• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lampiran Halaman

1. Data Fisik dan Kimia Tanah ... 57 2. Hasil Analisis Fisik dan Kimia Tanah ... 58 3. Kriteria Penilaian Analisis Tanah ... 60 4. Data Curah Hujan Rata-rata Banda Aceh dan Aceh Besar ... 61 5. Data Pengamatan Kerusakan Lahan Berdasarkan Kriteria FAO

tahun 2005 ... 62 6. Hasil Analisis Kuantifikasi Hayashi II ... 63 7. Hasil Analisis Korelasi... 67 8. Kuesioner Penelitian ... 71

1.1. Latar Belakang

Bencana Gempa dan Tsunami yang terjadi di beberapa wilayah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada 26 Desember 2004 telah menimbulkan dampak yang sungguh luar biasa besarnya, baik terhadap manusia dan sumber daya alam yang ada di wilayah tersebut. Bencana alam tersebut telah memporak-porandakan dan menghancurkan kehidupan manusia yang sebelumnya berlangsung normal menjadi demikian naif, tak berdaya, dan kehilangan semua yang dimilikinya.

Dampak langsung bencana gempa bumi dan tsunami terhadap manusia terlihat pada banyaknya korban meninggal dan hancurnya tempat tinggal serta fasilitas umum lainnya, seperti perkantoran, sarana prasarana transportasi, dan tempat ibadah serta kerusakan terhadap lahan-lahan pertanian. Menurut catatan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia, sampai dengan Februari 2005, jumlah korban meninggal di seluruh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tercatat 124.603 jiwa, 400.379 jiwa mengungsi akibat kehilangan tempat tinggal, dan 111.769 jiwa lainnya dinyatakan hilang. Musibah ini menyebabkan berkurangnya jumlah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam penduduk sekitar empat persen, yang sebelumnya berjumlah sekitar 4,2 jiwa turun menjadi 4.031.589 setelah tsunami.

Secara umum, wilayah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang paling parah terkena dampak bencana gempa bumi dan tsunami adalah kabupaten/kota yang berada di wilayah pantai barat Aceh, yaitu Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, dan sebagian Nagan Raya. Adapun wilayah kabupaten/kota di pantai timur Aceh yang juga terkena dampak gempa bumi dan tsunami meskipun tidak separah kondisi di wilayah pantai barat adalah Pidie, Bireuen, Lhoksuemawe, Aceh Utara, dan Aceh Timur.

Disamping korban manusia, dampak kerusakan juga terjadi pada lingkungan dan sumberdaya alam. Secara logis, karena episentrum gempa bumi berpusat di laut (sebelah barat daya Banda Aceh) maka kerusakan lingkungan laut sudah pasti terjadi meskipun belum ada hasil penelitian yang secara resmi menjelaskan tingkat kerusakan lingkungan laut akibat gempa bumi tersebut. Hipotesis ini kemungkinan besar ada benarnya mengingat besarnya goncangan

yang diakibatkan oleh gempa tersebut. Catatan Badan Meteorologi Amerika Serikat menyebutkan bahwa kekuatan gempa yang mengguncang kawasan Asia yang berpusat di lautan Hindia tersebut mencapai 8,9 pada Skala Richter.

Berdasarkan hasil penilaian sementara oleh Departemen Pertanian, lahan sawah milik masyarakat yang mengalami kerusakan berat (puso) diperkirakan mencapai 20.101 Ha dan kerusakan ladang mencapai 31.345 Ha. Ladang yang mengalami puso sebagian besar biasanya digunakan untuk membudidayakan tanaman palawija dan hortikultur serta sedikit perkebunan kelapa.Tercatat sembilan kabupaten/kota yang terkena bencana tsunami dan mengalami kerusakan lahan pertanian cukup parah yaitu di Kabupaten Aceh Besar, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Utara, Aceh Timur, Simeuleu, Pidie, dan Bireun. Sedangkan berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) kerusakan lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultur diperkirakan 61.816 ha lahan yang terdiri dari 37.471 ha lahan basah dan 24.345 ha lahan kering.

