BAB III GEJOLAK POLITIK DALAM KEPEMIMPINAN
D. Sebab-sebab Kehancuran Dinasti Umayyah dan Dinasti
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kehancuran Bani Umayyah, sebagai berikut:
1. Sistem pergantian khalīfah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di antara anggota keluarga istana.
2. Latar belakang berdirinya Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa ʻAlī. Sisa-sisa pendukung ʻAlī dan Khawarij terus menjadi oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara sembunyi seperti di masa pertengahan Bani Umayyah. Penumpasan gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah. 3. Di masa Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabiah Utara (Bani
Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang telah ada dari awal, semakin mencapai puncak klimaks. Pertentangan ini mengakibatkan para penguasa
37
61
Bani Umayyah kesulitan dalam menggalang persatuan dan kesatuan. Di samping itu, sebagian besar golongan Mawali (non-Arab), seperti di Irak dan wilayah bagian Timur lainnya, merasa tidak puas karena menganggap diri dianaktirikan oleh Bani Umayyah.
4. Sikap hidup mewah di lingkungan istana yang menyebabkan anak-anak
khalīfah tidak sanggup memikul beban berat tatkala dilimpahkan kekuasaan. Di samping itu, golongan agama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat minim.
5. Penyebab langsung tergulingnya Bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh al-Abbas Ibn „Abd al-Muṭālib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syiʻah, serta kaum Mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah.38
Berikut beberapa faktor yang menyebabkan hancurnya kekuasaan Bani Abbasiyyah:
1. Kemewahan hidup dikalangan penguasa bahkan cenderung mencolok. Setiap
khalīfah yang berkuasa cenderung ingin hidup lebih mewah dari pendahulunya. Kondisi ini memberi peluang bagi tentara profesional Turki untuk mengambil alih pemerintahan.
2. Perebutan kekuasaan di antara keluarga Banni Abbasiyyah. Perebutan kekuasaan ini berlangsung sejak al-Ma’mun dan al-Amin. Setelah al-Matawakkil wafat, pergantian khalīfah terjadi secara tidak wajar. Dari dua belas khalīfah yang memimpin pada priode kedua Bani Abbasiyyah, hanya
38
empat khalīfah yang meninggal secara wajar, selebihnya wafat karena dibunuh, diracun, dan diturunkan secara paksa.39
3. Konflik keagamaan yang tak berkesudahan yang mulai terjadi sejak pecahnya Perang Siffin. Kelompok pengikut Muʻāwiyah, Syiʻah, dan Khawarij senantiasa berebut pengaruh dalam pemerintahan.
4. Banyaknya pemberontakan juga menjadi penyebab hancurnya Dinasti Bani Abbasiyyah. Wilayah-wilayah kekuasaan Islam yang sangat luas itu mulai memberontak untuk melepaskan diri dari pusat pemerintahan. Hal ini menjadikan keutuhan kekuasaan Bani Abbasiyyah goyah dan pecah.
5. Dominasi bangsa Turki yang terdiri dari pasukan elit dan profesional yang ada dalam pemerintahan. Mereka dijadikan tentara tatkala kekuatan militer Bani Abbasiyyah mengalami kemunduran. Dengan demikian, para pasukan elit ini turut andil dalam upaya menggulingkan kekuasaan Bani Abbasiyyah.
6. Dominasi bangsa Persia yang awalnya menjalin kerjasama dalam mengelola pemerintahan. Pada masa kerja sama itu terjalin, Bani Abbasiyyah mengalami kemajuan yang pesat. Namun di saat Bani Abbasiyyah mengalami kelemahan dan terlihat benih-benih kehancuran, Persia memanfaatkan keadaan untuk menguasai pemerintahan. Setelah mereka memiliki kedudukan kuat, para
khalīfah Abbasiyyah berada di bawah telunjuk mereka.40
Demikian beberapa faktor yang menyebabkan kehancuran kedua Dinasti yang berkuasa pada masa itu. Selain faktor-faktor di atas, faktor lain seperti lemahnya semangat jihad dan patriotisme, hilangnya sifat amanah, tidak percaya
39
Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, h. 137.
