• Tidak ada hasil yang ditemukan

SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING PERTEMUAN VIII

A. Topik Permasalahan : Kesiapan Belajar B. Bidang Bimbingan : Pribadi

C. Jenis Layanan : Bimbingan kelompok

D. Fungsi Layanan : Pemahaman dan pengembangan E. Tujuan Layanan :

13. Siswa mampu meningkatkan kesiapan belajar.

14. Siswa mampu menerapkan dan mengembangkan cara – cara meningkatkan kesiapan belajar.

F. Sasaran Kegiatan : Siswa kelas XI IPS 3 SMA Kristen Purwodadi. G. Uraian Kegiatan :

Kegiatan Guru Waktu a. Tahap Pembentukan

i. Salam dan ucapan terima kasih ii. Permainan/ selingan

b. Tahap Peralihan

i. Menjelaskan kembali kegiatan kelompok ii. Menanyakan kesiapan anggota

c. Kegiatan Inti

i. Mengutarakan topik yang akan dibahas oleh kelompok ii. Pembahasan tentang topik permasalahan

iii. kesimpulan d. Tahap Pengakhiran

i. Mengakhiri bimbingan kelompok ii. Laiseg

iii. Tindak Lanjut Kegiatan

iv. Salam penutup dan ucapan terima kasih

10’ 30’ 5’ H. Sumber : http://elearning.unesa.ac.id/myblog/alim- sumarno/pengertian-hasil-belajar.http://episentrum.com/artikelpsikologi/mo tivasi-belajar/

J. Pertemuan : Pertemuan VIII K. Tempat Pelaksanaan : Kelas

L. Waktu/ Tanggal : 45 menit / 7 Desember 2011 M. Penyelenggara Layanan : peneliti

N. Pihak yang Disertakan : -

O. Alat dan Perlengkapan : alat tulis, kertas, bangku. P. Rencana Penilaian :

- Laiseg : Menilai kesungguhan siswa saat mengikuti layanan. - Menilai laporan hasil diskusi siswa.

Q. Tindak lanjut : Jika terdapat siswa yang memiliki masalah dalam materi layanan maka akan dilakukan layanan konseling perorangan/konseling kelompok.

Mengetahui, Purwodadi, 7 Desember 2011 Pembimbing, Pemberi layanan,

Materi 8

KESIAPAN BELAJAR

Kesiapan belajar adalah keadaan seseorang yang sudah siap akan menerima pelajaran, sehingga individu dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. Jerome S. Bruner adalah seorang ahli Psikologi Kognitif, yang memberi dorongan agar pendidikan memberi perhatian pada pentingnya pengembangan berpikir. Bruner tidak mengembangkan teori belajar yang sistimatis, dasar pemikiran teoritis memandang bahwa manusia adalah sebagai pemrosesan, pemikir dan pencipta informasi. Oleh itu yang terpenting dalam belajar menurut Bruner (1961:23)adalah cara-cara bagaimana seseorang memilih, mempertahankan dan mentransformasikan informasi yang diterimanya secara aktif. Sehubungan dengan itu Bruner sangat memperhatikan masalah apa yang dilakukan manusia dengan informasi yang diterima itu untuk mencapai pemahaman dan membentuk kemampuan berpikir siswa. Selanjutnya menurut Bruner (1962:98) agar proses belajar berjalan lancar ada tiga faktor yang sangat ditekankan dan harus menjadi perhatian guru-guru di dalam menyelenggarakan pembelajaran yaitu:

1. Pentingnya memahami struktur mata kuliah.

2. Pentingnya belajar aktif agar seseorang bisa menemukan sendiri konsep-konsep sebagai dasar untuk memahami dengan benar.

` Berdasarkan pandangan Bruner ini, maka ada empat aspek utama yang harus menjadi perhatian dalam pembelajaran yaitu sebagai berikut:

1. Struktur Mata Pelajaran. Struktur mata pelajaran mengandung ide-ide,

konsep-konsep dasar, hubungan antara konsep atau contoh-contoh dari konsep tersebut yang dianggap penting. Menurut Brunerpembelajaran akan lebih bermakna, kepadadan mudah diingat oleh siswa bila difokuskan pada memahami struktur mata pelajaran yang akan dipelajari, sebab si belajar 2. dapat menghubungkan antara subyek yang satu dengan pokok bahasan yang

lain, baik dalam mata pelajaran yang sama atau dalam mata pelajaran yang berbeda.

