DAFTAR LAMPIRAN
SATURATED SOIL CULTURE IN TIDAL SWAMPLAND
ABSTRAK
Rendahnya P tersedia dan adanya lapisan pirit menjadi masalah utama budidaya kedelai di lahan sulfat masam pasang surut. Penyediaan P bagi kedelai dapat dilakukan melalui pemupukan, pemanfaatan FMA atau budidaya jenuh air. FMA yang selama ini lebih dikenal simbiosisnya dengan tanaman pada budidaya lahan kering, akan dicoba pada kondisi budidaya jenuh air. Varietas kedelai akan memberikan respon yang berbeda terhadap dosis P dan FMA. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mempelajari pengaruh pemberian inokulasi FMA dengan berbagai dosis P terhadap varietas Tanggamus dan Anjasmoro pada budidaya jenuh air. Percobaan menggunakan Rancangan Split Split Plot dengan 3 faktor. Faktor pertama adalah inokulasi yang terdiri tanpa inokulasi FMA dan inokulasi FMA. Faktor kedua adalah varietas kedelai yang terdiri dari varietas Tanggamus dan varietas Anjasmoro. Faktor ketiga adalah dosis pupuk P yang terdiri atas 0,36, 72 dan 108 kg P2O5 ha-1. Percobaan dilakukan di Kelurahan Simpang Kecamatan Berbak Kabupaten Tanjung Timur Provinsi Jambi. Hasil percobaan menunjukkan inokulasi FMA yang dilakukan terhadap varietas Tanggamus dengan dosis 36 kg P2O5 ha-1 meningkatkan P tersedia tanah, serapan P tanaman, kadar P tanaman, efisiensi serapan hara P, efisiensi relatif inokulan, diameter batang dan jumlah cabang kedelai. Inokulasi FMA dengan varietas Tanggamus meningkatkan efisiensi relatif inokulan, bobot kering brangkasan, mempercepat umur berbunga dan umur panen, menekan jumlah polong hampa dan efisiensi penggunaan P. Varietas Tanggamus dengan dosis 36 kg P2O5 ha-1 meningkatkan P tersedia, kadar P tanaman, serapan P tanaman, efisiensi relatif inokulan, efisiensi relatif serapan hara P, meningkatkan diameter batang, jumlah cabang, mempercepat umur berbunga dan umur panen serta meningkatkan efisiensi penggunaan P. Inokulasi FMA dengan dosis 36 kg P2O5 ha-1 meningkatkan P tersedia, serapan P tanaman, kadar P tanaman, serapan K, efisiensi relatif inokulan, efisiensi relatif serapan hara P, bobot kering brangkasan, mempercepat umur berbunga dan panen, meningkatkan jumlah polong isi, bobot 100 biji, bobot biji per petak, bobot biji per hektar dan efisiensi penggunaan P.
Kata kunci: lahan sulfat masam; pirit; inokulan
ABSTRACT
The low P available and their layers of pyrite become major problems on soybean cultivation in the acid sulphate tidal swampland. The supply of P for soybean might be improved through fertilization, AMF use or saturated soil culture. AMF, better
81
known as symbiosis with plants on dry land cultivation, was tested on the cultivation of saturated soil culture conditions. Soybean varieties could respond differently to the P dose and AMF. Therefore the research was conducted to study the effect of AMF inoculation with various P doses to Tanggamus and Anjasmoro varieties in saturated soil culture. The experiment used split split plot design with 3 factors. The first factor composed of without and with AMF inoculation. The second factor composed of Tanggamus and Anjasmoro varities. The third factor was the dose of P fertilizer consisted of 0, 36, 72 and 108 kg P2O5 ha-1. The experiment was
performed in the Simpang Village, District of Berbak Regency of East Tanjung Jabung, Province of Jambi. The experimental results showed that AMF inoculation conducted on Tanggamus variety with a dose of 36 kg P2O5 ha-1 increased the P
available of soil, plant P absorption, plant P content, P absorption efficiency, the relative efficiency of inoculant, stem diameter and branches number of soybean. AMF inoculation with Tanggamus variety increased the relative efficiency of inoculant, stover dry weight, accelerated age of flowering and harvest, reduced the number of empty pods and increasing of P use efficiency. Tanggamus variety with a dose of 36 kg P2O5 ha-1 increased the P available, P content of plant, plant P
absorption, the relative efficiency of inoculant, the relative efficiency of P absorption, increased the stem diameter, number of branches, accelerating age of flowering and harvesting as well as improving the P use efficiency. AMF inoculation at a dose of 36 kg P2O5 ha-1 increases P available, plant P absorption,
P content of plant, K absorption, the relative efficiency of inoculant, the relative efficiency of P absorption, stover dry weight, accelerated age of flowering and harvest, increasing the number of pods, weight of 100 seeds, seed weight per plot, seed weight per hectare and the P use efficiency.