Selain kerusakan pada lahan pertanian tersebut, kerusakan juga terjadi pada jaringan irigasi, bangunan irigasi, saluran irigasi di tingkat usahatani, jalan usahatani, pematang (sawah), terasering (lahan kering), serta bangunan petakan lahan usahatani. Lahan perkebunan yang mengalami kerusakan diperkirakan mencapai 36.803 ha yang meliputi lahan perkebunan karet, kelapa, kelapa sawit, kopi, cengkeh, pala, pinang, coklat, nilam, dan jahe (Departemen Pertanian, dalam BAPPENAS, 2005). Lahan perkebunan yang paling luas mengalami kerusakan adalah tanaman kelapa yang tumbuh di sepanjang pesisir. Sedangkan berdasarkan wilayah, lahan perkebunan yang paling banyak mengalami kerusakan berada di wilayah Kabupaten Aceh Barat, Simeulue, Nagan Raya, dan Aceh Jaya. Belum ada data mengenai persentase dari kerusakan lahan perkebunan terhadap total lahan perkebunan yang ada di NAD.

Besarnya kerusakan sumberdaya alam dan ekosistem akibat gempa dan tsunami memerlukan perhatian khusus terutama pada lahan-lahan pertanian yang merupakan lahan usaha masyarakat. Hal ini mengingat begitu banyak masyarakat yang hidupnya tergantung pada lahan pertanian. Hancurnya lahan-lahan pertanian tersebut mengakibatkan hancurnya kegiatan perekonomian masyarakat, khususnya di sektor pertanian dan perikanan yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat setempat. Perkiraan terakhir menunjukkan bahwa 92.000 usaha pertanian dan perdagangan yang menampung sekitar

160.000 orang pekerja mengalami kemacetan (Subagyono, 2005). Untuk menggerakkan kembali perekonomian di sektor pertanian, diperlukan suatu kondisi yang layak untuk pemanfaatan lahan bagi kegiatan pertanian.

Kenyataaan di atas menjadi latar belakang melakukan penelitian dalam penelitian identifikasi kondisi lahan-lahan pertanian yang terkena dampak tsunami serta pendapat masyarakat terhadap upaya rehabilitasi lahan pertanian yang rusak akibat tsunami agar lahan pertanian dapat kembali difungsikan secara berkelanjutan.

1.2. Perumusan Masalah

Sebelum bencana gempa bumi dan tsunami terjadi, sektor pertanian merupakan salah satu sektor unggulan dalam pembangunan ekonomi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Beberapa kabupaten yang merupakan sentra kegiatan pertanian adalah Aceh Besar, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Utara, Aceh Timur, Simeuleu, Pidie, dan Bireun.

Bencana alam tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 di Nanggroe Aceh Darussalam tidak saja menyebabkan ratusan ribu orang meninggal dan ratusan ribu lainnya hilang, tetapi juga merusak berbagai fasilitas termasuk lahan pertanian. Kerusakan lahan pertanian sebagian besar diakibatkan oleh peningkatan kadar garam (salinitas), sedimen lumpur laut, sampah dan puing-puing bangunan, serta rusaknya infrastruktur irigasi/drainase dan jalan. Kerusakan lahan pertanian (tanaman pangan dan hortikultur) akibat tsunami mencapai 61.816 ha yang meliputi lahan basah dan lahah kering. Kerusakan yang terjadi di pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam sebesar 45.755 ha dan di pantai timur sebesar 16.061 ha. Dari jumlah lahan pertanian yang rusak di pantai timur dapat diklasifikasikan sekitar 50% tergolong rusak ringan dan 50% rusak sedang, sedangkan di pantai barat dari jumlah 45.755 ha, 10% tergolong rusak ringan (4.575,5 ha), 20% rusak sedang (9.151 ha) dan 60% rusak berat (27.453 ha) dan 10% tergenang air laut (5.575,5 ha). (FAO, 2005). Petani yang meninggal dunia dan hilang akibat tsunami sebanyak 47.275 orang dan sekitar 243.394 orang petani yang selamat kini menempati kamp dan barak hunian sementara.

