BAB IV ANALISIS
4.2. Scene 11 – Saat Ibu Lela Akan Menghadiri Acara, Di Kamar
Scene 11 ini menceritakan bagaimana karakter utama Ibu Lela akan menghadiri
idola, Diky Chandra yang merupakan idola Ibu Lela. Dalam scene11 ini digambarkan bagaimana Ibu Lela ingin membanggakan dirinya yang akan segera bertemu dengan Diky Chandra terhadap Suaminya. Namun, Suami memberikan peringatan kepada Ibu Lela mengenai acara tersebut yang menurutnya hanya akan merugikan Ibu Lela. Hal ini diabaikan oleh Ibu Lela karena ia yakin bahwa dirinya akan dapat bertemu dengan idolanya tersebut.
Menurut Truby (2007), penulisan dialog cerita sama seperti ketika penulis akan membangun sebuah scene dengan rangkaian dialog yang saling bergantian dari tiap karakter saat mereka menyatakan tujuannya masing-masing.Grove (2009), mengatakan dialog cerita berisi dialog yang menceritakan apa yang sedang terjadi dalam sebuah scene. Saat membuat dialog cerita, dalam penciptaannya, ada beberapa elemen yang bisa digunakan oleh penulis, yaitu
Goal, Conflict, Plan, TwistdanEndpoint.Scene ini dibentuk berdasarkan lima
elemen yang disebutkan oleh Grove (2009) sebagai elemen-elemen yang akan membantu penulis dalam menciptakan dialog.
4.2.1. Elemen-elemen PembangunanScene 11
Pada scene11 saat Ibu Lela akan menghadiri acara ini, terdapat lima elemen pembangun scene. Pertama adalah elemen goal yang terdapat pada karakter Ibu Lela.Ibu Lela yang ingin menghadiri sebuah acara dengan kedatangan artis sinetron, Diky Chandra. Elemen goal ini terdapat pada dialog Ibu Lela saat ia mengatakan, “Mau ketemu artis.”Menurut Grove (2009), goal harus disampaikan secara jelas dan spesifik (hlm. 59).Dalam dialog ini terlihat tujuan yang
disampaikan secara singkat dan jelas bahwa ia akan bertemu dengan idolanya. Sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Grove, pada naskah Antara Aku,
Bapak dan Papa ini sudah membentuk elemen goal yang sudah sesuai dengan
maksud dari teori tersebut. Dari dialog ini juga terlihat bagaimana Ibu Lela yang ingin membuat Suaminya merasacemburu. Goal ini juga bertujuan sebagai penggambaran karakter Ibu Lela yang sudah tidak memiliki rasa peduli dan patuh terhadap Suaminya dengan secara harafiah menyatakan bahwa ia akan segera bertemu dengan orang yang selama ini ia dambakan.
IBU LELA Mau ketemu artis.
(Antara Aku, Bapak dan Papa, 2016, Evie Khusnul Khotimah)
Selanjutnya elemen kedua adalah conflict yang terdapat pada dialog karakter Suami saat ia mengatakan, “Halah, dibohongin aja mau Bu, Bu.” Conflict ini bermaksud sebagai penghalang bagi Ibu Lela yang ingin bertemu dengan Diky Chandra agar membatalkan niatnya tersebut.Seperti yang dikatakan oleh Kempton (2004), conflict bisa datang dari luar dan dari dalam. Contohnya seperti ketika hadirnya karakter lain yang menganggu karakter utama atau ketika karakter utama mengalami gejolak dari dalam dirinya(hlm. 8).Sesuai dengan teori tersebut, penulis menempatkan elemen conflict pada dialog yang diucapkan oleh karakter lain yaitu Suami. Pada dialog ini, karakter Suami menyampaikan maksudnya agar Ibu Lela tidak menaruh harapan secara berlebihan yang akan merugikan dirinya sendiri.Elemen conflict ini juga bertujuan sebagai penggambaran bagaimana karakter Suami yang masih memiliki rasa kepedulian terhadap Ibu Lela sebagai pasangan hidupnya.