3. Kesiapan Untuk Belajar. Dalam belajar guru harus memperhatikan kesiapan

si belajar untuk mempelajari materi baru atau yang bersifat lanjutan. Kesiapan belajar dapat terdiri atas penguasaan keterampilan-keterampilan yang lebih mudah yang telah dikuasai sebelumnya dan yang memungkinkan seseorang untuk memahami dan mencapai keterampilan yang lebih tinggi. Kesiapan untuk belajar ini dipengaruhi oleh kematangan psikologis dan pengalaman si belajar. Untuk mengetahui apakah si belajar telah memiliki kesiapan untuk belajar perlu diberikan tes tentang materi awal yang terkait dengan topik yang akan diajarkan. Kapan si belajar dapat mengerjakan tes dengan baik, berarti ia telah siap. Kapan tidak mampu mengerjakan sekalipun ia telah bekerja keras, ia dinyatakan belum sia

4. Intuisi. Menurut Bruneryang dimaksud dengan intuisi adalah teknik-teknik intelektual analitis untuk mengetahui apakah formulasi-formulasi itu merupakan kesimpulan yang sahih atau tidak.

5. Motivasi. Menurut Bruner motivasi adalah kondisi khusus yang dapat

mempengaruhi individu untuk belajar. Motivasi merupakan variabel penting, oleh karenanya Bruner percaya bahwa hampir semua anak-anak memiliki waktu-waktu pertumbuhan akan "keinginan untuk belajar", imbalan (reward) dan hukuman (punishment) mungkin penting untuk meningkatkan perbuatan tertentu atau untuk membuat mereka yakin sampai mau mengulangi apa yang

sudah dipelajari. Bruner menekankan pentingnya motivasi instrinsik dibandingkan motivasi ekstrinsik.

Dari uraian di atas nampak bahwa belajar merupakan jaringan aktivitas yang kompleks, tetapi dilakukan dengan sadar oleh seseorang yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku. Kasiyati (2000:93) mengemukakan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut:

1. Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi hubungan saling mempengaruhi secara dinamis antara Siswa dan lingkungannya.

2. Belajar senantiasa harus bertujuan, terarah, dan jelas untuk Siswa.Tujuan akan menentukan dalam belajar untuk mencapai harapan-harapannya.

3. Belajar yang paling efektif saat didasari oleh dorongan motivasi yang murni dan bersumber di dalam dirinya sendiri.

4. Selalu ada rintangan dan hambatan dalam belajar, karena itu Siswa harus sanggup mengatasinya secara tepat.

5. Belajar membutuhkan bimbingan, bimbingan itu baik dari dosen atau klaim dari buku pelajaran sendiri.

6. Jenis belajar yang paling utama adalah belajar untuk berpikir kritis, lebih baik dari pembentukkan kebiasaan mekanis.

7. Cara belajar yang paling efektif adalah dalam bentuk solusi masalah melalui kerja kelompok selama masalah-masalah tersebut telah disadari bersama. 8. Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari sehingga

9. Belajar membutuhkan latihan dan ulangan agar apa-apa yang telah dipelajari dapat dikuasai.

10. Belajar harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan atau hasil.

11. Belajar dianggap berhasil apabila sipelajar telah sanggup mentransferkan atau menerapkannya ke dalam bidang praktek sehari-hari.

Motivasi untuk belajar melibatkan lebih dari keinginan atau kehendak untuk belajar, namun juga mencakup kualitas mental atas usaha siswa (Woolfolk, 1993). Oleh karena itu motivasi dalam belajar dapat dikatakan efektif apabila dapat memberikan penempaan mental pada belajar, karena kalau tidak ada motivasi malah akan menjadi kekuatan yang merusak dan bukan kekuatan yang membimbing (Mustaqim dan Wahib, 1991).

Jenis-jenis motivasi belajar

Menurut Winkel (1996) ada dua jenis motivasi yang dapat dikaitkan dengan kegiatan belajar, yaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik.

a. Motivasi Ekstrinsik

Adalah dorongan untuk melakukan sesuatu dengan tujuan memperoleh sesuatu yang lain (sebagai alat mencapai tujuan akhir). Motivasi ekstrinsik biasanya sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti hadiah dan hukuman.