40
63
pada kekuatan sendiri, fanatik mazhab, kemorosotan ekonomi, dan lain-lain, menjadi sebab runtuhnya kekuasaan tersebut.41
Gambaran singkat di atas hanya sebagai pengantar kepada ide khilāfah
yang didambakan izb al-Taḥrīr Indonesia. Uraian tersebut di atas juga menunjukkan betapa mencekamnya perebutan kekuasaan dalam Islam setelah Nabi Muhammad meninggal dunia.
E. Periode Khilāfah Manakah yang Ingin Dicontoh izb al-Ta rīr Indonesia? Perlu diketahui bahwa khilāfah (pemerintahan) yang muncul setelah wafatnya Nabi, tidak mengambil bentuk kerajaan, tetapi lebih dekat menyerupai sistem republik, dalam arti kepala negara dipilih dan tidak mempunyai sifat turun-temurun. Sebagaimana diketahui bahwa khalīfah pertama, Abū Bakr, tidak mempunyai hubungan darah dengan Nabi, demikian juga „Umar tidak mempunyai hubungan darah dengan Abū Bakr, „Utsmān tidak mempunyai hubungan darah dengan„Umar, dan „Alī tidak mempunyai hubungan darah dengan „Utsmān ketika menerima kekuasaan.42
Namun demikian, bagi izb al-Taḥrīr, sejak masa Nabi sampai Turki Usmani, merupakan periode khilāfah, sementara khilāfah sendiri adalah teori negara yang sesuai dengan Islam, dan penerapan Islam yang sempurna telah dimulai sejak masa Nabi hingga tahun 1918 M, sebelum penjajah menguasai negeri-negeri Muslim.43
41
Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, h. 139-140.
42
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, h. 91.
43
Ainur Rafiq al-Amin, Membongkar Proyek Khilāfah Ala izb al-Ta rīr di Indonesia,
Menurut Ainur Rafiq al-Amin, klaim seperti ini sebenarnya tidak mempunyai dasar yang kuat sebab yang masih menjadi pertanyaan besar adalah apakah khilāfah dalam perjalanan sejarah Islam selalu satu arah? Apakah khilāfah
berkelanjutan selama berabad-abad lamanya? Apakah setiap pemimpin pasca Nabi hingga tahun 1924 M selalu menyebut dirinya sebagai khalīfah?44
Secara historis, dapat dibenarkan bahwa Islam pada masa Khulafā al -Rāsyidīn hingga masa awal Bani Abbasiyyah masih berada dalam kesatuan. Artinya hanya ada satu kesatuan khilāfah yang berkuasa. Namun sejak munculnya kekuasaan Bani Umayyah di Spanyol, khilāfah tidak lagi mempunyai satu kesatuan, tetapi menunjukkan banyak wajah, bahkan itu merupakan bentuk penentangan terhadap Bani Abbasiyyah yang pada saat itu berkuasa. Bahkan di Spanyol terdapat banyak dinasti yang biasa disebut mulūk atau ṭawāif. Dinasti semacam ini, selain mempunyai kekuasan kecil, juga masa kekuasaannya tidak lama.45
Demikian juga keberlanjutan khilāfah dalam Islam masih menjadi perdebatan. Memang benar dalam dunia Islam, dinasti selalu ada. Namun jika berpijak pada konsep khilāfah izb al-Taḥrīr, maka konsekuensi logisnya adalah model pemerintahan seperti itu sudah tidak ada lagi dalam dunia Islam semenjak masa Bani Abbasiyyah. Dalam sejarah, tidak terhitung banyaknya negara Islam yang muncul, baik yang benar-benar baru maupun negara hasil penaklukan, atau hasil pembaiatan yang tidak sah karena sebelumnya telah ada khilāfah. Realitas
44
Ainur Rafiq al-Amin, Membongkar Proyek Khilāfah, h. 138-139.
