BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Radioterapi
2.2.3 Satuan Pengukuran Radioterapi
Dosis yang diserap adalah kuantitas dasar yang terkait dengan pengukuran radiasi dalam radioterapi . Ini mendefenisikan jumlah energi yang diserap dari sinar radiasi per satuan massa bahan penyerap. Diukur dalam satuan Gray (Gr) dan Rad (Beyzadeoglu et al., 2010).
Rad adalah jumlah radiasi yang menyebabkan satu erg (energi) diserap per satu gram bahan yang diiradiasi ( Rad
= Radiation Absorbed Dose).
1 Rad = 100 erg/g.
Gray (Gy) adalah jumlah radiasi yang menyebabkan satu joule diserap per kilogram bahan irradiasi.
1Gy = 1 J/kg
1Gy = 100 cGy = 100 Rad 2.2.4 Jenis-jenis Radioterapi
Berikut ini adalah jenis-jenis radioterapi (Beyzadeoglu et al., 2010):
1. Jenis Radioterapi Berdasarkan Tujuannya a. Radioterapi kuratif.
Ini adalah penerapan radioterapi untuk menyembuhkan. Digunakan dalam kasus Limfoma Hodgkin stadium awal, kanker nasofaring, beberapa kanker kulit, dan kanker glotis stadium awal.
b. Radioterapi paliatif.
Ini adalah penerapan radioterapi untuk pengurangan gejala kanker dengan menerapkan dosis radiasi paliatif.
Digunakan dalam kasus matastase otak, tulang dan sindrom vena cava superior.
c. Radioterapi profilaksis (preventif).
Ini adalah untuk pencegahan kemungkinan metastasis atau kambuh melalui penerapan radioterapi.
Contohnya adalah radioterapi seluruh otak untuk leukemia limfoblastik akut dan kanker paru-paru sel kecil.
d. Iradiasi total tubuh.
Ini adalah ablasi sumsum tulang oleh radiasi untuk menekan sistem kekebalan tubuh, memberantas sel-sel leukemia, dan membersihkan ruang untuk sel-sel transplantasi selama pengkondisian transplantasi sumsum tulang.
2. Jenis Radioterapi Berdasarkan Waktu a. Radioterapi adjuvan.
Radioterapi diberikan setelah segala jenis modalitas pengobatan.
Jika diberikan setelah operasi → radioterapi pascaoperasi.
b. Radioterapi neoadjuvant. Radioterapi diberikan sebelum segala jenis modalitas pengobatan.
Jika diberikan sebelum operasi → radioterapi praoperasi
c. Radiochemotherapy (kemoradioterapi).
Radioterapi diberikan bersamaan dengan kemoterapi.
3. Jenis Radioterapi Berdasarkan Tekniknya.
a. Radioterapi eksternal (teleterapi / radioterapi sinar eksternal).
Radioterapi diterapkan pada tubuh secara eksternal menggunakan mesin perawatan.
b. Brakhiterapi (endocurietherapy)
Radioterapi dilakukan dengan menempatkan sumber radiasi sementara atau permanen ke dalam rongga tubuh.
c. Radioterapi intraoperatif.
Radioterapi diberikan dalam kondisi intraoperatif, biasanya dengan sinar elektron atau sinar-X berenergi rendah. Ini dikirim ke tumor segera setelah reseksi tumor primer, dan setelahnya diperlukan radioterapi eksterna.
d. Stereotactic radiotherapy (SRT).
Radioterapi ini disampaikan oleh beberapa sinar yang secara tepat berfokus pada target lokal tiga dimensi.
Jika diberikan hanya dalam satu fraksi→
radiosurgery stereotactic (SRS)
Jika diberikan dalam beberapa fraksi → Stereotactic radiotherapy (SRT).
e. Three-dimensional conformal RT (3D-CRT).
Teknik radioterapi di mana volume dosis dibuat agar sesuai dengan target melalui penggunaan data anatomi tiga dimensi yang diperoleh dari modalitas CT-scan atau MRI.
Tujuannya adalah untuk menerapkan dosis maksimum ke target sambil menyisakan struktur sekitarnya sebanyak mungkin dengan bantuan perangkat lunak dan perangkat keras canggih komputer.
f. Intensitas-modulated radiotherapy (IMRT).