Keywords: acid sulphate soil; pyrite; inoculant.
PENDAHULUAN Latar belakang
Luas panen kedelai semakin menyempit, dari 660 823 hektar pada tahun 2010 menjadi 550 793 hektar pada tahun 2013. Tahun 2015 luas panen kedelai meningkat mencapai 624 848 hektar. Tingkat produktivitas semakin naik sejak tahun 2010 dan pada tahun 2015 mencapai 15.73 ku ha-1, dengan produksi kedelai nasional mencapai 982 967 ton. Kebutuhan kedelai nasional pada tahun 2015 diperkirakan mencapai 2.5 juta ton. Kebutuhan itu sebagian besar akan dipenuhi oleh impor. Volume impor sampai tahun 2013 mencapai 1.8 juta ton (BPS 2015). Menurut Ghulamahdi (2016) dalam kurun waktu 1992 – 2013 terjadi peningkatan produktivitas kedelai sebesar 29.5% tetapi dalam kurun waktu yang sama terjadi penurunan luas areal panen sebesar 66.7%. Akibatnya produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi 30% dari kebutuhan nasional. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pengembangan luas areal tanam. Alternatif yang sangat memungkinkan adalah perluasan areal tanam ke lahan rawa pasang surut.
Lahan pasang surut memiliki keterbatasan seperti kahat hara, pH rendah, adanya lapisan pirit dan sebagainya tetapi memiliki potensi yang diperlukan untuk
pertumbuhan dan produksi kedelai seperti sinar matahari dan air yang banyak. Keterbatasan yang dimiliki lahan marginal seperti lahan pasang surut ini harus diantisipasi dengan sistim pertanian yang ramah lingkungan. Penerapannya di lapangan akan meningkatkan kesehatan agroekosistim, termasuk keragaman hayati, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah (Sutanto 2005). Pemanfaatan FMA merupakan salah satu teknik budidaya yang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan produksi kedelai .
Mekanisme hubungan antara FMA dengan akar tanaman adalah spora FMA berkecambah dan selanjutnya menginfeksi akar tanaman, kemudian tumbuh dan berkembang membentuk hifa-hifa yang panjang dan bercabang. Jaringan hifa ini memiliki jangkauan yang jauh lebih luas daripada jangkauan akar tanaman itu sendiri. Hifa FMA yang jangkauannya lebih luas ini selanjutnya berperan sebagai akar tanaman dalam menyerap air dan hara dari dalam tanah.
FMA mempunyai wilayah dengan kisaran yang luas, oleh karena itu, FMA tersedia di alam pada jenis tanah dan lingkungan tumbuh yang beragam. Pemanfaatan FMA lokal bermaksud untuk mempercepat adaptasi lingkungan, sehingga manfaat yang diberikannya kepada kedelai lebih maksimal. Pemanfatan FMA yang berada pada rizosfer kedelai, dmaksudkan untuk lebih mudah beradaptasi dengan inangnya pada waktu isolat FMA dikembalikan ke lapang budidaya setelah menjalani propagasi. Pemanfatan FMA lokal juga dapat dilakukan dengan cara yang mudah dan biaya yang murah sehingga berpeluang untuk diterapkan di tingkat petani untuk meningkatkan produktivitas kedelai. Dampak lain yang diharapkan adalah berkurangnya ketergantungan terhadap pupuk an organik.
Ketersediaan unsur P sebagai unsur hara tanaman mempengaruhi persentase kolonisasi FMA. Penambahan sedikit P akan meningkatkan kolonisasi. Sebaliknya, penambahan P dalam kadar tinggi akan mengurangi kolonisasi FMA (Simanungkalit 2004). Penggunaan fosfat pada tanah yang asam dapat meningkatkan derajat infeksi FMA, memperbaiki kesuburan tanah, dan meningkatkan hasil tanaman (Smith dan Read 2008).
