• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3. Sebagai Dinamisator

Peranan pemerintah sebagai dinamisator adalah menggerakan partisifasi multi pihak tatkala stagnasi terjadi dalam proses pembangunan ( mendorong dan memelihara dinamika pembangunan). Sebagai dinamisator, pemerintah berperan melalui pemberian bimbingan dan pengarahan yang intensif dan efektivitas kepada masyarakat.

a. Melakukan Sosialisai/Penyuluhan

Sosialisasi : pengadaan penyuluhan, pembinaan, dan pelatihan kepada masyarakat. Penyuluhan dimaksudkan agar mengimformasikan kepada masyarakat di setiap wilayah mengenai bahaya dan dampak, serta peran aktivitas

manusia yang seringkali memicu dan menyebabkan pembakaran hutan akibat pembukaan lahan secara bebas. Penyuluhan juga bisa mengimformasikan kepada masyarakat mengenai daerah mana saja yang rawan terhadap kebakaran dan upaya pencegahannya. Pembinaan merupakan kegiatan yang mengajak masyarakat untuk dapat menimilkan intensitas terjadinya kebakaran hutan akibat pembukaan lahan. Sementara pelatihan bertujuan untuk mempersiapkan masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar wilayah rawan kebakaran hutan, untuk itu kami melakukan tindakan awal dalam merespon kebakaran hutan akibat pembukaan lahan. Seperti yang dikatakan oleh kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Soppeng :

“... Sosialisai/Penyuluhan ini sangat penting kami lakukan di tengah -tengah masyarakat guna mengimformasikan kepada masyarakat di setiap wilayah mengenai bahaya dan dampak akibat illegal logging dan pembukaan lahan secara bebas”(Hasil wawancara WR, 13 Juli 2015). Dari hasil wawancara penulis di atas, dapat disimpulkan bahwa sosialisasi sangat penting untuk dilakuakan disetiap daerah yang memiliki kawasn hutan lindung guna untuk mendapatkan penjelasan tentang huatan lindung.

Senada dengan pernyataan kepala Dinas Kehutanan yang menyatakan sosialisasi terkait dengan kawasan hutan lindung sangatlah penting bagi masyarakat. Hal yang sama diungkapkan oleh kepala bidang perlindungan hutan. Hasil wawancara penulis dengan Kepala Bidang Pembinaan dan Perlindungan Hutan :

“... Mengenai sosialisasi, kami selalu memerintahkan jajaran untuk mensosialisakian kawasan hutan lindung di tengah masyarakat, hal ini kami lakukan guna untuk memberikan informasi dan gambaran tentang dampak dan bahaya hutan lindung akibat berbagai aktivitas di hutan lindung seperti penebangan pohon secara liar”(Hasil wawancara MY, 13 Juli 2015).

Dari hasil wawancara penulis, maka disimpulkan bahwa sosialisasi sangat penting dilakukan di tengah-tengah masyarakt guna memberi gambaran dan informasi tentang dampak dan bahaya penebangan pohon secara liar.

Berbanding terbalik yang di ungkapkan Masyarakat terkait apa yang dikatakan oleh Kepala Bidang Pembinaan dan Perlindungan Hutan, seperti yang di katakan masyarakat :

“... Mengenai sosialisasi, kami jarang di datangi oleh pemerintah, padahal kami sangat mengharapkan karena kami sebagai masyarakat sangat perlu di sosialisasikan mengenai kawasan hutan lindung apalgi kami ini sebagian besar kebutuhan hidup kita bersumber dari hutan” ( Hasil wawancara DV, 13 Juli 2015).

Dari hasil wawancara penulis di atas dapat di simpulkan bahwa sosialisai masih kurang dilakukan oleh Pemerintah padahal ini sangat perlu diketahui oleh masyarakat demi terciptanya kawasan hutan lindung yang lestari.

b. Penindakan/Teguran

Penindakan/Teguran merupkan salah satu cara untuk memperingati kepada masyarakat setempat agar tidak melakukan berbagai aktivitas yang sifatnya bisa menimbulkan kerusakan bagi kawasan hutan lindung. Hal ini perlu kami cantumkan karena merupakan himbauan secara lisan dan bukan hanya secara lisan tapi dengan tulisan seperti memasang tanda-tanda tentang larangan melakukan aktivitas dikawasan hutan lindung, salah satu contoh papan pen gumuman dan baligho. Seperti yang dikatakan oleh Kepala Dinas Kehutanan :

“... Sebagai pemerintah diberi tugas, wewenang dan tanggung jawab untuk menjaga hutan lindung, untuk itu kami menginstruksikan kepada jajaran polisi hutan untuk memberi teguran, peringatan dan bahkan menindak

secara langsung kepada masyarakat yang melakukan aktivitas di kawasan hutan lindung yang sifatnya bisa merusak hutan lindung” (Hasil wawancara WR, 13 Juli 2015).

