TINJAUAN PUSTAKA
C. Saw Palmetto 1. Keterangan botani 1.Keterangan botani
Nama : Saw palmetto
Nama ilmiah : Sabal serrulata
Sinonim : Palmerita, Palmito of Mountain range, Serenoa Famili : Arecaceae (Palmae)
Bagian yang digunakan: buah (Hellemont, 1986).
2. Deskripsi umum
Saw palmetto merupakan tanaman yang kecil, pohon palem yang lebat yang berasal dari daerah pesisir pantai Atlantik (dari Carolina Selatan hingga Florida). Tanaman ini biasanya tumbuh dengan tinggi 6-10 kaki dan lebar 2-3 kaki, memiliki daun yang berduri dan berbentuk bundar, puncak pohon berbentuk seperti kipas. Bagian yang mengandung sifat untuk pengobatan berasal dari buahnya. Buah saw palmetto memiliki panjang 0,5-1 inci dengan warna merah-kecoklatan hingga hitam dan berkerut (kisut), membujur dan memiliki diameter sekitar 0,5 inci (Sugg and Wiggins, 1999).
3. Komposisi kimia
Buah saw palmetto mengandung sekitar 1,5% minyak yang mengandung sterol jenuh dan tidak jenuh dan asam-asam lemak. Asam lemak bebas (capric,
caprylic, caproic, lauric, palmitic, dan asam oleat) terkandung sekitar 63% dalam minyak ini. Sisa dari minyak ini merupakan etil ester dari asam lemak dan sterol yang telah disebutkan di atas, terutama beta-sitosterol dan glukosida. Buahnya juga mengandung karoten, lipase, tanin, dan gula (Sugg and Wiggins, 1999).
xxx
4. Kegunaan
Secara tradisional saw palmetto digunakan untuk pengobatan: cystitis, bronkitis kronis, asma, diabetes, disentri, indigesti, dan “underdevelopment breasts”. Penggunaan modern saw palmetto adalah untuk terapi Benign prostatic hyperplasia (BPH) (Anonim, 1998).
Saw palmetto secara tradisional digunakan dalam pengobatan topikal untuk membantu meningkatkan kondisi kulit dan kulit kepala, memelihara kesehatan kulit dan rambut, dan mencegah kerontokan rambut (Anonim, 2005c).
5. Ekstrak saw palmetto
Berdasarkan penelitian para ilmuwan, dilaporkan bahwa mayoritas kandungan bioaktif dari saw palmetto adalah lipofilik dan kemudian diekstraksi ke dalam bentuk minyak yang dapat diasimilasikan lebih baik pada kulit. Hasil observasi ini menunjukkan bahwa ketika diaplikasikan secara topikal, Saw palmetto mungkin lebih bioavailable dan kemudian lebih efektif untuk pengobatan pada area dan organ tubuh (Anonim, 2005c).
.Saw palmetto mengandung minyak dengan beberapa asam lemak, meliputi capric, caprylic, caproic, lauric, oleic, dan asam palmitat dan sejumlah besar fitosterol (beta-sitosterol, cycloartenol, stigmasterol, lupeol, lupenone dan 24-metil-cycloartenol), serta resin dan tanin. Asam-asam lemak dan fitosterol inilah yang secara nyata memblok formasi dari enzim 5-alfa-reduktase (Simonis, 2000).
6. Mekanisme aksi
Lima-alfa-reduktase adalah enzim dalam tubuh yang mengubah hormon testosteron menjadi Di Hidro Testosteron (DHT). Enzim 5-alfa-reduktase terdiri dari dua tipe. Tipe 1 utamanya terdapat pada newborn scalp, dan dalam kulit dan hati. Sedangkan tipe 2 utamanya terdapat pada genital skin, hati dan prostat (Prager et al, 2002). DHT dipercaya sebagai penyebab paling umum dari kerontokan rambut. DHT berikatan pada reseptor spesifik di folikel rambut yang dikenal dengan reseptor androgen yang kemudian menyebabkan penyempitan folikel rambut. Hal tersebut mengakibatkan rambut yang dihasilkan lebih tipis, lemah, dan kecil, bahkan dapat mengakibatkan kerusakan folikel dan akar rambut, sehingga rambut rontok (Anonim, 2005a).
Saw palmetto bekerja secara lokal pada sisi aktif dari hormon yang berikatan dengan reseptor pada sel. Saw palmetto juga menghambat secara lokal enzim 5 alfa reduktase yang mengubah testosteron menjadi DHT (Anonim, 2005b). Beta-sitosterol yang merupakan kandungan aktif dari saw palmetto telah dibuktikan dalam penelitian, mampu memblok pengikatan DHT pada reseptor androgen yang terdapat pada folikel rambut, dan juga berperan dalam meningkatkan fungsi prostat (Anonim, 2005a). Kandungan fitosterol sebesar 0,01%-0,5% telah dibuktikan dapat berefek sebagai anti hair loss dalam sediaan topikal(Goodman, 2002).
xxxii
D. Krim 1. Krim
Sediaan farmasi semipadat meliputi salep, pasta, emulsi krim, gel, dan busa yang kaku. Sifat umum sediaan ini adalah mampu melekat pada permukaan tempat pemakaian dalam waktu yang cukup lama sebelum sediaan ini dicuci atau dihilangkan. Pelekatan ini disebabkan oleh sifat rheologis plastik sediaan ini, yang memungkinkan sediaan semipadat tersebut tetap pada bentuknya dan melekat sebagai lapisan tipis sampai ada suatu tindakan, yaitu dengan suatu kekuatan dari luar, yang mengakibatkan bentuk sediaan semipadat ini akan rusak bentuknya dan mengalir (Lachman, 1994).