Pemberian pupuk P sangat penting dalam meningkatkan produksi. Unsur hara P merupakan unsur hara yang penting dan berkaitan dengan mutu benih kedelai. Pemberian hara P dapat memacu pertumbuhan generatif sehingga dapat meningkatkan hasil biji per satuan luas dan mutu benih kedelai yang tinggi. Suprapto (2002) menyatakan bahwa hara P disimpan paling banyak dalam biji dan menentukan vigor benih kedelai. Dengan vigor benih yang baik maka potensi hidup semakin besar.
Setiap varietas diasumsikan memiliki respon yang berbeda terhadap pemupukan P dan kemampuan bersimbiosis dengan FMA. Oleh karena itu digunakan dua varietas kedelai yaitu varietas Anjasmoro dan varietas Tanggamus. Pemilihan varietas Anjasmoro disebabkan sosialisasinya yang telah meluas di kalangan petani. Petani menyukai varietas Anjasmoro karena varietas ini tergolong kedelai berbiji besar. Pemilihan varietas Tanggamus, karena varietas ini memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi pada budidaya di lahan pasang surut. Hal ini telah dibuktikan dengan beberapa penelitian yang dilakukan peneliti sebelumnya dengan tingkat produktivitas yang cukup tinggi dibandingkan dengan varietas lain.
83 Soegito dan Arifin (2004) menyatakan bahwa setiap varietas memiliki keunggulan genetis yang berbeda-beda sehingga setiap varietas memiliki produksi yang berbeda-beda pula, tergantung kepada sifat varietas tanaman yang bersangkutan.
Sebagian besar tanah mineral di daerah pasang surut bersifat sulfat masam. Kadungan pirit dalam tanah sulfat masam beragam dan cenderung semakin meningkat ke lapisan bawah. Pirit membahayakan tanaman apabila berada dalam suasana teroksidasi yang menyebabkan turunnya pH dengan cepat. Terjadinya oksidasi bahan sulfidik yang mengandung lapisan pirit dalam tanah diawali dari kekurangan air dalam tanah sehingga permukaan air tanah turun melampaui posisi lapisan pirit. Kondisi seperti ini menyebabkan terjadinya reaksi antara senyawa pirit (FeS2) dengan oksigen (O2) yang menghasilkan unsur dan senyawa yang beracun bagi tanaman (Hadi 2004).
Pengusahaan tanaman kedelai di lahan pasang surut dapat dilakukan dengan menggunakan budidaya jenuh air. Budidaya jenuh air (BJA) merupakan penanaman di atas bedengan dengan memberikan air secara terus menerus di dalam parit, sehingga tanah di bawah perakaran menjadi jenuh air tetapi tidak tergenang (Purwaningrahayu et al. 2004). Budidaya jenuh air juga dapat diterapkan di areal dengan irigasi cukup baik atau pada areal penanaman dengan drainase kurang baik (Ghulamahdi 1999).
Budidaya kedelai pada lahan basah dapat meningkatkan hasil 20-80% (Indradewa et al. 2004). Secara garis besar Ralph (1983) menyimpulkan bahwa tanaman kedelai yang dibudidayakan dengan genangan dalam parit mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat dan hasil lebih tinggi dibanding dengan yang dibudidayakan dengan pengairan luapan seperti yang dilakukan petani karena: (1) mendapatkan lengas dalam jumlah cukup sepanjang hidupnya, (2) pertumbuhan bintil terus berlanjut sampai fase pengisian polong, (3) mengalami penundaan penuaan dan perpanjangan fase reproduktif.
Tinggi muka air tetap akan menghilangkan pengaruh negatif dari kelebihan air pada pertumbuhan tanaman karena kedelai akan beraklimatisasi dan selanjutnya tanaman memperbaiki pertumbuhannya (Nathanson et al. 1984). Pertumbuhan tanaman meningkat setelah melewati masa aklimatisasi. Peningkatan pertumbuhan ini sangat berhubungan dengan peningkatan nodulasi dan fiksasi N2 yang besar (Ghulamahdi et al. 2006). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas kedelai melalui peningkatan efisiensi pemupukan P dengan menggunakan isolat FMA lokal pada budidaya jenuh air.