Bentuk 3D-CRT yang sangat berkembang. IMRT menyediakan distribusi dosis yang sangat konformal di sekitar target melalui penggunaan intensitas sinar yang tidak seragam.
g. Image-guided Radiotherapy (IGRT).
Integrasi berbagai teknik pencitraan radiologis dan fungsional untuk melakukan radioterapi dengan presisi tinggi. Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi pengaturan dan margin internal, dan untuk memperhitungkan perubahan volume target selama terapi radiasi, seperti penurunan volume tumor atau penurunan berat badan (radioterapi adaptif).
h. Tomoterapi.
Ada dua jenis tomoterapi: tomoterapi seri dan heliks. Tomoterapi seri menggunakan sistem kolimator khusus yang disebut MiMIC yang dipasang pada gantry linac klasik. Meja ini juga memiliki perangkat khusus yang disebut derek yang memungkinkannya dipindahkan dengan presisi tinggi. IMRT kemudian dilakukan di beberapa busur.
Tomoterapi heliks di sisi lain, menggunakan mesin tomoterapi khusus. Ini terdiri dari linac 6 MV yang dipasang pada CT, dan memberikan IMRT dengan gerakan spiral mirip dengan yang ada di prosedur CT. Simulasi dan IMRT dilakukan dalam mesin yang sama.
i. Cyberknife® (bedah radio robotik).
Suatu jenis teknik SRT / radiosurgery. Ini memberikan perawatan tanpa bingkai tumor di kedua lokasi tengkorak dan ekstrakranial, dan menggunakan linac 6 MV yang dipasang pada lengan robot, serta meja robot.
Cyberknife memiliki kemampuan untuk melakukan segala macam teknik radioterapi canggih, termasuk IMRT, IGRT, radioterapi sinkronisasi pernapasan, radioterapi pelacakan tumor, dan SRS.
j. Terapi penangkapan neutron boron.
Di sini, senyawa boron yang secara selektif diserap oleh sel-sel tumor otak diberikan kepada pasien. Jaringan tumor yang menyerap boron kemudian diiradiasi dengan neutron lambat. Atom boron bereaksi dengan neutron ini untuk menghasilkan radiasi alpha, yang merusak DNA melalui peristiwa ionisasi.
k. Hipertermia.
Ini mencegah perbaikan tumor dengan memanfaatkan efek sinergis dengan radiasi: Jaringan tumor menjadi lebih lambat daripada jaringan normal. Hipertermia lebih efektif dalam kondisi hipoksia dan asam. Suhu kritis untuk hipertermia adalah 43 ° C.
2.2.5 Efek Samping Radioterapi
Beberapa efek samping terapi radiasi yang telah dilaporkan antara lain (Fitriatuzzakiyyah et al., 2017):
1. Toksisitas kulit akut
Kejadian toksisitas pada kulit dilaporkan pada pasien yang menjalani terapi Stereotactic Body Radiation Therapy (SBRT), dalam penelitian Hoppe et al. tahun 2008, subjek yang mengalami toksisitas kulit tingkat 1, 2 dan 3 berturut-turut sebesar 38%, 8% dan 4%.
2. Komplikasi Sistem Saraf Pusat (SSP)
Meskipun perbaikan dalam pengobatan kanker terus menerus dilakukan, toksisitas SSP tetap menjadi isu penting. Artikel review oleh Soussain et al. merangkum beberapa jenis komplikasi sistem saraf pusat akibat radioterapi, di antaranya ensefalopati akut yang mempengaruhi hingga 50% pasien setelah pemberian dosis tinggi atau fraksi radiasi, dan sindrom mengantuk yang terutama terlihat pada pasien anak, tetapi juga dapat mempengaruhi pasien dewasa dalam 2 bulan pertama setelah radioterapi. Gejala yang menonjol adalah kantuk dan tidur berlebihan, mual, dan anoreksia; focal cerebral and spinal cord radionecrosis yang merupakan komplikasi akibat radiasi yang parah dan didefinisikan secara neuropatologis sebagai nekrosis dengan lesi vaskular berat (stenosis, trombosis, perdarahan, nekrosis vaskular fibrinoid). Komplikasi ini jarang terjadi selama 20 tahun terakhir dikarenakan adanya peningkatan keamanan protokol radiasi.