Dari hasil wawancara penulis di atas dapat disimpulkan bahwa pemerintah benar-benar memerintahkan seluruh jajaran polisi hutan yang berjaga di setiap kawasan hutan lindung untuk melakukan teguran dan penindakan bagi masyarakat yang melakukan penebangan pohon secar liar.

Hal senada dengan yang di ungkapkan oleh anggota polisi hutan yang mengatakan kami selaku diberi tugas untuk menjaga hutan lindung akan menindak bagi yang melakukan pengrusakan kawasan hutan lindung. Seperti ungkapan anggota Polisi Hutan :

“... Kami selaku polisi hutan yang diberi tugas untuk menjaga kawasan hutan lindung akan melakukan teguran kepada masyarkat yang ingin melakukan aktivitas di hutan lindung yang sifatnya dapat merusak, akan tetapi apabila ada masyarakat tidak perduli maka kami akan beri peringatan dan apabila tidak mendengarkan lagi maka kami langsung melakukan tindakan kepada mereka”(Hasil wawancara MH, 13 Juli 2015). Hasil wawancara penulis dengan polisi hutan di atas dapat di simpulkan bahwa polisi hutan secara tegas akan melakukan teguran dan peringatan dan bahkan penindakan bagi masyarakat yang akan melakukan aktivitas di kawasan hutan lindung yang sifatnya dapat merusak hutan lindung.

Merangkum dari semua hasil wawancara di atas, dapat di simpulkan bahwa secara jelas bahwa larangan melakukan aktivitas yang sifatnya dapat merusak hutan lindung dan begitu jelas juga bagi konsukuen yang diterima oleh masyarakat bagi yang melakukan penebangan pohon secara liar akan di tindak sesuai dengan hukum

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai strategi pemerintah daerah dalam menjaga kelestarian kawasan hutan lindung di kecamatan marioriwawo kabupaten soppeng, maka dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Peran pemerintah sebagai regulator masih kurang optimal dalam menangani dan melindungi kawasan hutan lindung karena masih adanya penebangan pohon secara liar dan pembukaan lahan secara bebas. Peran pemerintah sebagai regulator dalam penegakan aturan yang belum optimal dikarenakan kurangnya Personil Polisi Hutan dalam Penjagaan Hutan, karena personil tiap lokasi dibatasi 3-4 orang sedangkan di lokasi tempat penjagaan hutan sangat luas, sehingga sulit untuk membagi penjagaan di hutan. Selain itu, kesadaran masyarakat masih rendah dalam menjaga hutan dan hanya mementingkan diri masing-masing.

2. Peran pemerintah sebagai fasilitator Sebagai fasilitator masih kurang optimal, dimana pemerintah jarang melakukan reboisasi bahkan penyedian bibit tanaman pun sulit untuk di peroleh. Padahal bibit pohon penting untuk reboisasi hutan lindung yang gundul dan krisis Iingkungan.

3. Peran pemerintah sebagai dinamisator juga masih kurang optimal. Hal ini di tandai kurang intensif melakukan penyuluhan/sosialisasi terhadap masyarakat yang berdomisili di kawasan hutan lindung tersebut. Meskipun demikian, instansi-instansi yang senatiasa ikut berperan untuk mendinamisasikan warga

masyarakat dalam membantu polisi hutan dan dinas kehutanan dalam menjaga hutan lindung serta dari Departemen Kehutanan yang diberikan tugas sesuai dengan pengantispasian masalah yang berkaitan dengan hutan dengan bidangnya masing-masing sehingga snagat membantu dalam menjaga kelestarian hutan lindung.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka perlu dikemukakan beberapa saran sebagai berikut :

1. Pemerintah sebaiknya selalu ada koordinasi dengan masyarakat untuk peningkatan kerjasama dalam menjaga kawasan hutan lindung serta begitupun polisi hutan harus intensif dalam memantau kawasan hutan lindung agart tidak terjadi penebgan pohon secara liar.

2. Fasilitas yang disiapkan oleh dinas kehutanan perlu dikembangkan dan di perbanyak agar polisi hutan tidak kesulitan jika ada dilokasi serta penjagaan hutan lebih baik lagi dan di tingkatkan dengan adanya fasilitas yang tersedia dan memadai sehingga lebih semangat dalam menjaga hutan lindung.

3. Polisi hutan harusnya lebih tegas kepada masyarakat dalam melakukan sosialisasi untuk menjaga hutan supaya masyarakat bisa mengetahui hal-hal yang dilarang dalam peraturan yang sudah berlaku dan diatur oleh dinas kehutanan dalam melakukan penebangan pohon liar.

Dokumen terkait