Kerusakan lahan terjadi utamanya dalam bentuk perubahan tekstur tanah dan perubahan garis pantai yang terjadi di hampir seluruh kawasan pesisir yg

terkena gelombang tsunami. Kerusakan lahan juga terjadi karena penimbunan dan pemadatan limbah tsunami yang terus berlangsung dibeberapa lokasi. Bentuk kerusakan lahan lain terjadi akibat dari luapan air laut yang mengakibatkan sifat-sifat kimia dan kesuburan tanah mengalami degradasi. Shofiyati, (2005) menyatakan paling sedikit ada empat bentuk utama kerusakan pada lahan pertanian yang terindentifikasi merupakan satu atau kombinasi dari bentuk kerusakan tersebut yaitu : 1) perubahan bentang lahan (landscape), 2) endapan lumpur dari laut dan pantai, 3) intrusi air laut ke dalam profil tanah, dan 4) penutupan sampah di atas permukaan tanah.

Kerusakan terhadap lahan pertanian tersebut telah menyebabkan kehancuran terhadap roda perekonomian masyarakat, karena sebagian besar penduduk di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam bermata pencaharian sebagai petani. Saat sekarang ini lahan-lahan yang rusak tersebut tidak dapat diusahakan sehingga masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani terpaksa mencari kegiatan usaha di bidang lainnya bahkan ada sebagian dari mereka hanya menunggu bantuan dari pemerintah untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan hancurnya berbagai kegiatan perekonomian masyarakat, khususnya di bidang pertanian yang menjadi andalan masyarakat setempat, mengakibatkan masyarakat memerlukan pengaktifan kembali kegiatan usaha pertaniannya dan pemberian bantuan, untuk memulihkan keadaan perekonomiannya.

Menanggapi bencana tersebut pemerintah dengan berbagai pihak, baik luar negeri maupun dalam negeri, menaruh perhatian yang sangat besar terhadap pembangunan kembali provinsi ini (recovery). Dalam hal penanganan sektor pertanian terutama lahan-lahan pertanian yang terkena tsunami pemerintah telah merencanakan program rehabilitasi lahan pertanian yang rusak, sehingga lahan-lahan pertanian dapat difungsikan kembali agar masyarakat kembali dapat melakukan aktifitas pertanian. Selain itu, perlu pula diperhatikan aspirasi masyarakat yang menghendaki adanya pengalihan kegiatan usaha, mengingat sebagian lahan pertanian mereka ada yang sama sekali tidak dapat difungsikan lagi karena lahan tersebut sudah tergenangi air laut.

Berdasarkan gambaran kondisi dan permasalahan seperti di atas , maka dapat disusun pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana karakteristik lahan pertanian yang rusak akibat tsunami pada lokasi penelitian.

2. Bagaimana aspirasi masyarakat terhadap kegiatan usaha pertanian mereka dimasa yang akan datang

3. Bagaimana pendapat masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi dan perbaikan lahan pertanian pasca tsunami yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam upaya recovery Aceh pasca tsunami.

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mengidentifikasi kerusakan lahan pertanian pada lokasi penelitian berdasarkan jarak dari garis pantai ke arah daratan

2. Mempelajari aspirasi masyarakat terhadap kegiatan usaha pertanian mereka di masa yang akan datang.

3. Mempelajari pendapat masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Sebagai bahan masukan dan bahan pertimbangan dalam memberikan masukan dan petunjuk untuk pemerintah dalam menentukan arah rencana pelaksanaan kegiatan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

2. Sebagai bahan informasi dan pengetahuan bagi masyarakat.

3. Sebagai bahan informasi, pengetahuan dan rujukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

1.5. Kerangka Pemikiran

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor andalan dalam pembangunan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam pengembangan sektor pertanian yang menjadi tujuan pokok adalah peningkatan produktivitas pertanian dan pendapatan petani sekaligus mempertahankan kesuburan tanah pertanian .

