• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN TEORITIS

6. Sebab dan Akibat Perceraian a) Sebab Perceraian

Dalam pernikahan, konflik rumah tangga sangat sering terjadi karena perbedaan persepsi dan masalah komunikasi. Hal ini menyebabkan suami istri menghadapi berbagai ketidaknyamanan.

Talak atau perceraian di dalam rumah tangga tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa sebab. Setiap talak yang dijatuhkan oleh suami kepada istri pasti disebabkan oleh beberapa faktor.

Berikut adalah beberapa faktor umum yang menjadi penyebab perceraian: a. Faktor ekonomi

Inilah faktor terpopuler penyebab perceraian, baik karena kekurangan uang (finansial) maupun kelebihan uang. Kebutuhan hidup yang tinggi, mendapatkan pekerjaan layak yang sulit, dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang banyak terjadi yang berdampak langsung terhadap keberlangsungan sebuah pernikahan.

26

Ketika persoalan tentang kekurangan uang (finansial) muncul, banyak pasangan yang tidak mampu bertahan. Selain itu sikap dari suami yang mudah mengeluh, malas, dan tidak mau bekerja keras membuat perceraian semakin mudah terjadi. Istri dan anak harus dipenuhi kebutuhan dasar mereka, mulai dari kebutuhan pangan, sandang hingga papan.

Kelebihan uang (finansial) yang dimiliki pasangan suami atau istri telah meraih kesuksesan secara finansial membuat prilaku mereka mulai berubah, dan terjadi kejutan budaya (culture shock) secara psikologis sehingga timbul keinginan dan tuntutan untuk mendapatkan layanan yang lebih dari pasangan. Jika hubungan suami istri tidak kuat, akan mudah terjadi konflik dan pertengkaran yang bisa berujung pada perceraian.

b. Persoalan konflik keluarga

Konflik keluarga, terutama konflik antara mertua dan menantu, atau konflik antara keluarga suami dan keluarga istri sering menjadi penyebab perceraian. Biasanya, persoalan ini terjadi diawali dari proses pernikahan yang bermasalah, rasa cemburu yang berlebihan, sikap yang tak patut, komunikasi yang buruk, dan doa restu yang kurang pada awal pernikahan.

Banyak suami atau istri yang diminta oleh orang tua mereka untuk menceraikan atau menggugat cerai pasangan karena ketidaksukaan mertua terhadap menantu, dan konflik yang tidak kunjung selesai. Kemampuan komunikasi dari pasangan suami istri sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan ini. Banyak perceraian yang terjadi karena keinginan (desakan) orang tua, dan bukan keinginan dari pasangan.

27 c. Suami menikah lagi

Karena suami menikah lagi (poligami), maka perceraian pun sering terjadi. Dilema antara rasa cemburu dan cinta, serta kegagalan suami dalam memenuhi kebutuhan dan membahagiakan pasangannya membuat banyak isteri menolak untuk dipoligami. Walaupun ajaran Islam membolehkan poligami, tetapi banyak kasus di lapangan, suami yang berpoligami tidak mampu menjaga keharmonisan dan memberikan keadilan dalam rumah tangganya.

Beberapa poligami, dinilai berhasil, tidak melahirkan konflik, adalah ketika suami mampu memberikan kesejahteraan lahir batin, memiliki komunikasi terbuka, serta mampu meyakinkan istri dengan cara memberikan pemahaman dan pendekatan agama yang baik. Selain itu, pilihan menikah lagi bukan karena dorongan hawa nafsu semata, melainkan juga sudah ada perencanaan dan persiapan yang baik sebelumnnya sehingga tidak menimbulkan persoalan baru.45

d. Komunikasi yang buruk

Fakta membuktikan, banyak perceraian yang terjadi dimasyarakat karena kurangnnya komunikasi antara suami dan istri. Komunikasi yang kurang baik akan menyebabkan pasangan suami istri mudah bertengkar. Selain itu, komunikasi semacam ini juga menimbulkan ketidakbahagiaan di dalam rumah tangga. Kehidupan dalam berumah tangga akan kurang bahagia jika suami atau istri bersifat kaku dan dingin dalam berkomunikasi. Suatu keluarga jika komunikasinya baik, maka keluarga itu akan sakinah, mawaddah, wa rahmah.

45Muhammad Iqbal, Psikologi Pernikahan: Menyelami Rahasia Pernikahan (Jakarta: Gema Insani, 2018), h. 122.

28

Sebaliknya, jika komunikasinya kurang baik maka mustahil kesejahteraan akan terbina.

e. Perselingkuhan

Bisa dikatakan, salah satu penyebab utama lainnya yang sering membawa kepada perceraian adalah perselingkuhan. Seorang suami yang berselingkuh akan digugat cerai oleh istrinya. Sebaliknya, istri yang berselingkuh akan ditalak oleh suaminya.dan, hal ini sangat banyak terjadi di tengah masyarakat. Sungguh termasuk orang-orang yang paling rugi, baik di dunia apalagi di akhirat, apabila seorang suami atau istri berselingkuh. Perselingkuhan inilah yang dalam islam disebut zina muhsan. Islam juga menetapkan hukuman keras bagi para pezina.46

f. Pekerjaan

Tuntutan pekerjaan yang membuat seorang suami terlalu sibuk di luar rumah, sehingga kerap tidak memiliki waktu bersama keluarga, juga menjadi faktor penyebab perceraian. Istri yang ditinggal di rumah akan merasa kesepian, hidupnya akan terasa hampa. Meskipun suami memberikan nafkah yang cukup atau bahkan lebih, tapi istri kekurangan kasih sayang dari suami. Hal inilah yang menjadikan isteri bisa menggugat suami. Sebaliknya, istri yang terlalu sibuk bekerja sehingga melupakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Kesibukan istri akan membuat suami merasa diabaikan. Hal ini kemudian membuat suami mudah berpaling kepada wanita lain dan memilih untuk menalak istrinya.