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian ini berupa percobaan lapangan. Lokasi penelitian di Kelurahan Simpang Kecamatan Berbak Kabupaten Tanjung Jabung Timur Propinsi Jambi. Penelitian dilakukan pada Mei - Agustus 2014.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: inokulan Fungi Mikoriza Arbuskula yang telah dihasilkan dari pemerangkapan dan perbanyakan, Pupuk an organik berupa Urea sebagai sumber N, SP 36 sebagai sumber P dan KCl sebagai sumber K, Benih kedelai varietas Tanggamus dan Anjasmoro serta bahan pengendali pengganggu tanaman. Alat yang digunakan adalah alat-alat pengolah tanah, alat-alat pengendali pengganggu tanaman dan alat-alat tulis.
Prosedur Kerja
Ameliorasi tanah dilakukan dengan pemberian pupuk kandang dilakukan pada 2 minggu sebelum tanam. Petak yang sudah dibentuk diberi pupuk kandang sapi masing-masing 1 ton ha-1. Penananaman benih dilakukan secara tugal dengan kedalaman 2 - 3 cm. Setiap lubang diisi benih sebanyak 3 benih dengan jarak 40 x 12.5 cm dan tanaman yang dipelihara sebanyak 2 tanaman per lubang tanam. Penjarangan dilakukan 2 minggu setelah tanam. Lubang tanam ditutup dengan inokulan Fungi Mikoriza Arbuskula sebanyak 5 gram per lubang tanam. Perlakuan ditempatkan pada petak percobaan yang berukuran 2m x 3m. Budidaya kedelai yang digunakan pada penelitian ini adalah budidaya jenuh air.
Pemberian pupuk fosfor dengan dosis sesuai dengan perlakuan dan 100 kg KCl ha-1 yang diberikan sebagai pupuk dasar pada saat tanam dalam larikan di samping barisan tanaman. Pupuk kandang, SP-36 dan KCl dicampur dan diinkubasi selama 1 minggu. Pemupukan Urea dilakukan sebanyak 4 kali yakni pada umur 3, 4, 5 dan 6 minggu setelah tanam (MST) dengan cara penyemprotan melalui daun dengan konsentrasi 7.5 g urea per liter air menggunakan volume semprot 400 liter air per ha.
Penyiangan gulma dilakukan secara manual yaitu dengan menggunakan cangkul sebanyak 3 kali. Penyiangan pertama dilakukaan 2 MST, penyiangan ke 2 (dua) dilakukan pada minggu ke 6 (enam) sebelum tanaman berbunga dan penyiangan ke 3 (tiga) dilakukan 2 (dua) minggu sebelum panen. Pengendalian pengganggu tanaman dilakukan dengan menyemprotkan insektisida yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Panen dilakukan setelah kedelai memasuki fase matang fisiologis yang ditandai dengan sebagian besar daun kedelai mulai mengering dan polong telah berisi penuh dan kulit bijinya tipis, kulit polong cukup keras, serat sangat nyata dan berwarna coklat kehitaman.
Rancangan Penelitian
Percobaan ini menggunakan Rancangan Split-Split Plot dalam Rancangan Acak Kelompok dengan 3 faktor. Faktor pertama sebagai petak utama adalah inokulan yang terdiri dari: tanpa inokulasi dan inokulasi. Faktor kedua sebagai anak petak adalah varietas kedelai yang terdiri atas varietas Tanggamus dan varietas Anjasmoro. Faktor ketiga sebagai anak-anak petak adalah dosis pupuk P yang terdiri atas: 0, 36, 72 dan 108 kg P2O ha-1. Percobaan ini memiliki 16 perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali.
85 Pengamatan
Peubah yang diamati adalah: a). Persentase akar yang terkolonisasi oleh FMA yang diduga dengan rumus:= J a a a
J a a a ya a a � %, b). Diameter batang,
c). Umur berbunga, d). Umur panen, e). Jumlah polong bernas, f). Jumlah polong hampa, g). Bobot kering 100 biji, h). Produksi biji kering, i). Kadar hara N, P, K jaringan tanaman, j). serapan hara P, k). Kadar P tanah sebelum dan sesudah percobaan, l). Efisiensi Relatif Inokulan yang diperoleh dengan menggunakan rumus: � =��−��
�� � % dan m). Efisiensi Relatif Serapan Hara dengan
menggunakan rumus: � = �− �
� � %.