SUAMI
Halah, dibohongin aja mau Bu, Bu.
(Antara Aku, Bapak dan Papa, 2016, Evie Khusnul Khotimah)
Elemen ketiga adalah plan yang terdapat pada dialog Ibu Lela saat ia mengatakan, “Yeee apasih, Pak, cemburu dipelihara.”Sama seperti goal, plan juga harus disampaikan secara jelas dan spesifik menurut Grove (2009). Karena dengan plan yang jelas akan terlihat seberapa besar keinginan karakter dalam mencapai goal-nya dan dalam hal ini penonton juga dapat merasakan pengalamannya(hlm. 61). Menunjukkan bagaimana respon Ibu Lela setelah mendapatkan conflict dari Suami yang ingin menggagalkan tujuannya. Pada dialog Ibu Lela, penulis menggambarkan bagaimana karakter Ibu Lela menyatakan kalimat sindiran untuk Suaminya.Sesuai dengan teori yang disebutkan oleh Grove (2009), penulis menggunakan bahasa yang jelas dan harfiah agar rencana dari Ibu Lela dapat diketahui dengan mudah oleh penonton. Dialog ini mengandung makna sindirian yang ditujukan kepada karakter Suami setelah dirinya memberikan perhatian lebih terhadap seekor bebek yang bernama Siti dan bukannya lebih mengutamakan keluarganya sendiri.Plan ini juga bertujuan sebagai jalan keluar agar Ibu Lela tetap bisa mencapai tujuannya. Dari
scene ini penonton dapat mengetahui informasi bahwa karakter Suami juga telah
melakukan hal yang sama terhadap Ibu Lela sehingga kedua karakter memiliki kesetaraan yang kuat.
IBU LELA
Yeee apasih, Pak, cemburu dipelihara.
Kemudian elemen keempat yaitu twist hadir pada saat Ibu Lela yang akhirnya tetap bersikeras menghadiri acara tersebut untuk bertemu dengan Diky Chandra. Menurut Truby (2007), penonton dan karakter dalam cerita harus dibuat terkejut dengan hasil dari apa yang sedang terjadi padascene 11 saat Ibu Lela akan menghadiri acara(hlm. 375). Hal ini didukung oleh Grove (2009) bahwa scene yang memiliki twist tidak terduga akan memberikan hasil yang baik dari yang tidak memiliki twist samasekali(hlm. 102-103).Elemen twist ini terdapat pada adegan yang memperlihatkan bagaimana karakter Ibu Lela sedang mempersiapkan dirinya dengan berdandan dan mengenakan pakaian rapi agar dapat memberikan kesan yang baik terhadap idolanya. Twist ini juga menggambarkan bagaimana perbedaan sikap Ibu Lela terhadap Suami dan idolanya.Sesuai dengan teori yang dikatakan oleh Truby (2007), pada elemen twist ini sudah jelas bagaimana bentuk kejutan dibuat oleh penulis pada bagian adegan tersebut. Ibu Lela menunjukkan penampilan yang rapi, dengan menggunakan baju semi-formal dan riasan wajah agar terlihat menarik yang tidak biasa ia lakukan ketika bersama Suaminya di rumah. Hal ini menunjukkan bagaimana Ibu Lela memiliki rasa keinginan untuk mendapatkan perhatian yang setara terhadap idolanya namun tidak pada Suaminya.
Ibu Lela pun menghias dirinya dengan beberapa alat make-up yang ia punya, ia pun juga sudah mengganti bajunya dengan yang lebih rapi.