Gempa dan tsunami yang terjadi pada akhir tahun 2004 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam telah memporak-porandakan semua segi kehidupan yang ada di provinsi paling Barat Sumatera ini. Dampak langsung dari bencana tersebut adalah hilangnya jiwa manusia yang cukup besar dan kerusakan

terhadap sarana dan prasarana yang ada, ditambah lagi kerusakan terhadap sumberdaya alam dan lingkungan.

Salah satu sumberdaya alam yang terkena dampak kerusakan adalah sumberdaya pertanian yaitu berupa rusaknya lahan-lahan pertanian produktif milik masyarakat terutama lahan persawahan. Kerusakan ini mengakibatkan lumpuhnya perekonomian masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidupnya pada sektor ini. Kerusakan ini berupa timbunan sampah dan lumpur yang cukup tebal, perubahan tekstur tanah, dan meningkatnya salinitas tanah. Hal lain yang memperparah adalah kerusakan fasilitas pengairan dan irigasi serta kehilangan sarana produksi pertanian.

Untuk mengembalikan roda perekonomian masyarakat di sektor ini diperlukan suatu upaya rehabilitasi tanah-tanah pertanian yang terkena dampak tsunami. Untuk melakukan rehabilitasi terhadap tanah-tanah pertanian tersebut perlu dilakukan pengamatan langsung terhadap karakteristik lahan pertanian yang rusak serta seberapa besar tingkat kerusakan yang terjadi, sehingga dapat diperoleh suatu gambaran tentang kondisi aktual lahan tersebut untuk dapat difungsikan kembali sebagai lahan pertanian. Sebelum tsunami provinsi NAD mampu memproduksi 1.5 juta ton padi dari 380 ribu ha sawah, 190 ribu ha diantara diairi oleh irigasi. Kerusakan lahan sawah akibat tsunami diperkirakan sebesar 10 % dari total luas areal sawah yang ada di provinsi ini. Hal ini membuat kehilangan produksi padi yang besar. Rata-rata produktivitas tanah untuk produksi padi sebesar 4,2 ton /ha,dan kehilangan produksi padi yang potensial paling sedikit sebesar 120.000 ton padi per musim tanam. Rehabilitasi lahan pertanian ini tidak saja bisa memulihkan keamanan pangan tetapi lebih dari pada itu juga memulihkan kembali mata pencaharian para petani. (Rachman, et al., 2005)

Pemerintah saat ini telah mempunyai rencana rehabilitasi lahan-lahan pertanian yang rusak akibat tsunami dengan tujuan memperbaiki kondisi lahan tersebut agar dapat difungsikan kembali. Rencana kegiatan tersebut haruslah dilakukan melalui pendekatan sosial sehingga diharapkan kegiatan rehabilitasi dapat melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

Penelitian ini mencoba untuk melakukan identifikasi terhadap karakteristik lahan pertanian yang rusak akibat tsunami melalui pendekatan biofisik dan sosial. Pendekatan biofisik berhubungan dengan kondisi sifat fisik-kimia tanah dan vegetasi yang tumbuh atau bertahan pada lahan pertanian yang terkena

dampak gelombang tsunami, sedangkan pendekatan sosial untuk melihat pendapat masyarakat terhadap rencana kegiatan rehabilitasi lahan pertanian yang akan dilakukan oleh pemerintah, karena pendapat masyarakat yang positif terhadap kegiatan rehabilitasi lahan tersebut dapat mendorong partisipasi mereka dalam pelaksanaan rehabilitasi lahan. Skema kerangka pemikiran penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.