45
65
ini bisa kita lihat pada penegakan Bani Abbasiyyah yang merupakan hasil penakluknnya terhadap Bani Umayyah.46
Sisi lain yang juga tidak dapat dipungkiri dari realitas perjalanan khilāfah
dalam Islam adalah pertumpahan darah, kelicikan, pembunuhan dan sebagainya, yang terjadi sejak paruh akhir pemerintahan „Utsmān dan seterusnya.47
Di samping itu, dalam perkembangan pemerintahan Islam selanjutnya, beberapa pemimpin yang berkuasa mengaggap diri mereka sebagai khalīfah. Namun apakah penggunaan gelar itu konsisten, atau adakah yang tidak menggunakan gelar khalīfah? Dalam kenyataannya tidak semua pemimpin dinasti dalam sejarah Islam menggunakan gelar khalīfah atau memakai nama khilāfah
dalam sistem pemerintahannya. Misalnya dinasti Rasulids di Yaman yang berkuasa sekitar 625-858 H/ 1229-1454 M, pemimpinnya menggunakan gelar al-Malik. Gelar demikian juga digunakan oleh para khan keturunan Jochi yang memimpin di Rusia Selatan dan Siberia Barat sekitar 623-907 H/ 1226-1502 M. Jadi dalam sejarah, panggung politik Islam tidak hanya dikuasai oleh negara yang menyebut dirinya khilāfah.48
Melihat gambaran singkat di atas, bisa dipertanyakan bahwa konsep
khilāfah yang mengambil bentuk mana dan periode siapa yang ingin diusung izb al-Taḥrīr? Sementara kita melihat panggung politik Islam setelah Nabi, penuh dengan promlematika yang berbau pemberontakan, perselisihan, perebutan kekuasaan, tipu muslihat, pembunuhan, peperangan, pertumpahan darah, dan lainnya. Apakah tujuan izb al-Taḥrīr mendirikan kembali khilāfah tidak melalui pertimbangan yang matang? Namun demikian mereka tetap ngotot menegakkan
46
Ainur Rafiq al-Amin, Membongkar Proyek Khilāfah, h. 141.
47
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, h. 92.
48
kembali khilāfah dan menjadikan Indonesia sebagai titik sentral penegakannya. Bisa saja mereka mengacu pada masa kejayaan Islam awal, namun masalah-masalah yang muncul selanjutnya dalam khilāfah tidak dapat dibaikan begitu saja dan kerap menjadi pertanyaan besar, bahkan menjadi hambatan terberat bagi mereka untuk mewujudkan cita-citanya itu.
Bagaimana konsep khilāfah yang didambakan izb al-Taḥrīr? Hal ini termuat dalam manifesto dan buku-buku acuan mereka. Sebagaimana akan dijelaskan pada bab selanjutnya.
67
BAB IV
KHILĀFAH SEBUAH
NEGARA IDEAL IZB AL-TA R R INDONESIA
A. Khilāfahdalam Pandangan izb al-Ta rīr Indonesia
izb al-Taḥrīr Indonesia adalah partai politik yang berusaha keras mendirikan Khilāfah Islāmiyyah dalam rangka mencapai kehidupan yang sejahtera di bawah naungan syarīʻah Islam.
Namun demikian, kita harus mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan khilāfah oleh izb al-Taḥrīr Indonesia. Dalam Manifesto izb al-Ta rīr untuk Indonesia, dijelaskan bahwa khilāfah adalah sebuah kekuasaan atau pemerintahan yang menerapkan syarīʻah Islam secara kāffah. Dengan syarīʻah
Islam, khilāfah memelihara seluruh urusan manusia.1