3. Xerostomia dan hiposalivasi
Xerostomia didefinisikan sebagai kekeringan pada mulut karena disfungsi sekresi kelenjar ludah yang dapat disebabkan oleh beberapa kondisi, misalnya autoimun disorder, yang menyebabkan ketidaknyamanan mulut, nyeri dan kesulitan dalam berbicara.
Penelitian Surjadi et al. pada pasien kanker kepala dan leher yang menjalani radioterapi, hasilnya yaitu 87,6% subjek menunjukkan penurunan laju salivasi. Dalam sebuah artikel review dikatakan bahwa penurunan (compromise) dalam fungsi salivasi dapat dilihat dalam waktu 1 hingga 2 minggu setelah radioterapi dan dapat bertahan setelahnya. Kecuali kerusakannya parah, fungsi saliva biasanya sembuh dalam waktu 2 tahun dari setelah radioterapi. Disfungsi kelenjar minimal bisa diamati pada dosis rata-rata 10 sampai 15 Gy dan dosis rata‑ rata >40 Gy pada kelenjar parotid menghasilkan suatu penurunan fungsi sebesar 75%. Xerostomia dapat memiliki efek negatif pada kualitas hidup pasien yang sangat mengganggu kemampuan berbicara, mengunyah, menelan, dan merasakan.
4. Efek samping pada jantung
Kelainan jantung akibat radiasi biasanya disebut dengan istilah radiation induced heart desease (RIHD) yang menunjukkan keadaan klinis dan kondisi patologis cedera pada jantung dan pembuluh besar yang dihasilkan dari terapi radiasi kanker. Kelainan pada jantung dapat terjadi karena radiasi, antara lain kelainan pada perikardium, kelainan pada miokardium, kelainan pada arteri koroner, kelainan pada aterosklerosis, dan kelainan pada katup jantung.
2.3 PENGETAHUAN
2.3.1 Pengertian Pengetahuan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2016) pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui atau kepandaian atau
segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran).
Pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya. Pengetahuan juga merupakan hasil mengingat suatu hal, termasuk mengingat kembali kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja maupun tidak disengaja dan ini terjadi setelah orang melakukan kontak atau pengamatan terhadap suatu objek tertentu (Mubarok, 2007).
2.3.2 Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu (Notoatmodjo, 2003):
1. Know (Tahu)
Mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya diartikan sebagai tahu. Termasuk mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
Oleh karena itu, tahu adalah tingkat pengetahuan terendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari, antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.
2. Comprehension (Memahami)
Suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar diartikan sebagai memahami. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang telah dipelajari. Misalnya dapat menjelaskan mengapa harus makan makanan yang bergizi.
3. Application (Aplikasi)
Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya) diartikan sebagai aplikasi. Dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah di dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.
4. Analysis (Analisis)
Kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain adalah analisis.
Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
5. Synthesis (Sintesis)
Kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru adalah sintesis.
Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
6. Evaluation (Evaluasi)
Kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek dikaitkan dengan evaluasi. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi.
2.3.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Mubarok (2007):
1. Pendidikan
Pendidikan adalah bimbingan yang diberikan seseorang pada orang lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahami. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah pula mereka menerima informasi, dan semakin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya juga sebaliknya.
2. Pekerjaan.
Lingkungan pekerjaan bisa membuat seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan secara langsung maupun tidak langsung.
3. Umur
Bertambahnya umur seseorang akan membuat perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental). Pertumbuhan pada fisik secara garis besar terbagi menjadi empat kategori perubahan ukuran, perubahan proporsi, hilangnya ciri-ciri lama, timbulnya ciri-ciri baru.
Hal ini terjadi karena pematangan fungsi organ. Pada aspek psikologis atau mental taraf berpikir semakin matang dan dewasa.
4. Minat
Suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu adalah minat. Minat membuat seseorang untuk mencoba dan menekuni suatu hal dan akhirnya diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam.
5. Pengalaman
Suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya adalah pengalaman. Seseorang akan cenderung melupakan pengalaman yang kurang baik, namun jika pengalaman tersebut menyenangkan maka secara psikologis akan timbul kesan yang sangat mendalam dan membekas dalam emosi kejiwaannya, dan akhirnya dapat membentuk sikap positif dalam kehidupannya.