2.1. Konsep Lahan Secara Umum

Lahan mempunyai arti yang sangat penting dalam pembangunan. Pembangunan tidak dapat dilaksanakan tanpa ketersediaan lahan guna menopang pembangunan tersebut. Pengertian lahan (land) seringkali disalahartikan dengan tanah (soil). Sitorus (1998) mengemukakan bahwa pengertian lahan adalah bentang lahan (landscape) yang meliputi lingkungan fisik seperti iklim, topografi/relief, tanah, hidrologi, dan vegetasi yang semuanya secara potensial berpengaruh terhadap penggunaan lahan. Dalam hal ini lahan juga dapat mengandung pengertian ruang (space) atau tempat (Sitorus, 2004a).

Lahan dapat juga didefinisikan sebagai wilayah di permukaan bumi yang mencakup semua komponen biosfer yang dapat dianggap atau bersifat siklis yang berada di atas dan di bawah wilayah tersebut, termasuk atmosfer, tanah, batuan induk, relief, hidrologi, tumbuhan dan hewan, serta segala akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia di masa lalu dan sekarang, yang semuanya tersebut berpengaruh terhadap penggunaan lahan (Brinkman dan Smith, 1973 dan FAO,1976).

Lahan sebagai suatu sistem mempunyai komponen-komponen yang terorganisir secara spesifik dan perilakunya menuju pada sasaran-sasaran tertentu. Komponen-komponen lahan ini dapat dipandang sebagai sumberdaya dalam hubungannya dengan aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hubungannya dengan periode formasinya dan dampak yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas manusia, maka sumberdaya lahan tersebut dapat dikelompokkan kedalam tiga kategori (Vink, 1975), yaitu : 1) sumberdaya yang sangat stabil (iklim, relief, dan formasi geologi), 2) sumberdaya buatan yang merupakan hasil budaya manusia (sumberdaya artifisial), dan 3) sumberdaya yang relatif tidak stabil (vegetasi dengan berbagai karakter biologinya, termasuk tipe-tipe vegetasi alamiah dan tanaman).

Menurut Sitorus (2004a) komponen-komponen penyusun sumberdaya lahan terdiri dari : 1) iklim, 2) air, 3) bentuk lahan dan topografi, 4) tanah, 5) formasi geologi, 6) vegetasi, 7) organisme/hewan, 8) manusia dan 9) produk budaya manusia. Dipandang dari sudut pendekatan sistematik, sumberdaya lahan dapat dianggap sebagai suatu sistem yang terdiri dari beberapa

sub-sistem yaitu : 1) sub-sub-sistem tanah, 2) sub-sub-sistem klimatologi, 3) sub-sub-sistem hidrologi, 4) sub-sistem vegetasi, 5) sub-sistem manusia dan budayanya dan 6) sub-sistem penunjang aktivitas manusia.

Sumberdaya tanah sering kali dianggap sebagai komponen yang sangat vital dalam sistem lahan dan pengelolaannya. Tanah dapat dipandang sebagai sebidang bentang lahan dengan permukaan dan bentuk lahannya sendiri, serta mempunyai profil tanah dan karakteristik internal yang spesifik, seperti penyebaran kadar liat, komposisi mineral dan sifat fisik-kimia, serta sifat-sifat geofisika (Soemarno, 1991). Tanah juga dipandang sebagai tubuh alami yang tersusun atas komplek ekosistem, di dalamnya terdapat berbagai jenis organisme hidup mulai dari bakteri hingga vertebrata.

Bagi lahan pertanian, penggunaan lahan merupakan wujud usaha petani untuk memanfaatkan lahannya, yaitu bagaimana petani mengelola lahan dengan penentuan dan pengaturan jenis tanaman menurut luas lahan dan giliran tertentu, sehingga dengan luas lahan yang dimilikinya diharapkan dapat diperoleh hasil yang optimal untuk tujuan tertentu (Gustafon, 1984 dalam Barijadi, 1986).

2.2. Degradasi Lahan

Degradasi lahan adalah penurunan kualitas lahan dan produktifitas lahan atau pengurangan kemampuan lahan, baik secara alami atau karena pengaruh manusia (Dent, 1993). Perkembangan selanjutnya menuju fase-fase yang menunjukkan tingkat keparahannya, sebelum mencapai suatu keadaan ekstrim rusak (lahan kritis). Salah satu akibat terjadinya lahan kritis menurut Lal dan Miller (1989) adalah hilangnya kemampuan berproduksi jangka panjang.