Khilāfah merupakan sistem politik Islam yang berbeda dengan sistem diktator, namun juga bukan sistem demokrasi. Hal mendasar yang membedakan sistem khilāfah dengan sistem lainnya, baik diktator maupun demokrasi adalah bahwa kedaulatan atau hak untuk menetapkan hukum, yang menentukan benar dan salah, yang menentukan halal dan haram, berada di tangan syarīʻah, bukan di tangan manusia. Sedangkan dalam sistem demokrasi, kedaulatan berada di tangan manusia, bukan di tangan Allah.2
1 izb al-Taḥrīr Indonesia, Manifesto izb al-Ta rīr Untuk Indonesia, (Jakarta: izb
al-Taḥrīr Indonesia, 2009), h. 14-15
Kedaulatan adalah wewenang atau kekuasaan tertinggi untuk membuat undang-undang, kemudian melaksanakannnya dengan segala cara, bahkan kalau perlu dengan cara paksa.3
Dengan menggunakan tameng yang bernama kebebasan, demokrasi telah membuat manusia bertindak sebagai Tuhan, yang merasa mempunyai wewenang menetapkan hukum sesuai dengan keinginan mereka. Betapapun buruknya sebuah keputusan jika itu didukung oleh suara mayoritas, akan tetap diberlakukan dan dilaksanakan. Begitulah demokrasi, seolah suara rakyat adalah suara Tuhan (vox populei vox dei). Menurut izb al-Taḥrīr, sistem seperti ini sangat bertentangan dengan Islam.4
Selain itu, khilāfah menurut izb al-Taḥrīr merupakan sistem pemerintahan Islam yang diwajibkan oleh Tuhan semesta alam, yang dipimpin oleh seorang khalīfah.5 Menurut bahasa, khalīfahberarti wakil Tuhan yang berada di bumi. Ia menjalankan kekuasaan yang diamanatkan Tuhan dengan berpedoman pada al-Qur’an dan al-Sunnah.6
Pengertian khilāfah juga berkaitan erat dengan tujuan utama izb al-Taḥrīr, yakni melanjutkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia, serta mengembalikan kehidupan kaum Muslim kepada kehidupan yang islami. Tujuan seperti ini tidak bisa tercapai kecuali dalam Khilāfah Islāmiyyah. Dalam negara khilāfah, manusia hidup berdasarkan syarīʻah Islam dan tolok ukur setiap tindakan mereka adalah halal dan haram. Demikian manusia
3
Efriza, Ilmu Politik: Dari Ilmu Politik sampai Sistem Pemerintahan, cet. ke-2 (Bandung:
Alfabeta, 2009), h. 51. 4
izb al-Taḥrīr Indonesia, Manifesto izb al-Ta rīr Untuk Indonesia, h. 16.
5 izb al-Taḥrīr, Struktur Daulah Khilāfah, (Pemerintahan dan Administrasi), terj. Yahya
A.R., cet. ke-3 (Jakarta: HTI-Press, 2008), h. 14. 6
Jajang Jahroni dan Jamhari, Gerakan Salafi Radikal di Indonesia, (Jakarta: Raja
69
hidup di dalam negara khilāfah, semuanya diatur sesuai dengan hukum-hukum
syarīʻah.7
Nampaknya hubungan antara khilāfah dan syarīʻah sama dengan hubungan antara politik dan hukum, yang merupakan pasangan yang tidak bisa dipisahkan dalam konteks negara. Politik menjadi penggerak negara dan hukum yang menjadi bentuk dan instrumen untuk berhasilnya gerakan tersebut mencapai tujuan negara.8
Nampaknya, izb al-Taḥrīr Indonesia terinspirasi dari gagasan tersebut untuk menegakkan kembali sistem khilāfah, yang mana sistem ini merupakan sistem yang menuju pada negara ideal, negara utama, negara yang diidam-idamkan. Bahkan Indonesia dijadikan sebagai salah satu sentral penegakan
Khilāfah Islāmiyyah demi mencapai kehidupan yang islami, kehidupan yang diliputi oleh aturan-aturan syarīʻah. Singkatnya, negara ideal satu-satunya bagi
izb al-Taḥrīr Indonesia adalah negara dalam bentuk KhilāfahIslāmiyyah.
