• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Al-Awwabin

PONDOK PESANTREN AL-AWWABIN

A. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Al-Awwabin

Pondok pesantren Al-Awwabin terletak di dua kecamatan yang berbeda tetapi masih satu kota yaitu terletak di Jalan Raya Sawangan no.21 Kp.Sengon Kelurahan Pancoran Mas kota Depok yang diberi nama Al-Awwabin I dan sekitar 7 km terdapat pondok pesantren Al-Awwabin II yang terletak di Jalan Raya H.Sulaiman Desa Perigi Kelurahan Bedahan Kecamatan Sawangan kota Depok. Untuk pondok pesantren Al-Awwabin I luas tanah dan bangunan + 800 meter2 dan untuk pondok pesantren Al-Awwabin II luas tanah hampi 4 ha.

Pondok pesantren Al-Awwabin merupakan salah satu sarana pendidikan agama yang sudah cukup di kenal di kalangan masyarakat luas. Dan sampai saat ini pesantren yang dipimpin oleh Abuya KH.Abd.Rahman Nawi terus berupaya melebarkan sayapnya dengan membuka di berbagai tempat dimana tujuan pengembangan tersebut adalah untuk memelihara syi’ar Islam. Pondok pesantren Awwabin saat ini mempunyai hampir 600 santri. Bila di pondok pesantren Al-Awwabin I di peruntukkan bagi santri laki-laki dan perempuan, lain halnya

17

Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren; Suatu Kajian tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta: INIS,1994), h.7

dengan pondok pesantren Al-Awwabin II yang hanya di peruntukkan untuk santri perempuan saja.

Berikut ini adalah sekilas sejarah terbentuknya pesantren Al-Awwabin pada tahun 1962. Abuya KH. Abd. Rahman Nawi mengadakan pengajian kitab-kitab kuning yang bersifat non-formal yang bertempat di ruang paviliun rumahnya. pengajian ini di beri nama Assalafiah dengan harapan para jama’ah dapat mengikuti jejak salafusshaleh (orang-orang terdahulu yang shaleh) dan pengajian ini berkedudukan di Kp.Tebet yang sekarang menjadi Tebet Barat VI H Jakarta Selatan. Pengajian tersebut diikuti oleh banyak kalangan, mulai dari orang tua, remaja, dan orang-orang dewasa yang datang dari berbagai tempat, diantaranya: Kebayoran Lama, Kebayoran Baru, Kebon Baru, Pengadegan, Bukit Duri, Kp.Melayu, Karang tengah, Bekasi, dan para pemuda setempat.18

Pengajian atau majlis ta’lim yang telah di buka kian terus berkembang hingga pada tahun 1976 Abuya telah mampu membuka cabang-cabangnya di berbagai tempat, baik itu di mushollah-mushollah ataupun di masjid-masjid yang mendapat dukungan dari kalangan masyarakat luas, ulama, dan umaro. Namun, yang namanya perjuangan tidak lepas dari tantangan dan cobaan, karena majlis ta’lim yang beliau bina tersebut mengalami pasang surut. Dan itu memang telah sunnatullah. Ada pepatah mengatakan “kalau tidak lemah bukan manusia, kalau tidak retak bukan gading”.

Dari pengajian itulah berkembang pemikiran untuk mendirikan pendidikan formal, guna menolong masyarakat dari belenggu kebodohan dalam bidang ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum. Pada tahun 1976 Abuya KH.

18

KH. Abd. Rahaman Nawi, Profil Pondok Pesantren Al-Awwabin (Depok: Pondok Pesantren Al-Awwabin,1992), h. 9.

Abd. Rahman Nawi mengajak jama’ah majlis ta’lim dan kenalan dekatnya untuk membangun sebuah bangunan gedung sekolah permanen dua tingkat di atas tanah milik pribadinya yang berlokasi di Jalan Tebet Barat VI H Jakarta Selatan dengan luas tanah seluas 300 m2 di tambah dengan kavling musholla yang merupakan wakaf dari almarhum orang tua beliau. 19