Wi=Bobot brangkasan kering tanaman yang menggunakan isolat FMA Wp=Bobot brangkasan kering tanaman yang tidak menggunakan isolat FMA Hi=serapan hara P tanaman sesuai dosis perlakuan
Hp=serapan hara P tanaman tanpa pupuk
Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam. Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan Uji Tukey, kecuali perlakuan dosis Pupuk P dianalisis dengan DMRT.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Inokulasi FMA pada varietas Tanggamus yang dipupuk 36 kg P2O5 ha-1 menghasilkan P tersedia tanah lebih tinggi 33.09 ppm dan berbeda nyata dibandingkan tanpa inokulasi FMA pada varietas Anjasmoro yang dipupuk 0 kg P2O5 ha-1 dan berbeda nyata dengan perlakuan lain. Varietas Tanggamus maupun varietas Anjasmoro, memberikan respon terhadap ketersediaan P baik dengan inokulasi maupun tanpa inokulasi FMA pada berbagai dosis P yang dicobakan. Pada Inokulasi FMA, respon yang diberikan oleh kedua varietas akan meningkat sampai dosis 36 kg P2O5 ha-1, kemudian terjadi penurunan. Bila tanpa inokulasi FMA, peningkatan ketersediaan P akan terjadi sampai dosis 72 kg P2O5 ha-1, kemudian terjadi penurunan. 36 kg P2O5 ha-1. Varietas Tanggamus, baik yang diinokulasi FMA maupun yang tidak diinokulasi FMA memberikan respon yang lebih cepat dibandingkan dengan varietas Anjasmoro terhadap ketersediaan P (Tabel 7.1).
Inokulasi FMA pada varietas Tanggamus yang dipupuk 36 kg P2O5 ha-1 menghasilkan serapan P lebih besar 0.117 g/tanaman dan berbeda nyata dibandingkan tanpa inokulasi FMA pada varietas Anjasmoro yang dipupuk 0 kg P2O5 ha-1 dan berbeda nyata dengan perlakuan lain. Jika tanpa inokulasi FMA, varietas Anjasmoro memiliki respon yang lebih tanggap dibandingkan varietas Tanggamus pada peubah serapan P tanaman. Varietas Anjasmoro akan memberikan
nilai peubah serapan tanaman yang lebih signifikan dibandingkan dengan varietas Tanggamus. Namun jika diinokulasi FMA, maka varietas Tanggamus memberikan respon yang lebih baik dibandingkan dengan varietas Anjasmoro pada peubah serapan P tanaman. Secara kuantitas, serapan P tanaman varietas Tanggamus lebih baik dibandingkan dengan varietas Anjasmoro (Tabel 7.2).
Tabel 7.1 P tersedia tanah pada inokulasi FMA, berbagai varietas kedelai dan dosis P Inokulasi FMA Varietas Dosis P (kg P2 O5 ha-1) Rata-rata 0 36 72 108 (ppm) Tanpa Tanggamus 17.42 g 24.80 f 27.78 e 32.46 ef 25.62 A Anjasmoro 16.23 g 16.55 g 26.07 ef 26.24 ef 21.27 B Inokulasi Tanggamus 24.16 f 49.32 a 30.36 d 26.54 ef 32.60 A Anjasmoro 16.80 g 36.03 b 33.02 c 25.68 ef 27.88 AB
Rata-rata tanpa inokulasi 16.83 P 20.68 O 26.92 N 29.35 M 23.44 Bb Rata-rata inokulasi 20.48 O 42.68 K 31.69 L 26.11 N 30.24 Aa
Rata-rata Dosis P 18.65 Nn 31.68 Kk 29.31 Ll 27.73 Mm
Rata-rata Tanggamus 20.79 GH 37.06 E 29.07 EFG 29.50 EF 29.11 Ee Rata-rata Anjasmoro 16.52 H 26.29 FG 29.55 EF 25.96 FG 24.58 Ff
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh : 1) huruf kecil yang sama untuk interaksi 3 faktor, 2) huruf besar yang sama untuk interaksi 2 fktor dan 3) huruf besar dan kecil yang sama untuk faktor tunggal, menunjukkan beda tidak nyata pada taraf 5% Uji Tukey serta yang berkaitan dengan dosis P pada taraf 5% Uji DMRT.