B. Struktur KhilāfahVersi izb al-Ta rīr
izb al-Taḥrīr meyakini bahwa tegaknya kembali khilāfah secara lambat laun pasti akan terealisasi. Mereka berpandangan bahwa sistem pemerintahan yang ada saat ini mempunyai struktur yang tidak jelas dan cenderung tidak bisa dipahami. Sebagaiman yang mereka ungkapkan dalam kata pengantar buku
Struktur Daulah Khilāfah, sebagai berikut:
“Kami sangat senang karena dalam buku ini kami bisa mengisinya dengan struktur pemerintahan dan administrasi di dalam Daulah Khilāfah dengan pengungkapan yang jelas, mudah dipahami, dan
7 Abū Zaʽrūr, Seputar Gerakan Islam, terj. Yahya Abdurrahman, (Bogor: Al-Azhar Press,
2009), h. 208. 8
bersifat praktis. Lebih dari itu, isi buku ini dihasilkan dari penggalian hukum (istinbāṭ) dan penelusuran dalil (istidlāl) yang sahih, yang mampu menenteramkan hati dan menyinari dada. Yang mendorong kami menulis buku ini adalah adanya kenyataan bahwa berbagai sistem pemerintahan yang ada di dunia saat ini sangat jauh dari sistem pemerintahan Islam, baik dari segi bentuk maupun isinya. Dari segi isinya, hal itu sangat jelas bagi kaum muslim bahwa semua sistem pemerintahan kontemporer saat ini tidak diambil dari al-Qur’an dan dan Sunnah Nabi-Nya serta apa yang ditunjukkan oleh keduanya. Sistem-sistem yang ada saat ini bertentangan dengan sistem Islam. kenyataan ini dapat diindera dan diraba oleh kaum Muslim. Mereka tidak berbeda pendapat dalam hal ini.”9
Atas dasar ini, selain meyakini akan tegaknya kembali khilāfah, izb al-Taḥrīr juga merancang seperti apa struktur dan sistem pemerintahan di dalamnya. Struktur yang dirancang ini, dikalaim oleh izb al-Taḥrīr sebagai struktur yang mirip dengan apa yang diterapkan Rasulullah ketika hijrah ke Madinah dan mendirikan daulah Islam. Struktur pemerintahan dan administrasi khilāfah adalah sebagai berikut:
1. Khalīfah
Khalīfah adalah orang yang mewakili umat dalam menjalankan pemerintahan, kekuasaan, dan penerapan hukum-hukum syarīʻah. Hal itu karena Islam telah menjadikan pemerintahan dan kekuasaan sebagai milik umat. Oleh sebab itu, diangkatlah kemudian orang yang menjalankan pemerintahan sebagai wakil dari umat. Khalīfah diangkat oleh umat Muslim. Kerena itu khalīfah harus menjalankan pemerintahan, kekuasaan, dan penerapan syarīʻah sebagai hukum Islam demi kesejahteraan umat. Gelar yang biasa disematkan pada seorang pemimpin dalam Islam selain Khalīfah adalah Imām dan Amīral Mu’minīn.10
Seorang khalīfah harus memenuhi syarat-syarat tertentu, di anataranya:
9 izb al-Taḥrīr, Struktur Daulah Khilāfah, h. 11-12.
71
a. Khalīfah harus seorang Muslim sebab tidak sah jika khilāfah diserahkan kepada orang kafir.
b. Khalīfah harus seorang laki-laki dan bukan perempuan. Bagi izb al-Taḥrīr, kepemimpinan tidak boleh diserahkan kepada seorang perempuan. Hal ini berdasarkan pada hadis Nabi yang berbunyi “Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan.”
c. Khalīfah harus balig. Tidak boleh pemerintahan diserahkan kepada seorang yang belum balig sebab sejatinya penerapan hukum Islam di dalam negara harus dipelopori oleh mukallaf.
d. Khalīfah juga harus orang yang berakal, dengan kata lain waras. Tidak mungkin orang yang tidak waras (gila, akalnya rusak) memimpin dan menjalankan pemerintahan.
e. Khalīfah harus seorang yang adil. Seorang yang tidak adil tidak boleh diangkat sebagai khalīfah sebab sudah pasti ia tidak akan mampu mengemban amanat.
f. Khalīfah harus orang yang merdeka, karena seorang hamba sahaya yang mempunyai tuan tidak mempunyai kewenangan mengurus perkaranya sendiri. Jika demikian tentu saja ia tidak akan mampu mengurus perkara orang lain.
g. Khalīfah harus orang yang mampu. Artinya seorang khalīfah harus orang yang mampu menjalankan pemerintahan. Kemampuan ini adalah hal yang paling utama dituntut dalam baiʻah.11
Waktu pengangkatan khalīfah adalah selama tiga hari tiga malam. Seorang Muslim, tidak boleh melewati tiga malam sedangkan di pundaknya masih terdapat beban baiʻah kepada seorang khalīfah. Jika seorang khalīfah―baik sebelum diangkat atau setelanya―kehilangan salah satu dari syarat di atas, maka baiʻah
dibatalkan atau jabatannya dicopot.12
Khalīfah yang telah ditentukan, dipilih, dan dibaiʻat oleh umat, mempunyai wewenang sebagai berikut:
a. Khalīfah berhak mengadopsi hukum-hukum syarīʻah yang memang dibutuhkan untuk memelihara segala urusan rakyat. Hukum-hukum itu harus diambil dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Hukum yang telah diadopsi itu selanjutnya ditetapkan oleh khalīfah sebagai undang-undang yang harus ditaati dan tidak boleh dilanggar.