(Antara Aku, Bapak dan Papa, 2016, Evie Khusnul Khotimah)
Terakhir adalah elemen endpoint yang terdapat pada bagian adegan Ibu Lela yang akhirnya tetap pergi menghadiri acara tersebut dan meninggalkan Suaminya sendiri di rumah.Menurut Grove (2009),endpoint merupakan sebuah
statement, tindakan yang dinyatakan selesai (hlm. 102-103). Hal ini didukung
oleh Truby (2007), endpoint merupakan titik penyelesaian dari apa yang sedang terjadi pada scene tersebut. Endpoint ini bersifat sebagai hasil yang diinginkan oleh penonton dan karakter yang memiliki goal pada scene tersebut sebelum berpindah pada scene berikutnya (hlm. 375).Setelah sudah berhasil menggagalkan niat Suaminya yang ingin menghalanginya untuk bertemu dengan Diky Chandra.Elemenendpoint pada scene 11 saat Ibu Lela akan menghadiri acara ini juga memiliki informasi sebagai penyelesaian dari conflict yang dialami oleh Ibu Lela dengan menggambarkan bagaimana akhirnya Ibu Lela tetap memilih untuk memberontak dan bertemu dengan Diky Chandra tanpa memperdulikan perkataan Suaminya yang sudah menunjukkan maksud kepedulian dan perlindungannya.
Ibu Lela pun langsung meninggalkan kamar dan Suaminya yang masih berbaring santai di kasur.
(Antara Aku, Bapak dan Papa, 2016, Evie Khusnul Khotimah)
Dari hasil pembangunanscene 11 saat Ibu Lela akan menghadiri acara yang menggunakan elemen-elemen pembangun scene, penulis menyimpulkan bahwa terdapat kelemahan pada dua elemen yaitu twist dan endpoint.Pada elemen
twist, penulis seharusnya dapat membentuk bagian adegan Ibu Lela yang sedang
merias dirinya dan mengganti pakaianrapi menjadi bentuk dialog yang dapat memperkuat kejutan dari scene 11 saat Ibu Lela akan menghadiri acara.Bentuk dari dialog untuk elemen twist dapat berupa dialog seperti, “Ya sudah, terserah Ibu aja. Nanti kalau ada apa-apa tanggung sendiri, Bapak gak akan bantu.” Yang mana dengan dialog ini akan memperlihatkan bagaimana akhirnya karakter Suami menyerah untuk menggagalkan tujuan Ibu Lela untuk datang ke acara tersebut.
Dialog ini dapat menjelaskan bagaimana karakter Suami secara berulang memberikan peringatan kepada Ibu Lela akan hal-hal merugikan yang mungkin saja akan terjadi.
Selanjutnya pada elemen endpoint terdapat bagian adegan yang menjelaskan bagaimana akhirnya Ibu Lela tetap pergi untuk menghadiri acara tersebut. Dalam elemen ini dapat dibentuk menjadi sebuah dialog untuk karakter Ibu Lela dengan mengatakan, “Iya, aku juga gak akan minta bantuan sama Bapak. Yang penting aku ketemu sama Mas Diky.” Ketika elemen tersebut dibentuk ke dalam sebuah dialog, maka endpoint dari scene 11 saat Ibu Lela akan menghadiri acara ini akan sangat jelas bagaimana keputusan yang diambil oleh karakter Ibu Lela dalam scene ini. Ibu Lela yang akhirnya tetap menunjukkan sikap memberontak dengan tetap pergi menghadiri acara untuk bertemu dengan Diky Chandra dan juga memberikan penjelasan bahwa ia juga tidak membutuhkan bantuan Suaminya jika terjadi suatu hal.
4.2.2. Value
Pada scene 11 saat Ibu Lela akan menghadiri acara ini terdapat dua elemen value yang terdapat pada dua dialog dari dua karakter Suami dan Ibu Lela, dialog pertama adalah ketika Ibu Lela mengatakan, “Halah, dibohongin aja mau Bu, Bu.” Ketika sedang berseteru dengan Ibu Lela mengenai keikutsertaan Ibu Lela dalam acara yang akan diadakan di kampung mereka.