29 g. Kurang perhatian

Faktor penyebab perceraian yang berikutnya adalah kurang perhatian dari pasangan baik dari sang suami ataupun istri. Setiap orang memiliki satu impian yang sama saat membangun rumah tangga, yaitu mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang yang dicintai. Namun, bilamana orang yang dicintai sudah tidak lagi memberikan perhatian, justru membuat hubungan menjadi hambar dan kebanyakan orang justru memilih langkah cerai. Kurangnnya perhatian akan membawa kepada kurangnnya kemesraan dalam rumah tangga. Bila kemesraan sudah berkurang, komunikasi pun menjadi dingin dan kurang baik. Dan pada akhirnya, talak atau perceraian menjadi solusinya.47

h. Saling curiga

Islam memang menganjurkan agar suami memiliki rasa cemburu kepada istri. Tapi, cemburu yang dibolehkan dalam Islam adalah cemburu dalam batas yang wajar, yaitu cemburu yang bisa menjauhkan pasangan dari kemaksiatan atau marabahaya. Adapun cemburu yang dilarang adalah cemburu buta. Cemburu buta tidak dilandasi rasa cinta, melainkan oleh prasangka buruk. Cemburu buta inilah yang melahirkan sifat curiga terhadap pasangan, yang berujung pada penuduhan dan fitnah terhadap pasangan. Suami istri yang dikuasai oleh cemburu buta, hidupnya tidak akan langgeng dan tentram, tetap akan berujung pada perceraian.

i. Kekerasan dalam rumah tangga

Fenomena kekerasan dalam rumah tangga sangatlah memprihatinkan dan menjadi salah satu penyebab dominan dalam perceraian. KDRT (Kekerasan

30

Dalam Rumah Tangga) berkaitan erat dengan kesehatan mental serta tekanan ekonomi yang membuat suami atau istri mudah marah dan emosi kepada pasangannya. Bentuk kemarahan dan luapan emosi tersebut bukan hanya kekerasan fisik, melainkan juga kekerasan psikis (ancaman, tekanan, bentakan, dan lain-lain) serta kekerasan ekonomi (tidak diberi nafkah dan penelantaran) yang membuat korban tersakiti baik secara fisik ataupun non fisik.

Kekerasan dalam rumah tangga menjadi keprihatinan bagi banyak pihak karena kasus KDRT menjadi pemicu terjadinya perceraian. Dampak KDRT pun sangat berbahaya. Bahkan, banyak didapati KDRT menyebabkan kematian dan berdampak negatif pada masa tumbuh kembang anak.48

Adapun alasan atau sebab perceraian menurut pasal 19 Peraturan Pemerintah (PP) No. 9 Tahun 1975, yaitu:

1) Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;

2) Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya;

3) Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;

4) Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain;

48Muhammad Iqbal dan Kisma Fawzea, Psikologi Pasangan: Manajemen Konflik Rumah

31

5) Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami istri;

6) Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.49

b) Akibat Perceraian

Tidak semua kehidupan rumah tangga berjalan dengan mulus, karena di sana ada perselisihan dan permasalahan. Tidak diragukan lagi, perselisihan akan mengeruhkan suasana dalam kehidupan rumah tangga dan mengancam kelanggenan dan komitmen. Keadaan seperti ini bisa pula menjadi penyebab kegelisahan semua anggota keluarga dan anak-anak. Tentunya ini akan memberikan pengaruh negatif terhadap sekitarnya. Ketika pertentangan telah mencemaskan dan menggelisahkan jiwa seseorang, hal ini akan mengganggu pikiran dan tingkah laku kehidupan sosial bermasyarakat. Perselisihan dalam kehidupan rumah tangga menimbulkan dampak atau akibat yang jelas.50

Adapun akibat putusnya perkawinan karena perceraian berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1974 pasal 41 adalah:

a) Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak; bilamana

49Mardani, Hukum Keluarga Islam Di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2017), h. 148.

50Samihah Mahmud Gharib, Nikah Tanpa Masalah (Mataram: Nakhlah Pustaka, 2007), h. 22.

32

ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, pengadilan memberi keputusannya.

b) Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu; bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.

c) Pengadilan dapat mewajibakan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan suatu kewajiban bagi bekas istri.51

Adapun menurut KHI pasal 149, apabila perkawinan putus karena cerai talak, maka suami wajib melunasi mahar (yang terhutang) seluruhnya apabila istrinya sudah dicampuri, dan setengah bagi istri yang belum dicampuri. Kemudian bekas suami wajib memberikan mut’ah berupa uang atau benda kepada bekas istri kecuali belum dicampuri.

Selain itu, ada juga kewajiban memberi nafkah berupa maskan (tempat tinggal) dan kiswah (pakaian) selama bekas istri dalam masa iddah kecuali jatuh talak ba’in atau nusyuz sedang bekas istri dalam keadaan hamil. Serta adanya kewajiban memberikan biaya hadhanah bagi anak di bawah umur 21 tahun.52

51Mardani, Hukum Islam: Kumpulan Peraturan Tentang Hukum Islam Di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2013), h. 78.

52Sudarto, Ilmu Fikih Refleksi Tentang:Ibadah, Muamalah, Munakahat, dan Mawaris, h. 206.

33

B. Penghulu

Dokumen terkait