannya pengujian kendaraan bermotor adalah untuk menjamin agar setiap kendaraan yang akan digunakan dijalan, selalu dan tetap memenuhi persyaratan teknis dan ketentuan ambang batas laik jalan. Dalam penjaminan ini, pemilik kendaraan wajib menjaga kondisi teknis kendaraannya selama masa uji masih berlaku, dan untuk itu dapat dilakukan uji petik laik jalan untuk mengetahui keiaikan jalan. Sedangkan tujuan dari pengujian kendaraan bermotor adalah untuk menjamin keselamatan pengemudi dan pemakai jalan, turut menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan pelayanan umum.
Jenis-jenis kendaraan yang wajib melakukan pengujian kedaraan diantaranya yaitu:
1) Mobil Penumpang; Setiap kendaraan bermotor yang diiengkapi sebanyak banyaknya 8 tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi.
2) Mobil Bus: Setiap kendaraan bermotor diiengkapi lebih dari 8 tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi.
3) Mobil Barang: Setiap kendaraan bermotor selain dari yang termasuk dalam sepeda motor, mobil penumpang dan mobil bus.
4) Kendaraan Khusus adalah kendaraan bermotor selain daripada kendaraan bermotor untuk penumpang dan kendaraan bermotor untuk barang yang penggunaannya untuk keperluan khusus atau mengangkut barang-barang khusus.
Pelaksana penguji kendaraan bermotor adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan pengujian kendaraan bermotor. Profesi pekerjaan seorang penguji telah ditetapkan menjadi jabatan fungsional penguji kendaraan bermotor berdasarkan ketentuan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.
150/KEP/M.P AN/11/2003 tentang Jabatan Fungsional Penguji Kendaraan Bermotor dan Angka Kreditnya, serta Keputusan Bersama Menteri Perhubungan dan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. KM.48 Tahun 2004 dan No. 20 Tahun 2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penguji Kendaraan Bermotor dan Angka Kreditnya. Tugas-tugas pokok tersebut telah ditentukan oleh Kepala Pengujian Kendaraan dimaksud, hal ini dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih dalam
pelaksanaan pengujian. Kenyataan tersebut didukung oleh hasil wawancara yang penulis lakukan pada Bapak Chaidir pada tanggal 5 Oktober, bahwa:
"...Pegawai negeri di bidang pengujian ada dua orang dan yang satu orang tersebut memiliki sertifikat pengujian serta dibantu oleh 10 orang pegawai harian lepas/honorer, tetapi mereka dapat melaksanakan tugasnya masing-masing dengan pengawasan dua pegawai tersebut sehingga tidak terjadinya tumpang tindih pelaksanaan pengujian tersebut"
Dari hasil wawaneara dapat disimpulkan bahwa prosedur kerja telah dilaksanakan sebagaimana mestinya dimana masing-masing personil sudah paham tupoksi dan melaksanakan tupoksi dimaksud, meskipun dengan jumlah tenaga penguji masih sangat terbatas. Berdasarkan pengamatan penulis jumlah tenaga pengujian yang profesional dan memiliki keahlian di bidang pengujian kendaraan bermotor masih sangat kurang. Menurut penulis jika jumlah sumber daya manusia dibidang pengujian kendaraan bermotor dimaksud dapat ditambah untuk kelancaran pelaksanaan tugas lapangan akan bisa lebih maksimal.
c. Pengujian Emisi Kendaraan
Pelaksanaan pengujian kendaraan bermotor di Dinas Perhubungan Kota Makassar telah sesuai dengan PP Dinas Perhubungan Kota Makassar No. 2 tahun 2005 yang mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 2012 tentang pengujian emisi kendaraan dan berdasarkan pelaksanaan uji emisi terhadap beberapa kendaraan yang beroperasi dilingkungan masyarakat tak terkecuali truk besar ditemukan beberapa fakta yang cukup mengejutkan yakni dari 10 kendaraan yang dilakukan uji emisi terdapat 40 persen yang tidak lulus kelayakan kendaraan, Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibu Hayati dalam wawancara pada tanggal 5 Oktober 2013, bahwa:
". .pengujian emisi kendaraan yang dilakukan dilapangan diperleh bahwa masih banyak kendaraan yang tidak lulus dalam pengujian kelayakan kendaraan namun masih tetap beroprasi dilapangan"