SUAMI
Halah, dibohongin aja mau Bu, Bu.
Kemudian dialog kedua adalah ketika Ibu Lela mengatakan, “Yeee apasih, Pak, cemburu dipelihara.” Sebagai statementpenutup dari scene 11 saat Ibu Lela akan menghadiri acara ini.
IBU LELA
Yeee apasih, Pak, cemburu dipelihara.
(Antara Aku, Bapak dan Papa, 2016, Evie Khusnul Khotimah)
Dalam hal ini, teori value yang dikatakan oleh Grove (2009) adalah manusia hidup sesuai dengan nilainya masing-masing sama seperti ketika dalam penciptaan karakter utama dan lawan mainnya di dalam cerita. Setiap tindakan karakter harus berdasarkan pada apa yang mereka yakini, penyesuaian ini harus selaras dengan bagaimana cerita akan dibentuk. Perkembangan karakter tidak akan mengacu pada keyakinan penulis naskah atau keyakinan masyarakat di lingkungan penulis. Nilai merupakan salah satu elemen yang sangat baik dalam cerita ketika penulis berhasil menjelaskannya kepada penonton (hlm. 64).
Dari elemen value ini terlihat bagaimana kedua karakter menyatakan maksud dari nilai apa yang mereka yakini pada scene 11 saat Ibu Lela akan menghadiri acara ini. Value pertama yang terdapat pada dialog karakter Suami saat mengatakan, “Halah, dibohongin aja mau Bu, Bu.” Sesuai dengan teori yang dikatakan Grove (2009), karakter akan menyampaikan nilai keyakinan mereka yang selaras dengan tindakan mereka.Karakter Suami memiliki tujuan utama untuk memberikan peringatan kepada Ibu Lela agar tidak terlalu menaruh harapan kepada suatu hal yang tidak pasti. Nilai ini diyakini oleh karakter Suami karena ia percaya bahwa apa yang ada televisi tidak semuanya nyata atau hanya rekayasa belaka yang mana pada akhirnya karakter Suami percaya jika Ibu Lela menaruh
harapan secara berlebihan, ia harus siap menerima segala bentuk kerugian atau kekecewaan yang akan ia hadapi.Pada scene 11 saat Ibu Lela akan menghadiri acara ini tindakan karakter Suami hanya sampai pada pemberian peringatan kepada Ibu Lela yang menurutnya sudah cukup untuk diketahui. Ibu Lela yang akan menentukan pilihan selanjutnya ketika suatu hal buruk terjadi menimpanya.
Selanjutnya pada dialog kedua dari karakter Ibu Lela saat mengatakan, “Yeee apasih, Pak, cemburu dipelihara.” Memiliki tujuan utama sebagai
statementagar karakter Suami tidak perlu menghalangi keinginannya hanya karena
rasa cemburu yang ia rasakan.Mengacu kembali pada teori Grove (2009), karakter akan menyampaikan nilai keyakinanya yang selaras dengan tindakan. Perkembangan karakter tidak akan mengacu pada keyakinan penulis naskah atau keyakinan masyarakat di lingkungan penulis.Sama halnya dengan karakter Suami yang yakin bahwa acara tersebut hanya rekayasa, karakter Ibu Lela memiliki keyakinan bahwa sebenarnya kedua karakter sama-sama memiliki rasa cemburu yang setara terhadap satu sama lain. Dalam hal ini, Ibu Lela sedang berada pada posisi dimana ia sangat ingin segera bertemu dengan seseorang yang ingin ia berikan kasih sayangnya seperti karakter Suami yang memberikan perhatiannya kepada Siti. Ibu Lela berada diposisi yang sudah sangat ingin membalas dari apa yang sudah ia terima selama ini dari Suaminya, sehingga ia tidak ingin dihalangi oleh Suaminya hanya karena ungkapan rasa cemburu tersebut. Kedua karakter tidak mendapatkan pengaruh dari keyakinan penulis naskah karena Ibu Lela dan Suami memiliki nilai keyakinannya masing-masing yang kuat.