Contoh: seorang siswa belajar dengan keras untuk ujian agar dapat memperoleh nilai bagus di sekolah. Sejalan dengan pendapat Winkel (1996) yang menggolongkan motivasi belajar yang bersifat ekstrinsik, seperti: belajar demi memenuhi kewajiban, belajar demi menghindari hukuman yang diancamkan, belajar demi memperoleh hadiah material yang dijanjikan, belajar demi meningkatkan gengsi sosial, belajar demi memperoleh pujian dari orang penting, belajar demi tuntutan jabatan yang ingin dipegang atau demi memenuhi persyaratan kenaikan jenjang atau golongan administratif. Menurut Winkel (1996) dalam motivasi yang bersifat ekstrinsik, aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan kebutuhan dan dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar itu sendiri. Selanjutnya Winkel (1996) juga menyatakan bahwa motivasi belajar ekstrinsik bukanlah bentuk motivasi yang secara langsung dapat diidentikkan berasal dari luar siswa. Oleh karena motivasi belajar selalu berpangkal pada suatu kebutuhan yang dihayati oleh orangnya sendiri, biarpun orang lain mungkin memegang peranan dalam menimbulkan motivasi itu. Kekhasan motivasi belajar ekstrinik bukanlah ada atau tidak adanya pengaruh dari luar, melainkan apakah kebutuhan yang ingin dipenuhi pada dasarnya hanya dapat dipenuhi melalui belajar atau sebetulnya juga dapat dipenuhi dengan cara lain.

b. Motivasi Instrinsik

Adalah keterlibatan motivasi internal dari individu untuk melakukan sesuatu berdasarkan keinginannya sendiri. Contoh: seorang siswa belajar keras untuk ujian karena dia menyukai pelajarannya. Hasil penelitian menyarankan perlu

dibangun iklim kelas yang baik untuk dapat memotivasi siswa secara instrinsik. Siswa lebih termotivasi untuk belajar ketika mereka diberikan pilihan dan menerima hadiah yang mengandung nilai informasional, tetapi fungsi hadiah tersebut tidak untuk mengontrol perilaku. Contoh: pujian (Santrock, 2008). Dalam motivasi yang bersifat intrinsik, biasanya orang lain juga memegang

peranan, misalnya orang tua atau guru menyadarkan anak akan kaitan antara belajar dengan menjadi orang yang berpengetahuan.

Sardiman (2001), menjelaskan hal- hal yang dapat menimbulkan motivasi intrinsik adalah :

1) Pengetahuan tentang kemajuannya sendiri

Siswa yang mengetahui hasil prestasi sendiri menyadari apakah dirinya mengalami kemajuan atau kemunduran dalam belajarnya. Siswa yang mendapatkan nilai kurang bagus akan terdorong untuk lebih giat belajar lagi agar mendapat nilai yang lebih baik. Sebaliknya, siswa yang mendapat nilai baik akan terdorong untuk mempertahankan prestasi yang telah dicapai.

2) Cita-cita

Seseorang yang mempunyai cita-cita akan terdorong untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Cita-cita siswa diguankan sebagai pemacu dalam hal belajar. 3) Kebutuhan

Adanya kebutuhan tertentu mendorong siswa untuk berbuat dan berusaha dalam mencapai tujuan tertentu.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada dua jenis motivasi yang dapat dikaitkan dengan kegiatan belajar, yaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Kekhasan motivasi belajar ekstrinik bukanlah ada atau tidak adanya pengaruh dari luar, melainkan apakah kebutuhan yang ingin dipenuhi pada dasarnya hanya dapat dipenuhi melalui belajar atau sebetulnya juga dapat dipenuhi dengan cara lain. Sedangkan kekhasan motivasi belajar ekstrinsik ialah kenyataan bahwa satu-satunya cara untuk mencapai tujuan yang ditetapkan adalah belajar. Oleh karena itu kedua jenis motivasi belajar ini sering diaplikasikan oleh siswa dalam setiap kegiatan belajarnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar

Berbagai macam faktor yang mempengaruhi motivasi belajar menurut Kock (dalam Sardiman, 2001) adalah :

a. Faktor Keluarga

Pengaruh orang tua dapat berupa pemberian latihan dan contoh perbuatan belajar, keakraban orang tua dan anak serta kesesuaian antara harapan orang tua dengan kemampuan anak. Orang tua yang mempunyai pengaruh yang baik akan menimbulkan persepsi yang positif dan menumbuhkan semangat dan motivasi untuk belajar.

b. Faktor sekolah atau lingkungan sekolah

Suasana di sekolah juga penting dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa. Pembentukan motivasi belajar di sekolah ditentukan oleh guru, karyawan,

sekolah dan lingkungan sekolah. Penyediaan fasilitas yang diperlukan juga akan sangat membantu pembentukan motivasi belajar siswa, seperti perpustakaan dan laboratorium. Adanya persepsi yang positif terhadap lingkungan (fisik dan sosial) akan memudahkan siswa belajar dengan baik karena lingkungan dianggap dapat memberikan dukungan terhadap proses belajar.

c. Faktor masyarakat

Usaha membangkitkan motivasi belajar juga menjadi tugas pemerintah dan masyarakat. Misalnya dengan mengadakan taman bacaan/ perpusatakaan dengan koleksi referensi yang bermutu, penyelenggaraan pendidikan praktis di televisi dan sebagainya.

