• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

A. Sejarah Berdirinya Koperasi Bina Usaha PT Madu Baru

b) Sistem pembagian Sisa Hasil Usaha Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru

c) Usaha yang dijalankan oleh Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru d) Struktur organisasi Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru

e) Sifat keanggotaan Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru f) Modal Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru

2. Untuk mengetahui cara penghitungan besarnya pajak penghasilan yang terutang Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru, maka data yang

diperlukan adalah SPT tahunan pajak penghasilan tahun 2009 Wajib Pajak Badan Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru dan laporan Keuangan Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru pada tahun 2009.

F. Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara

Wawancara yakni melakukan tanya jawab dengan pengurus atau karyawan bagian keuangan yang mengurusi masalah perpajakan dan penyusun laporan keuangan.

2. Dokumentasi

Dokumentasi yakni teknik pengumpulan data dengan mengambil data dan melihat SPT tahunan pajak penghasilan Wajib Pajak Badan Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru dan Laporan Keuangan Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru.

G. Teknik Analisis Data 1. Teknik Deskriptif

Teknik deskriptif yaitu menganalisis data dengan menyajikan data yang diperoleh di lapangan yang diharapkan mampu menggambarkan keadaan perusahaan yang sesungguhnya. Adapun langkah-langkah yang dilakukan yaitu dengan menganalisis data tanpa menggunakan perhitungan angka tetapi berdasarkan teori yang ada :

Langkah yang ditempuh untuk mengetahui apakah penghitungan besarnya pajak penghasilan Wajib Pajak badan Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru sudah sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku, yaitu dengan cara menganalisis terlebih dahulu perbedaan perlakuan penghasilan dan biaya menurut Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan dan ditambah dengan Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri Keuangan, Peraturan Direktur Jendral Pajak, Surat Edaran Direktur Jendral Pajak. Langkah yang ditempuh dengan cara menganalisis laporan keuangan Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru, apakah perlakuan penghasilan dan biaya serta tata cara penghitungannya sudah sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada, yang kemudian dibuat penyesuaian fiskalnya dengan mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Hal ini perlu dilakukan agar peneliti dapat mengetahui perbedaan perlakuan penghasilan dan biaya antara akuntansi yang berdasar pada SAK dan fiskal yang berdasar pada peraturan Undang-Undang No.36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Dari analisis ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru menghitung pajak penghasilannya sesuai atau tidak dengan Undang-Undang No.36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.

2. Teknik Kuantitatif

Teknik kuantitatif yakni teknik untuk menganalisis data dengan menggunakan perhitungan angka. Teknik ini digunakan untuk menganalisis permasalahan di atas. Adapun langkah yang ditempuh untuk mengetahui apakah penghitungan besarnya pajak penghasilan Wajib Pajak badan Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru sudah sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku, yaitu :

a. Langkah I

Langkah pertama yang dilakukan yaitu peneliti melakukan penyesuaian fiskal atas Laporan Rugi Laba dari temuan analisis peneliti yang berkaitan dengan perbedaan perlakuan penghasilan dan biaya berdasarkan Undang-Undang No.36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan dan ditambah dengan Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri Keuangan, Peraturan Direktur Jendral Pajak, Surat Edaran Direktur Jendral Pajak. Kemudian hasil perbedaan tersebut dimasukkan dalam sebuah tabel penyesuaian fiskal.

b. Langkah II

Langkah kedua yang ditempuh setelah langkah pertama dilakukan maka akan diperoleh Sisa Hasil Usaha Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru menurut akuntansi dan menurut fiskal, yang disebut Penghasilan Kena Pajak. Penghasilan Kena Pajak dikalikan dengan tarif Wajib Pajak Badan pasal 17 ayat 1(b) Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan yaitu 28%. Menurut pasal

31E Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, apabila Wajib Pajak Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru memiliki peredaran bruto sampai dengan Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) maka mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif Wajib Pajak Badan pasal 17 ayat 1(b) yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp 4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). Kemudian akan diperoleh jumlah pajak terutang yang harus dibayar oleh Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru.

c. Langkah III

Kesimpulan dapat ditarik dari hasil Evaluasi Penghitungan Pajak Penghasilan Terutang Bagi Wajib Pajak Badan Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru yaitu apabila dalam menghitung jumlah pajak terutang koperasi sudah memperlakukan penghasilan dan biaya yang terdapat dalam Laporan Laba Rugi sesuai dengan Undang-Undang RI No. 36 tahun 2008 tentang pajak penghasilan dan ketentuan umum peraturan perundang-undangan perpajakan, maka dapat disimpulkan bahwa koperasi tersebut sudah sesuai dalam menentukan jumlah pajak terutangnya.