Akhirnya pada tahun 1979, tepatnya pada hari Minggu diresmikanlah bangunan itu oleh KH. Idham Khalid. Peresmian tersebut sekaligus dengan peresmian ganti nama dari Assalafiah menjadi Al-Awwabin. Kata Awwabin itu sendiri artinya adalah orang-orang yang kembali. Dan pada tahun itu pula mulailah penerimaan murid baru untuk tahun ajaran 1979/1980, kemudian dari tahun ke tahun pendidikan itu berjalan dengan pesat hingga sampai tahun 1982/1983. Mengingat banyaknya calon santri yang berminat mukim di pesantren Al-Awwabin Tebet, sedangkan kapasitas tempat yang ada tidak menampung dan lahan di sekitarnya telah padat di tempati rumah-rumah penduduk, dan tidak mungkin lagi memperluas lokasi di sekitar pesantren Al-Awwabin Tebet, maka dengan demikian terpaksa Abuya KH. Abd. Rahman Nawi mengambil kebijaksanaan untuk mencari lokasi yang tepat bagi pendidikan. Maka dengan izin Allah, Abuya sebagai pimpinan umum pondok pesantren Al-Awwabin mendapatkan lokasi yang tepat dan beliau membebaskan sebidang tanah yang terletak di Kp.Sengon Kelurahan Pancoran Mas Depok yang di jadikan cabang pondok pesantren Al-Awwabin I dengan luas tanah sekitar 4200m2 dengan harga Rp. 20.000/m2.20

19

Ikatan Alumni Pondok Pesantren Al-Awwabin, Ma’had Al-Awwabin (Depok: Pondok Pesantren Al-Awwabin,2005), h.13.

20

Abuya KH.Abd.Rahman Nawi sengaja mengambil tempat di daerah Depok mengingat di daerah ini masih kurang sekali lembaga pendidikan Islam apalagi pondok pesantren,sedangkan lembaga pendidikan Islam khususnya pondok pesantren sangat dibutuhkan sekali oleh kaum muslimin untuk memberantas kebodohan dan mempersiapkan generasi Islam yang memahami serta menggali hukum-hukum Islam dari kitab-kitab kuning.

Pada pertengahan tahun 1982/1983 di mulai peletakan batu pertama yang di saksikan oleh ribuan umat muslim yang terdiri dari para ulama, habaib, dan para pejabat pemerintahan setempat. Akhir tahun 1982 masuk tahun 1983 telah selesai bangunan lima local dan satu asrama, pada saat itu pula di resmikan oleh KH. DR. Idham Khalid dan pejabat pemerintah setempat serta dinyatakan kedudukan pondok pesantren Al-Awwabin cabang Depok. Pada tahun 1983/1984 mulai menerima murid baru untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan mukim (untuk para santri yang mukim).

Tahun demi tahun pondok pesantren Al-Awwabin semakin berkembang. Pada tahun 1987/1988 kembali membuka Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga sampai pada tahun ajaran 1991/1992 telah sampai pada kelas IV MI. Perkembangan Awwabin pun semakin pesat dari tahun ke tahun hingga saat ini tercatat lebih dari 5000 santri yang menimba ilmu di pondok pesantren Al-Awwabin. Asal-usul santri pondok pesantren berasal dari berbagai wilayah antara lain Jambi, Kalimantan, Padang, Cilincing, daerah Jakarta Selatan dan masyarakat sekitar pondok pesantren itu sendiri.21

21

Wawancara pribadi dengan Ibu Zubaidah (staff TU pondok pesantren Al-Awwabin), Depok, 9 Februari 2010.

Abuya KH. Abd. Rahman Nawi bercita-cita ingin mengembangkan pesantren dengan membuka pondok pesantren di berbagai tempat dengan tujuan memelihara syiar Islam. Perkembangan selanjutnya, Abuya mengembangkan dakwah beliau dengan mendirikan pondok pesantren yang masih satu kota/wilayah Depok, yaitu di Jalan H. Sulaiman no.12 Desa Perigi Kelurahan Bedahan Kecamatan Sawangan kota Depok. Awal sejarahnya bermula ketika beliau ingin mendirikan pondok pesantren Al-Awwabin cabang II di daerah Sasak Panjang Bojong Gede Bogor (5 km dari Bedahan), karena di Sasak Panjang sudah ada pondok pesantren yang didirikan oleh H. Jaini, akhirnya Abuya KH. Abd. Rahman Nawi mencari tempat yang lain dengan maksud melebarkan dakwah Islam. Setelah beliau mencari-cari lokasi, akhirnya beliau mendapatkan lahan untuk membangun pondoknya di Desa Perigi Kelurahan Bedahan Kecamatan Sawangan kota Depok. Beliau membebaskan tanah tersebut pada tahun 1989 seluas 1600 m2 dan kemudian berkembang sampai sekarang menjadi seluas 4ha.22