Tabel 7.2 Serapan P tanaman kedelai pada inokulasi FMA, beberapa varietas kedelai dan berbagai dosis P
Inokulasi FMA Varietas Dosis P (kg P2 O5 ha-1) Rata-rata 0 36 72 108 (g/tanaman)
Tanpa Tanggamus 0.087 def 0.097 cd 0.103 c 0.097 cd 0.096 B Anjasmoro 0.050 h 0.057 gh 0.080 ef 0.063 g 0.063 C Inokulasi Tanggamus 0.090 de 0.157 a 0.127 b 0.117 b 0.123 A Anjasmoro 0.077 f 0.093 ef 0.087 def 0.083 ef 0.0854 B
Rata-rata tanpa inokulasi 0.068 R 0.077 Q 0.094 O 0.080 PQ 0.079 Bb Rata-rata inokulasi 0.084 P 0.125 L 0.107 M 0.100 N 0.103 Aa Rata-rata Dosis P 0.076 Kk 0.100 Ii 0.099 Ii 0.090 Jj
Rata-rata Tanggamus 0.088 GHI 0.127 F 0.115 FG 0.107FGH 0.109 Ee Rata-rata Anjasmoro 0.063 I 0.073 I 0.083 HI 0.073 I 0.073 Ff
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh : 1) huruf kecil yang sama untuk interaksi 3 faktor, 2) huruf besar yang sama untuk interaksi 2 faktor dan 3) huruf besar dan kecil yang sama untuk faktor tunggal, menunjukkan beda tidak nyata pada taraf 5% Uji Tukey serta yang berkaitan dengan dosis P pada taraf 5% Uji DMRT.
87 Inokulasi FMA pada varietas Tanggamus yang dipupuk 36 kg P2O5 ha-1 menghasilkan kadar P lebih tinggi 0.254 % dan berbeda nyata dibandingkan tanpa inokulasi FMA pada varietas Anjasmoro yang dipupuk 0 kg P2O5 ha-1 dan berbeda nyata dengan perlakuan lain. Fluktuasi kadar P tanaman kedelai varietas Anjasmoro lebih jelas dibandingkan dengan varietas Tanggamus pada berbagai dosis P jika tidak dinokulasi FMA. Namun kondisi sebaliknya terjadi jika dilakukan inokulasi FMA. (Gambar 7.3).
Tabel 7.3 Kadar P tanaman kedelai pada inokulasi FMA, beberapa varietas kedelai dan berbagai dosis P
Inokulasi FMA Varietas Dosis P (kg P2 O5 ha-1) Rata-rata 0 36 72 108 (%)
Tanpa Tanggamus 0.323 cde 0.323 cde 0.327 cd 0.320 cdef 0.32 B
Anjasmoro 0.183 i 0.250 h 0.310 def 0.273 g 0.25 C
Inokulasi Tanggamus 0.327 cd 0.437 a 0.367 b 0.343 c 0.37 A
Anjasmoro 0.297 f 0.317 def 0.313 def 0.300 ef 0.31 B
Rata-rata tanpa inokulasi 0.25 S 0.29 R 0.32 P 0.30 QR 0.29 Bb
Rata-rata inokulasi 0.31 PQ 0.38 N 0.34 O 0.32 P 0.34 Aa
Rata-rata Dosis P 0.28 Ii 0.33 Gg 0.33 Gg 0.31 Hh
Rata-rata Tanggamus 0.325 GHI 0.380 F 0.347 FG 0.332 GH 0.35 Ee
Rata-rata Anjasmoro 0.240 K 0.283 JK 0.312 GHI 0.287 IJ 0.28 Ff
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh : 1) huruf kecil yang sama untuk interaksi 3 faktor, 2) huruf besar yang sama untuk interaksi 2 faktor dan 3) huruf besar dan kecil yang sama untuk faktor tunggal, menunjukkan beda tidak nyata pada taraf 5% Uji Tukey serta yang berkaitan dengan dosis P pada taraf 5% Uji DMRT.
Inokulasi FMA dengan dosis P 36 kg P2O5 ha-1 pada varietas Anjasmoro dan varietas Tanggamus meningkatkan P tersedia tanah, akibatnya serapan P oleh tanaman meningkat. Peningkatan serapan P oleh tanaman akan meningkatkan kadar P dalam jaringan tanaman sehingga efisiensi relatif serapan hara P dan efisiensi relatif inokulan meningkat.