Karakteristik Motivasi Belajar

Anderson dan Faust (dalam Prayitno, 1999) menjabarkan tiga karakteristik adanya motivasi belajar dalam diri siswa, yaitu :

a. Minat dalam Belajar

Siswa yang memiliki motivasi belajar yang kuat akan menampakkan minat yang besar untuk belajar. Siswa akan tertarik dengan pelajaran-pelajaran yang diterimanya disekolah dan selalu berusaha mempelajarinya kembali. Menurut Sardiman (2001) siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi akan menunjukkan minat yang besar terhadap berbagai macam ilmu pengetahuan

serta senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal pelajaran yang dihadapinya.

b. Konsentrasi terhadap Pelajaran

Konsentrasi yang penuh terhadap pelajaran yangs edang berlangsung di dalam kelas akan membawa pengaruh yang positif dalam mencapai hasil belajar. Siswa yang mempunyai motivasi belajar tinggi akan senantiasa mengkonsentrasikan pikirannya pada pelajarannya di sekolah, konsentrasinya tidak terpecah pada hal-hal di luar sekolah.

c. Ketekunan dalam belajar

Ketekunan dalam belajar sangat berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar yang baik. Siswa yang memiliki ketekunan dalam belajar serta tidak mudah merasa putus asa ketika mendapat kegagalan dalam proses belajar. Menurut Prayitno (1999) salah satu karakteristik siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi adalah dimilikinya ketekunan dalam belajar. Sardiman (2001) juga menyatakan bahwa siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi menunjukkan adanya ketekunan dalam belajar serta tidak mudah putus asa dalam hal belajar.

LAPORAN PELAKSANAAN EVALUASI ANALISIS DAN TINDAK LANJUT SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

1. Topik Permasalahan : Kesiapan Belajar 2. Spesifikasi Kegiatan

2.1 Bidang Bimbingan : Pribadi ,belajar 2.2 Jenis Layanan : Bimbingan Kelompok

2.3 Fungsi Layanan : Pengembangan dan Pemahaman

2.4 Sasaran Layanan : Siswa Kelas XI IPS 3 SMA Kristen Purwodadi

3. Pelaksanaan Layanan

3.1. Waktu : Rabu, 7 Desember 2011

3.2 Tempat : Taman SMA Kristen Purwodadi 3.3 Deskripsi dan komentar tentang pelaksanaan

Pertemuan ini diawali dengan pembinaan rapport serta attending untuk mengkondisikan suasan kelompok siap mengikuti kegiatan ini. Sebelum memasuki kegiatan inti, penulis mengajak siswa melakukan permaina agar siswa lebih bersemangat. Penulis menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan kedelapan yaitu mendiskusikan materi mengenai cara – cara meningkatkan kesiapan belajar, siswa di minta menceritakan satu per satu tentang permasalahankesiapan dalam belajar. Kemudian setiap siswa diberikan kertas kosong dan di minta menuliskan apa yang penyebab masalah tersebut muncul dan diminta menyebutkan

cara – cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah kesiapan dalam belajar.

4. Evaluasi :

3. Cara penilaian :

d. Melakukan observasi saat kegiatan bimbingan kelompok berlangsung. e. Memberikan pertanyaan seputar topik yang telah dibahas pada anggota

kelompok.

f. Memberikan penilaian segera (laiseg). 4. Diskripsi dan komentar tentang hasil penilaian

Pada proses dikusi terliat 9 siswa masih antusias memberikan pendapat maupun saran kepada siswa lain. Teetapi sekitar 2 orang cenderung pasif dan banyak diam. Siswa tersebut akan memberikan pendapat apabila diminta oleh penulis. Tetapi secara keseluruhan, kegiatan berjalan lancar dan semua siswa mengutarakan masalahnya dengan cukup jelas sehingga teman lainnya menberikan saran dan pendapatnya.

10 siswa sudah memahami topik – topic yang disampaikan. Selain itu siswa memperoleh pemahaman bahwa dalam meningkatkan kosentrasi belajar ada banyak aspek yang harus di benahi juga. Siswa juga telah mendapatkan cara – cara dalam mengatasi kosentrasi belajar yang berhubungan dengan kesiapan dalam belajar. Siswa sangat senang telah mendapatkan suatu layanan yang berguna untuk mendukung prestasi akademiknya. Siswa menyarankan apabila sekolah sebaiknya mengadakan rutin kegiatan bimbingan seperti ini.

Mengetahui, Purwodadi, 7 Desember 2011 Pembimbing, Pemberi layanan,

Dokumen terkait