Pada tahun 1989 pesantren Al-Awwabin mulai membangun sekolah dan asrama. Untuk pembukaan tahun ajaran pertama pada tahun 1993 untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) juga mukim (bagi para santri yang mukim). Pondok pesantren Al-Awwabin II cabang Bedahan sementara ini di peruntukkan bagi santriwati saja. Sampai saat ini tercatat lebih dari 300 santri yang menimba ilmu di pondok pesantren baru ini. Dan bangunan pesantren ini akan terus di kembangkan. Dan harapan Abuya KH. Abd.Rahman Nawi adalah semoga pondok pesantren Al-Awwabin akan terus melebarkan sayapnya dengan membuka pondok pesantren di berbagai tempat dan wilayah dengan tujuan untuk

22

memelihara syiar Islam. Sejak saat itulah kegiatan kepesantrenan berjalan secara rutin. Adapun kegiatan rutin di pesantren tersebut bertujuan untuk membentuk pribadi santri yang memiliki kecakapan mental, spiritual dan intelektual.

Di samping itu juga kegiatan rutin tersebut membekali para santri dengan beberapa keterampilan baik dalam bidang teknologi, keorganisasian dan ketangkasan dalam menyampaikan gagasan di muka umum yang semuanya itu dibutuhkan kelak ketika terjun ke masyarakat. Dimana dengan harapan bagi santri di kemudian hari menjadi kader-kader dakwah di tengah-tengah masyarakat yang melanjutkan tongkat estafet perjuangan dan peran abuya dalam syiar Islam. Pondok pesantren Al-Awwabin merupakan pondok pesantren pertama di kota Depok untuk wilayah Pancoran Mas.

1. Struktur Organisasi

Struktur organisasi atau struktur kepengurusan di pondok pesantren Al-Awwabin adalah sebagai berikut:

1. Pimpinan umum : Abuya KH. Abd.Rahman Nawi 2. Wakil pimpinan umum : Ust.Drs. Ahmad Muchtar 3. Sekretaris : Ust. Hadi Nazir

4. Bendahara : Ustz. Zakiah

5. Pimpinan bidang pendidikan : Ust.Drs. Ahmad Muchtar 6. Pimpinan bidang pesantren : Ust.Drs.H. Fatchurrahman 7. Musyrif Tholabah : Ust. Drs.H. Fatchurrahman

8. Musyrifah Tholabaat : Ustz. Imrithy, S.Psi

Struktur organisasi dan pengurusan pondok pesantren Al-Awwabin dari dulu hingga sekarang tidak ada batas waktu penjabatan jadi tetap sama pemegang jabatannya.

2. Sarana dan Prasarana

Untuk mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan, pondok pesantren Al-Awwabin menyediakan sarana dan prasarana sebagai berkut: 23

1. Gedung pertemuan 2. Lapangan olah raga 3. Laboratorium IPA/Fisika 4. Laboratorium komputer 5. Masjid

Kegiatan-kegiatan pondok pesantren Al-Awwabin antara lain : 1. Pendidikan formal (mengikuti SKB 3 menteri) :

a. Madrasah Ibtidaiyah b. Madrasah Tsanawiyah c. Madrasah Aliyah d. Olah raga e. Kesenian 23

2. Pendidikan pesantren : a. Mukim khusus b. Kader da’i c. Majlis ta’lim 3. Pendidikan ekstrakurikuler : a. Pramuka b. Muhadhoroh 3. Sistem Pendidikan

Sistem pendidikan yang diterapkan pondok pesantren Al-Awwabin adalah sistem perpaduan dari pendidikan pesantren salaf dan modern. Sistem pendidikan salaf adalah yang menyangkut masalah-masalah ibadah dan pengkajian kitab-kitab klasik (kitab kuning), sementara sistem pendidikan modern terutama dalam hal kemampuan berbahasa asing yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Adapun materi-materi pelajaran yang diajarkan di pondok pesantren Al-Awwabin terbagi menjadi dua, yaitu materi umum dan materi pondok dengan materi pelajarannya sebagai berikut: materi umum mencakup PPKN, pendidikan sejarah, bahasa dan sastra, sejarah nasional dan dunia, ekonomi, geografi, biologi, fisika, kimia, matematika, bahasa inggris, penjaskes, pendidikan seni, pendidikan keterampilan, tata negara, sosiologi dan antropologi. Sedangkan materi pondok mencakup nahwu, shorof, fiqh, ushul fiqh, hadits, tarikh Islam, tauhid, balaghah, ulumul Qur’an, mantiq, mustholah hadits, akhlak, arud, qira’at, dan khot.

Dengan sistem pendidikan yang diterapkan, maka diharapkan para santri nantinya menjadi pribadi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan berbagai keterampilan juga kemampuan berbahasa Arab dan Inggris secara aktif dengan disertai imtaq yang mulia dan berkepribadian tangguh dan mandiri.

Dokumen terkait