b. Khalīfah adalah penanggung jawab segala urusan politik dalam negeri maupun luar negeri. Ia juga memegang kontrol kepemimpinan atas angkatan bersenjata, berhak mengumumkan perang atau gencatan senjata, dan yang berkaitan lainnya.13
c. Khalīfah berhak menerima atau menolak para duta negara asing, juga berhak mengangkat dan memberhentikan duta kaum Muslim.
d. Khalīfah berwenang mengangkat dan memberhentikan para pembantunya dan para gubernur. Semua elemen tersebut bertanggung jawab di hadapan
khalīfah sebagaimana juga bertanggung jawab di hadapan majelis umat.
12 izb al-Taḥrīr, Struktur Daulah Khilāfah, h. 84-85.
73
e. Khalīfah berwenang memberhentikan kepala kehakiman beserta para hakim, kecuali Qāḍī Maẓālim.14Khalīfah juga berwenang mengangkat dan memberhentikan para dirjen, panglima militer, komandan batalion, dan komandan kesatuan. Semua elemen ini bertanggung jawab di hadapan
khalīfah dan tidak bertanggung jawab di hadapan majelis umat.
f. Khalīfah berwenang mengadopsi hukum-hukum syarīʻah yang menjadi pedoman penyusunan APBN. Khalīfah berwenang menetapkan rincian APBN, besaran anggaran untuk setiap pos, baik dari segi pemasukan maupun pengeluaran.15
Sistem pemerintahan khilāfah yang dipimpin oleh seorang khalīfah
ditegakkan atas empat pilar, yakni kedaulatan adalah milik syarīʻah, bukan milik rakyat, kekuasaan berada di tangan umat, pengangkatan seorang khalīfah adalah kewajiban bagi kaum Muslim, dan khalīfah mempunyai hak untuk melegislasi hukum-hukum syarīʻah serta menyusun undang-undang dasar.16
2. Muʻāwin (Pembantu)
Muʻāwin adalah pembantu yang telah diangkat oleh khalīfah untuk membantunya dalam mengemban tanggung jawab dan melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. Karena dalam negara khilāfah wilayah Islam yang masuk ke dalamnya begitu luas, maka untuk mengurus keadaan ini, khalīfah mengangkat
14Qāḍī Maẓālim adalah hakim yang diangkat untuk menghilangkan segala bentuk kezaliman yang terjadi dari negara terhadap seseorang yang hidup di bawah kekuasaan negara,
baik itu rakyat maupun bukan, baik kezaliman yang berasal dari khalīfah atau penguasa selain
khalīfah dan pegawai negeri. Lihat Struktur Daulah Khilāfah, h. 198.
15 izb al-Taḥrīr, Struktur Daulah Khilāfah, h. 64.
16 Taqī al-Dīn al-Nabhānī, Daulah Islam, terj. Umar Faruq (Jakarta: HTI-Press, 2012), h.
pembantu dalam mengemban tugas ini.17 Syarat untuk menjadi muʻāwin , tidak beda dengan syarat untuk menjadi khalīfah.18
Tugas muʻāwin adalah menyampaikan pengaturan urusan pemerintahan kepada khalīfah dan melaporkan setiap tugas yang telah dilaksanakannya terkait pemerintahan. Muʻāwin menjalankan mandat dan wewenang yang dia miliki, dan wewenang itulah yang membedakannya dengan khalīfah, dengan kata lain dia bukan khalīfah dan tidak menjadi khalīfah. Tugas muʻāwin hanya memberikan laporan kepada khalīfah serta melaksanakan tugas-tugasnya selama khalīfah
menyetujui dan tidak menghentikannya.19
3. Wuzarā’ Tanfīdz
Wuzarā’ Tanfīdz adalah wazir yang ditunjuk oleh khalīfah sebagai pembantunya dalam implementasi kebijakan, dalam menyertai khalīfah, dan dalam menunaikan kebijakan khalīfah. Pembantu yang satu ini adalah penghubung antara khalīfah dengan struktur dan aparatur negara, rakyat, dan pihak-pihak luar negeri. Setiap kebijakan khalīfah disampaikan olehnya kepada