Penyebab terjadinya degradasi lahan menurut Sitorus (2004b) dapat dikelompokkan atas : (1) Bahaya alami (Natural Hazard), yaitu degradasi yang terjadi tanpa campur tangan manusia, contohnya longsor, (2) Perubahan populasi, yaitu meningkatnya populasi terkait dengan kebutuhan dan intensitas penggunaan lahan, contohnya pertumbuhan penduduk, (3) Marginalisasi, yaitu eksploitasi lahan terhadap lahan-lahan marginal, (4) Kemiskinan (Poverty), yaitu penduduk miskin yang mengolah lahan cenderung untuk mendapatkan keuntungan sesegera mungkin tanpa memberikan input yang sesuai dengan kebutuhan lahan tersebut, (5) Masalah kepemilikan lahan, (6) Kestabilan politik

dan salah Administrasi (maladministration), misalnya peraturan yang dibuat tanpa memperhatikan kebutuhan petani, (7) Aspek sosial ekonomi, yaitu terbentuknya degradasi lahan yang disebabkan oleh kegiatan olah tanah tanpa reinvestasi, (8) Kesehatan, yaitu tanah ditinggalkan, padahal tanah tersebut tanah yang subur untuk pertanian akibat adanya outbreak penyakit pada suatu tempat, (9) Pertanian tidak tepat (Inapropriate agriculture), yaitu terjadinya degradasi lahan karena memaksakan suatu teknologi yang tidak cocok pada suatu daerah, dan (10) Aktifitas pertambangan dan industri.

Riquier (1977) mengelompokkan degradasi lahan ke dalam dua kelompok, yaitu degradasi alami dan degradasi dipercepat. Degradasi alami terjadi pada masa lampau akibat denundasi, yang biasa meninggalkan sisanya dalam bentuk permukaan erosi atau dataran aluvial yang luas berbentuk dataran banjir. Degradasi dipercepat adalah degradasi yang prosesnya berlangsung cepat, umumnya disebabkan oleh campur tangan manusia. Unsur lahan yang umumnya mengalami degradasi adalah tanah dan vegetasi.

Menurut Barrow (1991) degradasi lahan didefinisikan sebagai fenomena hilangnya dan berkurangnya manfaat atau potensi dari suatu lahan. Hilangnya atau berubahnya suatu komposisi flora dan fauna yang tidak digantikan terjadi pada lahan yang terdegradasi.

Ada dua kategori proses degradasi tanah, yakni (1) Berkaitan dengan pemindahan bahan atau materi tanah (erosi oleh angin dan air), dan (2) Menurunnya kondisi tanah tersebut (proses degradasi beberapa sifat fisik dan kimia) ( Anonymous, 1993 dalam Situmorang, 1999).

Menurut bentuknya degradasi dibagi menjadi tiga, yaitu degradasi fisik, degradasi kimia dan degradasi biologi. Degradasi fisik terjadi akibat penebangan hutan, penanaman intensif menurut arah lereng, pengolahan tanah berlebihan dan penanaman intensif tanpa penambahan unsur hara atau hanya dengan input hara rendah. Degradasi kimia diakibatkan oleh penggaraman atau pengasaman tanah, sedangkan degradasi biologi dicirikan oleh penurunan produksi dan kandungan bahan organik tanah (Lal dan Miller, 1989).

Dent (1993) membagi pemicu terbentuknya degradasi lahah ke dalam tiga kelompok yaitu : (1) Kerusakan morfologi: kehilangan lapisan tanah melalui erosi alur, pengikisan tebing sungai dan longsor; (2) Kerusakan kimia dicirikan oleh hilangnya unsur hara dan atau bahan organik dan pengasaman; (3)

kerusakan fisik meliputi genangan air, penurunan muka air tanah dan menipisnya tanah-tanah organik.