62 BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

A. Sejarah Berdirinya Koperasi “Bina Usaha” PT. Madu Baru

Koperasi “Bina Usaha” PT. Madu Baru atas kuasa rapat dibentuk pada tanggal 17 Oktober 1985, yang diberi kuasa oleh rapat untuk menandatangani akta pendirian ini adalah Insinyur Soendoro Praptokoesoemo (karyawan), Soecipto Bachelor of Sciences (karyawan), Drs. Soepomo Prodjoharjono (karyawan), Ny. Musdjati Dinusatama (karyawati), Antonius Harsoyo (karyawan). Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru ini berkedudukan di Pabrik Gula Madukismo desa Padokan, kelurahan Tirtonirmolo, kecamatan Kasihan, kabupaten Bantul. Keanggotaan Koperasi ini terdiri dari karyawan pabrik gula PT. Madu Baru dan pensiunan. Pada awalnya anggota Koperasi “Bina Usaha” PT. Madu Baru berjumlah ± 500 orang, dengan modal berjumlah Rp 5.000.000,00. Koperasi “Bina Usaha” PT. Madu Baru berazaskan kekeluargaan dan kegotong-royongan, sehingga dalam menetapkan suatu keputusan berdasarkan musyawarah dan mufakat. Koperasi “Bina Usaha” PT. Madu Baru bertujuan mengembangkan usaha untuk memenuhi kesejahteraan anggota pada khususnya dan kemajuan daerah kerja pada umumnya dalam rangka mewujudkan terlaksananya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Pada awalnya unit usaha Koperasi “Bina Usaha” PT. Madu Baru hanya melayani kebutuhan anggota sehari-hari, kemudian meningkat ke unit

simpan pinjam. Pada tanggal 9 April 1986 Koperasi “Bina Usaha” PT. Madu Baru telah berbadan hukum dengan No. 1397/BH/1986. Unit usaha koperasi meningkat menjadi 4 macam, yaitu pertokoan, logistik (beras dan gula), simpan pinjam dan barang titipan.

Pada tahun 1988 unit usaha Koperasi “Bina Usaha” PT. Madu Baru bertambah lagi satu barang inventaris yaitu barang yang bernilai lebih dari Rp 100.000,00 yaitu meliputi mebeler (meja, kursi, difan, bufet, dll.), elektronik (TV, lemari es, mesin cuci, dll.), sepeda motor, sepeda. Usaha yang dijalankan Koperasi “Bina Usaha” PT. Madu Baru banyak memperoleh keuntungan, pengurus pun lebih meningkatkan usahanya serta koperasi memperoleh tambahan modal dari pinjaman Bank Bukopin sebesar Rp 25.000.000,00.

Tahun 1989 unit usaha koperasi bertambah lagi yaitu satu kapling tanah, hingga pada tahun 1994 Koperasi “Bina Usaha” PT. Madu baru memiliki 146 kapling. Atas kerja keras pengurus dengan dibantu karyawan dan karyawati dan kesadaran anggota yang tinggi, maka Koperasi “Bina Usaha” PT. Madu Baru pada tahun 1991 mendapat juara I lomba Koperasi non KUD tingkat Kabupaten Bantul. Dengan mendapatkan prestasi tersebut, pada tanggal 21 Februari 1991 Dewan Komisaris PT. Madu Baru menghibahkan gedung yang dulu masih berstatus milik perusahaan menjadi milik Koperasi “Bina Usaha” PT. Madu Baru secara penuh.

Tahun 1993 Koperasi “Bina Usaha” PT. Madu Baru telah meraih juara terbaik II tingkat propinsi dalam rangka lomba penilaian koperasi terbaik,

teladan, dan teladan utama. Usaha yang dijalankan Koperasi “Bina Usaha” PT. Madu Baru semakin lama semakin meningkat. Pada awal tahun pendirian yaitu tahun 1984, SHU Koperasi “Bina Usaha” PT. Madu baru hanya memperoleh Rp 1.544.833,23 dengan jumlah anggota ± 500 orang, sedangkan pada tahun 2009 ini telah memperoleh SHU Rp 78.980.852.05 dengan anggota berjumlah 846 orang. Oleh sebab itu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kopersai (DISPERINDAGKOP) Bantul memberi klasifikasi predikat “Sangat Sehat” dengan nilai 86,16.

B. Modal Koperasi

Koperasi Bina Usaha PT. Madu Baru mempunyai modal perusahaan tidak tetap yang diperoleh dari uang simpanan pokok, uang simpanan wajib, uang simpanan sukarela yang merupakan deposito, uang pinjaman dan penerimaan yang sah. Setiap anggota harus menyimpan atas namanya pada Koperasi, simpanan pokok sejumlah Rp 5.000,00 (lima ribu rupiah).

Dokumen terkait