AKUNTABILITAS KINERJA
B. Analisis Capaian Kinerja
6. Sasaran Strategis Terwujudnya kerja sama internasional dan antar lembaga yang implementatif
Nilai capaian untuk sasaran strategi “Terwujudnya kerja sama internasional dan antar lembaga yang implementatif” adalah 120% (nilai maksimum). Nilai ini didukung oleh 1 (satu) Indikator Kinerja, yaitu jumlah perjanjian yang telah diimplementasikan. Pencapaian Indikator Kinerja tersebut, sebagai berikut:
a. Indikator Kinerja 15 (lima belas): Jumlah perjanjian kerja sama yang telah diimplementasikan
Tahun 2014, KKP telah berhasil mengimplementasikan kerja sama yang telah disepakati. Implementasi kerja sama dilaksanakan terhadap perjanjian kerja sama (PK) internasional maupun antar lembaga. Kerja sama internasional yang dilakukan di lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan mencakup kerja sama bilateral, regional, multilateral, dan kerja sama teknik Implementasi PK dalam bentuk pengembangan kapasitas SDM, pembangunan infrastruktur, penelitian dan pengembangan, pertukaran tenaga ahli, dan pertukaran informasi.
Implementasi kerja sama antar lembaga merupakan tindak lanjut dari PK antar lembaga yang telah disepakati. Implementasi kerja sama tersebut dapat berupa pembangunan infrastruktur, pengembangan perikanan budidaya, pengembangan kapasitas SDM untuk nelayan, pengembangan konservasi perairan laut, pengawasan sumberdaya perikanan, serta penyaluran kredit usaha rakyat.
Berikut rincian Jumlah Perjanjian yang telah diimplementasikan:
Tabel 3.11
Jumlah Perjanjian Kerja sama (PK) yang telah diimplementasikan
Bilateral Multilateral Antar Lembaga
Nama Negara Jml
Belanda 1 WCPFC 1 Pemerintah Kabupaten
Seram Bagian Barat 1 diimplementasikan pada tahun 2014 sebanyak 46 PK. Pencapaian ini >120%
lebih tinggi dari target 25 PK.
Nilai ini lebih tinggi jika dibandingkan capaian tahun 2013, yaitu 46 PK dengan target 24 PK. Peningkatan tersebut disebabkan karena semakin baiknya koordinasi dan komunikasi yang dilakukan oleh Sekretariat Jenderal terhadap mitra kerja sama dan juga banyaknya permintaan dan usulan kerja sama yang datang dari mitra. Kerja sama yang diimplementasikan adalah sebagai berikut:
1) Kerja sama Bilateral
Dalam rangka kerja sama bilateral, telah dilaksanakan kerja sama di bidang kelautan dan perikanan antara lain dengan Amerika Serikat, Belanda, Prancis, Aljazair, Australia, Republik Rakyat Tiongkok, Fiji dan Timor Leste.
Salah satu kerja sama bilateral yang dilaksanakan pada tahun 2014 adalah kerja sama KKP dengan Fiji. Pada tanggal 18 Juni 2014 telah dilakukan penandatanganan Memorandum Saling Pengertian (MSP) tentang kerja sama Kelautan dan Perikanan antara Menteri Kelautan dan Perikanan RI dengan Menteri Pertanian, Perikanan dan Hutan, Republik Fiji yang diwakili oleh Menteri Pertahanan, Keamanan Nasional dan Imigrasi.
Penandatanganan berlangsung di Westin Hotel Fiji, dan disaksikan langsung oleh Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Fiji Josaia Voreqe Bainimarama. Implementasi kerja sama kedua negara adalah untuk mengembangkan, mendorong, mempromosikan kerja sama dan saling konsultasi pada berbagai bidang kelautan dan perikanan. Diantaranya, perikanan tangkap berkelanjutan, pengembangan perikanan budidaya berkelanjutan, pengolahan dan pengembangan hasil perikanan, inspeksi dan karantina ikan, penelitian, pengembangan dan peningkatan kapasitas, layanan armada dan teknis perikanan. Kerja sama tersebut juga mencakup melakukan penguatan masyarakat pesisir dan pengelolaan pesisir terpadu, serta mencegah, menghalangi dan menghapuskan praktek IUU Fishing.
Gambar 3.3
Republik Indonesia dan Republik Fiji Perkuat Kerja Sama Bidang Kelautan dan Perikanan
Termasuk dalam kegiatan kerja sama bilateral adalah kerja sama Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). Pada tanggal 28 Agustus 2014 telah dilaksanakan Pertemuan Ke-empat Tingkat Menteri Kelautan APEC, di Xiamen, RRT yang juga dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI.
Pada pertemuan tersebut dihasilkan Deklarasi Xiamen yang menyepakati Ekonomi Biru atau Blue Economy sebagai fokus utama kerja sama kemitraan APEC. Fokus Ekonomi Biru itu dibagi pada tiga aspek, yaitu yang pertama adalah konservasi ekosistem laut dan pesisir serta ketahanan terhadap bencana alam, kedua adalah peran laut terhadap keamanan pangan dan perdagangan yang berhubungan dengan pangan, serta ketiga adalah terkait ilmu kelautan, teknologi dan inovasi. Deklarasi Xiamen juga menyepakati Balai Riset dan Observasi Kelautan di Perancak, Bali, sebagai rumah Pusat Informasi Kelautan dan Perikanan APEC atau APEC Ocean and Fisheries Information Center (AOFIC), yang diharapkan dapat memantau perkembangan ekonomi negara anggota APEC dalam bidang kelautan dan perikanan, khususnya dalam menindaklanjuti hasil forum APEC.