Krim merupakan sistem emulsi sediaan semipadat dengan penampilan tidak jernih, berbeda dengan salep yang tembus cahaya. Konsistensi dan sifat rheologisnya tergantung pada jenis emulsinya, apakah jenis air dalam minyak atau minyak dalam air, dan juga pada sifat zat padat dalam fase internal (Lachman, 1994).
2. Vanishing krim
Basis yang dapat dicuci dengan air adalah emulsi minyak di dalam air, dan dikenal sebagai “krim”. Basis vanishing krim termasuk dalam golongan ini. Diberi istilah vanishing krim, karena waktu krim ini digunakan dan digosokkan pada kulit, hanya sedikit atau tidak terlihat bukti nyata tentang adanya krim yang sebelumnya. Basis yang dapat dicuci dengan air akan membentuk suatu lapisan tipis yang semipermeabel, setelah air menguap pada tempat yang digunakan (Lachman, 1994).
Serbuk yang tidak larut dan larutan berair dapat dicampurkan dengan menggunakan pilltile dan spatula atau mortir dan stamper. Bahan-bahan yang larut air dapat ditambahkan dengan melarutkan serbuk ke dalam sejumlah kecil air dan mencampurkannya ke dalam basis. Sejumlah kecil minyak dapat ditambahkan langsung ke dalam basis asalkan terdapat kelebihan emulsifying agent (Allen, 2002).
3. Bahan-bahan penyusun vanishing krim
a. Asam stearat. Asam stearat digunakan dalam krim yang basisnya dapat dicuci dengan air, sebagai zat pengemulsi untuk memperoleh konsistensi krim tertentu serta untuk memperoleh efek yang tidak menyilaukan pada kulit. Jika sabun stearat digunakan sebagai pengemulsi, maka umumnya kalium hidroksida atau trietanolamin ditambahkan secukupnya agar bereaksi dengan 8-20% asam stearat. Asam lemak yang tidak bereaksi meningkatkan konsistensi krim. Krim ini bersifat lunak dan menjadi mengkilap saat penyimpanan, disebabkan oleh adanya pembentukan kristal-kristal asam stearat (Lachman, 1994).
b. Cetyl alcohol. Cetyl alcohol digunakan sebagai pembantu pengemulsi dan emolien dalam krim. Cetyl alcohol merupakan zat polar yang bersifat lemak. Penambahannya pada sediaan semipadat cenderung menstabilkan emulsi minyak dalam air dari sediaan semipadat (Lachman, 1994).
Cetyl alcohol digunakan dalam lotion, krim, dan salep karena sifat emoliennya, kemampuan mengabsorpsi air dan sifat mengemulsinya. Cetyl alcohol dapat menjaga stabilitas, meningkatkan konsistensi dan memperbaiki 16
xxxiv
tekstur sediaan. Cetyl alcohol dapat menjaga stabilitas emulsi minyak dalam air dengan mengkombinasikannya dengan agen pengemulsi yang larut dalam air (Boylan, 1986).
c. Trietanolamin. Trietanolamin bila direaksikan dengan asam lemak seperti asam stearat atau asam oleat akan membentuk sabun yang dapat digunakan sebagai emulgator untuk menghasilkan emulsi yang stabil, berbutir halus pada emulsi o/w dengan pH sekitar 8 (Reynold, 1982). Sabun trietanolamin bebas dari efek mengiritasi pada kulit. Sabunnya membentuk emulsi yang sangat stabil pada penggunaan sebagian besar minyak, lemak, dan lilin sebagai fase eksternal (Boylan, 1986).
d. Humectant. Humectant biasanya ditambahkan ke dalam krim kosmetik, khususnya tipe minyak dalam air, untuk mengurangi pengeringan beberapa krim akibat penguapan air ke udara. Selain itu, sifat higroskopis dari lapisan film humectant pada kulit merupakan faktor penting dalam membantu menjaga tekstur dan kondis kulit saat produk diaplikasikan (Harry, 1982). Untuk mencegah pengeringan emulsi o/w yang terlalu cepat pada kulit, dapat ditambahkan humectant seperti gliserin, propilen glikol, sorbitol 70%, atau PEG 300/400 dalam formulasi (Allen, 2002). Sorbitol, gliserin dan propilen glikol merupakan pelembab yang efektif bila digunakan dalam konsentrasi 5-20%. Jika digunakan dalam konsentrasi yang berlebih, zat-zat tersebut cenderung untuk mengabsorpsi kelembaban dari kulit dan menghasilkan efek pengeringan yang tidak dikehendaki (Martin, 1993).
e. Nipagin. Nipagin atau propilparaben (0,05%-0,25%) digunakan sendiri atau dikombinasi dengan ester-ester lainnya dari asam p-hidroksibenzoat atau dengan agen antimikroba lainnya untuk digunakan sebagai pengawet dalam sediaan farmasi (Boylan, 1986). Nipagin yang tergolong ester dari asam p-hidroksibenzoat masih populer sebagai bahan pengawet karena toksisitasnya yang rendah, ester ini tidak begitu berbau, tidak menyebabkan kotor, dan tidak menimbulkan iritasi pada kulit. Kelemahannya yaitu, mempunyai kelarutan yang rendah dalam air dan kurang efektif terhadap bakteri gram negatif dibandingkan terhadap jamur dan ragi (Lachman, 1994).
E. Humectant