Inokulasi FMA pada varietas Tanggamus yang dipupuk 36 kg P2O5 ha-1 menghasilkan efisiensi relatif inokulan yang lebih besar 41.58 % dan berbeda nyata dibandingkan semua interaksi tanpa inokulasi FMA dan berbeda nyata dengan perlakuan lain. Varietas Tanggamus akan memberikan respon yang lebih baik dibandingkan varietas Anjasmoro pada peubah efisiensi relatif inokulan, ketika dosis pupuk ditingkatkan dari tanpa pemupukan P ke dosis 36 kg P2O5 ha-1, kemudian akan menurun dengan interval yang sama, jika dosis terus ditingkatkan. Secara kuantitas, nilai peubah efisiensi relatif inokulan yang dimiliki varietas Tanggamus lebih baik dibandingkan dengan varietas Anjasmoro (Tabel 7.4).
Inokulasi FMA pada varietas Tanggamus yang dipupuk 36 kg P2O5 ha-1 menghasilkan efisiensi relatif serapan hara P yang lebih besar (74.33 %) dan berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan lain. Efisiensi relatif serapan hara P pada varietas Tanggamus sangat jelas pengaruhnya oleh perubahan dosis P jika dinokulasi FMA dibandingkan dengan varietas Anjasmoro. Hal ini ditunjukkan
oleh signifikansi perubahan nilai efisiensi relatif serapan hara P pada varietas Tanggamus akibat perubahan dosis P yang dicobakan. Namun jika tidak diinokulasi FMA terjadi sebaliknya, varietas Anjasmoro yang memberikan respon lebih jelas (Tabel 7.5).
Tabel 7.4 Efisiensi relatif inokulan kedelai pada inokulasi FMA, beberapa varietas kedelai dan berbagai dosis P
Inokulasi FMA Varietas Dosis P (kg P2 O5 ha-1) Rata-rata 0 36 72 108 (%) Inokulasi Tanggamus 20.40 c 41.58 a 35.39 b 34.37 b 32.93 A Anjasmoro 4.61 de 16.61 c 8.99 d 8.41 d 9.66 B Rata-rata inokulasi 12.50 J 29.10 H 22.19 I 21.39 I 21.29 Rata-rata Dosis P 6.25 Gg 14.55 Ee 11.10 Ff 10.69 Ff Rata-rata Tanggamus 110.20 E 20.79 E 17.69 E 17.19 E 16.47 Aa Rata-rata Anjasmoro 2.31 E 8.31 E 4.50 E 4.20 E 4.83 Bb
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh : 1) huruf kecil yang sama untuk interaksi 3 faktor, 2) huruf besar yang sama untuk interaksi 2 faktor, 3) huruf besar dan kecil yang sama untuk faktor tunggal, menunjukkan beda tidak nyata pada taraf 5% Uji Tukey serta yang berkaitan dengan dosis P pada taraf 5% Uji DMRT dan 4) perlakuan tanpa inokulasi dijadikan sebagai pembanding bagi perlakuan inokulasi.
Tabel 7.5 Efisiensi relatif serapan hara P tanaman kedelai pada inokulasi FMA, beberapa varietas kedelai dan berbagai dosis P
Inokulasi FMA Varietas Dosis P (kg P2 O5 ha-1) Rata-rata 36 72 108 (%) Tanpa Tanggamus 14.87 ef 29.86 d 15.26 ef 15.00 AB Anjasmoro 15.45 ef 60.58 b 25.48 d 25.38 AB Inokulasi Tanggamus 74.33 a 40.78 c 30.20 d 36.33 A Anjasmoro 20.34 de 12.47 ef 6.47 fg 9.82 B
Rata-rata tanpa inokulasi 15.16 L 45.22 J 20.37 KL 20.19 Aa
Rata-rata inokulasi 47.34 J 26.63 K 18.34 L 23.08 Aa
Rata-rata Dosis P 31.25 Kk 35.92 Jj 19.36 Ll
Rata-rata Tanggamus 44.60 E 35.32 EF 22.73 F 25.66 Ee
Rata-rata Anjasmoro 17.90 FG 36.52 EF 15.98 FG 17.60 Ff
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh : 1) huruf kecil yang sama untuk interaksi 3 faktor, 2) huruf besar yang sama untuk interaksi 2 faktor, 3) huruf besar dan kecil yang sama untuk faktor tunggal, menunjukkan beda tidak nyata pada taraf 5% Uji Tukey serta yang berkaitan dengan dosis P pada taraf 5% Uji DMRT dan 4) perlakuan dosis 0 kg P2 O5 ha-1 sebagai pembanding bagi perlakuan dosis lain.