Gambar 3.4
Pertemuan Ke-empat Tingkat Menteri Kelautan APEC, di Xiamen, RRT
2) Kerja sama Multilateral
Dalam rangka kerja sama multilateral, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berperan aktif dalam perundingan di forum internasional dalam bidang yang terkait dengan kelautan dan perikanan. Beberapa perundingan yang diikuti utamanya di FAO-Committee on Fisheries, Perundingan di kelembagaan PBB yaitu UNFCCC, dan organisasi kerja sama perikanan regional dalam jaringan RFMOs (CCSBT, IOTC dan WCPFC). Kerja Sama ASEAN utamanya dalam pembahasan perwujudan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 di bidang kerja sama perikanan yang meliputi antara lain ASEAN-SEAFDEC dan ASWGFi.
Pada kerja sama dengan FAO, telah dilaksanakan sidang FAO-Committee on Fisheries (COFI) sesi ke-31 pada tanggal 9 Juni 2014 bertempat di Plenary Room, Kantor Pusat FAO oleh Chair Person COFI ke-31 Mr Johán H. Williams (Norway) dan dilanjutkan sambutan oleh Director-General of FAO Mr. Jose Graciano Da Silva. Pada Agenda 5.
Securing sustainable small-scale fisheries, sidang COFi sesi ke-31 ini berhasil menyepakati draft terakhir Voluntary Guidelines for Securing Sustainable Small-scale Fisheries in the Context of Food Security and Poverty Eradication dan akan ditetapkan menjadi Guidelines bersama bagi negara anggota FAO. Ini merupakan terobosan besar dalam sejarah perikanan dunia dan FAO sendiri, dimana setelah lebih dari 60 tahun sejak adanya sidang FAO COFi, guidelines untuk proteksi nelayan skala kecil disepakati oleh negara anggota FAO yang terdiri dari 143 negara. Indonesia yang menjadi salah satu negara yang cukup aktif dalam 2 pertemuan pembahasan teknis sebelumnya, telah berhasil memasukkan beberapa artikel sesusai dengan posisi nelayan skala kecil Indonesia.
Pada kerja sama ASEAN-AFCF, telah dilaksanakan pertemuan AFCF ke-6 dan pertemuan ASWGFi ke-22 telah dilaksanakan di Kuala Lumpur Malaysia pada tanggal 23-27 Juni 2014. Pertemuan ini antara lain membahas Harmonisasion of Import and Export Inspection and Certification and Development of Mutual Recognation Agreements (MRAs) among ASEAN. Pertemuan ini juga menyampaikan bahwa Guidelines for the Use of Chemical in Aquaculture and Measures to Eliminate the Use of Harmful
Chemicals telah disahkan pada SSOM AMAF ke-34 dan AMAF ke-35.
Publikasi Guidelines tersebut akan disampaikan kepada seluruh AMS oleh Sekretariat ASEAN dalam waktu dekat.
Gambar 3.5
ASEAN Fisheries Consultative Forum ke-6 dan ASEAN Sectoral Working Group on Fisheries ke-22
3) Kerja sama antar lembaga
Dalam rangka kerja sama antarlembaga, PUSKITA telah memfasilitasi pelaksanaan Kesepakatan Bersama antara Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan NGO/LSM, Perguruan Tinggi, Kementerian, Lembaga Perbankan, Lembaga Pemerintah Non-Kementerian, Pemerintah Daerah dan Dunia Usaha/Organisasi Kemasyarakatan.
Salah satu Kesepakatan Bersama yang dilaksanakan pada tahun 2014 adalah kerja sama antara KKP dengan TNI AL pada tanggal 1 Desember 2014. Nota kesepahaman tersebut bertujuan untuk mengelola kembali hasil kelautan Indonesia, terutama di bidang perikanan, melalui penegakan dan pengawalan kebijakan moratorium kapal asing, eks asing serta pelarangan transhipment dan menyelaraskan peraturan laut Indonesia dengan peraturan internasional mengenai penegakan hukum di wilayah laut Indonesia.
Penandatangan kerja sama itu dilakukan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Marsetio di Mabesal Cilangkap, Jakarta Timur. Ada tiga poin yang
hukum terhadap kapal asing yang memasuki wilayah perairan Indonesia.
MoU ini sangat penting dilakukan untuk mencapai visi misi kemaritiman Presiden Joko Widodo. Perjanjian ini menjadi pilar utama untuk kemakmuran dan kesejahteraan di dalam bidang kelautan.
Gambar 3.6
Memorandum of Understanding(MoU) yang ditandatangani Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Marsetio di Mabes TNI AL,
Cilangkap
7. Sasaran Strategis Terselenggaranya penempatan SDM KKP berbasis