6. Kebudayaan Lingkungan Sekitar
Pembentukan sikap kita sangat dipengaruhi oleh kebudayaan dimana kita dibesarkan. Apabila dalam suatu wilayah mempunyai budaya untuk menjaga kebersihan lingkungan maka masyarakat sekitarnya mempunyai sikap untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, karena lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap pribadi seseorang.
7. Informasi
Kemudahan mendapatkan suatu informasi dapat mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru.
2.3.4 Pengukuran Tingkat Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden ke dalam pengetahuan yang ingin diukur dan disesuaikan dengan tingkatannya (Arikunto, 2010).
Ada 2 jenis pertanyaan yang dapat digunakan:
a. Pertanyaan subjektif
Pertanyaan essay yang digunakan dengan penilaian yang melibatkan faktor subjektif dari penilai, sehingga hasil nilai akan berbeda dari setiap penilai dari waktu ke waktu.
b. Pertanyaan objektif
Jenis pertanyaan seperti pilihan ganda (multiple choice), betul salah dan pertanyaan menjodohkan dapat dinilai secara pasti oleh penilai. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden ke dalam pengetahuan yang ingin diukur dan disesuaikan dengan tingkatannya.
Ada tiga tingkatan pengetahuan menurut A. Wawan dan Dewi (2010):
1. Pengetahuan baik
Apabila responden mampu menjawab 76-100% dengan benar dari seluruh pertanyaan.
2. Pengetahuan cukup
Apabila responden mampu menjawab 56-75% dengan benar dari seluruh pertanyaan.
3. Pengetahuan kurang
Apabila responden menjawab <56% dari seluruh pertanyaan.
2.4 Kerangka Teori
Gambar 2.1 Kerangka Teori
Kanker
Pengertian
Etiologi
Faktor Resiko
Tanda dan Gejala Diagnosis
Tatalaksana
Radioterapi
Kemoterapi
Operasi
Tingkat Pengetahuan
Baik
Cukup
Kurang
Faktor yang Mempengaruhi:
Pendidikan
Pekerjaan
Umur
Minat
Pengalaman
Kebudayaan lingkungan sekitar
2.5 Kerangka Konsep
Gambar 2.1 Kerangka Konsep
Distribusi frekuensi dari :
Tingkat pengetahuan
Usia
Sumber informasi
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara terhadap radioterapi sebagai salah satu modalitas dalam pengobatan kanker. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik angket dengan menggunakan kuesioner.
3.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di lingkungan kampus Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Jalan Dr. Mansyur No.5 Medan.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan mulai dari pencarian dan penentuan judul pada bulan April kemudian dilanjutkan dengan pengolahan dan analisis data hingga pembuatan laporan hasil penelitian pada bulan November 2020.
3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2017, 2018, 2019 berjumlah 759 orang.
3.3.2 Sampel
Sampel penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2017, 2018, 2019 yang memenuhi kriteria inklusi penelitian.
3.3.3 Besar Sampel Penelitian
Pengambilan sampel dilakukan menggunakan stratified random sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan kelas (tingkat).
Besar sampel penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin:
( )
( )
Berdasarkan rumus besar sampel diatas, maka jumlah sampel minimum yang dibutuhkan untuk penelitian ini dibulatkan menjadi 88 orang.
Keterangan:
= besar sampel N = jumlah populasi
e = batas toleransi kesalahan (error tolerance)
Dari sampel minimum 88 orang maka untuk menentukan sampel tiap angkatan menggunakan rumus sebagai berikut : Ni
i
Keterangan :
ni : besar sampel yang diambil berdasarkan strata Ni : besar populasi yang diteliti berdasarkan strata N : besar populasi
n : besar sampel yang diambil
Dari jumlah sampel mininum sebanyak 88 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, maka sampel penelitian minimum untuk setiap angkatan adalah sebagai berikut :
Stambuk 2017
i
Stambuk 2018
i
Stambuk 2019
i
Jadi sampel minimal untuk stambuk 2017 sebanyak 30 orang, stambuk 2018 sebanyak 30 orang, stambuk 2019 sebanyak 29 orang.
3.4 KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI
Adapun kriteria inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini adalah:
1. Kriteria inklusi
Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Sumatera Utara stambuk 2017, 2018, 2019 dan bersedia menjadi subjek penelitian setelah mendapat penjelasan tentang penelitian yang akan dilakukan.
2. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2017, 2018, 2019 yang tidak mengisi kuesioner penelitian dengan lengkap.
3.5 METODE PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data menggunakan data primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari responden dengan alat
pengumpulan data kuesioner yang diisi sendiri oleh responden. Kuesioner yang dibagikan berupa pertanyaan yang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara terhadap radioterapi sebagai salah satu modalitas dalam pengobatan kanker.
Responden mengisi kuesioner setelah bersedia dan menandatangani lembar persetujuan atau informed consent. Kemudian kuesioner yang telah diisi oleh responden akan dikumpulkan dan dilakukan penganalisaan data.
Sebelum kuesioner diberikan kepada responden maka kuesioner akan dilakukan uji validitas untuk mengetahui apakah kuesioner tersebut mampu mengukur apa yang hendak peneliti ukur dan uji reliabilitas untuk memastikan apakah kuesioner reliable atau tidak.
Pengukuran instrumen penelitian menggunakan skala guttman yaitu Benar (B) dan Salah. Jumlah pertanyaan sebelum dilakukan uji validitas dan reliabilitas adalah 40 pertanyaan yang telah disetujui oleh Dosen Pembimbing kemudian diberikan kepada 30 responden untuk dilakukan uji validitas dan reliabilitas.
Kuesioner berisi pertanyaan yang meliputi pengertian, peranan, dan efek samping radioterapi sebagai salah satu modalitas pengobatan kanker. Dari hasil uji validitas dan reliabilitas diperoleh 20 pertanyaan yang valid dan reliable.
Data yang diperoleh kemudian dikelompokkan bedasarkan kelompok variable yang sudah ditentukan, selanjutnya dilakukan pengolahan dan analisis menggunakan perangkat lunak komputer berupa aplikasi statitik yaitu Statistic Package for Social Science (SPSS).
3.6 DEFENISI OPERASIONAL
Berikut ini defenisi operasional dari kerangka konsep yang telah disampaikan dalam bentuk tabel.
3.7 JADWAL PENELITIAN
Jadwal penelitian dapat disajikan dalam bentuk bagan Gantt (Gantt Chart) sebagai berikut:
No Kegiatan Bulan Ke Indikator Kinerja
6 7 8 9 10 11 12 1. Pengajuan kelayakan etik
ke komisi etik FK USU
Surat persetujuan komisi Etik untuk pelaksanaan penelitian 2. Uji validitas kuesioner Kuesioner sudah selesai divalidasi 3.. Memberikan kuesioner
kepada responden untuk diisi di lingkungan kampus FK USU.
Terkumpulnya kuesioner yang
sudah terisi di kampus FK USU
4. Menganalisa data dan mengevaluasi kuesioner.
Data mentah hasil penelitian
5. Analisis hasil penelitian dan pembuatan skripsi.
Hasil penelitian untuk diujikan pada ujian Hasil Penelitian
6. Ujian hasil penelitian dan perbaikan, penyerahan skripsi kepada dosen pembimbing, penguji, secretariat MEU FK USU dan perpustakaan USU.
Skripsi dan terpenuhinya syarat administrasi untuk wisuda
Tabel 4.1 Jadwal Penelitian
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deksripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini seharusnya dilakukan di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Akan tetapi dikarenakan kondisi pandemi covid-19 saat ini yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pengisian kuesioner secara tatap muka, maka pengisian kuesioner dilakukan dengan tidak melakukan tatap muka oleh responden di tempat masing-masing melalui form yang dikirimkan secara online.
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Deskripsi Karakteristik Responden
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif dengan menggunakan kuesioner sebagai alat ukur tingkat pengetahuan. Subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran USU stambuk 2017, 2018, 2019. Sebanyak 182 responden telah diberi kuesioner dan bersedia menjadi sampel penelitian.
A. Karakteristik Responden Berdasarkan Tahun Angkatan
Dari diagram 4.1 dapat dilihat bahwa kelompok terbesar adalah kelompok mahasiswa angkatan 2017 yaitu sebanyak 76 orang (41,8%),
41,8%
35,7%
22,5%
Diagram 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Tahun Angkatan.
2017 2018 2019
diikuti dengan angkatan 2018 sebanyak 65 orang (35,7%), dan 2019 sebanyak 41 orang (22,5%).
B. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Pada diagram 4.2 terlihat bahwa dari segi usia, paling banyak responden berada pada usia 20 tahun yaitu sebanyak 80 orang (44%), kemudian diikuti usia 21 tahun sebanyak 44 orang (24,2%), usia 19 tahun sebanyak 41 orang (22,5%), usia 18 tahun sebanyak 9 orang (4,9%), usia 22 tahun sebanyak 6 orang (3%), dan paling sedikit responden berada pada usia 17 tahun yaitu sebanyak 1 orang (0,5%) dan usia 23 tahun sebanyak 1 orang (0,5%).
0,5%
4,9%
22,5%
44%
24,2%
3% 0,5%
Diagram 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia.
17 18 19 20 21 22 23
C. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Dari diagram 4.3 terlihat bahwa kelompok terbesar adalah kelompok perempuan yaitu sebanyak 116 orang (63,7%), diikuti dengan kelompok laki-laki sebanyak 66 orang (36,3%).
D. Karakteristik Responden Berdasarkan Sumber Informasi 36,3%
63,7%
Diagram 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin.
Laki-laki Perempuan
2%
31%
13%
6%
28%
4%
7% 1% 8%
Diagram 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Sumber Informasi.
Media Cetak Media Elektronik Teman
Tenaga Kesehatan
Media Cetak dan Media Elektronik Media Elektronik dan Teman
Media Elektronik dan Tenaga Kesehatan Teman dan Tenaga Kesehatan
Informasi tentang radioterapi didapatkan dari berbagai sumber.
Pada diagram 4.4 dapat dilihat bahwa responden ada yang mendapatkan informasi dari satu sumber dan ada juga yang mendapatkan informasi dari beberapa sumber. Berdasarkan diagram 4.4 sumber informasi terbanyak adalah media cetak elektronik saja yaitu sebanyak 56 jawaban (30,8%), kemudian diikuti media cetak dan media elektronik sebanyak 51 jawaban (28%), teman saja sebanyak 23 jawaban (12,6%), media elektronik, teman, dan tenaga kesehatan sebanyak 15 jawaban (8,2%), media elektronik dan tenaga kesehatan sebanyak 13 jawaban (7,1%), tenaga kesehatan saja sebanyak 10 jawaban (5,5%), media elektronik dan teman sebanyak 8 jawaban (4,4%), media cetak saja sebanyak 4 jawaban (2,2%), dan sumber informasi yang paling sedikit berasal dari teman dan tenaga kesehatan sebanyak 2 jawaban (1,1%).
4.2.2 Deskripsi Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Tahun Angkatan A. Tingkat Pengetahuan Mahasiswa FK USU Terhadap
Pengertian Radioterapi
Diagram 4.5 Tingkat Pengetahuan Mahasiswa FK USU Terhadap Pengertian Radioterapi.
Pada diagram 4.5 dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa FK USU stambuk 2017 terhadap pengertian radioterapi yaitu berpengetahuan baik sebanyak 64 orang ( 84,2%), diikuti berpengetahuan cukup sebanyak 11 orang (14,5%), dan berpengetahuan kurang sebanyak 1 orang (1,3%). Kemudian tingkat pengetahuan mahasiswa FK USU stambuk 2018 terhadap pengertian radioterapi yaitu berpengetahuan baik sebanyak 42 orang (64,6%), diikuti berpengetahuan cukup sebanyak 22 orang (33,8%), dan bepengetahuan kurang sebanyak 1 orang (1,5%).
Selanjutnya tingkat pengetahuan mahasiswa FK USU stambuk 2019 terhadap pengertian radioterapi yaitu berpengetahuan baik sebanyak 34 orang (82,9%), diikuti berpengetahuan cukup sebanyak 7 orang ( 17,1%), dan tidak ada yang berpengetahuan kurang.
B. Tingkat Pengetahuan Mahasiswa FK USU Terhadap Peranan Radioterapi
Pada diagram 4.6 dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa FK USU stambuk 2017 terhadap peranan radioterapi yaitu berpengetahuan baik sebanyak 42 orang ( 55,3%), diikuti berpengetahuan
0
Diagram 4.6 Tingkat Pengetahuan Mahasiswa FK USU Terhadap Peranan
Diagram 4.6 Tingkat Pengetahuan Mahasiswa FK USU Terhadap Peranan