Kerusakan tanah dapat terjadi oleh (1) Kehilangan unsur hara dan bahan organik dari daerah perakaran, (2) Terkumpulnya garam di daerah perkaran (salinasasi), (3) Penjenuhan tanah oleh air (water logging), dan (4) Erosi. Kerusakan tanah oleh satu atau lebih proses tersebut menyebabkan berkurangnya kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Kerusakan tanah akibat terkumpulnya garan di sekitar perakaran dapat menghambat pertumbuhan tanaman atau mematikan tanaman. Kerusakan ini dapat hilang pada musim hujan dengan tercucinya garam-garam tersebut (Arsyad, 1989).

2.3. Persepsi

Pengertian persepsi dinyatakan dalam berbagai rumusan yang secara substantif ditekankan pada penafsiran informasi yang menerpa panca indera.

Persepsi adalah suatu proses berpikir yang mampu memberikan penafsiran khusus terhadap situasi tertentu (Luthans, 1981). Menurut Rakhmat (2000) persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Sadli (1976) mengemukakan pengertian yang lebih luas bahwa persepsi seseorang merupakan suatu proses aktif, dimana yang memegang peranan bukan hanya stimulus yang mengenainya, tetapi juga keseluruhan pengalaman-pengalaman, motivasi, dan sikap-sikapnya yang relevan terhadap stimulus tersebut.

Menurut Zanden (1984) dalam Arianty (2004), persepsi adalah proses pengumpulan dan penafsiran dari informasi. Persepsi merujuk pada beberapa proses sehingga seseorang menjadi tahu dan berpikir mengenai beberapa hal, berupa karakteristik, kualitas dan pernyataan diri. Seseorang membentuk pandangannya mengenai beberapa hal tersebut untuk menetapkan dan membuat perkiraan serta mengatur pandangannya mengenai masyarakat berdasarkan informasi.

Va den Ban dan Hawkins (1999) dalam Arianty (2004) mengemukakan bahwa persepsi seseorang bisa berlainan satu sama lain dalam situasi yang sama karena adanya perbedaan kognitif. Dijelaskan bahwa setiap proses mental,

individu bekerja menurut caranya sendiri tergantung dari faktor-faktor kepribadian, misalnya tingkat keterbukaan atau ketertutupan pikiran. Ini berarti bahwa persepsi seseorang terhadap sesuatu obyek ditentukan oleh karakteristik personal dan kebiasaan berkomunikasi.

Persepsi merupakan dasar pengambilan keputusan inovasi opsional. Keputusan inovasi opsional ialah yang dibuat oleh seseorang , terlepas dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh anggota sistem sosialnya, dalam proses keputusan inovasi. Proses keputusan inovasi adalah proses mental, sejak seseorang mengetahui adanya inovasi sampai mengambil keputusan menerima inovasi (melaksanakan kegiatan inovatif tertentu) atau menolaknya (tidak berpengaruh untuk bertindak melaksanakan kegiatan inovatif tertentu). (Rogers dan Shoemaker, 1985 dalam Arianty , 2004).

2.4. Karakteristik Individu

Karakteristik individu yang patut diperhatikan untuk menerangkan persepsi seseorang terhadap suatu informasi antara lain adalah umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, bangsa, agama dan lain-lain (Tubbs dan Moss, 2001).

Karakteristik sosial ekonomi meliputi umur, pendidikan, pendapatan, pemilikan barang (lahan), dan pekerjaan. Sedangkan ciri lain, yakni kepribadian (personality) meliputi pengalaman, motivasi, dan kepribadian komunikan. Pendapat lain dikemukakan oleh Bettinghaus, (1980) dalam Tubbs dan Moss (2001), yang menjelaskan beberapa ciri dari anggota kelompok yang dapat mempengaruhi cara mereka berkomunikasi. Ciri-ciri tersebut antara lain meliputi jenis kelamin, umur, kelas sosial, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan.

Karakteristik demografi dan karakteristik psikografik merupakan

Dokumen terkait