4.2.3. Moral Argument
Elemen moral argument yang ada pada scene 11 saat Ibu Lela akan menghadiri acara ini terlihat ketika dialog di antara kedua karakter Ibu Lela dan Suami saat keduanya saling memberikan respon terhadap satu sama lain mengenai keinginan Ibu Lela yang akan segara menghadiri acara dan bertemu dengan Diky Chandra.
SUAMI Mau ngapain, Bu?
IBU LELA Mau ketemu artis.
SUAMI Hah? Artis?Artis sopo?
IBU LELA
Itu yang di sinetron itu, si Diky Chandra yang jadi Rian ituloh.
SUAMI
Halah, dibohongin aja mau Bu, Bu.
IBU LELA
Yeee apasih, Pak, cemburu dipelihara.
(Antara Aku, Bapak dan Papa, 2016, Evie Khusnul Khotimah)
Menurut Truby (2007), penulis dapat mengunakan berbagai cara dalam hal membentuk visi moral mereka ke dalam cerita dan hal ini bergantung pada bagaimana keinginan penulis dan bentuk ceritanya. Pada kebanyakan contoh cerita adalah cerita-cerita yang memiliki tema seperti drama, alegori, ironi, literatur yang berat, dan cerita religius.Cerita-cerita ini cenderung dibentuk dengan visi moral yang kompleks dan penempatannya ada pada dialog. Dengan dialog ini, kompleksitas dan kontradiksi dalam visi moral karakter akan terlihat pada situasi tertentu. Namun, sebenarnya tidak bergantung bagaimana bentuk cerita tersebut ditulis, karena penulis akan selalu menempatkan visi moral mereka
melalui dialog. Sehingga moral yang ingin disampaikan akan lebih jelas (hlm. 109).
Truby (2007) menambahkan dengan menempatkan visi moral secara perlahan dan rapi, terutama melalui struktur cerita dan bagaimana karakter mengontrol situasi mereka. Visi moral dari penulis harus diterapkan dengan bagaimana karakter mengejar tujuannya sembari berhadapan dengan lawan mainnya, melalui apa yang karakter pelajari dan yang ia dapatkan dari hambatannya. Secara garis besarnya, penulis membuat argumen moral disesuaikan dengan bagaimana tindakan karakter dalam plot (hlm. 109).
Grove (2009), mengatakan cerita dengan karakter antagonis yang sangat jahat biasanya tidak akan semenarik dengan cerita karakter antagonis yang memiliki sisi kebaikan. Karena karakter yang terlalu jahat akan mengasingkan karakter lainnya dengan cara yang tidak manusiawi. Hal ini dijelaskan Grove (2009) bahwa cerita yang bagus adalah bagaimana karakter dapat menyampaikan apa yang mereka yakini berdasarkan moral dengan membantah moral lawan mainnya dan juga para penonton (hlm. 104).
Elemen moral argument yang terdapat pada scene 11 saat Ibu Lela akan menghadiri acara ini dibentuk berdasarkan dukungan dari kelima elemen-elemen sebelumnya yang membantu pembentukkan dialog pada scene tersebut. Situasi yang sedang terjadi merupakan gambaran bagaimana Ibu Lela yang harus bertemu dengan hambatannya dalam mencapai tujuannya.Hambatan ini diwujudkan dengan hadirnya karakter Suami yang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap
keinginan Ibu Lela yang ingin bertemu dengan artis idolanya. Hal ini dijelaskan sesuai dengan elemen value yang dipercaya oleh karakter Suami karena Ibu Lela harus siap dengan segala bentuk kerugian atau kekecewaan yang akan ia hadapi saat hendak mencapai tujuannya tersebut.